I MADE YUDA ASMARA

http://www.facebook.com/made.yudha.asmara

GURU ADALAH PROFESI MULIA — February 22, 2017

GURU ADALAH PROFESI MULIA

Oleh : I Made Yuda Asmara, S.Pd.H., M.Pd.

Profesi guru merupakan suatu hal yang sangat mulia, profesi guru bukan hanya sekedar pekerjaan untuk mendapatkan uang, sejatinya ada hal yang lebih penting dari itu. Kata profesi secara umum sering diartikan sebagai suatu bidang pekerjaan yang dilandasi pendidikan dan keahlian. Berdasarkan pengertian itu kata profesional bersangkutan dengan profesi, memerlukan kepandaian khusus untuk melakukannya.

Ditegaskan dalam Pasal 4 UU No. 14 Th 2005, dalam kedudukannya sebagai tenaga profesional guru befungsi untuk meningkatkan martabat dan peran guru sebagai agen pembelajaran untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional. Sesuai dengan tugas mulia yang dipikulkan dan diemban tersebut tidak berlebihan jika dikatakan bahwa guru berperan dalam menentukan masa depan bangsa. “No teacher no education” tidak akan ada pengetahuan, jika suatu ilmu tidak diajarkan dari seorang guru.

Menjadi seorang guru harus memiliki sifat ikhlas, ikhlas dalam bekerja serta mampu menjiwai peserta didik dan materi yang diajarkannya. Profesi guru merupakan bidang pekerjaan khusus yang dilaksanakan berdasarkan prinsip profesionalitas. Guru hendaknya mampu mengembangkan nilai-nilai pendidikan dalam kehidupan di masyarakat dan sebaliknya mengintegrasikan serta  mentransformasikan nilai-nilai kehidupan di masyarakat dalam praktek pendidikan pada peserta didik.

Membangun profesionalisme guru tidak cukup hanya dengan langkah-langkah teknis. Membangun profesionalisme guru hendaknya ada konsep perencanaan serta strategi aksi yang melibatkan banyak pihak: Pemerintah, masyarakat dan tentunya guru itu sendiri. Saat ini pemerintah sudah mulai memperhatikan profesi guru, dengan memberikan tunjangan tambahan berupa Tunjangan Sertifikasi Guru (TPG). Tunjangan ini diharapkan dapat meningkatkan motivasi guru dalam mendidik serta mampu meningkatkan kualitas keprofesionalan guru. Tunjangan Sertifikasi Guru diberikan bagi guru yang sudah memiliki NRG (Nomor Registrasi Guru) atau sudah lulus PLPG, namun pada kenyataannya masih banyak guru yang belum mendapatkan tunjangan tersebut.

Realita yang ada didunia pendidikan sekarang, dengan adanya TPG tersebut banyak guru yang lebih menyibukkan diri memikirkan pencairan tunjangan tersebut dari pada fokus terhadap masalah pembelajaran dengan segala macam administrasinya. Begitu juga guru yang belum mendapat tunjangan sertifikasi merasa dinomor duakan, kadang guru yang belum sertifikasi mengeluh karena merasa beban dan pekerjaan yang sama dengan guru sertifikasi mendapatkan tunjangan yang berbeda. Kesenjangan ini juga ditemukan ada beberapa guru yang belum sertifikasi memiliki kemampuan atau kualitas kerja yang lebih professional ketimbang guru yang sudah terserifikasi. Kalau memang tujuan pemerintah memberikan TPG untuk meningkatkan kualitas pendidikan, harusnya pemberian TPG tersebut harus dicairkan berdasarkan kualitas kinerja guru dilapangan, bukan hanya dibayar berdasarkan guru yang sudah memiliki NRG dan telah memenuhi syarat administrasi.

            Melalui tulisan ini, guru diharapkan harus memiliki rasa ikhlas dalam menjalankan tugas-tugasnya, penuh tanggung jawab serta memiliki inisiatif memajukan pendidikan. Guru tidak hanya sibuk  menuntut tunjangan dan mengurus administrasi pencairannya tetapi lebih memikirkan bagaimana cara meningkatkan mutu pendidikan kearah yang lebih baik.

 

HARI SIWARATRI BUKAN PENGHAPUSAN DOSA — January 23, 2017

HARI SIWARATRI BUKAN PENGHAPUSAN DOSA

HARI SIWARATRI BUKAN PENGHAPUSAN DOSA

Oleh :  I Made Yuda Asmara, S.Pd.H., M.Pd.

Hari Siwaratri  jatuh setiap  Purwaning Tilem Kapitu, Siwaratri terdiri dari kata Siwa dan Ratri. Siwa artinya manifestasi Sang Hyang Widhi sebagai pelebur atau pralina dan Ratri berarti malam. Jadi, Siwaratri artinya malam Dewa Siwa atau malam renungan suci dimana yang beryoga pada hari itu adalah Sang Hyang Siwa sebagai pengatur dan penguasa alam semesta. Pada setiap sehari sebelum tilem Kapitu (panglong ping 14 sasih kepitu/ H-1 Tilem) atau bulan mati. Maha Siwaratri dilaksanakan pada  sasih Kapitu karena tilem Kapitu menurut kepercayaan umat Hindu merupakan malam yang paling gelap dari malam-malam disetiap sasih (bulan).

Dipilihnya tilem Kapitu, karena Kapitu merupakan simbol tujuh kegelapan yang menyelimuti kehidupan manusia didunia yang disebut “Sapta Timira”. Sapta Timira berarti “tujuh kegelapan” adalah tujuh unsur atau sifat yang menyebabkan pikiran orang jadi gelap. Ketujuh unsur kegelapan tersebut ada pada setiap diri manusia. Adapun tujuh kegelapan yang harus dikendalikan manusia antara lain : 1). Surupa artinya mabuk akan kecantikan atau ketampanan, 2). Dhana berarti mabuk karena memiliki kekayaan. 3). Guna artinya mabuk pada kepandaian. 4). Kulina berarti mabuk karena keturunan. 5). Yowana artinya mabuk pada masa remaja/muda. 6). Sura artinya mabuk karena minum  minuman keras. 7). Kasuran artinya mabuk karena keberanian.

Pelaksanaan Upacara siwaratri dikait-kaitkan dengan Epos cerita “Lubdaka” dimana ceritra itu penuh makna dan arti. Seperti yang dikatakan Mpu Tanakung bahwa kita selayaknya dalam hidup ini selalu amuter tutur penehayu, yang artinya berusaha memutar kesadaran dengan cara yang tepat. Salah satunya adalah menjalankan brata siwaratri ini.
Dari cerita si Lubdaka dapat disimpulkan bahwa Lubdaka adalah manusia biasa yang penuh dosa/ papa, seorang pemburu dan pembunuh hewan, secara kebetulan menjalankan ajaran / memuja Siwa di hari yang ratri, yaitu panglong ping 14 yang mana itu merupakan hari pemujaan Siwa, maka segala dosa yang pernah diperbuat mendapat pengampunan. Artinya, dosa –dosanya itu menjadi TERNETRALISIR karena perbuatan yang baik, disaat yang tepat.

Pelaksanaan hari siwaratri ini tercantum pada kakawin Sivaratri Kalpa yang menyatakan keutamaan Brata Sivaratri seperti disebutkan oleh Sang Hyang Siva sebagai berikut  yang berbunyi :

”Walaupun benar-benar sangat jahat, melakukan perbuatan kotor, menyakiti kebaikan hati orang lain, membunuh pandita (orang suci) juga membunuh orang yang tidak bersalah, congkak dan tidak hormat kepada guru, membunuh bayi dalam kandungan, seluruh kepapaan itu akan ternetralisir dengan melakukan Brata Sivaratri yang utama, demikianlah keutamaan dan ketinggian Brata (Sivaratri) yang Aku sabdakan ini” (Sivaratri kalpa, 37, 7-8).

Makna yang terkandung dalam kutipan sloka diatas menekankan pada dosa-dosa yang telah diperbuat manusia sekalipun dosa atau perbuatan yang paling jahat sekalipun akan ternetralisir dan diampuni oleh diwa Siwa, kalau orang tersebut telah melakukan Brata Siwaratri yang Utama dan nanti setelah meninggal atmanya akan mendapatkan Siva Lokha (Alam Sorga). Selanjutnya perlu ditekankan dosa dalam hal ini tidak terhapus (hilang) tetapi TERNETRALISIR, bedanya dihapus dengan dinetralisir yaitu: kalau terhapus berarti hilang, sedangkan ternetralisir berarti kondisi menetralkan tanpa menghilangkan. Contohnya ketika kita melarutkan garam kedalam sebuah wadah yang berisi air, maka air tersebut akan terasa asin, kita tidak mungkin mengangkat garam yang sudah larut dalam air untuk mengilangkan rasa asin tersebut, melainkan hal yang kita lakukan adalah menambah air sebanyak-banyaknya untuk menetralisir rasa asin dalam air tersebut. Dalam hal ini garam adalah dosa, dan air adalah perbuatan baik. Inilah sebabnya dosa tidak bisa  dihapus melainkan bisa dinetralisir dengan perbuatan-perbuatan yang baik.

Adapun Brata Siwaratri yang Utama yang dimaksud dalam kakawin Sivaratri Kalpa diatas adalah :

  • Tingkatan Nista : yaitu melakukan Jagra Brata (Begadang semalam suntuk) lamanya 12 Jam, dimulai dari jam 6 sore sampai besok pada hari tilem jam 6 pagi.
  • Tingkatan Madya: yaitu melakukan Jagra Brata (Begadang atau tidak tidur) dan upawasa (tidak makan dan minum) selama 24 jam, dimulai dari jam 6 pagi sebelum tilem sampai besok pada hari tilem jam 6 pagi.
  • Tingkatan Utama: yaitu melakukan Jagra Brata (Begadang atau tidak tidur) , upawasa (tidak makan dan minum) dan Mona Brata (tidak bicara) selama 36 Jam, dimulai dari jam 6 pagi sebelum tilem sampai besok pada hari tilem jam 6 sore.

Tingkatan Brata yang Utama inilah dilakukan oleh si Lubdaka dalam Kakawin Sivaratri tersebut, dari pergi berburu jam 6 pagi, sampai besok jam 6 sore baru pulang (36 jam), karena si Lubdaka tidak makan-minumn, tidak dapat tidur serta tidak bicara selama 36 jam, hal inilah yang dilakukan si Lubdaka (Brata Siwaratri yang Utama) sehingga setelah meninggal Atmanya / Rohnya dijemput oleh Dewa Siwa untuk diajak ke alam Sorga.

Jadi Makna dari hari raya Siwaratri ialah menenangkan pikiran serta menjauhkan diri dari hal- hal yang buruk dan mampu merenungkan perbuatan- perbuatan yang pernah kita lakukan dan berjanji tidak akan mengulangi lagi perbuatan buruk yang pernah kita lakukan, kemudian mampu menebus semua perbuatan buruk yang telah dilakukan dengan melakukan perbuatan-perbuatan baik dalam kehidupan seterusnya.

 

Penulis :  I Made Yuda Asmara, S.Pd.H., M.Pd.

Akademisi Hindu

 

Kitab Sarasamuscaya Online — May 16, 2016
IMPLEMENTASI AJARAN SAD PARAMITA DALAM MENANAMKAN SIKAP SPIRITUAL SISWA SMK NEGERI 3 TABANAN — April 22, 2016

IMPLEMENTASI AJARAN SAD PARAMITA DALAM MENANAMKAN SIKAP SPIRITUAL SISWA SMK NEGERI 3 TABANAN

Oleh

I MADE YUDA ASMARA, S.PD.H., M.PD.

ABSTRACT

 

 

Law on National Education System No. 20 of 2003, states that education are a conscious and deliberate effort in creating learners who have spiritual power of religion, self-control, personality, intelligence, character, skill, society, nation and state. This shows that the essence of education is not only refers to the development of academic intelligence but also on the development of emotional quotiens and spiritual quotiens of learners. In the world of education, especially in SMK N 3 Tabanan, where the students are still promoting the cognitive value of the attitudes and moral values of students. This makes the researchers are interested in making a study entitled “Implementation of the Doctrine Sad Paramita in Cultivating Spiritual Attitude Students in SMK Negeri 3 Tabanan”.

The issues addressed in this research is: (1).How the implementation Sad Paramita teachings in imparting spiritual attitudes of students. (2).What are the factors supporting and hindering implementation Sad Paramita teaching in imparting spiritual attitudes of students. (3).What are the implications Sad Paramita teachings of the spiritual attitude of students of SMK Negeri 3 Tabanan. Furthermore, to dissect the problems the researchers used three theories, namely Social Interaction Theory (Johnson), Theory of Change Attitude (Allport) and Behavior Theory (Fishben). The methods used in data collection are observation, interviews, literature and documentation. Then using a data analysis technique is descriptive qualitative.

The result of this reseach: implementation of the teachings Sad Paramita in imparting spiritual attitude of students of SMK Negeri 3 Tabanan through the teachings of Prajna, Wirya, Sila, Ksanti, Dana and Dhyana. The factors support and hindering implementation Sad Paramita teachings in imparting spiritual attitude of students of SMK Negeri 3 Tabanan namely: Factors supporting the implementation Sad Paramita teachings include: support from family, community, social peers and school extracurricular program. While the inhibiting factors include: family background is not good, the negative influence of science and technology, the effect of the age of globalization and impaired mental state and psychology students. Implications Sad Paramita teachings of the spiritual attitude students of SMK Negeri 3 Tabanan are the implications for the attitude of the student devotion, honesty attitude, the attitude of discipline, caring attitude, an attitude of responsibility, being polite, being proactive and responsive attitude.

Based on the results of such writing can be concluded that the implementation of the teachings Sad Paramita realized on students of SMK Negeri 3 Tabanan has excellent contributions in imparting spiritual attitudes of students among them were able to inculcate devotion students, the attitude of honesty, attitude, discipline, caring attitude, an attitude of responsibility, attitude polite, being proactive and responsive attitude. Although the application of the doctrine Sad Paramita in SMK Negeri 3 Tabanan experience the support and resistance, but the implications of these teachings is capable of forming students’ character, virtuous and noble.

 

 

Keywords: Doctrine Sad Paramita, Spiritual Attitudes students

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah
Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003, menyatakan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Hal ini menunjukkan bahwa hakekat pendidikan tidak hanya mengacu pada pengembangan intelegensi akademik tetapi juga pada pengembangan kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual manusia.
Untuk meningkatkan kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual diperlukan suatu ajaran yang selaras dengan ketiga kecerdasan tersebut. Salah satunya adalah ajaran Sad Paramita yang merupakan ajaran susila atau etika Hindu sebagai jalan menuju keluhuran budi. Ajaran Sad Paramita sebagai dasar dari tata susila yang bernafaskan agama Hindu dalam meningkatkan keluhuran budi, tingkah laku dan kepribadian manusia. Selain itu ajaran Sad Paramita dapat membina terwujudnya keselarasan hidup yang seimbang. Bila ajaran Sad Paramita direalisasikan dalam kehidupan sehari-hari, keharmonisan, kedamaian, kesejahteraan dan keberhasilan akan tercapai (Suhardana, 2009: 1).
Ginanjar (2001: 12) menyatakan bahwa untuk meraih sebuah keberhasilan antara Intelectual Quotient (IQ), Emotional Quotient (EQ) dan Spiritual Quotient (SQ) harus mempunyai keseimbangan. Intinya jika manusia mengenal dirinya sendiri secara intelektual, emosional dan spiritual yang baik, maka pada saat itulah akan terjadi perubahan cara pandang dan cara berfikir seseorang, yang akan mempengaruhi keselarasan hidup manusia didalam mencapai sebuah keberhasilan.
Umumnya sebagian besar orang lebih mementingkan kecerdasan intelektual ketimbang kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual. Seperti dipendidikan sekolah mulai dari SD, SMP, SMA/SMK dan Perguruan Tinggi, yang menitik beratkan pada kecerdasan intelektualnya (IQ) dari pada kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual (ESQ). Meskipun IQ merupakan faktor yang penting dalam proses pembelajaran, hal ini tidak mutlak karena tanpa adanya keseimbangan kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual dalam kehidupan seseorang akan menjadi tidak sempurna. Banyak contoh yang membuktikan bahwa orang yang memiliki IQ tinggi belum tentu sukses dan kalah dengan orang yang mempunyai IQ yang rendah tetapi memiliki kestabilan ESQ yang baik. Karena kestabilan ESQ menjadikan seseorang mampu beradaptasi yang baik dengan lingkungan, jujur, kreativitas, motivasi tinggi dan memiliki moral yang baik. Faktor-faktor inilah yang dihasilkan dari keseimbangan dan kontrol ESQ yang baik. ESQ adalah landasan yang diperlukan untuk memfungsikan IQ secara efektif dalam mencapai suatu tujuan (Ginanjar, 2001: 14).
Goleman (2005: 44) menyatakan dalam hasil penelitian ilmu psikologi bahwa kecerdasan kognitif (IQ) hanya mempunyai peran 20% dalam keberhasilan hidup manusia. Sedangkan sisanya 80% akan ditentukan oleh faktor-faktor lain, termasuk didalamnya faktor yang terpenting adalah kecerdasan spiritual. Kecerdasan intelektual itu hanya mempunyai peran ketiga setelah kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual. Bila sikap spiritualnya baik, akan mampu mengontrol perasaan secara stabil dan dapat mengenali diri sendiri. Kecerdasan intelektual (IQ) hanya unggul dalam teori diatas kertas, tetapi lemah dalam pelaksanaannya khususnya dalam hal sikap, moral, pergaulan, relasi, ketenangan diri, emosi dan lain sebagainya. Sedangkan kecerdasan emosional dan spiritual (ESQ), lebih membantu menetapkan standar seseorang dalam memaknai hakekat diri secara utuh baik lahir maupun batin.
Selanjutnya kesuksesan atau keberhasilan seseorang tidak hanya ditentukan oleh latar belakang pendidikan yang tinggi. Tetapi dengan pengendalian emosional yang baik, mampu bergaul dan menjalin hubungan dengan masyarakat serta lingkungan sehingga keberhasilan akan tercapai dengan mudah. Tanpa adanya keseimbangan antara emotional dan spiritual quotient (ESQ), kesuksesan itu sulit diraih. Dominasi kecerdasan intelektual pada kehidupan seseorang tidak akan membawa hasil yang maksimal, dibandingkan dengan dominasi kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual dalam hidup seseorang. Sehingga perlu diwujudkan keseimbangan IESQ, yaitu seimbang antara kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual. Kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual dipergunakan untuk mendeskripsikan kecerdasan sejati kehidupan manusia, meskipun hakekatnya kecerdasan spiritual (SQ) tidak terpisahkan dari kecerdasan intelektual (IQ) dan kecerdasan emosional (EQ) (Darwis, 2004: 33).
Suatu kecerdasan yang dimiliki manusia tidak pernah lepas dari peran pendidikan. Baik itu yang bersifat pendidikan formal, pendidikan informal maupun pendidikan nonformal. Contohnya pada pendidikan formal disalah satu Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Kabupaten Tabanan, tepatnya di SMK Negeri 3 Tabanan menjadi sasaran dalam menelaah lebih lanjut mengenai sikap Spiritual siswa. Siswa SMK Negeri 3 Tabanan pada umumnya lebih berkonsentrasi pada kecerdasan intelektual dari pada kecerdasan emosional dan sikap spiritual. Karakteristik siswa di SMK Negeri 3 Tabanan sangat bervariasi, ini dikarenakan banyaknya kompentsi keahlian (jurusan) yang ada dalam sekolah tersebut. Seperti kejuruan Teknik Komputer Jaringan (TKJ), Teknik Sepeda Motor (TSM), Teknik Kendaraan Ringan (TKR), Teknik Gambar Bangunan (TGB), serta Program Jasa Boga.
Hampir setiap program keahlian siswa di SMK Negeri 3 Tabanan lebih menitik beratkan pada kecerdasan intelektual dari pada kecerdasan spiritual. Padahal sekolah menengah kejuruan yang mencetak sumber daya manusia (SDM) yang siap terjun didunia kerja atau industri harus memiliki kematangan dalam hal spiritual yang baik. Karena dengan sikap spiritual yang baik akan dihasilkan sumber daya manusia (SDM) yang memiliki integritas kerja, tanggung jawab, kejujuran, kepribadian, kasih sayang serta moral yang baik.
Dari data pelanggaran siswa pada laporan guru Bimbingan Konseling (BK) menunjukkan bahwa, pelanggaran siswa di sekolah SMK Negeri 3 Tabanan masih tergolong tinggi, dilihat dari data pelanggaran tahun ajaran 2015/2016, pelanggaran siswa yang dominan pada sikap disiplin meliputi: menyontek, bercanda saat sembahyang (trisandya), kurang hormat pada guru, sering telat (Sumber : Laporan Guru BK data pelanggaran siswa tahun Ajaran 2015/2016).
Data diatas menunjukkan bahwa tingkat kedisiplinan, sikap spiritual dan mental siswa SMK Negeri 3 Tabanan masih tergolong rendah. Hal ini dikarenakan rendahnya pemahaman spiritual pada siswa SMKN Negeri 3 Tabanan belum tertanam. Salah satu contoh pelanggaran yang masih dominan dilakukan siswa yaitu menyontek pada saat ulangan. Perilaku tersebut dilakukan siswa semata-mata untuk meraih nilai akademis (kognetif) yang lebih bagus, padahal perilaku tersebut mencirikan keadaan rendahnya sikap spiritual (SQ) pada siswa SMK Negeri 3 Tabanan, karena sudah menunjukkan perilaku tidak jujur, curang dan beretika yang tidak baik.
Selanjutnya sesuai dengan realita diatas, perlu dikaji lebih mendalam mengenai pentingnya sikap spiritual pada siswa SMK Negeri 3 Tabanan dengan mengimplementasikan ajaran Sad Paramita. Melalui penerapan ajaran Sad Paramita diharapkan mampu menanamkan sikap spiritual yang baik serta memiliki budi yang luhur. Maka dengan realisasi ajaran tersebut, secara tidak langsung dapat menghasilkan siswa yang unggul, mampu bersaing didunia kerja atau industri, memiliki keterampilan serta mempunyai daya saing tinggi, kreatif dan inovatif serta selalu memegang teguh kejujuran.
Bertitik tolak dari uraian di atas, maka peneliti tertarik untuk mengkaji lebih dalam mengenai pentingnya sikap spiritual pada siswa dengan mengimplementasikan ajaran Sad Paramita sebagai pedoman dasar dalam meningkatkan kualitas SDM di SMK Negeri 3 Tabanan. Kemudian peneliti tertarik mengangkat hal tersebut kedalam suatu karya ilmiah yang berjudul “Implementasi Ajaran Sad Paramita dalam Menanamkan Sikap Spiritual pada Siswa Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 3 Tabanan”.

1.2 Rumusan masalah
Bertitik tolak dari latar belakang yang dikemukakan diatas, maka dapat dirumuskan beberapa permasalahan sebagai berikut:
1. Bagaimanakah implementasi ajaran Sad Paramita dalam menanamkan sikap spiritual siswa SMK Negeri 3 Tabanan?
2. Apakah faktor pendukung dan penghambat implementasi ajaran Sad Paramita dalam menanamkan sikap spiritual siswa SMK Negeri 3 Tabanan?
3. Apakah implikasi ajaran Sad Paramita pada sikap spiritual siswa SMK Negeri 3 Tabanan?

1.3 Tujuan Penelitian
Penelitian yang berbentuk ilmiah sudah tentu dilandasi dengan tujuan yang ingin dicapai, sebab berhasil tidaknya suatu penelitian ditentukan oleh jelas tidaknya tujuan itu sendiri. Tujuan merupakan syarat yang mutlak yang harus ada dalam penelitian. Penelitian yang baik adalah penelitian yang tidak saja berhasil mengungkapkan masalah dan mencari solusi atau pemecahan dari permasalahan tersebut, akan tetapi yang lebih penting adalah bagaimana hasil dari penelitian ini memiliki daya efektif untuk mencapai sasaran dan tujuan.Setiap kegiatan yang dilakukan dibuat suatu perencanaan yang matang, sehingga dalam pelaksanaannya dapat meminimalkan hambatan yang akan ditemui serta hasil yang akan dicapai sesuai dengan tujuan yang ditetapkan. Demikian pula dengan penelitian ini sudah tentu memiliki tujuan yang hendak dicapai. Adapun tujuan dari penelitian ini meliputi dua tujuan pokok, yaitu tujuan yang bersifat umum dan tujuan yang bersifat khusus.

1.3.1 Tujuan Umum
Secara umum, penelitian ini bertujuan untuk memberikan sumbangan pemikiran serta memperkaya khasanah ilmu pengetahuan, khususnya pada ajaran Sad Paramita yang diimplementasikan dalam mewujudkan sikap spiritual siswa SMK Negeri 3 Tabanan kearah yang lebih baik.

1.3.2 Tujuan Khusus
Adapun tujuan secara khusus yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk mendeskripsikan implementasi ajaran Sad Paramita dalam menanamkan sikap spiritual siswa SMK Negeri 3 Tabanan.
2. Untuk Mengetahui faktor-faktor yang mendukung dan penghambat implementasi ajaran Sad Paramita dalam menanamkan sikap spiritual siswa SMK Negeri 3 Tabanan.
3. Untuk menegetahui implikasi ajaran Sad Paramita pada sikap spiritual siswa SMK Negeri 3 Tabanan.

1.4 Manfaat Penelitian
Suatu penelitian yang dilakukan menghasilkan sesuatu yang baru, maka penelitian itu bisa dikatakan berhasil. Suatu penelitian dikatakan berhasil apabila penelitian itu mampu menjawab persoalan dalam masyarakat dan bisa memberikan kontribusi bagi masyarakat umum. Melalui pelaksanaan penelitian ini diharapkan hasilnya dapat memberikan manfaat, baik secara teoretis maupun praktis.

1.4.1 Manfaat Teoretis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan serta wawasan mengenai ajaran Sad Paramita dalam menanamkan sikap spiritual di lingkungan siswa Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 3 Tabanan.

1.4.2 Manfaat Praktis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan maamfaat praktis sebagai berikut :
1. Bagi siswa untuk mengetahui konsep ajaran Sad Paramita sebagai landasan dalam menanamkan sikap spiritual siswa khususnya siswa SMK Negeri 3 Tabanan.
2. Bagi guru mendapatkan metode pengetahuan dan pembelajaran dalam membina serta menanamkan sikap spiritual dalam proses belajar mengajar agar menjadi lebih baik.
3. Bagi masyarakat dapat bermanfaat secara umum mengenai penanaman sikap spiritual siswa dengan menerapkan ajaran Sad Paramita.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA, KONSEP, TEORI, DAN MODEL PENELITIAN

2.1 Kajian Pustaka
Kajian pustaka merupakan langkah awal bagi peneliti dalam mengumpulkan informasi yang berhubungan dengan subyek penelitian yang akan dilaksanakan. Dalam suatu karya ilmiah, penggunaan kajian pustaka sangat penting dalam mendukung, mengungkapkan, serta menghasilkan suatu karya ilmiah yang berbobot. Kajian pustaka ini, peneliti menggunakan sumber data kepustakaan sebagai pendukung khasanah pengetahuan, pustaka pembanding, serta menunjukkan perbedaan arah penelitian untuk meminimalisir kesamaan kajian. Kajian pustaka meliputi pengidentifikasian secara sistematis penemuan dan analisis dokumen-dokumen yang memuat informasi berkaitan dengan masalah penelitian (Sugiyono, 2007: 80).
Kajian pustaka yang akan dikaji dalam mendukung penelitian ini, baik dalam bentuk pustaka-pustaka, buku-buku, karya ilmiah yang berupa disertasi atau tesis dipandang perlu dan bermanfaat dalam upaya melaksanakan penelitian ini, sehingga tidak terjadi kesamaan dalam pembahasan sebuah objek penelitian. Adapun beberapa sumber pustaka atau hasil penelitian yang dijadikan sebagai bahan kajian pustaka antara lain sebagai berikut.

Satria (2015), dalam penelitian berjudul “Implementasi Pendidikan Karakter Dalam Pendidikan Agama Hindu di SMA Pariwisata Saraswati Klungkung” mengkaji tentang tahapan implementasi pendidikan karakter dalam pembentukan karakter melalui matapelajaran, budaya sekolah, kegiatan extrakurikuler. Hambatan-hambatan implementasi pendidikan karakter di SMA Pariwitasa Saraswati Klungkung bersumber dari perserta didik itu sendiri, faktor guru, faktor teman spergaulan, faktor keluarga. Implikasi pendidikan karakter yaitu terhadap penguatan karakter relegius, penguatan perilaku pengembangan diri dan terhadap perilaku dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Persamaan penelitian Satria dengan penelitian ini adalah mengkaji sebuah penerapan ajaran yang dipakai sebagai pembentukan karakter dalam hal penguatan relegius (kecerdasan spiritual), pengembangan perilaku atau sikap (kecerdasan emosional). Perbedaan penelitian Satria dengan penelitian ini, penelitian Satria menerapkan pendekatan pendidikan karakter dalam penguatan sikap relegius dan perilaku, sedangkan penelitian ini menerapkan ajaran Sad Paramita¬ dalam menanamkan sikap spiritual siswa. Kontribusi penelitian Satria dalam penelitian ini dapat dipakai sebagai acuan dalam pengimplementasian suatu ajaran, beserta implikasi dan hambatan yang dialami dalam proses penerapan ajaaran yang diterapkan disuatu sekolah.
Sukana (2013), dalam penelitiannya berjudul “Implementasi Ajaran Bhagavadgita Dalam Membentuk Budi Pekerti Bagi Bhakta di Ashram Kresna Balarama” mengkaji penerapan sistem pengajaran Bhagavadgita dalam membentuk budi pekerti bagi Bhakta di Ashram Kresna Balarama. Mengkaji faktor-faktor yang mempengaruhi budi pekerti Bhakta di Ashram Kresna Balarama yaitu faktor-faktor dari luar seperti pola hidup, IPTEK, materialistic, sekuleristik, lingkungan dan hedonistic.
Persamaan penelitian Sukana dengan penelitian ini adalah mengkaji tentang implementasi suatu ajaran yang dipakai dalam membentuk budi pekerti seseorang, dimana melalui penerapan sistem pengajaran yang diberikan diharapkan mampu merubah budi pekerti seseorang. Faktor-faktor yang mempengaruhi budi pekerti seseorang yaitu faktor dari luar seperti pola hidup, materialistic dan IPTEK. Perbedaan penelitian Sukana dengan penelitian ini yaitu, penelitian Sukana menggunakan sistem pengajaran Bhagavadgita, sedangkan penelitian ini menggunakan ajaran Sad Paramita. Kontribusi penelitian Sukana terhadap penelitian ini dapat dipakai sebagai pedoman dasar dalam membina dan membentuk budi pekerti serta faktor-faktor dari luar yang dapat mempengaruhi budi pekerti seseorang dalam hal ini siswa SMK Negeri 3 Tabanan.
Mahadiputra (2013), dalam penelitiannya berjudul “Implementasi Tri Hita Karana Dalam Meningkatkan Karakter Siswa Hindu di Sekolah Dasar Negeri No.2 Nyambu Kecamatan Kediri Kabupaten Tabanan” mengkaji pola penerapan ajaran Tri Hita Karana dalam meningkatkan karakter siswa seperti bidang parahyangan, pawongan dan palemahan, begitu juga mengkaji tentang dampak implementasi ajaram Tri Hita Karana dalam meningkatkan karakter siswa seperti perubahan perilaku siswa dimasa mendatang, menerapkan nilai-nilai ajaran agama serta respon positif siswa terhadap pelestarian lingkungan.
Persamaan Penelitian Mahadiputra dengan penelitian ini adalah sama-sama mengkaji sebuah ajaran dalam meningkatkan karakter siswa seperti bidang parahyangan (kecerdasan spiritual), pada bidang pawongan dan palemahan (kecerdasan emosional) yang menyangkut sikap atau perilaku siswa. Perbedaan penelitian Mahadiputra dengan penelitian ini, penelitian Mahadiputra menggunakan penerapan ajaran Tri Hita Karana dalam meningkatkan karakter siswa, sedangkan penelitian ini menggunakan ajaran Sad Paramita dalam menanamkan sikap spiritual siswa pada sekolah SMK Negeri 3 Tabanan. Kontribusi penelitian Mahadiputra terhadap penelitian ini dapat dipakai sebagai bahan acuan dalam meningkatkan karakter siswa khususnya kecerdasan spiritual dan kecerdasan emosional siswa.
Suyeni (2010), dalam penelitiannya berjudul “Implementasi Ajaran Dasa Yama Brata Dalam Membentuk Perilaku Siswa Yang Baik Dan Benar di Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Bangli” mengkaji implementasi tingkat pemahaman ajaran Dasa Yamabrata dalam membentuk perilaku siswa yang baik dan benar, mengkaji faktor-faktor penyebab penyimpangan terhadap ajaran Dasa Yamabrata bagi siswa, serta mengkaji upaya-upaya guru agama Hindu dalam mengantisipasi penyimpangan ajaran Dasa Yamabrata sehingga terbentuk perilaku yang baik dan benar.
Persamaan penelitian Suyeni dengan penelitian ini yaitu sama-sama mengkaji suatu ajaran yang diimplementasikan disekolah untuk meningkatkan perilaku siswa yang baik dan benar khususnya dalam kecerdasan SQ. Perbedaan penelitian Suyeni dengan penelitian ini adalah kajian ajaran yang diterapkan menggunakan Dasa Yamabrata sedangkan penelitian ini mengguanakan ajaran Sad Paramita. Kontribusi penelitian Suyeni terhadap penelitian ini dapat dipakai sebagai pedoman dalam meningkatkan perilaku yang baik dan benar khususnya bagi siswa SMK Negeri 3 Tabanan.
Winata (2007), dalam penelitiannya berjudul “Pola Pembinaan Budi Pekerti Terhadap Peserta Didik di SMP Negeri 2 Semarapura Kabupaten Klungkung” mengkaji tentang pola pembinaan budi pekerti siswa, pengaruh pembinaan mental terhadap pembinaan budi pekerti serta makna pembinaan budi pekerti di SMP Negeri 2 Semarapura. Penelitian ini lebih menekankan peningkatan budi pekerti siswa yang mengacu pada nilai-nilai Pancasila dan nilai-nilai ajaran agama Hindu serta penerapannya melalui strategi 7 K dan Panca Tertib Sekolah.
Persamaan penelitian Winata dengan penelitian ini adalah sama-sama mengkaji peningkatan budi pekerti siswa dilingkungan sekolah, yang diselaraskan dengan ajaran atau pola pembinaan pembelajaran disekolah. Perbedaan penelitian Winata dengan penelitian ini adalah sistem pola pembinaan budi pekerti menggunakan strategi 7 K dan Tata Tertib Sekolah sebagai acuannya, sedangkan penelitian ini menerapkan ajaran Sad Paramita dalam menanamkan sikap spiritual siswa. Kontribusi penelitian Winata terhadap penelitian ini dapat dipakai sebagai bahan acuan dan perbandingan dalam mengkaji peningkatan budi pekerti dilingkungan sekolah khususnya pada siswa SMK Negeri 3 Tabanan.
Suhardana (2009), dalam bukunya berjudul “Catur & Sad Paramita Jalan Menuju Keluhuran Budi” buku ini dijelaskan Catur dan Sad Paramita merupakan ajaran Susila atau Etika Hindu sebagai jalan menuju keluhuran budi. Kontribusi buku ini sangat cocok untuk dijadikan kajian dalam menelaah ajaran Sad Paramita yang diimplementasikan pada siswa SMK Negeri 3 Tabanan. Ginanjar (2001) dalam bukunya berjudul “Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual ESQ: Emotional Spiritual Quotient”. Kontribusi buku IESQ dengan penelitian ini sangat relevan dipakai dalam mengkaji kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual siswa di SMK Negeri 3 Tabanan. Muhyidin (2007) dalam bukunya “Manajemen ESQ Power” menjelaskan bahwa konsepsi tentang kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual lebih merujuk kepada pandangan agama dalam rangka meningkatkan mutu hidup secara psikologi, sosial dan spiritual. Kontribusi buku ESQ Power sangat relevan dpakai sebagai kajian bagaimana menanamkan sikap spiritual siswa SMK Negeri 3 Tabanan agar menjadi seimbang dan menghasilkan siswa yang berkualitas dalam penerapan ajaran Sad Paramita.

2.2 Konsep
Konsep dalam penelitian ini memuat uraian sistematis tentang pemikiran yang ada hubungannya dengan penelitian yang dilakukan. Peneliti mencari pengertian atau konsep relevan dengan objek yang menjadi topik penelitian ini, sehingga diperoleh pemahaman yang komprehensif terhadap permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: (1). Implementasi (2). Ajaran Sad Paramita (2). Penanaman Sikap Spiritual.
2.2.1. Implementasi
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dijelaskan bahwa yang dimaksud “implementasi” adalah pelaksanaan (Poerwardaminta, 1995 : 337). Selain itu dalam Kamus Besar Pusat Bahasa Edisi Keempat dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan implementasi adalah penerapan, penggunaan implement dalam kerja, pelaksanaan, pengerjaan hingga terjadi, terwujud, pengejawantahan. Kata implementasi berasal dari kata implement yaitu : alat, aparat, perkakas (rumah), perabot, peralatan (Tim Penyusun 2008: 193). Yang dimaksud implementasi dalam penelitian ini adalah sebuah penerapan, pelaksanaan dari ajaran Sad Paramita dalam menanamkan sikap spiritual pada SMK Negeri 3 Tabanan.
Implementasi ajaran Sad Paramita ini diharapkan mampu menanamkan nilai-nilai spiritual yang baik terhadap sikap siswa SMK Negeri 3 Tabanan. Supaya siswa SMK Negeri 3 Tabanan dapat menumbuhkembangkan serta menerapkan ajaran-ajaran ke-Tuhanan yang meliputi kejujuran, toleransi, tenggang rasa, suci dalam pikiran serta sikap berbudi luhur.

2.2.2. Ajaran Sad Paramita
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia kata “ajaran” berasal dari kata “ajar” yang artinya petunjuk yang diberikan kepada orang supaya diketahui, sedangkan “ajaran” artinya segala sesuatu yang diajarkan, berupa nasehat, petuah. (Tim Penyusun, 2008: 18). Sad Paramita dalam Kamus Istilah Agama Hindu memiliki arti enam budi luhur, kebaikan yang dmerupakan jalan lurus menuju pada kesadaran agung (Tim Penyusun, 2005: 113).
Suhardana (2009: 19), Sad Paramita dibagi menjadi dua kata yaitu Sad berarti enam dan Paramita berarti keluhuran budi. Jadi Sad Paramita memiliki makna enam sikap kebaikan untuk menuju keluhuran budi demi mendapatkan kehidupan yang harmonis dan sejahtera. Bagian-bagian ajaran Sad Paramita antara lain : Dhyana, Dana, Prajna, Wirya, Sila dan Ksanti.
Tim Bali Aga (2009: 107), Sad Paramita adalah enam jenis keluhuran budi yang meliputi : Suka bersedekah (dana), bertingkah laku yang baik (sila), sabar suka mengampuni (ksanti), keteguhan hati atau iman (wirya), pemusatan pikiran kepada Tuhan (dhyana), dan bijaksana (pradnya). Jadi enam jenis sikap ini yang dijadikan pedoman dalam meraih kesuksesan hidup.
Ajaran Sad Paramita dalam penelitian ini dijadikan acuan dalam menanamkan sikap spiritual siswa seperti membantu sesama, menanamkan sikap welas asih, perbuatan luhur, mulia berupa persahabatan, kasih sayang, tenggang rasa dan toleransi, serta bertaqwa kehadapan Ida Sang hyang Widhi Wasa, sehingga nantinya peserta didik menjadi manusia yang berbudaya dan berkualitas secara akademik, apektif dan spiritualis pada siswa SMK Negeri 3 Tabanan.

2.2.3. Penanaman Sikap Spiritual
Kata Penanaman berasal dari kata “tanam” yang memiliki makna menaruh (bibit, benih) di dalam tanah supaya tumbuh (Tim Penyusun 2008: 270). Penaman yang dimaksud dalam penelitian ini adalah menumbuhkembangkan, mempertumbuhkan atau membiakkan sebuah benih, bibit pada sebuah obyek. Penanaman dalam penelitian ini adalah sebuah proses, cara, perbuatan menanam / menanamkan ajaran-ajaran Sad Paramita terhadap siswa SMK Negeri 3 Tabanan.
Sikap Spiritual merupakan kemampuan seseorang melakukan refleksi diri, merenung dan berhubungan dengan alam bathin sertaTuhannya yang menyangkut dalam hal sikap dan perbuatan terhadap orang lain atau makhluk lain (Winarno, 2008: 20).
Pemahaman sikap spiritual yang baik pada seseorang mampu menghadapi dan memecahkan persoalan makna dan nilai, yaitu menempatkan perilaku dan hidup manusia dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya, serta menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dibandingkan dengan yang lain (Zohar dan Marshall, 2005: 4).

Bertalian dengan sikap spiritual pada diri seseorang menurut Goleman (2005: 70), Spiritual Quotient yang disingkat (SQ) adalah kecerdasan yang berperan sebagai landasan yang diperlukan untuk memfungsikan IQ dan EQ secara efektif, bahkan SQ merupakan kecerdasan tertinggi dalam diri seseorang. Dikemukanan Danah Zohar. Kemana arah kemampuan berfikir seseorang dan akan dibawa kemana kemampuan seseorang untuk bersosialisai sangat dipengaruhi adanya kecerdasan SQ. Jika SQ baik maka kecerdasan IQ dan EQ tentu akan terarah kedalam kebaikan dan membawa manfaat kepada diri sendiri dan orang lain.
Sedangkan menurut Maslow dalam (Ginanjar, 2001: 25) menyatakan sikap spiritual adalah aktualisasi diri (tahap spiritual) yakni ketika individu dapat mencurahkan kreativitasnya dengan santai, senang, toleran dan merasa terpanggil untuk membantu orang lain mencapai tingkat kebijaksanaan serta kepuasan diri. Maslow menekankan bahwa spiritual menjadikan manusia yang benar-benar utuh secara intelektual, emosi dan sikap spiritual sehingga bisa dikatakan spiritualitas seseorang adalah kecerdasan jiwa yang dapat membantu manusia menyembuhkan dan membangun diri manusia secara utuh. Hal ini harus diraih dalam suatu lingkungan yang sarat dengan cinta dan kepedulian.
Penanaman Sikap Spiritual dalam penelitian ini dimaksudkan sebuah proses atau cara menanam, menaruh, memasukkan bibit atau benih-benih ajaran yang menyangkut sikap-sikap spiritual siswa, dalam hal ini adalah aktualisasi dari ajaran Sad Paramita. Penanaman sikap spiritual melalui implementasi ajaran Sad Paramita diharapkan mampu membangkitkan, memasukkan dan menumbuhkembangkan benih-benih sikap keluhuran budi pada siswa SMK Negeri 3 Tabanan.

2.3 Teori
Sugiyono (2007: 52) menjelaskan bahwa, Teori adalah seperangkat konstruk (konsep), definisi dan proposisi yang berfungsi untuk melihat fenomena secara sistematik, melalui sfesifikasi hubungan antar variabel, sehingga dapat berguna untuk menjelaskan dan meramalkan suatu fenomena. Teori dimaksudkan sebagai sesuatu yang mengandung prinsip dasar yang berlaku umum yang memberikan kerangka orientasi untuk analisis dan klasifikasi. Kerangka orientasi yang dimaksudkan adalah kerangka pikiran yang dirumuskan dengan jelas sebagai tuntunan untuk memecahkan masalah penelitian. Teori yang dipakai dalam penelitian ini antara lain : Teori Interaksi Sosial, Teori Sikap dan Teori Perubahan Tingkah Laku.

2.3.1 Teori Interaksi Sosial
Johnson mengatakan didalam masyarakat, interaksi sosial merupakan hubungan sosial yang dinamis yang menyangkut hubungan antara individu dengan individu lainnya, individu dengan kelompok dan sebaliknya. Interaksi sosial memungkinkan masyarakat berproses sedemikian rupa sehingga membangun suatu pola hubungan (Yulianti, 2003: 91).
Interaksi sosial adalah kunci dari semua kehidupan sosial, oleh karena itu tanpa adanya interaksi sosial tidak akan mungkin ada kehidupan bersama. Interaksi sosial dimaksudkan sebagai pengaruh timbal balik antar individu dengan golongan didalam usaha mereka untuk memecahkan persoalan yang diharapkan dan usaha mereka untuk mencapai tujuannya (Ahmadi, 2004: 64).
Bentuk-bentuk interaksi sosial adalah Asosiatif dan Disosiatif (Soerjono Soekanto,2012: 73) meliputi: (1). Asosiatif yaitu kerja sama (cooperation), akomodasi (acomodation), (2). Disasosiatif terdiri persaingan (competition), (3). kontravensi (contravention) dan (4). pertentangan (conflict). Persaingan diartikan sebagai suatu proses sosial dimana individu atau kelompok-kelompok manusia yang bersaing. Kontravensi merupakan sikap mental yang tersembunyi terhadap orang-orang lain dan terhadap unsur-unsur kebudayaan suatu golongan tertentu. Pertentangan merupakan suatu proses sosial dimana individu atau kelompok berusaha untuk memenuhi tujuannya dengan jalan menantang pihak lawan yang sering disertai dengan ancaman atau kekerasan.
Teori interaksi sosial dalam penelitian ini digunakan untuk menganalisis implementasi ajaran Sad Paramita dalam menanamkan sikap spiritual siswa SMK Negeri 3 Tabanan, yaitu pada interaksi yang terjadi antara guru dengan siswa melalui penerapan ajaran Sad Paramita dalam menanamkan sikap spiritual siswa. Relevansi dari teori ini dapat membedah masing-masing rumusan masalah dengan tepat mengenai interaksi sosial yang terjadi sebagai pengaruh timbal balik antar individu dengan golongan (guru dengan siswa atau siswa dengan siswa lainnya) didalam usaha untuk memecahkan persoalan yang diharapkan dan usaha untuk mencapai tujuannya yaitu menanamkan sikap spiritual siswa SMK Negeri 3 Tabanan.
2.3.2. Teori Sikap
Menurut Fishben menyatakan sikap merupakan suatu kecenderungan untuk secara konsisten memberikan tanggapan menyenangkan atau tidak menyenangkan terhadap suatu objek, kecenderungan ini merupakan hasil belajar, bukan pembawaan atau keturunan. Sikap sebagai suatu pendapat disertai perasaan yang menentukan tindakan terhadap suatu objek . Sikap (attitude) sebagai pernyataan evaluative, baik yang menyenangkan maupun tidak menyenangkan terhadap objek, individu, atau peristiwa. Hal ini mencerminkan bagaimana perasaan seseorang tentang sesuatu (dalam Dayakisni dan Hudaniah, 2003: 25).
Komponen sikap meliputi: (1). sikap kognitif yaitu aspek pengetahuan tentang objek, (2). Sikap afektif tentang perasaan baik atau buruk yang berkaitan dengan pengetahuan. (3). Tingkah laku yaitu perwujudan dalam bentuk tindakan terhadap terhadap suatu objek. (Azwar : 2007: 53).
Menurut Brigham (dalam Dayakisni dan Huaniah, 2003: 35) ada beberapa cirri atau karakteristik dasar dari sikap, yaitu:
1. Sikap disimpulkan dari cara-cara individu bertingkah laku.
2. Sikap ditujukan mengarah kepada objek psikologis atau mengkatagorisasikan objek target dimana sikap diarahkan.
3. Sikap dipelajari.
4. Sikap mempengaruhi perilaku. Memegang teguh suatu sikap yang mengarah pada suatu objek memberikan satu alas an untuk berperilaku mengarah pada objek itu dengan suatu cara tertentu.
Azwar (2007: 63) menyimpulkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan sikap adalah pengalaman pribadi, kebudayaan, orang lain yang dianggap penting, media massa, institusi atau lembaga pendidikan daan lembaga agama, serta faktor emosi dalam diri individu.
Berdasarkan definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa sikap adalah kecenderungan individu untuk memahami, merasakan, bereaksi dan berperilaku terhadap suatu objek yang merupakan hasil dari interaksi komponen kognitif, afektif dan konatif (perilaku). Perubahan dan pembentukan sikap akan ditentukan oleh faktor internal dan faktor eksternal.
Teori Sikap dalam penelitian ini digunakan untuk mengkaji rumusan masalah mengenai faktor pendukung dan penghambat implementasi ajaran Sad Paramita terhadap penanaman sikap spiritual siswa SMK Negeri 3 Tabanan. Sesuai apa yang dikatan Fishben dalam teori sikap ini yaitu sikap merupakan suatu kecenderungan untuk secara konsisten memberikan tanggapan menyenangkan atau tidak menyenangkan terhadap suatu objek. Jadi objek yang dimaksud adalah sikap spiritual siswa perubahan dan pembentukan sikap spiritual yang ditentukan oleh faktor internal atau faktor eksternal yang terjadi dari implementasi ajaran Sad Paramita.

2.3.3. Teori Perubahan Tingkah Laku
Istilah watak dan kepribadian (karakter) sering digunakan secara bertukar-tukar, secara tradisional kata watak, mengisyaratkan norma tingkah laku tertentu atas dasar mana individu-individu atau perbuatan-perbuatannya dinilai. Menurut Allport (dalam Hall, 1995: 24-25) menyatakan bahwa; tingkah laku adalah kepribadian yang dievaluasi. Allport juga mengemukakan kepribadian adalah organisasi dinamik dalam individu atas sistem-sistem psikofisis yang menentukan penyesuaian dirinya dengan khas terhadap lingkungan.
Menurut Allport perubahan tingkah laku dapat dilihat dari perkembangan kepribadian dari sejak lahir sampai anak pada masa dewasa. Allport mengemukakan bahwa anak yang baru lahir (neonatus) sebagai makhluk yang eksistensinya nyaris semata-mata berupa Hereditas, dorongan primitif dan refleks. Neonatus belum memiliki sifat-sifat khusus, yang baru akan muncul kemudian sebagai akibat dari transaksi-transaksi dengan lingkungannya sehingga anak akan memiliki kepribadian dimana kepribadian itu akan terbentuk setelah adanya pemenuhan proses pertumbuhan dan pematangan. Dalam prroses untuk bertrasaksi dengan lingkungannya maka dengan keadaan seperti ini bagaimana anak dapat digerakkan atau diberikan motivasi agar proses pertumbuhan dan pematangannya dapat terpenuhi. Pada tahap ini seorang anak sebagian besar merupakan makhluk yang terdiri atas tegangan-tegangan dan perasaan. Sehingga perubahan tingkah laku semata-mata bersandar pada pentingnya hadiah, hukum akibat, atau prinsip kenikmatan, akan sangat cocok dijadikan pegangan untuk menerangkan tingkah laku anak selama tahun-tahun paling awal dalam kehidupan.
Menurut Sheldon (dalam Hall, 1995: 88) menyatakan bahwa; faktor-faktor genetik dan faktor-faktor biologis lainnya memainkan peranan yang menentukan perkembangan individu. Sheldon yakin bahwa ada kemungkinan untuk memperoleh sekedar gambaran tentang faktor-faktor ini melalui serangkaian pengukuran yang didasarkan pada jasmani. Sheldon menyatakan bahwa terdapat banyak dimensi lahiriah yang dapat dipakai untuk menggambarkan tingkah laku dan menganggap pentingnya faktor-faktor biologis yang mendasari jasmani luar yang bisa diamati.
Sesuai dengan teori perubahan tingkah laku yang telah diuraikan di atas, maka teori dari Allport sangat relevan dengan masalah dalam penelitian ini. Adapun kajian teori tingkah laku dalam penelitian ini adalah untuk membedah rumusan masalah implikasi ajaran Sad Paramita dalam menanamkan sikap spiritual siswa SMK Negeri 3 Tabanan. Teori ini menelaah tingkah laku atau sikap siswa terhadap sikap spiritual siswa melalui penerapan ajaran Sad Paramita tersebut. Jadi, teori perubahan tingkah laku yang digunakan, dalam penelitian ini adalah teori menurut Allport yaitu tingkah laku adalah kepribadian yang dievaluasi karena dengan melihat tingkah laku anak seseorang terhadap perubahan yang dilakukannya itu agar menjadi lebih baik.

2.4 Model Penelitian

Penjelasan Bagan:
Agama Hindu tidak pernah lepas dari Ajaran Tri Kerangka Dasar Agama Hindu yaitu : tattwa, susila dan ritual. Salah satu aktualisasi ajarannya yang dipakai kajian dalam penelitian ini adalah ajaran Sad Paramita. Ajaran Sad Paramita merupakan salah satu ajaran moral yang bernafaskan agama Hindu dalam menuju keluhuran budi. Sad Paramita sebagai dasar dari tata susila Hindu dalam membina hubungan yang selaras dan harmonis secara vertikal dan horisontal. Pembinaan tersebut diberikan pada siswa SMK Negeri 3 Tabanan yang memiliki karakteristik yang bervariasi sesuai dengan kompetensi keahliannya.
Pembinaan yang dimaksud dengan mengimplementasikan ajaran Sad Paramita yang lebih difokuskan dalam menanamkan sikap spiritual siswa SMK Negeri 3 Tabanan. Karena dengan terciptanya sikap spiritual yang baik, siswa SMK Negeri 3 Tabanan menjadi lebih berkualitas dan memiliki daya saing yang tinggi di dunia perindustrian yang siap pakai.
Dari proses penerapan ajaran Sad Paramita tersebut, maka perlu dipahami terlebih dahulu memahami bentuk implementasi ajaran Sad Paramita yang akan diberikan untuk menanamkan sikap spiritual siswa, sehingga dari implementasi tersebut dapat diketahui faktor-faktor yang mendukung dan penghambat dalam menerapkan ajaran Sad Paramita bagi siswa SMK Negeri 3 Tababanan.
Ketika tercapainya menanamkan sikap spiritual siswa yang baik, akan terwujud sikap spiritual yang luhur pada siswa di SMK Negeri 3 Tabanan. sehingga mampu menghasilkan siswa yang unggul, berkualitas baik, kreatif, jujur serta memiliki moral yang baik. Terwujudnya sikap spiritual siswa yang berbudi luhur, maka akan terjalin keharmonisan secara vertikal dan horisontal yaitu hubungan manusia dengan Tuhan, antar sesama manusia serta manusia dengan lingkungannya.

BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Jenis dan Pendekatan Penelitian
Menurut Persons (dalam Iqbal 2002: 10) menjelaskan bahwa penelitian adalah pencarian atas sesuatu secara sistematis dengan penekanan bahwa pencarian yang dilakukan terhadap masalah-masalah yang dapat dipecahkan. Adapun jenis penelitian dan pendekatan penelitian yang digunakan adalah sebagai berikut.

3.1.1 Jenis Penelitian
Pada penelitian ini digunakan jenis penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif merupakan metode penelitian yang berusaha menggambarkan, menginterpretasikan obyek sesuai dengan apa adanya. Menurut Sugiyono (2005: 1) metode penelitian kualitatif adalah suatu metode penelitian yang digunakan untuk meneliti pada kondisi objek yang alamiah. Dalam penelitian kualitatif, peneliti adalah sebagai instrumen kunci, teknik pengumpulan data dilakukan secara triangulasi (gabungan), analisis data bersifat induktif dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna dari pada generalisasi.
Dari uraian analisa diatas, dalam penelitian yang dilakukan di SMK Negeri 3 Tabanan mengenai implementasi ajaran Sad Paramita dalam menanamkan sikap spiritual siswa. Peneliti menggunakan jenis penelitian kualitatif ini, ditujukan agar memperoleh informasi secara detail mengenai implementasi ajaran Sad Paramita dalam menanamkan sikap spiritual siswa SMK Negeri 3 Tabanan.
3.1.2 Pendekatan Penelitian
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah sosiologi agama. Secara sosiologi agama ditelusuri bagaimana ikatan dan kedekatan obyek dengan masyarakat melalui ajaran-ajaran agama. Dimana dengan pendekatan sosiologi agama, penelitian ini mengkaji obyek penelitian yaitu siswa SMK Negeri 3 Tabanan yang diimplementasikan dengan ajaran Sad Paramita dalam menanamkan sikap spiritual siswa.

3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian
Penentuan lokasi penelitian sangatlah penting dalam penelitian, agar tidak melebarnya permasalahan yang dibahas. Pada umumnya pertimbangan penentuan lokasi penelitian adalah untuk mengetahui keterbatasan geografis dan praktis seperti waktu, biaya, dan tenaga. Sesuai dengan judul penelitian, maka lokasi penelitian telah ditetapkan yakni pada Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 3 Tabanan di Jalan Kahyangan, Desa Bantas, Kecamatan Selemadeg Timur, Kabupaten Tabanan, Provinsi Bali.
Dipilihnya SMK Negeri 3 Tabanan sebagai lokasi penelitian yang tertkait dengan implementasi ajaran Sad Paramita dalam menanamkan sikap spiritual siswa SMK Negeri 3 Tabanan terdapat banyak kesenjangan antara harapan dan realita, yaitu siswa SMK Negeri 3 Tabanan yang sebagian besar memiliki tingkat kecerdasan spiritual dan emosional yang lebih rendah dari pada kecerdasan intelektualnya. Hal ini terindikasi adanya kurangnya penanaman sikap spiritual siswa dalam menjalani kegiatan disekolah. Dimana siswa lebih berfokus pada nilai intelektual dari pada nilai sikap dan spiritual.
Karakteristik kebanyakan siswa SMK Negeri 3 Tabanan yang bervariasi dan dituntut untuk memiliki kompetensi keahlian dari jurusan yang dipilihnya, sehingga para siswa lebih fokus mengembangkan keterampilan dan intelektualitasnya dari pada berkonsentrasi memahami tingkat spiritualitas dalam dirinya. Hal inilah yang menjadi alasan peneliti memilih SMK Negeri 3 Tabanan menjadi lokasi penelitian yang mengkaji ajaran Sad Paramita dalam menanamkan sikap spiritual siswa SMK Negeri 3 Tabanan.
Waktu penelitian yang dilaksanakan dalam penelitian ini berlangsung dari bulan Februari 2016 sampai dengan bulan April 2016. Penelitian berlangsung dalam waktu efektif sekolah, ketika sekolah memasuki semester genap dengan tahun ajaran 2015/2016.

3.3 Jenis dan Sumber Data
3.3.1 Jenis Data
Jenis data dalam penelitian ini menggunakan data kualitatif. Data kualitatif merupakan data yang berbentuk kalimat bukan berbentuk angka. Data kulaitatif didapat melalui berbagai jenis cara pengumpulan data seperti analisis dokumen, wawancara, observasi yang sudah dituangkan kedalam catatan lapangan (Iqbal, 2002: 80).
3.3.2 Sumber Data
Data merupakan sumber keterangan-keterangan tentang satu hal. Sebelum digunakan dalam proses analisis, data itu perlu dikelompokkan terlebih dahulu (Iqbal, 2002: 82). Berdasarkan pengambilannya, data dibedakan menjadi dua yaitu: data primer dan data sekunder.
3.3.2.1 Data Primer
Menurut Bungin (2001: 128) “data primer adalah data yang diambil dari sumber data primer (sumber pertama) di lapangan”. Dijelaskan pula oleh Sugiyono (2005: 15) bahwa “sumber data primer adalah sumber data yang langsung memberikan data kepada pengumpul data”. Data primer juga disebut data asli atau data utama (Iqbal, 2002: 167), Data primer adalah data yang dalam perolehannya atau pengumpulannya didapat langsung dari lapangan. Data asli dalam penelitian ini dikumpulkan sesuai dengan realitas yang ada dilapangan, serta berdasarkan atas keterangan dari para informan yang diambil dengan menggunakan teknik tertentu, dan bersifat deskriptif. Data primer dalam penelitian ini adalah informan yaitu: Kepala sekolah SMK Negeri 3 Tabanan, wakil kepala sekolah SMK Negeri 3 Tabanan, staf pegawai tata usaha, guru BK SMK Negeri 3 Tabanan, guru yang berkompeten di SMK Negeri 3 Tabanan.
3.3.2.2 Data Sekunder
Data sekunder adalah data yang diperoleh atau dikumpulkan oleh orang yang melakukan penelitian dari sumber-sumber lain yang telah ada, seperti buku buku sebagai penunjang yang isinya berkaitan dengan topik penelitian. Data ini biasanya diperoleh dari perpustakaan atau dari laporan-laporan penelitian sebelumnya (Iqbal, 2002: 167). Data sekunder yang dipakai dalam penelitian ini adalah dari buku, lontar, jurnal, artikel yang menyangkut ajaran Sad Paramita, kecerdasan spiritual (SQ), profil SMK Negeri 3 Tabanan dan beberapa penelitian sebelumnya yang terkait dalam penelitian ini. Dalam pembahasannya, data primer dan data sekunder akan dipadukan agar didapatkan data yang benar-benar valid.

3.4. Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian adalah semua alat yang digunakan untuk mengumpulkan, memeriksa, menyelidiki suatu masalah. Instrumen penelitian dapat diartikan pula sebagai alat untuk mengumpulkan, mengolah menganalisa dan menyajikan data-data secara sistematis serta objektif dengan tujuan memecahkan suatu persoalan. Instrumen penelitian merupakan alat bantu yang dipilih atau digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data agar lebih mudah dan lebih sistematis (Arikunto, 2010: 134).
Instrumen dalam penelitian ini menggunakan alat berupa Handphone (sebagai recorder), kamera, video serta alat penunjang lainnya yang dibutuhkan pada saat penelitian. Instrumen atau alat yang digunakan dalam penelitian ini dapat membantu mengumpulkan dan menyelidiki data untuk memecahkan suatu persoalan, sehingga data yang dihasilkan menjadi lebih jelas dan sistematis.

3.5. Teknik Penentuan Informan
Penelitian yang dilakukan menggunakan informan sebagai sumber informasi atau orang yang memiliki kompetensi untuk menyampaikan data dan informasi. Informan yang dimaksud dalam penelitian adalah sumber data dan informasi yang hasilnya akan bermanfaat dalam proses analisis, sehingga berguna bagi pembentukan konsep dan proposisi sebagai temuan penelitian (Bungin, 2001: 206).
Penelitian ini menggunakan teknik purposive. Margono (1996: 28) menyatakan bahwa proposive adalah pemilihan kelompok subjek didasarkan atas cirri-ciri tertentu dan dipandang memiliki sangkut paut yang telah diketahui sebelumnya. Peneliti menggunakan teknik proposive untuk meningkatkan kegunaan informasi yang diperoleh informan. Dimana informan yang diwawancarai dalam penelitian ini adalah orang-orang yang memiliki wawasan dan pengetahuan mengenai topik penelitian sehingga dapat memberikan informasi yangselengkap-lengkapnya, sehingga informasi yang dijadikan subjek penelitian dapat dipertanggungjawabkan.
Berdasarkan uraian diatas, maka yang menjadi dasar penggunaan teknik purposive berdasarkan pada ciri-ciri atau sifat-sifat. Suatu obyek penelitian yang telah diketahui sebelumnya, seperti: guru, kepala sekolah, wakil kepala sekolah dan staf pegawai serta guru BK yang mempunyai pemahaman mendalam terhadap penanaman sikap spiritual siswa SMK Negeri 3 Tabanan, sehingga dapat memberikan informasi yang benar dan akurat melalui ajaran Sad Paramita.

3.6. Metode Pengumpulan Data
Adapun metode pengumpulan data yang peneliti gunakan mencakup teknik observasi, wawancara, kepustakaan, dan dokumentasi antara lain sebagai berikut:
3.6.1 Observasi
Observasi merupakan suatu teknik pengumpulan data yang dilakukan oleh peneliti untuk mencatat kejadian atau peristiwa dengan cara menyaksikannya (Soehardi, 2001: 96). Observasi disebut juga dengan pengamatan, meliputi kegiatan pemusatan perhatian terhadap objek dengan menggunakan seluruh alat indra.
Secara umum teknik observasi dapat diartikan sebagai suatu teknik untuk memperoleh data dengan cara mengadakan pengamatan secara terus-menerus terhadap prilaku yang kemudian ditulis secara sistematis. Observasi yang dipergunakan dalam penelitian ini yaitu dengan mengadakan pengamatan secara langsung mengamati dan mengumpulkan data lapangan yang berkaitan dengan implementasi ajaran Sad Paramita dalam menanamkan sikap spiritual siswa SMK Negeri 3 Tabanan.
3.6.2 Wawancara
Wawancara adalah teknik pengumpulan data dengan mengajukan pertanyaan langsung oleh pewawancara kepada responden, dan jawaban – jawaban responden tersebut dicatat atau direkam (Iqbal, 2002: 85). Wawancara merupakan suatu cara untuk mengumpulkan data dengan jalan tanya jawab sepihak yang dikerjakan dengan sistematik dan berlandaskan kepada tujuan penelitian. Kegiatan ini adalah suatu proses interaksi dan komunikasi. Penelitian ini menggunakan teknik wawancara terstruktur dengan mengikuti pedoman wawancara yang telah ditentukan.
Teknik wawancara dapat disimpulkan sebagai suatu teknik pengumpulan data yang dilakukan untuk mendapatkan informasi secara langsung atau lisan dengan mengungkapkan pertanyaan-pertanyaan pada para responden. “Responden” artinya orang yang memberikan jawaban dari pertanyan, daftar check atau lajur wawancara untuk mencegah kemungkinan mengalami kegagalan memperoleh data yang penting (data yang dibutuhkan). Teknik pelaksanaan wawancara meliputi menentukan waktu yang paling tepat untuk dilakukan wawancara, menentukan responden, dan mencatat langsung hasil wawancara.
Teknik pelaksanaan yang digunakan dalam penelitian ini diantaranya :
1. Menetapkan subjek atau siapa yang hendak diwawancarai. Dalam penelitian ini sebagai informan Kepala sekolah, wakil kepala sekolah, guru BK, agama dan budi pekerti, dan guru lain yang memiliki kompeten dibidang ajaran Sad Paramita serta bidang spiritual.
2. Mempersiapkan pokok-pokok masalah yang akan menjadi bahan pembicaraan dengan cara membuat pedoman wawancara.
3. Mengawali atau membuka alur wawancara kemudian melangsungkan wawancara dengan memperhatikan pedoman wawancara.
4. Mengkonfirmasikan iktisar hasil wawancara dan mengakhirinya.
5. Menulis hasil wawancara yang telah diperoleh sesuai dengan permasalahan dengan menggunakan sumber-sumber sebagai bahan acuan dalam penulisan karya ilmiah.
3.6.3 Kepustakaan
Kepustakaan adalah suatu cara untuk memperoleh data dengan jalan mengadakan penelitian kepustakaan, seperti melalui membaca, menulis, mengutip materi yang berhubungan dengan skripsi ini. Cara menulis dan mengutip materi dari kepustakaan disebut studi kepustakaan (Sugiyono, 2005: 80).
Tujuan dari teknik kepustakaan adalah untuk lebih mengetahui secara detail dan memberikan kerangka berpikir, khususnya referensi relevan yang berasal dari buku-buku, memberikan gambaran secara lengkap dengan menggunakan sumber atau penelusuran kepustakaan untuk mendapatkan informasi secara lengkap untuk menentukan tindak lanjut dalam mengambil langkah penting dalam kegiatan ilmiah diantaranya adalah buku utama dan buku penunjang.
Penelitian ini dilakukan dengan hasil wawancara, membaca, mempelajari dan mengutip hasil-hasil yang telah dipublikasikan menjadi buku-buku, majalah, media berita dan penelitian yang berhubungan dengan ajaran Sad Paramita serta dan bentuk-bentuk implementasi dalam upaya menanamkan sikap spiritual siswa.
3.6.4 Dokumentasi
Dokumentasi merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu. Dokumen bisa berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya monumental dari seseorang. Misalnya : cerita, biografi, foto, gambar, karya seni, film dan sebagainya (Sugiyono, 2005: 82).
Fakta dan data sosial yang tersimpan dalam dokumen merupakan bahan utama penelitian kualitatif. Dalam melakukan dokumentasi ini peneliti mengumpulkan data dengan menggunakan dokumentasi berupa pengambilan foto tentang lokasi, struktur, proses interaksi dan pembelajaran serta yang terpenting penerapan ajaran Sad Paramita pada siswa SMK Negeri 3 Tabanan. Sehingga dengan adanya foto ini, diharapkan dapat memberikan gambaran dengan pemahaman yang lebih jelas.

3.7 Teknik Analisis Data
Analisis data adalah rangkaian kegiatan penelaahan, pengelompokan, sistematisasi, penafsiran dan verifikasi data agar sebuah fenomena memiliki nilai sosial, akademis dan ilmiah (Suprayogo dan Tobroni, 2001: 191). Cara menggunakan analisis data yaitu dengan mengamati, memahami, dan menafsirkan setiap fakta atau data yang telah dikumpulkan serta hubungan di antara fakta-fakta atau variable merupakan terkait dalam hipotesis (Sugiyono, 2007: 244).
Menurut Patton dalam (Moleong, 2002: 103) mengatakan bahwa analisis data adalah prosedur pengaturan urutan data, mengorganisasikannya kedalam suatu pola, kategori dan suatu uraian dasar. Dalam hal ini data yang telah terkumpul nantinya akan diseleksi, diklarifikasi, dikomparasi dan dianalisis untuk memperoleh kesahihan data.
Analisis data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Deskriptif artinya peneliti menggambarkan keadaan lokasi penelitian serta variable penelitian yang menjadi bahan kajian. Sedangkan kualitatif artinya penelitian hanya melaporkan keadaan lokasi penelitian dan bukan merupakan atau membuat fenomena baru dalam lokasi penelitian. Metode deskriptif yaitu cara mengelola data yang dilakukan dengan jalan menyusun secara sistematis sehingga memperoleh suatu kesimpulan. Metode deskriptif kualitatif peneliti gunakan karena sangat relevan dalam penelitian yang dilakukan, sebab data-data yang di peroleh dari observasi dan wawancara dengan informan serta dalam bentuk tulisan-tulisan atau catatan lapangan yang tidak berbentuk angka.
Miles dan Huberman (dalam Sugiyono, 2005: 91-99) menyatakan bahwa, “aktivitas dalam metode analisis data deskriptif kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus-menerus sampai selesai, sehingga data yang dipeoleh peneliti sesuai dengan tujuan penelitian”. Selanjutnya mereduksi data yaitu memilih hal-hal pokok, memfokuskan pada hal-hal penting dan mencari tema beserta polanya, dengan demikian data yang telah direduksi akan memberikan gambaran yang lebih jelas dan mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya. Dengan reduksi data, maka peneliti merangkum dan mengambil data yang pokok dan penting, dan data yang dianggap tidak penting dihilangkan supaya data yang diperoleh menjadi lebih jelas (Sugiyono, 2007: 247).
Data yang diperoleh dilapangan jumlahnya cukup banyak, untuk itu maka perlu dicatat secara teliti dan rinci. Karena semakin lama peneliti kelapangan, maka jumlah data yang diperoleh semakin banyak, komplek dan rumit. Untuk itulah dilakukan analisis data dengan mempergunakan reduksi data supaya data yang diperoleh semakin jelas tentang bagaimana bentuk ajaran Sad Paramita dalam menanamkan sikap spiritual siswa SMK Negeri 3 Tabanan.

3.8 Teknik Penyajian Data
Menurut Miles dan Hubermann dalam (Sugiyono, 2010: 337) menyatakan bahwa, “penyajian data merupakan proses penyajian sekumpulan informasi yang kompleks kedalam bentuk yang sederhana dan selektif sehingga mudah dipahami maknanya”. Data tentang subjek penelitian yang peneliti peroleh melalui observasi dan wawancara dengan informan selama penelitian dilapangan selanjutnya dipaparkan, kemudian dicari pokok-pokok penting yang terkandung didalamnya sehingga dapat diketahui dengan jelas maknanya. Data yang peneliti peroleh selanjutnya diseleksi dan dikode untuk memperoleh konsep yang lebih sederhana sehingga relatif lebih mudah di pahami.
Selanjutnya dilakukan penarikan kesimpulan berdasarkan matrik yang telah dibuat untuk menemukan pola, tema atau topik sesuai dengan tema fokus penelitian. Setelah seluruh data dikode dalam bentuk yang lebih sederhana kemudian dilakukan interpretasi untuk memperoleh pemahaman agar lebih mudah merumuskan sebagai teori. Penarikan kesimpulan merupakan langkah yang terakhir sehingga data yang dianalisis dapat disajikan sebagai sebuah laporan penelitian.

BAB IV
GAMBARAN UMUM OBYEK PENELITIAN

4.1 Profil Sekolah
SMK Negeri 3 Tabanan merupakan salah satu sekolah Negeri yang berada di Kabupaten Tabanan pada tingkat menengah kejuruan. Pada mulanya sekolah ini bernama STM (Sekolah Teknik Mesin), dimana jurusannya hanya bergerak dalam kejuruan teknik mesin yang didirikan pada tahun 2004. Seiring berjalannya waktu SMK Negeri 3 Tabanan menambah jurusannya menjadi enam program keahlian. Adapun Profil SMK Negeri 3 Tabanan antara lain:
1) Nama Sekolah : SMK Negeri 3 Tabanan
2) NIS : 400100
3) NSS : 321220304004
4) NPSN : 50103438
5) Status Sekolah : Negeri
6) Penyelenggara : Pemerintah Kabupaten Tabanan
7) SK Sekolah : No.041 Tahun 2004
8) ISO : 9001/2008 (Manajemen Mutu)
9) Telepon/HP/Fax : 085100471040
10) Email : smkn3tabanan@yahoo.com
11) Website : http://www.smkn3tbn.sch.id
12) Alamat Sekolah: Jalan Kahyangan, Bunut Puhun, Bantas(Kecamatan) Selemadeg Timur, (Kabupaten/Kota) Tabanan(Provinsi) Bali, Kode Post : 82152.

4.1.1 Visi dan Misi SMK NEGERI 3 TABANAN
VISI :
Mewujudkan sekolah yang dapat menciptakan Sumber Daya Manusia (SDM) yang terampil, mandiri, produktif dan profesional di bidangnya pada taraf internasional.
MISI :
1. Melaksanakan proses belajar mengajar secara efektif dan efisien berlandaskan 18 nilai karakter bangsa.
2. Meningkatkan profesionalisme tenaga pendidik dan tenaga kependidikan.
3. Memenuhi sarana prasarana standar pendidikan SMK
4. Melaksanakan hubungan yang intens dengan stake holder
5. Mengantarkan lulusan SMK Negeri 3 Tabanan untuk siap bekerja/ membuka usaha dan melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
Gambar. 4.1
Foto Pintu Gapura Masuk SMK Negeri 3 Tabanan

(Sumber. Dokumentasi Yuda Asmara, 2016).
4.1.2 Program Keahlian Sekolah
SMK Negeri 3 Tabanan memiliki berbagai program kompetensi keahlian. Perkembangan program keahlian tersebut disesuaikan dengan usulan kebutuhan masyarakat. Program yang paling terakhir dikembangakan adalah Jurusan Jasa Boga (JBG), program JBG merupakan jurusan yang paling pavorit di SMK N 3 Tabanan. Karena jumlah kelas dan siswanya paling banyak dibandingkan dengan jurusan yang lain.
Adapun jenis program Kejuruan/keahlian yang tersedia di SMK Negeri 3 Tabanan antara lain :
1) Teknik Kendaraan Ringan (TKR)
2) Teknik Sepeda Motor (TSM)
3) Teknik Audio Video (TAV)
4) Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ)
5) Teknik Gambar Bangunan (TGB)
6) Jasa Boga (JBG)

4.2 Keadaan Tanah dan Gedung
4.2.1 Kepemilikan Tanah
Data kepemilikan tanah tempat berdirinya SMK Negeri 3 Tabanan sudah menjadi aset pemerintah dibuktukan dengan sertipikat hak milik (SHM) atas nama pemerintah. Adapun data kepemilikan tanahnya antara lain:

1. Status kepemilikan : Pemerintah
2. Status Tanah :SHM
3. Luas Lahan/Tanah :1.880 m2
4. Luas Tanah Terbangun :1.800 m2
5. Luas Tanah Siap Bangun :-
Ada batas-batas wilyah berdasarkan letak geografis sekolah antara lain:
1. Batas Utara Sekolah : Pemukiman warga
2. Batas Timur : Jalan Raya Desa Bantas
3. Batas Selatan : Pemukiman warga
4. Batas Barat : Ladang milik warga
4.2.2 Keadaan Ruang Kelas
4.2.2.1 Data Ruang Belajar
Data ruang kelas SMK Negeri 3 Tabanan terbagi menjadi tiga tingkat dan masing masing tingkat terdiri dari 10 kelas atau lebih. Kelas yang jumlah siswanya kurang dari 20 biasanya digabung dengan kelas lain yang memiliki program keahlian sama untuk meminimalisi ruangan, contohnya kelas TSM digabung dengan TKR, karena keterbatasan jumlah ruangan kelas. Adapun data ruang belajar SMK N 3 Tabanan adalah sebagai berikut:
Tabel 4.1
Daftar Ruang belajar / Kelas SMK Negeri 3 Tabanan
Kondisi Jumlah
Baik 30
Rusak ringan –
Rusak sedang –
Rusak berat –
Rusak total –

Tabel 4.2
Daftar Bengkel /Laboratorium Produktif SMK Negeri 3 Tabanan

KONDISI JUMLAH
Baik 6
Rusak ringan –
Rusak sedang –
Rusak berat –
Rusak total –

Tabel 4.3
Daftar Data Ruang Belajar Lainnya di SMK Negeri 3 Tabanan
Jenis Ruangan Jumlah (buah) Ukuran (pxl) Kondisi*)
1. Perpustakaan 1 9×9 m2 Baik
2. R. Ketrampilan – – –
3. R. Multimedia – – –
4. R. Kesenian – – –
5. Lab. Bahasa – – –
6.Lab. Komputer 2 – Baik
7. R. Serbaguna – – –
(Sumber. Dokumen Profil Sekolah Tahun 2015/2016).

4.2.2.2 Data Ruang Kantor
Ruang Kantor SMK Negeri 3 Tabanan dijadikan tempat beraktivitas dalam mempersiapkan urusan kependidikan. Pembagian ruang kantor disesuaikan dengan kebutuhan dan jumlah pegawai dan guru yang ada di SMK Negeri 3 Tabanan. Adapun data ruang kantor guru dan kepegawaian adalah sebagai berikut:
Tabel 4.4
Data kantor Guru dan Pegawai SMK Negeri 3 Tabanan
Jenis Ruangan Jumlah (buah) Ukuran (pxl) Kondisi*)
1. Kepala Sekolah 1 57 m2 Baik
2. Wakil Kepala Sekolah 1 57 m2 Baik
3. Guru 1 152 m2 Baik
4. Tata Usaha 1 58 m2 Baik
5. Tamu 1 57 m2 Baik
6. Ruang Server 1 105 m2 Baik
(Sumber. Dokumen Profil Sekolah Tahun 2015/2016)
4.2.2.3 Data Ruang Penunjang
Untuk menunjang kegiatan pendidikan di SMK Negeri 3 Tabanan dibutuhkan beberapa ruangan atau tempat dalam melaksanakan berbagai aktivitas kegiatan. Ruang penunjang yang dimaksud meliputi: Gudang, Dapur, Toilet, Ruang BK, Ruang Osis, Pramuka, Satpam dan lainnya. Adapun data ruang penunjang di SMk Negeri 3 Tabanan antara lain:

Tabel 4.5
Data Ruang Penunjang Pendidikan SMK Negeri 3 Tabanan
Jenis Ruangan Jumlah (buah) Ukuran (pxl) Kondisi*) Jenis Ruangan Jumlah (buah) Ukuran (pxl) Kondisi
1. Gudang 1 3 m2 Baik 10. Ibadah 1 91 m2 Baik
2. Dapur 1 31 m2 Baik 11. Ganti
3. Reproduksi 12. Koperasi
4. KM/WC Guru 1 3 m2 Baik 13. Hall/lobi
5. KM/WC Siswa 3 14 m2 Baik 14. Kantin 1 30 m2 Baik
6. BK 1 56,7 m2 Baik 15. Rumah Pompa/ Menara Air
7. UKS 1 43 m2 Baik 16. Bangsal Kendaraan
8. PMR/ Pramuka 1 12 m2 Baik 17. Rumah Penjaga
9. OSIS 12 m2 18. Pos Jaga 1 6 m2 Baik
(Sumber. Dokumen Profil SekolahTahun 2015/2016).
Keadaan ruang penunjang di SMK Negeri 3 Tabanan sudah mengikuti standar proses pendidikan, terutama dalam hal sarana dan prasarana sekolah. Ruang penunjang sangat membantu sekali dalam melakukan aktivitas belajar mengajar di sekolah. Meskipun ada beberapa ruang yang digabung dalam menjalankan aktivitas kegiatan sekolah di SMK Negeri 3 Tabanan.
Tabel 4.6
Data Lapangan yang digunakan SMK Negeri 3 Tabanan
Lapangan Jumlah (buah) Ukuran (pxl) Kondisi Keterangan
1. Lapangan Olahraga 1 5940 m2 Baik Tanah
2. Lapangan Upacara 1 1200 m2 Baik Tanah

Keterangan kondisi:
Baik Kerusakan < 15%
Rusak ringan 15% – < 30%
Rusak sedang 30% – 65%
(Sumber. Dokumen Profil Sekolah Tahun 2015/2016).
Ruang penunjang yang sangat diperlukan siswa dalam melaksanakan kegiatan di lapangan seperti melakukan upacara bendera, dan melaksanakan kegiatan olahraga. Lapangan upacara yang tidak begitu luas diamanfaatkan dalam apel bendera setiap hari senin. Kemudian lapangan olahraga yang dipakai adalah pasilitas umum yang bisa digunakan oleh masyarakat dan sekolah lain karena tempat lapangannya berjauhan dari sekolah sekitar 1 Kilometer.

4.3 Struktur Organisasi Sekolah

Bagan 4.1
Struktur Organisasi Sekolah

Keterangan :
: Garis Koordinasi
: Garis Komando
WAKASEK : Wakil Kepala Sekolah
KAKOMKA : Kepala Kompetensi Keahlian
TKR : Teknik Kendaraan Ringan
TSM : Teknik Sepeda Motor
TAV : Teknik Audio Video
TKJ : Teknik Komputer Jaringan
TGB : Teknik Gambar Bangunan
JBG : Jasa Boga
(Sumber. Dokumen Profil Sekolah Tahun 2015/2016).
4.4 Keadaan Tenaga Pendidik dan Kependidikan
4.4.1 Kualifikasi Pendidikan, Status, Jenis Kelamin, dan Jumlah
Tingkat kualifikasi pendidik sangat menentukan profesionalitas kerja para pendidik. Minimal untuk bisa menjadi seorang pendidik yang profesional harus mempunyai gelar S1 dan tentunya seorang pendidik bisa menambah wawasan kependidikannya melalui pendidikan atau pelatihan ketingkat yang lebih tinggi. Kualifikasi tenaga pendidik SMK Negeri 3 Tabanan antara lain:
Tabel 4.7
Data Kualifikasi Tenaga Pendidik SMK Negeri 3 Tabanan
No. Tingkat Pendidikan Jumlah dan Status Guru Jumlah
GT/PNS GTT/Guru Bantu
L P L P
1. S3 – – – – 0
2. S2 3 1 4
3. S1 33 14 21 18 86
4. D-4 – – – – –
5. D1/D3/Sarmud – – 1 1
6. SMA – – – –
Jumlah 36 15 22 18 91
(Sumber. Dokumen Profil SekolahTahun 2015/2016).
Berdasarkan data kualifikasi tenaga pendidik di atas. Sebagian besar tingkat pendidikan guru SMK Negeri 3 Tabanan adalah S1, namun ada seorang guru bantu yang masih memiliki pendidikan dibawah s1. Sedangkan ada 4 orang guru yang sudah mengenyam pendidikan S2. Para pendidik SMK Negeri 3 Tabanan sudah mulai meningkatkan kualifikasinya dalam jenjang pendidikan maupun pelatihan-pelatihan yang dilakukan baik ditingkat Kapupaten, Provinsi dan Nasional.
4.4.2 Jumlah guru dengan tugas mengajar sesuai dengan latar belakang pendidikan (keahlian).

Pendidikan seorang guru harus sesuai dengan bidang pelajaran yang ditugaskan oleh atasannya, agar proses belajar mengajar menjadi lebih optimal dan profesional. Pembelajaran haruslah diajarkan oleh guru mata pelajaran yang serumpun sesuai bidang keilmuannya, sehingga pembagian tugas guru harus sejalan antara ilmu dan tugas mengajarnya. Adapun daftar mengenai data guru beserta tempat tugas di SMK Negeri 3 Tabanan sebagai berikut:
Tabel 4.8
Data Jumlah guru dengan tugas mengajar SMK Negeri 3 Tabanan
No. Guru Jumlah guru dengan latar belakang pendidikan sesuai dengan tugas mengajar Jumlah guru dengan latar belakang pendidikan yang TIDAK sesuai dengan tugas mengajar Jumlah
D1/D2 D3/
Sarmud S1/D4 S2/S3 D1/D2 D3/
Sarmud S1/D4 S2/S3
Normatif
1. Pend. Agama 4 4
2. Bhs. Indonesia 5 5
3. PKNs 4 4
4. Penjasor 3 3
5. Bahasa Daerah Bali 1 1
6. BP/BK 6 6
Adaptif
6 Matematika 6 6
7 Bhs. Ingris 3 2 5
8 KKPI 1 1
9 KWU 4 4
10. Fisika 3 3
11. Kimia 2 2
12. IPA 2 2
13. IPS 2 2
14. Pendidikan Seni 3 3
Produktif
15 Teknik Mekanik Otomotif 10 2 12
16 Teknik Audio Video 3 3
17 Teknik Komputer dan Jaringan 6 6
18 Teknik Gambar Bangunan 6 6
19 Jasa Boga 1 1
(Sumber. Dokumen Profil SekolahTahun 2015/2016).

Hampir semua guru di SMK Negeri 3 Tabanan mendapat tugas sesuai bidang keilmuannya. Untuk itu pendidikan di SMK Negeri 3 Tabanan diharapkan mampu mencetak lulusan yang berkompeten sesuai program keahlian yang diembannya. Guru yang profesional dalam mengajar pasti melahirkan anak didik yang berkompeten.
4.4.3 Pengembangan Kompetensi/Profesionalisme Guru.
Ilmu pengetahuan terus berkembang sesuai tuntutan zaman, untuk mengikuti perkembangan tersebut tenaga pendidik haruslah mengembangkan wawasannya melaui berbagai bidang pendidikan dan pelatihan. Guru di SMK Negeri 3 Tabanan sering mengikuti pengembangan kompetensi agar menciptakan tenaga pendidik yang profesional. Melalui program-program pelatihan yang diadakan di intern sekolah maupun di luar sekolah. Sehingga guru yang berpengetahuan minim akan dikirim untuk mengikuti program pengembangan kompetensi. Adapun data pengembangan kompetensi guru di SMK Negeri 3 Tabanan antara lain:
Tabel 4.9
Data Guru yang telah mengikuti kegiatan pengembangan Kompetensi/Profesionalisme.
No. Jenis Pengembangan Kompetensi JUMLAH
1. Penataran KBK / KTSP 80
2. Penataran Metode Pembelajaran (termasuk CTL) 5
3. Penataran PTK 80
4. Penataran Karya Tulis Ilmiah 5
5. Sertifikasi Profesi / Kompetensi 33
6. Penataran Lainnya 10
(Sumber. Dokumen Profil SekolahTahun 2015/2016).
Berdasarkan data di atas tenaga pendidik di SMK Negeri 3 Tabanan telah mengikuti berbagai jenis pengembangan kompetensi. Mulai dari hal-hal teknis pembelajaran, perencanaan, managemen kelas, penelitian atau karya tulis ilmiah maupun pendidikan sertifikasi guru. Sampai tahun 2016 ini tingkat guru yang sudah lulus Pendidikan Latihan Profesi Guru (PLPG) sekitar 35% dari jumlah semua guru yang ada di SMK Negeri 3 Tabanan.
4.4.4 Prestasi Guru SMK Negeri 3 Tabanan

Prestasi guru sering menjadi tauladan bagi anak didiknya. Guru dijadikan inspirasi oleh siswa-siswanya, tentunya dengan prestasi guru yang membanggakan. Idealnya guru yang berprestasi dapat menginspirasi para siswa yang diajarnya. Adapun daftar prestasi guru SMK Negeri 3 Tabanan antara lain:

Tabel 4.10
Data Prestasi guru SMK Negeri 3 Tabanan
No. Jenis lomba Perolehan kejuaraan 1 sampai 3 dalam 3 tahun terakhir
Tingkat Jumlah Guru
1. Lomba PTK Nasional
Provinsi
Kab/Kota
2. Lomba Karya tulis Inovasi Pembelajaran Nasional
Provinsi
Kab/Kota 2
3. Lomba Guru Berprestasi Nasional
Provinsi 1
Kab/Kota
4. Lomba lainnya: Lomba Kepala SMA/SMK
Nasional 1
Provinsi
Kab/Kota
(Sumber. Dokumen Profil SekolahTahun 2015/2016).
Berdasarkan daftar prestasi guru SMK Negeri 3 Tabanan tidak terlalu banyak kalau dilihat dari kuantitasnya, melainkan hal yang lebih penting adalah kualitas yang didapatkan dari berbagai prestasi yang telah dicapai dalam menginspirasi para siswa. Suatu prestasi yang didapatkan guru tidak akan berguna kalau belum bisa memberikan berkontribusi terhadap siswa yang diajarnya. Sehingga dengan demikian seorang guru yang telah berprestasi dituntut untuk lebih memajukan kompetensi siswa yang lebih berkompeten.

4.5 Pembagian Tugas Pendidik dan Tenaga Kependidikan
4.5.1. Tenaga Pendidik / Guru SMKN 3 Tabanan).
Tenaga pendidik di SMK Negeri 3 Tabanan sebagaian besar masih tergolong muda. Terhitung sejak pendirian sekolah tahun 2004 baru merekrut guru-guru yang dibutuhkan sebagai tenaga pendidik sesuai bidang keahliannya. Tenaga pendidik yang direkrut tersebut tergolong dari berbagai status pegawai seperti : Guru Pegawai Negeri Sipil (PNS), Guru Honorer (Pengabdian), guru tenaga Kontrak Daerah, Guru bantu Bukan PNS (GBPNS). Semua tenaga pendidik tersebut berpendidikan minimal S1 dan mengajar sesuai bidang keahliannya.
Jumlah tenaga pendidik di SMK Negeri 3 Tabanan sesuai data profil sekolah tahun 2016 sebanyak 91 orang guru,yang terdiri 59 guru laki-laki dan 32 guru perempuan. Adapun daftar guru di SMK Negeri 3 Tabanan adalah sebagai beriku:
Tabel 4.11
Data tenaga pendidik SMK Negeri 3 Tabanan
NO NAMA GURU GURU MATA PELAJARAN

1 DRS. I KETUT SUARDANA, M.M. Teknik Otomotif
2 I GUSTI AGUNG MD. ANGGA WIJAYA, S.AG. Agama Hindu & Budi Pekerti
3 DRS. I MADE NATA BK
4 NI MADE SUBITA, S.PD. BK
5 DRS. I NYOMAN JAYA ASTAWA Sejarah
6 I MADE JULIADA, S.PD. Penjasorkes
7 DRS. I KETUT WIRA ARDANA Bahasa Indonesia
8 DRS. I GEDE BUDIARSA Matematika
9 I WAYAN SUARDIKA, S.PD. Matematika
10 I KETUT G. CAKRA PARTANA, ST. Teknik Mesin
11 I PUTU ARSANA,ST. Teknik Mesin
12 I WAYAN SUKAYASA, ST. Teknik Elektro
13 I PUTU AGUS SUPARTHAMA PUTRA, ST. Teknik Komputer dan Jaringan
14 I PUTU GEDE ANOM DARMAWISATA, SE. Ekonomi Akuntansi
15 I NYOMAN WIRATA,S.PD IPA
16 I MADE TOYA, S.PD Matematika
17 MADE AYU SUMARMI, S.PD. Bahasa Inggris
18 DRS. I PUTU WISNU WINADA Bahasa Inggris
19 I WAYAN MERTAYASA, SS. Bahasa Inggris
20 I MADE UDIANA Seni Budaya
21 KADEK ADY KURNIAWATI, S.PD. Bahasa Indonesia
22 KADEK WIWIK SUSIANI, S. PD. Kimia
23 NI MADE SUKIASIH, S.PD. Kimia
24 I GUSTI KADE SILADANA, S.PD.T Teknik Mesin
25 I KETUT NIK MURAH HARTAWAN,S.PD. BK
26 I MADE SUINATA, ST. Teknik Mesin
27 NI MD WIDANI MARTAWATI, SE. Akuntansi
28 NI PUTU ARY HARTINI, ST. Teknik Gambar Bangunan
29 I PUTU DARCANA WIBAWA, S.PD. Penjasorkes
30 DRA. NI WAYAN NILA NEGARI Bahasa Indonesia
31 IDA BAGUS IRWADHI PURNAMA, ST. Teknik Gambar Bangunan
32 I NYOMAN DEDI SURYAWAN, ST. Teknik Mesin
33 I MADE SUTRISNA, S.PD. Matematika
34 NI LUH PUTU YULIASTUTI, S.PD. BK
35 M DODY MENGGALA, ST. Teknik Mesin
36 I MADE AGUS DARMAWAN, S. PD. PKN
37 I MADE YUDA ASMARA, S.PD.H Agama Hindu & Budi Pekerti
38 NI PUTU YUYUN RUMANTI, S.S. Bahasa Indonesia
39 NI PUTU AYU MONANITA MARAN EKA, S.T. Teknik Gambar Bangunan
40 NI KETUT SRI WIDYASTARI, S.T. Teknik Gambar Bangunan
41 I GUSTI PUTU SUARNATA, SE Kewirausahaan
42 I WAYAN YOGI ANTARA,S.PD Penjasorkes
43 NI MADE APSARI DEWI, S.KOM. Komputer dan Jaringan
44 NI WAYAN ARTINIASIH,S.PD Seni Budaya
45 I PUTU HENDRA ADNYANA GIRI, ST. Teknik Mesin
46 I MADE SUAGUS JAYA, S.PD. Kimia
47 I KETUT ABADI PUTRA, ST Teknik Gambar Bagunan
48 I GEDE MAHADIYASA, SE. Kewirausahaan
49 DEWA PUTU GEDE EKA KURNIADI, S.PD. Teknik Komputer dan Jaringan
50 I WAYAN SANTIKA PUTRA, S.PD. Penjasorkes
51 NI WAYAN ENI ELYAWATI, S.PD. Pend. Bahasa Indonesia
52 I GEDE WIRA ATMAJA, ST. Teknik Elektro
53 MADE JAYA HARTAWAN, S.PD. Teknik Mesin
54 NI KETUT GATI, SE Ekonomi
55 I DEWA MADE CANDRA KARMITA, S.KOM. Informatika
56 NI MADE MURNIYANTI, S.PD. Pendidikan Matematika
57 I MADE ADI MAHARIAWAN, S.KOM. Informatika
58 DEWA AYU PUTU LELY MERTARINI, S.PD. Pendidikan Bahasa Indonesia
59 I GEDE PUTU AGUS ANTAREJA, ST. Teknik Gambar Bangunan
60 I WAYAN ARISUDANA MADIA, S.PD. Pendidikan Matematika
61 NI WAYAN SUTARIANI, S.PD. Pendidikan PPKN
62 I MADE SURYA ADIGUNA, SS. Sastra Inggris
63 I GEDE MAHA WIRYANA, S.AG. Agama Hindu & Budi Pekerti
64 NI WAYAN SASMITA PARIANI, S.PD. Pendidikan Bahasa Inggris
65 NI LUH PUTU ANDEWININGTYAS, ST. Teknik Informatika
66 DEWA AYU MADE RIMA ELISTIANI, S.PD.B Pendidikan Bahasa Bali
67 I NYM. PUTRA WAHYUDI WINANGUN, S.SN. Desain Komunikasi Visual
68 I MADE ARTA, S.PD. PPKN
69 NI LUH AYU SANTRYANI, SH. PPKN
70 I WAYAN SUCIATINI, S.PD. BK
71 I MADE SUARNATA, S.PD Sejarah Indonesia
72 NI KT. KURNIAWATI, AMD. KOM Teknik Komputer dan Jaringan
73 I GUSTI PUTU BAGUS ARYA WASKITA, S.SI Fisika
74 NI NYOMAN AYU TRISNA DEWI ,SPD BK
75 I KETUT ADHI SUKMA GUSMANA,ST Teknik Kendaraan Ringan
76 NI WAYAN NINA MERTA ASIH,SS Bahasa Daerah Bali
77 I NYOMAN KAWI ADNYANA, S.Ag Agama & Budi Pekerti
78 I GEDE PUTU SUARDIASA Penjasorkes
79 ANAK AGUNG NYOMAN SAPUTRA HADY Jasa Boga
80 AYU PUTU KARTINI,S.PD Seni Budaya
81 NI WAYAN SRI WIIDANIASIH Jasa Boga
82 NI LUH MADE KARNADI,S.PD Jasa Boga
83 I PUTU SURYANTARA Bahasa Daerah Bali
84 I PUTU HENDRA TRESNADANA,S.SPD Teknik Komputer dan Jaringan
85 I WAYAN DEDY KUSUMADINA,S.PD Jasa Boga
86 DRA NI MADE YULIARTINI PPKN
87 I GEDE NYOMAN DIRGA ASTAWA Jasa Boga
88 RITARY DWI KRISTIANI Jasa Boga
89 NI NYOMAN ARMINI,S.PD Jasa Boga
90 AGUS KARMA SANTIKA, S.PD Teknik Mesin
91 CHALIMMATUSAKDYAH NUR WIJAYANTI Jasa Boga
(Sumber. Dokumen Profil SekolahTahun 2015/2016).
4.5.2. Pegawai/Tenaga Kependidikan (Tata Usaha SMKN 3 Tabanan)
Tenaga kependidikan atau sering disebut dengan TU (tata usaha), merupakan komponen terpending dalam menjalankan dunia kependidikan khususnya pada SMK N 3 Tabanan. Tenaga kependidikan di SMK N 3 Tabanan merupakan tenaga ahli yang ditugaskan untu mengurus jalannya rumah tangga atau administrasi sekolah, baik itu menyangkut data guru, data siswa, data sekolah, surat menyurat dan tenaga teknis lainnya yang terkait dengan keperluan sekolah.
Tenaga kependidikan di SMK Negeri 3 Tabanan dipimpin oleh Kepala Tata Usaha yang dibantu dengan beberapa staf tata usaha. Tenaga kependidikan SMK N 3 Tabanan terdiri dari berbagai status kepegawaian seperti : Pegawai Negeri Sipil (PNS), Pegawai Kontrak Daerah (Pemkab Tabanan) dan Pegawai Pengabdian. Jumlah pegawai Kependidikan atau Tata Usaha sebanyak 17 orang pegawai, adapun daftar pegawai Tata Usaha SMK N 3 Tabanan antara lain:
Tabel 4.12
Data tenaga kependidikan/Tata Usaha SMK Negeri 3 Tabanan

NO
NAMA PEGAWAI
JABATAN
1 I WAYAN SUMARYA Kepala Tata Usaha
2 I NYOMAN WIRTA, BA Staf Tata Usaha
3 I NYOMAN RIKA ARTAYASA, A.MD. Bendahara
4 I GST. AGUNG MADE SUBANDIA Staf Tata Usaha
5 NI WAYAN ARI SUSANTI, A.MD. Sekretaris
6 NYOMAN LUSIDANA Staf Bengkel
7 I MADE WIRATA Staf Lab
8 NI PUTU INDRA NURMAYANTI Staf Tata Usaha
9 NI MADE DEWI JAYANTHI Staf Tata Usaha
10 I MADE YUDIANA Satpam
11 NI PUTU YUNDARIASIH, A Md Staf Tata Usaha
12 I GEDE ELVIN KUSUMAYASA Staf Tata Usaha
13 I MADE ARTANA Pegawai Kebersihan
14 I NYOMAN WIARSA Pegawai Kebersihan
15 NI MADE KARPI Waker
16 NI WAYAN PARIATNI Pegawai Kebersihan
17 WAYAN SUASTAWA Pegawai Kebersihan
(Sumber. Dokumen Profil SekolahTahun 2015/2016).

4.6 Keadaan Siswa SMK Negeri 3 Tabanan.
Keadaan jumlah peserta didik/siswa SMK Negeri 3 Tabanan tergolong tinggi dibandingkan sekolah-sekolah lain di Kabupaten Tabanan. Adapun daftar jumlah siswa semua di SMK Negeri 3 Tabanan antara lain:

Tabel 4.13
Data Siswa Tahun Pelajaran : 2015/2016SMK Negeri 3 Tabanan

Program Keahlian Tingkat I Tingkat II Tingkat III Jumlah
Tk.I ,Tk II, Tk III
Jml. Siswa Jml. Rombel Jml. Siswa Jml. Rombel Jml. Siswa Jml. Rombel Jml. Siswa Jml. Rombel
Teknik Kendaraan Ringan 23 1 18 1 21 1 62 3
Teknik Sepeda Motor 52 2 60 2 70 3 182 7
Teknik Audio Vidio 13 1 13 1 22 1 48 3
Teknik Komputer dan Jaringan 81 4 111 4 117 4 309 11
Teknik Gambar Bangunan 21 1 20 1 31 1 72 3
Jasa Boga 93 3 – – – – 93 3
Jumlah 283 11 223 9 261 10 766 30
(Sumber. Dokumen Profil SekolahTahun 2015/2016).

Berdasarkan daftar di atas, peminat siswa yang duduk di SMK Negeri 3 Tabanan tergolong tinggi. Hal ini merupakan modal yang bagus dalam mengembangkan potensi sekolah, khususnya pada lulusan yang memiliki keterampilan sesuai program keahliannya. Lulusan sekolah menengah kejuruan dituntut dapat menghasilkan lulusan yang siap kerja dan terjun ke dunia industri atau melanjutkan ke perguruan tinggi. Setiap sekolah yang memiliki kuantitas siswa yang tinggi harus sejalan dengan kualitas lulusan yang dihasilkan.

BAB V
IMPLEMENTASI AJARAN SAD PARAMITA
DALAM DALAM MENANAMKAN SIKAP SPIRITUAL SISWA
SMK NEGERI 3 TABANAN

5.1 Implementasi Ajaran Prajna dalam Menanamkan Wiweka Siswa SMK Negeri 3 Tabanan.

Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada TuhanYang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab (Sumber: Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional ).
Didalam bidang pendidikan, pemerintah berusaha untuk mendapatkan formula yang terbaik dalam mendidik siswa disekolah. Pendidikan telah begitu merosot sehingga banyak siswa yang terlibat dalam tawuran, premanisme, sering bolos, kemerosotan metal, melawan guru, pergaulan seks bebas, bahkan mengkonsumsi narkoba. Dalam era globalisasi sekarang tidak dipungkiri bahwa setiap orang harus berpikir serba cepat dan tepat, agar tidak termakan oleh perkembangan zaman. Seperti perkembangan teknologi yang semakin canggih, dan tentu saja harus diimbangi dengan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas.
Melalui pendidikan formal disekolah, pengetahuan, sikap dan keterampilan siswa mulai ditempa dalam melahirkan Sumber Daya manusia (SDM) yang berkualitas demi bersaing dengan dunia global. Dalam dunia pendidikan memang sangat dibutuhkan pemikiran-pemikiran yang kritis, analitis dan bedasarkan logika yang cerdas dalam menghadapi ulangan, pertanyaan dan ujianyang didapat dalam bangku sekolah. Sehingga hal-hal yang terkait dengan emosional dan spiritual lebih dikesampingkan. Dimana siswa harus dituntut dalam mempelajari dan memahami setiap materi yang diajarkan disekolah dalam mengandalkan proses berpikir yang analitis.
Implementasi ajaran Prajna di SMK Negeri 3 Tabanan dalam menanamkan sikap spiritual siswa melalui pemahaman yang diberikan oleh guru-guru, dalam proses pembelajaran baik itu berupa nasihat, petuah, saran atau pesan serta aturan-aturan dalam menjalani hidup. Penerapan ajaran Prajna yang diharapkan adalah siswa mampu berpikir dan bertindak bijaksana, karena kebijaksanaan merupakan pengetahuan yang tertinggi yang meliputi kebenaran yang diwujudkan melalui sikap-sikap spiritual yaitu: bijak, adil, jujur, tenang, bertanggung jawab, serta memiliki wiweka yang baik.
Ajaran Prajna pada siswa SMK Negeri 3 Tabanan dilaksanakan dalam semua aspek kegiatan disekolah, mulai dari proses belajar mengajar di kelas yaitu memberikan pemahaman mengenai inti ajaran Prajna kepada peserta didik, dimana Prajna merupakan suatu kebijaksanaan dalam menimbang mana hal yang baik untuk dilakukan dan mana hal yang kurang baik untuk dihindari. Selain itu realisasi ajaran Prajna juga dilihat dalam aktivitas siswa di luar kelas. Dimana siswa mempraktekkan atau mewujudnyatakan ajaran Prajna dalam kegiatan disekolah.
Wiryana (Wawancara, tanggal 22 Pebruari 2016) menyatakan penerapan ajaran Prajna dimulai dari penanaman sikap-sikap moral (Budi Pekerti) melalui memberikan ceramah-ceramah, nasihat serta petuah-petuah kepada para siswa misalnya dengan meneyelipkan nasihat-nasihat dalam sistem belajar mengajar di kelas, dalam amanat upacara bendera, serta dalam Dharma Wacana yang diadakan sekolah pada saat hari-hari tertentu. Dengan pemahaman yang sering diberikan kepada siswa untuk selalu berbuat yang luhur dan pemberian konsekuensi yang didapat ketika siswa melaksanakan hal yang tidak baik akan tertanam dalam setiap pola pikir siswa untuk berbuat sesuai arahan atau nasihat guru.
Menurut Angga Wijaya (Wawancara, tanggal 22 Pebruari 2016), menyatakan realisasi ajaran Prajna dilingkungan sekolah sudah tergolong bagus. Hal ini dibuktikan banyak siswa yang sudah memiliki wiweka, yaitu mampu membedakan mana yang baik dan mana yang tidak baik. Melalui pemahaman inilah merupakan pondasi dasar dalam membentuk sikap spiritual siswa, namun pada prakteknya hingga saat ini belum bisa maksimal. Tetapi dengan keyakinan yang tinggi serta usaha secara terus menerus sikap spiritual siswa yang luhur akan tertanam dalam memperbaiki karakter dan kepribadian siswa tersebut.
AjaranPrajna merupakan perbuatan luhur mengenai kebijaksanaan, mendalami serta memahami secara jelas inti ajaran dharma dalam agama Hindu (Surada, 2007: 221). Kebijaksanaan dapat menaklukkan kebodohan batin, melenyapkan keterikatan terhadap nafsu-nafsu indriawi, semua kecenderungan terhadap kekuasaan dan keakuan, serta bebas dari belenggu penderitaan dan tercapainya kebenaran yang sejati.
Kebijaksanaan merupakan pengetahuan tertinggi seseorang yang meliputi kebenaran yang sesungguhnya dan cinta kasih universal. Kebijaksanaan pandai membedakan yang baik dan buruk, pandai menilai segala sesuatu dengan tepat dan bijaksana, dalam agama Hindu disebut Wiweka. Orang yang bijaksana pasti tahu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk serta mampu mengimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, yaitu menghindari perbuatan buruk (Asubha karma) dan menjalankan perbuatan baik (Subha karma). Dalam kitab Sarascamuscaya Sloka 2 dijelaskan :
Manuşāh sārvabhutesu
Vārtate vai şubheasubhé,
Ashubhesŭ samavistām
Subhesvéva vākavaret.

Terjemahannya :
Dari demikian banyaknya makhluk hidup, yang dilahirkan sebagai manusia itu saja yang dapat melakukan perbuatan baik dan perbuatan buruk itu, adapun untuk peleburan perbuatan buruk kedalam perbuatan baik juga manfaatnya jadi manusia (Kajeng, 2003: 6).

Berdasarkan kutipan sloka diatas menegaskan bahwa terlahir menjadi manusia adalah sebuah anugerah yang luar biasa dan paling istimewa diantara semua makhluk didunia ini. Karena manusia memiliki pikiran yang tidak dimiliki oleh makhluk hidup lainnya. Karena pikiranlah manusia mampu menimbang mana perbuatan baik dan mana perbuatan buruk. Sejatinya esensi terlahir menjadi manusia ini adalah menebus segala perbuatan-perbuatan yang buruk menjadi perbuatan-perbuatan yang baik.
Sanjaya (2011:140), Agama Hindu mempunyai tiga cara memperoleh pengetahuan yakni Sastratah, Gurutah dan Swatah. Sastratah adalah cara memperoleh pengetahuan dengan membaca sastra atau ilmu-ilmu (tertulis) seperti buku, lontar, prasasti dan sebagainya. Pencarian pengetahuan melalui Gurutah adalah usaha untuk memperoleh pengetahuan dengan cara belajar dan mendengarkan wejangan, petuah serta nasihat dari seorang guru. Sedangkan Swatah adalahpencarianpengetahuan berdasarkan pengalaman langsung yang dialami oleh diri sendiri atau sering disebut dengan proses belajar secara otodidak, sehingga ada pribahasa mengatakan pengalaman adalah guru yang terbaik. Dari ketiga cara memperoleh pengetahuan akan mengakibatkan seseorang cerdas khususnya dalam pengetahuan sikap dan keterampilan yang akan membuat siswa lebih bijaksana.
Prajna Paramita merupakan perbuatan luhur mengenai kebijaksanaan. Untuk menjadi orang yang bijaksana minimal memiliki wiweka (tahu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk) serta mampu mengendalikan pikiran yang dipengaruhi oleh indria-indria dalam tubuh manusia. Seperti dijelaskan dalam kitab Bhagavad Gita bab II sloka 66 :
Nāsti buddhir ayuktasya na cāyuktasya bhāvanā,
Na cābhavayatah śāntir aśāntasya kutah sukham.

Terjemahannya :

Tak ada kebijaksanaan pada pikiran yang tak terkendalikan dan juga tak konsentrasi yang dapat dilakukan dan juga tak ada kedamaian pada pikiran yang tak terpusatkan, sehingga bagaimana mungkin yang tanpa ketenangan dapat menikmati kebahagiaan (Radhakrishnan, 2007: 164).

Berdasarkan sloka diatas untuk menjadi orang yang bijaksana, harus mempunyai pikiran yang tenang, terpokus dan yang paling penting adalah mampu mengendalikan perbudakan indria-indria dalam tubuh. Ketika pikiran dalam diri manusia sudah mampu menaklukan pengaruh-pengaruh indria dalam tubuh maka kebijaksanaanpun akan tercapai pada diri seseorang.
Gambar 5.1
Siswa sedang berdiskusi dalam menegambangkan kompetensi keahlian

(Sumber. Dokumentasi Yuda Asmara, 2016).
Sejatinya seorang guru diharapkan mampu mengoptimalkan potensi siswa, menyeimbangkan antara otak kiri dan otak kanan. Banyak yang belum menyadari bahwa selama ini siswa kebanyakan dituntut dan menggunakan setengah dari kemampuannya saja yaitu otak kiri. Saat kegiatan belajar di sekolah misalnya, seorang siswa hanya dituntut untuk berfikir sistematis, logis dan terstruktur. Memang membutuhkan keberanian untuk menggunakan otak kanan yang dominan berfikir secara abstrak, menyeluruh dan kreatif. Melakukan teknik pengajaran yang inovatif dan menarik, sehingga dapat menambah minat siswa untuk konsentrasi terhadap pelajaran dan mampu mengaplikasikan teori-teori yang dipelajari dalam bangku sekolah, lingkungan dan masyarakat. Selanjutnya disesuaikan dengan metode belajar-mengajar yang tepat dan menambah keefektifan proses belajar.
Menurut Albert Einstein dalam (Wiana, 1997: 28) menyatakan “science without Religion is blind, religion without science is paralyzed” artinya ilmu tanpa agama itu buta, dan agama tanpa ilmu itu lumpuh. Jadi ungkapan tersebut mengindikasikan antara agama dan ilmu itu sangatlah penting dan saling membutuhkan, keduanya saling bekerjasama pada diri manusia dalam mencapai suatu keberhasilan. Walaupun orang yang taat beragama tetapi tidak mempunyai ilmu pengetahun pada dirinya, orang tersebut akan dikatakan buta, artinya seorang tersebut tidak akan pernah memaknai apa yang diyakini sesuai dengan ilmu agama yang dianutnya. Sedangkan orang yang berilmu tinggi tetapi tidak memiliki kesadaran spiritual yang bagus akan menghasilkan orang-orang yang serakah, pintar tetapi arogan, dan bisa menimbulkan bibit-bibit kecurangan seperti korupsi, kolusi dan nepotisme.
Kehidupan seseorang yang didominasi oleh kecerdasan spiritual dengan minimnya kecerdasan emosional dan spiritual dalam dirinya hanya akan menjadi seorang yang penyendiri, petapa, memikirkan makna hidup dengan kepercayaan yang diyakini sesuai tingkat kecerdasan spiritualnya. Biasanya orang yanag didominasi kuat oleh kecerdasan spiritualnya lebih memilih duduk diam memikirkan makna-makna kehidupan dan menjalankan dengan teguh ajaran-ajaran agamanya dan tenggelam dalam dunianya tersendiri. Menyadari apa arti hidup yang sebenarnya sesuai pengalaman-pengalaman spiritualnya serta kurang peduli dengan keadaan sekitarnya.
Berdasarkan Teori interaksi sosial yang dikemukakan oleh Johnson dalam (Yulianti, 2003: 91)menyatakan bahwa, hubungan sosial yang dinamis yaitu menyangkut hubungan antara individu dengan individu lainnya, individu dengan kelompok dan sebaliknya. Sehingga dengan proses interaksi sosial yang terjadi di SMK Negeri 3 Tabanan antara guru dengan siswa, siswa dengan siswa lainnya, selanjutnya akan terbangun suatu pola kehidupan dengan implementasi dari ajaran Prajna dalam menanamkan sikap spiritual siswa.
Kebijaksanaan akan tercapai bila penanaman sikap spiritual sudah maksimal. Melalui interaksi sosial yang terjadi di sekolah dalam mengimplementasikan ajaran Prajna secara optimal. Penanaman tersebut diberikan secara berkelanjutan dalam tahap proses belajar mengajar, pergaulan, program pendidikan sekolah maupun dalam kehidupan bermasyarakat. Selanjutnya bila kehidupan seseorang sudah menunjukkan sikap spiritual yang baik akan tercapai suatu kepribadian yang luhur.

5.2 Implementasi Ajaran Wirya dalam Menanamkan Sikap Kedisiplinan dan Tanggung Jawab Siswa SMK Negeri 3 Tabanan.

Implementasi ajaran Wirya di SMKN 3 Tabanan dalam menanamkan sikap spiritual sangat berpengaruh besar terhadap kualitas peserta didik. Wirya merupakan keteguhan dalam membela kebenaran dan mengembangkan suatu sikap dan pemikiran yang memiliki integritas yang tinggi. Ketika orang sudah memiliki integritas dalam hidupnya, sudah dipastikan akan memegang teguh pikiran, ucapan dan tindakannya yang baik dalam kehidupan sehari-hari.
Salah satu realitanya di lingkungan sekolah, melalui ajaran wirya yang diterapkan dalam ajaran Tri Kaya Parisudha, yaitu dengan pikiran, perkataan dan perbuatan yang baik dan benar. Realitas yang bisa dilihat secara langsung adalah bagian ajaran kayika (perbuatan yang baik), perbuatan yang tidak baik tentu saja diawali dari aspek pemikiran yang kurang baik, kemudian ucapan dan diikuti dengan perbuatan, ketika aspek manacika (pikiran) sudah tidak baik, artinya sudah tidak bisa membedakan mana hal yang baik dan mana hal yang kurang baik (wiweka). Pemikiran yang tidak berwiweka dalam aspek manacika akan melahirkan perbuatan-perbuatan siswa kearah yang tidak baik, seperti contoh :

Gambar 5.2
Siswa sedang menerima hukuman dari guru karena melanggar aturan

(Sumber. Dokumentasi Yuda Asmara, 2016).

Setiap perbuatan tentunya membuahkan hasil, perbuatan yang baik mendapatkan hasil yang baik, begitu juga perbuatan yang melanggar aturan tentu mendapatkan hukuman seperti gambar di atas. Orang yang berpegang teguh pada dharma tidak akan melakukan perbuatan atau sikap yang melanggar aturan sesuai dari inti dari ajaran Wirya.
Budiarsa (Wawancara, tanggal 23 Pebruari 2016), menyatakan bahwa setiap siswa SMK N 3 Tabanan yang melanggar aturan atau tata tertib sekolah, akan diberikan sangsi yang tegas agar dapat memberikan efek jera terhadap siswa tersebut. Dengan konsekuensi seperti itu siswapun akan berbenah diri baik dalam menjaga sikap, kedisiplinan, sopan santun dan mawas diri.
Sedangkan menurut Hartawan (Wawancara tanggal 23 Pebruari 2016), menyatakan implementasi ajaran Wirya di SMK Negeri 3 Tabanan ditunjukkan melalui sikap dan tingkah laku siswa yang memiliki intgritas. Siswa yang merasa melanggar berani menerima hukuman apapun yang diberikan oleh gurunya serta mau dan mampu berbenah untuk hal yang lebih baik. Kemudian siswa yang tidak melanggar agar tidak terpengaruhi oleh teman yang salah serta mampu mempertahankan sikap ketaatannya terhadap tata tertib sekolah.
Wirya merupakan perbuatan luhur mengenai keteguhan, keuletan, ketabahan dan semangat dalam menegakkan kebenaran. Wirya juga diartikan memakai perisai dalam arti mempersiapkan diri atau memperkuat iman terhadap berbagai godaan.Wirya dalam kehidupan sehari-hari dapat diartikan dengan ketekunan dan kesungguhan dalam pelaksanaan ajaran-ajaran Dharma. Wirya adalah sebuah kedudukan, seperti pejabat yang berkuasa akan segala kebenaran (Purwadi, 2008:78). Keteguhan dalam membela kebenaran merupakan suatu sikap dan pemikiran yang memiliki integritas yang tinggi. Ketika orang sudah memiliki integritas dalam hidupnya, sudah dipastikan akan memegang teguh pikiran, ucapan dan tindakannya sesuai ajaran agama Hindu yang disebut Tri Kaya Parisudha.
Realisasi ajaranTri Kaya Parisudha dalammembentuk perilaku manusia yang disucikan melalaui pikiran, ucapan dan perbuatan (Suhardana,2007:21). Adapun bagian-bagian dari ajaran Tri Kaya Parisudha antara lain :
a) Manacika adalah berpikir yang baik dan suci
b) Wacika adalah berkata-kata yang baik dan penuh sopan santun
c) Kayika adalah berbuat yang baik (subha karma).
Dari ketiga perbuatan diatas yang paling memegang peran utama adalah ajaran Manacika (pikiran), karena pikiran adalah dasar atau perintah dari pergerakan manusia sehingga bisa bekata-kata dan berbuat. Inilah sebabnya manusia harus bisa mengendalikan pikirannya, sesudah bisa mengendalikan pikiran baru bisa mengendalikan ucapan serta mengendalikan perbuatannya. Kalau pikiran bisa dikendalikan dengan sempurna, perkataan dan perbuatan akan mudah dikendalikan oleh pikiran itu sendiri. Sehingga orang tersebut akan melahirkan suatu sikap yang baik dan berbudi luhur.
Implementasi ajaran Wirya dalam Sad Paramita merupakan suatu ajaran yang berorientasi pada pola pikirseseorangyang memiliki keteguhan hati dan pikiran yang baik. Orang yang sudah memegang teguh dharma (kebenaran) dalam pikirannya akan sulit untuk dipengaruhi oleh orang lain karena prinsip tersebut sudah tertanam dalam diri seseorang. Seperti dijelaskan dalam kitab Bhagavadgita bab II sloka 56 antara lain :
Duhkheşv anudvigna-manāh shukheşu vigata-spŗhah,
Vīta-rāga-bhaya-krodhah sthita-dhīr munir ucyate.

Terjemahannya:
Orang yang tidak sedih dikala duka, tidak melonjak kegirangan dikala bahagia, bebas dari nafsu, rasa takut dan amarah, ia yang disebut dengan orang bijak yang teguh (Radhakrishnan, 2007: 158).

Berdasarkan kutipan sloka diatas orang yang disebut bijak dan teguh, artinya memiliki pendirian, prinsip dan berintegritas adalah orang yang tidak dipengaruhi oleh rasa takut, amarah dan nafsu, serta tidak terbelenggu karena tertimpa kemalangan atau kesedihan, dan tidak berlebihan merayakan sebuah kebahagiaan. Orang yang seperti ini memiliki kebijaksanaan yang sejati.
Selanjutnya ketika seseorang yang telah mampu melaksanakan ajaran Wirya seutuhnya, orang tersebut pasti memiliki prisip hidup dan pendirian yang kuat serta memiliki sikap integritas yang baik. Melakukan apa yang diucapkan, mengucapkan apa yang ada dalam pikirannya. Orang yang sudah mampu seperti itulah dikatakan memiliki keteguhan hati dan bijaksana. Implementasi ajaran Wirya di lingkungan sekolah dapat memupuk sikap siswa lebih bertanggung jawab dalam melakukan segala kegiatan, teguh dalam bertindak sesuai hati nuraninya. Hal-hal baik seperti itulah yang mampu menanamkan sikap spiritual yang bagus di lingkungan SMK Negeri 3 Tabanan.

5.3 Implementasi Ajaran Sila dalam Menanamkan Sikap Sopan Santun Siswa SMK Negeri 3 Tabanan.

Implementasi ajaran sila atau etika dalam menanamkansikap spiritual siswa SMK Negeri 3 Tabananyaitu,siswa diharapkan mampu merngerti, memahamidan merasakan suatu hal yang menyangkut sikap, perilaku, tindakan, perbuatan dan lain-lain, untuk kemudian disikapi secara manusiawi. Orang yang bersusila baik akan memiliki kematangan dalam bertingkah laku, serta dapat memahami perasaan orang lain, dapat membaca yang tersurat dan yang tersirat, dapat menangkap bahasa verbal dan non verbal. Semua pemahaman tersebut menuntunnya agar bersikap sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan lingkungannya dapat dimengerti kenapa orang yang sikapnya baik, sekaligus kehidupan sosialnya juga baik, itu dikarenakan orang tersebut dapat merespon tuntutan lingkungannya dengan tepat.
Kematangan sikap bersusila mengajarkan tentang sikap kejujuran, komitmen, visi, kreatifitas, ketahanan mental, kebijaksanaan dan penguasaan diri. Oleh karena itu sikap atau perilaku mengajarkan bagaimana manusia bersikap yang diimplementasikan melalui ajaran-ajaran sila atau etika dalam Sad Paramita. Kemampuan memahami perasaan orang lain dan kemampuan menguasaikeadaan emosi diri sendiri merupakan hal yang sangat pentig, agar mampu mengatur perasaan diri sendiri, ucapan serta tindakan diri sendiri secara baik, serta memiliki sopan santun terhadap guru dan temannya (Yuliastuti, Wawancara tanggal 1 Maret 2016).
Sedangkan menurut Nata (Wawancara Tanggal 1 Maret 2016) menyatakan peran ajaran Siladi lingkungan sekolah sangat dirasakan manfaatnya terutama masalah pembentukan sikap siswa. Sikap siswa yang cenderung terpengaruh oleh hal-hal negatif yang mendorong siswa tersebut berbuat melanggar norma seperti: merokok di lingkungan sekolah, bolos mengikuti pelajaran, suka melawan guru dan lain sebagainya. Perilaku negatif seperti inilah yang dapat menyebabkan pengaruh sikap siswa kearah yang tidak baik. Sehingga perlu diberikan sangsi yang tegas untuk melatih dan memberikan pelajaran kepada siswa yang melanggar aturan atau tata tertib di sekolah.
Gambar 5.3
Siswa yang melanggar diberikan arahan khusus oleh Kepala Sekolah

(Sumber. Dokumen Yuda Asmara, 2016).
Setiap siswa yang melanggar aturan atau tata tertib di sekolah, wajib diberikan sangsi yang tegas. Supaya perilaku yang menyimpang dari norma-norma sekolah bisa menjadikan efek jera bagi siswa tersebut seperti: hukuman membawa tanaman hias, pupuk kandang, membersikan wc serta lingkungan sekolah. Sangsi-sangsi yang diberikan oleh guru tersebut secara langsung dapat mengajarkan siswa untuk takut berbuat yang melanggar aturan, sehinga sikap-sikap negatif mulai berkurang dan berubah menjadi sikap yang positif dalam mewujudkan penanaman sikap spiritual siswa.
Suhardana (2007: 13), Sila merupakan suatu ajaran etika atau kesusilaan yang patut menjadi panutan dan ditiru oleh setiap manusia. Sila lebih dimaknai dengan maksud suatu sikap manusia atau tingkah laku yang cenderung mengarah kehal yang baik sehingga lebih dikenal dengan kata susila. Susila merupakan salah satu bagian dari ajaran kerangka dasar agama Hindu.Dalam ajarandikemukakan apa yang baik dan apa yang tidak baik untuk diketahui dan dijadikan pedoman hidup. Pedoman itu meliputi baik hidup dalam berkeluarga, dalam hidup bermasyarakat, maupun hidup bernegara. Sila merupakan ajaran yang sangat penting dalam hubungan horisontal yaitu sebagai makhluk sosial, hubungan vertikal sebagai makhluk beragama. Dalam ajaran Tri Hita Karana dimana seseorang harus menjalin hubungan yang harmonis antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesasama manusia dan hubungan manusia dengan alam lingkungannya. Ketika ketiga hubungan tersebut sudah terjalin harmonis maka kesejahteraanpun bisa tercapai sekala dan niskala.
Manusia dalam hakikatnya sebagai makhluk susila yaitu manusia dikaruniai sifat yang mempunyai kemampuan untuk membedakan mana yang baik dan mana yang tidak baik, mana yang benar dan mana yang salah, menurut ukuran kesusilaan (Sanjaya, 2011: 111). Dengan hati nurani manusia mampu memikirkan dan menciptakan norma-norma untuk mengatur kehidupannya. Hal inilah yang menyebabkan manusia disebut sebagai makhluk susila. Manusia mampu memahami nialai-nilai susila, mampu mengambil keputusan serta sekaligus mengarahkan dirinya pada perbuatan yang bersusila.
Sikap spiritual siswa bukan hanya dilihat dari keyakinannya beragama saja, melainkan sikap spiritual siswa menyangkut hal yang komperhensif dalam bidang tattwa, susila dan ritual, dalam agama Hindu yang dikenal dengan ajaran Tri Kerangka Dasar Agama Hindu. Melalui pemahaman dari ketiga hal tersebut dalam hal ini difokuskan yaitu penerapan ajaran susila dalam menanamkan sikap spiritual yaitu sopan santun siswa SMK Negeri 3 Tabanan. Melalui penerapan ajaran sila ini siswa SMK Negeri 3 Tabanan memiliki sikap empati, sopan santun, etika, serta perilaku yang baik dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

5.4 Implementasi Ajaran Ksanti dalam Menanamkan Sikap Kepedulian Siswa SMK Negeri 3 Tabanan.

Implementasi ajaran Ksanti di SMK Negeri 3 Tabanan dalam menanamkan sikap spiritual siswa dilakukan hampir disetiap aktivitas siswa khususnya berinteraksi sosial. Interaksi sosial sangat penting dalam merealisasikan ajaran Ksanti. Adapun interaksi yang terjadi yaitu antara siswa dengan guru dan antara siswa dengan siswa lainnya. Melalui proses interaksi tersebut siswa dapat merealisasikan ajaran Ksanti dalam menanamkan sikap spiritual.
Salah satu implementasi ajaran Ksanti di SMK Negeri 3 Tabanan adalah melalui pelaksanaan upacara bendera yang dilaksanakan setiap hari senin. Melalui pelaksanaan upacara bendera setiap hari senin kurang lebih selama 1 jam yaitu dimulai dari pukul 07.10 sampai pukul 08.10 pagi. Dalam 1 jam tersebut siswa dilatih kesabaran, ketenangan serta konsentrasi. Dimana siswa dituntut untuk beridiri dalam barisan dengan posisi sikap sempurna. Kalau siswa yang kurang sabar, tidak tenang dan tidak bisa mengontrol diri, akan mengakibatkan kegaduhan dalam upacara seperti ngobrol dengan temannya, tidak pokus dan cendrung menganggu temannya yang disamping.
Gambar 5.4
Siswa sedang upacara bendera melatih kedisiplinan dan kesabaran

(Sumber. Dokumentasi Yuda Asmara, 2016).

Hartawan (Wawancara tanggal 1 Maret 2016) menyatakan, siswa yang sudah bisa mengaktualisasikan ajaran Ksanti dalam dirinya, maka siswa akan mampu mengendalikan ego dalam dirinya untuk bersikap lebih tenang, sabar dan penuh konsentrasi, walaupun kadang panas terik menyengat akibat berjemur dalam barisan. Siswa yang tidak kuat fisik dan mentalnya menjadi tumbang sebelum upacara bendera selesai. Sehingga perlu dilatih agar memiliki sikap tenang, kuat dan sabar melalui implementasi ajaran Ksanti dalam Sad Paramita.
Sedangkan menurut Yuliastuti (Wawancara tanggal 1 Maret 2016) menyatakan siswa yang belum bisa mengontrol dirinya sendiri, baik itu rasa amarah, dendam, egois, tidak sabaran, gelisah dan ketakutan merupakan bentuk sikap yang belum mampu merealisasikan ajaran Ksanti dalam hidupnya. Karena untuk merealisasikan ajaran Ksanti dibutuhkan sikap pengendalian dan kontrol diri yang baik. Sehingga sikap seseorang yang sudah terkontrol dengan baik akan mampu menguasai dirinya sendiri agar menjadi lebih peduli, tenang, sabar, pemaaf, lemah lembut dan penyayang.
Ksanti Paramita merupakan pikiran yang tenang, tahan terhadap godaan yang menghadang, tahan terhadap penghinaan, penyakit, masalah, dengki dan irihati serta kata-kata yang tidak baik (Suhardana, 2007: 71). Ksanti merupakan suatu perbuatan luhur tentang kesabaran yang mampu mengendalikan rasa emosi, ego, amarah dengan baik dalam aspek kecerdasan emosional.Ksanti Paramita mencakup tiga pengertian, yaitu, kesabaran, ketabahan, dan ketulusan hati. Seorang penganut ajaran ksanti haruslah melatih kesabaran karena ketidaksabaran akan mudah menimbulkan kemarahan dimana dapat menghancurkan semua pemupukan kebajikan yang telah terhimpun. Ketidaksabaran dalam bertindak sering menenggelamkan diri dalam lautan penderitaan yang menyebabkan penyesalan yang berkepanjangan.
Ajaran Ksanti merupakan ajaran memelihara persaudaraan dan kasih sayang sesama manusia sesuai dengan ajaran Tat Twam Asi. Melatih kesabaran, rendah hati dan ketulusan perlu menyesuaikan antara pikiran, perkataan dan perbuatan. Apa yang dipikirkan itulah yang semestinya diucapkan, dan apa yang diucapkan haruslah dilaksanakan dengan sebaik-baiknya (Suhardana, 2010: 56).
Implementasi ajaran ksanti di SMK Negeri 3 Tabanan menjadi hal yang sangat penting dalam menanamkan sikap spiritual siswa terutama dalam hal berperilaku dan bersosialisasi terhadap sesama. Dijelaskan dalam kitab Sasrassamuscaya sloka 77 berbunyi:
“Kayenā manaśa vacā yad abhiksanam nīsevyate
Tadevapaharatyenām tāsmat kalyanam acaret”

Terjemahannya :

Yang menyebabkan orang itu dikenal adalah tingkah lakunya, buah pikirannya, ucapan-ucapannya. Itu jugalah yang diperhatikan oleh seseorang, karena itu yang baik supaya dibiasakan dalam perbuatan, perkataan dan pikiran (Kadjeng, 2003: 77).

Sloka di atas menekankan untuk menjadi insan manusia yang terkenal dan terpuji haruslah memegang teguh perkataan, ucapan dan yang terpenting adalah perilaku yang baik. Ketiga hal yang baik itulah harus menjadi kebiasaan yang ada dalam diri seseorang dan dipegang teguh dalam merealisasikan ajaran ksanti. Dimana harus belajar sabar, tenang, tulus dan ikhlas dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Sesuai Teori Interaksi Sosial yang dipakai kajian dalam penelitian ini menyebutkan interaksi sosial adalah kunci dari semua khidupan sosial, didalam interaksi tersebut tentunya ajaran Ksanti sangat penting diterapkan untuk mewujudkan kehidupan yang harmonis tanpa permasalahan. Dimana melalui ajaran Ksanti seseorang mampu saling mengontrol diri dan menjaga keharmonisan sesama manusia, dalam hal ini adalah siswa dengan guru dan antara siswa dengan siswa lainnya di SMK Negeri 3 Tabanan.
Implementasi ajaran Ksanti di SMK Negeri 3 Tabanan sangat berpengaruh besar dalam menanamkan sikap spiritual siswa. Melalui ajarannya yang menekankan pada introspeksi diri (mulatsarira), yaitu sikap mengontrol diri agar tetap tenang, sabar, tegar dan tidak suka marah ketika tertimpa sebuah masalah. Hal ini sangat dibutuhkan sekali oleh para siswa SMK Negeri 3 Tabanan yang masih bersifat labil. Sehingga dengan mulatsarira siswa mempunyai kontrol diri dalam bertindak, bersikap dan berbuat sesuai dengan ajaran agama atau tata tertib yang berlaku. Ajaran Ksanti ini merupakan pondasi dasar dalam menciptakan keluhuran budi, dimana hal yang ditekankan dalam ajaran ini adalah mental. Rasa ego yang ada dalam diri sesorang menjadi hilang dan berubah menjadi sikap spiritual serta rasa kepedulian yang tinggi.

5.5 Implementasi Ajaran Dana dalam Menanamkan Sikap Ikhlas Tanpa Pamrih Siswa SMK Negeri 3 Tabanan.

Menurut Angga (wawancara tanggal 2 Maret 2016) mengatakan bahwa implementasi ajaran Dana dalam menanamkan sikap spiritual siswa SMK N 3 Tabanan yang merupakan bagian dari ajaran Sad Paramita biasanya paling sering dilakukan pada saat hari raya atau pada saat diadakannya persembahyangan bersama di sekolah, misalnya rahina purnama, saraswati, siwaratri, upacara upanayana, maupun dihari-hari tertentu lainnya. Pada saat upacara persembahyangan berlangsung, para siswa banyak yang membawa aturan (canang) sebagai suatu persembahan dan diisikan sesari (uang). Persembahan tersebut merupakan salah satu bentuk realisasi ajaran Dana.
Gambar 5.5
Contoh Punia atau sesari yang dihaturkan siswa pada saat persembahyangan Purnama

(Sumber. Dokumentasi Yuda Asmara, 2016).

Sesari diatas canang yang dipersembahkan itu biasanya dikumpulkan oleh Osis sebagai dana punia yang dikelola oleh Osis untuk menunjang kegiatan-kegiatan kesiswaan. Dengan demikian punia yang diataurkan oleh para siswa tersebut dapat membantu sumber dana yang dipakai dalam kegiatan-kegiatan sekolah.

Wiryana (Wawancara tanggal 2 Maret 2016) menyatakan bahwa, penerapan ajaran Dana dalam lingkungan sekolah juga dilaksanakan dalam program lomba banten gebogan yang diadakan setiap perayaan hari Sarawati. Dimana setiap kelas dikoordinir oleh setiap wali untuk membuat satu banten gebogan (banten yang dibuat bersama-sama) untuk persembahan hari raya Saraswati. Proses pembuatan banten melibatkan seluruh siswa dalam berpartisipasi, baik melalui punia berupa uang, bunga, buah, maupun tenaga dalam pembuatannya. Dari proses itulah diambil maknanya, bukan hanya untuk mengejar juara dengan banten yang bagus, lebih penting siswa tahu memaknai serta diajarkan untuk berdana punia seikhlasnya dalam keterlibatan proses pembuatan banten gebogan.
Esensi dari ajaran Dana yang diterapkan di SMK Negeri 3 Tabanan yang direalisasikan melalui yadnya berupa banten. Dalam proses pembuatan banten inilah terkandung banyak ajaran-ajaran Dana yang dipraktekkan secara langsung yaitu berkorban tenaga, ide, waktu, buah-buahan serta uang yang dikumpulkan untuk pendanaan pembuatan banten tersebut. Banten gebogan tersebut nantinya akan di lungsur dan dimakan bersama dengan teman-teman sekelasnya. Tradisi ini sudah menjadi rutinitas di SMK Negeri 3 Tabanan untu dapat menumbuhkembangkan rasa kebersamaan atar sesama teman.

Gambar 5.6
Banten Gebogan yang dihaturkan dalam hari raya Saraswati

(Sumber. Dokumentasi Yuda Asmara, 2016).
Banten gebogan atau pajegan merupakan bentuk Dana (persembahan berupa materi) yang ditujukan kepada Tuhan dalam rangka persembahyangan di Padmasana sekolah. Dalam proses pembuatan banten tersebut melibatkan seluruh siswa dimana setiap siswa diajarkan untuk belajar berdana punia, yaitu bersedekah dari bahan-bahan banten(persembahan berupa materi seperti: buah, bunga, canang dll.), serta ikut membuat dan merancang banten (Persembahan non materi seperti: tenaga, waktu dan pengetahuan). Dari proses tersebut siswa secara langsung dapat mengimplementasikan ajaran Dana di Sekolah khususnya dalam menanamkan sikap spiritual pada siswa SMK Negeri 3 Tabanan.
Dana merupakan sikap dermawan dalam artian suka berdarma atau tidak kikir. Dana jugamerupakan salah satu implementasi dari ajaran yadnya. Beryadnya berarti memuja Tuhan, juga bermakna menyucikan diri sendiri. Melaksanakan yadnya (dana) merupakan suatu upaya untuk meningkatkan kualitas spiritual manusia. Dana juga diartikan dermawan atau suka bersedekah (Purwadi, 2008: 46). Mendengar kata dana punia sebenarnya sudah mengacu pada Tuhan, karena semua dana atau kekayaan yang didermakan dengan ikhlas dari seseorang itu sudah berarti melaksanakan yadnya. Yadnya yang baik bukan dilihat dari kuantitasnya melainkan kualitas dari yadnya itu sendiri. Dalam kitab Manawadharmasastra Bab IV.226 disebutkan:
”sraddhayestām ca purtām ca
nityam kuryada taňdritah,
craddhakrité hyaksaye te
bhawatāh swagatairdhanāih”
Terjemahannya :
“Hendaknya tidak jemu-jemunya ia berdana punia dengan memberikan hartanya dan mempersembahkan sesajen dengan penuh keyakinan. Memperoleh harta dengan cara yang benar dan didermakan akan memperoleh tempat tertinggi atau Moksha”. (Pudja, 2004: 216).

Bertalian dengan sloka diatas bahwa sebagai manusia hendaknya tidak jemu-jemunya melaksanakan dana punia atau bersedekah, baik bagi para dewa / Tuhan Yang Maha Esa, terhadap sesama manusia, kepada para binatang atau hewan, kepada tumbuh-tumbuhan, maupun kepada para Bhuta atau lingkungan. Sehingga diperoleh suatu hubungan yang harmonis secara vertikal dan horisontal serta dialam sekala dan niskala (nyata tidak nyata). Dengan berdana punia sesering mungkin akan menghantarkan manusia memperoleh tempat tertinggi yaitu moksha.
Terlahir menjadi manusia yang penuh dengan pola pikir, hendaknya selalu memikirkan diri sendiri dan orang lain, karena hidup didunia bukanlah sendiri tanpa bantuan orang, manusia tidak akan bisa hidup, sehingga manusia disebut dengan makhluk sosial. Seperti dalam kitab Manawadharmasastra IV.228 disebutkan :
yatkimcidapi dāta wyam yacītenanasuyayā,
ŭtpatsyate hī tatpatram yattarayatī sārwataĥ.
Terjemahannya :
Apabila dimintai, hendaknya ia selalu memberikan sesuatu, walaupun kecil jumlahnya, tanpa perasaan mendongkol, karena penerima yang patut akan mungkin ditemui yang menyelamatkannya dari segala dosa”.(Pudja, 2004:217).
Makna sloka diatas menegaskan bahwa ajaran dana punia dilandasi oleh ajaran Tattvam Asi, yang berarti aku adalah kamu, kamu adalah aku, kita semua adalah sama atau semua itu adalah kamu. Pandanglah setiap orang seperti diri kita sendiri yang memerlukan pertolongan, bantuan atau perlindungan untuk mewujudkan kebahagiaaan hidup yang sejati, seperti diamanatkan dalam kitab suci Veda, “vasudhaivakutumbakam” artinya semua makhluk adalah bersaudara. Manusia merupakan makluk sosial dalam arti manusia tidak dapat hidup sendiri sehingga memerlukan bantuan orang lain.
Dengan menghayati dan memahami ajaran Tat Twam Asi sudah semestinya terjalin hubungan yang baik antar sesama. Jangan sampai sebagai manusia saling menyakiti satu sama lain, melakukan tindakan anarkis yang merugikan orang lain, atau bahkan tega membunuh sesama manusia. Hendakanya saling tolong menolong dan memberikan perlindungan terhadap sesama, bila menjadi orang kaya bantulah orang–orang yang miskin, bila menjadi orang yang kuat bantulah orang–orang yang lemah, sehingga kehidupan yang harmonis dapat terwujud, yang merupakan implementasi dari ajaran Tat Twam Asi.
Dana punia tidak terbatas hanya materi saja, tetapi bisa juga bersedekah dengan non-materi. Halterpenting dilandasi dengan rasa yang tulus dan ikhlas. Menurut Swami Wiwekananda ada tiga yang termasuk dana punia, yaitu :
a) Dharmadana : memberikan budi pekerti yang luhur untuk merealisasikan ajaran dharma.
b) Widyadana : memberikan ilmu pengetahuan.
c) Arthadana : memberikan materi atau harta benda yang dibutuhkan, asalkan didasari dengan rasa tulus dan ikhlas, serta diperoleh dengan jalan dharma.
Bersedekah bukan hanya dengan materi saja, melainkan bersedekah dengan non-materi juga tidak kalah penting, bahkan juga merupakan sedekah yang utama. Seperti dalam kitab Bhagavad Gita IV.33 disebutkan :
“Ŝreyān dravyamayād yajňaj
Jňāna yajňah parantapa
Sarvam karmā, khilam pārtha
Jnane parisāmapyate”.

Terjemahannya :

Wahai Penakluk musuh, yadnya atau korban suci yang dilakukan dengan pengetahuan lebih baik dari pada hanya mengorbankan harta benda atau material. Wahai Putera Partha, bagaimanapun segala korban suci itu yang terdiri dari pekerjaan akan memuncak dalam pengetahuan rohani (Radhakrishnan, 2007:231).

Makna sloka diatas mengisyaratkan bahwa bersedekah dengan non-materi yaitu dengan pengetahuan suci sangatlah mulia dan melebihi dari korban materi apapun. Dengan bersedekah ilmu pengetahuan kepada orang lain akan mampu menyelamatkan seseorang tersebut dari dosanya. Ilmu pengetahuan yang didapat dan diaplikasikan dalam kehidupannya merupakan sebuah anugerah yang terindah dalam hidup, karena tanpa ilmu pengetahuan semuanya tidak akan berguna, baik itu harta kekayaan, ketampanan, kecantikan, martabat, jabatan dan yang lainnya tidak akan memiliki nilai yang baik tanpa didukung dengan pengetahuan. Hanya dengan ilmu pengetahuan, manusia itu bisa memperbaiki karmanya dan mampu lepas dari dunia kesengsaraan yang penuh dengan dosa.
Secara umum tidak ada batasan waktu untuk melakukan dana punia. Kapanpun kita melakukan dana punia tidak menjadi masalah. Asalkan didasari oleh rasa tulus ikhlas dan sesuai dengan dharma maka pahala akan kita dapatkan. Didalam kitab Sarasamuccaya Sloka 183disebutkan :
“Ayanesu cā yaddāttām sadācitimukhesu ca,
candrāsuryoparage ca vīsuve ca tadākşayām ”.

Terjemahannya :

Inilah perincian waktu yang baik : ada yang disebut daksinayana, waktu matahari mulai berkisar kearah selatan; uttarayana, waktu matahari mulai kearah utara; ada yang bernama saat matahari; saat gerhana bulan atau gerhana matahari; juga waktu yang baik yaitu ketika matahari berada dikhatulistiwa (wisuwakala); sesuatu barang disedekahkan pada waktu itu, bukan alang kepalang pahalanya (Kajeng, 2003: 124).

Dari uraian sloka diatas dapat disimpulkan bahwa waktu yang baik melakukan dana punia adalah :
a) Uttarayana : saat matahari berada di utara khatulistiwa, ( tepatnya saat purnama dan tilem)
b) Wisuwakala : saat matahari tepat berada di khatulistiwa, (tepatnya purnama dan tilem)
c) Daksinayana : saat matahari berada diselatan khatulistiwa (tepatnya purnama dan tilem)
d) Saat gerhana matahari dan bulan, yaitu pada saat posisi matahari, bumi dan bulan berada sejajar dalam satu garis.
Implementasi ajaran Danadi SMK Negeri 3 Tabanan dalam menanamkan sikap ikhlas tanpa pamrih siswa sangat berkontribusi bagi sekolah. Melalui ajaran Dana siswa mampu belajar dan memaknai arti yadnya yang sesungguhnya, karena dasar Dana atau pemberian itu adalah ikhlas dan tanpa pamrih. Dimana siswa diajarkan untuk bersedekah, beramal dan mengorbankan materi atau non materi demi kepentingan bersama, agama, sekolah, masyarakat dan lingkungan. Melalui realisasi ajaran Dana inilah akan mampu menumbuhkembangkan sikap-sikap spiritual khususnya keikhlasan siswa SMK Negeri 3 Tabanan.

5.6 Implementasi Ajaran Dhyana dalam Menanamkan Sradha Bhakti dan Kejujuran Siswa SMK Negeri 3 Tabanan.

Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada TuhanYang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab” (Sumber: Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional).
Sejatinya tujuan pendidikan yang diharapkan sesuaiUndang-undang SISDIKNAS di atas adalah siswalebih ditekankan pada aspek ketaqwaan (sikap spiritual). Dimana sejalan dengan konsep-konsep ajaran agama Hindu yang tertuang dalam Kitab Bhagawadgita IX. 34, disebutkan mengenai aktualisasi dari ajaran Dhyana adalah sebagai berikut :
“Manmanā bhava madhakto madyāyī mām namoskuru mam evai şhyasi yuktvai vam ātmānam matparāyaņah”.
Terjemahannya:
Pusatkan pikiranmu pada-ku, berbakti pada-ku, sembahlah Aku sujudlah pada-Ku. Setelah melakukan disiplin pada dirimu sendiri dan Aku sebagai tujuan, engkau akan datang padaku (Radhakrishnan, 2007: 363).

Aktualisasi dari sloka diatas dalam aktivitas sehari-hari adalah bagaimana manusia yang telah mencapai kesadaran akan dirinya yangg sejati adalah seseorang yang telah mencapai kesadaran dalam hal rohani (kesadaran bathin). Ketika seseorang telah mempersembahkan setiap pikiran, sikap dan perbuatannya kepada Tuhan dan dengan demikian segala perbuatannya akan menjadi bhakti atau yadnya yang sangat berpahala khususnya dalam bidang spiritual.
Menurut Wiryana (Wawancara tanggal 2 Maret 2016) menyatakan, bahwa implementasi ajaran Dhyana di lingkungan sekolah khususnya pada siswa SMK Negeri 3 Tabanan dipahami melalui ajaran-ajaran yang bersifat keagamaan terutama dalam menanamkan sradha bhakti dan kejujuran siswa. Misalnya para siswa diajak untuk berlatih dan mempraktekkan teori pembelajaran dikelas sesuai materi pelajaran, misalnya materi persembahyangan. Dalam mempraktekkan materi tersebut siswa diajak ketempat suci (padmasana) dalam memahami makna dari persembahyangan tersebut skaligus siswa mampu mempraktekkannya. Mulai dari memahami hakikat sembahyang, melakukan sikap sembahyang dengan benar, mengetahui dan melafalkan mantra yang diucapkan, serta memahami makna dari sarana atau simbol-simbol yang digunakan dalam persembahyangan.

Gambar 5.7
Siswa sedang sembahyang pada hari Raya Purnama

(Sumber. Dokumentasi Yuda Asmara, 2016).
Implementasi ajaran Dhyana biasanya dilakukan para siswa SMK Negeri 3 Tabanan dalam aspek kegiatan keagamaan sekolah. Selain itu ajaran Dhyana yang terpenting adalah siswa mampu memaknai apa yang dilakukannya sperti: makna sembahyang, puja Tri Sandya, Yoga, Meditasi dan pelaksanaan agama lainnya. Karena esensi ajaran Dhyana ini berhubungan langsung dengan keyakinan atau kepercayan kepada Tuhan Yang Maha Esa atau Ida Sang Hyang Widhi Wasa (Angga, Wawancara tanggal 4 Maret 2016).
Dhyana dalam bukunya (Wiana, 1997: 33) dijelaskan “Dhyana Ngaranya Siwa Smarana” yang artinya Dhyana namanya jika selalu mengingat dan memuja Tuhan (Siwa). Dalam tradisi Hindu di Bali ada konsep Nama Smaranam yang disebut Pengider-ngider. Dalam konsep Pengider-ngider itu dilukiskan adalah stana Tuhan Yang Maha Esa sebagai Padma Buwana yang dikuasai oleh Dewata Nawa Sanga. Konsep Pengider-ngider inilah yang menjadi sistem ritual agama Hindu yang dipuja melalui ajaran Dhyana.
Dhyana merupakan bermiditasi kepada Tuhan atau suatu sikap meditasi yang ditujukan untuk terhubung dengan kekuatan-kekuatan Tuhan. Dhyana merupakan usaha-usaha untuk menyatukan pikiran dengan Tuhan yang tarafnya lebih tinggi daripada dharana (penyatuan pikiran).Salah satu cara yang biasanya digunakan dalam melakukan dhyana atau pemusatan pikiran yang ditujukan kepada Tuhan biasanya dengan jalan sembahyang. Dalam bukunya Subagiasta (2009:47) dijelaskan dhyana atau meditasi yaitu pengaliran yang tidak henti-hentinya dari pemikiran sehubungan satu objek, yang nantinya membawa pada keadaan semadhi (keadaan supra sadar), saat seperti itu yang bermeditasi dan yang dimeditasikan menjadi satu.
Melalui implementasi ajaran Dhyana siswa diharapkan mampu memahami serta mempraktekkan kegiatan yang bersifat ritual keagamaan dengan benar seperti: pelaksanaan puja Tri Sandya di sekolah, persembahyangan Purnama Tilem, Persembahyangan Rahina Saraswati, Persembahyangan Rahina Siwaratri dan kegiatan spiritual lainnya yang ada hubungannya dengan pemusatan pikiran terhadap Tuhan. Sehingga implementasi ajaran Dhyana dapat menanamkan sradha bhakti dan kejujuran siswa SMK Negeri 3 Tabanan dalam melaksanakan pembelajaran atau kegiatan di sekolah.
BAB VI
FAKTOR PENDUKUNG DAN PENGHAMBAT IMPLEMENTASI AJARAN SAD PARAMITA DALAM MENANAMKAN SIKAP SPIRITUAL SISWA SMK NEGERI 3 TABANAN

6.1 Faktor-Faktor Pendukung Implementasi Ajaran Sad ParamitaDalam Menanamkan Sikap Spiritual Siswa SMK Negeri 3 Tabanan
6.1.1 Dukungan dari Keluarga
Orangtua siswa adalah mitra utama sekolah dalam mengembangkan pendidikan. Hubungan antara sekolah dan orangtua siswa adalah hubungan yang bersifat transformasional, yaitu hubungan yang lebih didasari oleh kontrak sosial dan kontrak moral untuk maju dan berkembang bersama (Raka, 2011:73).
Menurut Budiarsa (Wawancara tanggal 3 Maret 2016), menyatakan faktor dukungan dari keluarga (orangtua) sangatlah penting dalam sebuah pengembangan pendidikan disekolah. Karena dalam dunia pendidikan, khususnya pendidikan non formal adalah pendidikan yang pertama yang didapatkan anak dari orangtuanya. Pendidikan dalam keluarga inilah yang akan membentuk karakter atau sifat dasar seseorang, kalau pendidikan anak pada usia dini salah atau tidak terbimbing akan menghasilkan anak yang kurang berkarakter dan sulit untuk dididik dimasa remaja.
Dukungan keluarga yang terjalin harmonis akan mengakibatkan tumbuhnya rasa motivasi yang tinggi pada anak untuk merubah diri kearah yang lebih baik dan berkualitas. Baik itu rasa solidaritas, sopan santun, tenggang rasa dan kepribadian lainnya.
Gambar 6.1
Pertemuan orang tua siswa dengan para guru SMKN 3 Tabanan
dalam rapat pembahasan tentang kebijakan sekolah

(Sumber. Dokumentasi Yuda asmara, 2016).

Orangtua adalah seseorang yang pertama kali harus mendidik pengetahuan dan sikap anaknya dengan memberikan teladan dan contoh yang baik. Dalam Kekawin Nitisastra V dijelaskan mengenai tingkatan kehidupan manusia yang harus dipegang dan dijadikan pedoman oleh orang tua dalam mendidik anak dilingkungan keluarga. Adapun penjelasan Nitisastra V adalah sebagai berikut:
“Takī-takīning Séwaka guna widyā
Semarā Wisayaruāng puluhing ayusā
Tengahin tuwuh sān wacanā gégonta
Patilaring ātmeng tanupagurukén”

Terjemahannya:

Usahakanlah dengan tekun mengabdi pada ilmu pengetahuan yang Utama. Setelah berumur dua puluh tahun mencari kekasih atau berumahtangga. Sesudah setengah umur menjadi penasehat berpegang pada ucapan. Setelah itu melepaskan Sang Hyang Atma dipelajari (Wiana, 1997: 63).

Sloka di atas mengisyaratkan makan bahwa dalam mendidik anak harus diperhatikan benar dari kelahiran sampai kematian, yaitu mulai sejak lahir agar dididik untuk mulai belajar ilmu pengetahuan (Brahmacari), sebelum menginjak umur 20 tahun maka dilarang untuk pacaran, tunganan apalagi menikah. Dan setelah lewat 20 tahun baru diperbolehkan mencari pasangan hidup.Agar anak memiliki sikap atau kepribadian yang baik, orang tua diharapkan mengajar anaknya untuk:
– membiasakan membina hubungan persahabatan yang hangat dan harmonis.
– bekerja dalam kelompok secara harmonis.
– berbicara dan mendengarkan secara efektif.
– selalu mencapai prestasi yang lebih tinggi sesuai aturan yang ada (sportif).
– mengatasi persoalan dengan teman.
– berempati pada sesama.
– memecahkan persoalan secara mandiri.
– selalu meningkatkan kemampuan mengatasi konflik.
– membangkitkan rasa humor.
– memotivasi diri bila menghadapi saat-saat yang sulit.
– menghadapi situasi yang sulit dengan percaya diri.
– menjalin keakraban.
Sesuai dengan Teori Perubahan Tingakah Laku menurut Allport yang digunakan dalam penelitian ini menyatakan, bahwa tingkah laku seseorang dapat dilihat dari perkembangan kepribadiannya sejak kecil sampai pada masa dewasa. Jadi, dalam hal ini kepribadian sejak kecil tentunya dipengaruhi oleh latar belakang keluarganya. Pendidikan informal yang diberikan keluarga sangatlah utama dalam membentuk sejak dini kepribadian siswa. Maka dapat disimpilkan bahwa, keluarga yang baik menjadi faktor pendukung yang utama dalam pembentukan kepribadian dan mental siswa.
6.1.2 Lingkungan Masyarakat yang Baik
Lingkungan merupakan bagian terpenting dan mendasar dari kehidupan manusia. Sejak dilahirkan manusia sudah berada dalam lingkungan. Dari pengaruh lingkungan baru akan terbentuk sifat dan perilaku manusia dengan sendirinya. Lingkungan yang baik akan membentuk pribadi yang baik, sementara lingkungan yang buruk akan membentuk sifat dan perilaku yang buruk pula (Raka, 2011: 44).
Setiap lingkungan pasti memiliki interaksi sosial didalamnya. Sifat dan perilaku manusia berkembang dari suatu hubungan interaksi yang terjadi setiap hari dalam aktivitas lingkungan hidup masyarakat setempat. Manusia akan berinteraksi dan berusaha untuk beradaptasi dengan lingkungannya sesuai kondisi masyarakat. Sehingga secara perlahan sikap dan perilaku manusia menyesuaikan dengan situasi atau keadaan lingkungan masyarakat. Dari keadaan lingkungan masyarakatlah bisa dilihat secara umum pembentukan sikap seseorang.
Anak yang tumbuh besar dilingkungan masyarakat yang keras, perjudian, perselisihan dan lingkungan peminum, menjadikan seorang anak akan tumbuh sesuai kebiasaan lingkungannya. Demikian juga anak yang tumbuh di lingkungan masyarakat yang aman, saling menghargai dan menghormati, seorang anak akan hidup santun sesuai adat dan kebiasaan lingkungan masyarakatnya. Dari pernyataan di atas jelas bahwa lingkungan sangat besar pengaruhnya terhadap sikap dan perilaku seseorang.
Hartawan (Wawancara tanggal 3 Maret 2016) menyatakan, lingkungan masyarakat yang baik sangat berpengarauh terhadap sikap siswa disekolah. Salah satu sikap siswa yang dijadikan contoh sesuai pengalaman dalam mendidik siswa di SMK Negeri 3 Tabanan. Misalnya, siswa bidik misi yang ditempa dari keluarga yang kurang mampu dan lingkungan masyarakat yang jauh dari perkotaan. Menjadikan siswa tersebut merasa sangat bersyukur dapat bersekolah seperti teman kebanyakan. Sehingga sikap dan perilakunya menunjukkan sesuatu perkembangan yang positif seperti lebih rajin, disiplin, penurut, sopan santun dan yang lainnya.
Sikap dan perilaku siswa juga bisa dilihat dari budaya dan adat istiadat yang berkembang ditempat tinggalnya. Seperti siswa-siswa yang tumbuh besar di lingkungan yang adatnya masih sangat kental dan tradisional, khusunya siswa yang berasal dari pedesaan. Sikap siswa yang tinggal dipedesaan sangat berbeda dengan siswa yang tinggal didaerah kota. Misalnya siswa yang berasal dari desa sikapnya lebih lugu, pemalu dan lebih sopan, dibandingkan siswa yang berasal dari daerah perkotaan yang cendrung sikapnya lebih berani, nakal serta lebih modis dalam berpakaian (Yuliastuti, Wawancara tanggal 4 Maret 2016).
Dari beberapa pernyataan di atas, lingkungan masyarakat yang baik sangat berpengaruh terhadap perkembangan sikap siswa ke arah yang lebih baik. Karena sikap dan perilaku seseorang akan berkembang mengikuti adat dan kebiasaan sesuai keadaan lingkungan daerahnya. Jadi lingkungan masyarakat yang baik dapat dijadikan salah satu faktor pendukung dalam pembentukan sikap seseorang khususnya pada siswa SMK Negeri 3 Tabanan.
6.1.3 Pergaulan Teman Sebaya
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia “teman sebaya” diartikan sebagai kawan, sahabat atau orang yang sama-sama bekerja atau berbuat (Tim Penyusun, 2008:456). Jadi teman sebaya merupakan kelompok orang-orang yang seumur dan mempunyai kelompok sosial yang sama. Teman sebaya sebagai kelompok sosial sering diidentikkan dengan kesamaan ciri-ciri dan aktifitas yang sama, dalam hal ini adalah teman sekolah satu aktifitas dalam pergaulan sehai-hari di lingkungan sekolah.
Teman sebaya sangat berpengaruh besar dalam pergaulan dan aktifitas sehari-hari. Dari kecil hingga tumbuh menjadi besar tidak akan pernah lepas dari teman sebaya atau sahabat karib. Menurut Lewis dan Rosenblum dalam (Samsunuiyati, 2005: 145) dikatakan definisi teman sebaya lebih ditekankan pada kesamaan tingkah laku atau psikologis. Yaitu anak-anak yang memiliki tingkat kedewasaan yang sama. Sehingga dari pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa, teman sebaya sebagai interaksi individu pada anak-anak atau remaja dengan tingkat usia yang sama serta melibatkan keakraban yang relatif besar.
Lebih lanjut lagi secara lebih rinci Kelly dan Hansen menyebutkan ada 6 fungsi positif dari teman sebaya, antara lain:
1. Mengontrol inplus-inplus agresif
2. Memperoleh dorongan emosional dan sosial, serta menjadi lebih independen. Teman-tman dan kelompok teman sebaya memberikan dorongan bagi remaja untuk mengambil peran dan tanggung jawab baru mereka.
3. Meningkatkan keterampilan-keterampilan sosial, mengembangkan kemampuan penalaran dan belajar untuk mengekspresikan perasaan-perasaan dengan cara-cara yang lebih matang.
4. Mengembangkan sikap terhadap seksualitas dan tingkah laku peran jenis kelamin.
5. Memperkuat penyesuaian moral dan nilai-nilai.
6. Meningkatkan harga diri, menjadi orang yang disukai oleh sejumlah besar teman-teman sebayanya membuat remaja merasa senang tentang dirinya (Sumsunuwiyati, 2005: 220)

Dari kutipan di atas bisa ditarik sebuah makna, bahwa sikap dan tingkah laku seseorang terbentuk dari rangsangan dan stimulus terhadap perilaku atau pergaulan teman sebaya. Rangsangan yang timbul tersebut menjadi sebuah ajakan yang sangat kuat dalam merubah perilaku-perilaku atau sikap sebelumnya sesuai aktivitas yang sering dilakukan dalam suatu tujuan yang sama.
Nata (Wawancara tanggal 4 Maret 2016) menyatakan bahwa pengaruh pergaulan teman sebaya biasanya identik dengan kebiasaan-kebiasaan masing-masing aktivitas yang dilakukan secara bersamaan. Bisa dibuktikan dengan pergaulan yang ditunjukkan disekolah, baik di dalam kelas maupun di luar kelas. Misalnya seorang siswa yang bergaul dekat teman sebangkunya dalam belajar. Hubungan sahabat terjalin dari kesamaan kebutukan dan aktivitas, seperti buat tugas bareng, diskusi pelajaran, mengerjakan PR serta memilih organisasi atau ektrakurikuler yang sama. Dengan seringnya bersama-sama dengan tujuan yang sama pula, pengaruh positif tersebut akan menjadi sehati dan sepenanggungan.
Hubungan persahabatan yang sehati dan sepenanggungan itu timbul dari adanya satu visi dan misi yang sejalan. Sehingga siswa yang menjalin sahabat baik atau teman sebaya kearah yang positif, bisa berdampak bagi sikap dan perilaku yang positif juga. Jadi bisa dilihat untuk mengetahui sikap dan pergaulan seseorang, bisa dilihat dari sikap dan perilaku teman sebayanya.
Faktor pergaulan teman sebaya yang baik dapat berpengaruh besar terhadap perkembangan sikap dan tingkah laku siswa. Secara umum bisa dilihat dari aktivitas yang dilakukan sehari-hari. Sesuai apa yang dikatan Fishben dalam teori sikap yaitu sikap merupakan suatu kecenderungan untuk secara konsisten memberikan tanggapan menyenangkan atau tidak menyenangkan terhadap suatu objek. Jadi objek yang dimaksud adalah faktor pergaulan teman sebaya yang mempengaruhiperubahan sikap siswa.
6.1.4 Keaktifan siswa
Keaktifan adalah kegiatan yang bersifat fisik maupun mental yaitu berbuat dan berpikir sebagai suatu rangkaian yang tidak dapat dipisahkan. (Sardirman, 2001: 98). Belajar yang berhasil harus melalui berbagai macam aktifitas, baik aktifitas fisik maupun fsikis. Aktivitas fisik yaitu siswa giat aktif dengan anggota badan, berbuat sesuatu, bermain ataupun bekerja. Siswa yang memiliki aktifitas fsikis (kejiwaan) yaitu jika daya jiwanya bekerja sebanyak-banyaknya dalam proses pembelajaran.
Melalui proses belajar mengajar di sekolah untuk melibatkan siswa secara aktif dalam belajarnya, maka guru juga dituntut untuk aktif dalam mengajarnya. Oleh karena itu, proses pembelajaran merupakan suatu kegiatan yang integral antara siswa sebagai pelajar dan guru sebagai pengajar. Dalam proses belajar mengajar terjadi interaksi antara guru dengan siswa dalam situasi pembelajaran.
Belajar merupakan proses aktif merangkai pengalaman menggunakan masalah-masalah nyata yang terdapat di lingkungannya untuk berlatih keterampilan-keterampilan yang spesifik. Proses belajar mengajar harus berpusat pada siswa melalui berbagai aktivitas fisik dan aktivitas mental. Seperti siswa aktif dalam mengikutu berbagai kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan oleh sekolah, misalnya lomba-lomba, kegiatan ekstrakurikuler, kegiatan osis, kepramukaan, pendidikan bela negara, dan kegiatan-kegiatan yang bersifat tentatif.
Budiarsa (Wawancara tanggal 5 Maret 2016) menyatakan siswa yang aktif dalam kegiatan akademis dan non akademis memiliki pengetahuan serta pengalaman yang lebih dibandingkan siswa yang pasif. Suatu pengetahuan dan keterampilan yang tidak didapat siswa di bangku sekolah, melalui kegiatan-kegiatan yang diikuti mampu menumbuhkan sikap dan wawasan siswa. Misalnya pada saat siswa dilatih dalam kegiatan pendidikan bela negara. Pendidikan bela negara merupakan kegiatan yang memupuk rasa cinta tanah air dan sikap disiplin yang tinggi seperti: baris berbaris, sikap disiplin, kebersamaan, gotong royong, kebersihan lingkungan dan lain sebagainya.
Melalui kegiatan-kegiatan atau mempraktikkan teori-teori yang didapat di bangku sekolah, siswa dapat mengembangkan keterampilan dan bakatnya. Salah satu contoh yaitu siswa otomotif membuat suatu modifikasi kendaraan, siswa teknik bangunan membuat sebuah desain gambar yang modern, serta siswa jurusan jasa boga membuat menu-menu makanan yang baru sesaui kreatifitas dan keahliannya dalam memasak.
Gambar 6.2
Siswa Jasa Boga sedang aktif berkreasi dalam praktek memasak di Kitchen sekolah

(Sumber. Dokumentasi Yuda Asmara, 2016).
Dari data di atas dapat disimpulkan bahwa, keaktifan siswa dalam proses belajar mengajar, baik bersifat fisik maupun mental dapat menumbuhkan sikap dan wawasan yang lebih baik dalam hal kognitif, afektif maupun psikomotor. Sehingga keaktifan siswa merupakan faktor terpenting dalam mengembangkan pengetahuan dan sikap siswa kearah yang lebih baik.

6.1.5 Program Ekstrakurikuler Sekolah
Kegiatan ekstrakurikuler sekolah merupakan berbagai kegiatan di sekolah yang dilakukan sekolah dalam rangka memberikan kesempatan kepada siswa untuk dapat mengembangkan potensi, sikap, minat, bakat dan hobi yang dapat dilakukan di luar jam pelajaran normal. Ada bermacam kegiatan ekstrakurikuler yang dapat memberikan kesempatan kepada para siswa untuk mengembangkan karakter, seperti kegiatan olahraga, kesenian, pencinta lingkungan dan pelayanan sosial (Raka, 2011: 57).
Adapun beberapa ekstrakurikuler yang ada di SMK Negeri 3 Tabanan antara lain:
Tabel 6.1
Data nama Ekstrakurikuler SMK N 3 Tabanan dan pembinanya
No Nama Ekstrakurikuler Nama Pembina
1 Kepramukaan MADE AYU SUMARMI, S.PD.
2 Tari NI PUTU ARY HARTINI, ST.
3 Pesantian I GUSTI AGUNG MD. ANGGA WIJAYA, S.AG.
4 Tabuh I NYOMAN RIKA ARTAYASA, A.MD.
5 Silat Seruling Dewata I PUTU ARSANA, S.T
6 Musik I PUTU GEDE ANOM DARMAWISATA, SE.
7 Catur DRS. I PUTU WISNU WINADA
8 Sepak Bola I WAYAN SANTIKA PUTRA, S.PD.
9 Bulu Tangkis I WAYAN MERTAYASA, S.S
10 Perisai Diri DRS. I GEDE BUDIARSA
11 KSPAN DRS. I MADE NATA
12 PMR NI KETUT GATI, SE.
13 Volly I GEDE SUARDIASA, S.PD
14 Basket I WAYAN YOGI ANTARA,S.PD
15 PKS I MADE SUTRISNA, S.PD.
(Sumber : Dokumen profil Sekolah Tahun 2015/2016).
Dari sekian banyak ekstrakurikuler yang ada di SMK Negeri 3 Tabanan, siswa harus memilih salah satu dari jumlah ekstra yang ada disekolah. Khusus untuk kelas X diwajibkan memilih ekstra Kepramukaan. Dimana ekstra Kepramukaan menjadi nilai yang sangat penting dalam menumbuhkembangkan karakter siswa.
Kurikulum 2013 memiliki landasan yang komprehensif untuk mencapai kompetensi inti, yaitu sikap spiritual, sosial, kompetensi pengetahuan dan keterampilan. Setiap proses pendidikan di sekolah, termasuk penyelenggaraan ekstrakurikuler di sekolah hendaknya diarahkan untuk mengembangkan kapasitas ketiga dimensi tersebut. Melalui ektra kepramukaan yang dilaksanakan di SMK Negeri 3 Tabanan diharapkan siswa mampu memiliki nilai sikap spiritual yang baik, sikap sosial yang yang luhur serta memiliki kompetensi dibidang pengetahuan dan keterampilan.
Budiarsa (Wawancara tanggal 4 Maret 2016), menyatakan ekstra Kepramukaan di SMK Negeri 3 Tabanan dilaksanakan setiap minggu sekali, yaitu pada hari Jumat pukul 15.00 sampai 17.00 Wita. Dalam pelaksanaan ekstrakurikuer Kepramukaan melibatkan seluruh siswa kelas X serta siswa kelas XI dan kelas XII yang memilih ektra tersebut. Ekstra Kepramukaan mengajarkan banyak nilai mulai dari sikap spiritual, sikap disiplin, kepemimpinan, sosial, kecintaan alam, hingga kemandirian. Ekstra Kepramukaan dilaksanakan untuk membentuk karakter siswa melalui kegiatan-kegiatan seperti intervensi, pemberian keteladanan, pembiasaan, mentoring dan pennguatan. Kegiatan ini didampingi langsung oleh para guru yang ditunjuk sebagai pembina ekstra pramuka yang telah memiliki keahlian khusus dalam membina adik-adik Pramuka.
Gambar.6.3
Kegiatan Ekstrakurikuler Kepramukaan dalam melatih dan mendidik sikap kedisiplinan siswa

(Sumber: Dokumentasi Yuda Asamara, 2016).
Selain Ekstrakurukuler Kepramukaan yang dilaksanakan di SMK Negeri 3 Tabanan dalam mewujudkan siswa yang berkompeten dalam sikap spiritual, sosial, pengetahuan dan keterampilan. Ekstra lain yang mendukung hal tersebut seperti Ekstra Pesantian dan ekstra Tari. Ekstra Pesantian dan ekstra Tari di SMK Negeri 3 Tabanan dilaksanakan agar siswa mampu mengembangkan sikap spiritual khususnya pada siswa yang beragama Hindu.
Menurut Angga (Wawancara tanggal 4 Maret 2016) menyatakan ekstra Pesantian dan Tari memiliki peran penting dalam menunjang aktifitas keagamaan, khususnya pada hari raya agama Hindu yang dilaksanakan disekolah. Siswa yang memilih Ekstra Pesantian, Tari dan Tabuh mendapat tugas khusus dalam perayaan upacara agama seperti pada saat hari Saraswati, Purnama, Siwaratri. Melalui ekstra inilah siswa dapat mengembangkan nilai-nilai keagamaan yang lebih mendalam.
Melalui program ekstrakurikuler yang dilaksanakan di SMK Negeri 3 Tabanan khususnya pada ekstra Kepramukaan, Pesantian, Tari, Tabuh dan PKS menjadi ekstra yang sangat menujang dalam mengimplementasikan ajaran Sad Paramita. Selanjutnya melalui penerapan ajarannya diharapkan mampu menanamkan sikap spiritual siswa seperti: sikap disiplin, jujur, sopan santun, peduli dan memiliki sikap tanggung jawab yang tinggi. Sehingga melalui kegiiatan ekstra tersebut menjadi faktor pendukung dalam menyukseskan implementasi ajaran Sad Paramita dalam menanamkan sikap spiritual siswa SMK Negeri 3 Tabanan.

6.1.6 Kemampuan Profesionalitas Guru
Budiarsa (WawancaraTanggal 7 Maret 2016), Menyatakan di dalam dunia pendidikan, guru adalah seorang pendidik, pembimbing, pelatih, dan pengembang kurikulum yang dapat menciptakan kondisi dan suasana belajar yang kondusif, yaitu suasana belajar menyenangkan, menarik memberi rasa aman, memberikan ruang pada siswa untuk berpikir aktif, kreatif, dan inovatif dalam mengeksplorasi dan mengelaborasi kemampuannya.
Kemampuan guru di SMK Negeri 3 Tabanan sebagian besar sudah mengenyam sertifikat profesi guru (sudah tersertifikasi). Secara umum guru yang sudah memiliki sertifikat pasti memiliki kemampuan yang lebih dalam mengajar dikelas, karena untuk mendapatkan sertifikat tersebut seorang guru harus menempuh beberapa tes dan latihan yang ketat. Dari data profil sekolah dengan jumlah 91 orang guru, sudah 50% lebih yang telah memiliki status tersertifikasi. Jadi kemampuan guru dalam mengajar di SMK N 3 Tabanan sudah baik (Suardana, Wawancara 7 Maret 2016).
Guru yang kreatif akan selalu menemukan cara terbaik dalam menyampaikan mata pelajaran dan tentunya menggunakan inovasi terbaru sesuai dengan mata pelajaran dan keadaan yang berlaku saat itu, baik dari situasi dan kondisi lingkungan setempat maupun dari latar belakang setiap peserta didiknya dalam proses belajar mengajar sedang akan berlangsung atau sedang berlangsung. Guru yang profesional faham dan mengerti metode apa yang akan digunakan ketika mengajar dan mendidik demi tersalurnya apa yang menjadi materi atau bahan ajar, contohnya materi ajaran Sad Paramita yang diimplementasikan oleh siswa dalam menenampak sikap spiritual.
Guru yang profesional merupakan faktor penentu proses pendidikan yang berkualitas. Untuk dapat menjadi guru profesional, harus mampu menemukan jati diri dan mengaktualisasikan diri sesuai dengan kemampuan dan kaidah-kaidah guru yang profesional. kemampuan guru dalam menguasai pengetahuan bidang ilmu pengetahuan, teknologi, dan/atau seni budaya serta ajaran-ajaran agama yang dapat membentuk siswa memiliki kepribadian yang luhur, salah satunya dengan menerapkan ajaran Sad Paramita.
Implementasi ajaran Sad Paramita yang diterapkan dalam menanamkan sikap spiritual siswa di SMK Negeri 3 Tabanan menjadi lebih mudah terlaksana, melauli guru yang profesional dalam memberikan pembelajaran, pemahaman yang sederhana serta mudah dimengerti oleh para siswa. Dalam proses belajar mengajar disekolah, para siswa lebih cepat mengerti dan memahami ajaran yang diberikan oleh guru khususnya ajaran Sad paramita.
Penerapan ajaran Sad Paramita di SMK Negeri 3 Tabanan dalam upaya menanamkan sikap spiritual yang dilakukan oleh guru kepada para siswa. Dengan kemampuan guru yang profesional dalam mentransfer suatu pelajaran, siswa menjadi lebig cepat mengerti dalam memahami serta menerapkan ajaran yang diberikan dalam kehidupan sehari-hari. Guru yang profesional dalam mendidik, mengajar dan melatih menjadi faktor pendukung yang sangat penting dalam mengimplementasikan suatu ajaran di sekolah khususnya pada ajaran Sad Paramita.

6.2 Faktor-Faktor Penghambat Implementasi Ajaran Sad Paramita dalam Menanamkan Sikap Spiritual Siswa SMK Negeri 3 Tabanan.

6.2.1 Latar Belakang Keluarga yang Kurang Baik.
Keluarga atau Rumah tangga adalah bentuk hidup bersama yang merupakan lembaga sosial terkecil dan terpenting. Keluarga pada hakikatnya adalah lembaga pendidikan, tempat belajar yang pertama. Dalam keluarga sebagai wadah pendidikan agama untuk mendayagunakan hidup, meluhurkan budi guna meningkatkan dorongan atau kecenderungan hidup agar kualitas moral dan daya tahan mental spiritual semakin meningkat (Wiana, 1997: 46).
Orang tua merupakan guru pertama dalam dunia pendidikan non formal pada lingkungan keluarga. Sedangkan di sekolah guru merupakan orang tua yang kedua didalam tangguang proses belajar mengajar di sekolah. Hubungan antara sekolah dan orang tua siswa bersifat trasformasional, yaitu hubungan yang lebih didasari oleh kontrak sosial dan kontrak moral untuk maju dan berkembang bersama (Raka, 2011: 74).
Budiarsa (Wawancara 4 Maret 2016), menyatakan bahwa suksesnya siswa juga merupakan suksesnya guru dan orang tua dalam memberikan pendidikan. Gagalnya siswa dalam pendidikan juga merupakan kegagalan orang tua dalam mendidik anaknya. Adapun ciri-ciri orang tua atau keluarga yang gagal menanamkan sikap-sikap moral dan spiritual kepada anak-anak sebagai berikut:
– Keluarga yang mengabaikan, yang tidak menghiraukan mengganggap sepi ataupun meremehkan emosi-emosi negatif anak.
– Keluarga yang tidak menyetujui, yang bersifat kritis terhadap ungkapan perasaan-perasaan negatif anak dan barangkali memarahi atau menghukum mereka karena mengungkapkan emosinya.
– Keluarga yang hanya menerima emosi anak dan berempati dengan mereka tetapi tidak memberikan bimbingan atau menentukan batas-batas pada tingkah laku anak tersebut.
Sejatinya peranan orang tua dalam keluarga tertuang dalam Kitab Sarasamuscaya Sloka 242 dijelaskan tentang tiga kewajiban orangtua sebagai berikut:
1. Sarirakrta, yaitu kewajiban orangtua untuk menumbuhkan jasmani sianak dengan baik.
2. Pranadatta, artinya orangtua wajib membangun atau memberikan pendidikan kerohanian kepada sianak.
3. Annadatta, yaitu kewajiban orangtua untuk memberikan pendidikan kepada anaknya dalam mendapatkan makanan (anna) salah satu kebutuhan hidupnya yang paling esensial (Wiana, 1997: 47).

Sehubungan dengan kewajiban orangtua dalam sloka di atas, menekankan pihak keluarga (orangtua) sangat berperan penting dalam membentuk atau menumbuhkembangkan sikap kepribadian anak menuju kearah yang lebih baik, serta mampu menuntun perkembangan jasmani dan rohani anak secara seimbang. Sehingga perlu adanya kerjasama antara pihak keluarga dengan pihak lembaga pendidikan formal (sekolah) dalam membina anak yang suputra, dan keluarga menjadi lembaga pendidikan yang pertama dalam mengejawantahkan tugas dan kewajiban orangtua memenuhi kebutuhan anak dalam bidang pendidikan.
Menurut Hartawan (Wawancara 4 Maret 2016), menyatakan banyak siswa SMK Negeri 3 Tabanan yang bermasalah penyebabnya adalah latar belakang keluarganya yang tidak mendukung. Contohnya ada salah seorang siswa yang bermasalah karena tertidur pulas di kelas pada saat proses belajar mengajar. Setelah ditelusuri ternyata penyebabnya karena masalah keluarga, dimana keadaan keluarganya kacau dan hampir dirumahnya tidak ada yang mengurus. Sehingga sianakpun menjadi tidak terurus.
Jadi dapat disimpulkan bahwa keadaan keluarga yang tidak baik dapat mempengaruhi faktor perkembangan kepribadian siswa khususnya dalam penanaman sikap spiritual. Sikap spiritual itu tumbuh pertama dari didikan keluarga yang baik, tetapi keluarga yang kuarang baik dapat menanamkan sikap spiritual anak juga kurang baik. Sehingga latar belakang keluarga yang kurang baik menjadi faktor penghambat dalam mengimplementasikan ajaran Sad Paramita di SMK Negeri 3 Tabanan.

6.2.2 Pengaruh Lingkungan yang kurang baik
Kepribadian merupakan keseluruhan perilaku individu yang merupakan hasil interaksi antara potensi-potensi fisik biologis dan psikologis yang dimilikinya sejak lahir dengan rangkaian situasi lingkungan, yang terungkap pada tindakan dan perbuatan serta reaksi mental psikologinya jika mendapat stimulus dari lingkungan (Sanjaya, 2011: 108).
Agar individu memiliki sikap dan kepribadian yang baik diperlukan suatu lingkungan yang baik pula. Kendati lingkungan dapat memberikan pengaruh besar kepada sikap individu seseorang. Individu tetap memiliki watak dan sifat tertentu yang berdampak pada sikap khususnya dalam bidang manusia dengan yang lainnya. Watak dan sifat ini dalam konteks kehidupan sosial mesti selalu ditunjukkan dalam sikap-sikap positif demi terjalinnya hubungan sosial yang baik serta sangat dipengaruhi sekali oleh lingkungan.
Keadaan lingkungan berpengaruh besar pada perkembangan dan perubahan sikap individu, khususnya pada siswa SMK Negeri 3 Tabanan. Menyikapi data-data pelanggaran siswa SMK Negeri 3 Tabanan yang didata berdasarkan pelanggaran tata tertib sekolah dari laporan guru BK, siswa yang cenderung melanggar dan diselidiki melalui bimbingan konseling pribadi yang telah dilakukan antar guru dengan siswa. Hasil bimbingan menyimpulkan siswa yang sering melanggar banyak disebabkan dari pengaruh lingkungan yang kurang baik seperti: lingkungan rumahnya dengan kebiasaan pergaulan bebas, merokok, minum-minuman keras, judi dan lain sebagainya (Nata, Wawancara tanggal 4 Maret 2016).
Seperti sikap atau perilaku siswa SMK Negeri 3 Tabanan sangat bervariasi sesuai pengaruh lingkungan tempat tinggalnya. Dari salah satu masalah dalam data pelanggaran siswa. Seorang siswa SMK Negeri 3 Tabanan tertangkap menggunakan kendaraan yang tidak normal (dimodifikasi) ke dalam lingkungan sekolah. Saat dipanggil dan diintrogasi oleh guru BK, ternyata siswa tersebut sering ikut-ikutan dalam pergaulan anak racing yang ada di lingkungan tempat tinggalnya. Siswa tersebut sudah terpengaruh dengan gaya anak muda yang berkembang didesanya memakai sepeda motor yang ugal-ugalan seperti memakai knalpot brong, tidak memakai sepion dan modifikasi lainnya (Yuliastuti, Wawancara tanggal 4 Maret 2016).
Lingkungan yang kurang sehat dalam pergaulan sehari-hari bisa menimbulkan sikap atau perilaku siswa yang cenderung ke hal yang negatif. Sehingga siswa perlu diberikan nasihat-nasihat serta pemahaman yang intens baik dari guru-guru, orang tua, sahabat, maupun tokoh-tokoh masyarakat bahwa keadaan lingkungan yang kurang baik berdampak pada perkembangan sikap seseorang.
Adapun dampak dari pengaruh lingkungan yang kurang baik terhadap perkembangan kepribadian siswa, khususnya pada sikap spiritual siswa SMK Negeri 3 Tabanan. Seperti pengaruh lingkungan anak racing, ormas, judi, minum-minuman keras dan yang lainnya. Sehingga dari pengaruh-pengaruh lingkungan seperti itulah yang menjadi faktor-faktor penghambat dalam menggimplementasikan ajaran Sad Paramita guna untuk menanamkan sikap spiritual siswa kearah yang lebih baik.

6.2.3 Pengaruh IPTEK yang Negatif
Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) sangat berkembaang pesat dari zaman ke zaman. Teknologi yang semakin canggih disamping membantu pekerjaan dan aktivitas manusia disegala bidang juga bisa membawa dampak kearah negatif, khususnya bagi perkembangan siswa dalam dunia pendidikan. Tidak diragukan lagi kemajuan IPTEK telah diakui dan dirasakan memberikan banyak kemudahan serta manfaat bagi kehidupan umat manusia. Namun disisi lain, pesatnya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi ternyata juga cukup banyak membawa pengaruh negatif terhadap sikap siswa (Budiarsa, Wawancara tanggal 5 Maret 2016).
Adapun pengaruh negatif dari pengguanaan Teknologi yang menyimpang terhadap kehidupan manusia pada siswa SMK Negeri 3 Tabanan antara lain:
1. Moral siswa mengalami degradasi akibat pengaruh IPTEK yang dipakai siswa untuk mengakses informasi-informasi negatif semakin udah misalnya: gambar-gambar porno, video asusila dan informasi negatif lainnya.
2. Melalui IPTEK siswa dengan mudah terpengaruh dan meniru budaya-budaya asing yang kurang cocok diterapkan di sekolah dan di masyarakat, sehingga melunturnya kecintaan terhadap budaya lokal.
3. Ketergantungan siswa terhadap Teknologi (handphone) sehingga memperbanyak pengeluaran untuk membeli pulsa, apalagi dengan meminta handphone yang lebih canggih kepada orangtuanya.
4. Dengan kemajuan teknologi siswa lebih senang bermain game di handphone atau laptop yang dimilikinya dari pada memanfaatkan teknologi untuk belajar.
5. Melalui IPTEK siswa menjadi lebih malas belajar, karena diberbagai kesempatan siswa sering mengandalkan internet menjawab soal atau tugas disekolah.
6. Melalui pengaruh IPTEK siswa dengan mudah kerja sama atau bertukar jawaban dengan siswa lain disaat melaksanakan ujian-ujian disekolah, sehingga mengurangi sikap jujur dalam menjawab soal demi sebuah nilai.
Gambar 6.4
Salah satu siswa sedang menyontek saat ujian melalui teknologi berupa HP

(Sumber. Dokumentasi Yuda Asmara, 2016).
Kecangihan teknologi yang semakin maju, inovasi-inovasi baru selalu bermunculan dimana-mana. Banyak tercipta alat-alat yang mempermudah segala aktivitas manusia. Seiring berkembangnya teknologi terutama dalam bidang pendidikan, bukan berartti dengan kemajuan IPTEK justru menjadikan kualitas iman dan taqwa (IMTAQ) menjadi menurun. Dewasa ini tenaga pendidik dituntut untuk mampu menggali, mengarahkan, mengembangkan, mengawasi serta mengaktualisasikan kecerdasan umum yang masih terselubung di dalam diri peserta didik sesuai dengan standar kompetensi yang berlaku. Agar terbentuk akademisi-akademisi yang unggul dalam bidangnya, mampu mencapai visi dari lembaga pendidikan yang diemban, dan menjadi manusia yang memiliki kapasitas agar dapat mengimbangi perubahan zaman terutama dalam hal sikap spiritual.
Pengaruh teknologi yang sebagian besar digunakan dikalangan siswa SMK Negeri 3 Tabanan seperti Handphone, Laptop, Tablet, Camera video, Ipad, internet, yang kurang pengawasan akan menjadi pengaruh yang negatif. Ketika IPTEK yang digunakan siswa kearah yang negatif, ini akan menjadi faktor penghambat dalam upaya mengimplementasikan ajaran Sad Paramita guna menanamkan sikap spiritual siswa.
6.2.4 Pengaruh Zaman Globalisasi
Dewasa ini globalisasi sangat mempengaruhi perkembangan zaman. Segala aspek menjadi berubah akibat dari arus globalisasi. Termasuk gaya hidup yang suka kebarat-baratan, mulai dari sikap, bicara, maupun dalam berbusana. Salah satu perubahan yang paling mencolok adalah soal sikap dan penampilan. Sikap dan penampilan menjadi salah satu hal yang sangat mempengaruhi kepribadian seseorang diera globalisasi saat ini.
Mantra (1996: 1-2) menyatakan, Globalisasi merupakan gejala yang tak dapat dihindarkan, tetapi sekaligus juga membuka kesempatan yang luas. Globalisasi telah membawa kemajuan besar dan perubahan-perubahan mendasar dalam kehidupan masyarakat pada umumnya, tetapi disamping itu menyisakan hal-hal kemunduran terutama dalam hal sikap dan moral masyarakat. Tekanan dari globalisasi yang menjadi tantangan terbesar saat ini harus dicarikan solusi agar pengaruh globalisasi tidak menururnkan sikap dan moral seseorang.
Pengaruh yang dikhawatirkan pada generasi bangsa, khususnya bagi siswa dalam dunia pendidikan di era globalisasi masa kini yang membawa dampak kurang baik pada sikap dan tingkahlaku siswa. Pengaruh kurang baik yang diadopsi dari budaya barat misalnya sex bebas, pemakaian narkoba, minum minuman keras, gaya hidup (life style) yang serba modern tentunya kurang cocok diterapkan di sekolah khususnya pada SMK Negeri 3 Tabanan (Hartawan, Wawancara tanggal 5 Maret 2016).
Menurut Nata (Wawancara 5 Maret 2016), menyatakan bahwa perilaku-perilaku dan sikap yang menyimpang yang diperlihatkan siswa SMK Negeri 3 Tabanan perlu dibenahi dengan perhatian khusus seperti membuatkan aturan yang ketat disekolah, pemberian sangsi yang tegas sehingga membuat siswa yang melanggar menjadi jera, dan memberikan pemahaman serta nasihat-nasihat mengenai sosial budaya, etika, agama, hukum dan politik. Sehingga menjadikan pemahaman siswa menjadi lebih paham dan mampu berbenah kearah yang lebih baik.
Era Globalisasi membawa pengaruh besar baik kearah yang positif mapun yang negatif. Pada umumnya pengaruh globalisasi tanpa pengawasan dari guru atau orang tua akan menjadikan anak cendrung melakukan hal-hal yang negatif terkait pengaruh globalisasi seperti: budaya barat yang diadopsi secara berlebihan, sehingga menjadi budaya yang kurang baik.Perkembangan era globalisasi tanpa pengawasan yang ketat akan mengakibatkan pengaruh yang negatif. Jadi pengaruh globalisasi yang negatif inilah menjadi salah satu faktor penghambat dalam merealisasikan ajaran Sad Paramita untuk menanamkan sikap spiritual siswa.

6.2.5 Keadaan Mental dan Psikologi Siswa yang Rendah
Pendidikan adalah salah satu praktek dari psikologi. Oleh karena itu, sebenarnya seorang pendidik hendaknya juga seorang yang paham tentang psikologi. Psikologi dapat memberi sumbangan pada pendidikan misalnya bagaimana cara anak belajar, berfikir, mengingat, memperhatikan dan sebagainya.Peranan psikologi dalam pendidikan ialah bertujuan untuk memberikan orientasi mengenai laporan studi, menelusuri masalah-masalah di lapangan dengan pendekatan psikologi serta meneliti faktor-faktor manusia dalam proses pendidikan dan dalam situasi proses belajar mengajar(Ahmadi, 2009: 45).
Menurut Nata (Wawancara tanggal 5 Maret 2016) menyatakan, bahwa keadaan mental dan psikologi pada anak biasanya mempengaruhi sikap dan pergaulan dalam beradaftasi terhadap lingkungannya, khususnya dalam proses belajar mengajar di sekolah. Ketika proses belajar mengajar terganggu maka pelajaranpun tidak bisa optimal dipahami oleh siswa. Gangguan mental dan psikologi pada siswa biasanya disebabkan oleh faktor internal maupun eksternal. Faktor internal yaitu faktor dari dalam diri siswa seperti kurang terbuka, pendiam, kurang pergaulan, sulit mengutarakan masalahnya, sedangkan faktor eksternal meliputi lingkungan, penyesuaian diri dengan teman-temannya. Apabila siswa tidak bisa menyesuaikan diri maka bisa dikucilkan dengan teman-temannya.
Menurut Hartawan (Wawacara Tanggal 5 Maret 2016) menyatakan keadaan mental dan psikologi siswa sangat berpengaruh bersar terhadap perkembangan sikap siswa. Seperti ada seorang siswa yang sedang mengalami gangguan mental dalam dirinya yang disebabkan oleh suatu masalah. Sikap yang aneh cenderung ditunjukkan oleh siswa tersebut sperti: murung, suka marah, cemas, bahkan bisa menangis dan berteriak-teriak tidak jelas. Setelah ditelusuri melalui bimbingan konseling secara pribadi, ternyata siswa tersebut mengalami gangguan mental yang disebebkan oleh faktor-faktor eksternal seperti: masalah keluarga, masalah sahabat, pacar serta gangguan dari faktor niskala (alam yang tidak kelihatan).
Pada usia remaja dimasa SMA/SMK inilah seseorang mengalami perubahan-perubahan emosi, mental dan psikologi yang tidak stabil, tentunya dapat dilihat dari sikap dan tingkah laku beberapa siswa yang sering menyimpang seperti: perkelahian, tawuran, marah, cepat tersinggung atau suasana hati yang selalu berubah-ubah. Hal inilah yang menyebabkan siswa banyak yang melanggar tata tertib sekolah yang mengatur tingkah laku siswa.
Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor seperti gangguan mental, emosi, pengaruh alam sekala dan niskala yang menggangu keadaan mental siswa inilah yang menyebabkan keadaan mental dan psikologis siswa. Sehingga akan berdampak besar terhadap perkembangan sikap siswa. Gangguan mental juga bisa berpengaruh terhadap kesehatan fisik seseorang. Sehingga antara kesehatan mental (jiwa) dengan kesehatan fisik memiliki hubungan yang sangat kuat. Seperti dalam ugkapan populer “mens sana in corporisano” didalam raga yang sehat terdapat jiwa yang kuat, begitu juga jiwa yang kuat ada di dalam tubuh yang sehat. Maka sebelum membina mental siswa, harus memiliki fisik yang dan tubuh yang sehat. Kesehatan tubuh dan mental akan dapat membentuk sikap spiritual yang baik.
Jadi keadaan mental dan psikologi siswa yang mengalami gangguan merupakan faktor-faktor penghambat dalam mengimplementasikan ajaran Sad Paramita untuk menanamkan sikap spiritual siswa SMK Negeri 3 Tabanan. Ketika mental spiritual siswa terganggu, maka sikap-sikap spiritual siswapun menjadi terganggu. Hal inilah yang perlu diperhatikan oleh pendidik terhadap keadaan mental dan psikologi siswa, agar suatu proses pembelajaran bisa berjalan sesuai harapan.

6.2.6 Rendahnya Profesionalitas Guru
Mengomentari mengenai rendahnya kualitas pendidikan saat ini, merupakan indikasi perlunya keberadaan guru profesional. Untuk itu, guru diharapkan tidak hanya sebatas menjalankan profesinya, tetapi guru harus memiliki ketertarikan yang kuat untuk melaksanakan tugasnya sesuai dengan kaidah-kaidah profesionalisme guru yang dipersyaratkan.
Menurut Budiarsa (Wawancara 7 Maret 2016) Menyatakan Guru dalam era teknologi informasi dan komunikasi sekarang ini bukan hanya sekadar mengajar melainkan harus menjadi manajer dalam pembelajaran. Hal tersebut mengandung arti, setiap guru diharpkan mampu menciptakan kondisi belajar yang menantang kreativitas dan aktivitas siswa, memotivasi siswa, menggunakan multimedia, multimetode, dan multisumber agar mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan.
Suardana, (Wawancara 7 Maret 2016). Menyatakan keadaan guru di SMK Negeri 3 Tabanan sudah cukup baik, dari data profil sekolah tahun 205/2016 banyak guru yang sudah memiliki pendidikan S2, ini menandakan bahwa kualitas profesionalitas guru di SMK N 3 Tabanan cukup baik. Namun dari sekian banyak guru, masih ada guru yang kemampuan mengajarnya belum profesional. Hal ini diketahui dari supervisi yang dilakukan kepala sekolah kepada seluruh guru dalam proses pembelajaran dikelas.
Seorang guru yang profesional harus mampu menjadi guru yang inspiratif, kreatif, dan inovatif. Kreativitas merupakan poin yang pentig untuk menjadi guru yang mempunyai profesionalisme tinggi. Profesionalisme yang tinggi hanya dimiliki oleh guru yang memiliki wawasan yang luas. Seorang guru harus menguasai materi secara mendalam. Sehingga mampu mengeksplorasikan materi dengan bahasa yang mudah dimengerti oleh murid. Guru yang berwawasan luas, selalu mengikuti perkembagan teknologi dan informasi. Selain itu, guru juga mampu menerapkan ajaran-ajaran agama dalam membentuk siswa yang memiliki kepribadian yang luhu, khususnya terkait dalam penelitian ini mengenai ajaran Sad Paramita. .
Berdasarkan uraian di atas disimpulkan bahwa profesionalitas guru dapat menjadi penghambat dalam menerapkan suatu ajaran, khususnya dalam mengimplementasikan ajaran Sad Paramita di SMK Negeri 3 Tabanan. Guru ideal merupakan guru yang memiliki profesionalisme yang tinggi dalam mengajar. Mampu mengeksplorasikan ilmunya kepada anak didiknya secara menyeluruh. Guru yang memiliki wawasan yang luas. Selain itu, guru ideal adalah guru yang kreatif dan inovatif dalam megajar, serta guru yang selalu mengikuti perkembangan teknologi informasi dan mampu menerapkannya dalam proses pembelajaran.

BAB VII
IMPLIKASI AJARAN SAD PARAMITA TERHADAP SIKAP SPIRITUAL SISWA SMK NEGERI 3 TABANAN

7.1 Implikasi Ajaran Sad Paramita terhadap Sikap Ketaqwaan (Sradha Bhakti) Siswa SMK N 3 Tabanan.
Implikasi dari penerapan ajaran Sad Paramita pada siswa SMK Negeri 3 Tabanan sangat berpengaruh besar, terutama dalam penilaian sikap ketaqwaan siswa. Sikap ketaqwaan menjadi hal yang utama dalam lembar penilaian sikap para guru. Walaupun penilaian sikap ini terkadang dikesampingkan dalam kontribusi nilai raport sebagai kelulusan siswa, tetapi esensinya nilai sikap merupakan hal yang paling penting dibandingkan nilai kognitif atau keterampilan siswa (Nata, Wawancara tanggal 7 Maret 2016).
Menurut Hartawan (Wawancara 7 Maret 2016) menyatakan, pada kurikulum 2013 yaitu aspek penilaian guru terhadap siswa ada 3 lembar penilaian yaitu: Daftar nilai pengetahuan, daftar nilai keterampilan dan lembar pengamatan sikap peserta didik. Dimana penilaian sikap ketaqwaan siswa masuk dalam indikator penilaian yang ketiga yaitu penilaian pengamatan sikap siswa. Semestinya para guru lebih mementingkan dan memperhatikan lembar pengamatan sikap iniyang terkadang banyak diabaikan oleh penilaian para guru.
Berbicara masalah taqwa tidak akan pernah lepas dari ruang lingkup agama, karena agama adalah sebuah jalan atau keyakinan yang dianut seseorang dalam bertaqwa terhadap Tuhannya. Apabila agama telah menjadi bagian yang integral dalam pribadi setiap umat Hindu, maka agama akan kelihatan dalam segala tingkah laku umat manusia baik secara individu maupun secara bersama-sama (Wiana, 1997: 72).
Ketaqwaan kepada Tuhan dimulai dari keyakinan dalam diri, dengan meyakini terlebih dahulu adanya Tuhan dan segala ajarannya. Oarng yang dikatakan memiliki sikap ketaqwaan yang baik akan selalu taat, rajin dan yakin beraktivitas terhadap sesuatu yang berhubungan dengan Tuhan atau kekuatan yang ada diluar batas kekuatan manusia. Salah satu contoh yang bisa dilihat pada siswa SMK Negeri 3 Tabanan mengenai sikap ketaqwaan yang baik adalah sebagai berikut :
1. Rajin Sembahyang, setiba disekolah langsung menuju padmasana untuk melaksakan persembahyangan.
2. Sesudah bel masuk berbunyi siswa dengan tertib dan khusuk melaksanakan puja Tri Sandya dalam kelas.
3. Siswa yang ditugaskan piket selalu rajin membawa canang sari dan menghaturkannya disetiap pelinggih / pelangkiran di lingkungan sekolah.
4. Siswa selalu membawa sarana persemhyangan seperti : banten, canang sari, kuangen, bunga dan dupa ketika hari purnama / tilem dalam melaksanakan persembahyangan bersama disekolah.
5. Siswa selalu melaksanakan matur piuning di padmasana / pelinggih sekolah dalam memulai atau mengakhiri masa pembelajaran disekolah.
Sesuai Teori Perubahan Tingkah Laku yang dikemukanan Allport menyatakan bahwa tingkah laku atau sikap seseorang itu terbentuk dari kebiasaan sejak lahir, sehingga dalam hal ini sikap spiritual siswa tersebut harus ditanamkan sejak dini, mulai dari pendidikan keluarga, Sekolah dasar, SMP dan tingkat SMA/K. Untuk membenahi sikap spiritual dimasa SMA/K perlu didukung dengan keyakinan yang tinggi, karena perlu pembiasaan dalam hal ketaqwaan secara berkelanjutan.
Melalui pembiasaan yang dilakukan di SMK Negeri 3 Tabanan dalam menanamkan sikap spiritual siswa khususnya pada sikap ketqwaan seperti: taat melakukan persembahyangan disekolah, secara ruti memberikan pemahaman-pemahaman tentang keagaamaan, mengadakan kegiatan Dharma Wacana secara berkala, melakukan kegiatan-kegiatan yang bersifat keagamaan (pesantian, yoga, mejejaitan, tari dan tabuh). Dengan pembiasaan seperti inilah perubahan pada siswa akan terjadi khususnya pada sikap ketaqwaan siswa di SMK Negeri 3 Tabanan.

7.2 Implikasi Ajaran Sad Paramita pada Sikap Kejujuran Siswa SMK Negeri 3 Tabanan
Kejujuran merupakan hal yang sangat penting dalam kehidupan. Hampir semua hal didasari dengan sikap kejujuran. Sikap jujur diperlukan dalam berbagai aspek kehidupan, apalagi dalam tahap belajar disekolah. Kejujuran tidak hanya mencakup pengertian tidak berbohong atau berkata benar, tetapi juga tindakan tidak mengambil yang tidak menjadi haknya (Raka, 2011: 108).
Sikap kejujuran itu tumbuh mulai dari hati didalam diri seseorang. Jika sikap kejujuran ini dipupuk dari kecil dan menjadi sebuah kebiasaan dalam hidup yang akan dibawa sampai tua. Jadi sikap kejujuran harus dipupuk sejak dini, mulai dari jujur pada diri sendiri, pada keluarga, teman, serta masyarakat secara umum.Suatu tingkah laku yang baik dimulai dari sikap kejujuran yang bagus sejak kecil. Seperti dalam teori perubahan tingkah laku menurut Allport mengatakan, “Perubahan tingkah laku dapat dilihat dari perkembangan kepribadian dari sejak lahir sampai anak pada masa dewasa” (Hall, 1995:25). Kepribadian yang dipupuk sejak kecil akan menentukan perkembangan tingkahlaku dimasa dewasa, jadi sangat sulit jika sikap kejujuran harus dirubah ketika sudah menjadi dewasa.
Seperti sikap kejujuran siswa SMK Negeri 3 Tabanan yang mendapatkan perhatian lebih untuk dikembangkan kearah yang lebih baik. Para guru harus mencari cara yang relevan dalam menumbuhkembangkan sikap-sikap kejujuran dalam berbagai aspek seperti: pada saat ulangan siswa harus diawasi dengan ketat, sehingga siswa tidak ada lagi kesempatan untuk mencontek. Kalaupun siswa ada yang ketahuan menyontek harus dihukum dengan tegas supaya bisa menjadi efek jera dan tidak lagi mengulangi perbuatannya. Dengan membiasakan siswa pada situasi seperti itu, setidaknya sikap kejujuran secara perlahan mulai meningkat. Jadi sikap kejujuran bisa dirubah melalui aturan-aturan yang sudah menjadi kebiasaan dalam lingkungannya.
Meskipun terasa sulit, akan tetapi bukan hal yang mustahil untuk mengubah sikap kejujuran dalam diri seseorang. Mulai dari pemberian nasihat-nasihat keagamaan, ceramah dan pendalaman spiritual yang menyebutkan bahwa sikap ketidakjujuran merupakan sesuatu yang salah dan berdosa ketika seseorang tidak jujur dalam menjalani kehidupan. Sehingga langkah-langkah yang ditempuh dalam menumbuhkembangkan sikap kejujuran ini sejalan dengan realisasi ajaran Sad Paramita yaitu pada ajaran wirya. Dimana ajaran wirya menekankan pada keteguhan hati dalam menjalankan kebenaran (Dharma) seperti: tidak menyontek pada saat ujian, jujur dalam berkata apa adanya sesuai kebenaran, serta melaksanakan semua ucapan dengan perkataan sesuai dengan janji siswa yang diucapkan setiap hari senin pada saat upacara bendera.

7.3 Implikasi Ajaran Sad Paramita dalam Pembentukan Sikap Sikap Kedisiplinan Siswa Siswa SMK Negeri 3 Tabanan.
Kedisiplinan merupakan sikap mental yang tercermin dalam perbuatan tingkah laku perorangan, kelompok atau masyarakat berupa kepatuhan dan ketaatan terhadap peraturan, ketentuan, etika, norma dan kaidah yang berlaku. Kedisiplinan seseorang dapat dilatih agar tertanam dan menjadi kebiasaan dalam diri seseorang dimulai dari disiplin waktu, berpakaian, berbicara dan bertingkah laku.
Kedisiplinan di SMK Negeri 3 Tabanan sangat diperhatikan sekali terutama pada siswa-siswa yang beraktivitas di lingkungan sekolah. Mulai dari disiplin waktu, dimana para siswa dituntut untuk datang sebelum bel masuk berbunyi (pukul. 07.30 wita). Khusus untuk hari senin pukul 07.00 wita bel sudah berbunyi karena ada apel upacara bendera. Bagi siswa yang datang terlambat biasanya dikenakan sangsi dan dicatat namanya oleh guru BK. Selanjutnya disiplin dalam berpakaian, hal ini biasanya paling sering dilanggar oleh siswa-siswa karena alasan modis, sehingga banyak siswa yang memodifikasi seragam sekolahnya seperti pakaian model yang dikecilkan sehingga melanggar dari tata tertib sekolah.
Melalui implementasi ajaran Sad Paramita khususnya pada ajaran wirya yaitu ketekunan, keteguhan dalam menjalankan dharma. Ajaran wirya menekankan sikap integritas yang tinggi khususnya dalam hal kedisiplinan pada kebenaran (dharma). Sikap kedisiplinan siswa bisa dilatih melalui kegiatan-kegiatan yang diadakan disekolah seperti: LKBB (Lomba Kecakapan Baris Berbaris) yang biasanya dilombakan antar kelas atau sekolah, Lomba gerak jalan, Upacara Bendera dan kegiatan-kegiatan lain yang mendukung dan melatih sikap kedisiplinan siswa.
Untuk menanamkan sikap kedisiplinan yang baik khususnya pada kebersihan lingkungan sekolah. Guru dan wali sepakat membuat program kebersihan berupa sistem kejuaraan kelas terbersih dan terkotor setiap minggu. Setiap ruangan kelas dan lingkungannya dinilai kebersihan dan kelengkapan kelasnya oleh guru yang ditugaskan. Selanjutnya hasil rekapan kebersihan kelas akan diumumkan setiap hari senin setelah upacara bendera berlangsung. Kelas yang mendapatkan predikat terbersih mendapatkan ucapan selamat dari kepala sekolah dan mendapatkan piala bergilir yang nantinya bisa dipajang diruang kelas selama 1 minggu. Selanjutnya kelas yang mendapatkan predikat terkotor mendapatkan sangsi atau hukuman berupa membersihkan suatu area seperti ruang guru, wc, bengkel, perpustakaan dan lingkunyan lainnya.
Melalui program kebersihan ini yang merupakan aktualisasi dari ajaran Sad Paramita terutama dalam hal menanamkan sikap kedisiplinan menjadi lebih meningkat, terutama kedisiplinan dalam hal kebersihan kelas dan lingkungannya. Kelas yang dulunya kotor, tidak dirawat dengan baik sehingga menjadi lebih bersih dan teratur tentunya sangat bermanfaat untuk terus dikembangkan dilingkungan sekolah.
Sikap spiritual bukan hanya ditujukan melalui ritual saja, tetapi sikap disiplin diri dalam segala hal merupakan aktualisasi dari sikap spiritual itu sendiri seperti: disiplin waktu, disiplin bersembahyang, disiplin belajar, disiplin berpakaian, disiplin berbicara serta disiplin dalam bertindak. Maka dari itu dapat disimpulkan bahwa sikap kedisiplinan adalah modal awal dalam meraih sebuah keberhasilan

7.4 Implikasi Ajaran Sad Paramita dalam Membina Sikap Kepedulian Siswa SMK Negeri 3 Tabanan.
Di zaman sekarang, individualis semakin menjamur dengan selalu mementingkan diri sendiri. Dikarenakan tuntutan hidup semakin sulit dan orang berlomba-lomba untuk mengejar kebutuhan dengan segala keinginannya.Hal ini secara tidak langsung membuat orang semakin memikirkan atau mementingkan dirinya sendiri. Sangat berbanding terbalik dengan prinsip hidup umat Hindu yang menganut ajaran Tat twam asi. Ajaran Tat twam asi merupakan ajaran kasih sayang, dimana diartikan semua itu adalah engkau, aku adalah engkau dan engkau adalah aku (Suhardana, 2010: 56).
Sikap kepedulian merupakan aktualisasi dari ajaran Tat twam asi dengan prinsip dasarnya kasih sayang, peduli, perhatian, pengertian dan sepenangguangan. Sikap kepedulian semestinya diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, baik peduli kepada sesama, kepada hewan, tumbuh-tumbuhan maupun peduli terhadap kelestarian lingkungan. Sikap peduli tumbuh dari rasa sayang yang ada dalam diri manusia, ketika rasa sayang tidak ada dalam diri manusia maka kepedulianpun tidak akan pernah ada.
Kepedulian terhadap sesama hidup, sangat penting diterapkan dalam lingkungan sosial seperti masyarakat, lingkungan kerja, sekolah dan dimanapun berada. Sikap kepedulian biasanya dipelajari, dipahami dan dipraktekkan di sekolah. Selain merupakan salah satu indikator penilaian sikap dalam kurikulum, sikap kepedulian juga bermanfaat dalam lingkungan sekolah seperti di dalam kelas,maupun kepedulian terhadap lingkungan sekoalah.
Menurut Nata (wawancara tanggal 7 Maret 2016), menyatakan bahwa sikap kepedulian disekolah yang harus direalisasikan oleh siswa bukan hanya karena penilaian semata, sikap kepedulian itu timbul dari naluri siswa yang bisa dilihat melalui perbuatan, sikap dan tingkahlaku sehari-hari. Adapun sikap kepedulian siswa di SMK Negeri 3 Tabanan yang dapat dilihat antara lain:
1. Sesama siswa memiliki kasih sayang yang bagus, bukan hanya karena memiliki hubungan khusus seperti berpacaran, tetapi kasih sayang yang dimaksud dalam hal menjalin sahabat atau teman belajar.
2. Siswa menunjukkan perhatian terhadap sesama siswa, guru dan warga sekolahserta lingkungannya dalam menjaga kebersihan sekolah. Siswa yang peduli tidak akan merusak lingkungan apalagi membuang sampah sembarangan.
3. Siswa menjalin komunikasi yang bagus antar sesama siswa, baik dengan kakak kelas maupun adik kelasnya. Dimana komunikasi atau saling bertegur sapa dengan teman-temannya merupakan ciri kepedulian yang paling sederhana.
4. Siswa saling mengerti, maksudnya ketika terjadi masalah atau hal-hal yang tidak disepakati, seperti perbedaan pendapat dalam berargumentasi. Dimana siswa harus memiliki pengertian yang lebih dimasing-masih pihak walaupun situasinya tidak sepaham dan kurang nyaman.
5. Siswa saling berbagi, maksudnya siswa peduli kepada teman atau sahabatnya dengan memberikan sesuatu baik bersifat materi ataupun non materi yang dibutuhkan oleh orang lain.
6. Siswa saling memaafkan ketika terjadi sebuah kesalahan ataupun perselisihan, memaafkan berarti mempunyai kepedulian untuk memberi kesempatan berubah kearah yang lebih baik dalam menjalani hidup.
7. Siswa mampu menjalin relasi yang baik terhadap sesama siswa maupun dengan guru. Relasi yang dimaksud hubungan keharmonisan dalam menjalin kepedulian dalam bidang belajar mengajar maupun maupun lingkup yang lainnya.
Sikap kepedulian yang direalisasikan di SMK Negeri 3 Tabanan merupakan hal yang sangat berguna bagi kehidupan sosial dalam menjalani hidup. Orang yang mempunyai sikap kepedulian yang tinggi, telah mampu mengontrol ego dalam diri sendiri dan menumbuhkan kasih sayang yang berlimpah. Kepedulian merupakan aktualisasi dari ajaran Sila, Ksantidan Danapada implementasi ajaran Sad Paramita.
Ajaran Sila dalam menanamkan sikap peduli antar sesama manusia dalam hal sikap dan tingkah laku yang baik. Ajaran Ksanti dalam menanamkan sikap peduli dalam hal salih menyayangi dan memaafkan ketika terjadi suatu permasalahan. Ajaran Dana merupakan kepedulian dalam hal saling berbagi ketika ada teman atau sahabat yang sedang membutuhkan sesuatu, baik itu berbagi berupa materi ataupun non materi.

7.5 Implikasi Ajaran Sad Paramita dalam memupuk Sikap Tanggung Jawab Siswa SMK Negeri 3 Tabanan.
Tanggung jawab menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah keadaan wajib menanggung segala sesuatunya. Sehingga sikap tanggung jawab memiliki makna berkewajiban dalam mennggung, memikul segala sesuatunya atau memberikan jawab dan menanggung akibatnya (Tim Penyusun, 2008: 387).
Sikap tanggung jawab adalah kesadaran manusia akan tingkah laku atau perbuatannya yang disengaja maupun tidak disengaja. Dalam konteks sosial, pertanggungjawaban yang dilakukan seseorang bersifat memberikan kesadaran dalam berbuat sesuai dengan kewajiban atau aturan yang berlaku. Sedangkan pertangguangjawaban dalam konteks teologi, manusia itu akan menanggung semua perbuatannya sesuai hukum karma dalam agama Hindu pada khususnya.
Salah satu tujuan pendidikan menurut Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional adalah membangun warga negara yang bertangung jawab (Raka, 2011: 31). Pelanggaran peraturan baik secara sengaja ataupun tidak disengaja tanpa memiliki rasa bersalah sama sekali, bukanlah sebuah tingkah laku yang bertanggung jawab. Sikap tanggung jawab seseorang bisa dilihat dari loyalitas kerja atau perbuatannya terhadap kewajiban yang dijalani, mseorang isalnya kewajiban menjadi siswa dalam dunia pendidikan.
Kewajiban seorang siswa adalah taat mengikuti aturan tata tertib sekolah baik itu menyangkut proses pembelajaran maupun kewajiban dalam membayar SPP di sekolah. Ketika salah satu kewajibannya tidak terpenuhi, bisa dikatakan bahwa siswa tersebut kurang bertanggung jawab dalam melaksanakan kewajibannya disekolah. Siswa yang mempunyai tanggung jawab yang lebih adalah siswa yang selalu melaksanakan apa yang sudah menjadi kewajibannya, dan siswa yang tidak melaksanakan kewajibannya pasti mendapatkan sebuah sangsi sesuai aturan atau tata tertib sekoalah.
Yuliastuti (Wawancara tanggal 7 Maret 2016) menyatakan banyak siswa yang sudah berbenah dalam pertanggungjawaban suatu kewajiban disekolah. Misalnya, siswa yang mendapatkan piket harus bertanggung jawab terhadap kebersihan, kelengkapan dan keperluan lainnya dalam mempersiapkan pembelajaran dikelas. Melalui adanya sangsi tegas yang diberikan kepada siswa yang melanggar atau tidak melaksanakan kewajibannya dengan baik pasti menerima sangsi yang sebanding dengan kesalahannya.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa sikap tanggung jawab merupakan suatu sikap kesadaran dalam diri manusia dimana seseorang sudah memiliki integritas yang kuat yaitu mampu berucap sesuai perbuatannya, dan bertanggunag jawab penuh dengan apa yang telah diperbuat. Sikap tanggungjawab inilah menjadi tolak ukur dari realisasi ajaran Sad Paramita yang telah diterapkan. Sehingga implikasi dari ajaran Sad Paramita ini membawa seseorang untuk lebih berhati-hati berbuat sesuai kewajibannya.

7.6 Implikasi Ajaran Sad Paramita dalam Menanamkan Sikap Sopan Santun Siswa SMK Negeri 3 Tabanan.
Sopan santun merupakan peraturan hidup yang timbul dari hasil pergaulan sekelompok manusia didalam masyarakat dan dianggap sebagai tuntunan pergaulan sehari-hari. Sopan santun harusnya dilakukan dimana saja berada, khususnya pada siswa di SMK Negeri 3 Tabanan. Dimana hubungan sopan santun siswa di sekolah ini cukup intens, baik antara siswa dengan siswa maupun hubungan siswa dengan gurunya. Karena kedekatan antara siswa dengan guru hubungannya seperti sahabat. Siswa biasa bertegur sapa dengan para gurunya dalam berpapasan baik di sekolah maupunn di luar sekolah (Nata, Wawancara tanggal 7 Maret 2016).
Menurut Wiryana (Wawancara 7 Maret 2016), menyatakan penanaman sikap Sopan santun siswa di SMK Negeri 3 Tabanan selalu ditekankan dalam setiap kesempatan ceramah, memberikan nasihat, maupun melalui amanat Kepala sekolah pada setiap apel upacara bendera. Guna memahami pentingnya sikap sopan santun antar sesama manusia untuk kehidupan yang lebih baik. Sehingga sikap sopan santun dikalangan siswa bisa terjaga dan selalu diaplikasikaan dalam kehidupan sehari-hari. Melalui nasihat-nasihat yang diberikan kepada siswa, diharapkan siswa lebih paham tentang makna bahwa pentingnya manusia memelihara sikap sopan santun terhadap sesama, karena sejatinya manusia merupakan makhluk sosial.
Sebagai makhluk sosial manusia tidak bisa hidup tanpa adanya manusia lain. Manusia mempunyai naluri untuk hidup bersama, hidup berkelompok, bersosialisai dan saling membantu antar sesama manusia. Sikap sopan santun merupakan hal yang utama dalam bersosialisasi dengan orang lain, karena dengan menunjukkan sikap santunlah seseorang dapat dihargai dengan keberadaanya sebagai makhluk sosial. Ketika seseorang sakit, kena masalah atau bencana manusia butuh orang lain, hal ini membuktikan bahwa manusia perlu berada di tengah-tengah manusia lainnya (Sanjaya, 2011: 109).
Dalam kehidupan bersosialisasi antar sesama manusia, sudah tentu taat pada norma-norma dan etika dalam melakukan hubungan dengan orang lain. Dalam hal ini sikap sopan santun memberikan banyak pengaruh yang baik terhadap diri sendiri dan orang lain. Menurut Sadulloh (2009: 84) menyatakan bahwa manusia bersusila adalah manusia yang memiliki, menghayati dan melakukan nila-nilai kemanusiaan yang beretika sesuai norma dan bersopan santun yang luhur. Dengan demikian manusia dalam menjalani kehidupannya dalam lingkungan sosial harus selalu menjunjung nilai-nilai atau norma yang berlaku dalam kehidupan sosial.
Melalui implementasi Sad Paramita melalui ajaran sila dan ksantisangat relevan sekali, karena ajaran sila dan ksanti menekankan pada aspek etika, moral dan sikap sopan santun sesama manusia. Ketika ajaran sila dan ksantisudah direalisasikan dengan sempurna dalam kehidupan khususnya pada lingkungan SMK Negeri 3 Tabanan, kenyamanan, keselarasan dan keharmosinan hidup akan selalu terjaga sesuai aturan, adat serta norma-norma yang berlaku.
Adapun contoh-contoh sikap sopan santun yang dilakukan siswa di SMK Negeri 3 Tabanan meliputi:
1. Siswa selalu bersikap hormat dan santun kepada setiap manusia terlebih kepada Guru di SMK Negeri 3 Tabanan.
2. Siswa selalu menggunakan kata-kata yang sopan dalam berkomunikasi di lingkungan sekolah apalagi sampai berkata-kata kasar.
3. Siswa memakai pakaian yang sopan sesuai aturan tata terib sekolah, serta tidak menggunakan perhiasan yang berlebihan dalam lingkungan sekoalah.
4. Siswa tidak inkut-ikutan bergaya hidup yang menjadi trend atau mode tentunya yang tidak sesuai dengan budaya sekolah.
5. Siswa saling sayang menyangi dan hormat menghormati sesama siswa maupun dengan para guru.
6. Siswa selalu penurut dan santun dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar disekolah, seperti tidak lain-lain saat diberikan pelajaran disekolah baik teori maupun praktek.
7. Siswa selalu memberikan salam saat memulai dan mengakhiri pelajaran, dan biasanya melakukan budaya salim (cium tangan) dengan gurunya saat pelajaran terakhir, sebelum bel pulang berbunyi.

7.7 Implikasi Ajaran Sad Paramita dalam menumbuhkan sikap Sikap Proaktif Siswa SMK Negeri 3 Tabanan.
Menurut Hartawan (Wawancara tanggal 7 Maret 2016) menyatakan sikap proaktif siswa di sekolah sangat diperlukan dalam proses belajar mengajar. Membangun sikap proaktif sangat berguna siswa terutama dalam menghadapi rintangan dalam berinteraksi dengan orang lain. Sikap proaktif menunjukkan sikap kecerdasan emosi (EQ) yang tinggi. Seseorang bisa bertahan saat menghadapi masalah, bisa menumbuhkan motivasi belajar saat kondisi tidak menyenangkan, semua itu merupakan sikap proaktif yang menunjukkan pengelolaan emosi secara baik di dalam diri.
Penilaian sikap proaktif yang terdapat dalam lembar penilaian sikap siswa, umumnya dilakukan melalui pengamatan guru secara langsung. Dimana guru mengamati sikap proaktif siswa baik dalam proses belajar mengajar dikelas maupun dalam melakukan kegiatan sehari-hari dilingkusan sekolah. Melalui pengamatan tersebut siswa yang menunjukkan sikap aktif seperti: rajin bertanya, rajin menjawab, sering berdiskusi, sering bertegur sapa dengan para guru, menjalin komunikasi yang baik serta sering ikut dalam berbagai kegiatan di sekolah.
Perbedaan yang mencolok anatar sikap proaktif siswa dengan siswa yang pasif sangat kelihatan dengan jelas. Melalui kepribadian, pergaulan serta sikap dan prilakunya mudah diamati untuk mengetahui siswa yang benar-benar memiliki sikap proaktif. Dengan pengelolaan emosi yang baik dalam diri siswa, mampu melahirkan sikap proaktif yang positif dalam aktifitas disekolah. Sehingga hal semacam ini perlu didukung dengan ajaran-ajaran yang sejalan dengan hal tersebut.
Ajaran Sad Paramita yang merupakan ajaran kesusilaan yang luhur sejalan dengan pengembangan sikap proaktif siswa. Siswa SMK Negeri 3 Tabanan yang mempunyai beraneka ragam kejuruan sangat penting sekali menunjukkan sikap proaktif dalam mengembangkan kompetensi pengetahuan dan keterampilan siswa sesuai dengan jurusannya. Sikap proaktif yang positif mampu mempermudah menyelesaikan suatu masalah yang terjadi khususnya dalam proses belajar mengajar misalnya, dengan selalu berkoordinasi dengan sesama teman ataupun dengan para guru. Melalui hubungan tersebut tentunya harus berlandaskan dengan etika, susila dan pemahaman yang baik.
Melalui pemahaman dan realisasikan ajaran prajna dan sila yaitu dalam menjalin hubungan yang baik antara sesama teman dan guru dalam menunjukkan sikap proaktif sangat penting sekali. Ajaran prajna dan sila adalah kombinasi yang sempurna dalam menanamkan sikap proaktif untuk mengembangkan kemampuan siswa dibidang sikap spiritual, sosial, pengetahuan dan keterampilan.Jadi implikasi dari ajaran Sad Paramita ini dapat menumbuhkembangkan sikap proaktif siswa kearah yang positif.

Gambar 7.1
Siswa aktif bertanya ketika menemukan kesulitan dalam proses belajar mengajar

(Sumber. Dokumentasi Yuda Asmara, 2016).
Keaktifan siswa dalam proses belajar mengajar disekolah sangat berperan dalam mensukseskan keberhasilan pendidikan. Dimana saat siswa belum paham terhadap materi yang disampaikan oleh guru, seorang siswa dengan proaktif mencari guru dan menanyakan materi yang atau hal yang belum jelas. Sehingga dengan kondisi pembelajaran yang proaktif, semua persoalan atau masalah bisa terselesaikan. Dalam praktinga siswa harus aktif berkomunikasi dengan lingkungan, baik dengan para guru atau dengan temannya tentu saja harus melalui sopan santun, etika atau susila yang baik.

7.8 Implikasi Ajaran Sad Paramita dalam Menumbuhkan Sikap Responsive Siswa SMK Negeri 3 Tabanan.
Sikap responsive pada siswa perlu dikembangkangkan dalam meningkatkan mutu dan kualitas siswa. Sikap responsive merupakan kesadaran akan tugas yang harus dilakukan dengan sungguh-sungguh terutama dalam aktifitas belajar mengajar disekolah. Kepekaan yang tajam dalam menyikapi berbagai hal yang dihadapi siswa, serta kepahaman makna dan tanggung jawab yang harus dipikul dalam kehidupan sehari-hari. Seorang siswa memiliki tanggung jawab penuh dalam melaksanakan semua tugas-tugasnya.
Menurut Nata (Wawancara tanggal 4 Maret 2016) menyatakan siswa yang cepat tanggap ketika menerima isu-isu, persoalan, masalah dan musibah merupakan ciri yang utama sesorang mempunyai sikap yang responsive. Sikap responsive dalam diri siswa dapat membantu mencegah persoalan-persoalan yang lebih buruk, dengan cepat merespon setiap tanda-tanda masalah yang akan terjadi dan mencarikan solusi yang tepat.
Solusi yang tepat ditangani dalam setiap masalah mampu mengatasi hal yang lebih buruk terjadi. Jadi sikap responsive sangat penting dimiliki oleh seorang siswa dalam menjalankan aktifitasnya di sekolah. Sikap responsive menjadi obat pencegah dalam setiap masalah yang belum dan akan terjadi. Dengan merealisasikan seluruh ajaran Sad Paramita secara utuh, seorang siswa mampu mencegah dan menemukan solusi yang baik dari setiap permasalahan yang terjadi.
Melalui penerapan ajaran Sad Paramita di SMK Negeri 3 Tabanan khususnya pada ajaran Prajna, Wirya mampu menciptakan ide-ide, pemikiran serta mindset atau pola pikir yang cemerlang. Dengan pemikiran yang baik, seseorang mampu bertindak secara responsive baik dalam proses pembelajaran maupun diluar kelas. Sikap yang responsive mampu menumbuhkembangkan rasa kompetisi dalam suasana belajar yang efektif. Ketika suasana belajar sudah efektif akan mampu mengahasilkan kualitas siswa yang baik.
Jadi implikasi dari penerapan ajaran Sad Paramita ini dapat membentuk sikap responsive siswa yang lebih baik, terutama dalam menanamkan sikap spiritual siswa. Sikap spiritual dipandang secara menyeluruh salah satuya adalah melalui sikap responsive siswa terhadap segala hal dilingkungannya, seperti: responsive dalam belajar, bergaul, menyikapi masalah, merencanakan maupun mengatasi suatu masalah. Melalui sikap inilah mampu menanamkan serta menumbuhkembangkan sikap spiritual siswa yang lebih baik di lingkungan SMK Negeri 3 Tabanan.

BAB VIII
PENUTUP

8.1 Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data mengenai Implementasi Ajaran Sad Paramita dalam Menanamkan Sikap Spiritual Siswa SMK Negeri 3 Tabanan, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Implementasi ajaran Sad Paramitadalam menanamkan sikap spiritual siswa SMK Negeri 3 Tabanan melalui ajaran Prajna, Wirya, Sila, Ksanti, Dana dan Dhyana. Masing-masing ajaran direalisasikan untuk membentuk sikap kepribadian siswa terutama dalam menanamkan sikap spiritualitas siswa di SMK Negeri 3 Tabanan.
2. Faktor pendukung dan penghambat implementasi ajaran Sad Paramita dalam menanamkan sikap spiritual siswa SMK Negeri 3 Tabanan yaitu: Faktor pendukung implementasi ajaran Sad Paramita meliputi: dukungan dari keluarga, lingkungan masyarakat, pergaulan teman sebaya dan program ekstrakurikuler sekolah. Sedangkan faktor penghambatnya meliputi: Latar belakang keluarga yang kurang baik, pengaruh IPTEK yang negatif, pengaruh zaman globalisasi serta gangguan keadaan mental dan psikologi siswa.
3. Implikasi ajaran Sad Paramita terhadap sikap spiritual siswa SMK Negeri 3 Tabanan yaitu implikasi terhadap sikap ketaqwaan siswa, sikap kejujuran, sikap kedisiplinan, sikap kepedulian, sikap tanggung jawab, sikap santun, sikap proaktif dan sikap responsive. Implikasi kearah yang lebih baik¬ ditunjukkan pada sikap-sikap di atas merupakan sikap yang ada pada lembar pengamatan nilai sikap Kurikulum 2013.

8.2 Saran
Dari uraian diatas, maka dapat disampaikan beberapa saran-saranyang nantinya dapat dijadikan dasar untuk mendorong atau memotivasi para pembaca yaitu:
1. Bagi siswa atau peserta didik agar mampu merealisasikan ajaran-ajaran Sad Paramita di masing-masing sekolah.
2. Bagi para guru agar mengimplementasikan ajaran Sad Paramitadalam menananmkan sikap emosional dan spiritual siswa di sekolah.
3. Bagi para tenaga kependidikan agar lebih memperhatikan program-program pendidikan khususnya pada nilai moral dan mental siswa.
4. Bagi para tokoh-tokoh pendidikan agar memonitoring pelaksanaan pembelajaran yang dipokuskan dalam merevolusi mental peserta didik.
5. Bagi Masyarakat bisa memahami dan membantu program pemerintah dalam memberikan pendidikan pada peserta didik agar meraih lulusan yang berkompeten.

DAFTAR PUSTAKA

Achmadi dan Narbuko. 2002. Metodelogi Penelitian. Jakarta : Bumi Akasara
Ahmadi H. Abu. 2004. Psikologi Sosial .Jakarta. Penerbit : Rineka Cipta.
Ahmadi, Abu. 2009. Psikologi Umum. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Arikunto, Suharsimi. 2010. Prosedur Penelitian : Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta. Rineka Cipta.

Azwar, S. 2007. Sikap Manusia Teori dan Pengukurannya, edisi 2. Yogyakarta: Pustaka Belajar
Budiono. 2005. Kamus Ilmiah Populer Internasional. Surabaya : Alumni Surabaya.
Bungin, Burhan. 2001. Metodelogi Penelitian Sosial. Surabaya : Airlangga University Press.
Darwis, 2004. Tesis Pengaruh Ideologi Etik dan Kecerdasan Spiritual Terhadap Hubungan Antara Partisipasi dan Kesenjangan Anggaran. Malang: Universitas Brawijaya.
Dayakisni, Tri dam Hudaniah. 2003. Psikologi Sosial. Malang: UMM
Ginanjar, Ary Agustian. 2001. Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual ESQ: Emotional Spiritual Quotient. Jakarta: Arga Tilanta.
Goleman, Daniel. 2005. Kecerdasan Emosi untuk Mencapai Puncak Prestasi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Habsari, Sri. 2004. Bimbingan dan Konseling SMA Kelas XI. Jakarta : Grasindo.
Hall, C. S, Lindzey. 1995. Teori Sifat Dan Behavioristik. Yogyakarta: Kanisius.
Hasan, H. Calijah. 1994. Dimensi-dimensi Psikologi Pendidikan. Surabaya: Al-Iklas.
Iqbal, H. 2002. Metodologi Penelitian dan Aplikasinya. Jakarta : Gihalva Indonesia.Sugiyono. 2005. Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung : Alfa Beta.
Kajeng, I Nyoman,dkk.,2003. Sarasamuscaya. Jakarta : Putaka Mitra Jaya.
Mahadiputra, Ida Bagus Agung. 2013. Implementasi Tri Hita Karana dalam Meningkatkan Karakter Siswa Hindu di Sekolah Dasar Negeri No. 2 Nyambu Kecamatan Kediri Kabupaten Tabanan. Tesis Pascasarjana Dharma Acarya IHDN Denpasar.

Mantra, Ida Bagus , 1996. Landasan Kebudayaan Bali. Denpasar : Yayasan Dharma Sastra.
Margono. 1996. Metode Penelitian Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.
Moleong, Lexy. J. 2002. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
____________. 2007. Metodelogi Penelitian Kualitatif, Bandung : PT. Remaja Rosda Karya.
Muhyudin, Muhammad. 2007. ESQ Power, Yogyakarta : DIVA Press
Notoprasetio, Christina Gunaeka. 2012 Pengaruh Kecerdasan Emosional Dan Kecerdasan Spiritual Auditor Terhadap Kinerja Auditor Pada Kantor Akuntan Publik Di Surabaya Unika Widya Mandala. SURABAYA
Pudja, G. dan Tjokorda Rai, 2004. Manawa Dharmasastra (Manu Dharmasastra) atau Weda Smerti. Surabaya : Paramita.
Purwadarmintha. 1995. Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta ; Balai Pustaka
______________. 2003. Kamus Indonesia, Jakarta : Nuansa Cendikiawan
Purwadi, M.Hum, 2008. Kamus Sanskerta Indonesia. Lisensi Dokumen : Copyright Budaya jawa.com.
Radhakrishnan, S, 2007. Bhagavad Gita. Surabaya : Paramita.
Raka, Gede dkk, 2011. Pendidikan Karakter di Sekolah. Jakarta : PT. Elex Media Komputindo.
Raka Mas, A.A Gede, 2013. Tiga Puluh Tiga Hal Yang Dapat Mempengaruhi dan Merubah Kehidupan, Surabaya, Penerbit : Paramita.
Sadulloh, Uyoh. 2008. Pengantar Filsafat Pendidikan. Bandung: Alfabeta.
Sanjaya, Putu, 2011. Filsafat Pendidikan Agama Hindu,Surabaya : Paramita.
Sardiman, A.M, 2001. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.
Satria Purnama Dewi, Luh Nyoman. 2015. Implementasi Pendidikan Karakter dalam Pendididkan Agama Hindu di SMA Pariwisata Saraswati Klungkung. Tesis Pascasarjana Dharma Acarya IHDN Denpasar.
Soehardi, Sigit. 2001. Pengantar Metodologi Penelitian Sosial – Bisnis – Manajemen, Yogyakarta : BPFE UST.
Soerjono, Soekanto. 2012. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta. PT. Raja Grafindo Persada.
Subagiasta, I Ketut, 2009. Dharma, Tapa dan Yoga. Surabaya : Penerbit Paramita Surabaya.
Sugiyono. 2005. Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung : Alfa Beta.
_________, 2007. Metode Penelitian Administrasi, Bandung : CV. Alpabeta.
_________, 2010. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D, Bandung : CV. Alpabeta.
Suhardana, Komang. 2009. Catur &Sad Paramita Jalan Menuju Keluhuran Budi, Surabaya : Paramita Surabaya.
_______________, 2007. Tri Kaya Parisudha Bahan Kajian untuk Berpikir Baik, Berkata Baik dan berbuat Baik. Surabaya : Paramita Surabaya.
_______________, 2010. Tat Twam Asi Ajaran Kesamaan Martabat Manusia. Surabaya : Paramita Surabaya.
Sukana, I Nyoman. 2013. Implementasi Ajaran Bhagavadgita dalam Membentuk Budi Pekerti Bagi Bhakta di Ashram Kresna Balarama Kesiman Denpasar. Tesis Pascasarjana Dharma Acarya IHDN Denpasar.
Sumadi, I Ketut. 2010. Teknik Penulisan Proposal Penelitian Dan Skripsi. Denpasar : IHDN Denpasar.
Sumsunuwiyati, K. 2005. Pendidikan Untuk Mengembangkan Budaya Damai. Jurnal Psikologi Sosial. No. IX/Th.VII/Juni
Suprayogo, Imam dan Tobroni. 2001. Metodologi Penelitian Sosial Agama. Bandung : Remaja Rosdakarya.
Surada, I Made, 2007. Kamus Sanskerta-Indonesia. Surabaya : Paramita.
Suyeni, Ni Made. 2010. Implementasi Ajaran Dasa Yamabrata dalam membentuk Perilaku Siswa yang Baik dan Benar di Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Bangli. Tesis Pascasarjana Dharma Acarya IHDN Denpasar.
Tim Bali Aga, 2009. Ragam Istilah Hindu. Denpasar : Bali Aga
Tim Penyusun, 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa Edisi Keempat, Jakarta : PT. Gramedia Utama.
___________, 2005. Kamus Istilah Agama Hindu. Jakarta : Departemen Agama RI.
___________, 2003. Undang-Undang SISDIKNAS (Sistem Pendidikan Nasional). Jakarta.
Tim Pustaka Phoenix, 2009. Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Baru, Jakarta : PT Media Pustaka Phoenix.
Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Sistem Pendidikan Nasional –UUSPN.
Wiana, I Ketut, 1997. Cara Belajar Agama Hindu Yang Baik. Denpasar : Yayasan Dharma Naradha
Wijaya, AA.Prima Surya. 2010. Saya Bangga Beragama Hindu, Surabaya : Paramita Surabaya.
Winarno, Darmoyuwono. 2008. Rahasia Kecerdasan Spiritual, Jakarta: Sangkan Paran Media.
Winata, I Wayan. 2007. Pola Pembinaan Budi Pekerti Terhadap Peserta Didik di SMP Negeri 2 Semarapura Kabupaten Klungkung. Tesis Pascasarjana Dharma Acarya IHDN Denpasar.
Yudiantara, I Putu, 2009. Cerdas Spiritual melalui Bhagavad Gita, Surabaya Penerbit : Paramita Surabaya.
Yulianti. 2003. Interaksi Sosial Masyarakat Majemuk Dikalangan Elite.Yogyakarta : Lapera Pustaka.
Zohar, D. dan Marshall, I. 2005. Spiritual Capital. Bandung: Mizan.

BHAGAVAD GITA ONLINE — August 3, 2015

BHAGAVAD GITA ONLINE

BHAGAVAD GITA ONLINE

TERJEMAHAN BAHASA INDONESIA

OLEH :

I MADE YUDA ASMARA

BAB 1

MENINJAU TENTARA-TENTARA

DI MEDAN PERANG KURUKSETRA

Bhagavad-gita 1.1

Dhṛtarāṣṭra uvāca

dharma-kṣetre kuru-kṣetre

samavetā yuyutsavaḥ

māmakāḥ pāṇḍavāś caiva

kim akurvata sañjaya

Artinya;

Dhrtarastra berkata; Wahai Sanjaya, sesudah putera-puteraku dan putera pandu berkumpul di tempat suci kuruksetra dengan keinginan untuk bertempur, apa yang dilakukan oleh mereka?

Bhagavad-gita 1.2

Sañjaya uvāca

dṛṣṭvā tu pāṇḍavānīkaḿ

vyūḍhaḿ duryodhanas tadā

ācāryam upasańgamya

rājā vacanam abravīt

Artinya;

Sanjaya berkata; wahai Baginda Raja, sesudah meninjau tentara yang telah disusun dalam barisan-barisan oleh para putera pandu, raja Duryodhana mendekati gurunya dan berkata sebagai berikut.

Bhagavad-gita 1.3

Paśyaitāḿ pāṇḍu-putrāṇām

ācārya mahatīḿ camūm

vyūḍhāḿ drupada-putreṇa

tava śiṣyeṇa dhīmatā

Artinya;

Wahai Guruku, lihatlah tentara-tentara besar para putera pandu, yang disusun dengan ahli sekali oleh putera Drupada, murid anda yang cerdas.

Bhagavad-gita 1.4

atra śūrā maheṣv-āsā

bhīmārjuna-samā yudhi

yuyudhāno virāṭaś ca

drupadaś ca mahā-rathaḥ

Artinya;

Di sini dalam tentara ini ada banyak pahlawan pemanah yang sehebat Bhisma dan Arjuna dalam pertempuran; kesatria-kesatria yang hebat seperti Yuyudhana, virata dan Drupada.

Bhagavad-gita 1.5

dhṛṣṭaketuś cekitānaḥ

kāśirājaś ca vīryavān

purujit kuntibhojaś ca

śaibyaś ca nara-puńgavaḥ

Artinya;

Ada juga kesatria-kesatria yang hebat, perkasa dan memiliki sifat kepahlawanan seperti Dhrstaketu, Cekitana, Kasiraja, Purujit, Kunti-bhoja dan Saibya.

Bhagavad-gita 1.6

Yudhāmanyuś ca vikrānta

uttamaujāś ca vīryavān

saubhadro draupadeyāś ca

sarva eva mahā-rathāḥ

Artinya;

Ada Yudhamanyu yang agung, Uttamauja yang perkasa sekali, putera Subhadra dan putera-putera Draupadi. Semua kesatria itu hebat sekali bertempur dengan menggunakan kereta.

Bhagavad-gita 1.7

asmākaḿ tu viśiṣṭā ye

tān nibodha dvijottama

nāyakā mama sainyasya

saḿjñārthaḿ tān bravīmi te

Artinya;

Tetapi perkenankanlah saya menyampaikan keterangan kepada anda tentang komandan-komandan yang mempunyai kwalifikasi luar biasa untuk memimpin bala tentara saya, wahai brahmana yang paling baik.

Bhagavad-gita 1.8

bhavān bhīṣmaś ca karṇaś ca

kṛpaś ca samitiḿ-jayaḥ

aśvatthāmā vikarṇaś ca

saumadattis tathaiva ca

Artinya;

Ada tokoh-tokoh seperti Prabhu sendiri, Bhisma, Karna, Krpa, Asvatthama, Vikarna, dan putera Somadatta bernama Bhurisrava, yang selalu menang dalam perang.

Bhagavad-gita 1.9

anye ca bahavaḥ śūrā

mad-arthe tyakta-jīvitāḥ

nānā-śastra-praharaṇāḥ

sarve yuddha-viśāradāḥ

Artinya;

Ada banyak pahlawan lain yang bersedia mengorbankan nyawanya demi kepentingan saya. Semuanya dilengkapi dengan berbagai jenis senjata, dan berpengalaman di bidang ilmu militer.

Bhagavad-gita 1.10

aparyāptaḿ tad asmākaḿ

balaḿ bhīṣmābhirakṣitam

paryāptaḿ tv idam eteṣāḿ

balaḿ bhīmābhirakṣitam

Artinya;

Kekuatan kita tidak dapat diukur, dan kita dilindungi secara sempurna oleh kakek Bhisma, sedangkan para pandava, yang dilindungi dengan teliti oleh Bhima, hanya mempunyai kekuatan yang terbatas.

Bhagavad-gita 1.11

ayaneṣu ca sarveṣu

yathā-bhāgam avasthitāḥ

bhīṣmam evābhirakṣantu

bhavantaḥ sarva eva hi

Artinya;

Sekarang anda semua harus memberi dukungan sepenuhnya kepada kakek Bhisma, sambil berdiri di ujung-ujung strategis masing-masing di gerbang-gerbang barisan tentara.

Bhagavad-gita 1.12

tasya sañjanayan harṣaḿ

kuru-vṛddhaḥ pitāmahaḥ

siḿha-nādaḿ vinadyoccaiḥ

śańkhaḿ dadhmau pratāpavān

Artinya;

Kemudian Bhisma, leluhur agung dinasti kuru yang gagah berani, kakek para ksatria, meniup kerangnya dengan keras sekali bagaikan suara singa sehingga Duryodhana merasa riang.

Bhagavad-gita 1.13

tataḥ śańkhāś ca bheryaś ca

paṇavānaka-gomukhāḥ

sahasaivābhyahanyanta

sa śabdas tumulo ‘bhavat

Artinya;

Sesudah itu, kerang-kerang, gendang-gendang, bedug, dan berbagai jenis terompet semuanya dibunyikan seketika, sehingga paduan suaranya menggemparkan.

Bhagavad-gita 1.14

tataḥ śvetair hayair yukte

mahati syandane sthitau

mādhavaḥ pāṇḍavaś caiva

divyau śańkhau pradadhmatuḥ

Artinya;

Di pihak lawan, Sri Krsna bersama Arjuna yang mengendarai kereta megah yang ditarik oleh kuda-kuda berwarna putih juga membunyikan kerang-kerang rohani mereka.

Bhagavad-gita 1.15

pāñcajanyaḿ hṛṣīkeśo

devadattaḿ dhanañjayaḥ

pauṇḍraḿ dadhmau mahā-śańkhaḿ

bhīma-karmā vṛkodaraḥ

Artinya;

Kemudian Krishna meniup kerang-Nya yang bernama Pancajanya;

 Arjuna meniup kerangnya bernama Devadatta; dan Bhisma, pelahap

 dan pelaksana tugas-tugas yang berat sekali, meniup kerangnya yang

 mengerikan bernama Paundra.

Bhagavad-gita 1.16-18

anantavijayaḿ rājā

kuntī-putro yudhiṣṭhiraḥ

nakulaḥ sahadevaś ca

sughoṣa-maṇipuṣpakau

kāśyaś ca parameṣv-āsaḥ

śikhaṇḍī ca mahā-rathaḥ

dhṛṣṭadyumno virāṭaś ca

sātyakiś cāparājitaḥ

drupado draupadeyāś ca

sarvaśaḥ pṛthivī-pate

saubhadraś ca mahā-bāhuḥ

śańkhān dadhmuḥ pṛthak pṛthak

Artinya;

Raja Yudhistira, putera kunti, meniup kerangnya yang bernama Anantavijaya, Nakula dan Sahadeva meniup kerangnya bernama Sugosha dan Manipuspaka. Pemanah yang perkasa raja Kasi, ksatria hebat yang bernama Sikandi, Dhrstadyumna, virata, dan Satyaki yang tidak pernah dikalahkan, Drupada, para putera Draupadi, dan lain-lain, seperti putera Subhadra, yang berlengan perkasa, semua meniup kerang-kerangnya masing-masing; wahai Baginda Raja.

Bhagavad-gita 1.19

sa ghoṣo dhārtarāṣṭrāṇāḿ

hṛdayāni vyadārayat

nabhaś ca pṛthivīḿ caiva

tumulo ‘bhyanunādayan

Artinya;

Berbagai jenis kerang tersebut ditiup hingga menggemparkan. Suara kerang-kerang bergema baik di langit maupun di bumi, hingga mematahkan hati para putera Dhrtarastra.

Bhagavad-gita 1.20

atha vyavasthitān dṛṣṭvā

dhārtarāṣṭrān kapi-dhvajaḥ

pravṛtte śastra-sampāte

dhanur udyamya pāṇḍavaḥ

hṛṣīkeśaḿ tadā vākyam

idam āha mahī-pate

Artinya;

Pada waktu itu, Arjuna, putera pandu, yang sedang duduk di atas kereta, yang benderanya berlambang hanuman, mengangkat busurnya dan bersiap-siap untuk melepaskan anak panahnya. Wahai paduka Raja, sesudah memandang putera-putera Dhrstaratra, lalu Arjuna berkata kepada Hrsikesa [krsna] sebagai berikut.

Bhagavad-gita 1.21-22

arjuna uvāca

senayor ubhayor madhye

rathaḿ sthāpaya me ‘cyuta

yāvad etān nirīkṣe ‘haḿ

yoddhu-kāmān avasthitān

kair mayā saha yoddhavyam

asmin raṇa-samudyame

Artinya;

Arjuna berkata; wahai Krsna yang tidak pernah gagal, mohon membawa kereta saya di tengah-tengah antara kedua tentara agar saya dapat melihat siapa yang ingin bertempur di sini dan siapa yang harus saya hadapi dalam usaha perang yang besar ini.

Bhagavad-gita 1.23

yotsyamānān avekṣe ‘haḿ

ya ete ‘tra samāgatāḥ

dhārtarāṣṭrasya durbuddher

yuddhe priya-cikīrṣavaḥ

Artinya;

Perkenankanlah saya melihat mereka yang datang ke sini untuk bertempur karena keinginan mereka untuk menyenangkan hati putera Dhrtarastra yang berpikir jahat.

Bhagavad-gita 1.24

sañjaya uvāca

evam ukto hṛṣīkeśo

guḍākeśena bhārata

senayor ubhayor madhye

sthāpayitvā rathottamam

Artinya;

Sanjaya berkata; wahai putera keluarga Bharata, setelah disapa oleh Arjuna, Sri Krsna membawa kereta yang bagus itu ke tengah-tengah antara tentara-tentara kedua belah pihak.

Bhagavad-gita 1.25

bhīṣma-droṇa-pramukhataḥ

sarveṣāḿ ca mahī-kṣitām

uvāca pārtha paśyaitān

samavetān kurūn iti

Artinya;

Di hadapan Bhisma, Drona dan semua pemimpin dunia lainnya, Sri Krsna bersabda, wahai partha, lihatlah para kuru yang sudah berkumpul di sini.

Bhagavad-gita 1.26

tatrāpaśyat sthitān pārthaḥ

pitṝn atha pitāmahān

ācāryān mātulān bhrātṝn

putrān pautrān sakhīḿs tathā

śvaśurān suhṛdaś caiva

senayor ubhayor api

Artinya;

Di sana di tengah-tengah tentara-tentara kedua belah pihak Arjuna dapat melihat para ayah, kakek, guru, paman dari keluarga ibu, saudara, putera, cucu, kawan, mertua, dan orang-orang yang mengharapkan kesejahteraannya semua hadir di sana.

Bhagavad-gita 1.27

tān samīkṣya sa kaunteyaḥ

sarvān bandhūn avasthitān

kṛpayā parayāviṣṭo

viṣīdann idam abravīt

Artinya;

Ketika Arjuna, putera kunti , melihat berbagai kawan dan sanak keluarganya ini, hatinya tergugah rasa kasih sayang dan dia berkata sebagai berikut.

Bhagavad-gita 1.28

arjuna uvāca

dṛṣṭvemaḿ sva-janaḿ kṛṣṇa

yuyutsuḿ samupasthitam

sīdanti mama gātrāṇi

mukhaḿ ca pariśuṣyati

Artinya;

Arjuna berkata; Krsna yang baik hati, setelah melihat kawan-kawan dan sanak keluarga di hadapan saya dengan semangat untuk bertempur seperti itu, saya merasa anggota badan-badan saya gemetar dan mulut saya terasa kering.

Bhagavad-gita 1.29

vepathuś ca śarīre me

roma-harṣaś ca jāyate

gāṇḍīvaḿ sraḿsate hastāt

tvak caiva paridahyate

Artinya;

Seluruh badan saya gemetar, dan bulu roma berdiri. Busur Gandiva terlepas dari tangan saya, dan kulit saya terasa terbakar.

Bhagavad-gita 1.30

na ca śaknomy avasthātuḿ

bhramatīva ca me manaḥ

nimittāni ca paśyāmi

viparītāni keśava

Artinya;

Saya tidak tahan lagi berdiri di sini, saya lupa akan diri, dan pikiran saya kacau. O Krsna, saya hanya dapat melihat sebab-sebab malapetaka saja, wahai pembunuh raksasa bernama Kesi.

Bhagavad-gita 1.31

na ca śreyo ‘nupaśyāmi

hatvā sva-janam āhave

na kāńkṣe vijayaḿ kṛṣṇa

na ca rājyaḿ sukhāni ca

Artinya;

Saya tidak dapat melihat bagaimana hal-hal yang baik dapat diperoleh kalau saya membunuh sanak keluarga sendiri dalam perang ini. Krsna yang baik hati, saya juga tidak dapat menginginkan kejayaan, kerajaan, maupun kebahagiaan sebagai akibat perbuatan seperti itu

Bhagavad-gita 1.32-35

. kiḿ no rājyena govinda

kiḿ bhogair jīvitena vā

yeṣām arthe kāńkṣitaḿ no

rājyaḿ bhogāḥ sukhāni ca

ta ime ‘vasthitā yuddhe

prāṇāḿs tyaktvā dhanāni ca

ācāryāḥ pitaraḥ putrās

tathaiva ca pitāmahāḥ

mātulāḥ śvaśurāḥ pautrāḥ

śyālāḥ sambandhinas tathā

etān na hantum icchāmi

ghnato ‘pi madhusūdana

api trailokya-rājyasya

hetoḥ kiḿ nu mahī-kṛte

nihatya dhārtarāṣṭrān naḥ

kā prītiḥ syāj janārdana

Artinya;

O Govinda, barang kali kita menginginkan kerajaan, kebahagiaan, ataupun kehidupan untuk orang tertentu, tetapi apa gunanya kerajaan, kebahagiaan ataupun kehidupan bagi kita kalau mereka sekarang tersusun pada medan perang ini? O Madhusudana, apabila para guru, ayah, putera, kakek, paman dari keluarga ibu, mertua, cucu, ipar dan semua sanak keluarga bersedia mengorbankan nyawa dan harta bendanya dan sekarang berdiri di hadapan saya, mengapa saya harus berhasrat membunuh mereka, meskipun kalau saya tidak membunuh mereka, mungkin mereka akan membunuh saya? Wahai pemelihara semua makhluk hidup, jangankan untuk bumi ini, untuk imbalan seluruh tiga dunia ini pun saya tidak bersedia bertempur melawan mereka. Kesenangan apa yang akan kita peroleh kalau kita membunuh para putera dhrtarastra?

Bhagavad-gita 1.36

pāpam evāśrayed asmān

hatvaitān ātatāyinaḥ

tasmān nārhā vayaḿ hantuḿ

dhārtarāṣṭrān sa-bāndhavān

sva-janaḿ hi kathaḿ hatvā

sukhinaḥ syāma mādhava

Artinya;

Kita akan dikuasai oleh dosa kalau kita membunuh penyerang seperti itu. Karena itu, tidak pantas kalau kita membunuh para putera Dhrtarastra dan kawan-kawan kita. O Krsna, suami dewi keberuntungan, apa untungnya bagi kita, dan bagaimana mungkin kita berbahagia dengan membunuh sanak keluarga kita sendiri?

Bhagavad-gita 1.37-38

yady apy ete na paśyanti

lobhopahata-cetasaḥ

kula-kṣaya-kṛtaḿ doṣaḿ

mitra-drohe ca pātakam

kathaḿ na jñeyam asmābhiḥ

pāpād asmān nivartitum

kula-kṣaya-kṛtaḿ doṣaḿ

prapaśyadbhir janārdana

Artinya;

O Janardana, walaupun orang ini yang sudah dikuasai oleh kelobaan tidak melihat kesalahan dalam membunuh keluarga sendiri atau bertengkar dengan kawan-kawan, mengapa kita yang dapat melihat bahwa membinasakan satu keluarga adalah kejahatan harus melakukan perbuatan berdosa seperti itu?

Bhagavad-gita 1.39

kula-kṣaye praṇaśyanti

kula-dharmāḥ sanātanāḥ

dharme naṣṭe kulaḿ kṛtsnam

adharmo ‘bhibhavaty uta

Artinya;

Dengan hancurnya sebuah dinasti, seluruh tradisi keluarga yang kekal dihancurkan, dan dengan demikian sisa keluarga akan terlibat dalam kebiasaan yang bertentangan dengan dharma.

Bhagavad-gita 1.40

adharmābhibhavāt kṛṣṇa

praduṣyanti kula-striyaḥ

strīṣu duṣṭāsu vārṣṇeya

jāyate varṇa-sańkaraḥ

Artinya;

O Krsna, apabila hal-hal yang bertentangan dengan dharma merajalela dalam keluarga, kaum wanita dalam keluarga ternoda, dan dengan merosotnya kaum wanita, lahirlah keturunan yang tidak diinginkan, wahai putera keluarga vrsni.

Bhagavad-gita 1.41

sańkaro narakāyaiva

kula-ghnānāḿ kulasya ca

patanti pitaro hy eṣāḿ

lupta-piṇḍodaka-kriyāḥ

Artinya;

Meningkatnya jumlah penduduk yang tidak diinginkan tentu saja menyebabkan keadaan seperti di neraka baik bagi keluarga maupun mereka yang membinasakan tradisi keluarga. Leluhur keluarga-keluarga yang sudah merosot seperti itu jatuh, sebab upacara-upacara untuk mempersembahkan makanan dan air kepada leluhur terhenti sama sekali.

Bhagavad-gita 1.42

doṣair etaiḥ kula-ghnānāḿ

varṇa-sańkara-kārakaiḥ

utsādyante jāti-dharmāḥ

kula-dharmāś ca śāśvatāḥ

Artinya;

Akibat perbuatan jahat para penghancur tradisi keluarga yang menyebabkan lahirnya anak-anak yang tidak diinginkan, segala jenis program masyarakat dan kegiatan demi kesejahteraan keluarga akan binasa.

Bhagavad-gita 1.43

utsanna-kula-dharmāṇāḿ

manuṣyāṇāḿ janārdana

narake niyataḿ vāso

bhavatīty anuśuśruma

Artinya;

O Krsna, pemelihara rakyat, saya sudah mendengar menurut garis perguruan bahwa orang yang membinasakan tradisi-tradisi keluarga selalu tinggal di neraka.

Bhagavad-gita 1.44

aho bata mahat pāpaḿ

kartuḿ vyavasitā vayam

yad rājya-sukha-lobhena

hantuḿ sva-janam udyatāḥ

Artinya;

Aduh, alangkah anehnya bahwa kita sedang bersiap-siap untuk melakukan kegiatan yang sangat berdosa. Didorong oleh keinginan untuk menikmati kesenangan kerajaan, kita sudah bertekad membunuh sanak keluarga sendiri.

Bhagavad-gita 1.45

yadi mām apratīkāram

aśastraḿ śastra-pāṇayaḥ

dhārtarāṣṭrā raṇe hanyus

tan me kṣemataraḿ bhavet

Artinya;

Lebih baik bagi saya kalau para putera Dhrtaratra yang membawa senjata di tangan membunuh saya yang tidak membawa senjata dan tidak melawan di medan perang.

Bhagavad-gita 1.46

sañjaya uvāca

evam uktvārjunaḥ sańkhye

rathopastha upāviśat

visṛjya sa-śaraḿ cāpaḿ

śoka-saḿvigna-mānasaḥ

Artinya;

Sanjaya berkata; setelah berkata demikian di medan perang, Arjuna meletakkan busur dan anak panahnya, lalu duduk dalam kereta. Pikiran Arjuna tergugah oleh rasa sedih.

BAB 2

RINGKASAN ISI BHAGAVAD-GĪTĀ

Bhagavad-gita 2.1

2.1 Sanjaya berkata; setelah melihat Arjuna tergugah rasa kasih sayang dan murung, matanya penuh air mata, Madhusudana, krisna, bersabda sebagai berikut.

Bhagavad-gita 2.2

2.2 Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa bersabda; Arjuna yang baik hati, bagaimana sampai hal-hal yang kotor ini menghinggapi dirimu? Hal-hal ini sama sekali tidak pantas bagi orang yang mengetahui nilai hidup. Hal-hal seperti itu tidak membawa seseorang ke planet-planet yang lebih tinggi. Melainkan menjerumuskan dirinya kedalam penghinaan.

Bhagavad-gita 2.3

2.3 Wahai putera prtha, jangan menyerah pada kelemahan yang hina ini. Itu tidak pantas bagimu. Tinggalkanlah kelemahan hati yang remeh itu dan bangunlah. Wahai yang menghukum musuh.

Bhagavad-gita 2.4

2.4 Arjuna berkata; O Pembunuh musuh, o Pembunuh Madhu, bagaimana saya dapat membalas serangan orang seperti Bhisma dan Drona dengan panah pada medan perang, padahal seharusnya saya menyembah mereka?

Bhagavad-gita 2.5

2.5 Lebih baik saya hidup di dunia ini dengan cara mengemis daripada hidup sesudah mencabut nyawa roh-roh mulia seperti itu, yaitu guru-guru saya. Kendatipun mereka menginginkan keuntungan duniawi, mereka tetap atasan. Kalau mereka terbunuh, segala sesuatu yang kita nikmati akan ternoda dengan darah.

Bhagavad-gita 2.6

2.6 Kita juga tidak mengetahui mana yang lebih baik-mengalahkan mereka atau dikalahkan oleh mereka. Kalau Kita membunuh para putera Dhrtarastra, kita tidak mau hidup. Namun mereka sekarang berdiri di hadapan kita di medan perang.

Bhagavad-gita 2.7

2.7 Sekarang hamba kebingungan tentang kewajiban hamba dan sudah kehilangan segala ketenangan karena kelemahan yang picik. Dalam keadaan ini, hamba mohon agar Anda memberi tahukan dengan pasti apa yang paling baik untuk hamba. Sekarang hamba menjadi murid Anda, dan roh yang sudah menyerahkan diri kepada Anda. Mohon memberi pelajaran kepada hamba.

Bhagavad-gita 2.8

2.8 Hamba tidak dapat menemukan cara untuk menghilangkan rasa sedih ini yang menyebabkan indria-indria hamba menjadi kering. Hamba tidak akan dapat menghilangkan rasa itu, meskipun hamba memenangkan kerajaan yang makmur yang tiada taranya di bumi ini dengan kedaulatan seperti para dewa di surga.

Bhagavad-gita 2.9

2.9 Sanjaya berkata; Setelah berkata demikian, Arjuna, perebut musuh, menyatakan kepada krsna,’’Govinda,hamba tidak akan bertempur,’’lalu diam.

Bhagavad-gita 2.10

2.10 Wahai putera keluarga Bharata, pada waktu itu, krsna, yang tersenyum di tengah-tengah antara tentara-tentara kedua belah pihak, bersabda kepada Arjuna yang sedang tergugah oleh rasa sedih.

Bhagavad-gita 2.11

2.11 Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa bersabda; Sambil berbicara dengan cara yang pandai engkau menyesalkan sesuatu yang tidak patut disesalkan. Orang bijaksana tidak pernah menyesal, baik untuk yang masih hidup maupun untuk yang sudah meninggal.

Bhagavad-gita 2.12

2.12 Pada masa lampau tidak pernah ada suatu saat pun Aku, engkau maupun semua raja ini tidak ada; dan pada masa yang akan datang tidak satupun di antara kita semua akan lenyap.

Bhagavad-gita 2.13

2.13 Seperti halnya sang roh terkurung di dalam badan terus menerus mengalami perpindahan, di dalam badan ini, dari masa kanak-kanak sampai masa remaja sampai usia tua, begitu juga sang roh masuk ke dalam badan lain pada waktu meninggal. Orang yang tenang tidak bingung karena penggantian itu.

Bhagavad-gita 2.14

2.14 Wahai putera kunti, suka dan duka muncul untuk sementara dan hilang sesudah beberapa waktu, bagaikan mulai dan berakhirnya musim dingin dan musim panas. Hal-hal itu timbul dari penglihatan indria, dan seseorang harus belajar cara mentolerir hal-hal itu tanpa goyah, Wahai putera keluarga Bharata.

Bhagavad-gita 2.15

2.15 Wahai manusia yang paling baik (Arjuna), orang yang tidak goyah karena suka ataupun duka dan mantap dalam kedua keadaan itu pasti memenuhi syarat untuk mencapai pembebasan.

Bhagavad-gita 2.16

2.16 Orang yang melihat kebenaran sudah menarik kesimpulan bahwa apa yang tidak ada (badan jasmani) tidak tahan lama dan yang kekal (sang roh ) tidak berubah. Inilah kesimpulan mereka setelah mempelajari sifat kedua-duanya.

Bhagavad-gita 2.17

2.17 Hendaknya engkau mengetahui bahwa apa yang ada dalam seluruh badan tidak dapat dimusnahkan. Tidak seorang pun dapat membinasakan sang roh yang tidak dapat dimusnahka itu.

Bhagavad-gita 2.18

2.18 Mahluk hidup yang tidak dapat dimusnahkan atau diukur dan bersifat kekal, memiliki badan jasmani yang pasti akan berakhir. Karena itu, bertempurlah, Wahai putera keluarga Bharata.

Bhagavad-gita 2.19

2.19 Orang yang menganggap bahwa makhluk hidup membunuh ataupun makhluk hidup dibunuh tidak memiliki pengetahuan, sebab sang diri tidak membunuh dan tidak dapat dibunuh.

Bhagavad-gita 2.20

2.20 Tidak ada kelahiran maupun kematian bagi sang roh pada saat manapun. Dia tidak diciptakan pada masa lampau, ia tidak diciptakan pada masa sekarang, dan dia tidak akan diciptakan pada masa yang akan datang. Dia tidak dilahirkan, berada untuk selamanya dan bersifat abadi. Dia tidak terbunuh apabila badan dibunuh.

Bhagavad-gita 2.21

2.21 Wahai Partha, bagaimana mungkin orang yang mengetahui bahwa sang roh tidak dapat dimusnahkan, bersifat kekal, tidak dilahirkan dan tidak pernah berubah dapat membunuh seseorang atau menyebabkan seseorang membunuh?

Bhagavad-gita 2.22

2.22 Seperti halnya seseorang mengenakan pakaian baru, dan membuka pakaian lama, begitu pula sang roh menerima badan-badan jasmani yang baru, dengan meninggalkan badan-badan lama yang tidak berguna.

Bhagavad-gita 2.23

2.23 Sang roh tidak pernah dapat dipotong menjadi bagian-bagian oleh senjata manapun, dibakar oleh api, dibasahi oleh air, atau dikeringkan oleh angin.

Bhagavad-gita 2.24

2.24 Roh yang individual ini tidak dapat dipatahkan dan tidak dapat dilarutkan, dibakar ataupun dikeringkan. Ia hidup untuk selamanya, berada di mana-mana, tidak dapat diubah, tidak dapat dipindahkan dan tetap sama untuk selamanya.

Bhagavad-gita 2.25

2.25 Dikatakan bahwa sang roh itu tidak dapat dilihat, tidak dapat dipahami dan tidak dapat diubah. Mengingat kenyataan itu, hendaknya engkau jangan menyesal karena badan.

Bhagavad-gita 2.26

2.26 Akan tetapi, kalau engkau berpikir bahwa sang roh (atau gejala-gejala hidup) senantiasa dilahirkan dan selalu mati, toh engkau masih tidak mempunyai alasan untuk menyesal, wahai Arjuna yang berlengan perkasa.

Bhagavad-gita 2.27

2.27 Orang yang sudah dilahirkan pasti akan meninggal, dan sesudah kematian, seseorang pasti akan dilahirkan lagi. Karena itu, dalam melaksanakan tugas kewajibanmu yang tidak dapat dihindari, hendaknya engkau jangan menyesal.

Bhagavad-gita 2.28

2.28 Semua makhluk yang diciptakan tidak terwujud pada awalnya, terwujud pada pertengahan, dan sekali lagi tidak terwujud pada waktu dileburkan. Jadi apa yang perlu disesalkan?

Bhagavad-gita 2.29

2.29 Beberapa orang memandang bahwa sang roh sebagai sesuatu yang mengherankan, beberapa orang menguraikan dia sebagai sesuatu yang mengherankan, dan beberapa orang mendengar tentang dia sebagai sesuatu yang mengherankan juga, sedangkan orang lain tidak dapat mengerti sama sekali tentang sang roh, walaupun mereka sudah mendengar tentang dia.

Bhagavad-gita 2.30

2.30 O putera keluarga Bharata, dia yang tinggal dalam badan tidak pernah dapat dibunuh. Karena itu, engkau tidak perlu bersedih hati untuk makhluk manapun.

Bhagavad-gita 2.31

2.31 Mengingat tugas kewajibanmu yang khusus sebagai seorang ksatriya, hendaknya engkau mengetahui bahwa tiada kesibukan yang lebih baik untukmu daripada bertempur berdasarkan prinsip-prinsip dharma; karena itu, engkau tidak perlu ragu-ragu.

Bhagavad-gita 2.32

2.32 Wahai partha, berbahagialah para ksatriya yang mendapatkan kesempatan untuk bertempur seperti itu tanpa mencarinya-kesempatan yang membuka pintu gerbang planet-planet surga bagi mereka.

Bhagavad-gita 2.33

2.33 Akan tetapi, apabila engkau tidak melaksanakan kewajiban dharmamu, yaitu bertempur, engkau pasti menerima dosa akibat melalaikan kewajibanmu, dan dengan demikian kemasyuranmu sebagai kesatria akan hilang.

Bhagavad-gita 2.34

2.34 Orang akan selalu membicarakan engkau sebagai orang yang hina, dan bagi orang yang terhormat; penghinaan lebih buruk daripada kematian.

Bhagavad-gita 2.35

2.35 Jendral-jendral besar yang sangat menghargai nama dan kemasyuranmu akan menganggap engkau meninggalkan medan perang karena rasa takut saja, dan dengan demikian mereka akan meremehkan engkau.

Bhagavad-gita 2.36

2.36 Musuh-musuhmu akan menjuluki engkau dengan banyak kata yang tidak baik dan mengejek kesanggupanmu. Apa yang dapat lebih menyakiti hatimu daripada itu?

Bhagavad-gita 2.37

2.37 Wahai putera kunti, engkau akan terbunuh di medan perang dan mencapai planet-planet surga atau engkau akan menang dan menikmati kerajaan di dunia. Karena itu, bangunlah dan bertempur dengan ketabahan hati.

Bhagavad-gita 2.38

2.38 Bertempurlah demi pertempuran saja, tanpa mempertimbangkan suka atau duka, rugi atau laba, menang atau kalah-dengan demikian, engkau tidak akan pernah dipengaruhi oleh dosa.

Bhagavad-gita 2.39

2.39 Sampai sekarang, Aku sudah menguraikan tentang pengetahuan ini kepadamu melalui pelajaran analisis. Sekarang, dengarlah penjelasanku tentang hal ini menurut cara bekerja tanpa mengharapkan hasil atau pahala. Wahai putera prtha, bila engkau bertindak dengan pengetahuan seperti itu engkau dapat membebaskan diri dari ikatan pekerjaan.

Bhagavad-gita 2.40

2.40 Dalam usaha ini tidak ada kerugian ataupun pengurangan, dan sedikitpun kemajuan dalam menempuh jalan ini dapat melindungi seseorang terhadap rasa takut yang paling berbahaya.

Bhagavad-gita 2.41

2.41 Orang yang menempuh jalan ini bertabah hati dengan mantap, dan tujuan mereka satu saja. Wahai putera kesayangan para kuru, kecerdasan orang yang tidak bertabah hati mempunyai banyak cabang.

Bhagavad-gita 2.42-43

2.42-43 Orang yang kekurangan pengetahuan sangat terikat pada kata-kata kiasan dari weda, yang menganjurkan berbagai kegiatan yang dimaksudkan untuk membuahkan pahala agar dapat naik tingkat sampai planet-planet surga, kelahiran yang baik sebagai hasilnya, kekuatan dan sebagainya. Mereka menginginkan kepuasan indria-indria dan kehidupan yang mewah, sehingga mereka mengatakan bahwa tiada sesuatu pun yang lebih tinggi dari ini. Wahai putera prtha.

Bhagavad-gita 2.44

2.44 Ketabahan hati yang mantap untuk ber-bakti kepada Tuhan Yang Maha Esa tidak pernah ti mbul di dalam pikiran orang yang terlalu terikat pada kenikmatan indria-indria dan kekayaan material.

Bhagavad-gita 2.45

2.45 Veda sebagaian besar menyangkut tiga sifat alam. Wahai Arjuna, lampauilah tiga sifat alam itu. Bebaskanlah dirimu dari segala hal yang relatif dan segala kecemasan untuk keuntungan dan keelamatan dan jadilah mantap dalam sang diri.

Bhagavad-gita 2.46

2.46 Segala tujuan yang dipenuhi oleh sumur kecil dapat segera dipenuhi oleh sumber air yang besar. Begitu pula, segala tujuan veda dapat segera dipenuhi bagi orang yang mengetahui maksud dasar veda itu.

Bhagavad-gita 2.47

2.47 Engkau berhak melakukan tugas kewajibanmu yang telah ditetapkan, tetapi engkau tidak berhak atas hasil perbuatan. Jangan menganggap dirimu penyebab hasil kegiatanmu, dan jangan terikat pada kebiasaan tidak melakukan kewajibanmu.

Bhagavad-gita 2.48

2.48 Wahai Arjuna, lakukanlah kewajibanmu dengan sikap seimbang, lepaskanlah segala ikatan terhadap sukses maupun kegagalan. Sikap seimbang seperti itu disebut yoga.

Bhagavad-gita 2.49

2 .49 Wahai Dhananjaya, jauhilah segala yang menjijikan melalui bhakti dan dengan kesadaran seperti itu serahkanlah dirimu kepada Tuhan Yang Mha Esa. Orang yang ingin menikmati hasil pekerjaannya adalah orang pelit.

Bhagavad-gita 2.50

2.50 Orang yang menekuni bhakti membebaskan dirinya dari perbuatan yang baik dan buruk bahkan dalam kehidupan ini pun. Karena itu, berusahalah untuk yoga, ilmu segala pekerjaan.

Bhagavad-gita 2.51

2.51 Dengan menekuni bhakti kepada Tuhan Yang Maha Esa seperti itu, resi-resi yang mulia dan penyembah-penyembah membebaskan diri dari hasil pekerjaan di dunia material. Dengan cara demikian mereka dibebaskan dari perputaran kelahiran dan kematian dan mencapai keadaan di luar segala kesengsaraan (dengan kembali kepada Tuhan Yang Maha Esa).

Bhagavad-gita 2.52

2.52 Bila kecerdasanmu sudah keluar dari hutan khayalan yang lebat, engkau akan acuh terhadap segala sesuatu yang sudah didengar dan segala sesuatu yang akan didengar.

Bhagavad-gita 2.53

2.53 Bila pikiranmu tidak goyah lagi karena bahasa kiasan veda , dan pikiran mantap dalam semadi keinsafan diri, maka engkau sudah mencapai kesadaran rohani.

Bhagavad-gita 2.54

2.54 Arjuna berkata; o Krsna, bagaimanakah ciri-ciri orang yang kesadarannya sudah khusuk dalam kerohanian seperti itu? Bagaimana cara bicaranya serta bagaimana bahasanya? Dan bagaimana ia duduk dan bagaimana ia berjalan?.

Bhagavad-gita 2.55

2.55 Kpribadian Tuhan Yang Maha Esa bersabda; o partha, bila seseorang meninggalkan segala jenis keinginan untuk kepuasan indria-indria, yang muncul dari tafsiran pikiran, dan bila pikirannya yang sudah disucikan dengan cara seperti itu hanya puas dalam sang diri, dikatakan ia sudah berada dalam kesadaran rohani yang murni.

Bhagavad-gita 2.56

2.56 Orang yang pikirannya tidak goyah bahkan di tengah-tengah tiga jenis kesengsaraan, tidak gembira pada waktu ada kebahagiaan, dan bebas dari ikatan, rasa takut dan marah, disebut resi yang mantap dalam pikirannya.

Bhagavad-gita 2.57

2.57 Di dunia material, orang yang tidak dipengaruhi oleh hal yang baik dan hal yang buruk yang diperolehnya, dan tidak memuji maupun mengejeknya, sudah mantap dengan teguh dalam pengetahuan yang sempurna.

Bhagavad-gita 2.58

2.58 Orang yang dapat menarik indria-indria dari obyek-obyek indria,bagaikan kura-kura yang menarik kakinya ke dalam cangkangnya, mantap dengan teguh dalam kesadaran yang sempurna.

Bhagavad-gita 2.59

2.59 Barangkali kepuasan indria-indria sang roh yang berada dalam badan dibatasi, walaupun keinginan terhadap obyek-obyek indria tetap ada. Tetapi bila ia menghentikan kesibukan seperti itu dengan mengalami rasa yang lebih tinggi, kesadarannya menjadi mantap.

Bhagavad-gita 2.60

2.60 Wahai Arjuna, alangkah kuat dan bergeloranya indria-indria sehingga pikiran orang bijaksana yang sedang berusaha untuk mengendalikan indria-indrianya pun dibawa lari dengan paksa oleh indria-indria itu.

Bhagavad-gita 2.61

2.61 Orang yang mengekang dan mengendalikan indria-indria sepenuhnya dan memusatkan kesadarannya sepenuhnya kepada-ku, dikenal sebagai orang yang mempunyai kecerdasan yang mantap.

Bhagavad-gita 2.62

2.62 Selama seseorang merenungkan obyek-obyek indria-indria, ikatan terhadap obyek-obyek indria itu berkembang. Dari ikatan seperti itu berkembanglah hawa nafsu,dan dari hawa nafsu timbullah amarah.

Bhagavad-gita 2.63

2.63 Dari amarah timbullah khayalan yang lengkap , dari khayalan menyebabkan ingatan bingung. Bila ingatan bingung, kecerdasan hilang, bila kecerdasan hilang, seseorang jatuh lagi ke dalam lautan material.

Bhagavad-gita 2.64

2.64 Tetapi orang yang sudah bebas dari segala ikatan dan rasa tidak suka serta sanggup mengendalikan indria-indria melalui prinsip-prinsip kebebasan yang teratur dapat memperoleh karunia sepenuhnya dari Tuhan.

Bhagavad-gita 2.65

2.65 Tiga jenis kesengsaraan kehidupan material tidak ada lagi pada orang yang puas seperti itu (dalam kesadaran Krisna); dengan kesadaran yang puas seperti itu, kecerdasan seseorang mantap dalam waktu singkat.

Bhagavad-gita 2.66

2.66 Orang yang tidak mempunyai hubungan dengan Yang Maha Kuasa(dalam kesadaran Krisna) tidak mungkin memiliki kecerdasan rohani maupun pikiran yang mantap. Tanpa kecerdasan rohani dan pikiran pikiran yang mantap tidak mungkin ada kedamaian. Tanpa kedamaian, bagaimana mungkin ada kebahagiaan?

Bhagavad-gita 2.67

2.67 Seperti perahu yang berada pada permukaan air dibawa lari oleh angin kencang, kecerdasan seseorang dapat dilarikan bahkan oleh satu saja di antara indria-indria yang mengembara dan menjadi titik pusat untuk pikiran.

Bhagavad-gita 2.68

2.68 Karena itu, orang yang indria-indrianya terkekang dari obyek-obyeknya pasti mempunyai kecerdasan yang mantap, wahai yang berlengan perkasa.

Bhagavad-gita 2.69

2.69 Malam hari bagi semua makhluk adalah waktu sadar bagi orang yang mengendalikan diri, dan waktu sadar bagi semua makhluk adalah malam hari bagi resi yang mawas diri.

Bhagavad-gita 2.70

2.70 Hanya orang yang tidak terganggu oleh arus keinginan yang mengalir terus menerus yang masuk bagaikan sungai-sungai ke dalam lautan,yang senantiasa diisi tetapi selalu tetap tenang , dapat mencapai kedamaian. Bukan orang yang berusaha memuaskan keinginan itu yang dapat mencapai kedamaian.

Bhagavad-gita 2.71

2.71 Hanya orang yang sudah meninggalkan segala jenis keinginan untuk kepuasan indria-indria, hidup bebas dari keinginan, sudah meninggalkan segala rasa ingin memilik sesuatu dan bebas dari keakuan palsu dapat mencapai kedamaian yang sejati

Bhagavad-gita 2.72

2.72 Itulah cara hidup yang suci dan rohani. Sesudah mencapai kehidupan seperti itu, seseorang tidak dibingungkan. Kalau seseorang mantap seperti itu bahkan pada saat kematian sekalipun, ia dapat masuk ke kerajaan Tuhan.

BAB 3

KARMA-YOGA

Bhagavad-gita 3.1

3.1 Arjuna berkata; O Janardana, o Kesava, mengapa Anda ingin supaya hamba menjadi sibuk dalam perang yang mengerikan ini, kalau Anda menganggap kecerdasan lebih baik dari pekerjaan yang dimaksudkan untuk membuahkan hasil?

Bhagavad-gita 3.2

3.2 Kecerdasan hamba dibingungkan oleh pelajaran Anda yang mengandung dua arti. Karena itu, mohon beritahukan kepada hamba dengan pasti mana yang paling bermanfaat untuk hamba.

Bhagavad-gita 3.3

3.3 Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa bersabda; o Arjuna yang tidak berdosa, Aku sudah menjelaskan bahwa ada dua golongan manusia yang berusaha menginsafi sang diri. Beberapa orang berminat mengerti tentang hal itu melalui angan-angan filsafat berdasarkan percobaan, sedangkan orang lain berusaha mengerti tentang hal itu melalui bhakti.

Bhagavad-gita 3.4

3.4 bukan hanya dengan menghindari pekerjaan seseorang dapat mencapai pembebasan dari reaksi, dan bukan hanya dengan melepaskan ikatan saja seseorang dapat mencapai kesempurnaan.

Bhagavad-gita 3.5

3.5 Semua orang dipaksakan bekerja tanpa berdaya menurut sifat-sifat yang telah diperolehnya dari sifat-sifat alam material; karena itu, tiada seorangpun yang dapat menghindari berbuat sesuatu, bahkan selama sesaatpun.

Bhagavad-gita 3.6

3.6 Orang yang mengekang indria-indria yang bekerja tetapi pikirannya merenungkan obyek-obyek indria pasti menipu dirinya sendiri dan disebut orang yang berpura-pura.

Bhagavad-gita 3.7

3.7 Di pihak lain, kalau orang yang tulus ikhlas berusaha mengendalikan indria-indria yang giat dengan pikiran dan mulai melakukan karma yoga (dalam kesadaran Krisna ) tanpa ikatan, ia jauh lebih maju.

Bhagavad-gita 3.8

3.8 Lakukanlah tugas kewajibanmu yang telah ditetapkan, sebab melakukan hal demikian lebih baik daripada tidak bekerja. Seseorang bahkan tidak dapat memelihara badan jasmani tanpa bekerja.

Bhagavad-gita 3.9

3.9 Pekerjaan yang dilakukan sebagai korban suci untuk visnu harus dilakukan. Kalau tidak, pekerjaan mengakibatkan ikatan di dunia material ini. Karena itu lakukanlah tugas-kewajibanmu yang telah ditetapkan guna memuaskan Beliau, Wahai putera Kunti. Dengan cara demikian, engkau akan selalu tetap bebas dari ikatan.

Bhagavad-gita 3.10

3.10 Pada awal ciptaan, penguasa semua mahluk mengirim generasi-generasi manusia dan dewa, beserta korban- korban suci untuk visnu, dan memberkahi mereka dengan bersabda; Berbahagialah engkau dengan yadna (korban suci) ini sebab pelaksanaannya akan menganugerahkan segala sesuatu yang dapat diinginkan untuk hidup secara bahagia dan mencapai pembebasan.

Bhagavad-gita 3.11

3.11 Para dewa, sesudah dipuaskan dengan korban-korban suci, juga akan memuaskan engkau. Dengan demikian, melalui kerja sama antara manusia dengan para dewa, kemakmuran akan berkuasa bagi semua.

Bhagavad-gita 3.12

3.12 Para dewa mengurus berbagai kebutuhan hidup. Bila para dewa dipuaskan dengan pelaksanaan yajna (korban suci), mereka akan menyediakan segala kebutuhan untukmu.Tetapi orang yang menikmati berkat-berkat itu tanpa mempersembahkannya kepada para dewa sebagai balasan pasti adalah pencuri.

Bhagavad-gita 3.13

3.13 Para penyembah Tuhan dibebaskan dari segala jenis dosa karena mereka makan makanan yang dipersembahkan terlebih dahulu untuk korban suci. Orang lain, yang menyiapkan makanan untuk kenikmatan indria-indria pribadi, sebenarnya hanya makan dosa saja.

Bhagavad-gita 3.14

3.14 Semua badan yang bernyawa hidup dengan cara makan biji-bijian, yang dihasilkan dari hujan. Hujan dihasilkan oleh pelaksanaan yajna (korban suci) dan yajna dilahirkan dari tugas kewajiban yang sudah ditetapkan.

Bhagavad-gita 3.15

3.15 Kegiatan yang teratur dianjurkan di dalam veda dan veda diwujudkan secara langsung dari kepribadian Tuhan Yang Maha Esa. Karena itu, yang melampaui hal-hal duniawi dan berada di mana-mana untuk selamanya dalam perbuatan korban suci.

Bhagavad-gita 3.16

3.16 Arjuna yang baik hati, orang yang tidak mengikuti sistem korban suci tersebut yang ditetapkan dalam veda pasti hidup dengan cara yang penuh dosa. Sia-sialah kehidupan orang seperti itu yang hanya hidup untuk memuaskan indria-indria.

Bhagavad-gita 3.17

3.17 Tetapi orang yang bersenang hati di dalam sang diri, yang hidup sebagai manusia demi keinsafan diri, dan berpuas hati di dalam sang diri saja, puas sepenuhnya-bagi orang tersebut tidak ada tugas kewajiban.

Bhagavad-gita 3.18

3.18 Orang yang sudah insaf akan dirinya tidak mempunyai maksud untuk dipenuhi dalam pelaksanaan tugas-tugas kewajibannya, dan dia juga tidak mempunyai alasan untuk tidak melaksanakan pekerjaan seperti itu. Dia juga tidak perlu bergantung pada makhluk hidup manapun.

Bhagavad-gita 3.19

3.19 Karena itu hendaknya seseorang bertindak karena kewajiban tanpa terikat terhadap hasil kegiatan, sebab dengan bekerja tanpa ikatan terhadap hasil seseorang sampai kepada Yang Mahakuasa.

Bhagavad-gita 3.20

3.20 Raja-raja yang seperti Janaka mencapai kesempurnaan hanya dengan pelaksanaan tugas-tugas kewajiban yang telah ditetapkan. Karena itu, untuk mendidik rakyat umum, hendaknya engkau melakukan pekerjaanmu.

Bhagavad-gita 3.21

3.21 Perbuatan apapun yang dilakukan orang besar, akan diikuti oleh orang awam. Standar apa pun yang ditetapkan dengan perbuatannya sebagai teladan, diikuti oleh seluruh dunia.

Bhagavad-gita 3.22

3.22 Wahai putera prtha, tidak ada pekerjaan yang ditetapkan bagi-Ku dalam seluruh tiga susunan planet. Aku juga tidak kekurangan apapun dan Aku tidak perlu memperoleh sesuatu, namun Aku sibuk melakukan tugas-tugas kewajiban yang sudah ditetapkan.

Bhagavad-gita 3.23

3.23 Sebab kalau Aku pernah gagal menekuni pelaksanaan tugas-tugas kewajiban yang telah ditetapkan dengan teliti, tentu saja semua orang akan mengikuti jalan-Ku, wahai putera Partha.

Bhagavad-gita 3.24

3.24 Kalau Aku tidak melakukan tugas-tugas kewajiban yang sudah ditetapkan, maka semua dunia ini akan hancur. Kalau Aku berbuat demikian, berarti Aku menyebabkan penduduk yang tidak diinginkan diciptakan, dan dengan demikian Aku menghancurkan kedamaian semua makhluk hidup.

Bhagavad-gita 3.25

3.25 Seperti halnya orang bodoh melakukan tugas-tugas kewajibannya dengan ikatan terhadap hasil, begitu pula orang bijaksana dapat bertindak dengan cara yang serupa, tetapi tanpa ikatan, dengan tujuan memimpin rakyat dalam menempuh jalan yang benar.

Bhagavad-gita 3.26

3.26 Agar tidak mengacaukan pikiran orang bodoh yang terikat terhadap hasil atau pahala dari tugas-tugas kewajiban yang telah ditetapkan, hendaknya orang bijaksana jangan menyuruh mereka berhenti bekerja. Melainkan, sebaiknya ia beker ja dengan semangat bhakti dan menjadikan mereka sibuk dalam segala jenis kegiatan (untuk berangsur-angsur mengembangkan kesadaran Krisna)

Bhagavad-gita 3.27

3.27 Sang roh yang dibingungkan oleh pengaruh keakuan palsu menganggap dirinya pelaku kegiatan yang sebenarnya dilakukan oleh tiga sifat alam material.

Bhagavad-gita 3.28

3.28 Orang yang memiliki pengetahuan tentang kebenaran mutlak tidak menjadi sibuk dalam indria-indria dan kepuasan indria-indria, sebab ia mengetahui dengan baik perbedaan antara pekerjaan dalam bhakti dan pekerjaan yang dimaksudkan untuk membuahkan hasil atau pahala, Wahai yang berlengan perkasa.

Bhagavad-gita 3.29

3.29 Oleh karena orang bodoh dibingungkan oleh sifat-sifat alam material, maka mereka sepenuhnya menekuni kegiatan material hingga menjadi terikat. Tetapi sebaiknya orang bijaksana jangan menggoyahkan mereka, walaupun tugas-tugas tersebut lebih rendah karena yang melakukan tugas-tugas itu kekurangan pengetahuan.

Bhagavad-gita 3.30

3.30 O Arjuna, karena itu, dengan menyerahkan segala pekerjaanmu kepada-Ku, dengan pengetahuan sepenuhnya tentang –Ku, bebas dari keinginan untuk keuntungan, tanpa tuntutan hak milik, dan bebas dari sifat malas, bertempurlah.

Bhagavad-gita 3.31

3.31 Orang yang melakukan tugas-tugas kewajibannya menurut perintah-perintah-Ku dan mengikuti ajaran ini dengan setia, bebas dari rasa iri, dibebaskan dari ikatan perbuatan yang dimaksudkan untuk membuahkan hasil.

Bhagavad-gita 3.32

3.32 Tetapi orang yang tidak mengikuti ajaran ini secara teratur karena rasa iri dianggap kehilangan segala pengetahuan, dijadikan bodoh, dan dihancurkan dalam usahanya untuk mencari kesempurnaan.

Bhagavad-gita 3.33

3.33 Orang yang berpengetahuanpun bertindak menurut sifatnya sendiri, sebab semua orang mengikuti sifat yang telah diperolehnya dari tiga sifat alam. Karena itu apa yang dapat dicapai dengan pengekangan?

Bhagavad-gita 3.34

3.34 Ada prinsip-prinsip untuk mengatur ikatan dan rasa tidak suka berhubungan dengan indria-indria dan obyek-obyeknya. Hendaknya seseorang jangan dikuasi oleh ikatan dan rasa tidak suka seperti itu, sebab hal-hai itu merupakan batu-batu rintangan pada jalan menuju keinsafan diri.

Bhagavad-gita 3.35

3.35 Jauh lebih baik melaksanakan tugas-tugas kewajiban yang sudah ditetapkan untuk diri kita. Walaupun kita berbuat kesalahan dalam tugas-tugas itu, daripada melakukan tugas kewajiban orang lain secara sempurna. Kemusnahan sambil melaksanakan tugas kewajiban sendiri lebih baik daripada menekuni tugas kewajiban orang lain, sebab mengikuti jalan orang lain berbahaya.

Bhagavad-gita 3.36

3.36 Arjuna berkata; Apa yang mendorong seseorang untuk melakukan perbuatan yang berdosa, walaupun dia tidak menginginkan demikian, seolah-olah dia dipaksakan untuk berbuat begitu?

Bhagavad-gita 3.37

3.37 Kepribadiaan Tuhan Yang Maha Esa bersabda: Wahai Arjuna, hanya hawa nafsu saja; yang dilahirkan dari hubungan dengan sifat nafsu material dan kemudian diubah menjadi amarah, yang menjadi musuh dunia ini. Musuh itu penuh dosa dan menelan segala sesuatu.

Bhagavad-gita 3.38

3.38 Seperti halnya api ditutupi oleh asap, cermin ditutupi oleh debu, atau janin ditutupi oleh kandungan, begitu pula mahluk hidup ditutupi oleh berbagai tingkat hawa nafsu ini.

Bhagavad-gita 3.39

3.39 Seperti itulah kesadaran murni mahluk hidup yang bijaksana ditutupi oleh musuhnya yang kekal dalam bentuk nafsu, yang tidak pernah puas dan membakar bagaikan api.

Bhagavad-gita 3.40

3.40 Indria-indria, pikiran dan kecerdasan adalah tempat duduk hawa nafsu tersebut. Melalui indria-indria, pikiran dan kecerdasan hawa nafsu menutupi pengetahuan sejati mahluk hidup dan membingungkannya.

Bhagavad-gita 3.41

3.41 Wahai Arjuna, yang paling baik diantara para Bharata, karena itu, pada awal sekali batasilah lambang dosa yang besar ini ( hawa nafsu ) dengan mengatur indria-indria, dan bunuhlah pembinasa pengetahuan dan keinsafan diri ini.

Bhagavad-gita 3.42

3.42 Indria-indria yang bekerja lebih halus daripada alam yang bersifat mati. Pikiran lebih halus daripada indria-indria; kecerdasan lebih halus lagi daripada pikiran; dan Dia (sang roh ) lebih halus lagi daripada kecerdasan.

Bhagavad-gita 3.43

3.43 Dengan mengetahui dirinya melampaui indria-indria material, pikiran dan kecerdasan, hendaknya seseorang memantapkan pikiran dengan kecerdasan rohani yang bertabah hati ( kesadaran Krsna ), dan dengan demikian- melalui kekuatan rohani, mengalahkan hawa nafsu, musuh yang tidak pernah puas, wahai Arjuna yang berlengan perkasa.

BAB 4

BAB 4

PENGETAHUAN ROHANI

Bhagavad-gita 4.1

4.1 Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, Sri Krsna, bersabda; Aku telah mengajarkan ilmu pengetahuan yoga ini yang tidak dapat dimusnahkan kepada dewa matahari , vivasvan, kemudian vivasvan mengajarkan ilmu pengetahuan ini kepada Manu, ayah manusia, kemudian Manu mengajarkan ilmu pengetahuan itu kepada iksvaku.

Bhagavad-gita 4.2

4.2 Ilmu pengetahuan yang paling utama ini diterima dengan cara sedemikian rupa melalui rangkaian garis perguruan guru-guru kerohanian, dan para raja yang suci mengerti ilmu pengetahuan tersebut dengan cara seperti itu. Tetapi sesudah beberapa waktu, garis perguruan itu terputus; karena itu, rupanya ilmu pengetahuan yang asli itu sudah hilang.

Bhagavad-gita 4.3

4.3 Ilmu pengetahuan yang abadi tersebut mengenai hubungan dengan Yang Mahakuasa hari ini Kusampaikan kepadamu, sebab engkau adalah penyembah dan kawan-Ku; karena itulah engkau dapat mengerti rahasia rohani ilmu pengetahuan ini.

Bhagavad-gita 4.4

4.4 Arjuna berkata; vivasvan, dewa matahari, lebih tua daripada Anda menurut kelahiran. Bagaimana hamba dapat mengerti bahwa pada awal Anda mengajarkan ilmu pengetahuan ini kepada beliau?

Bhagavad-gita 4.5

4.5 Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa bersabda; Engkau dan Aku sudah dilahirkan berulangkali. Aku dapat ingat segala kelahiran itu, tetapi engkau tidak dapat ingat, Wahai penakluk musuh.

Bhagavad-gita 4.6

4.6 Walaupun Aku tidak dilahirkan dan badan rohani-Ku tidak pernah merosot, dan walaupun Aku penguasa semua makhluk hidup, Aku masih muncul pada setiap jaman dalam bentuk rohani-Ku yang asli.

Bhagavad-gita 4.7

4.7 Kapan pun dan di mana pun pelaksanaan dharma merosot dan hal-hal yang bertentangan dengan dharma merajalela-pada waktu itulah Aku sendiri menjelma, Wahai putera keluarga Bharata.

Bhagavad-gita 4.8

4.8 Untuk menyelamatkan orang saleh, membinasakan orang jahat dan untuk menegakkan kembali prinsip-prinsip dharma, Aku sendiri muncul pada setiap jaman.

Bhagavad-gita 4.9

4.9 Orang yang mengenal sifat rohani kelahiran dan kegiatan-Ku tidak dilahirkan lagi di dunia material ini setelah meninggalkan badan, melainkan ia mencapai tempat tinggal-Ku yang kekal, wahai Arjuna.

Bhagavad-gita 4.10

4.10 Banyak orang pada masa lampau disucikan oleh pengetahuan tentang-Ku dengan dibebaskan dari ikatan, rasa takut dan amarah, khusuk sepenuhnya berpikir tentang-Ku dan berlindung kepada-Ku dan dengan demikian mereka semua mencapai cinta-bhakti rohani kepada-Ku.

Bhagavad-gita 4.11

4.11 Sejauh mana semua orang menyerahkan diri kepada-Ku, Aku menganugerahi mereka sesuai dengan penyerahan dirinya itu. Semua orang menempuh jalan-Ku dalam segala hal, wahai putera Prtha.

Bhagavad-gita 4.12

4.12 Orang di dunia ini menginginkan sukses dalam kegiatan yang dimaksudkan untuk membuahkan hasil; karena itu, mereka menyembah para dewa. Tentu saja, manusia cepat mendapat hasil dari pekerjaan yang dimaksudkan untuk membuahkan hasil di dunia ini.

Bhagavad-gita 4.13

4.13 Menurut tiga sifat alam dan pekerjaan yang ada hubungannya dengan sifat-sifat itu, empat bagian masyarakat manusia diciptakan oleh-Ku. Walaupun Akulah yang menciptakan sistem ini, hendaknya engkau mengetahui bahwa Aku tetap sebagai yang tidak berbuat, karena Aku tidak dapat diubah.

Bhagavad-gita 4.14

4.14 Tidak ada pekerjaan yang mempengaruhi Diri-Ku; Aku juga tidak bercita-cita mendapat hasil dari perbuatan. Orang yang mengerti kenyataan ini tentang Diri-Ku juga tidak akan terikat dalam reaksi-reaksi hasil pekerjaan.

Bhagavad-gita 4.15

4.15 Semua orang yang sudah mencapai pembebasan pada jaman purbakala bertindak dengan pengertian tersebut tentang sifat rohani-Ku. Karena itu, sebaiknya engkau melaksanakan tugas kewajibanmu dengan mengikuti langkah-langkah mereka.

Bhagavad-gita 4.16

4.16 Orang cerdaspun bingung dalam menentukan apa itu perbuatan dan apa arti tidak melakukan perbuatan. Sekarang Aku akan menjelaskan kepadamu apa arti perbuatan, dan setelah mengetahui tentang hal ini engkau akan dibebaskan dari segala nasib yang malang.

Bhagavad-gita 4.17

4.17 Seluk beluk perbuatan sulit sekali dimengerti. Karena itu, hendaknya seseorang mengetahui dengan sebenarnya apa arti perbuatan, apa arti perbuatan yang terlarang, dan apa arti tidak melakukan perbuatan.

Bhagavad-gita 4.18

4.18 Orang yang melihat keadaan tidak melakukan perbuatan dalam perbuatan, dan perbuatan dalam keadaan tidak melakukan perbuatan, adalah orang cerdas dalam masyarakat manusia. Dia berada dalam kedudukan rohani, walaupun ia sibuk dalam segala jenis kegiatan.

Bhagavad-gita 4.19

419 Dimengerti bahwa seseorang memiliki pengetahuan sepenuhnya kalau setiap usahanya beb as dari keinginan untuk kepuasan indria-indria. Para resi mengatakan bahwa reaksi pekerjaan orang yang bekerja seperti itu sudah dibakar oleh api pengetahuan yang sempurna.

Bhagavad-gita 4.20

4.20 Dengan melepaskan segala ikatan terhadap segala hasil kegiatannya, selalu puas dan bebas, dia tidak melakukan perbuatan apapun yang dimaksudkan untuk membuahkan hasil atau pahala, walaupun ia sibuk dalam segala jenis usaha.

Bhagavad-gita 4.21

4.21 Orang yang mengerti bertindak dengan pikiran dan kecerdasan dikendalikan secara sempurna. Ia meninggalkan segala rasa memiliki harta bendanya dan hanya bertindak untuk kebutuhan dasar hidup. Bekerja dengan cara seperti itu, ia tidak dipengaruhi oleh reaksi-reaksi dosa.

Bhagavad-gita 4.22

4.22 Orang yang puas dengan keuntungan yang datang dengan sendirinya, bebas dari hal-hal relatif, tidak iri hati, dan mantap baik dalam sukses maupun kegagalan, tidak pernah terikat, walaupun ia melakukan perbuatan.

Bhagavad-gita 4.23

4.23 Pekerjaan orang yang tidak terikat kepada sifat-sifat alam material dan mantap sepenuhnya dalam pengetahuan rohani menunggal sepenuhnya ke dalam kerohanian.

Bhagavad-gita 4.24

4.24 Orang yang tekun sepenuhnya dalam kesadaran krsna pasti akan mencapai kerajaan rohani karena dia sudah menyumbang sepenuhnya kepada kegiatan rohani. Dalam kegiatan rohani tersebut penyempurnaan bersifat mutlak dan apa yang dipersembahkan juga mempunyai sifat rohani yang sama.

Bhagavad-gita 4.25

4.25 Beberapa yogi menyembah para dewa yang sempurna dengan cara mengaturkan berbagai jenis korban suci kepada mereka, dan beberapa di antaranya mempersembahkan korban-korban suci dalam api Brahman yang paling utama.

Bhagavad-gita 4.26

4.26 Beberapa orang (para brahmacari yang tidak ternoda)mengorbankan proses mendengar dan indria-indria di dalam api pengendalian pikiran, dan orang lain (orang yang berumah tangga yang teratur) mengorbankan obyek-obyek indria ke dalam api indria-indria.

Bhagavad-gita 4.27

4.27 Orang lain, yang berminat mencapai keinsafan diri dengan cara mengendalikan pikiran dan indria-indria, mempersembahkan fungsi-fungsi semua indria, dan nafas kehidupan, sebagai persembahan ke dalam api pikiran yang terkendali.

Bhagavad-gita 4.28

4.28 Setelah bersumpah dengan tegas, beberapa di antara mereka dibebaskan dari kebodohan dengan cara mengorbankan harta bendanya, sedangkan orang lain dengan melakukan pertapaan yang keras, dengan berlatih yoga kebatinan terdiri dari delapan bagian, atau dengan mempelajari veda untuk maju dalam pengetahuan rohani.

Bhagavad-gita 4.29

4.29 Ada orang lain yang tertarik pada proses menahan nafas agar tetap dalam semadi. Mereka berlatih dengan mempersembahkan gerak nafas ke luar ke dalam nafas yang masuk, dan nafas yang masuk ke dalam nafas yang ke luar, dan dengan demikian akhirnya mereka mantap dalam semadi, dengan menghentikan nafas sama sekali. Orang lain membatasi proses makan, dan mempersembahkan nafas ke luar ke dalam nafas yang ke luar sebagai korban suci.

Bhagavad-gita 4.30

4.30 Semua pelaksanaan kegiatan tersebut yang mengetahui arti korban suci disucikan dari reaksi-reaksi dosa, dan sesudah merasakan rasa manis yang kekal hasil korban-korban suci, mereka maju menuju alam kekal yang paling utama.

Bhagavad-gita 4.31

4.31 Wahai yang paling baik dari keluarga besar Kuru, tanpa korban suci seseorang tidak pernah dapat hidup dengan bahagia baik di planet ini maupun dalam hidup ini; kalau demikian bagaimana tentang penjelmaan yang akan datang?

Bhagavad-gita 4.32

4.32 Segala jenis korban suci tersebut dibenarkan dalam veda, dan semuanya dilahirkan dari berbagai jenis pekerjaan. Dengan mengetahui jenis-jenis korban suci tersebut dengan cara seperti itu, engkau akan mencapai pembebasan.

Bhagavad-gita 4.33

4.33 Wahai penakluk musuh, korban suci yang dilakukan dengan pengetahuan lebih baik daripada hanya mengorbankan harta benda material. Wahai putera prtha, bagaimanapun, maka segala korban suci yang terdiri dari pekerjaan memuncak dalam pengetahuan rohani.

Bhagavad-gita 4.34

4.34 Cobalah mempelajari kebenaran dengan cara mendekati seorang guru kerohanian. Bertanya kepada beliau dengan tunduk hati dan mengabdikan diri kepada beliau. Orang yang sudah insaf akan dirinya dapat memberikan pengetahuan kepadamu karena mereka sudah melihat kebenaran itu.

Bhagavad-gita 4.35

4.35 Setelah memperoleh pengetahuan yang sejati dari orang yang sudah insaf akan dirinya, engkau tidak akan pernah jatuh ke dalam khayalan seperti ini, sebab dengan pengetahuan ini engkau dapat melihat bahwa semua makhluk hidup tidak lain daripada bagian Yang Mahakuasa, atau dengan kata lain, bahwa mereka milik-Ku.

Bhagavad-gita 4.36

4.36 Walaupun engkau dianggap sebagai orang yang paling berdosa di antara semua orang yang berdosa, namun apabila engkau berada di dalam kapal pengetahuan rohani, engkau akan dapat menyeberangi lautan kesengsaraan.

Bhagavad-gita 4.37

4.37 Seperti halnya api yang berkobar mengubah kayu bakar menjadi abu, begitu pula api pengetahuan membakar segala reaksi dari kegiatan material hingga menjadi abu, wahai Arjuna

Bhagavad-gita 4.38 .

4.38 Di dunia ini, tiada sesuatupun yang semulia dan sesuci pengetahuan yang melampaui hal-hal duniawi. Pengetahuan seperti itu adalah buah matang dari segala kebatinan. Orang yang sudah ahli dalam latihan bhakti menikmati pengetahuan ini dalam dirinya sesudah beberapa waktu.

Bhagavad-gita 4.39

4.39 Orang setia yang sudah menyerahkan diri kepada pengetahuan yang melampaui hal-hal duniawi dan menaklukkan indria-indrianya memenuhi syarat untuk mencapai pengetahuan seperti itu, dan setelah mencapai pengetahuan itu, dengan cepat sekali ia mencapai kedamaian rohani yang paling utama.

Bhagavad-gita 4.40

4.40 Tetapi orang yang bodoh dan tidak percaya yang ragu-ragu tentang kitab-kitab suci yang diwahyukan, tidak akan mencapai kesadaran terhadap Tuhan Yang Maha Esa; melainkan mereka jatuh. Tidak ada kebahagiaan bagi orang yang ragu-ragu, baik di dunia ini maupun dalam penjelmaan yang akan datang.

Bhagavad-gita 4.41

4.41 Orang yang bertindak dalam bhakti, dan melepaskan ikatan terhadap hasil perbuatannya, dan keragu-raguannya sudah dibinasakan oleh pengetahuan rohani sungguh-sungguh mantap dalam sang diri. Dengan demikian, ia tidak diikat oleh reaksi pekerjaan, wahai perebut kekayaan.

Bhagavad-gita 4.42

4.42 Karena itu, keragu-raguan yang telah timbul dalam hatimu karena kebodohan harus dipotong dengan senjata pengetahuan. Wahai Bharata, dengan bersenjatakan yoga, bangunlah dan bertempur.

BAB 5

KARMA-YOGA PERBUATAN DALAM KESADARAN KRISHNA

Bhagavad-gita 5.1

5.1 Arjuna berkata; O Krsna, pertama-tama Anda meminta supaya hamba melepaskan ikatan terhadap pekerjaan, kemudian sekali lagi Anda menganjurkan bekerja dengan bhakti. Sekarang mohon memberitahukan kepada hamba secara pasti yang mana di antara keduanya lebih bermanfaat?

Bhagavad-gita 5.2

5.2 Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa menjawab; Melepaskan ikatan terhadap pekerjaan dan bekerja dalam bhakti maka kedua-duanya bermanfaat untuk mencapai pembebasan. Tetapi diantara keduanya, pekerjaan dalam bhakti lebih baik daripada melepaskan ikatan terhadap pekerjaan.

Bhagavad-gita 5.3

5.3 Orang yang tidak membenci atau pun menginginkan hasil atau pahala dari kegiatannya dikenal sebagai orang yang selalu melepaskan ikatan. Orang seperti itu, yang bebas dari segala hal yang relatif, dengan mudah mengatasi ikatan material dan mencapai pembebasan sepenuhnya, wahai Arjuna yang berlengan perkasa.

Bhagavad-gita 5.4

5.4 Hanya orang yang bodoh membicarakan bhakti (karma yoga) sebagai hal yang berbeda dari mempelajari dunia material secara analisis (sankhya). Orang yang benar-benar bijaksana mengatakan bahwa orang yang menekuni salah satu di antara kedua jalan tersebut dengan baik akan mencapai hasil dari kedua-duanya.

Bhagavad-gita 5.5

5.5 orang yang mengetahui bahwa kedudukan yang dicapai dengan cara belajar secara analisis juga dapat dicapai dengan bhakti, dan karena itu melihat bahwa pelajaran analisis dan bhakti sejajar, melihat hal-hal dengan sebenarnya.

Bhagavad-gita 5.6

5.6 Kalau seseorang hanya melepaskan segala kegiatan namun tidak menekuni bhakti kepada Tuhan, itu tidak dapat membahagiakan dirinya. Tetapi orang yang banyak berpikir yang menekuni bhakti dapat mencapai kepada Yang Mahakuasa dengan segera, wahai yang berlengan perkasa.

Bhagavad-gita 5.7

5.7 Orang yang bekerja dalam bhakti, yang menjadi roh yang murni, yang mengendalikan pikiran dan indria-indria, dicintai oleh semua orang, dan diapun mencintai semua orang. Walaupun dia selalu bekerja, dia tidak pernah terikat.

Bhagavad-gita 5.8-9

5.8-9 Walaupun orang yang sadar secara rohani sibuk dapat melihat, mendengar, meraba, mencium, makan, bergerak ke sana ke mari, tidur dan tarik nafas, dia selalu menyadari di dalam hatinya bahwa sesungguhnya dia sama sekali tidak berbuat apa-apa. Ia mengetahui bahwa berbicara, membuang hajat, menerima sesuatu, membuka atau memejamkan mata, ia selalu mengetahui bahwa hanyalah indria-indria material yang sibuk dengan obyek-obyeknya dan bahwa dirinya menyisih dari indria-indria material tersebut.

Bhagavad-gita 5.10

5.10 Orang yang melakukan tugas kewajibannya tanpa ikatan, dengan menyerahkan hasil perbuatan kepada Tuhan Yang Maha Esa, tidak dipengaruhi oleh perbuatan yang tidak berdosa, ibarat daun bunga padma yang tidak disentuh oleh air.

Bhagavad-gita 5.11

5.11 Para yogi melepaskan ikatan, bertindak dengan badan, pikiran, kecerdasan dan bahkan dengan indria-indria pun hanya dimaksudkan untuk penyucian diri.

Bhagavad-gita 5.12

5.12 Orang yang berbhakti secara mantap mencapai kedamaian yang murni karena dia mempersembahkan hasil segala kegiatan kepada-Ku; sedangkan orang yang tidak bergabung dengan Yang Mahasuci, dan kelobaan untuk mendapat hasil dari pekerjaannya, menjadi terikat.

Bhagavad-gita 5.13

5.13 Apabila makhluk hidup yang membadan mengendalikan sifatnya dan secara mental melepaskan ikatan terhadap segala perbuatan, ia akan tinggal dengan bahagia di kota yang mempunyai sembilan pintu gerbang (badan jasmani), dan ia tidak bekerja ataupun menyebabkan pekerjaan dilakukan.

Bhagavad-gita 5.14

5.14 Sang roh di dalam badan, penguasa kota badannya, tidak menciptakan kegiatan, tidak menyebabkan orang bertindak ataupun menciptakan hasil perbuatan. Segala hal tersebut dilaksanakan oleh sifat-sifat alam material.

Bhagavad-gita 5.15

5.15 Tuhan Yang Maha Esa tidak mengambil kegiatan yang berdosa atau kegiatan saleh yang dilakukan oleh siapapun. Akan tetapi, makhluk yang berbadan dibingungkan karena kebodohan yang menutupi pengetahuan mereka yang sejati.

Bhagavad-gita 5.16

5.16 Akan tetapi, apabila seseorang dibebaskan dari kebodohan dengan pengetahuan yang membinasakan kebodohan, pengetahuannya mengungkapkan segala sesuatu, seperti matahari menerangi segala sesuatu pada waktu siang.

Bhagavad-gita 5.17

5.17 Apabila kecerdasan, pikiran, maupun kepercayaan dan tempat berlindung seseorang semua mantap dalam Yang Mahakuasa, dia disucikan sepenuhnya dari keragu-raguan mengetahui pengetahuan yang lengkap dan dengan demikian dia maju lurus menempuh jalan pembebasan.

Bhagavad-gita 5.18

5.18 Para resi yang rendah hati, berdasarkan pengetahuan yang sejati, melihat seorang brahmana yang bijaksana dan lemah lembut, seekor sapi, seekor gajah, seekor anjing dan orang yang makan anjing dengan penglihatan yang sama

Bhagavad-gita 5.19

5.19 Orang yang pikirannya telah mantap dalam persamaan dan kemerataan sikap, telah mengalahkan keadaan kelahiran dan kematian. Bagaikan Brahman mereka bebas dari kelemahan, dan karena itu mereka sudah mantap dalam Brahman.

Bhagavad-gita 5.20

5.20 Seseorang sudah mantap dalam kerohanian jika ia tidak merasa riang bila mendapatkan sesuatu yang menyenangkan ataupun menyesal bila ia mendapatkan sesuatu yang tidak menyenangkan, paham tentang dirinya sendiri, tidak dibingungkan, dan menguasai ilmu pengetahuan tentang Tuhan.

Bhagavad-gita 5.21

5.21 Orang yang sudah mencapai pembebasan seperti itu tidak tertarik kesenangan indria-indria material, melainkan dia selalu berada dalam semadi, dan menikmati kebahagiaan di dalam hatinya. Dengan cara demikian, orang yang sudah insaf akan dirinya menikmati kebahagiaan yang tidak terhingga, sebab ia memusatkan pikirannya kepada Yang Mahakuasa.

Bhagavad-gita 5.22

5.22 Orang cerdas tidak ikut serta dalam sumber-sumber kesengsaraan, yang disebabkan oleh hubungan dengan indria-indria material. Wahai putera Kunti, kesenangan seperti itu berawal dan berakhir, karena itu, orang bijaksana tidak bersenang hati dengan hal-hal itu.

Bhagavad-gita 5.23

5.23 Kalau seseorang dapat menahan dorongan indria-indria material dan menahan kekuatan keinginan dan amarah sebelum ia meninggalkan badan yang dimilikinya sekarang, maka kedudukannya baik dan ia berbahagia di dunia ini.

Bhagavad-gita 5.24

5.24 Orang yang berbahagia di dalam dirinya, giat dan riang di dalam dirinya, dan tujuannya di dalam dirinya, sungguh-sungguh ahli kebatinan yang sempurna. Dia mencapai pembebasan dalam Yang Mahakuasa, dan akhirnya dia mencapai kepada Yang Mahakuasa.

Bhagavad-gita 5.25

5.25 Orang yang berada di luar hal-hal yang relatif yang berasal dari keragu-raguan, dengan pikirannya tekun di dalam hati, selalu sibuk bekerja demi kesejahteraan semua makhluk hidup, dan bebas dari segala dosa, mencapai pembebasan Yang Mahakuasa.

Bhagavad-gita 5.26

5.26 Orang yang bebas dari amarah dan segala keinginan material, insaf akan diri, berdisiplin- diri dan senantiasa berusaha mencapai kesempurnaan, pasti akan mencapai pembebasan dalam Yang Mahakuasa dalam waktu yang dekat sekali.

Bhagavad-gita 5.27-28

5.27-28 Dengan menutup indria terhadap segala obyek indria dari luar, menjaga mata dan penglihatan dipusatkan antara kedua alis mata, menghentikan napas keluar dan masuk di dalam lobang hidung, dan dengan cara demikian mengendalikan pikiran, indria-indria dan kecerdasan, seorang rohaniwan yang bertujuan mencapai pembebasan menjadi bebas dari keinginan, rasa takut dan amarah. Orang yang selalu berada dalam keadaan demikian pasti mencapai pembebasan.

Bhagavad-gita 5.29

5.29 Orang yang sadar kepada-Ku sepenuhnya, karena ia mengenal Aku sebagai penerima utama segala korban suci dan pertapaan, Tuhan Yang Maha Esa penguasa semua planet dan dewa, dan penolong yang mengharapkan kesejahteraan semua makhluk hidup, akan mencapai kedamaian dari penderitaan kesengsaraan material.

BAB 6

DHYANA YOGA

Bhagavad-gita 6.1

6.1 Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa bersabda; orang yang tidak terikat pada hasil pekerjaan dan bekerja menurut tugas kewajibannya berada pada tingkatan hidup untuk meninggalkan hal-hal duniawi. Dialah ahli kebatinan yang sejati, bukanlah orang tidak pernah menyalakan api dan tidak melakukan pekerjaan apapun yang menjadi sannyasi dan yogi yang sejati.

Bhagavad-gita 6.2

6.2 Hendaknya engkau mengetahui bahwa apa yang disebut melepaskan ikatan sama dengan yoga atau mengadakan hubungan antara diri kita dengan Yang Mahakuasa, wahai putera Pandu, sebab seseorang tidak akan pernah dapat menjadi yogi kecuali ia melepaskan keinginan untuk memuaskan indria-indria.

Bhagavad-gita 6.3

6.3 Dikatakan bahwa pekerjaan adalah cara untuk orang yang baru mulai belajar sistem yoga yang terdiri dari delapan tahap, sedangkan menghentikan segala kegiatan material dikatakan sebagai cara untuk orang yang sudah maju dalam yoga.

Bhagavad-gita 6.4

6.4 Dikatakan bahwa seseorang sudah maju dalam yoga apabila dia tidak bertindak untuk kepuasan indria-indria atau menjadi sibuk dalam kegiatan untuk membuahkan hasil setelah meninggalkan segala keinginan material.

Bhagavad-gita 6.5

6.5 Seseorang harus menyelamatkan diri dengan bantuan pikirannya, dan tidak menyebabkan dirinya merosot. Pikiran adalah kawan bagi roh yang terikat, dan pikiran juga musuhnya.

Bhagavad-gita 6.6

6.6 Pikiran adalah kawan yang paling baik bagi orang yang sudah menaklukkan pikiranku; tetapi bagi orang yang gagal mengendalikan pikiran, maka pikirannya akan tetap sebagai musuh yang paling besar.

Bhagavad-gita 6.7

6.7 Orang yang sudah menaklukan pikiran sudah mencapai kepada Roh Yang Utama, sebab dia sudah mencapai ketenangan. Bagi orang seperti itu, suka dan duka, panas dan dingin, penghormatan dan penghinaan semua sama.

Bhagavad-gita 6.8

6.8 Dikatakan bahwa seseorang sudah mantap dalam keinsafan diri dan dia disebut seorang yogi (atau ahli kebatinan) apabila ia puas sepenuhnya atas dasar pengetahuan yang telah diperoleh dan keinsafan. Orang seperti itu mantap dalam kerohanian dan sudah mengendalikan diri. Dia melihat segala sesuatu- baik batu kerikil, batu maupun emas- sebagai hal yang sama.

Bhagavad-gita 6.9

6.9 Seseorang dianggap lebih maju lagi apabila dia memandang orang jujur yang mengharapkan kesejahteraan, penolong yang penuh kasih sayang, orang netral, perantara, orang iri, kawan dan musuh, orang saleh dan orang yang berdosa dengan sikap pikiran yang sama.

Bhagavad-gita 6.10

6.10 Seorang rohaniwan seharusnya selalu menjadikan badannya, pikiran dan dirinya tekun dalam hubungan dengan Yang Mahakuasa. Hendaknya dia hidup sendirian di tempat yang sunyi dan selalu mengendalikan pikirannya dengan hati-hati. Seharusnya dia bebas dari keinginan dan rasa memiliki sesuatu.

Bhagavad-gita 6.11-12

6.11-12 Untuk berlatih yoga, seseorang harus pergi ke tempat sunyi dan menaruh rumput kusa di atas tanah, kemudian menutupi rumput kusa itu dengan kulit rusa dan kain yang lunak. Tempat duduk itu hendaknya tidak terlalu tinggi ataupun terlalu rendah, dan sebaiknya terletak di tempat suci. Kemudian yogi harus duduk di atas tempat duduk itu dengan teguh sekali dan berlatih yoga untuk menyucikan hatinya dengan mengendalikan pikiran, indria-indria dan kegiatannya dan memusatkan pikiran pada satu titik.

Bhagavad-gita 6.13-14

6.13-14 Seseorang harus menjaga badan, leher dan kepalanya tegak dalam garis lurus dan memandang ujung hidung dengan mantap. Seperti itu, dengan pikiran yang tidak goyah dan sudah ditaklukkan, bebas dari rasa takut, bebas sepenuhnya dari hubungan suami-istri, hendaknya ia bersemadi kepada-Ku di dalam hati dan menjadikan Aku sebagai tujuan hidup yang tertinggi.

Bhagavad-gita 6.15

6.15 Dengan berlatih mengendalikan badan, pikiran dan kegiatan senantiasa seperti itu, seorang ahli kebatinan yang melampaui keduniawian dengan pikiran yang teratur mencapai kerajaan Tuhan (atau tempat tinggal krisna )dengan cara menghentikan kehidupan material.

Bhagavad-gita 6.16

6.16 Wahai Arjuna, tidak mungkin seseorang menjadi yogi kalau dia makan terlalu banyak , makan terlalu sedikit, tidur terlalu banyak atau tidak tidur secukupnya.

Bhagavad-gita 6.17

6.17 Orang yang teratur dalam kebiasaan makan, tidur, berekreasi, dan bekerja dapat menghilangkan segala rasa sakit material dengan berlatih sistem yoga.

Bhagavad-gita 6.18

6.18 Apabila seorang yogi mendisiplinkan kegiatan pikirannya dan menjadi mantap dalam kerohanian yang melampaui hal-hal duniawi-bebas dari segala keinginan material- dikatakan bahwa dia sudah mantap dengan baik dalam yoga.

Bhagavad-gita 6.19

6.19 Ibarat lampu di tempat yang tidak ada angin tidak bergoyang, seorang rohaniwan yang pikirannya terkendalikan selalu mantap dalam semadinya pada sang diri yang rohani dan melampaui hal-hal duniawi.

Bhagavad-gita 6.20-23

6.20-23 Pada tingkat kesempurnaan yang disebut semadi atau Samadhi, pikiran seseorang terkekang sepenuhnya dari kegiatan pikiran yang bersifat material melalui latihan yoga. Ciri kesempurnaan itu ialah bahwa seseorang sanggup melihat sang diri dengan pikiran yang murni ia menikmati dan riang dalam sang diri. Dalam keadaan riang itu, seseorang berada dalam kebahagiaan rohani yang tidak terhingga, yang diinsafi melalui indria-indria rohani. Setelah menjadi mantap seperti itu, seseorang tidak pernah menyimpang dari kebenaran, dan setelah mencapai kedudukan ini, dia berpikir tidak ada keuntungan yang lebih besar lagi. Kalau ia sudah mantap dalam kedudukan seperti itu, ia tidak pernah tergoyahkan, bahkan di tengah-tengah kesulitan yang paling besar sekali pun. Ini memang kebebasan yang sejati dari segala kesengsaraan yang berasal dari hubungan material.

Bhagavad-gita 6.24

6.24 Hendaknya seseorang menekuni latihan yoga dengan ketabahan hati dan keyakinan dan jangan disesatkan dari jalan itu. Hendaknya ia meninggalkan segala keinginan material yang dilahirkan dari angan-angan tanpa terkecuali, dan dengan demikian mengendalikan segala indria di segala sisi melalui pikiran.

Bhagavad-gita 6.25

6.25 Berangsur-angsur, selangkah demi selangkah, seseorang harus mantap dalam semadi dengan menggunakan kecerdasan yang diperkokoh oleh keyakinan penuh, dan dengan demikian pikiran harus dipusatkan hanya kepada sang diri dan tidak memikirkan sesuatu selain itu.

Bhagavad-gita 6.26

6.26 Dari manapun pikiran mengembara karena sifatnya yang berkedip-kedip dan tidak mantap, seseorang dengan pasti harus menarik pikirannya dan membawanya kembali di bawah pengendalian sang diri.

Bhagavad-gita 6.27

6.27 Seorang yogi yang pikirannya sudah dipusatkan pada-Ku pasti mencapai kesempurnaan tertinggi kebahagiaan rohani. Dia berada di atas pengaruh sifat nafsu, dia menginsafi persamaan sifat antara dirinya dan Yang Mahakuasa, dan dengan demikian dia di bebaskan dari segala reaksi perbuatan dari dahulu.

Bhagavad-gita 6.28

6.28 Dengan demikian, seorang yogi yang sudah mengendalikan diri dan senantiasa menekuni latihan yoga dibebaskan dari segala pengaruh material dan mencapai tingkat tertinggi kebahagiaan yang sempurna dalam cinta-bhakti rohani kepada Tuhan.

Bhagavad-gita 6.29

6.29 Seorang yogi yang sejati melihat Aku bersemayam di dalam semua makhluk hidup, dan dia juga melihat setiap makhluk hidup di dalam diri-Ku. Memang, orang yang sudah insaf akan dirinya melihat Aku, Tuhan Yang Maha Esa yang sama di mana-mana.

Bhagavad-gita 6.30

6.30 Aku tidak pernah hilang bagi orang yang melihat Aku di mana-mana dan melihat segala sesuatu berada di dalam diri-Ku dan diapun tidak pernah hilang bagi-Ku.

Bhagavad-gita 6.31

6.31 Seorang yogi seperti itu, yang menekuni pengabdian yang patut dihormati kepada Roh Yang Utama, dengan mengetahui bahwa Aku dan Roh Yang Utama adalah satu, selalu tetap di dalam diri-Ku dalam segala keadaan.

Bhagavad-gita 6.32

6.32 Orang yang melihat persamaan sejati semua makhluk hidup, baik yang dalam suka maupun dalam dukanya, menurut perbandingan dengan dirinya sendiri, adalah yogi yang sempurna, wahai Arjuna.

Bhagavad-gita 6.33

6.33 Arjuna berkata; o Madhusudana, sistem yoga yang sudah Anda ringkas kelihatannya kurang praktis dan hamba tidak tahan melaksanakannya, sebab pikiran gelisah dan tidak mantap.

Bhagavad-gita 6.34

6.34 Sebab pikiran gelisah, bergelora, keras dan kuat sekali, o Krsna, dan hamba pikir menaklukkan pikiran lebih sulit daripada mengendalikan angin.

Bhagavad-gita 6.35

6.35 Sri Krsna bersabda; Wahai putera Kunti yang berlengan perkasa, tentu saja sulit mengendalikan pikiran yang gelisah, tetapi hal ini dimungkinkan dengan latihan yang cocok dan ketidakterikatan.

Bhagavad-gita 6.36

6.36 Keinsafan diri adalah pekerjaan yang sulit bagi orang yang pikirannya tidak terkendali. Tetapi orang yang pikirannya terkendali yang berusaha dengan cara yang cocok terjamin akan mencapai sukses, itulah pendapat-Ku.

Bhagavad-gita 6.37

6.37 Arjuna berkata; o Krsna, bagaimana nasib seorang rohaniwan yang tidak mencapai sukses, yang mulai mengikuti proses keinsafan diri pada permulaan dengan kepercayaan, tetapi kemudian berhenti karena pikiran yang duniawi dan dengan demikian tidak mencapai kesempurnaan dalam kebatinan?

Bhagavad-gita 6.38

6.38 O Krsna yang berlengan perkasa, bukankah orang seperti itu yang telah dibingungkan hingga menyimpang dari jalan kerohanian jatuh dari sukses rohani maupun sukses material hingga dirinya musnah, bagaikan awan yang diobrak- abrik, tanpa kedudukan di lingkungan manapun?

Bhagavad-gita 6.39

6.39 Inilah keragu-raguan hamba, o Krsna, dan hamba memohon agar Anda menghilangkan keragu-raguan ini sepenuhnya. Selain Anda, tiada seorang pun yang dapat ditemukan untuk membinasakan keragu-raguan ini.

Bhagavad-gita 6.40

6.40 Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa bersabda; Putera Prtha, seorang rohaniwan yang sibuk dalam kegiatan yang mujur tidak mengalami kemusnahan baik di dunia ini maupun di dunia rohani; orang yang berbuat baik tidak pernah dikuasai oleh kejahatan, wahai kawan-Ku.

Bhagavad-gita 6.41

6.41 Sesudah seorang yogi yang tidak mencapai sukses menikmati selama bertahun-tahun di planet-planet makhluk yang saleh, ia dilahirkan dalam keluarga orang saleh atau dalam keluarga bangsawan yang kaya.

Bhagavad-gita 6.42

6.42 Atau (kalau dia belum mencapai sukses sesudah lama berlatih yoga) dia dilahirkan dalam keluarga rohaniwan yang pasti memiliki kebijaksanaan yang tinggi. Memang, jarang sekali seseorang dilahirkan dalam keadaan seperti itu di dunia ini.

Bhagavad-gita 6.43

6.43 Sesudah dilahirkan seperti itu, sekali lagi dia menghidupkan kesadaran suci dari penjelmaannya yang dahulu, dan dia berusaha maju lebih lanjut untuk mencapai sukses yang lengkap, wahai Putera Kuru.

Bhagavad-gita 6.44

6.44 Berkat kesadaran suci dari penjelmaan sebelumnya, dengan sendirinya dia tertarik kepada prinsip-prinsip yoga-kendati pun tanpa diupayakan. Seorang rohaniwan yang ingin menemukan jawaban seperti itu selalu berada di atas prinsip-prinsip ritual dari kitab suci.

Bhagavad-gita 6.45

6.45 Apabila seorang yogi tekun dengan usaha yang tulus ikhlas untuk maju lebih lanjut, dengan disucikan dari segala pencemaran, akhirnya ia mencapai kesempurnaan sesudah melatihnya selama banyak penjelmaan, dan ia mencapai tujuan tertinggi.

Bhagavad-gita 6.46

6.46 Seorang yogi lebih mulia daripada orang yang bertapa, lebih mulia daripada orang yang mempelajari filsafat berdasarkan percobaan dan lebih mulia daripada orang yang bekerja dengan maksud mendapatkan hasil atau pahala. Karena itu, dalam segala keadaan, jadilah seorang yogi, wahai Arjuna.

Bhagavad-gita 6.47

6.47 Di antara semua yogi, orang yang mempunyai keyakinan yang kuat dan selalu tinggal di dalam Diri-Ku, berpikir tentang-Aku di dalam dirinya, dan mengabdikan diri kepada-Ku dalam cinta bhakti rohani sudah bersatu dengan-Ku dalam yoga dengan cara yang paling dekat, dan dialah yang paling tinggi diantara semuanya. Itulah pendapat-Ku.

BAB 7

PENGETAHUAN TENTANG YANG MUTLAK

Bhagavad-gita 7.1

7.1 Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa bersabda; Wahai Putera Prtha, sekarang dengarlah bagaimana engkau dapat mengenal Diri-Ku sepenuhnya, bebas dari keragu-raguan, dengan cara mempraktekkan yoga dan menyadari Aku sepenuhnya, dengan pikiran terikat kepada-Ku.

Bhagavad-gita 7.2

7.2 Sekarang Aku akan menyatakan pengetahuan ini kepadamu secara keseluruhan, baik yang dapat dilihat maupun yang tidak dapat dilihat. Dengan menguasai pengetahuan ini, tidak akan ada hal lain lagi yang belum engkau ketahui.

Bhagavad-gita 7.3

7.3 Di antara beribu-ribu orang, mungkin ada satu yang berusaha untuk mencapai kesempurnaan, dan di antara mereka yang sudah mencapai kesempurnaan, hampir tidak ada satupun yang mengetahui tentang diri-Ku dengan sebenarnya.

Bhagavad-gita 7.4

7.4 Tanah, api, udara, angkasa, pikiran, kecerdasan, dan keakuan yang palsu-secara keseluruhan delapan unsur ini merupakan tenaga-tenaga material yang terpisah dari Diri-Ku.

Bhagavad-gita 7.5

7.5 Wahai Arjuna yang berlengan perkasa, di samping tenaga-tenaga tersebut, ada pula tenaga-Ku, yang lain yang bersifat utama, terdiri dari para makhluk hidup yang menggunakan sumber-sumber alam material yang rendah tersebut.

Bhagavad-gita 7.6

7.6 Semua makhluk yang diciptakan bersumber dari kedua alam tersebut. Ketahuilah dengan pasti bahwa Aku adalah sumber perwujudan dan peleburan segala sesuatu di dunia ini, baik yang bersifat material maupun yang bersifat rohani.

Bhagavad-gita 7.7

7.7 Wahai perebut kekayaan, tidak ada kebenaran yang lebih tinggi daripada-Ku. Segala sesuatu bersandar kepada-Ku, bagaikan mutiara diikat pada seutas tali.

Bhagavad-gita 7.8

7.8 Wahai putera Kunti ( Arjuna ), Aku adalah rasa air, cahaya matahari dan bulan, suku kata Om dalam mantra-mantra veda; Aku adalah suara di angkasa dan kesanggupan dalam manusia.

Bhagavad-gita 7.9

7.9 Aku adalah harum yang asli dari tanah, dan Aku adalah panas dalam api. Aku adalah nyawa segala sesuatu yang hidup, dan Aku adalah pertapaan semua orang yang bertapa.

Bhagavad-gita 7.10

7.10 Wahai putera Prtha, ketahuilah bahwa Aku adalah benih asli segala kehidupan, kecerdasan orang yang cerdas, dan kewibawaan orang yang perkasa.

Bhagavad-gita 7.11

7.11 Aku adalah kekuatan orang yang kuat, bebas dari nafsu dan keinginan. Aku adalah hubungan suami isteri yang tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip keagamaan, wahai prabhu dari keluarga Bharata (Arjuna ).

Bhagavad-gita 7.12

7.12 Ketahuilah bahwa segala keadaan hidup; baik kebaikan, nafsu maupun kebodohan-diwujudkan oleh tenaga-Ku. Menurut suatu pengertian, Aku adalah segala sesuatu, tetapi Aku bebas. Aku tidak berada di bawah pengaruh sifat-sifat alam material, sebaiknya sifat-sifat alam berada di dalam Diri-Ku.

Bhagavad-gita 7.13

7.13 Dikhayalkan oleh tiga sifat ( kebaikan, nafsu, dan kebodohan ), seluruh dunia tidak mengenal Diri-Ku, yang berada di atas sifat-sifat alam dan tidak dapat dimusnahkan.

Bhagavad-gita 7.14

7.14 Tenaga rohani-Ku, terdiri dari tiga sifat alam material, sulit diatasi. Tetapi orang yang sudah menyerahkan diri kepada-Ku dengan mudah sekali dapat menyeberang melampaui tenaga itu.

Bhagavad-gita 7.15

7.15 Orang jahat yang bodoh secara kasar, manusia yang paling rendah, yang kehilangan pengetahuannya akibat khayalan, dan yang ikut dalam sifat orang jahat yang tidak percaya kepada Tuhan tidak menyerahkan diri kepada-Ku.

Bhagavad-gita 7.16

7.16 o yang paling baik di antara para Bharata, empat jenis orang saleh mulai ber-bhakti kepada-Ku-orang yang berduka cita, orang yang menginginkan kekayaan, orang yang ingin tahu, dan orang yang mencari pengetahuan tentang yang mutlak.

Bhagavad-gita 7.17

7.17 Di antara orang tersebut, orang yang memiliki pengetahuan sepenuhnya dan selalu tekun dalam bhakti yang murni adalah yang paling baik. Sebab dia sangat mencintai-Ku dan Aku sangat mencintainya.

Bhagavad-gita 7.18

7.18 Semua penyembah tersebut tentu saja roh yang murah hati, tetapi orang yang mantap dalam pengetahuan tentang-Ku Aku anggap seperti Diri-Ku sendiri. Oleh karena dia tekun dalam bhakti rohani kepada-Ku, dia pasti mencapai kepada-Ku, tujuan tertinggi yang paling sempurna.

Bhagavad-gita 7.19

7.19 Sesudah dilahirkan dan meninggal berulang kali, orang yang sungguh-sungguh memiliki pengetahuan menyerahkan diri kepada-Ku, dengan mengenal-Ku sebagai sebab segala sebab dan segala sesuatu yang ada. Roh yang mulia seperti itu jarang sekali ditemukan.

Bhagavad-gita 7.20

7.20 Orang yang kecerdasannya sudah dicuri oleh keinginan duniawi menyerahkan diri kepada para dewa dan mengikuti aturan dan peraturan sembahyang tertentu menurut sifatnya masing-masing.

Bhagavad-gita 7.21

7.21 Aku bersemayam di dalam hati semua orang sebagai Roh Yang Utama. Begitu seseorang menyembah dewa tertentu, Aku menjadikan kepercayaannya mantap supaya ia dapat menyerahkan diri kepada dewa itu.

Bhagavad-gita 7.22

7.22 Setelah diberi kepercayaan seperti itu, dia berusaha menyembah dewa tertentu dan memperoleh apa yang diinginkannya. Tetapi sebenarnya hanya Aku sendiri yang menganugerahkan berkat-berkat itu.

Bhagavad-gita 7.23

7.23 Orang yang kurang cerdas menyembah para dewa, dan hasilnya terbatas dan sementara. Orang yang menyembah para dewa pergi ke planet-planet para dewa, tetapi para penyembah-Ku akhirnya mencapai planet-Ku yang paling tinggi.

Bhagavad-gita 7.24

7.24 Orang yang kurang cerdas, tidak mengenal Diri-Ku secara sempurna, menganggap bahwa dahulu Aku, kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, Krsna, tidak bersifat pribadi dan sekarang Aku sudah berwujud dalam kepribadian ini. Oleh karena pengetahuan mereka sangat kurang, mereka tidak mengenal sifat-Ku yang lebih tinggi, yang tidak dapat dimusnahkan dan bersifat Mahakuasa.

Bhagavad-gita 7.25

7.25 Aku tidak pernah terwujud kepada orang yang bodoh dan kurang cerdas. Bagi mereka, aku ditutupi oleh kekuatan dalam dari Diri- ku. Karena itu, mereka tidak mengetahui bahwa Aku tidak dilahirkan dan tidak pernah gagal.

Bhagavad-gita 7.26

7.26 Wahai Arjuna, sebagai kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, Aku mengetahui segala sesuatu yang terjadi pada masa lampau, segala sesuatu yang sedang terjadi sekarang, dan segala sesuatu yang akan terjadi pada masa yang akan datang. Aku juga mengenal semua makhluk hidup, namun tiada seorangpun yang mengenal Diri-Ku.

Bhagavad-gita 7.27

7.27 Wahai prabhu dari keluarga Bharata, wahai penakluk musuh, semua makhluk hidup dilahirkan ke dalam khayalan, dan dibingungkan oleh hal-hal relatif yang timbul dari keinginan dan rasa benci.

Bhagavad-gita 7.28

7.28 Orang yang sudah bertindak dengan cara yang saleh dalam penjelmaan-penjelmaan yang lalu dan dalam hidup ini dan dosanya sudah dihilangkan sepenuhnya, dibebaskan dari hal-hal relatif berupa khayalan, dan mereka menekuni bhakti kepada-Ku dengan ketabahan hati.

Bhagavad-gita 7.29

7.29 Orang cerdas yang sedang berusaha mencapai pembebasan dari usia tua dan kematian berlindung kepada-Ku dalam bhakti. Mereka sungguh-sungguh Brahman karena mereka mengetahui sepenuhnya segala sesuatu tentang kegiatan rohani yang melampaui hal-hal duniawi.

Bhagavad-gita 7.30

7.30 Orang yang sadar kepada-Ku sepenuhnya, yang mengenal Diri-Ku, Yang Mahakuasa, sebagai prinsip yang mengendalikan manifestasi material, para dewa dan segala cara korban suci, dapat mengerti dan mengenal Diri-Ku, kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, bahkan pada saat meninggal dunia sekalipun.

BAB 8

CARA MENCAPAI KEPADA YANG MAHAKUASA

Bhagavad-gita 8.1

8.1 Arjuna berkata; O Tuhan Yang Maha Esa, o kepribadian yang paling utama, apa arti Braman? Apa itu sang diri? Apa arti kegiatan untuk membuahkan hasil? Apa arti manifestasi material ini? Apa arti para dewa? Mohon menjelaskan hal-hal ini kepada hamba.

Bhagavad-gita 8.2

8.2 siapakah penguasa korban suci, dan bagaimana cara beliau bersemayam di dalam badan, wahai Madhusudana? Bagaimana cara orang yang tekun dalam bhakti dapat mengenal Anda pada saat meninggal?.

Bhagavad-gita 8.3

8.3 Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa bersabda; Makhluk hidup yang tidak dapat dimusnahkan dan bersifat rohani disebut Brahman, dan sifatnya yang kekal disebut adhyatma, atau sang diri. Perbuatan berhubungan dengan perkembangan badan-badan jasmani para mahluk hidup disebut karma atau kegiatan yang dimaksudkan untuk membuahkan hasil atau pahala.

Bhagavad-gita 8.4

8.4 wahai yang paling baik diantara para mahluk yang berada di dalam badan, alam, Yang berubah senantiasa, disebut adhibhuta(manifestasi material). Bentuk semesta tuhan, termasuk semua dewa, seperti dewa matahari dan dewa bulan, disebut adhidaiva. Aku, Tuhan Yang Maha Esa, yang berwujud sebagai Roh Yang Utama di dalam hati setiap makhluk yang berada di dalam badan, disebut adhiyajna (penguasa korban suci ).

Bhagavad-gita 8.5

8.5 Siapapun yang meninggalkan badannya pada saat ajalnya sambil ingat kepada-Ku, segera mencapai sifat-Ku. Kenyataan ini tidak dapat diragukan.

yaà yaà väpi smaran bhävaà

tyajaty ante kalevaram

taà tam evaiti kaunteya

sadä tad-bhäva-bhävitaù

Bhagavad-gita 8.6

8.6 Keadaan hidup manapun yang diingat seseorang pada saat ia meninggalkan badannya, pasti keadaan itulah yang akan dicapainya, wahai putera Kunti.

tasmät sarveñu käleñu

mäm anusmara yudhya ca

mayy arpita-mano-buddhir

mäm evaiñyasy asaàçayaù

Bhagavad-gita 8.7

8.7 Wahai Arjuna, karena itu, hendaknya engkau selalu berpikir tentang-Ku dalam bentuk Krsna dan pada waktu yang sama melaksanakan tugas kewajibanmu, yaitu bertempur. Dengan kegiatanmu dipersembahkan kepada-Ku pikiran dan kecerdasanmu dipusatkan kepada-Ku, tidak dapat diragukan bahwa engkau akan mencapai kepada-Ku.

Bhagavad-gita 8.8

8.8 Orang yang bersemadi kepada-Ku sebagai kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, dengan pikirannya senantiasa tekun ingat kepada-Ku, dan tidak pernah menyimpang dari jalan itu, dialah yang pasti mencapai kepada-Ku, wahai Partha.

Bhagavad-gita 8.9

8.9 Hendaknya seseorang bersemadi kepada kepribadian Yang Paling Utama sebagai yang Mahatahu. Yang paling tua, yang mengendalikan, lebih kecil daripada yang paling kecil, pemelihara segala sesuatu, yang berada di luar segala paham material, yang tidak dapat dibayangkan, dan selalu bersifat kepribadian. Beliau bercahaya seperti matahari, dan Beliau bersifat rohani, di luar alam material ini.

Bhagavad-gita 8.10

8.10 Pada saat meninggal, orang yang memusatkan udara kehidupannya di tengah-tengah antara kedua alis matanya dan tekun ingat kepada Tuhan Yang Maha Esa dalam bhakti sepenuhnya melalui kekuatan yoga, dengan pikiran yang tidak pernah menyimpang, pasti akan mencapai kepada kepribadian Tuhan Yang Maha Esa.

Bhagavad-gita 8.11

8.11 Orang yang berpengetahuan tentang veda, yang mengucapkan omkara dan menjadi resi-resi yang mulia pada tingkatan hidup untuk meninggalkan hal-hal duniawi masuk ke dalam Brahman. Jika seseorang menginginkan kesempurnaan seperti itu, ia berpantang hubungan suami istri. Sekarang Aku akan menjelaskan kepadamu secara singkat proses yang memungkinkan seseorang mencapai pembebasan.

Bhagavad-gita 8.12

8.12 Keadaan yoga ialah ketidakterikatan terhadap segala kesibukan indria-indria. Dengan menutup segala pintu indria-indria dan memusatkan pikiran pada jantung dan udara kehidupan pada ubun-ubun, seseorang menjadi mantap dalam yoga.

Bhagavad-gita 8.13

8.13 Sesudah seseorang mantap dalam latihan yoga ini dan mengucapkan suku kata suci Om, gabungan huruf yang paling utama, kalau dia berpikir tentang kepribadian Tuhan Yang Maha Esa dan meninggalkan badannya, pasti dia akan mencapai planet-planet rohani.

Bhagavad-gita 8.14

8.14 Wahai putera Prtha, Aku mudah sekali dicapai oleh orang yang selalu ingat kepada-Ku tanpa menyimpang sebab dia senantiasa tekun dalam bhakti.

Bhagavad-gita 8.15

8.15 Sesudah mencapai kepada-Ku, roh-roh yang mulia, yogi-yogi dalam bhakti, tidak pernah kembali ke dunia fana yang penuh kesengsaraan, sebab mereka sudah mencapai kesempurnaan tertinggi.

Bhagavad-gita 8.16

8.16 Dari planet tertinggi di dunia material sampai dengan planet yang paling rendah, semuanya tempat-tempat kesengsaraan, tempat kelahiran dan kematian dialami berulang kali. Tetapi orang yang mencapai tempat tinggal-Ku tidak akan pernah dilahirkan lagi, wahai putera Kunti.

Bhagavad-gita 8.17

8.17 Menurut perhitungan manusia, seribu jaman sama dengan kurun waktu satu hari bagi Brahma. Malam hari bagi Brahma sepanjang itu pula.

Bhagavad-gita 8.18

8.18 Pada awal satu hari bagi Brahma, semua makhluk hidup diwujudkan dari keadaan tidak terwujud. Sesudah itu, bila malam hari mulai, sekali lagi mereka terlebur ke dalam keadaan tidak berwujud.

Bhagavad-gita 8.19

8.19 Semua makhluk hidup terwujud berulangkali bila hari sudah siang bagi Brahma, lalu dengan mulainya malam hari bagi Brahma, mereka dilebur dalam keadaan tidak berdaya.

Bhagavad-gita 8.20

8.20 Namun ada alam lain yang tidak terwujud, kekal, dan melampaui alam ini yang terwujud dan tidak terwujud. Alam itu bersifat utama dan tidak pernah dibinasakan. Bila seluruh dunia ini dilebur, bagian itu tetap dalam kedudukannya.

Bhagavad-gita 8.21

8.21 Yang diuraikan sebagai yang tidak terwujud dan tidak pernah gagal oleh para ahli Vedanta, yang dikenal sebagai tujuan tetinggi, dan sesudah mencapai tempat itu, seseorang tidak kembali lagi- itulah tempat tinggal-Ku yang paling tinggi.

Bhagavad-gita 8.22

8.22 Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, yang lebih agung daripada semua kepribadian lainnya, dapat dicapai oleh bhakti yang murni. Walaupun Beliau berada di tempat tinggal-Nya, Beliau berada di mana-mana, dan segala sesuatu berada di dalam Diri-Nya.

Bhagavad-gita 8.23

8.23Wahai yang paling baik di antara para Bharata, sekarang Aku akan menjelaskan kepadamu tentang berbagai jenis waktu untuk meninggal dunia. Kalau seorang yogi meninggal dunia pada saat-saat tertentu itu, dia kembali atau tidak kembali ke dunia ini.

Bhagavad-gita 8.24

8.24 Orang yang mengenal Brahman Yang paling utama mencapai kepada Yang Mahakuasa dengan cara meninggal dunia selama pengaruh dewa api, dalam cahaya, pada saat suci pada waktu siang , selama dua minggu menjelang bulan purnama, atau selama enam bulan pada waktu matahari berjalan menuju utara.

Bhagavad-gita 8.25

8. 25 Seorang ahli kebatinan yang meninggal dunia selama masa asap, malam hari, selama dua minggu menjelang bulan mati, atau selama enam bulan pada waktu matahari berjalan menuju selatan akan mencapai planet bulan, tetapi dia akan kembali lagi.

Bhagavad-gita 8.26

8.26 Menurut pendapat veda, ada dua cara untuk meninggalkan dunia ini-yang satu dalam cahaya dan yang lain dalam kegelapan. Jika seseorang meninggal dunia dalam cahaya ia tidak akan kembali lagi; tetapi kalau ia meninggal dalam kegelapan, ia akan kembali lagi.

Bhagavad-gita 8.27

8.27 Kendatipun para penyembah mengenal dua jalan tersebut, mereka tidak pernah dibingunkan, wahai Arjuna. Karena itu, jadilah selalu mantap dalam bhakti.

Bhagavad-gita 8.28

8.28 Orang yang mulai mengikuti jalan bhakti tidak kekurangan hasil yang diperoleh dari mempelajari veda, melakukan korban suci dengan kesederhanaan dan pertapaan, memberi sumbangan atau mengikuti kegiatan di bidang filsafat atau kegiatan yang dimaksudkan untuk membuahkan hasil atau pahala. Hanya dengan melakukan bhakti, ia mencapai segala hasil tersebut, dan akhirnya ia mencapai tempat tinggal kekal yang paling utama.

BAB 9

PENGETAHUAN YANG PALING RAHASIA

Bhagavad-gita 9.1

9.1 Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa bersabda; Arjuna yang baik hati, oleh karena engkau tidak pernah iri hati kepada-Ku, Aku aka menyampaikan pengetahuan dan keinsafan yang paling rahasia ini kepadamu. Dengan mengenal pengetahuan rahasia dan keinsafan ini, engkau akan dibebaskan dari kesengsaraan kehidupan material.

Bhagavad-gita 9.2

9.2 Pengetahuan ini adalah raja pendidikan, yang paling rahasia diantara segala rahasia. Inilah pengetahuan yang paling murni, pengetahuan ini adalah kesempurnaan dharma, karena memungkinkan seseorang melihat sang diri secara langsung melalui keinsafan. Pengetahuan ini kekal dan dilaksanakan dengan riang.

Bhagavad-gita 9.3

9.3 Orang yang tidak yakin dan setia melaksanakan bhakti ini, tidak dapat mencapai kepada-Ku wahai penakluk musuh. Karena itu, mereka kembali ke jalan kelahiran dan kematian di dunia material.

Bhagavad-gita 9.4

9.4 Aku berada di mana-mana di seluruh alam semesta dalam bentuk-Ku yang tidak terwujud. Semua makhluk hidup berada dalam diri-Ku, tetapi Aku tidak berada di dalam mereka.

Bhagavad-gita 9.5

9.5 Namun segala sesuatu yang diciptakan tidak bersandar di dalam diri-Ku. Lihatlah kehebatan batin-Ku! Walaupun Aku memelihara semua makhluk hidup dan walaupun Aku berada di mana-mana, namun Aku bukan bagian dari manifestasi alam semesta ini, sebab Diri-Ku adalah asal mula ciptaan.

Bhagavad-gita 9.6

9.6 Mengertilah bahwa semua makhluk hidup yang diciptakan bersandar dalam Diri-Ku bagaikan angin besar yang tertiup di mana-mana selalu berada di angkasa.

Bhagavad-gita 9.7

9.7 Wahai putera Kunti, pada akhir jaman, semua manifestasi material masuk ke dalam tenaga-Ku, dan pada awal jaman lain, Aku menciptakannya sekali lagi dengan kekuatan-Ku.

Bhagavad-gita 9.8

9.8 Seluruh susunan alam semesta di bawah-Ku. Atas kehendak-Ku alam semesta dengan sendirinya diwujudkan berulang kali. Atas kehendak-Ku akhirnya alam semesta dileburkan.

Bhagavad-gita 9.9

9.9 Wahai Dhananjaya, segala pekerjaan ini tidak dapat mengikat Diri-Ku. Aku tetap tidak pernah terikat terhadap segala kegiatan material itu, dan Aku tetap netral.

Bhagavad-gita 9.10

9.10 Alam material ini, salah satu di antara tenaga-tenaga-Ku, bekerja di bawah perintah-Ku, dan menghasilkan semua makhluk baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak, wahai putera Kunti. Di bawah hukum-hukum alam material, manifestasi ini diciptakan dan dilebur berulang kali.

Bhagavad-gita 9.11

9.11 Orang bodoh mengejek diri-Ku bila Aku menurun dalam bentuk seperti manusia. Mereka tidak mengenal sifat rohani-Ku sebagai Tuhan Yang Maha Esa yang berkuasa atas segala sesuatu yang ada.

Bhagavad-gita 9.12

9.12 Orang yang dibingungkan seperti itu tertarik pada pandangan jahat dan pandangan yang tidak percaya kepada Tuhan. Dalam khayalan seperti itu, harapan mereka adalah untuk mencapai pembebasan, kegiatannya yang dimaksudkan untuk membuahkan hasil atau pahala, serta pengembangan pengetahuannya semua dikalahkan.

Bhagavad-gita 9.13

9.13 Wahai putera Prtha, orang yang tidak dikhayalkan, roh-roh yang mulia, di bawah perlindungan alam rohani. Mereka tekun sepenuhnya dalam bhakti karena mereka mengenal Diri-Ku sebagai kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, asal mula yang tidak dapat dimusnahkan.

Bhagavad-gita 9.14

9.14 Roh-roh yang mulia ini selalu memuji kebesaran-Ku, berusaha dengan ketabahan hati yang mantap, bersujud di hadapan-Ku, dan senantiasa sembahyang kepada-Ku dengan bhakti.

Bhagavad-gita 9.15

9.15 Orang lain, yang menekuni korban suci dengan mengembangkan pengetahuan, menyembah Tuhan Yang Maha Esa sebagai yang satu yang tiada duanya, sebagai yang mempunyai aneka sifat dalam banyak bentuk, dan dalam bentuk semesta.

Bhagavad-gita 9.16

9.16 Tetapi Akulah ritual, Akulah korban suci, persembahan kepada leluhur, ramuan yang menyembuhkan, dan mantera rohani. Aku adalah mentega, api dan apa yang dipersembahkan.

Bhagavad-gita 9.17

9.17 Akulah ayah alam semesta ini, ibu, penyangga dan kakek. Akulah obyek pengetahuan, yang menyucikan dan suku kata om. Aku juga Rg, Sama, dan Yajur veda.

Bhagavad-gita 9.18

9.18 Aku adalah tujuan, pemelihara, penguasa, saksi, tempat tinggal, pelindung, dan kawan yang paling tercinta. Aku adalah ciptaan dan peleburan, dasar segala sesuatu, sandaran dan benih yang kekal.

Bhagavad-gita 9.19

9.19 Wahai Arjuna, Aku memberi panas dan Aku menahan dan mengirim hujan. Aku adalah pembebasan dari kematian, dan Aku juga kepribadian maut. Baik yang bersifat rohani maupun material berada di dalam Diri-Ku.

Bhagavad-gita 9.20

9.20 Orang yang mempelajari veda dan minum air soma dalam usaha mencapai planet-planet surga, menyembah-Ku secara tidak langsung. Setelah mereka disucikan dari reaksi-reaksi dosa, mereka dilahirkan di planet indra yang saleh di surga. Di sana mereka menikmati kesenangan para dewa.

Bhagavad-gita 9.21

9.21 Bila mereka sudah menikmati kesenangan indria-indria yang luas di surga seperti itu dan hasil kegiatan salehnya sudah habis, mereka kembali lagi ke planet ini, tempat kematian. Jadi, orang yang mencari kenikmatan indria-indria dengan mengikuti prinsip-prinsip dari tiga veda hanya mencapai kelahiran dan kematian berulang kali.

Bhagavad-gita 9.22

9.22 Tetapi oaring yang selalu menyembah-Ku dengan bhakti tanpa tujuan yang lain dan bersemadi pada bentuk rohani-Ku – Aku bawakan apa yang dibutuhkannya, dan Aku memelihara apa yang dimilikinya.

Bhagavad-gita 9.23

9.23 Orang yang menjadi penyembah dewa-dewa lain dan menyembah dewa-dewa itu dengan kepercayaan sebenarnya hanya menyembah-Ku, tetapi mereka berbuat demikian dengan cara yang keliru, wahai putera Kunti.

Bhagavad-gita 9.24

9.24 Satu-satunya Aku yang menikmati dan menguasai semua korban suci. Karena itu, orang yang tidak mengakui sifat rohani-Ku yang sejati jatuh.

Bhagavad-gita 9.25

9.25 Orang yang menyembah dewa-dewa akan dilahirkan di antara para dewa, orang yang menyembah leluhur akan pergi ke leluhur, orang yang menyembah hantu dan roh halus akan dilahirkan di tengah-tengah makhluk-makhluk seperti itu, dan orang yang menyembah-Ku akan hidup bersama-Ku.

Bhagavad-gita 9.26

9.26 Kalau seseorang mempersembahkan daun, bunga, buah, atau air dengan cinta bhakti, Aku akan menerimanya.

Bhagavad-gita 9.27

9.27 Apapun yang engkau lakukan, apapun yang engkau makan, apapun yang engkau persembahkan atau berikan sebagai sumbangan serta pertapaan dan apapun yang engkau lakukan-lakukanlah kegiatan itu sebagai persembahan kepada-Ku, wahai putera Kunti.

Bhagavad-gita 9.28

9.28 Dengan cara seperti ini engkau akan dibebaskan dari ikatan terhadap pekerjaan serta hasil yang menguntungkan dan tidak menguntungkan dari pekerjaan itu. Dengan pikiran dipusatkan kepada-Ku dalam prinsip pelepasan ikatan ini, engkau akan mencapai pembebasan dan datang kepada-Ku.

Bhagavad-gita 9.29

9.29 Aku tidak iri kepada siapapun, dan Aku tidak berat sebelah kepada siapapun. Aku bersikap yang sama terhadap semuanya. Tetapi siapapun yang mengabdikan diri kepada-Ku dalam bhakti adalah kawan, dia berada di dalam Diri-Ku, dan Aku pun kawan baginya.

Bhagavad-gita 9.30

9.30 Meskipun seseorang melakukan perbuatan yang paling jijik, kalau ia tekun dalam bhakti, ia harus diakui sebagai orang suci karena ia mantap dalam ketabahan hatinya dengan cara yang benar.

Bhagavad-gita 9.31

9.31 Dalam waktu yang singkat ia menjadi saleh dan mencapai kedamaian yang abadi. Wahai putera Kunti, nyatakanlah dengan berani bahwa penyembah-Ku tidak akan pernah binasa.

Bhagavad-gita 9.32

9.32 Wahai putera Prtha, orang yang berlindung kepada-Ku, walaupun mereka dilahirkan dalam keadaan yang lebih rendah, atau wanita, vaisya [pedagang] dan sudra [buruh] semua dapat mencapai tujuan tertinggi.

Bhagavad-gita 9.33

9.33 Betapa lebih benar lagi kenyataan ini bagi para brahmana yang saleh, para penyembah dan raja-raja yang suci. Karena itu, sesudah datang ke dunia fana yang sengsara ini, tekunilah cinta-bhakti kepada-Ku.

Bhagavad-gita 9.34

9.34 Berpikirlah tentang-Ku senantiasa, jadilah penyembah-Ku, bersujud kepada-Ku dan menyembah-Ku. Dengan berpikir tentang-Ku sepenuhnya secara khusuk, pasti engkau akan datang kepada-Ku.

BAB 10

KEHEBATAN TUHAN YANG MUTLAK

Bhagavad-gita 10.1

10.1 Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa bersabda; Dengar sekali lagi, wahai Arjuna yang berlengan perkasa. Oleh karena engkau kawan-Ku yang tercinta, demi keuntunganmu Aku akan bersabda lebih lanjut kepadamu, dan memberikan pengetahuan yang lebih bagus daripada apa yang sudah Ku-jelaskan.

Bhagavad-gita 10.2

10.2 Baik para dewa maupun resi-resi yang mulia tidak mengenal asal mula maupun kehebatan-Ku, sebab, dalam segala hal, Aku adalah sumber dewa-dewa dan resi-resi.

Bhagavad-gita 10.3

10.3 Orang yang mengenal Aku sebagai yang tidak dilahirkan, sebagai yang tidak berawal, sebagai Tuhan Yang Maha Esa yang berkuasa atas semua dunia di kalangan manusia dia yang tidak berkhayal, dan hanya dialah yang dibebaskan dari segala dosa.

Bhagavad-gita 10.4-5

10.4-5 Kecerdasan, pengetahuan, kebebasan dari keragu-raguan dan khayalan, pengampunan, kejujuran, pengendalian indria-indria, pengendalian pikiran, kebahagiaan dan dukacita, kelahiran, kematian, rasa takut, kebebasan dari rasa takut, tidak melakukan kekerasan, keseimbangan sikap, kepuasan, kesederhanaan, kedermawanan, kemasyuran dan penghinaan berbagai sifat tersebut yang dimiliki oleh para makhluk hidup semua diciptakan oleh Aku sendiri.

Bhagavad-gita 10.6

10.6 Tujuh resi yang mulia, dan sebelum mereka empat resi lainnya serta para Manu [leluhur manusia], berasal dari-Ku. Mereka dilahirkan dari pikiran-Ku, dan semua makhluk hidup yang menghuni berbagai planet adalah keturunan dari mereka.

Bhagavad-gita 10.7

10.7 Orang yang sungguh-sungguh yakin tentang kehebatan dan kekuatan batin-Ku ini menekuni bhakti yang murni dan tidak dicampur dengan hal-hal lain; kenyataan ini tidak dapat diragukan.

Bhagavad-gita 10.8

10.8 Aku adalah sumber segala dunia rohani dan segala dunia material. Segala sesuatu berasal dari-Ku. Orang bijaksana yang mengetahui kenyataan ini secara sempurna menekuni bhakti kepada-Ku dan menyembah-Ku dengan sepenuh hatinya.

Bhagavad-gita 10.9

10.9 Para penyembah-Ku yang murni selalu khusuk berpikir tentang-Ku, kehidupannya dipersembahkan sepenuhnya untuk ber-bhakti kepada-Ku, dan mereka memperoleh kepuasan dan kebahagiaan yang besar dari kegiatan senantiasa memberikan penjelasan satu sama lain dan berbicara tentang-Ku.

Bhagavad-gita 10.10

10.10 Kepada mereka yang senantiasa setia ber-bhakti kepada-Ku dengan cinta kasih, Aku berikan pengertian yang memungkinkan mereka datang kepada-Ku.

Bhagavad-gita 10.11

10.11Untuk memperlihatkan karunia istimewa kepada mereka, Aku yang bersemayam di dalam hatinya, membinasakan kegelapan yang dilahirkan dari kebodohan dengan lampu pengetahuan yang cemerlang.

Bhagavad-gita 10.12-13

10.12-13 Arjuna berkata; Anda adalah Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, tempat tinggal tertinggi, Yang Mahasuci, Kebenaran Mutlak, Anda adalah yang Mahaabadi, yang rohani dan melampaui dunia ini, kepribadian yang asli dan tidak dilahirkan dan yang Mahabesar. Semua resi yang mulia seperti Narada, Asita, Devala, dan Vyasa membenarkan kenyataan ini tentang Anda, dan sekarang Anda sendiri menyatakan demikian kepada hamba.

Bhagavad-gita 10.14

10.14 O Krsna, hamba menerima sepenuhnya sebagai kebenaran segala sesuatu yang sudah Anda sampaikan kepada hamba. O Tuhan Yang Maha Esa, baik para dewa maupun para raksasa tidak dapat mengerti kepribadian Anda.

Bhagavad-gita 10.15

10.15 Memang , hanya Anda sendiri yang mengenal Diri Anda atas tenaga dalam milik Anda, o kepribadian yang paling Utama, Asal mula segala sesuatu, penguasa semua makhluk hidup, Tuhan yang disembah oleh para dewa, penguasa jagat!.

Bhagavad-gita 10.16

10.16 Anda berada di mana-mana di semua dunia ini melalui kehebatan rohani Anda, mohon memberitahukan kepada hamba secara terperinci tentang kehebatan-kehebatan rohani itu.

Bhagavad-gita 10.17

10.17 O Krsna, ahli kebatinan yang paling utama, bagaimana cara hamba dapat berpikir tentang Anda senantiasa, dan bagaimana cara hamba dapat mengenal Anda? Anda harus diingat dalam aneka bentuk yang bagaimana, o kepribadian Tuhan Yang Maha Esa?

Bhagavad-gita 10.18

10.18 O Janardana, mohon menguraikan sekali lagi secara terperinci kekuatan batin kehebatan Anda. Hamba tidak pernah kenyang mendengar tentang Anda, sebab makin hamba mendengar makin hamba ingin merasakan manisnya minuman kekekalan sabda Anda.

Bhagavad-gita 10.19

10.19 Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa bersabda; ya, Aku akan memberitahukan kepadamu tentang perwujudan-perwujudan- Ku yang mulia, tetapi hanya yang paling terkemuka, sebab kehebatan-Ku tidak terhingga, wahai Arjuna.

Bhagavad-gita 10.20

10.20 O Arjuna, Aku adalah Roh yang Utama yang bersemayam di dalam hati semua makhluk hidup. Aku adalah awal, pertengahan, dan akhir semua makhluk.

Bhagavad-gita 10.21

10.21 Di antara para Aditya Aku adalah Visnu, di antara sumber-sumber cahaya Aku adalah matahari yang cerah, di antara para Marut Aku adalah Marici, dan di antara bintang-bintang Aku adalah Bulan.

Bhagavad-gita 10.22

10.22 Di antara veda-veda Aku adalah Sama veda; di antara para dewa Aku adalah Indra, raja surga; di antara indria-indria Aku adalah pikiran, dan Aku adalah hidup [kesadaran] para makhluk hidup.

Bhagavad-gita 10.23

10.23 Di antara semua Rudra Aku adalah Dewa Siva, di antara para Yaksa dan raksasa Aku adalah dewa kekayaan[kuvera], di antara para vasu Aku adalah api[agni], dan di antara gunung-gunung Aku adalah Meru.

Bhagavad-gita 10.24

10.24 Wahai Arjuna, di antara semua pendeta, ketahuilah bahwa Aku adalah Brhaspati, pemimpinnya. Di antara para panglima Aku adalah Kartikeya, dan di antara sumber-sumber air Aku adalah lautan.

Bhagavad-gita 10.25

10.25 Di antara resi-resi yang mulia, Aku adalah Bhrgu; di antara getaran-getaran suara Aku adalah om yang bersifat rohani. Di antara korban-korban suci Aku adalah ucapan-ucapan nama-nama suci Tuhan[japa], dan di antara benda-benda yang bergerak Aku adalah pegunungan Himalaya.

Bhagavad-gita 10.26

10.26 Di antara semua pohon, Aku adalah pohon beringin. Di antara resi-resi di kalangan para dewa Aku adalah Narada. Di antara para Gandharva Aku adalah Citraratha, dan di antara makhluk-makhluk yang sempurna Aku adalah resi Kapila.

Bhagavad-gita 10.27

10.27 Ketahuilah bahwa di antara kuda-kuda Aku adalah Uccaihsrava, yang diciptakan pada waktu lautan dikocok untuk menghasilkan minuman kekekalan. Di antara gajah-gajah yang agung Aku adalah Airavata, dan di antara manusia Aku adalah raja.

Bhagavad-gita 10.28

10.28 Di antara senjata-senjata, Aku adalah petir; di antara sapi-sapi Aku adalah Surabhi. Di antara sebab-sebab orang berketurunan, aku adalah Kandarpa, dewa asmara, dan di antara ular-ular Aku adalah Vasuki.

Bhagavad-gita 10.29

10.29 Di antara para Naga yang berkepala banyak Aku adalah Ananta. Di antara para makhluk yang hidup di air Aku adalah dewa varuna. Di antara para leluhur yang sudah meninggal Aku adalah Aryama, dan di antara para pengatur hukum Aku adalah Yama, dewa kematian.

Bhagavad-gita 10.30

10.30 Di antara para raksasa Daitya Aku adalah Prahlada yang ber-bhakti dengan setia. Di antara para penakluk Aku adalah waktu, di antara para binatang Aku adalah singa, dan di antara para burung Aku adalah Garuda.

Bhagavad-gita 10.31

10.31 Di antara segala sesuatu yang menyucikan, Aku adalah angin, di antara para pembawa senjata Aku adalah Rama. Di antara ikan-ikan Aku adalah ikan hiu, dan di antara sungai-sungai yang mengalir Aku adalah sungai Gangga.

Bhagavad-gita 10.32

10 32 Di antara segala ciptaan Aku adalah permulaan, akhir dan juga pertengahan, wahai Arjuna. Di antara segala ilmu pengetahuan, Aku adalah ilmu pengetahuan rohani tentang sang diri, dan di antara para ahli logika, Aku adalah kebenaran sebagai kesimpulan.

Bhagavad-gita 10.33

10.33 Di antara semua huruf Aku adalah A. Di antara kata-kata majemuk, Aku adalah kata majemuk setara. Aku adalah waktu yang tidak dapat dimusnahkan, dan di antara para pencipta Aku adalah Brahma.

Bhagavad-gita 10.34

10.34 Aku adalah maut yang memakan segala sesuatu, dan Aku adalah prinsip yang menghasilkan segala sesuatu yang belum terjadi. Di kalangan kaum wanita, Aku adalah kemasyuran, keuntungan, bahasa yang halus, ingatan, kecerdasan, ketabahan dan kesabaran.

Bhagavad-gita 10.35

10.35 Di antara mantra-mantra dalam Sama veda Aku adalah Brhat-sama. Di antara sanjak-sanjak Aku adalah Gayatri. Di antara bulan-bulan Aku adalah Margasirsa[Nopember-Desember], dan di antara musim-musim Aku adalah musim semi, waktu bunga mekar.

Bhagavad-gita 10.36

10.36 Aku adalah perjudian kaum penipu, Aku adalah kemuliaan segala sesuatu yang mulia. Aku adalah kejayaan, Aku adalah petualangan dan Aku adalah kekuatan orang yang kuat.

Bhagavad-gita 10.37

10.37 Di antara keturunan vrsni, Aku adalah vasudeva. Di antara para pandava Aku adalah Arjuna. Di antara resi-resi Aku adalah vyasa, dan di antara para ahli pikir yang mulia Aku adalah Usana.

Bhagavad-gita 10.38

10.38 Di antara segala cara untuk melarang pelanggaran hukum, Aku adalah hukuman, dan di antara orang yang mencari kejayaan Aku adalah moralitas. Di antara segala hal yang rahasia Aku adalah sikap diam, dan Aku adalah kebijaksanaan orang bijaksana.

Bhagavad-gita 10.39

10.39 Wahai Arjuna, di samping itu Aku adalah benih yang menghasilkan segala kehidupan. Tiada satu makhlukpun-baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak- yang dapat hidup tanpa-Ku.

Bhagavad-gita 10.40

10.40 Wahai penakluk musuh yang agung, perwujudan-perwujudan rohani-Ku tidak ada batasnya. Apa yang telah kusabdakan kepadamu hanya sekedar petunjuk saja tentang kehebatan rohani-Ku yang tidak terhingga.

Bhagavad-gita 10.41

10.41 Ketahuilah bahwa segala ciptaan yang hebat, indah dan mulia hanya berasal dari segelintir kemuliaan-Ku.

Bhagavad-gita 10.42

10.42 Wahai Arjuna, mengapa segala pengetahuan yang terperinci ini diperlukan? Dengan satu bagian percikan saja dari Diri-Ku Aku berada di mana-mana dan menyangga seluruh alam semesta.

BAB 11

BENTUK SEMESTA

Bhagavad-gita 11.1

11.1 Arjuna berkata; Dengan mendengar wejangan tentang mata pelajaran yang paling rahasia ini yang sudah Anda berikan kepada hamba atas kemurahan hati Anda, khayalan hamba sekarang sudah dihilangkan.

Bhagavad-gita 11.2

11.2 O Krsna yang mempunyai mata seperti bunga padma, hamba sudah mendengar dari Anda secara terperinci tentang muncul dan menghilangnya setiap makhluk hidup dan hamba sudah menginsafi kebesaran Anda yang tidak pernah dibinasakan.

Bhagavad-gita 11.3

11.3 O kepribadian yang paling mulia, bentuk yang paling utama, walaupun hamba melihat Anda berdiri di sini di hadapan hamba dalam kedudukan Anda yang sejati, sesuai dengan uraian Anda tentang Diri Anda, hamba ingin melihat bagaimana Anda masuk dalam manifestasi alam semesta ini. Hamba ingin melihat bentuk Anda tersebut.

Bhagavad-gita 11.4

11.4 Kalau Anda berpikir hamba sanggup memandang bentuk semesta Anda, sudilah kiranya Anda memperlihatkan bentuk semesta Diri Anda yang tidak terhingga itu kepada hamba, o Tuhan yang hamba muliakan, penguasa segala kekuatan batin.

Bhagavad-gita 11.5

11.5 Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa bersabda; Wahai Arjuna yang baik hati, wahai putera prtha, sekarang lihatlah kehebatan-Ku, beratus-ratus ribu jenis bentuk rohani yang berwarna-warni.

Bhagavad-gita 11.6

11.6 Wahai yang paling baik di antara para Bharatha, lihatlah di sini berbagai perwujudan para Aditya, vasu, Rudra, Asvini-kumara dan semua dewa lainnya. Lihatlah banyak keajaiban yang belum pernah dilihat atau didengar oleh siapapun sebelumnya.

Bhagavad-gita 11.7

11.7 Wahai Arjuna apapun yang ingin engkau lihat, lihatlah dengan segera dalam badan-Ku ini! Bentuk semesta ini dapat memperlihatkan kepadamu apapun yang engkau ingin lihat sekarang dan apapun yang engkau ingin lihat pada masa yang akan datang. Segala sesuatu- baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak-berada di sini secara lengkap, di satu tempat.

Bhagavad-gita 11.8

11.8 Tetapi engkau tidak dapat melihat-Ku dengan mata yang engkau miliki sekarang. Karena itu, Aku memberikan mata rohani kepadamu. Lihatlah kehebatan batin-Ku.

Bhagavad-gita 11.9

11.9 Sanjaya berkata; Wahai paduka Raja, sesudah bersabda demikian, Tuhan Yang Mahakuasa, penguasa segala kekuatan batin, kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, memperlihatkan bentuk semesta-Nya kepada Arjuna.

Bhagavad-gita 11.10-11

11.10-11 Dalam bentuk semesta itu, Arjuna melihat mulut-mulut yang tidak terhingga, mata yang tidak terhingga, dan wahyu-wahyu ajaib yang tidak terhingga. Bentuk tersebut dihiasi dengan banyak perhiasan rohani dan membawa banyak senjata rohani yang diangkat. Beliau memakai kalung rangkaian bunga dan perhiasan rohani, dan banyak jenis minyak wangi rohani dioleskan pada seluruh badan-Nya. Semuanya ajaib, bercahaya, tidak terbatas dan tersebar kemana-mana.

Bhagavad-gita 11.12

11.12 Kalau beratus-ratus ribu matahari terbit di langit pada waktu yang sama, mungkin cahayanya menyerupai cahaya dari kepribadian yang paling utama dalam bentuk semesta itu.

Bhagavad-gita 11.13

11.13 Pada waktu itu, dalam bentuk semesta Tuhan, Arjuna dapat melihat perwujudan-perwujudan alam semesta yang tidak terhingga terletak di satu tempat walaupun dibagi menjadi beribu-ribu.

Bhagavad-gita 11.14

11.14 Kemudian Arjuna kebingungan dan kagum, dan bulu romanya tegak berdiri. Arjuna menundukkan kepalanya untuk bersujud, lalu mencakupkan tangannya dan mulai berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Bhagavad-gita 11.15

11.15 Arjuna berkata; Sri Krsna yang hamba muliakan, di dalam badan Anda hamba melihat semua dewa dan berbagai jenis makhluk hidup yang lain. Hamba melihat Brahma duduk di atas bunga padma, bersama Dewa Siva, semua resi dan naga-naga rohani.

Bhagavad-gita 11.16

11.16 O penguasa alam semesta, o bentuk semesta, di dalam badan Anda hamba melihat banyak lengan, perut, mulut dan mata, tersebar ke mana-mana, tanpa batas,. Hamba tidak dapat melihat akhir, pertengahan, maupun awal di dalam Diri Anda.

Bhagavad-gita 11.17

11.17 Bentuk Anda sulit dilihat karena cahaya-Nya yang menyilaukan, tersebar ke segala sisi, seperti api yang menyala atau cahaya matahari yang tidak dapat diukur. Namun hamba melihat bentuk ini yang bernyala di mana-mana dihiasi dengan berbagai jenis mahkota, gada, dan cakra.

Bhagavad-gita 11.18

11.18 Anda adalah tujuan pertama yang paling utama. Andalah sandaran utama seluruh jagat ini. Anda tidak dapat dimusnahkan, dan Andalah yang paling Tua. Andalah pemelihara dharma yang kekal, kepribadian Tuhan Yang Maha Esa. Inilah pendapat hamba.

Bhagavad-gita 11.19

11.19 Anda tidak berawal, tidak ada masa pertengahan bagi Anda dan Anda tidak berakhir. Kebesaran Anda tidak terhingga. Jumlah lengan Anda tidak terbilang. Matahari dan bulan adalah mata Anda. Hamba melihat Anda dengan api yang bernyala keluar dari mulut Anda. Anda sedang membakar seluruh jagat ini dengan cahaya pribadi Anda.

Bhagavad-gita 11.20

11.20 Walaupun Anda adalah satu, Anda berada di mana-mana di seluruh angkasa, planet-planet dan antariksa antar planet-planet. O kepribadian yang Mulia dengan melihat bentuk yang mengagumkan dan mengerikan ini, semua susunan planet goyah.

Bhagavad-gita 11.21

11.21 Semua kelompok dewa menyerahkan diri di hadapan Anda dan masuk ke dalam diri Anda. Beberapa di antaranya sangat ketakutan dan mereka mempersembahkan doa pujian sambil mencakupkan tangannya. Banyak resi yang mulia dan makhluk-makhluk yang sempurna yang sedang berseru, “semoga ada segala kedamaian!” sedang berdoa kepada Anda dengan menyanyikan mantra-mantra veda.

Bhagavad-gita 11.22

11.22 Segala manifestasi dari Dewa Siva, para Aditya, para vasu, para Sandya, para Visvedeva, dua Asvi, para Marut, para Leluhur, para Gandharva, para Yaksa, para Asura dan dewa-dewa yang sempurna memandang Anda dengan rasa kagum.

Bhagavad-gita 11.23

11.23 O kepribadian yang berlengan perkasa, semua planet dengan dewa-dewanya goyah ketika melihat bentuk Anda yang maha Agung, dengan banyak muka, mata, lengan, paha, kaki, dan perutnya, dan banyak gigi Anda yang mengerikan; karena itu, mereka goyah, dan hamba juga goyah.

Bhagavad-gita 11.24

11.24 O Visnu yang berada di mana-mana, ketika hamba melihat Anda dengan berbagai warna Anda yang bercahaya dan menyentuh langit, mulut-mulut Anda yang terbuka lebar dan mata Anda yang besar dan menyala, pikiran hamba goyah karena rasa takut. Hamba tidak dapat memelihara sikap mantap maupun keseimbangan pikiran lagi.

Bhagavad-gita 11.25

11.25 O penguasa para dewa, pelindung dunia-dunia, mohon memberi karunia kepada hamba. Hamba tidak dapat memelihara keseimbangan ketika melihat Anda seperti ini dengan wajah-wajah Anda yang menyala seperti maut dan gigi yang mengerikan. Di segala arah hamba kebingungan.

Bhagavad-gita 11.26-27

11.26-27 Semua putera Dhrtarastra, bersama raja-raja yang bersekutu dengan mereka, Bhisma, Drona, Karna dan – semua pemimpin kesatria di pihak kita – lari masuk ke dalam mulut-mulut Anda yang mengerikan. Hamba melihat beberapa di antaranya tersangkut dengan kepala-kepalanya hancur di antara gigi-gigi Anda.

Bhagavad-gita 11.28

11.28 Bagaikan ombak-ombak banyak sungai mengalir ke dalam lautan, seperti itu pula semua kesatria yang hebat ini menyala dan masuk ke dalam mulut-mulut Anda.

Bhagavad-gita 11.29

11.29 Hamba melihat semua orang lari dengan kecepatan penuh ke dalam mulut-mulut Anda, bagaikan kupu-kupu yang terbang menuju kehancuran di dalam api yang menyala.

Bhagavad-gita 11.30

11.30 O Visnu, hamba melihat Anda menelan semua orang dari segala sisi dengan mulut-mulut Anda yang mengeluarkan banyak api. Anda menutupi seluruh alam semesta dengan cahaya Anda, Anda terwujud dengan sinar-sinar yang mengerikan dan menganguskan.

Bhagavad-gita 11.31

11.31 O penguasa semua dewa, yang mempunyai bentuk yang begitu ganas, mohon beritahukan kepada hamba siapa Anda? Hamba bersujud kepada Anda; mohon memberi karunia kepada hamba. Anda adalah Tuhan Yang Maha Esa yang asli. Hamba ingin mengetahui tentang Anda, sebab hamba tidak mengetahui apa maksud Anda.

Bhagavad-gita 11.32

11.32 Tuhan Yang Maha Esa bersabda; Aku adalah waktu, penghancur besar dunia-dunia, dan Aku datang ke sini untuk menghancurkan semua orang. Kecuali kalian [para Pandava], semua kesatria di sini dari kedua belah pihak akan terbunuh.

Bhagavad-gita 11.33

11.33 Karena itu, bangunlah. Siap-siap untuk bertempur dan merebut kemasyuran. Kalahkanlah musuhmu dan menikmati kerajaan yang makmur. Mereka sudah dibunuh oleh apa yang telah Ku-atur, dan engkau hanya dapat menjadi alat dalam pertempuran, wahai Savyasaci.

Bhagavad-gita 11.34

11.34 Drona, Bhisma, Jayadratha, Karna, dan kesatria-kesatria besar lainnya sudah Ku-hancurkan. Karena itu, bunuhlah mereka dan jangan merasa goyah. Bertempur saja, dan engkau akan memusnahkan musuh-musuhmu dalam pertempuran.

Bhagavad-gita 11.35

11.35 Sanjaya berkata kepada Dhrtarastra; wahai Baginda Raja, sesudah mendengar kata-kata ini dari kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, Arjuna yang sedang gemetar menghaturkan sembah sujud berulang kali dengan mencakupkan tangannya. Hati Arjuna penuh rasa takut dan dia berkata kepada Sri Krsna dengan suara yang tersendat-sendat, sebagai berikut.

Bhagavad-gita 11.36

11.36 Arjuna berkata; O penguasa indria-indria, dunia menjadi riang dengan mendengar nama Anda, dan dengan demikian semua orang menjadi terikat kepada Anda. Kendatipun makhluk-makhluk sempurna bersujud kepada Anda dengan hormat, para raksasa ketakutan sehingga mereka lari ke sana ke mari. Segala hal ini memang patut terjadi.

Bhagavad-gita 11.37

11.37 O Yang Mahabesar, lebih tinggi daripada Brahma, Anda adalah pencipta yang asli. Karena itu, bukankah seyogyanya mereka bersujud dengan hormat kepada Anda? O kepribadian yang tidak terhingga, Tuhan yang disembah oleh semua dewa, pelindung alam semesta! Anda adalah sumber yang tidak dapat dikalahkan, sebab segala sebab, yang melampaui manifestasi alam material ini.

Bhagavad-gita 11.38

11.38 Anda adalah kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, yang paling tua, pelindung utama alam semesta yang terwujud. Andalah yang Mahatahu, dan Andalah segala sesuatu yang dapat diketahui. Andalah pelindung tertinggi, Anda berada di atas sifat-sifat material. O bentuk yang tidak terhingga Anda berada di mana-mana di seluruh manifestasi alam semesta ini!

Bhagavad-gita 11.39

11.39 Andalah udara, dan Andalah Yang Mahakuasa! Anda adalah api, Anda adalah air, dan Anda adalah bulan! Anda adalah Brahma, makhluk hidup yang pertama, Anda adalah kakek moyang semua makhluk. Karena itu hamba bersujud dengan hormat kepada Anda seribu kali, kemudian berulang kali lagi.

Bhagavad-gita 11.40

11. 40 Hamba bersujud kepada Anda dari depan, dari belakang dan dari segala sisi! O kekuatan yang tidak terbatas, Anda penguasa kewibawaan yang tidak terhingga! Anda berada di mana-mana, karena itu Andalah segala sesuatu!

Bhagavad-gita 11.41-42

11.41-42 Oleh karena hamba menganggap Anda sebagai kawan, hamba terlalu berani dan menyapa kepada Anda “hai krsna”, “hai yadava”, “hai kawanku,” tanpa mengetahui kebesaran Anda. Mohon mengampuni apapun yang sudah hamba lakukan karena kebodohan atau karena cinta kasih. Berulang kali hamba kurang hormat kepada Anda, bercanda pada waktu kita sedang istirahat, berbaring di ranjang yang sama, duduk atau makan bersama-sama kadang-kadang sendirian, dan kadang-kadang di depan banyak kawan. O kepribadian yang tidak pernah gagal, ampunilah segala kesalahan itu yang hamba lakukan.

Bhagavad-gita 11.43

11.43 Anda adalah ayah seluruh manifestasi alam semesta ini, baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak. Anda adalah pemimpin jagat yang patut disembah, guru kerohanian yang paling utama. Tiada seorang pun yang sejajar dengan Anda, dan tidak mungkin seseorang bersatu dengan Anda. Karena itu, bagaimana mungkin ada seseorang yang lebih agung daripada Anda di dalam seluruh tiga dunia ini, o penguasa yang memiliki kekuatan yang tidak terhingga.

Bhagavad-gita 11.44

11 44 Anda adalah Tuhan Yang Maha Esa yang patut disembah oleh setiap makhluk hidup. Karena itu, hamba bersujud dengan hormat kepada Anda dan mohon karunia Anda. Seperti halnya seorang ayah membiarkan keberanian puteranya, seorang kawan membiarkan sikap kurang sopan dari kawannya, atau seorang istri membiarkan sikap akrab suaminya, mohon memaafkan kesalahan yang mungkin hamba lakukan terhadap Anda.

Bhagavad-gita 11.45

11.45 Sesudah melihat bentuk semesta ini yang belum pernah hamba lihat sebelumnya, hamba goyah karena ketakutan. Karena itu, mohon memberi karunia Anda kepada hamba dan sekali lagi memperlihatkan bentuk Anda sebagai kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, o Tuhan yang disembah oleh semua dewa, pelindung alam semesta.

Bhagavad-gita 11.46

11.46. o bentuk semesta, Tuhan Yang Maha Esa yang berlengan seribu, hamba ingin melihat Anda dalam bentuk Anda yang berlengan empat, dengan mahkota pada kepala Anda dan gada, cakra, kerang, dan bunga padma pada tangan-tangan Anda. Hamba ingin melihat Anda dalam bentuk itu.

Bhagavad-gita 11.47

11.47 Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa bersabda; Arjuna yang baik hati, atas kekuatan dalam dari Diri-Ku, dengan senang hati bentuk semesta yang paling utama di dunia material sudah kuperlihatkan kepadamu. Sebelum engkau, belum pernah ada orang yang melihat bentuk yang abadi ini, yang tidak terhingga dan penuh cahaya yang menyilaukan.

Bhagavad-gita 11.48

11.48 Wahai kesatria kuru yang paling baik, sebelum engkau, belum pernah ada orang yang melihat bentuk semesta-Ku ini, sebab Aku tidak dapat dilihat dalam bentuk ini di dunia material. Baik melalui cara mempelajari veda, melakukan korban suci, kedermawanan, kegiatan saleh, maupun pertapaan yang keras.

Bhagavad-gita 11.49

11.49 Engkau sudah menjadi goyah dan bingung dengan melihat ciri-Ku yang mengerikan ini. Sekarang itu semua akan berakhir. Penyembah-Ku, sekarang engkau bebas lagi dari segala gangguan. Dengan pikiran yang tenang, sekarang engkau dapat melihat bentuk yang engkau inginkan.

Bhagavad-gita 11.50

11.50 Sanjaya berkata kepada Drtarastra; setelah kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, Krsna bersabda seperti itu kepada Arjuna, Beliau memperlihatkan bentuknya yang sejati yang berlengan empat, dan akhirnya memperlihatkan bentuknya yang berlengan dua. Dengan demikian, Beliau memberi semangat kepada Arjuna yang sedang ketakutan.

Bhagavad-gita 11.51

11.51 Ketika Arjuna melihat Krsna seperti itu dalam bentuk-Nya yang asli, dia berkata; o Janardana, dengan melihat bentuk ini yang seperti manusia dan sangat tampan, pikiran hamba sudah tenang, dan hamba kembali pada sifat hamba yang asli.

Bhagavad-gita 11.52

11.52 Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa bersabda; Arjuna yang baik hati, bentuk-Ku yang sedang engkau lihat sulit sekali dipandang. Para dewa pun senantiasa mencari kesempatan untuk melihat bentuk ini yang sangat tercinta.

Bhagavad-gita 11.53

11.53 Bentuk yang sedang engkau lihat dengan mata rohanimu tidak dapat dimengerti hanya dengan mempelajari veda, melakukan pertapaan yang serius, melalui kedermawanan maupun sembahyang. Bukan dengan cara-cara ini seseorang dapat melihat Aku dalam bentuk-Ku yang sebenarnya.

Bhagavad-gita 11.54

11.54 Arjuna yang baik hati, hanya melalui bhakti yang murni dan tidak dicampur dengan kegiatan yang lain Aku dapat dimengerti menurut kedudukan-Ku yang sebenarnya, yang sedang berdiri di hadapanmu, dan dengan demikian Aku dapat dilihat secara langsung. Hanya dengan cara inilah engkau dapat masuk ke dalam rahasia pengertian-Ku.

Bhagavad-gita 11.55

11.55 Arjuna yang baik hati, orang yang menekuni bhakti yang murni kepada-Ku, bebas dari pengaruh kegiatan yang dimaksudkan untuk membuahkan hasil atau pahala dan pengaruh angan-angan, yang bekerja demi-Ku, menjadikan Aku sebagai tujuan utama dalam hidupnya, dan ramah terhadap semua makhluk-dia pasti datang kepada-Ku.

BAB 12

PENGABDIAN SUCI BHAKTI

Bhagavad-gita 12.1

12.1 Arjuna bertanya; yang mana dianggap lebih sempurna; orang yang selalu tekun dalam bhakti kepada Anda dengan cara yang benar ataukah orang yang menyembah Brahman, yang tidak bersifat pribadi dan tidak terwujud?

Bhagavad-gita 12.2

12.2 Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa bersabda; Orang yang memusatkan pikirannya pada bentuk pribadi-Ku dan selalu tekun menyembah-Ku dengan keyakinan besar yang rohani dan melampaui hal-hal duniawi Aku anggap paling sempurna.

Bhagavad-gita 12.3-4

12.3-4 Tetapi orang yang sepenuhnya menyembah yang tidak terwujud , di luar jangkauan indria-indria, yang berada di mana-mana, tidak dapat dipahami, tidak pernah berubah, mantap dan tidak dapat dipindahkan-paham tentang kebenaran Mutlak yang tidak mengakui bentuk pribadi Tuhan-dengan mengendalikan indria-indria, bersikap yang sama terhadap semua orang, dan sibuk demi kesejahteraan semua orang, akhirnya mencapai kepada-Ku.

Bhagavad-gita 12.5

12.5 Orang yang pikirannya terikat pada aspek Yang Mahakuasa yang tidak berwujud dan tidak bersifat pribadi sulit sekali maju. Kemajuan dalam disiplin itu selalu sulit sekali bagi orang yang mempunyai badan.

Bhagavad-gita 12.6-7

12.6 -7 Tetapi orang yang menyembah-Ku, menyerahkan segala kegiatannya kepada-Ku, setia kepada-Ku tanpa menyimpang, tekun dalam pengabdian suci bhakti, selalu bersemadi kepada-Ku, dan sudah memusatkan pikirannya kepada-Ku- cepat Kuselamatkan dari lautan kelahiran dan kematian, wahai putera Prtha.

Bhagavad-gita 12.8

12.8 Pusatkanlah pikiranmu kepada-Ku, kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, dan gunakanlah segala kecerdasanmu dalam Diri-Ku. Dengan cara demikian, engkau akan selalu hidup di dalam Diri-Ku, tanpa keragu-raguan.

Bhagavad-gita 12.9

12.9 Arjuna yang baik hati, perebut kekayaan, kalau engkau tidak dapat memusatkan pikiranmu kepada-Ku tanpa menyimpang, ikutilah prinsip-prinsip yang mengatur bhakti-yoga. Dengan cara demikian, kembangkanlah keinginan untuk mencapai kepada-Ku.

Bhagavad-gita 12.10

12.10 Kalau engkau tidak sanggup mengikuti latihan aturan bhakti- yoga, cobalah bekerja untuk-Ku, sebab dengan bekerja untuk-Ku, engkau akan mencapai tingkat yang sempurna.

Bhagavad-gita 12.11

12.11 Akan tetapi, kalau engkau tidak sanggup bekerja sambil sadar kepada-Ku seperti ini, cobalah bertindak dengan melepaskan segala hasil dari pekerjaanmu dan berusaha menjadi mantap dalam diri sendiri.

Bhagavad-gita 12.12

12.12 Kalau engkau tidak sanggup mengikuti latihan tersebut, tekunilah pengembangan pengetahuan. Akan tetapi, semadi lebih baik daripada pengetahuan, dan melepaskan ikatan terhadap hasil perbuatan lebih baik daripada semadi, sebab dengan melepaskan ikatan seperti itu seseorang dapat mencapai kedamaian jiwa.

Bhagavad-gita 12.13-14

12.13-14 Orang yang tidak iri tetapi menjadi kawan baik bagi semua makhluk hidup, tidak menganggap dirinya pemilik, bebas dari keakuan palsu, bersikap sama baik dalam suka maupun duka, bersikap toleransi, selalu puas, mengendalikan diri, tekun dalam bhakti dengan ketabahan hati, dengan pikiran dan kecerdasannya dipusatkan kepada-Ku- penyembah-Ku yang seperti itu sangat Ku-cintai.

Bhagavad-gita 12.15

12.15 Aku sangat mencintai orang yang tidak menyebabkan siapapun dipersulit, tidak digoyahkan oleh siapapun dan bersikap yang sama, baik dalam suka, duka, rasa takut maupun kecemasan.

Bhagavad-gita 12.16

12.16 Aku sangat mencintai penyembah-Ku yang tidak bergantung pada jalan kegiatan yang biasa, yang suci, ahli. Bebas dari rasa prihatin, bebas dari segala dukacita, dan tidak berusaha memperoleh suatu hasil atau pahala.

Bhagavad-gita 12.17

12.17 Orang yang tidak bersenang hati atau bersedih hati, tidak menyesalkan atau menginginkan, dan melepaskan ikatan terhadap hal-hal yang menguntungkan dan tidak menguntungkan- seorang penyembah seperti itu sangat Ku- cintai.

Bhagavad-gita 12.18-19

12.18-19 Orang yang bersikap sama terhadap kawan dan musuh, seimbang dalam penghormatan dan penghinaan, panas dan dingin, suka dan duka, kemasyuran dan fitnah, selalu bebas dari pergaulan yang mencemarkan, selalu diam dan puas dengan segala sesuatu, yang tidak mempedulikan tempat tinggal apapun, mantap dalam pengetahuan dan tekun dalam bhakti-orang seperti itu sangat ku-cintai.

Bhagavad-gita 12.20

12.20 Aku sangat mencintai orang yang mengikuti jalan bhakti yang kekal ini, tekun sepenuhnya dengan keyakinan, dan menjadikan Aku sebagai tujuan tertinggi

BAB 13

ALAM, KEPRIBADIAN YANG MENIKMATI

DAN KESADARAN

Bhagavad-gita 13.1-2

13.1-2 Arjuna berkata; O Krsna yang hamba cintai, hamba ingin mengetahui tentang prakrti [alam] purusa [yang menikmati], lapangan dan yang mengenal lapangan, pengetahuan dan obyek pengetahuan.

Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa bersabda; wahai putera Kunti, badan ini disebut lapangan, dan yang mengetahui tentang badan ini disebut yang mengetahui lapangan.

Bhagavad-gita 13.3

13.3 Wahai putera keluarga Bharatha, engkau harus mengerti bahwa Aku juga yang mengetahui di dalam semua badan. Pengetahuan berarti mengerti badan ini dan dia yang mengetahui badan ini. Itulah pendapa-Ku.

Bhagavad-gita 13.4

13.4 Sekarang dengarlah uraian singkat dari-Ku tentang lapangan kegiatan ini serta bagaimana kedudukan dasar lapangan kegiatan, bagaimana perubahannya, darimana sumbernya, siapa yang mengetahui lapangan kegiatan, dan bagaimana pengaruh-pengaruhnya.

Bhagavad-gita 13.5

13.5 Pengetahuan itu tentang lapangan kegiatan dan dia yang mengetahui kegiatan diuraikan oleh berbagai sastera veda. Pengetahuan itu khususnya disampaikan dalam Vedanta-sutra dengan segala logika mengenai sebab dan akibat.

Bhagavad-gita 13.6-7

13.6-7 Lima unsur besar, keakuan palsu, kecerdasan, yang tidak terwujud, sepuluh indria dan pikiran, lima obyek indria, keinginan, rasa benci, kebahagiaan, dukacita, jumlah gabungan, gejala-gejala hidup, dan keyakinan-keyakinan – sebagai ringkasan, semua unsur tersebut merupakan lapangan kegiatan dan hal-hal yang Saling mempengaruhi dari lapangan kegiatan.

Bhagavad-gita 13.8-12

13.8 -12 Sifat rendah hati; kebebasan dari rasa bangga; tidak melakukan kekerasan; toleransi; kesederhanaan; mendekati seorang guru kerohanian yang dapat dipercaya; kebersihan; sifat mantap; pengendalian diri; melepaskan ikatan terhadap obyek-obyek kepuasan indria-indria; kebebasan dari keakuan palsu; mengerti buruknya kelahiran; kematian; usia tua dan penyakit; ketidakterikatan; kebebasan dari ikatan terhadap anak-anak; isteri; rumah dan sebagainya; keseimbangan pikiran di tengah-tengah kejadian yang menyenangkan dan yang tidak menyenangkan; bhakti kepada-Ku yang murni dan tidak pernah menyimpang; bercita-cita tinggal di tempat yang sunyi; ketidakterikatan terhadap khayalak ramai; mengakui bahwa keinsafan diri adalah hal yang penting; dan usaha mencari kebenaran mutlak dalam filsafat-Aku menyatakan bahwa segala sifat tersebut adalah pengetahuan, dan apa pun yang ada di luar sifat-sifat itu adalah kebodohan.

Bhagavad-gita 13.13

13.13 Sekarang Aku akan menjelaskan tentang apa yang dapat diketahui. Sesudah mengetahui tentang hal ini, engkau akan merasakan kekekalan, Brahman, sang roh, yang tidak berawal dan berada di bawah-Ku, berada di luar sebab dan akibat dunia material ini.

Bhagavad-gita 13.14

13. 14 Tangan, kaki, mata, kepala-kepala dan muka-muka Roh yang utama berada di mana-mana, dan Beliau mempunyai telinga di mana-mana. Roh yang utama berada dengan cara seperti ini, dan Beliau berada di dalam segala sesuatu.

Bhagavad-gita 13.15

13.15 Roh yang utama adalah sumber asli semua indria, namun Beliau tidak mempunyai indria material. Beliau tidak terikat, walaupun Beliau memelihara semua makhluk hidup. Beliau melampaui sifat-sifat alam, dan pada waktu yang sama Beliau adalah penguasa semua sifat alam material.

Bhagavad-gita 13.16

13.16 Kebenaran yang paling utama berada di luar dan di dalam semua makhluk hidup, baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak. Oleh karena Beliau bersifat halus, Beliau di luar daya lihat atau daya mengerti indria-indria material. Kendatipun Beliau jauh sekali, Beliau juga dekat kepada semua makhluk hidup.

Bhagavad-gita 13.17

13.17 Walaupun rupanya Roh Yang Utama dibagi antara semua makhluk, Beliau tidak pernah dibagi. Beliau mantap sebagai Yang Tunggal. Walaupun Beliau memelihara semua makhluk hidup, harus dimengerti bahwa Beliau menelan dan mengembangkan segala-galanya.

Bhagavad-gita 13.18

13.18 Beliau adalah sumber cahaya dalam semua benda yang bercahaya. Beliau di luar kegelapan alam dan tidak terwujud. Beliau adalah pengetahuan, Beliau adalah obyek pengetahuan, dan Beliau adalah tujuan pengetahuan. Beliau besemayam di dalam hati semua makhluk hidup.

Bhagavad-gita 13.19

13.19 Demikianlah lapangan kegiatan rohani [badan], pengetahuan dan apa yang dapat diketahui sudah kuuraikan sebagai ringkasan. Hanya para penyembah-Ku dapat mengerti hal ini secara panjang lebar dan dengan demikian mencapai sifat-Ku.

Bhagavad-gita 13.20

13.20 Harus dimengerti bahwa alam material dan para makhluk hidup tidak berawal. Perubahan-perubahan alam material, para makhluk hidup dan sifat-sifat alam dihasilkan dari alam material.

Bhagavad-gita 13.21

13.21 Dikatakan bahwa alam adalah penyebab segala sebab dan akibat material, sedangkan makhluk hidup adalah penyebab berbagai penderitaan dan kenikmatan di dunia ini.

Bhagavad-gita 13.22

13.22 Dengan cara seperti itu makhluk hidup di dalam alam material mengikuti cara-cara hidup, dan menikmati tiga sifat alam. Ini disebabkan oleh hubungan makhluk dengan alam material itu. Karena itu, ia menemukan hal yang baik dan hal yang buruk di dalam berbagai jenis kehidupan.

Bhagavad-gita 13.23

13.23 Namun di dalam badan ini ada kepribadian lain, kepribadian rohani yang menikmati, yaitu Tuhan Yang Maha Esa, pemilik segala sesuatu. Beliau berada sebagai pengawas dan yang mengizinkan dan Beliau dikenal sebagai Roh yang utama.

Bhagavad-gita 13.24

13.24 Orang yang mengerti filsafat tersebut mengenal alam material. Makhluk hidup dan hal saling mempengaruhi antara sifat-sifat alam pasti mencapai pembebasan. Dia tidak akan dilahirkan lagi di sini, walaupun bagaimanapun kedudukannya sekarang.

Bhagavad-gita 13.25

13. 25 Beberapa orang melihat Roh Yang Utama melihat di dalam dirinya melalui semadi, orang lain melihat melalui pengembangan pengetahuan, dan orang lain lagi melihat melalui cara bekerja tanpa keinginan untuk membuahkan hasil atau pahala.

Bhagavad-gita 13.26

13.26 Ada pula orang yang mulai menyembah kepribadian Tuhan Yang Maha Esa setelah mendengar tentang Beliau dari orang lain. Walaupun mereka sendiri belum menguasai pengetahuan rohani. Oleh karena mereka cenderung mendengar dari penguasa-penguasa, mereka pun melampaui jalan kelahiran dan kematian.

Bhagavad-gita 13.27

13.27 Wahai yang paling utama di antara para Bhrata, ketahuilah bahwa apa pun yang engkau lihat yang sudah diwujudkan, baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak, hanyalah gabungan antara lapangan kegiatan dan yang mengetahui lapangan.

Bhagavad-gita 13.28

13.28 Orang yang melihat Roh Yang Utama mendampingi roh individual di dalam semua badan, dan mengerti bahwa sang roh dan roh yang utama tidak pernah dimusnahkan di dalam badan yang dapat dimusnahkan, melihat dengan sebenarnya.

Bhagavad-gita 13.29

13.29 Orang yang melihat Roh Yang Utama berada di mana-mana dengan cara yang sama di dalam setiap makhluk hidup tidak menyebabkan dirinya merosot karena pikirannya. Dengan cara demikian ia mendekati tujuan rohani.

Bhagavad-gita 13.30

13 30 Orang yang dapat melihat bahwa segala kegiatan dilaksanakan oleh badan, yang diciptakan oleh alam material, dan melihat bahwa sang diri tidak melakukan apa pun, melihat dengan sebenarnya.

Bhagavad-gita 13.31

13.31 Bilamana orang yang mempunyai akal tidak melihat lagi berbagai identitas yang disebabkan oleh berbagai badan jasmani dan ia melihat bagaimana para makhluk hidup dijelmakan di mana-mana, ia mencapai paham Brahman.

Bhagavad-gita 13.32

13.32 Orang yang mempunyai penglihatan kekekalan dapat melihat bahwa sang roh yang tidak dimusnahkan bersifat rohani, kekal, dan di luar sifat-sifat alam. Wahai Arjuna, walaupun sang roh berhubungan dengan badan material, sang roh tidak berbuat apa-apa dan juga tidak diikat.

Bhagavad-gita 13.33

13.33 Oleh karena angkasa bersifat halus, angkasa tidak tercampur dengan apa pun, kendatipun angkasa berada di mana-mana. Begitu pula sang roh yang mantap dalam penglihatan Brahman tidak tercampur dengan badan, walaupun sang roh itu berada di dalam badan.

Bhagavad-gita 13.34

13 34 Wahai Bharata, seperti halnya matahari sendiri menerangi seluruh alam semesta ini, begitu pula makhluk hidup, tunggal di dalam badan, menerangi seluruh badan dengan kesadaran.

Bhagavad-gita 13.35

13.35 Orang yang melihat dengan mata pengetahuan perbedaan antara badan dan yang mengetahui badan, dan juga dapat mengerti proses pembebasan dari ikatan dalam alam material, mencapai Tujuan yang paling utama.

BAB 14

TIGA SIFAT ALAM MATERIAL

Bhagavad-gita 14.1

14 1 Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa bersabda; sekali lagi Aku akan bersabda kepadamu tentang kebijaksanaan yang paling utama ini, yang paling baik di antara segala pengetahuan. Setelah menguasai pengetahuan ini, semua resi sudah mencapai kesempurnaan yang paling tinggi.

Bhagavad-gita 14.2

14.2 Dengan menjadi mantap dalam pengetahuan ini, seseorang dapat mencapai sifat rohani seperti sifat-Ku sendiri. Setelah menjadi mantap seperti itu, ia tidak dilahirkan pada masa ciptaan atau pun digoyahkan pada masa peleburan.

Bhagavad-gita 14.3

14.3 Seluruh bahan material, yang disebut Brahman, adalah sumber kelahiran, dan Aku menyebabkan Brahman itu mengandung, yang memungkinkan kelahiran semua makhluk hidup, wahai putera Bharata.

Bhagavad-gita 14.4

14.4 Hendaknya dimengerti bahwa segala jenis kehidupan dimungkinkan oleh kelahiran di alam material ini, dan bahwa Akulah ayah yang memberi benih, wahai putera Kunti.

Bhagavad-gita 14.5

14.5 Alam material terdiri dari tiga sifat-kebaikan, nafsu, dan kebodohan. Bila makhluk hidup yang kekal berhubungan dengan alam, ia diikat oleh sifat-sifat tersebut, wahai Arjuna yang berlengan perkasa.

Bhagavad-gita 14.6

14.6 Wahai yang tidak berdosa, sifat kebaikan lebih murni daripada sifat-sifat yang lain,. Karena itu, sifat kebaikan memberi penerangan dan membebaskan seseorang dari segala reaksi dosa. Orang yang mantap dalam sifat itu diikat oleh rasa kebahagiaan dan pengetahuan.

Bhagavad-gita 14.7

14.7 Sifat nafsu dilahirkan dari keinginan dan hasrat yang tidak terhingga, wahai putera Kunti. Karena itu, makhluk hidup di dalam badan terikat terhadap perbuatan material yang dimaksudkan untuk membuahkan hasil atau pahala.

Bhagavad-gita 14.8

14.8 Wahai putera Bharata, ketahuilah bahwa sifat kegelapan, yang dilahirkan dari kebodohan, adalah khayalan bagi semua makhluk hidup yang mempunyai badan. Akibat sifat ini adalah kegoncangan jiwa, sifat malas dan kecenderungan untuk tidur, yang mengikat roh yang terikat.

Bhagavad-gita 14.9

14.9 Wahai putera Bharata, sifat kebaikan mengikat seseorang pada kebahagiaan; nafsu mengikat dirinya pada kegiatan yang dimaksudkan untuk membuahkan hasil atau pahala; dan kebodohan, yang menutupi pengetahuanya mengikat dirinya pada kegilaan.

Bhagavad-gita 14.10

14.10 Kadang-kadang sifat kebaikan menonjol, dan mengalahkan sifat nafsu dan kebodohan, wahai putera bharata. Kadang-kadang sifat nafsu mengalahkan sifat kebaikan dan kebodohan, dan pada waktu yang lain kebodohan mengalahkan kebaikan dan nafsu. Dengan cara demikian selalu ada persaingan untuk berkuasa.

Bhagavad-gita 14.11

14.11 Perwujudan-perwujudan sifat kebaikan dapat dialami bila pintu gerbang badan diterangi oleh pengetahuan.

Bhagavad-gita 14.12

14.12 Wahai yang paling utama di antara para putera keturunan Bharata, bila sifat nafsu meningkat, berkembanglah tanda-tanda ikatan yang besar, kegiatan yang dimaksudkan untuk membuahkan hasil atau pahala, usaha yang keras sekali, keinginan dan hasrat yang tidak dapat dikendalikan.

Bhagavad-gita 14.13

14.13 Bila sifat kebodohan meningkat, terwujudlah kegelapan, malas-malasan, keadaan gila dan khayalan, wahai putera kuru.

Bhagavad-gita 14.14

14.14 Bila seseorang meninggal dalam sifat kebaikan, ia mencapai planet-planet murni yang lebih tinggi, tempat tinggal para resi yang mulia.

Bhagavad-gita 14.15

14.15 Bila seseorang meninggal dalam sifat nafsu , ia dilahirkan di tengah-tengah mereka yang sibuk dalam kegiatan yang dimaksudkan untuk membuahkan hasil. Bila seseorang meninggal dalam sifat kebodohan, ia dilahirkan di kerajaan binatang.

Bhagavad-gita 14.16

14.16 Hasil perbuatan saleh bersifat murni dan dikatakan bersifat kebaikan. Tetapi perbuatan yang dilakukan dalam sifat nafsu mengakibatkan kesengsaraan, dan perbuatan yang dilakukan dalam sifat kebodohan mengakibatkan hal-hal yang bukan-bukan.

Bhagavad-gita 14.17

14.17 Pengetahuan yang sejati berkembang dari sifat yang sejati berkembang dari sifat kebaikan; loba berkembang dari sifat nafsu; dan kegiatan yang bukan-bukan, sifat gila dan khayalan berkembang dari sifat kebodohan.

Bhagavad-gita 14.18

14.18 Orang yang berada dalam sifat kebaikan berangsur-angsur naik sampai planet-planet yang lebih tinggi; orang yang berada dalam sifat nafsu hidup di planet-planet seperti bumi; orang yang berada dalam sifat kebodohan yang menjijikan turun memasuki dunia-dunia neraka.

Bhagavad-gita 14.19

14.19 Bila seseorang melihat dengan sebenarnya melihat bahwa dalam segala kegiatan tiada pelaku lain yang bekerja selain sifat-sifat alam tersebut dan ia mengenal Tuhan Yang Maha Esa, yang melampaui segala sifat tersebut, maka ia mencapai alam rohani-Ku.

Bhagavad-gita 14.20

14.20 Bila makhluk hidup di dalam badan dapat melampaui ke tiga sifat alam yang berhubungan dengan badan jasmani, ia dapat dibebaskan dari kelahiran, kematian, usia tua dan dukacitanya hingga ia dapat menikmati minuman kekekalan bahkan dalam kehidupan ini pun.

Bhagavad-gita 14.21

14.21 Arjuna berkata; O Tuhan yang hamba cintai, melalui tanda-tanda manakah kita dapat mengetahui orang yang melampaui tiga sifat alam tersebut? Bagaimana tingkah lakunya? Bagaimana cara melampaui sifat-sifat alam?

Bhagavad-gita 14.22-25

14.22 – 25 Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa bersabda; Wahai putera Pandu, orang yang tidak membenci penerangan, ikatan, dan khayalan bila hal-hal itu ada ataupun merindukannya bila hal-hal itu lenyap; yang tidak pernah gelisah atau goyah selama ia mengalami segala reaksi sifat-sifat alam material, tetap netral dan rohani, dengan mengetahui bahwa hanya sifat-sifat itulah yang bergerak; mantap dalam sang diri dan memandang suka dan duka dengan sikap sama; memandang segumpal tanah, sebuah batu dan sebatang emas dengan pandangan yang sama; bersikap yang sama terhadap yang diinginkan dan yang tidak diinginkan; mantap, bersikap yang sama baik terhadap pujian maupun tuduhan, penghormatan maupun penghinaan; yang memperlakukan kawan dan musuh dengan cara yang sama; dan sudah melepaskan ikatan terhadap segala kegiatan segala kegiatan material- orang seperti itulah dikatakan sudah melampaui sifat-sifat alam.

Bhagavad-gita 14.26

14.26 Orang yang menekuni bhakti sepenuhnya, dan tidak gagal dalam segala keadaan, segera melampaui sifat-sifat alam material, dan dengan demikian mencapai tingkat Brahman.

Bhagavad-gita 14.27

14.27 Aku adalah sandaran Brahman yang tidak bersifat pribadi, yang bersifat kekal, tidak pernah mati, tidak dapat dimusnahkan dan bersifat kekal, kedudukan dasar kebahagiaan yang paling tinggi.

BAB 15

YOGA BERHUBUNGAN DENGAN

KEPRIBADIAN YANG PALING UTAMA

Bhagavad-gita 15.1

15.1 Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa bersabda; Dikatakan bahwa ada pohon beringin yang tidak dapat dimusnahkan yang akarnya ke atas dan cabangnya ke bawah, dan daun-daunnya adalah mantra-mantra veda. Orang yang mengetahui tentang pohon ini mengetahui veda.

Bhagavad-gita 15.2

15.2 Cabang-cabang pohon tersebut menjulur ke bawah dan ke atas, dipelihara oleh tiga sifat alam material. Ranting-ranting adalah obyek-obyek indria. Pohon tersebut juga mempunyai akar yang turun ke bawah , dan akar-akar tersebut terikat pada perbuatan masyarakat manusia yang dimaksudkan untuk membuahkan hasil atau pahala.

Bhagavad-gita 15.3-4

15.3-4 Bentuk sejati pohon tersebut tidak dapat dipahami di dunia ini. Tidak ada orang yang dapat mengerti di mana pohon itu berakhir, di mana pohon itu mulai, atau di mana dasar pohon itu. Tetapi dengan ketabahan hati orang harus menebang pohon itu yang mempunyai akar yang kuat dengan memakai senjata ketidakterikatan. Kemudian, ia harus mencari suatu tempat sehingga setelah mencapai tempat itu, ia tidak akan pernah kembali lagi. Di tempat itu, ia harus menyerahkan diri kepada kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, asal mula segala sesuatu dan sumber perwujudan segala sesuatu sejak sebelum awal sejarah.

Bhagavad-gita 15.5

15. 5 Orang yang bebas dari kemasyuran palsu, khayalan dan pergaulan palsu, dan mengerti hal-hal yang kekal, sudah tidak mempunyai hubungan lagi dengan nafsu material, bebas dari hal-hal relatif berupa suka dan duka, tidak dibingungkan dan mengetahui bagaimana cara menyerahkan diri kepada kepribadian yang paling utama akan mencapai kerajaan yang kekal itu.

Bhagavad-gita 15.6

15.6 Tempat tinggal-Ku yang paling utama itu tidak diterangi oleh matahari, bulan, api maupun listrik. Orang yang mencapai tempat tinggal itu tidak pernah kembali lagi ke dunia material ini.

Bhagavad-gita 15.7

15.7 Para makhluk hidup di dunia yang terikat ini adalah bagian-bagian percikan yang kekal dari Diri-Ku. Oleh karena kehidupan yang terikat, mereka berjuang dengan keras sekali melawan enam indria, termasuk pikiran.

Bhagavad-gita 15.8

15.8 Makhluk hidup di dunia material membawa berbagai paham hidupnya dari satu badan ke badan yang lain seperti udara membawa berbagai bau. Dengan cara demikian ia menerima jenis badan tertentu, lalu sekali lagi meninggalkan badan itu untuk menerima badan lain.

Bhagavad-gita 15.9

15.9 Makhluk hidup, yang menerima badan kasar lain dengan cara seperti itu, memperoleh jenis telinga, mata, lidah, hidung, dan peraba tertentu tersusun di sekitar pikiran. Dengan demikian, ia menikmati pasangan obyek-obyek indria tetentu.

Bhagavad-gita 15.10

15.10 Orang bodoh tidak dapat mengerti bagaimana makhluk hidup dapat meninggalkan badannya, dan mereka tidak dapat mengerti jenis badan mana yang dinikmatinya di bawah pesona sifat-sifat alam. Tetapi orang yang matanya sudah terlatih dalam pengetahuan dapat melihat segala hal tersebut.

Bhagavad-gita 15.11

15.11 Para rohaniwan yang sedang berusaha, yang mantap dalam keinsafan diri, dapat melihat segala hal tersebut dengan jelas. Tetapi orang yang pikirannya belum berkembang dan belum mantap dalam keinsafan diri tidak dapat melihat apa yang sedang terjadi, meskipun mereka berusaha melihat.

Bhagavad-gita 15.12

15.12 Kemuliaan matahari, yang menghilangkan kegelapan seluruh dunia ini, berasal dari-Ku. Kemudian bulan dan kemuliaan api juga berasal dari-Ku.

Bhagavad-gita 15.13

15.13 Aku masuk ke dalam setiap planet, dan planet-planet itu tetap melintasi garis edarnya atas tenaga-Ku. Aku menjadi bulan dan dengan demikian menyediakan sari hidup kepada semua sayur.

Bhagavad-gita 15.14

15.14 Aku adalah api pencerna di dalam badan-badan semua makhluk hidup, dan Aku bergabung dengan udara kehidupan, yang keluar dan masuk, untuk mencernakan empat jenis makanan.

Bhagavad-gita 15.15

15.15 Aku bersemayam di dalam hati setiap makhluk, ingatan, pengetahuan, dan pelupaan berasal dari-Ku. Akulah yang harus diketahui dari segala veda; memang Akulah yang menyusun Vedanta, dan Akulah yang mengetahui veda.

Bhagavad-gita 15.16

15.16 Ada dua golongan makhluk hidup, yaitu yang dapat gagal dan yang tidak. Di dunia material semua makhluk hidup dapat gagal, dan di dunia rohani setiap makhluk hidup tidak pernah gagal.

Bhagavad-gita 15.17

15.17 Di samping dua golongan tersebut, ada kepribadian yang paling utama yang hidup, yaitu Roh Yang Paling Utama, Tuhan Yang Maha Esa sendiri yang tidak dapat dimusnahkan, yang sudah memasuki tiga dunia dan sedang memeliharanya.

Bhagavad-gita 15.18

15.18 Oleh karena Aku bersifat rohani, di luar yang dapat gagal dan yang tidak pernah gagal, dan oleh karena Aku adalah Yang Mahabesar, Aku dimuliakan, baik di dunia maupun dalam veda, sebagai kepribadian yang paling utama itu.

Bhagavad-gita 15.19

15.19 Siapa pun yang mengenal Aku sebagai kepribadian Tuhan Yang Maha Esa tanpa ragu-ragu, mengetahui segala sesuatu. Karena itu, ia sepenuhnya menekuni pengabdian suci bhakti kepada-Ku, wahai putera Bharata.

Bhagavad-gita 15.20

15.20 Inilah bagian yang paling rahasia dari kitab-kitab veda, wahai yang tidak berdosa, dan sekarang bagian itu kuungkapkan. Siapapun yang mengerti ini akan menjadi bijaksana, dan usaha-usahanya akan mencapai kesempurnaan.

BAB 16

SIFAT ROHANI DAN SIFAT JAHAT

Bhagavad-gita 16.1-3

16.1-3 Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa bersabda; kebebasan dari rasa takut; penyucian kehidupan; pengembangan pengetahuan rohani; kedermawanan; mengendalikan diri; pelaksanaan korban suci; mempelajari veda; pertapan; kesederhanaan; tidak melakukan kekerasan; kejujuran; kebasan dari amarah; pelepasan ikatan; ketenangan; tidak mencari-cari kesalahan; kasih sayang terhadap semua mahkluk hidup; pembebasan dari loba; sifat lembut; sifat malu; ketabahan hati yang mantap; kekuatan; mudah mengampuni; sifat ulet; kebersihan; kebebasan dari rasa iri dan gila hormat-sifat-sifat rohani tersebut dimiliki oleh orang suci yang diberkati dengan sifat rohani, wahai putera Bharata.

Bhagavad-gita 16.4

16.4 Sikap bangga, sikap sombong, sikap tak peduli, amarah, sikap kasar, dan kebodohan-sifat-sifat ini dimiliki oleh orang yang bersifat jahat, wahai putera prtha.

Bhagavad-gita 16.5

16.5 Sifat rohani menguntungkan untuk pembebasan, sedangkan sifat jahat mengakibatkan ikatan. Wahai putera pandu, jangan khawatir, sebab engkau dilahirkan dengan sifat-sifat suci.

Bhagavad-gita 16.6

16.6 Wahai putera prtha, di dunia ini ada dua jenis makhluk yang diciptakan. Yang satu disebut suci dan yang lain jahat. Aku sudah menerangkan sifat-sifat suci kepadamu secara panjang lebar. Sekarang dengarlah dari-Ku tentang sifat-sifat jahat.

Bhagavad-gita 16.7

16.7 Orang jahat tidak mengetahui apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak seharusnya. Kebersihan, tingkah laku yang pantas dan kebenaran tidak dapat ditemukan dalam diri mereka.

Bhagavad-gita 16.8

16.8 Mereka mengatakan bahwa dunia ini tidak nyata, tidak ada dasarnya dan tidak ada Tuhan yang mengendalikan. Mereka mengatakan bahwa dunia ini dihasilkan dari keinginan untuk hubungan kelamin, dan tidak ada sebabnya selain nafsu birahi.

Bhagavad-gita 16.9

16.9 Dengan mengikuti kesimpulan-kesimpulan seperti itu, orang-orang jahat, yang sudah kehilangan dirinya dan tidak memiliki kecerdasan sama sekali, menekuni pekerjaan yang tidak menguntungkan dan mengerikan dimaksudkan untuk menghancurkan dunia.

Bhagavad-gita 16.10

16.10 Dengan berlindung kepada hawa nafsu yang tidak dapat dipuaskan, terlena dalam rasa sombong dan kemasyuran yang palsu, orang jahat yang berkhayal seperti itu selalu bertekad melakukan pekerjaan yang tidak bersih, sebab mereka tertarik kepada hal-hal yang tidak kekal.

Bhagavad-gita 16.11-12

16.11-12 Mereka percaya bahwa memuaskan indria-indria adalah kebutuhan utama peradaban manusia. Karena itu, sampai akhir hidupnya, kecemasan mereka tidak dapat diukur. Mereka diikat oleh jaringan beratus-ratus ribu keinginan dan terikat dalam hawa nafsu dan amarah. Mereka mendapat uang untuk kepuasan indria-indria dengan cara-cara yang melanggar hukum.

Bhagavad-gita 16.13-15

16.13-15 Orang jahat berpikir; “Sekian banyak kekayaan kumiliki hari ini, dan aku akan memperoleh kekayaan lebih banyak lagi menurut rencana-Ku. Sekian banyak kumiliki sekarang, dan jumlah itu bertambah semakin banyak pada masa yang akan datang. Dia musuhku, dan dia sudah kubunuh, dan musuh-musuhku yang lain juga akan terbunuh. Akulah penguasa segala sesuatu. Akulah yang menikmati. Aku sempurna, perkasa dan bahagia. Aku manusia yang paling kaya, diiringi oleh keluarga yang bersifat bangsawan. Tiada seorang pun yang seperkasa dan sebahagian diriku. Aku akan melakukan korban suci, dan memberi sumbangan, dan dengan demikian aku akan menikmati” Dengan cara seperti inilah, mereka dikhayalkan oleh kebodohan.

Bhagavad-gita 16.16

16-16 Dibingungkan oleh berbagai kecemasan seperti itu dan diikat oleh jala khayalan, ikatan mereka terhadap kenikmatan indria-indria menjadi terlalu keras dan mereka jatuh ke dalam neraka.

Bhagavad-gita 16.17

16.17 Malas dalam diri sendiri dan selalu kurang sopan, berkhayal karena kekayaan dan penghormatan palsu, kadang-kadang mereka melakukan korban suci secara bangga hanya dalam nama saja, tanpa mengikuti aturan dan peraturan sama sekali.

Bhagavad-gita 16.18

16. 18 Orang jahat dibingungkan oleh keakuan palsu, kekuatan, rasa bangga, hawa nafsu dan amarah sehingga mereka menjadi iri terhadap kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, yang bersemayam di dalam badan mereka sendiri dan juga di dalam badan orang lain, dan mereka menghina dharma yang sejati.

Bhagavad-gita 16.19

16.19 Orang yang iri dan nakal, manusia yang paling rendah, untuk selamanya kubuang ke dalam lautan kehidupan material, di dalam berbagai jenis kehidupan yang jahat.

Bhagavad-gita 16.20

16.20 Setelah dilahirkan berulang kali di tengah-tengah jenis-jenis kehidupan yang jahat, orang seperti itu tidak pernah dapat mendekatiku, wahai putera Kunti. Berangsur-angsur mereka merosot hingga mencapai jenis kehidupan yang paling menjijikan.

Bhagavad-gita 16.21

16.21 Ada tiga pintu gerbang menuju neraka tersebut-hawa nafsu, amarah, dan loba. Setiap orang waras harus meninggalkan tiga sifat ini, sebab tiga sifat ini menyebabkan sang roh merosot.

Bhagavad-gita 16.22

16.22 Orang yang sudah bebas dari tiga gerbang neraka tersebut melakukan perbuatan yang menguntungkan untuk keinsafan diri dan dengan demikian berangsur-angsur ia mencapai tujuan yang paling utama, wahai putera Kunti.

Bhagavad-gita 16.23

16.23 Orang yang meninggalkan aturan kitab suci dan bertindak menurut kehendak sendiri tidak mencapai kesempurnaan, kebahagiaan maupun tujuan tertinggi.

Bhagavad-gita 16.24

16.24 Karena itu, seharusnya seseorang mengerti apa itu kewajiban dan apa yang bukan kewajiban menurut peraturan kitab suci. Dengan mengetahui aturan dan peraturan tersebut, hendaknya ia bertindak dengan cara supaya berangsu-angsur dirinya maju ke tingkat yang lebih tinggi.

BAB 17

GOLONGAN-GOLONGAN KEYAKINAN

Bhagavad-gita 17.1

17.1 Arjuna bertanya; o krsna, bagaimana kedudukan orang yang tidak mengikuti prinsip-prinsip kitab suci tetapi sembahyang menurut angan-angan sendiri? Apakah mereka berada dalam kebaikan, nafsu atau dalam kebodohan?

Bhagavad-gita 17.2

17.2 kepribadian Tuhan Yang Maha Esa bersabda; menurut sifat-sifat alam yang diperoleh oleh roh di dalam badan, ada tiga jenis kepercayaan yang dapat dimiliki seseorang-kepercayaan dalam kebaikan, dalam nafsu atau dalam kebodohan. Sekarang dengarlah tentang hal ini.

Bhagavad-gita 17.3

17.3 wahai putera Bharata, menurut kehidupan seseorang di bawah berbagai sifat alam, ia mengembangkan jenis kepercayaan tertentu. Dikatakan bahwa makhluk hidup memiliki kepercayaan tertentu menurut sifat-sifat yang telah diperolehnya.

Bhagavad-gita 17.4

17.4 Orang dalam sifat kebaikan menyembah para dewa; orang dalam sifat nafsu menyembah para raksasa atau orang jahat; dan orang yang berada dalam sifat kebodohan menyembah hantu-hantu dan roh-roh halus.

Bhagavad-gita 17.5-6

17.5-6 Orang yang menjalani pertapaan dan kesederhanaan yang keras yang tidak dianjurkan dalam kitab suci, dan melakukan kegiatan itu karena rasa bangga dan keakuan palsu didorong oleh nafsu dan ikatan, yang bersifat bodoh dan menyiksa unsur-unsur material di dalam badan dan Roh Yang Utama yang bersemayam di dalam badan, dikenal sebagai orang jahat.

Bhagavad-gita 17.7

17.7 Makanan yang paling disukai setiap orang juga terdiri dari tiga jenis, menurut tiga sifat alam material. Demikian pula korban suci, pertapaan dan kedermawanan. Sekarang dengarlah perbedaan antara hal-hal itu.

Bhagavad-gita 17.8

17.8 Makanan yang disukai oleh orang dalam sifat kebaikan memperpanjang usia hidup, menyucikan kehidupan dan memberi kekuatan, kesehatan, kebahagiaan dan kepuasan. Makanan tersebut penuh sari, berlemak, bergizi, dan menyenangkan hati.

Bhagavad-gita 17.9

17.9 Makanan yang terlalu pahit, terlalu asam, terlalu asin, panas sekali atau menyebabkan badan menjadi panas sekali, terlalu pedas, terlalu kering dan berisi terlalu banyak bumbu yang keras sekali disukai oleh orang dalam sifat nafsu. Makanan seperti itu menyebabkan dukacita, kesengsaraan dan penyakit.

Bhagavad-gita 17.10

17.10 Makanan yang dimasak lebih dari tiga jam sebelum dimakan, makanan yang hambar, basi dan busuk, dan makanan terdiri dari sisa makanan orang lain dan bahan-bahan haram disukai oleh orang dalam sifat kegelapan.

Bhagavad-gita 17.11

17.11 Di antara korban-korban suci, korban suci yang dilakukan menurut kitab suci, karena kewajiban, oleh orang yang tidak mengharapkan pamrih, adalah korban suci dalam sifat kebaikan.

Bhagavad-gita 17.12

17.12 Tetapi hendaknya engkau mengetahui bahwa korban suci yang dilakukan demi suatu keuntungan material, atau demi rasa bangga adalah korban suci yang bersifat nafsu, wahai yang paling utama di antara para Bharata.

Bhagavad-gita 17.13

17.13 Korban suci apa pun yang dilakukan tanpa mempedulikan petunjuk kitab suci, tanpa membagikan prasadam [makanan rohani], tanpa mengucapkan mantra-mantra veda, tanpa memberi sumbangan kepada para pendeta dan tanpa kepercayaan dianggap korban suci dalam sifat kebodohan.

Bhagavad-gita 17.14

17.14 Pertapaan jasmani terdiri dari sembahyang kepada Tuhan Yang Maha Esa, para brahmana, guru kerohanian dan atasan seperti ayah dan ibu, dan kebersihan, kesederhanaan, berpantang hubungan suami isteri dan tidak melakukan kekerasan.

Bhagavad-gita 17.15

17.15 Pertapaan suara terdiri dari mengeluarkan kata-kata yang jujur, menyenangkan, bermanfaat, dan tidak mengganggu orang lain, dan juga membacakan kesusastraan veda secara teratur.

Bhagavad-gita 17.16

17.16 Kepuasan, kesederhanaan, sikap yang serius, mengendalikan diri dan menyucikan kehidupan adalah pertapaan pikiran.

Bhagavad-gita 17.17

17.17 Tiga jenis pertapaan tersebut, yang dilakukan dengan keyakinan rohani oleh orang yang tidak mengharapkan keuntungan material tetapi tekun hanya demi Yang Mahakuasa, disebut pertapaan dalam sifat kebaikan.

Bhagavad-gita 17.18

17.18 Pertapaan yang dilakukan berdasarkan rasa bangga untuk memperoleh pujian, penghormatan dan pujaan disebut pertapaan dalam sifat nafsu. Pertapaan itu tidak mantap atau kekal.

Bhagavad-gita 17.19

17.19 Pertapaan yang dilakukan berdasarkan kebodohan, dan dengan menyiksa diri atau menghancurkan atau menyakiti orang lain dikatakan sebagai pertapaan dalam sifat kebodohan.

Bhagavad-gita 17.20

17.20 Kedermawanan yang diberikan karena kewajiban, tanpa mengharapkan pamrih, pada waktu dan tempat yang tepat, kepada orang yang patut menerimanya dianggap bersifat kebaikan.

Bhagavad-gita 17.21

17. 21 Tetapi sumbangan yang diberikan dengan mengharapkan pamrih, atau dengan keinginan untuk memperoleh hasil atau pahala, atau dengan rasa kesal, dikatakan sebagai kedermawanan dalam sifat nafsu.

Bhagavad-gita 17.22

17.22 Sumbangan-sumbangan yang diberikan di tempat yang tidak suci, pada waktu yang tidak suci, kepada orang yang tidak patut menerimanya, atau tanpa perhatian dan rasa hormat yang benar dikatakan sebagai sumbangan dalam sifat kebodohan.

Bhagavad-gita 17.23

17.23 Sejak awal ciptaan, tiga kata om tat sat digunakan untuk menunjukkan kebenaran Mutlak yang paling utama. Tiga lambang tersebut digunakan oleh para brahmana sambil mengucapkan mantra-mantra veda dan pada waktu mengaturkan korban suci untuk memuaskan yang Mahakuasa.

Bhagavad-gita 17.24

17.24 Karena itu, para rohaniwan yang melakukan korban suci, kedermawanan dan pertapaan menurut aturan kitab suci selalu mulai dengan ‘om’ untuk mencapai pada yang mahakuasa.

Bhagavad-gita 17.25

17.25 Tanpa menginginkan hasil atau pahala, hendaknya seseorang melakukan berbagai jenis korban suci, pertapaan dan kedermawanan dengan kata ‘tat’. Tujuan kegiatan rohani tersebut ialah untuk mencapai pembebasan dari ikatan material.

Bhagavad-gita 17.26-27

17.26-27 Kebenaran mutlak adalah tujuan korban suci bhakti. Kebenaran mutlak ditunjukkan dengan kata ’sat’. pelaksanaan korban suci seperti itu juga disebut ‘sat’. segala pekerjaan korban suci, pertapaan dan kedermawanan yang dilaksanakan untuk memuaskan kepribadian Tuhan Yang Maha Esa dan setia kepada sifat mutlak juga disebut ‘sat’. wahai putera prtha.

Bhagavad-gita 17.28

17.28 Apa pun yang dilakukan sebagai korban suci, kedermawanan maupun pertapaan tanpa keyakinan terhadap Yang Mahakuasa tidak bersifat kekal, wahai putera prtha. Kegiatan itu disebut ‘asat’ dan tidak berguna dalam hidup ini maupun dalam penjelmaan yang akan datang.

BAB 18

KESEMPURNAAN PELEPASAN IKATAN

Bhagavad-gita 18.1

18.1 Arjuna berkata; o yang berlengan perkasa, hamba ingin mengerti tujuan pelepasan ikatan [tyaga] dan tingkatan hidup pelepasan ikatan [sannyasa], wahai pembunuh raksasa Kesi, penguasa indria.

Bhagavad-gita 18.2

18.2 Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa bersabda; Meninggalkan kegiatan berdasarkan keinginan material disebut tingkatan hidup untuk pelepasan ikatan [sannyasa] oleh orang bijaksana yang mulia. Menyerahkan hasil segala kegiatan disebut pelepasan ikatan [tyaga] oleh orang bijaksana.

Bhagavad-gita 18.3

18.3 Beberapa orang bijaksana menyatakan bahwa segala jenis kegiatan yang dimaksudkan untuk membuahkan hasil atau pahala hendaknya ditinggalkan sebagai kegiatan yang salah, namun resi-resi lain yakin bahwa perbuatan korban suci, kedermawanan dan pertapaan hendaknya tidak pernah ditinggalkan.

Bhagavad-gita 18.4

18.4 Wahai yang paling baik di antara para Bharata, sekarang dengarlah keputusan-Ku tentang pelepasan ikatan. Wahai manusia yang sekuat harimau, dalam kitab suci dinyatakan bahwa ada tiga jenis pelepasan ikatan.

Bhagavad-gita 18.5

18.5 Perbuatan korban suci, kedermawanan dan pertapaan tidak boleh ditinggalkan; kegiatan itu harus dilakukan. Roh-roh yang mulia sekalipun disucikan oleh korban suci, kedermawanan dan pertapaan.

Bhagavad-gita 18.6

18.6 Segala kegiatan tersebut harus dilakukan tanpa ikatan maupun harapan untuk mendapat hasil. Kegiatan tersebut harus dilakukan sebagai kewajiban, wahai putera prtha. Itulah pendapat-Ku yang terakhir.

Bhagavad-gita 18.7

18.7 Tugas kewajiban hendaknya tidak pernah ditinggalkan. Kalau seseorang meninggalkan tugas kewajiban yang telah ditetapkan karena khayalan, dikatakan bahwa pelepasan ikatan seperti itu bersifat kebodohan.

Bhagavad-gita 18.8

18..8 Siapapun yang meninggalkan tugas kewajiban yang sudah ditetapkan karena terasa sulit atau karena takut pada hal-hal yang tidak menyenangkan badan dikatakan telah melepaskan ikatan dalam sifat nafsu. Perbuatan seperti itu tidak membawa seseorang sampai kemajuan pelepasan ikatan.

Bhagavad-gita 18.9

18.9 Wahai Arjuna, bila seseorang melakukan tugas kewajibannya yang telah ditetapkan hanya karena kewajiban itu patut dilakukan, dan melepaskan ikatan terhadap segala pergaulan duniawi dan segala ikatan terhadap hasil, maka pelepasan ikatannya bersifat kebaikan.

Bhagavad-gita 18.10

18.10 Orang cerdas yang melepaskan ikatan dan mantap dalam sifat kebaikan, yang tidak membenci pekerjaan yang tidak menguntungkan maupun terikat pada pekerjaan yang menguntungkan, tidak ragu-ragu sama sekali tentang pekerjaan.

Bhagavad-gita 18.11

18.11 Memang tidak mungkin makhluk di dalam badan meninggalkan segala kegiatan. Tetapi orang yang melepaskan ikatan terhadap hasil perbuatan disebut orang yang serius melepaskan ikatan.

Bhagavad-gita 18.12

18.12 Tiga hasil perbuatan-yang diinginkan, yang tidak diinginkan dan campuran-diberikan kepada orang yang belum melepaskan ikatan sesudah ia meninggal. tetapi tidak ada hasil seperti itu yang harus diderita atau dinikmati oleh orang yang berada pada tingkatan hidup untuk melepaskan ikatan.

Bhagavad-gita 18.13

18.13 Wahai Arjuna yang berlengan perkasa, menurut Vedanta, ada lima sebab untuk tercapainya segala perbuatan. Sekarang pelajarilah hal-hal ini dari-Ku.

Bhagavad-gita 18.14

18.14 Tempat perbuatan [badan], pelaku, berbagai indria, aneka jenis usaha, dan akhirnya Roh Yang Utama-inilah lima unsur perbuatan.

Bhagavad-gita 18.15

18.15 Perbuatan benar maupun salah manapun yang dilakukan seseorang dengan badan, pikiran maupun kata-kata disebabkan oleh lima unsur tersebut.

Bhagavad-gita 18.16

18.16 Karena itu, orang yang menganggap dirinya satu-satunya pelaku, tanpa mempertimbangkan lima unsur tersebut, tentu tidak begitu cerdas dan tidak dapat melihat hal-hal dengan sebenarnya.

Bhagavad-gita 18.17

18.17 Orang yang tidak digerakkan oleh keakuan palsu dan kecerdasannya tidak terikat, tidak membunuh, meskipun ia membunuh orang di dunia ini. Ia juga tidak diikat oleh perbuatannya.

Bhagavad-gita 18.18

18.18 Pengetahuan, obyek pengetahuan, dan dia yang mengetahui adalah tiga unsur yang menggerakkan perbuatan; indria; pekerjaan dan pelaku adalah tiga bahan perbuatan.

Bhagavad-gita 18.19

18.19 Menurut tiga sifat alam material yang berbeda, ada tiga jenis pengetahuan, perbuatan dan pelaku perbuatan. Sekarang dengarlah dari-Ku tentang hal-hal itu.

Bhagavad-gita 18.20

18.20 Pengetahuan yang memungkinkan alam rohani yang satu dan tidak dipisahkan dilihat di dalam semua makhluk hidup, meskipun mereka dipisahkan menjadi bentuk-bentuk yang jumlahnya tidak dapat dihitung, hendaknya engkau pahami sebagai pengetahuan dalam sifat kebaikan.

Bhagavad-gita 18.21

18.21 Pengetahuan yang menyebabkan seseorang melihat jenis makhluk hidup yang lain di dalam setiap badan hendaknya engkau pahami sebagai pengetahuan dalam sifat nafsu.

Bhagavad-gita 18.22

18.22 Pengetahuan yang menyebabkan seseorang terikat pada satu jenis pekerjaan sebagai segala-segalanya, tanpa pengetahuan tentang kebenaran, dan jumlahnya sedikit sekali, dikatakan sebagai pengetahuan dalam sifat kegelapan.

Bhagavad-gita 18.23

18.23 Perbuatan yang teratur dan dilakukan tanpa ikatan, tanpa cinta kasih maupun rasa benci dan tanpa keinginan untuk memperoleh hasil atau pahala dikatakan perbuatan dalam sifat kebaikan.

Bhagavad-gita 18.24

18.24 Tetapi perbuatan yang dilakukan dengan usaha yang keras oleh orang yang mencari kepuasan keinginannya, dan dilakukan berdasarkan rasa keakuan palsu, disebut perbuatan dalam sifat nafsu.

Bhagavad-gita 18.25

18.25 Perbuatan yang dilakukan dalam khayalan, tanpa mempedulikan aturan kitab suci, dan tanpa mempedulikan ikatan pada masa yang akan datang, kekerasan maupun dukacita yang diakibatkan terhadap orang lain disebut perbuatan dalam sifat kebodohan.

Bhagavad-gita 18.26

18.26 Orang yang melakukan tugas kewajiban tanpa pergaulan dengan sifat-sifat alam material, tanpa keakuan palsu, dengan ketabahan hati dan semangat yang besar, tanpa goyah baik dalam sukses maupun dalam kegagalan dikatakan sebagai orang yang bekerja dalam sifat kebaikan.

Bhagavad-gita 18.27

18.27 Pekerjaan yang terikat pada pekerjaan dan hasil atau pahala dari pekerjaan, yang ingin menikmati hasil-hasil itu, yang bersifat kelobaan, selalu iri, tidak suci dan digerakkan oleh rasa riang dan rasa sedih, dikatakan sebagai pekerjaan dalam sifat nafsu.

Bhagavad-gita 18.28

18.28 Pekerja yang selalu sibuk dalam pekerjaan yang bertentangan dengan aturan kitab suci, yang duniawi, keras kepala, menipu dan ahli menghina orang lain, malas, selalu murung dan menunda-nunda dikatakan sebagai pekerja dalam sifat kebodohan.

Bhagavad-gita 18.29

18.29 Wahai perebut kekayaan; sekarang dengarlah uraian terperinci yang akan Ku- sampaikan kepadamu tentang berbagai jenis pengertian dan ketabahan hati, menurut tiga sifat alam material.

Bhagavad-gita 18.30

18.30 Wahai putera prtha, pengertian yang memungkinkan seseorang mengetahui apa yang patut dilakukan dan apa yang seharusnya tidak dilakukan, apa yang harus ditakuti dan apa yang tidak perlu ditakuti, apa yang mengikat dan apa yang membebaskan, berada dalam sifat kebaikan.

Bhagavad-gita 18.31

18.31 Wahai putera prtha, pengertian yang tidak dapat membedakan antara dharma dan hal-hal yang bertentangan dengan dharma, antara perbuatan yang harus dilakukan dan perbuatan yang seharusnya tidak dilakukan, berada dalam sifat nafsu.

Bhagavad-gita 18.32

18.32 Pengertian yang menganggap hal-hal yang bertentangan dengan dharma sebagai dharma dan dharma sebagai hal-hal yang bertentangan dengan dharma, di bawah pesona khayalan dan kegelapan, dan selalu berusaha ke arah yang salah berada dalam sifat kebodohan, wahai putera prtha.

Bhagavad-gita 18.33

18.33 Wahai putera prtha, ketabahan hati yang tidak dapat dipatahkan, dipelihara dengan sifat teguh oleh latihan yoga, dan dengan demikian mengendalikan pikiran, kehidupan dan indria-indria adalah ketabahan hati dalam sifat kebaikan.

Bhagavad-gita 18.34

18.34 Tetapi hati yang tabah membuat seseorang berpegang teguh pada hasil atau pahala di bidang keagamaan, pengembangan ekonomi dan kepuasan indria-indria bersifat nafsu, wahai Arjuna.

Bhagavad-gita 18.35

18.35 Ketabahan hati yang tidak dapat melampaui impian, rasa takut, penyesalan, sifat murung dan khayalan-ketabahan hati yang kurang cerdas seperti itu bersifat kegelapan, wahai putera prtha.

Bhagavad-gita 18.36

18.36 Wahai yang paling baik di antara para Bharata, sekarang harap dengar dari-Ku tentang tiga jenis kebahagiaan yang dinikmati oleh roh yang terikat, yang kadang-kadang memungkinkan segala dukacita berakhir baginya.

Bhagavad-gita 18.37

18.37 Sesuatu yang pada permulaan barangkali seperti racun tetapi akhirnya seperti minuman kekekalan dan menyadarkan seseorang terhadap keinsafan diri dikatakan sebagai kebahagiaan dalam sifat kebaikan.

Bhagavad-gita 18.38

18. 38 Kebahagiaan yang didapatkan dari hubungan indria-indria dengan obyeknya dan kelihatannya seperti minuman kekekalan pada awal, tetapi akhirnya seperti racun ,dikatakan bersifat nafsu.

Bhagavad-gita 18.39

18.39 Kebahagiaan yang buta terhadap keinsafan diri, yang bersifat khayalan dari awal sampai akhir dan berasal dari tidur, bermalas-malasan dan khayalan dikatakan bersifat kebodohan.

Bhagavad-gita 18.40

18.40 Tiada makhluk yang hidup, baik di sini maupun di kalangan para dewa di susunan planet yang lebih tinggi, yang bebas dari tiga sifat tersebut yang dilahirkan dari alam material.

Bhagavad-gita 18.41

18.41 Para brahmana, para ksatria, para vaisya, dan para sudra dibedakan oleh ciri-ciri yang dilahirkan dari watak-watak mereka sendiri menurut sifat-sifat material, wahai penakluk musuh.

Bhagavad-gita 18.42

18.42 Kedamaian, mengendalikan diri, pertapaan, kesucian, toleransi, kejujuran, pengetahuan, kebijaksanaan dan taat pada prinsip keagamaan-para brahmana bekerja dengan sifat yang wajar ini.

Bhagavad-gita 18.43

18.43 Kepahlawanan, kewibawaan, ketabahan hati, pandai memanfaatkan keadaan, keberanian di medan perang , kedermawanan dan kepemimpinan adalah sifat-sifat pekerjaan yang wajar bagi para ksatriya.

Bhagavad-gita 18.44

18.44 Pertanian, melindungi sapi dan perdagangan adalah pekerjaan yang wajar bagi para vaisya, dan bagi para sudra ada pekerjaan buruh dan pengabdian kepada orang lain.

Bhagavad-gita 18.45

18.45 Dengan mengikuti sifat-sifat pekerjaannya, setiap orang dapat menjadi sempurna. Sekarang dengarlah dari-Ku bagaimana kesempurnaan ini dapat dicapai.

Bhagavad-gita 18.46

18.46 Dengan sembahyang kepada Tuhan, sumber semua makhluk, yang berada di mana-mana, seseorang dapat mencapai kesempurnaan dengan melakukan pekerjaan sendiri.

Bhagavad-gita 18.47

18.47 Lebih baik menekuni kewajiban sendiri, meskipun dilakukan secara kurang sempurna, daripada menerima kewajiban orang lain dan melakukan secara sempurna. Tugas kewajiban yang ditetapkan menurut sifat seseorang tidak pernah dipengaruhi oleh reaksi-reaksi dosa.

Bhagavad-gita 18.48

18.48 Setiap usaha ditutupi oleh sejenis kesalahan, seperti halnya api ditutupi oleh asap. Karena itu, hendaknya seseorang jangan meninggalkan pekerjaan yang dilahirkan dari sifat pribadinya, meskipun pekerjaan itu penuh kesalahan, wahai putera kunti.

Bhagavad-gita 18.49

18.49 Orang yang mengendalikan diri, tidak terikat, dan mengalpakan segala kenikmatan material dapat mencapai tingkat pembebasan dari reaksi yang paling tinggi dan sempurna dengan cara mempraktekkan pelepasan ikatan.

Bhagavad-gita 18.50

18.50 Wahai putera Kunti, pelajarilah dari-Ku bagaimana orang yang sudah mencapai kesempurnaan itu dapat mencapai tingkat kesempurnaan tertinggi, Brahman, tingkat pengetahuan tertinggi, dengan bertindak dengan cara yang akan kuringkas sekarang.

Bhagavad-gita 18.51-53

18.51-53 Orang yang disucikan oleh kecerdasannya dan mengendalikan pikiran dengan ketabahan hati, meninggalkan obyek-obyek kepuasan indria-indria, bebas dari ikatan dan rasa benci, tinggal di tempat sunyi, makan sedikit, mengendalikan badan, pikiran dan daya pembicaraan, yang selalu khusuk bersemadi dan bebas dari ikatan, bebas dari keakuan palsu, kekuatan palsu, rasa bangga yang palsu, amarah dan kecendrungan menerima benda-benda material, bebas dari rasa hak milik yang palsu, dan damai-orang seperti itulah pasti diangkat sampai kedudukan keinsafan diri.

Bhagavad-gita 18.54

18.54 Orang yang mantap secara rohani seperti itu segera menginsafi Brahman Yang Paling Utama dan menjadi riang sepenuhnya. Ia tidak pernah menyesal atau ingin mendapatkan sesuatu. Ia bersikap yang sama terhadap setiap makhluk hidup. Dalam keadaan itulah ia mencapai bhakti yang murni kepada-Ku.

Bhagavad-gita 18.55

18.55 Seseorang dapat mengerti tentang-Ku menurut kedudukan-Ku yang sebenarnya, sebagai kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, hanya dengan bhakti. Apabila ia sudah sadar akan Diri-Ku sepenuhnya melalui bhakti seperti itu, ia dapat masuk kerajaan Tuhan Yang Maha Esa.

Bhagavad-gita 18.56

18.56 Meskipun penyembah-Ku yang murni yang selalu di bawah perlindungan-Ku sibuk dalam segala jenis kegiatan, ia mencapai tempat tinggal yang kekal dan tidak dapat dimusnahkan atas karunia-Ku.

Bhagavad-gita 18.57

18.57 Dalam segala kegiatan, hanya bergantung kepada-Ku dan selalu bekerja di bawah perlindungan-Ku. Dalam bhakti seperti itu, sadarilah Aku sepenuhnya.

Bhagavad-gita 18.58

18.58 Kalau engkau sadar akan-Ku, engkau akan melewati segala rintangan kehidupan yang terikat atas karunia-ku. Akan tetapi, kalau engkau tidak bekerja dengan kesadaran seperti itu melainkan bertindak karena keakuan palsu, dan tidak mendengar-Ku, engkau akan hilang.

Bhagavad-gita 18.59

18.59 Kalau engkau tidak bertindak menurut perintah-ku dan tidak bertempur, maka engkau akan salah jalan. Menurut sifatmu, engkau akan diharuskan ikut berperang.

Bhagavad-gita 18.60

18.60 Akibat khayalan, engkau sekarang menolak bertindak menurut perintah-ku. Tetapi didorong oleh pekerjaan yang dilahirkan dari sifatmu sendiri, engkau akan bertindak juga, wahai putera kunti.

Bhagavad-gita 18.61

18.61 Tuhan Yang Maha Esa bersemayam di dalam hati semua orang, wahai Arjuna, dan Beliau mengarahkan pengembaraan semua makhluk hidup, yang duduk seolah-olah pada sebuah mesin terbuat dari tenaga material.

Bhagavad-gita 18.62

18.62 Wahai putera keluarga Bharata, serahkanlah dirimu kepada Beliau sepenuhnya. Atas karunia Beliau engkau akan mencapai kedamaian rohani dan tempat tinggal kekal yang paling utama.

Bhagavad-gita 18.63

18.63 Demikianlah Aku sudah menjelaskan pengetahuan yang lebih rahasia lagi kepadamu. Pertimbangkanlah hal-hal ini sepenuhnya, kemudian lakukanlah apa yang ingin kau lakukan.

Bhagavad-gita 18.64

18.64 Oleh karena engkau kawan-ku yang sangat ku-cintai, Aku akan menyabdakan perintah-ku yang paling utama kepadamu, yaitu pengetahuan yang paling rahasia dari segalanya. Dengarlah pelajaran ini dari-ku, sebab pelajaran itu demi kesejahteraanmu.

Bhagavad-gita 18.65

18.65 Berpikirlah tentang-ku senantiasa, menjadi penyembah-ku, bersembahyang kepada-ku dan bersujud kepada-ku. Dengan demikian, pasti engkau akan datang kepada-ku. Aku berjanji demikian kepadamu karena engkau kawan-ku yang sangat kucintai.

Bhagavad-gita 18.66

18.66 Tinggalkanlah segala jenis dharma dan hanya menyerahkan diri pada-ku. Aku akan menyelamatkan engkau dari segala reaksi dosa. Jangan takut.

Bhagavad-gita 18.67

18.67 Pengetahuan yang rahasia ini tidak pernah boleh dijelaskan kepada orang yang tidak bertapa, tidak setia, dan tidak menekuni bhakti-ataupun kepada orang yang iri kepada-ku.

Bhagavad-gita 18.68

18.68 Terjamin bahwa orang yang menjelaskan rahasia yang paling utama ini kepada para penyembah akan mencapai bhakti yang murni, dan akhirnya dia akan kembali kepada-ku.

Bhagavad-gita 18.69

18.69 Tidak ada hamba di dunia ini yang lebih ku-cintai daripada dia, dan tidak akan pernah ada orang yang lebih ku-cintai.

Bhagavad-gita 18.70

18.70 Aku memaklumkan bahwa orang yang mempelajari percakapan kita yang suci ini bersembahyang kepada-ku dengan kecerdasannya.

Bhagavad-gita 18.71

18.71 Orang yang mendengar dengan keyakinan tanpa rasa iri dibebaskan dari reaksi-reaksi dosa dan mencapai planet-planet yang menguntungkan, tempat tinggal orang saleh.

Bhagavad-gita 18.72

18.72 Wahai putera prtha, wahai perebut kekayaan, apakah engkau sudah mendengar hal-hal ini dengan perhatian? Apakah kebodohan dan khayalanmu sudah dihilangkan sekarang?

Bhagavad-gita 18.73

18.73 Arjuna berkata; Krsna yang hamba cintai, o yang tidak pernah gagal, khayalan hamba sekarang sudah hilang. Hamba sudah memperoleh kembali ingatan hamba atas karunia-Mu. Hamba sekarang teguh, bebas dari keragu-raguan dan bersedia bertindak menurut perintah Anda.

Bhagavad-gita 18.74

18.74 Sanjaya berkata; Demikianlah saya sudah mendengar percakapan antara dua roh yang mulia, Krsna dan Arjuna. Betapa ajaibnya amanat itu sehingga bulu romaku tegak berdiri.

Bhagavad-gita 18.75

18.75 Atas karunia vyasa, saya sudah mendengar pembicaraan yang paling rahasia ini langsung dari penguasa segala kebatinan, Krsna, yang sedang bersabda secara pribadi kepada Arjuna.

Bhagavad-gita 18.76

18.76 O Raja, begitu aku berulang kali mengenang percakapan yang ajaib dan suci ini antara Krsna dan Arjuna, aku senang, karena terharu pada setiap saat.

Bhagavad-gita 18.77

18.77 O Baginda Raja, begitu saya ingat bentuk Sri Krsna yang ajaib, saya semakin terharu, dan saya bahagia berulang kali.

Bhagavad-gita 18.78

18.78 Di manapun ada Krsna, penguasa semua ahli kebatinan, dan di manapun ada Arjuna , pemanah yang paling utama, di sana pasti ada kekayaan, kejayaan, kekuatan luar biasa dan moralitas. Itulah pendapat saya.

BIOGRAFI I MADE YUDA ASMARA —
Pendidikan Sebagai Proses Pemanusiaan Manusia — July 27, 2015

Pendidikan Sebagai Proses Pemanusiaan Manusia

UJIAN TAKE HOME

TAHUN AKADEMIK 2014-2015

 

Nama                          : I Made Yuda Asmara, S.Pd.H.

Nim                             : 14.1.2.5.2.0775

Mata Kuliah              : Landasan Pembelajaran Agama Hindu

Semester                     : II

Jenjang/Prodi            : S2/ Dharma acarya

Dosen                          : Prof. Dr. I Nyoman Dantes

  • Kemukakan pandangan saudara mengenai pendidikan sebagai proses pemanusiaan manusia!

Jawaban :

Pendidikan didefinisikan sebagai humanisasi (upaya memanusiakan manusia), yaitu suatu upaya dalam rangka membantu manusia (peserta didik) agar mampu hidup sesuai dengan martabat kemanusiaannya (Wahyudin, 2009: 1.29).

Menurut pendapat saya mengenai Pendidikan sebagai proses memanusiakan manusia adalah, dimana proses pendidikan tersebut tujuannya adalah membentuk sebuah karakter yang berprerikemanusiaan yaitu memanusiakan manusia. Artinya, bukan pendidikan namanya kalau manusia itu tidak memiliki karakter sebagai manusia yang baik. Hasil akhir dari pendidikan adalah pendidikan itu melahirkan sebuah karakter yang berkualitas, bukan hanya sebuah penegetahuan intelektual saja.

Manusia harus memiliki prinsip, nilai dan rasa kemanusiaan yang melekat pada dirinya. Manusia memiliki akal budi yang bisa memunculkan rasa atau prikemanusiaan. Prikemanusiaan inilah yang mendorong prilaku baik sebagai manusia.

Memanusiakan manusia berarti perilaku manusia untuk senantisa menghargai dan menghormati harkat & derajat manusia lainnya. Memanusiakan manusia adalah tidak menindas sesama, tidak menghardik,tidak bersifat kasar,tidak menyakiti,dan prilaku-prilaku lainnya.

Memanusiakan manusia berarti memanusiakan antarsesama, memanusiakan manusia menguntungkan bagi diri sendiri dan orang lain. Bagi diri sendiri menunjukan harga diri dan nilai luhur pribadinya sebagai manusia,bagi orang lain memberikan rasa percaya,hormat,kedamain,dan kesejahteraan hidup. Sebaliknya,sikap tidak manusiawi terhadap manusia lain hanya akan merendah kan harga diri dan martabatnya sebagai manusia yang sesungguhnya makhluk mulia.

Prayitno dan Manullang (2011) mengatakan bahwa “The end of education is character”. Jadi, seluruh aktivitas pendidikan semestinya bermuara kepada pembentukan karakter. Kegiatan intra dan ekstra kurikuer sebagai inti pendidikan di satuan pendidikan harus dilakukan dalam kontek pengembangan karakter. Warga negara Indonesia berkualitas memiliki karakter Pancasila, artinya ukuran berkualitas (terdidik) bagi seluruh warga negara adalah apakah dirinya memiliki nilai-nilai Pancasila serta nilai-nilai kemanusiaan.

Pendidikan sebagai proses memanusiakan manusia adalah tujuan utama yang ingin dicapai, sehingga pendidikan dikatakan berhasil bila adanya sebuah perubahan pada manusia / perserta didik jika sudah mengalami perubahan dibidang karakter yang berperikemanusiaan, memiliki budipekerti yang luhur sebagai manusia serta senantisa menghargai dan menghormati harkat & derajat manusia lainnya.

  • Kemukakan pandangan saudara mengenai transformasi nilai yang berbasis pada indinamic integrated !

Jawaban :

 

Menurut paradigma saya mengenai transformasi nilai berbasis pada indinamic integrated juga dikenal yaitu suatu perubahan (transformasi) nilai-nilai di masyarakat untuk menjawab tantangan dalam perubahan jaman tertentu sehingga mampu hidup dalam situasi yang harmonis dan bahagia.

Nilai-nilai yang berubah pada masyarakat ini pada dasarnya tetap bersumber dan terintegrasi dengan nilai asli yang merupakan nilai luhur bangsa, maupunnilai yang bersumber pada kearifan lokal. Nilai-nilai ini akan nampak pada perilaku sehari-hari dari masyarakat, serta kegiatan-kegiatan profesionalnya.

Integrasi nilai yang dilakukan dimulai dari sekolah formal dalam aplikasinya pada penanaman pendidikan karakter melalui proses pembelajaran memang perlu sekali diterapkan disemua jenjang pendidikan. Namun setiap pelaksana pendidikan terutama tenaga pendidik perlu memahami strategi sebagai media untuk mengetahui cara bagaimana menerapkan dan mengintegrasikannya sehingga peserta didik bisa mengerti dan memahami nilai-nilai pendidikan karakter.

Nilai-nilai yang akan ditransformasikan dalam pendidikan mencakup nilai-nilai religi, nilai-nilai kebudayaan, nilai-nilai sains dan teknologi, nilai-nilai seni, dan nilai keterampilan. Nilai-nilai yang ditransformasikan tersebut dalam rangka mempertahankan, mengembangkan, bahkan kalau perlu mengubah kebudayaan yang dimiliki masyarakat. Maka, disinilah pendidikan akan berlangsung dalam kehidupan.

Agar proses transformasi tersebut berjalan lancar, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi dalam melaksanakan proses pendidikan, antara lain seperti dikemukakan oleh Sadulloh (2007):

  • Adanya hubungan edukatif yang baik antara pendidik dan terdidik. Hubungan edukatif ini dapat diartikan sebagai suatu hubungan yang diliputi kasih sayang, sehingga terjadi hubungan yang didasarkan atas kewibawaan. Hubungan yang terjadi antara pendidik dan peserta didik merupakan hubungan antara subyek dan subyek.
  • Adanya metode pendidikan yang sesuai. Sesuai dengan kemampuan pendidik, materi, kondisi peserta didik, tujuan yang akan dicapai, dan kondisi lingkungan di mana pendidikan tersebut berlangsung.
  • Adanya sarana dan perlengkapan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhuan. Sarana tersebut harus didasarkan atas pengabdian pada peserta didik, harus sesuai dengan stiap nilai yang ditransformasikan.
  •    Adanya suasana yang memadai, sehingga proses transformasi nilai-nilai tersebut berjalan wajar, serta dalam suasana yang menyenangkan (Sadulloh, 2007:58).

Adapun karakter-karakter nilai yang menjadi pusat tujuan tranformasi nilai berbasis pada indinamic integrated adalah 18 butir nilai-nilai pendidikan karakter yaitu , Religius, Jujur, Toleransi, Disiplin, Kerja Keras, Kreatif, Mandiri, Demokratis, Rasa Ingin Tahu, Semangat Kebangsaan, Cinta tanah air, Menghargai prestasi, Bersahabat / komunikatif, Cinta Damai, Gemar membaca, Peduli lingkungan, Peduli social, Tanggung jawab.

Ke-18 karakter inilah yang menjadi acuan dalam transformasi nilai berbasis pada indinamic integrated. Sehingga Nilai-nilai yang berubah pada masyarakat ini pada dasarnya tetap bersumber dan terintegrasi dengan nilai asli yang merupakan nilai luhur bangsa, maupun nilai yang bersumber pada kearifan lokal. Nilai-nilai ini akan nampak pada perilaku sehari-hari dari masyarakat, sehingga masyarakat siap bersaing dalam perubahan era globalisasi.

  • Bagaimana pandangan saudara tentang keterkaitan antara techno humanistic dengan pendidikan system among Kihajar Dewantara!

Jawaban :

Salah satu model yang relevan untuk menjembatani pendidikan sekarang adalah model pendidikan tekno humanistik, yaitu sebuah model rekayasa didaktik-metodik yang mentransformasikan budaya, sain, teknologi, dan nilai-nilai keadaban berdasarkan prinsip-prinsip harkat kemanusiaan, yang dalam aplikasinya bersandar pada nilai-nilai tradisional yang terbarukan danterus berproses pada sumbu keunggulan lokal (local genius).

Pendidikan pada dasarnya adalah upaya sadar yang berproses untuk menjadikan manusia sebagai sebuah sumber daya yang terberdayakan dengan segala potensinya, sehingga pendidikan seringdikatakan sebagai medium transformasi budaya, sehingga kualitassebuah bangsa sering disandarkan parameternya pada tingkat kualitasinstitusi pendidikan yang dimilikinya. Penyandaran parameter padakualitas kelembagaan pendidikan, telah menegaskan bahwa duniapendidikan sangat berperan dalam pembangunan peradaban bangsa dan pembentukan nilai-nilai modern yang berakar pada nilai-nilaibudaya tradisional dengan segala piranti sistimnya (lasmawan, 2008).

Ki Hajar Dewantara selaku tokoh pendidikan Indonesia berpendapat bahwa perkembangan anak didik mulai dari lahir hinga dewasa dibagi atas fase-fase. Ada fase yang merupakan periode amat penting bagi perkembangan badan dan pandca indra. Ada fase yang merupakan masa perkembangan untuk daya-daya jiwa terutama pikiran anak, dan ada pula fase tentang penyesuaian diri dengan masyarakat di mana anak mengambil bagian sesuai dengan cita-cita hidupnya. Adanya periodisasi masa perkembangan itu juga kita temui pula pada teori-teori yang dikemukakan oleh ahli lain.

Untuk ukuran jaman yang semakin maju ini banyak nilai-nilai tradisional yang memerlukan redefinisi pada tataran penerapan. Banyak aspek dalam nilai tradisional yang kurang terbuka terhadap inovasi (pembaharuan) yang sedang berkembang. Hal ini apabila dibiarkan jelas sangat mempengaruhi daya kreativitas masyarakat kita.

Tidak mengherankan jika sering para pemuda kita ketinggalan dengan kemajuan pemuda dari bangsa-bangsa lain. Agaknya pengaruh penjajahan yang terlalu lama menyebabkan generasi tua kita selalu menaruh curiga tehadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Selain itu ajaran beliau yang tidak kalah penting adalah yang dikenal sebagai sistem among, yang antara lain berbunyi:

  1. Ing ngarso sung tulodho:

Artinya sebagai pemimpin apabila sedang di depan harus dapat memberi contoh yang baik, yang meliputi kebaikan budi pekertinya, kepandaiannya, dan keterampilannya.

  1. Ing madyo mangun karso:

Artinya sebagai pemimpin apabila sedang berada di tengah harus dapat membangun, bergotong royong bersama dengan orang-orang yang dipimpinnya. Tidak hanya bisa memerintah, namun juga harus dapat dan mau “tandang gawe”, yaitu diperintah oleh kemauannya sendiri.

  1. Tut wuri Handayani:

Artinya sebagai pemimpin apabila sedang berada di belakang harus dapat mendorong dan memberi semangat (nyurung karep) kepada semua teman-temannya.

Sistem Among sering dikaitkan dengan asas yang berbunyi: Ing ngarso sung tuladha, Ing madya mangun karsa, Tut Wuri Handayani. Asas ini telah banyak dikenal oleh masyarakat dari pada Sistem Among sendiri, karena banyak dari anggota masyarakat yang belum memahaminya. Sistem Among berasal dari bahasa Jawa yaitu mong atau momong, yang artinya mengasuh anak. Para guru atau dosen disebut pamong yang bertugas untuk mendidik dan mengajar anak sepanjang waktu dengan kasih sayang.

Sistem Among menuntut kesabaran dalam   penerapannya Nampak dalam teori ini Ki Hajar berusaha memberikan gambaran ideal tentang peran manusia dalam segala lini. Dalam konsep among ini manusia ideal adalah orang yang dapat memerankan diri (menyesuaikan diri) sedang berada pada peran yang bagaimanakah dia. Apakah di depan, di tengah atau di belakang.

Pada jaman kemajuan teknologi sekarang ini, sebagian besar manusia dipengaruhi perilakunya oleh pesatnya perkembangan dan kecanggihan teknologi (teknologi informasi). Banyak orang terbuai dengan teknologi yang canggih, sehingga melupakan aspek-aspek lain dalam kehidupannya, seperti pentingnya membangun relasi dengan orang lain, perlunya melakukan aktivitas sosial di dalam masyarakat, pentingnya menghargai sesama lebih daripada apa yang berhasil dibuatnya, dan lain-lain.

Seringkali teknologi yang dibuat manusia untuk membantu manusia tidak lagi dikuasai oleh manusia tetapi sebaliknya manusia yang terkuasai oleh kemajuan teknologi. Manusia tidak lagi bebas menumbuhkembangkan dirinya menjadi manusia seutuhnya dengan segala aspeknya.

Jadi menurut pandangan saya mengenai kombinasi dari model pendidikan tekno humanistic dengan system among yang dikemukakan oleh Ki Hajar dewantara sangat relepan sekali. Karena dalam pengaruh era globalisasi yang semakin canggih dengan berbagai teknologi yang bermunculan sangat diharapkan para pendidik menerapkan pola pengajaran dengan system among ini, karena dengan pengawasan yang ketat seperti pendidikan anak asuh, peserta didik tidak akan terbawa oleh pengaruh-pengaruh negative yang ditimbulkan oleh perkembangan teknologi yang semakin canggih.

 

  • Sebagai calon pendidik atau pendidik coba saudara kemukakan konsepsi saudara mengenai implementasi dari pendidikan moral (moral knowing, moral feeling, moral action) dalam profesi saudra!

Jawaban :

Sebagai pendidik atau calon pendidik, menurut pemahaman saya mengenai pendidikan tidak akan pernah lepas dengan ajaran-ajaran moral, karena yang menyangkut pendidikan kemanusiaan atau manusia yang bisa disebut manusia adalah manusia yang bermoral. Kerusakan moral pada peserta didik disebabkan oleh kurangnya pendidikan nilai-nilai moralitas pada peserta didik.

  1. Bertens, mengungkapkan bahwa moral itu adalah nilai-nilai dan norma-norma yang menjadi pegangan bagi seseorang atau kelompok dalam mengatur tingkah lakunya. Makna yang hampir sama untuk kata moral juga ditampilkan oleh Lorens Bagus, mengungkapkan antara lain, menyangkut kegiatan-kegiatan manusia yang dipandang sebagai baik/buruk, benar/salah, tepat/tidak tepat, atau menyangkut cara seseorang bertingkah laku dalam hubungan dengan orang lain (Mansur, 2005).

Pendidikan moral dapat menjadi solusi dari permasalahan ini. Dengan adanya Pendidikan moral, diharapkan manusia (peserta didik) dapat menerapkan nilai-nilai moral atau sopan santun, norma-norma serta etika yang baik dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai bentuk tanggung jawab dari pendidikan di sekolah, maka bagaimana mengimplementasikan pendidikan moral ini dalam proses pembelajaran. Tulisan ini akan mencoba memberikan pemikiran yang berkaitan dengan persoalan tersebut.

  • Dalam implementasi “moral knowing” (pengetahuan moral) ada beberapa aspek yang perlu ditekankan, yaitu :
  • Kesadaran moral (kesadaran hati nurani).
  • Pengetahuan nilai-nilai moral, terdiri atas rasa hormat tentang kehidupan dan kebebasan, tanggung jawab terhadap orang lain, kejujuran, keterbukaan, toleransi, kesopanan, disiplin diri, integritas, kebaikan, perasaan kasihan, dan keteguhan hati.
  • Kemampuan untuk memberi pandangan kepada orang lain, melihat situasi seperti apa adanya, membayangkan bagaimana dia seharusnya berpikir, bereaksi, dan merasakan.
  • Pertimbangan moral adalah pemahaman tentang apa yang dimaksud dengan bermoral dan mengapa kita harus bermoral.
  • pengambilan keputusan adalah kemampuan mengambil keputusan dalam menghadapi masalah-masalah moral.
  • kemampuan untuk mengenal atau memahami diri sendiri, dan hal ini paling sulit untuk dicapai, tetapi hal ini perlu untuk pengembangan moral.
  • Dalam implementasi “moral feeling” (perasaan moral), terdapat adapun aspek yang ditekankan, yaitu :
  • Pada kata hati atau hati nurani, yang memiliki dua sisi, yakni sisi kognitif (pengetahuan tentang apa yang benar) dan sisi emosi (perasaan wajib berbuat kebenaran).
  • Pada harga diri, dan jika kita mengukur harga diri sendiri berarti menilai diri sendiri; jika menilai diri sendiri berarti merasa hormat terhadap diri sendiri.
  • Kemampuan untuk mengidentifikasi diri dengan orang lain, atau seolah-olah mengalami sendiri apa yang dialami oleh orang lain dan dilakukan orang lain).
  • Cinta pada kebaikan, ini merupakan bentuk tertinggi dari karakter, termasuk menjadi tertarik dengan kebaikan yang sejati. Jika orang cinta pada kebaikan, maka mereka akan berbuat baik dan memiliki moralitas.
  • Kemampuan untuk mengendalikan diri sendiri, dan berfungsi untuk mengekang kesenangan diri sendiri.
  • kerendahan hati, yaitu kebaikan moral yang kadang-kadang dilupakan atau diabaikan, pada hal ini merupakan bagian penting dari karakter yang baik.
  • Dalam implementasi “moral action” (tindakan moral), ada beberapa aspek yang ditekankan yaitu :
  • Kompetensi moral, yaitu kemampuan untuk menggunakan pertimbangan-pertimbangan moral dalam berperilaku moral yang efektif;
  • Kemauan, yakni pilihan yang benar dalam situasi moral tertentu, biasanya merupakan hal yang sulit;
  • Kebiasaan, yakni suatu kebiasaan untuk bertindak secara baik dan benar.

.Pengembangan pemikiran moral perlu disertai dengan pengembangan komponen afektif. Dalam proses perkembangan moral, kedua komponen tersebut, yaitu komponen kognitif dan afektif sama pentingnya. Aspek kognitif memungkinkan seseorang dapat menentukan pilihan moral secara tepat, sedangkan aspek afektif menajamkan kepekaan hati nurani, yang memberikan dorongan untuk melakukan tindakan bermoral (Zuchdi, 2010:8).

Guru harus dapat mengimplementasikannya dalam proses pembelajaran di Sekolah. Guru sebagai pendidik harus dapat menanamkan nilai-nilai moral kepada siswa agar terbentuk moral-moral yang baik pada siswa tersebut

Implementasi pendidikan moral dalam proses pembelajaran dapat dilakukan dengan cara, guru tidak hanya mengajar namun juga mendidik artinya guru tidak hanya mengajarkan mata pelajaran yang diajarkan namun guru dapat mendidik siswa melalui pelajaran nilai-nilai moral agar bukan pengetahuan akademik saja yang didapatkan tetapi juga pengetahuan nilai-nilai moral. Dengan demikian, guru tidak sekedar menyampaikan konten pelajaran yang lebih mengedepankan aspek kognitif, tetapi juga aspek afektif dan psikomotorik yang diwujudkan dalam sebuah proses dan aplikasi.

  • Kemukakan pendapat saudara, bagaimana saudara dapat menjadikan sekolah sebagai Caring Comunity (Masyarakat yang peduli) kaitkan dengan profesi saudara !

Jawaban :

Menurut pandangan saya mengenai Sekolah harus menjadi “a caring community“. Dimana sekolah itu sendiri harus menampakkan dirinya sebagai lembaga pendidikan yang memiliki karakter yang baik. Hal ini harus dipacu untuk maju menjadi sebuah wadah atau payung bagi rakyat banyak, menjadi masyarakat yang mantap dan peduli serta kreatif. Sekolah dapat berbuat demikian dengan menjadikan sekolah sebagai masyarakat bermoral yang bisa menolong para peserta didik untuk membina rasa kasih sayang dan rasa hormat kepada orang tua, guru, dan orang lain.

Pendidikan karakter akan semakin efektif, relevan dan berkesinambungan jika terarah pada pengembangan kultur sekolah yang menghargai individu dalam mengembangkan karakter pribadinya. Pengembangan kultur sekolah yang baik pada gilirannya akan berpengaruh pada pengembangan kultur sekolah di lingkungan pendidikan lain.

Dalam hal ini, lembaga pendidikan sebagai sebuah pelaku bagi pengembangan pendidikan tidak dapat berdiri sendiri, atau hidup bagi dirinya sendiri. Kehadirannya yang bermutu dan bai semestinya juga dapat menjadi contoh dan model sekolah-sekolah lain di sekitarnya. Dengan demikian, kultur pendidikan karakter di satusekolah yang baik dapat memengaruhi lingkungan pendidikan lain di sekitarnya.

Peranan guru, walaupun sangat terbatas, adalah penting sekali. Guru bertugas memimpin kelas. Tugasnya yang paling utama ialah untuk melipatgandakan keadaan-keadaan di mana perluasan gagasan-gagasan dan sentiment-sentimen bersama dapat berlangsung secara bebas, untuk menghasilkan buah-buah positif, untuk mengkoordinasi mereka, dan memberikan mereka bentuk yang stabil (Durkheim, 1990: 176).

Dimana guru harus menjadi pelaku tama dalam menjadikan sekolah sebagai Caring Comunity. Karena ujung tombak pendidikan adalah guru, serta guru harus bisa menjadikan dirinya menjadi karakter baik yang nantinya akan dicontoh oleh siswa dan masyarakatnya. Secara otomatis akan menjadikan sebuah sekolah yang patut dicontoh dan diteladani bagi masyarakat umum.

Menurut Lickona (dalam Zuchdi, 2010: 58) mengenai perilaku guru menyatakan bahwa guru dalam mengajar di kelas harus berfungsi sebagai pengasuh, model (pemberi teladan), dan mentor. Sebagai pengasuh, guru harus bisa mencintai dan menghargai murid-murid, menolong mereka agar berhasil di sekolah, mengembangkan kesadaran akan harga diri mereka, dan memperlakukan murid-muridnya secara bermoral sehingga mereka dapat mengalami apa yang dimaksud dengan moralitas.

Guru juga harus menjadi model atau teladan sebagai orang yang beretika, yang menunjukkan dalam perilakunya rasa hormat dan tanggung jawab yang tinggi baik didalam maupun diluar kelas. Guru juga dapat memberi teladan dengan memberikan perhatian pada moralitas dan melakukan penalaran moral melalui reaksi-reaksinya terhadap kejadian-kejadian yang secara moral bermakna dalam kehidupan sekolah dan kehidupan secara luas. Sebagai mentor, guru menyelenggarakan pembelajaran dan bimbingan melaui penjelasan, diskusi kelas, bercerita, pemberian dorongan, dan memberikan respons yang berupa koreksi jika murid-murid melukai perasaan teman-teman mereka atau perasaan guru.

Dalam menjadikan sekolah sebagai Caring Comunity harus ada hubungan kerjasama dan komunikasi yang intensif antara guru dengan pendidik, guru dengan warga sekolah, lembaga sekolah dengan masyarakat. Dan hubungan lembaga / sekolah dengan alam lingkungan. Sehingga konsep Tri Hita karana dimana adanya keharmonisan yang vertical dan horizontal secara seimbang, maka akan terjalin suatu keharmonisasian.

DAFTAR PUSTAKA

 

 

 

 

Durkheim, Emile. 1990. Pendidikan Moral. Jakarta: Erlangga.

Lasmawan, W. (2008). Pendidikan Teknohumanistik (pengembangan model pertahanan dan keamanan berbasis sof security) (paper). Singaraja: KNPI Kabupaten Buleleng.

Mansur. 2005. Pendidikan Anak Usia Dini Dalam Islam, (Yogyakarta: ustaka Pelajar)

Prayitno & Belferik Manullang. 2011.  Pendidikan Karakter dalam pembangunan  Bangsa. Jakarta: Grasindo.

Sadulloh, dkk. (2007). Pedagogik. Bandung. Cipta Utama.

Wahyudin, Dinn, dkk. 2009. Pengantar Pendidikan. Jakarta: Universitas Terbuka.

Zuchdi, Darmiyati. 2010. Humanisasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

UJIAN TAKE HOME

 

LANDASAN PEMBELAJARAN

AGAMA HINDU

 

Dosen : Prof. Dr. I Nyoman Dantes.

 

 

Oleh :

I Made Yuda Asmara, S.Pd.H.

(14.1.2.5.2.0775)

 

INSTITUT HINDU DHARMA NEGERI DENPASAR

PROGRAM PASCA SARJANA

DHARMA ACARYA

2015

PEWARISAN TRADISI PEMBUATAN UPAKARA/UPARENGGA MULAI DITINGGALKAN —

PEWARISAN TRADISI PEMBUATAN UPAKARA/UPARENGGA MULAI DITINGGALKAN

oleh :

I MADE YUDA ASMARA, S.PD.H.

BAB I

PENDAHULUAN

 

 

  • Latar Belakang

Agama Hindu tidak pernah lepas dengan kata yadnya. Setiap yadnya yang dilakukan umat Hindu di Bali selalu mengunakansarana. Sarana itu yang pokok adalah seperti air, api, bunga, buah (Wiana,2002:55). selain itu yang lebih pamilisr dalam Hindu di bali adalah sarana yangdalam bentuk banten. Banten adalah sesuatu yang sangat tidak asing bagimasyarakat Hindu umumnya dan khususnya di Bali. Setiap kegiatan yang berhubungan dengan keagamaan selalu tidak dapat lepas dari banten (uparengga). Bantens elalu mewarnai dalam setiap kehidupan umat Hindu Bali.

Setiap bagian masyarakat yang terkecil yaitu keluarga pasti tidak lepas dari banten atau upakara dalam pelaksanaan keagamaan. Banten menjadi sarana utama dalam suatu kegiatan persembahan sehingga menjadi perioritas dalam kegiatan beragama tersebut. banten merupakan sarana dalam suatu yadnya (Surayin,2002:1). Sebagai contoh banyak ditemukan umat Hindu di Bali yang sengaja memelihara ternak dengan maksud untuk yang berhubungan dengan banten persembahan jauh-jauh harisebelum pelaksanaan kegiatan tersebut tiba. Mereka berlomba-lomba ingin mempersembahkan sesuatu dengan yang paling baik. Mereka melakukan itu merupakan sebagai yadnya atau upacara. banten sangat berhubungan erat dengan tiga kerangka dasar yaitu tattwa, susila dan upacara. Ketiga bagian dari kerangka dasar tersebut merupakan satu kesatuan. Ketiganya menyatu dalam realitas yadnya yang dapat dilihat dalam kegiatan keagamaan umat Hindu.

Dalam suatu yadnya sudah pasti terdapat nilai tattwa yaitu tujuan yadnya tersebut dan kepada siapa yadnya tersebut dipersembahkan. Selanjutnya dalam upacara tersebut pula ada nilai susila yaitu semua yadnya didasari oleh niat dansikap serta prilalu yang baik. Dalam upacara ada aturan-aturan yang mengaturnyadan semua itu mengarah kepada susila. Ketiganya juga terlihat dalam upacaradalam bentuk banten di mana banten banyak mengandung nilai-nilai yang mencirikan ketiga hal dari Tri kerangka dasar agama Hindu tersebut. Seiring dengan perkembangan jaman dimana manusia telah masuk dalam era modernisme dimana manusia menginginkan segala sesuatu lebih cepat dan efisien.

Misalnya dalam realita sekarang yang ada disekitar, banyak umat Hindu dalam menjalankan aktivitas keagamaannya cenderung membeli upakara-upakara (uparengga) yang dipakai unyuk beryadnya, baik itu sembahyang ataupun upacara lainnya. Hal ini yang menjadi pertanyaan besar ketika kebanyakan umat Hindu di Bali malas membuat sendiri karena alasan tertentu seperti : tidak punya waktu luang, sulitnya mendapatkan bahan-bahan, tidak bisa membuat secara benar. Hal-hal inilah yang menyebabkan kebanyakan orang lebih menginginkan siap saji dan tidak ingin susah.

Seiring perkembangan jaman yang semakin cepat dan perkembangan teknologi yang semakin canggih. Masyarakat dituntut unuk berpacu melawan waktu, kapan waktunya bekerja, belajar, berkumpul, bermasyarakat, sembahyang dan aktivitas lainnya yang semakin padat. Dengan intensitas kesibukan manusia yang semakin berkembang pesat, tidak dipungkiri hal-hal semacam ini yang serba membeli / instan bisa menjadi sebuah alternative yang cepat untuk melakukan semua aktivitas dengan tepat dan efisien.

Jadi bagaimana upaya yang harus dilakukan supaya hal yang serba instan dapat dibenahi agar menhasilkan sesuatu yang baik dan benar. Kalau dilihat susetu yang serba instan bisaanya banyak menimbulkan efek samping seperti : banyak umat yang tidak tau membuat dan mengetahui makna dari macam-macam upakara yang dipakai dalam yadnya. Hal inilah yang menjadi perhatian serius untuk masa depan generasi hindu kedepan. Sehingga perlu dibahas lebih lanjut dalam penyusunan makalah ini yang berjudul “Mengapa Pewarisan tradisi Pembuat Uparengga Mulai Ditinggalkan”.

  • Rumusan Masalah

Dari latar belakang tersebut permasalahan yang dibahas dalam makalah ini adalah sebagai berikut :

  • Bagaimankah makna yang terkandung dalam upakara/uparengga?
  • Apakah penyebab pewarisan tradisi pembuat uparengga mulai ditinggalkan?
  • Upaya apakah yang dilakukan dalam mencegah masyarakat yang lebih cenderung membeli uparengga daripada membuat?
  • Tujuan Penulisan

Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :

  • Mengetahui pentingnya makna yang terkandung dalam uparengga.
  • Memahami penyebab pewarisan tradisi pembuat uparengga mulai ditinggalkan.
  • Upaya yang dilakukan dalam mencegah masyarakat yang lebih cenderung membeli uparengga daripada membuat.
  • Metode Penulisan

Metode penulisan yang digunakan dalam penyusunan makalah ini adalah penulis menggunakan studi pustaka, dimana penulis mencari sumber-sumber dari buku-buku, artikel dan media internet yang bertalian dengan judul yang telah di diberikan oleh dosen mata kuliah Filsafat Pendidikan.

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

  • Makna Filosofis Yang Terkandung Dalam Uparengga (Upakara yadnya).

Upakara-upakara yadnya mempunyai tujuan yang satu yaitu menghaturkan bhakti suci dengan perwujudan berupa sarana. Dalam kehidupan Hindu di Bali , masyarakat tidak terlepas dari kehidupan kagamaan yang berkembang sesuai dengan adat istiadat di tempatnya. Dalam mlakukan korban suci atau yadnya , umat Hindu khususnya di bali lebih banyak melakukan daalm bentuk banten/upakara (Surayin,2002:3).

Upakara/ banten adalah perwujudan/tapakan dari Hyang Widhi. Dalam banten di bali, pembuatannya memakai bahan yang melambangkan dewa-dewa tertentu, misalnya kelapa wujud Api Dewa Brahma, air wujud Dewa Wisnu dll.

Pemahaman masyarakat tentang uparangga atau sarana upacara umat Hindu masih bersifat individual. Kami berusaha menganggkat tentang sarana upacara Umat Hindu agar perangkat-perangkat tersebut dapat dipahami generasi muda sebagai generasi penerus sehingga kelestariannya dapat berlanjut dari generasi ke generasi. Dapat kami berikan makna dan pengertian uparangga sebagai berikut :

Uparengga berasal dari suku kata upa-re-angga, mengandung pengertian bahwa upa = perantara, re = raditya (sinar suci), dan angga = wujud atau merupakan perwujudan Ida Sanghyang Widhi. Jadi uparengga adalah semua bentuk perangkat upacara yang merupakan simbul perwujudan Sanghyang Widhi melalui kekuatan sinar suci-Nya.

Upakara (uparengga) adalah wujud korban suci kepada Ida Hyang Widhi. Adapun fungsi banten/upakara dalam upacara keagamaan adalah:

  • Upakara adalah wujud dari cetusan hati untuk menyatakan terima kasih kehadapan Hyang Widhi atas semua anugrahNya, memberikan kehidupan dan segala kebutuhan hidup manusia.
  • Bagi mereka yang menjalani yoga semadhi, banten/upakara bukan syarat mutlak, karena mereka mampu melakukannya dengan tingkat bathin yang tinggi sambil melakukan puasa dan bertapa sebagai wujud cinta kasihnya kpada Hyang Widhi.
  • Bagi mereka yang belum mampu melakukan yoga semadhi, maka banten/upakara adalah cara sederhana dalam mengungkapkan rasa syukurnya kehadapan Hyang Widhi.

Upakara adalah alat konsentrasi pikiran untuk memuja Hyang Widhi. Saat seseorang sedang membuat banten atau upakara ini, maka pikirannya akan selalu tertuju pada Hyang Widhi, secara tidak sengaja mereka selalu memuja Hyang Widhi.

Dalam upacara keagamaan di Bali, banten / upakara adalah syarat mutlak yang diperlukan agar pemujaan kepada Hyang Widhi dapat kita lakukan sesempurna mungkin.

 

Dalam Bagawad Gita IX sloka 26 yang berbunyi:

patram puspam phalam toyam

yo me bhaktya prayacehati

tad aham bhaktyupahrtam

asnami prayatatmanah

Artinya:

Siapapun yang dengan kesujudan mempersembahkan kepadaKu daun, bunga, buah, atau air, yang didasari cinta kasih dan keluar dari hati, Aku terima (Pudja, 2010).

Dalam bukunya Surayin (2002:5), dijelaskan banten sederhana (alit) tidaklah berati nilainya lebih rendah daripada yang madya dan utama, demikian sebaliknya. Yang menentukan sukses tidak suksesnya upacara Yadnya tidaklah terletak pada banten saja, tetapi yang lebih penting adalah niat berkorban dalam kesucian yang tulus dan iklas sebagaimana hakekat pengetian “Yadnya”.

Dalam konteks ini ada tiga jenis Yadnya, yaitu:

  1. Satwika Yadnya
  2. Rajasika Yadnya
  3. Tamasika Yadnya

Satwika Yadnya adalah Yadnya yang dilaksanakan secara tulus, suci, dan sesuai dengan kemampuan.

Rajasika Yadnya adalah Yadnya yang didorong oleh keinginan menonjolkan diri seperti kekayaan, kekuasaan, dan hal-hal yang bersifat feodalisme: kebangsawanan, kesombongan, penonjolan soroh, dll.

Tamasika Yadnya adalah Yadnya yang dilaksanakan oleh orang-orang yang tidak mengerti pada tujuan Yadnya. Dengan demikian jelaslah bahwa Yadnya yang terbaik adalah Satwika Yadnya.

Mengenai bebanten, ada disebutkan dalam lontar Yadnya Prakerti bahwa kita mempersiapkan banten sesuai dengan Desa, Kala, dan Patra. Yang dimaksud dengan Desa adalah menggunakan bahan-bahan banten yang berasal dari lingkungan tempat tinggal kita. Kala adalah waktu yang tersedia untuk menyiapkan banten, dan Patra adalah dana yang tersedia untuk membeli bahan-bahan (Surayin,2002:5).

Jika kita perhatikan sekarang, banyak sekali umat menggunakan bahan-bahan banten yang tidak berasal dari desa kita seperti buah apel, pir, anggur, dan lain-lain. Buah-buahan lokal seperti sabo, manggis, ceroring, kepundung, wani, kucalcil. dll. hampir tidak nampak. Itu tandanya bahwa di kebun-kebun penduduk jenis buah-buahan itu sudah langka. Selain itu busung, biu, bahkan bebek dan ayam sudah didatangkan dari luar Bali. Busung datang dari Lombok atau Sulawesi, biu, bebek, dan ayam ber ton-ton didatangkan dari Jawa.

Keadaan seperti ini hendaknya menjadi perhatian kita yang serius dengan mengambil langkah-langkah yang positif misalnya: menanami lahan-lahan dengan bahan-bahan banten seperti pisang, kelapa gading, bunga-bungaan, buah-buahan, dll. Para peternak/ petani lebih giat lagi memelihara binatang seperti ayam, bebek, babi dll. Langkah lainnya kembali kepada bahasan di atas, yaitu buatlah uparengga atau banten dengan sederhana tetapi tidak menyimpang dari sastra-sastra agama sehingga semua umat dapat melaksanakan upacara yadnya sesuai dengan kemampuan keuangannya masing-masing.

  • Penyebab Pewarisan Tradisi Pembuatan Uparengga Mulai Ditinggalkan.

Banten / upakara di Bali merupakan cirri khas yang unik yang mengkaitkan daya cipta yang relegius yang mengandung magis, yang mengandung budaya seni dan adat, yang berciri desa-kala-patra serta nista madya utama. Maka terungkaplah suatu nilai luhur yang tiada tandingannya (Surayin,2002:4).

Seiring perkembangan jaman yang semakin cepat dan perkembangan teknologi yang semakin canggih. Masyarakat dituntut untuk berpacu melawan waktu, kapan waktunya bekerja, belajar, berkumpul, bermasyarakat, sembahyang dan aktivitas lainnya yang semakin padat. Dengan intensitas kesibukan manusia yang semakin berkembang pesat, tidak dipungkiri hal-hal semacam ini yang serba membeli / instan bisa menjadi sebuah alternative yang cepat untuk melakukan semua aktivitas dengan tepat dan efisien.

Adapun penyebab pewarisan tradisi pembuat uparengga mulai ditinggalkan adalah sebagai berikut :

  • Banyaknya umat Hindu yang mulai hijrah atau merantau kekota untuk mencari nafkah, sehingga meninggalkan kampung halaman beserta warga adat dalam bermasyarakat.
  • Dengan tinggal dirantauan umat Hindu menjadi jarang ngayah, atau tedun dalam rangkaian upacara adat, sehingga tidak pernah ikut berkecinpung membuat uparengga secara langsung.
  • Dalam petedunan atau ngayah, masyarakat yang sibuk biasanya mencari tukang atau buruh dalam ayahan petedunannya atau istilahnya memberi upah kepada seseorang yang menggantikannya.
  • Masyarakat yang kerja dengan waktu yang panjang sehingga tidak mempunyai waktu dalam membuat uparengga dirumahnya, sehingga jalan alternative yang dipakai adalah dengan cara membeli dari pada tidak punya.
  • Umat Hindu tidak ingin ruwet/susah belajar, karena berpikir hanya dengan membeli yang harganya tidak begitu mahal menjadi alsan untuk tidak membuat uparengga
  • Bahan-bahan yang semakin langka dan sulit dicari seperi bambu, janur, slepan (daun kelapa yang muda), dan lain sebagainya.
  • Adanya pedagang uaparengga yang semakin banyak dipasaran, dan persaingan harga yang semakin murah dari pada harus membuatnya.
  • Banyaknya motif atau desain-desain model uparengga terbaru yang memiliki nilai estetika yang bagus seperti : penjor, ancak, sanggah cucuk, dan lain sebagainya sehingga menarik untuk dibeli.
  • Banyaknya pengaruh dari luar atau kena pengaruh era globalisasi yang semakin canggih dan siap saji, sehingga cara-cara manual dan tradisional mualai ditinggalkan.
  • Kuarangnya kesadaran umat Hindu secara individu dalam memahami betapa pentingnya makna, bentuk, nilai, fungsi dalam proses pembuatan uparengga.
  • Upaya Yang Dilakukan Dalam Mencegah Masyarakat Yang Lebih Cenderung Membeli Uparengga Daripada Membuat Uparengga.

Upakara adalah cetusan hati umat hindu di Bali khususnya untuk menyatakan rasa terima kasih baik kehadapan Ida Sang Hyang Widhi beserta manifestasiNya maupun kehadapan Ida Bhatara/Bhatari leluhurnya pun juga kepada Bhuta kala serta Gumatat gumitintnya (Surayin,2002:5).

Realitanya upakara/uparengga yang disucikan itu sudah mulai meluntur, pasalnya banyak upakara/uparengga yang mengalami transaksi jual-beli yang kotor karena ulah para pedagang yang tidak menjaga kesucian upakara yang dijual tersebut. Mulai dari bahan-bahan, cara membuat, tempat menjual dan sebagainya.

Tren membeli banten atau uparengga jadi , justru menjadi perputaran cakra yadnya berjalan baik. Karena tren itu membuat banyak umat yang kini mengais rezeki dari berjualan banten. “Ini namanya perputaran yadnya atau cakra yadnya. Ada yang jual banten, ada yang berkarir, ada yang jadi pengusaha. Semuanya saling mendukung. Mereka yang bergaji, atau pengusaha, membeli banten kepada pedagang banten.

Meski demkian, seharusnya umat lebih jeli dalam membeli banten upakara/uparengga maupun sarana upacara lainnya. Pasalnya, prospek keuntungan yang lumayan tinggi membuat pedagang banten, upakara/uparengga semakin menjamur, terutama pedagang canang sari. Ironisnya, sebagian di antaranya tidak memperhatikan kaidah-kaidah dalam ajaran Agama Hindu. Karena itu, beli banten, upakara/uparengga yang benar. Beli di tempat yang benar.

Sebagai contoh sederhana, canang sari setidaknya harus memilik satu  unsur utama yakni porosan atau rangkaian kapur, sirih, dan daun kayu. Menurutnya, tiga unsur dalam porosan itu melambangkan Tri Murti yakni Brahma, Wisnu dan Siwa. “Jadi kalau beli canang atau upakara/uparengga, pastikan di dalamnya ada porosan atau komponen yang inti. Kalau tidak berisi porosan, itu artinya bukan canang sari, tetapi cuma rangkaian bunga,”

membeli upakara/uparengga jadi bukanlah masalah. Asalkan semua disesuaikan dengan kemampuan masing-masing  personal. “ Sebetulnya praktis. Agama kita kan menyesuaikan. Banten juga tidak harus. Bagaimana kalau yang tidak mampu, dan tidak harus ngutang untuk beli upakara/uparengga,

Adapun upaya yang harus dilakukan supaya mencegah masyarakat yang lebih cenderung membeli uparengga daripada membuat adalah sebagai berikut :

  • Memberikan pemahaman-pemahaman yang jelas kepada masyarakat terkait betapa pentingnya makna yang terkandung dari setiap upakara/uparengga. Dalam kitab Manava Dharma Sastra 97 dijelaskan ;

Nacyanti nawyah kawyani naranama wijanatam, bhasmi bhutesu wipresu mohad dattani datrbhih

 

Artinya :

Persembahan yang dilakukan tanpa diketahui maknanya adalah sia-sia, sama dengan mempersembahkan kebodohannya dan persembahan itu tak ada bedanya dengan segenggam abu (Pudja,2004).

Jadi pada dasarnya beryadnya harus mengetahui makna dari sarana atau upakara persembahyangan yang dihaturkan.

  • Dengan upaya menanyakan terlebih dahulu kalau mau membeli apakah bahan yang dipakai itu suci atau sudah tidak sukla dalam kitab dijelaskan ;

“Yajna- sistasinah santo mucyante sarva-kilbisaih
Bhunjate te tv agham papa ye pacanty atma-karanat”

Artinya: 

“Para penyembah tuhan dibebaskan dari segala jenis dosa karena mereka makan makanan yang dipersembahkan yang dipersembahkan terlebih dahulu untuk korban suci . orang lain, yang menyiapkan makanan untuk korban suci. Orang lain , yang menyiapkan makanan untuk kenikmatan indria-indria pribadi , sebenarnya hanya makan dosa  saja(Pudja, 2010).

Jadi bahan-bahan yang harus dijadikan upakara itu harus sukla/suci, karena akan dipersembahkan kehadapan Ida Sang hyang widhi Wasa.

  • Dengan upaya memberikan penyuluhan-penyuluhan atau pelatihan pembuatan upakara/uparengga bagi generasi umat Hindu supaya umat yang belum bisa membuat menjadi lebih paham dalam pembuatan upakara tersebut.
  • Membentuk dan mengaktifkan pasraman-pasraman disetiap desa pakraman dalam mempelajari cara-cara membuat
  • Membuat sebuah awig atau aturan yang lebih ketat dalam system patedunan/ngayah saat warga membuat uparengga dalam persiapan upacara yadnya.
  • Meningkatkan sikap menyamabraya atau bermasyarakat antar sesama warga adat, sehingga terjalin keharmonisan dalam menyambut upacara-upacara yadnya dengan sistem tolong menolong/kerjasama dalam membuat
  • Membuat sebuah lomba-lomba dikalangan muda-mudi dengan tema atau obyek upakara atau sarana perlengkapan yadnya. Sehingga generasi umat Hindu menjadi lebih tertarik dalam mempelajarinya.
  • Memasukkan materi-materi pembuatan upakara yadnya dlam muatan local disekolah, baik itu dengan cara less, ekstrakurikuler, maupun dalam ujian praktek keagamaan.
  • Menyederhanakan pembuatan uparengga supaya tidak berkesan sulit dan boros biaya, tapi dengan tujuan tidak mengurangi makna filosofis dari upakara tersebut.
  • Mecarikan penyuluh-penyuluh keagamaan baik itu untuk mengetahui bentuk, fungsi, dan makna dari setiap upakara yang dibuat beserta tata cara membuat upakara tersebut, agar masyarakat atau umat Hindu menjadi lebih paham.

 

BAB III

PENUTUP

 

  • Simpulan

Dari uraian pembahasan tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa uparengga adalah semua bentuk perangkat upacara yang merupakan simbul perwujudan Sanghyang Widhi melalui kekuatan sinar suci-Nya. Upakara (uparengga) adalah wujud korban suci kepada Ida Hyang Widhi. Upakara/ uparengga sederhana (alit) tidaklah berati nilainya lebih rendah daripada yang madya dan utama, demikian sebaliknya. Yang menentukan sukses tidak suksesnya upacara Yadnya tidaklah terletak pada banten saja, tetapi yang lebih penting adalah niat berkorban dalam kesucian yang tulus dan iklas sebagaimana hakekat pengetian “Yadnya

Adapun penyebab pewarisan tradisi pembuat uparengga mulai ditinggalkan adalah seperti : banyaknya umat Hindu yang mulai hijrah atau merantau kekota untuk mencari nafkah, sehingga meninggalkan kampung halaman beserta warga adat dalam bermasyarakat. Dengan tinggal dirantauan umat Hindu menjadi jarang ngayah, atau tedun dalam rangkaian upacara adat, sehingga tidak pernah ikut berkecinpung membuat uparengga secara langsung. Dalam petedunan atau ngayah, masyarakat yang sibuk biasanya mencari tukang atau buruh dalam ayahan petedunannya atau istilahnya memberi upah kepada seseorang yang menggantikannya.

Adapun upaya yang harus dilakukan supaya mencegah masyarakat yang lebih cenderung membeli uparengga daripada membuat adalah seperti : Memberikan pemahaman-pemahaman yang jelas kepada masyarakat terkait betapa pentingnya makna yang terkandung dari setiap upakara/uparengga. Dengan upaya menanyakan terlebih dahulu kalau mau membeli apakah bahan yang dipakai itu suci. Dengan upaya memberikan penyuluhan-penyuluhan atau pelatihan pembuatan upakara/uparengga bagi generasi umat Hindu supaya umat yang belum bisa membuat menjadi lebih paham dalam pembuatan upakara tersebut.

  • Saran

Adapun saran dari penulis bagi umat hindu pada umumnya agar melestarikan pembuatan upakara / uparengga yang telah diwariskan oleh leluhur karena begitu penting dalam sarana pelaksanaan yadnya. Kemudian menjaga kesucian dan kebenaran dari setiap upakara/uparengga yang akan dipakai sarana persembahyangan atau yadnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Surayin, Ida Ayu Putu. 2002. Melangkah Kearah Persiapan Upakara-Upakara Yadnya. Surabaya: Paramita.

Pudja, I Gede.(2010). Bhagavadgita (Pancama Veda). Surabaya: Paramita.

Pudja, I Gede., Sudharta, Tjokorda Rai.(2004). Manawa Dharmasastra. Surabaya:  Paramita.

Wiana, I Ketut. 2002. Makna Upacara Yajna dalam Agama Hindu I. Surabaya: Paramita.

FILSAFAT PENDIDIKAN BARAT DAN FILSAFAT PENDIDIKAN PANCASILA WAWASAN SECARA SISTEMATIK —

FILSAFAT PENDIDIKAN BARAT DAN FILSAFAT PENDIDIKAN PANCASILA WAWASAN SECARA SISTEMATIK

RESUME BUKU

 

Judul              : FILSAFAT PENDIDIKAN BARAT DAN FILSAFAT PENDIDIKAN PANCASILA WAWASAN SECARA SISTEMATIK

Pengarang      : Ki Fudyatanta

Penerbit          : AMUS Yogyakarta (Cetakan I edisi II

ISBN               : 979-97495-4-1

 

BAB I

SISTEM-SISTEM FILSAFAT

  1. Filsafat Dan Persoalannya

Filsafat menelusuri realita tertinggi segala yang ada di dunia ini disebut metafisika, ontology, kosmologi. Menyangkut nilai-nilai benar dan buruk dan indah (estetika).

  1. Ikhtisar Pencarian Realita tertinggi

1.Arkaisme : mencari dan menemukan unsure-unsur asli

2.Skema lain untuk aliran-aliran Filsafat : persoalan, realita, aliran skepitisme, aliran etika dan teodise, realita itu terletak pada Tuhan.

  1. Pembidangan Filsafat

Metafisika(ilmu kenyataan/kebenaran), Epistemologi (cabang ilmu), Aksiologi (Filsafat nilai baik-buruk).

  1. Sistem-sistem Filsafat

-Sistem filsafat Idealisme : metafisika-ontologi idealisme, epistemology idealisme, aksiologi idealisme, logika-metodelogi idealisme.

-Sistem Filsafat Realisme : Metafisika-ontologi realisme, epistemology realisme, Aksiologi Realisme, aksiologi Realisme, logika-metodelogi realisme.

-Sistem Filsafat Pragmatisme : Metafisika-ontologi pragmatisme, epistemology Pragmatisme, aksiologi Pragmatisme, logika-metodelogi Pragmatisme.

-Sistem filsafat pancasila : Metafisika-ontologi pancasila, epistemology pancasila, Aksiologi pancasila, aksiologi pancasila, logika-metodelogi pancasila.

  1. Filsafat dan Filsafat Pendidikan

-Filsafat sebagai ilmu dapat dipelajari, dapat dididikkan, filsafat sebagai ilmu termasuk dalam khasanah kebudayaan manusia ialah kebudayaan rohani.

Filsafat Pendidikan dibagi menjadi empat system :

  1. Perenialisme : didukung oleh system idealisme
  2. Esensialisme : didukung oleh system realisme
  3. Progresivisme : didukung oleh system pragmativisme
  4. Rekontruksionisme : kelanjutan dari progresivisme

BAB II

SISTEM FILSAFAT PENDIDIKAN PERENIALISME

  1. Latar Belakang Timbulnya

Kekacauan , kebingungan dan kebimbangan, kemelut nilai, krisis kebudayaan, perenialisme mereaksi, melawan kegagalan.

  1. Ciri-ciri Umum Perenialisme

Tidak hanya nostalgia atau rindu akan kejayaan masa lampau, asas-asas filosofi relegius, memperoleh nilai-nilai kebudayaan.

  1. Warisan Jaman Kuno dan Jaman Pertengahan

-Plato : Jaman kebudayaan penuh keraguan, pendamai filsafat perubahan-permenides, pembinaan Negara yang ideal, golongan yang kuat nafsunya.

-Aristiteles : Mewariskan ajaran realistic, prinsip-prinsip ajaran sebagai norma, menolak dualism, mengajarkan potensi dan aktus, melukiskan inti ajaran hilemorfisme dalam skema piramida ontology.

-Thomas Aquino : alam semesta ini terbentuk atas dua prinsip, satu kebulatan atau integritas, makna kebaikan terletak dalam perbandingan.

Mengenai penciptaan ontology dan metafisika, pengenalan manusia akan Tuhan, ajaran materi-bentuk (hilomorfisme), tentang manusia

  1. Ajaran Sistem Filsafat Pendidikan Perenialisme

Ajarannya meliputi : ontologi-metafisika (pandangan realita yang universal), epistimologi perinialisme (berpangkal pada konsep-konsep kebenaran), aksiologi perinialisme (nilai-nilai universal), onto

BAB III

SISTEM PENDIDIKAN ESENSIALISME

  1. Sistem Filsafat Yang Mendukung Esensialisme

Menjawab tantangan kemajuan dan perubahan kebudayaan manusia, bersifat idealis dan realisme mendukung filsafat pendidikan esensialisme, dasar pikiran rasionalisme esensialisme bahwa pendidikan yang stabil dan mantap adalah pendidikan yang bersendikan nilai-nilai budaya manusia.

Filsafat idealisme dan rasionalisme adalah mengenai realita tertinggi yang berwujud dalam substansi yang sama. Jaman ranaisans adalah menuju jaman modern.

  1. Sumbangan Pikiran dan Tokoh-tokoh Filsafat dan Ilmuwan

Blaise Pascal (Perancis) pengeritik rasionalisme bahwa manusia dikatakan misteri, Thomas hobbes menganggap bahwa pengalaman seagai permulaan segala pengetahuan, John Locke (Inggris) tidak menyetujui ajaran pemisahan substansi, Georgey Berkeley merancang teori imaterialisme menolak adanya sustansi materiil, David Hume lebih radikal menolak sustansi rohani. Imanuel kant mengkgususkan kepada teori pengetahuan.

  1. Metafisika – Ontologi Esensialisme

Pokok-pokoknya : pendukung system filsafat idealisme-realisme,sebagai sintesa antara idealisme-realisme, esnesialisme dipengaruhi penemuan ilmu pengetahuan modern dibidang fisika dan biologi, penafsiran spiriyual terhadap sejarah, menimbulkan ajaran makrokosmos dan mikrokosmos.

  1. Ajaran Epistemologi Esensialisme

Memakai ajaran psikologi kepribadian personalisme sebagai dasar epistemologinya. Untuk mengetahui makrosmos dan mikrokosmos, bagi pandangan idealisme manusia adalah refleksi Tuhan.

Ajarannyakontraversi antara jasmani dan rohani, pendekatan idealisme pada pengetahuan, pendekatan realisme pada pengetahuan.

  1. Pandangan Tentang Nilai (Aksiologi) Dari Esensialisme

Pandangan mengenai nilai baik-buruk, indah-tidak indah. Aksiologi adari idealisme, aksiologi dari realisme.

  1. Teori Pendidikan Esensialisme

Merupakan gambaran ideal pribadi manusia dambaan kaum esensialis yakni manusia yang mempunya kemampuan intelektual yang cemerlang.

Teori pendidikan esensial selalu konsisten kefilsafatannya. Tugas pendidika adalah membuka realitas berdasarkan susunan yang pasti dengan sendi kesatuan spiritual, tujuan akhir pendidikan adalah mengembangkan bawaan anak dan tempat hidup dan kerja sesuai dengan hokum alam.

  1. Pandangan Esensialisme Mengenai Proses Belajar Mengajar

Masalah belajar adalah sebenarnya masalah dibidang psikologi, namun esensialnya belajar dianggap sebagai masalah ontology, epistemology dan aksiologi. Realisme dalam menafsirkan obyek-obyek yang dipelajari, esensialisme percaya bahwa hakekat obyek adalah idea. Idealisme bertolak dari manusia merupakan mikrokosmos berkedudukan sebagai subyek dan alam semesta merupakan makrokosmos sebagai obyek.

Teori belajar korenpodensi yang beranjak dari pribadi sebagai obyek yang kreatif dan memahami dirinya sendiri. Teori belajar menurut realisme belajar adalah proses penyesuaian dengan lingkungan.

  1. Pendidikan Esensialisme dan Politik

Filsafat pendidikan esensialisme yang ditopang oleh filsafat-filsafat utama idealisme dan realisme. Pendidikan esensialisme pada dasarnya adalah mendidik calon-calon warga masyarakat yang demokratis. Nilai politik utama dari pendidikan esensialisme adalah membina kebudayaan manusia sekarang dengan prinsip-prinsip demokrasi, demokrasi sebagai pandangan hidup. Dengan prinsip demokrasilah maka keselarasan kesejahteraan yang berdasarkan penghormatan terhadap martabat manusia dapat terwujud.

  1. Pendidikan Esensialisme dan Kebudayaan

Pendidikan bercita-cita danberfungsi untuk mewariskan kebudayaan masyarakatnya, kejayaan kebudayaan masa lampau. Hubungan antara filsafat dengan kebudayaan adalah dalam kenyataan ajaran-ajaran filsafat itu dapat merubah wawasan manusia terhadap nilai-nilai dan praktek-praktek kehidupan dalam semua bidang, baik bidang social, politik, seni dan budaya, ilmu teknologi, ekonomi, serta keagamaan. Esensialisme memang mempunyai sifat konservatif artinya menyimpan, mempertahankan nilai-nilai budaya yang telah ada.

BABA IV

SISTEM FILSAFAT PENDIDIKAN PROGRESIVISME

  1. Latar Belakang Timbulnya Filsafat Pendidikan Progresivisme

Progresivisme sebagai gerakan pembaharuan pendidikan menjadi popular dalam polemic pendidikan dalam masa depresi duni tahun 1929 dan menghadapi perang duni II. Progresivisme sudah berkembang mulai abad ke-20 dan terkenal di amerika Serikat. Timbulnya kritik-kritik dan rasa tidak puas terhadap pendidikan mungkin disebabkan kekaburan mengenai tujuan hidup manusia didunia ini. Gerakan-gerakan pembaharuan pendidikan tersebut diatas memperoleh hasil dalam eksperimen-eksperimen pendidikannya baik di eropa dan USA.

  1. Ciri-ciri Utama Progresivisme

Filsafat pendidikan progresivisme mendapat penanaman yang bermacam-macam. Arti progresif adalah maju, dan kemajuan adalah sesuatu yang alami dan wajar. Maju berarti berubah dan setiap perubahan berarti sesuatu yang baru. Sesuatu yang baru adalah sesuatu yang bersifat realita. Kemajuan mesti mengandung nilai, ialah nilai instrumental yaitu sebagai alat. Pendidikan progresivisme bersifat liberal dalam arti fleksibel. Progresivisme percaya kepada kemampuan manusia untuk menghadapi lingkungan hidupnya yang serba kompleks dengan kecerdasan keterampilan sendiri. Progresivisme dipandang sebagai filsafat transisi anatar dua konfigurasi kebudayaan yang besar. Progresivisme mempunyai sisi negative dan diagnostik. Progresivisme bersifat positif dan remedial.

  1. Ajaran-ajaran Filsafat dan Ilmu Pengetahuan yang Mendukung Progresivisme

Sistem filsafat yang mendukung pendidikan progresivisme adalah system filsafat pragmatism. Filsafat Sokrates member dasar ide penyantun anatar ilmu pengetahuan dan moral. Sofisme mewarisi ajaran relativisme. Francis bacon peletak dasar metode eksperimen.JJ. Rousseau sebagai peletak idea tau ajaran demokrasi dan pengakuan kepada kodrat alami manusia.. Immanuel Kant akan member jiwa intelektualisme yang tinggi. Hegel member dinamika proses penyesuaian yang terus menerus oleh manusia terhadap alam dan masyarakatnya. Darwin member dasar pandangan evolusionistis terhadap perubahan-perubahan yang terjadi pada kehidupan manusia.

Revolusi industry mempengaruhi psikologis manusia, yakni semangat eksplorasi alam, kemampuan amnesia membuat mesin dan berkompetisi.

  1. Ajaran Intologi-Metafisika Dari Progresivisme

Mempunyai ajaran tentang ontology-metafisika sesuai dengan ajaran system filsafat yang mendukungnya, ialah system filsafat pragmatism. Asas keduniaan bersifat realita universal yang artinya sangat luas. Asas perubahan bahwa pengalaman manusia itu dinamis. Asas intelek sebagai fungsi unik manusia.

  1. Ajaran Epistemologi Progresivisme

Progresivisme mempunyai lebih banyak ajaran tentang epistemology dari pada ajaran tentang ontology-metafisika. Bahkan lalu disebut pragmativisme adalah ajaran tentang epistemologi. Filsafat pendidikan progresivisme membedakan antara pengetahuan dengan kebenaran. Yang dimaksud dengan pengetahuan adalah kumpulan kesan-kesan dan informasi yang terkumpul dalam pengalaman yang siap untuk digunakan. Kebenaran adalah hasil tertentu dari usaha untuk mengetahui, memiliki dan mengarahkan beberapa bagaian pengetahuan supaya dapat menjadi petunjuk. Progresivisme sangat menekankan pada arti dan fungsi kecerdasan dalam hidup manusia.

  1. Ajaran Aksiologi Progresivisme

Nilai etis dan estetis terdapat dalam pengalaman. Peenghampiran emperis menekankan pada nilai-nilai yang terdapat dalam pengalaman hidup. Penghampiran artistic yaitu memperhatikan kesenian.

  1. Wawasan Pendidikan Progresivisme

Progresivisme sebagai ajaran pendidikan ditopang oleh filsafat social dari John Dewey yang menghendaki implementasi social dalam pendidikan. Idealisme pendidikan progresivisme mengenai cita-cita dan tujuan pendidikan. Ajaran progresivisme tentang belajar mengajar dan pandanga terhadap anak didik. Pendidikan progresivisme dan masyarakat. Hubungan progresivisme dan politik. Hubungan pendidikan progresivisme dan ekonomi.

  1. Sistem Filsafat Pendidikan Rekonstruksionisme

Sistem pendidikan Rekonstruksionisme merupakan gagasan baru untuk menyusun kembali tata kehidupan kebudayaan sejalan dengan pandangan system pendidikan perensialisme. Rekonstruksionisme ingin memberontak tata kehidupan budaya lama menjadi tata kehidupan budaya yang baru sama sekali melalui lembaga dan proses pendidikan. Cita-cita Rekonstruksionisme untuk melaksanakan demokrasi bukan saja dalam teori tetapi betul-betul praktek nyata.

BAB V

SISTEM FILSAFAT PENDIDIKAN PANCASILA

  1. Pancasila Dasar Negara Indonesia Merdeka

Pancasila tidak lahir diruang hampa, tidak turun di bumi Indonesia seperti embun turun dipagi hari, tetapi Pancasila lahir dengan perjuangan bangsa Indonesia. Asas Negara RI merdka yakni : peri kebangsaan, peri kemanusiaan, peri ke-Tuhanan, peri kerakyatan, dan kesejahteraan rakyat. Sebagai pokok naskah pembukaan UUD 1945 adalah naskah piagam Jakarta, dengan perubahan-perubahan kecil sebagai hasil musywarah PPKI. Dalam pembukaan UUD 1945 alenia ke-4 tidak ada ditulis atau nama pancasila, tetapi semua rakyat Indonesia, menyadari dan memahami bahwa kelima dasar tersebut adalah sila-sila dari Pancasila.

  1. Pancasila Sebagai Ideologi

Melalui usul Soekarno, pancasila diusulkan sebgai dasar Negara yang akan didirikan. Sebagai konsekuensi pancasila menjadi dasarfalsafah Negara, maka pertama-tama menjiwai dan direalissi dalam pasal-pasal UUD 1945 dan penjelasannya. Oleh karena itu Pancasila sebagai ideology bangsa Indonesia sebabagai nilai vital Bangsa Indonesia.

  1. Pancasila Sebagai Sistem Filsafat

Filsafat sebagai bagian kebudayaan manusia memang perlu berjuang untuk eksistensi dan pengembangannya dalam kehidupan manusia. Terutama dikalangan cerdik dan cendikiawan. P-4 adalah landasan moral dan rasional bagi Bangsa Indonesia.

  1. Ajaran Metafisika-Ontologi Dari Sistem Filsafat Pendidikan Pancasila

Bentuk dari ajaran Metafisika-Ontologi Pancasila sebagai system filsafat, dapat diajukan asas Metafisika-Ontologi dalam filsafat pendidikan Pancasila. Asas Monotheisme adalah asas dari realisasi sila I. Asas tata hidup sebagai tata hidup manusia berbudaya. Asas tertib damai, kemerdekaan dan keadilan. Asas Bhenika Tunggal Ika member makna bahwa hidup budaya manusia menunjukkan variasi-variasi dalam kesatuan.

  1. Ajaran Epistemologi Pancasila

Ajaran pancasila dengan teorinya selaras, serasi dan seimbang mengakui kebenaran pengakuan rasio dan pengetahuan pengalaman. Logika dikembangkan dalam epistemology Pancasila adalah logika formal, logika induksi, dan logika intuisi.

  1. Ajaran Aksiologi Pancasila

Tingkat makhluk didunia yang mengenal nilai hanyalah manusia. Hanya manusia yang tahu mana yang baik dan mana yang buruk. Manusia juga tahu mana yang benar dan amana yang salah,

  1. Ajaran Pancasila Tentang Pendidikan

Pendidikan adalah proses pembudayaan amanusia. Tujuan pendidikan adalah menumbuhkan manusia Indonesia seutuhnya. Pengembangan cipta, rasa, karsa manusia yakni taqwa terhadap Tuhan yang Maha Esa.

  1. Ajaran Ekonomi Pancasila

Pembangunan ekonomi manusia mengarah kepada ekonomi industry yang didukung oleh ekonomi pertanian yang tangguh. Ekonomi kecil dikembangkan denga koperasi.

  1. Ajaran Politik Pancasila

GBHN 1978 menggariskan bahwa pembangunan dibidang politik diarahkan pada peningkatan kesadaran bernegara bagi seluruh rakyat sesuai dengan UUD 1945.

  1. Ajaran Pancasila Mengenai Kebudayaan

GBHN juga menggariskan adanya usaha pembinaan kebudayaan Nasional Indonesia, yakni pengembangan nilai-nilai yang mencerminkan kepribadian bangsa dan meningkatkan nilai-nilai luhur, serta mencegah nilai social budaya yang bersifat liberal, feudal, kedaerahan yang sempit.

  1. Pembinaan Agama di Negara Pancasila

Pemerintah republic Indonesia member kemerdekaan kepada setiap warga Negara untuk memilih dan memeluk agamanya masing-masing. Pasal 29 UUD 1945 menjamin kemerdekaan beragama dan tidak akan mengahalangi perkembangan pemeluk agama. Pandangan hidup dan ideology Pancasila mengajarkan tolersansi dan kerjasama anatar umat beragama untuk membina kehidupan yang harmonis.

 

 

RESUME BUKU

FILSAFAT PENDIDIKAN BARAT

DAN FILSAFAT PENDIDIKAN PANCASILA

WAWASAN SECARA SISTEMATIK

(Tugas Mata Kuliah : Filsafat Pendidikan)

(Dosen : Prof. Dr. Nengah Bawa atmaja, M.A.)

 

 

Oleh

I MADE YUDA ASMARA, S.Pd.H

(14.1.2.5.2.0775)

INSTITUT HINDU DHARMA NEGERI DENPASAR

PROGRAM PASCA SARJANA

DHARMA ACARYA

2015

BAHASA KOMUNIKASI POLITIK ANALISIS WACANA POLITIK — July 7, 2015

BAHASA KOMUNIKASI POLITIK ANALISIS WACANA POLITIK

 

 

 

BAHASA

KOMUNIKASI POLITIK

ANALISIS WACANA POLITIK

 

 

 

 

 

Disusun oleh : I KOMANG WARSA

Dipostkan oleh : I Made Yuda Asmara

 


BAB I

PENDAHULUAN

 

  • Latar Belakang Penelitian

Setakat ini bahasa selalu hidup seirama dengan perkembangan teknologi. Zaman perubahan sosial yang begitu hebat dan sebuah era yang begitu cepat yang sering disebut sebagai era “tunggang langgang” yaitu era yang tidak begitu jelas antara yang kiri dan yang kanan. Melihat era yang begitu cepat dan hebat, maka peranan bahasa amatlah penting. Bahasa merupakan media komunikasi yang primer dalam peradaban kehidupan umat manusia di planet bumi ini. Jika tidak ada bahasa, bisa dibayangkan dunia ini akan menjadi tanpa aktivitas dan terasa sepi. Penghuni planet bumi yang disebut manusia memerlukan bahasa sebagai media interaksi sosial dan juga peradaban keilmuan juga memerlukan bahasa, ini membuktikan bahwa kehidupan di jagat raya ini tidak mungkin tanpa bahasa. Peran bahasa di bidang keilmuan adalah sebagai pentransfer ilmu, alat pengembangan keilmuan, dan bahasa merupakan penghela ilmu lain dalam dunia pendidikan. Misalnya publikasi segala keilmuan jelas menggunakan media bahasa. Melihat fakta itu menjadikan bahasa merupakan hal yang esensial dalam segala aspek kehidupan. Bahasa mutlak diperlukan oleh manusia untuk mencurahkan segala pikiran dalam kehidupannya. Bahasa ibaratnya napas dalam kehidupan manusia, artinya sepanjang napas itu ada dalam tubuh manusia maka sepanjang itu pun bahasa melekat dalam kehidupan itu sendiri. Manusia tidak pernah menjadikan napas itu sebuah beban dalam hidupnya, justru napas itu merupakan sang jiwa yang penting untuk menjadikan manusia itu hidup. Begitu juga halnya dengan bahasa, manusia tidak pernah merasakan beban dalam berbahasa karena kapan manusia berhenti bernapas saat itu manusia akan berhenti berbahasa dan kapan berhenti berbahasa saat itu aktivitas dan proses berpikir pun akan berhenti. Berhentinya proses berpikir sebagai ciri manusia mati dan jika sudah mati maka bahasapun ikut lenyap. Mengingat begitu kompleks dan luasnya peranan bahasa dalam kehidupan maka bahasa selalu menarik untuk dikaji karena masalah bahasa tidak pernah kering untuk dikaji atau diteliti.

Berbahasa adalah bertutur dalam bentuk untaian wacana yang disampaikan secara lisan maupun secara tertulis. Untaian tersebut didukung oleh hal yang paling kecil dalam sebuah bahasa yang disebut morfem sampai kewujud yang paling besar yaitu wacana. Wacana memuat rentetan kalimat yang berhubungan dan menghubungkan proposisi yang satu dengan proposisi lainnya, membentuk satu kesatuan informasi (Fatimah Djajasudarma, 2006 :1). Wacana memiliki untaian kalimat yang mendukung dari makna sebuah wacana. Wacana merupakan wujud penggunaan bahasa yang dibentuk oleh manusia sebagai pengguna bahasa dengan cara memilih topik pembicaraan dan menyusunnya dengan pola tertentu, menggunakan serta memilih kata, membentuk frasa, menyususn kalimat serta mwujudkannya yang lebih besar. Geertz (dalam Hikam. 1996:81) menyatakan memahami bahasa sebagai salah satu simbol kultural yang berfungsi memberikan orientasi, komunikasi, dan pengendalian diri kepada manusia, maka bagi Geertz bahasa tidak hanya dimengerti dalam fungsi kognitif belaka, tetapi lebih penting lagi dalam kapasitas penghasil kenyataan-kenyataan sosial. Memaknai pandangan Geertz berarti bahasa sebagai media komunikasi sosial untuk mengendalikan diri terutama dalam berbicara. Realitas ini menandakan bahwa keberhasilan suatu komunikasi sangat bergantung kepada keefektifan dan kekonsistensian dalam penggunaan kalimat dalam wacana. Begitu juga halnya komunikasi yang digunakan dalam dunia perpolitikan untuk sebuah kepentingan, yang sering disebut dengan komunikasi politik. Strategi komunikasi politik sangat diperlukan sebagai upaya menyalurkan isu politik melalui komunikasi agar tanpa hambatan untuk mencapai tujuan politik yang diharapkan. Media yang paling besar pengaruhnya sebagai strategi komunikasi politik untuk memperjuangkan ideologi partai adalah bahasa. Oleh karena itu tidak bisa dipungkiri lagi bahwa bahasa adalah senjata yang keampuhannya tidak diragukan lagi dalam segala aspek kehidupan termasuk dalam kehidupan di panggung politik. Kawan menjadi lawan dan lawan menjadi kawan dalam dunia politik merupakan suatu kewajaran , tentunya dalam konteks dunia politik. Peran bahasa tidak bisa dinomorduakan untuk menuju dan meraih kesuksesan seorang politikus dalam panggung politik. Bahasa dapat membuat orang lain menjadi “hitam” atau “putih” dan bahasa juga bisa membuat kawan jadi lawan. Begitu hebat dan kuatnya energi dan pengaruh bahasa dalam kehidupan manusia baik dalam kehidupan bermasyarakat, dalam dunia pendidikan maupun dalam panggung politik maka bahasa harus ditempatkan terdepan dalam hal tersebut. Baudrillard dengan tegas menyatakan the real monopoly is never that of technical means, but of speech ( Santoso, 2012:7). Bahasa memiliki kekuatan yang maha dahsyat untuk mengontrol perilaku individu, prilaku politukus, komunitas, atau masyarakat. Keterampilan seseorang dalam mendayagunakan , mengatur strategi dalam menggunakan bahasa dan mampu merekayasa kekuatan bahasa akan memiliki peluang untuk menggerakkan orang lain untuk tujuan tertentu ataupun sebaliknya, itulah taksu dan energi kekuatan dari bahasa.

Bolinger dalam Santoso (2012) menyatakan bahwa guns don’t kill people, people kill people” bukan senjata yang membunuh orang, tetapi manusia sendirilah yang membunuh orang. Alat membunuh yang dimaksud dalam pemikiran Bolinger tiada lain adalah aspek bahasa. Melalui bahasa yang digunakan seorang manusia dapat membuat selamat orang lain, sebaliknya dengan bahasa pula manusia dapat mencelakakan orang lain. Hal yang sama juga terjadi dalam dunia politik, lewat bahasa lawan politik bisa terpersuasif atau terpengaruh bahkan lewat bahasa bisa memenangi debat di panggung politik. Bahkan lewat bahasa yang digunakan oleh seorang politikus bisa terjebak dan dijebak karena berbeda penafsiran sehingga melahirkan konflik politik. Hal yang terpenting dalam konteks ini bahwa bahasa seseorang bisa mengangkat pencitraan dirinya ke arah yang lebih positif demi kepentingan politik. Politik selalu berkaitan dengan penguasaan terhadap orang banyak atau seni memengaruhi orang karena sejatinya politik adalah seni. Alat yang efektif digunakan untuk penguasaan itu adalah bahasa, di samping perilaku politik seorang politikus. Bahasa takkan pernah lepas dan steril dari dunia politik. Misalnya, pidato politik saat kampanye pemilu jelas menggunakan bahasa register politik atau fitur bahasa politik, maka jika dipandang dari kajian pragmatik bahasa pidato politik kemungkinan memiliki banyak implikatur dibalik janji-janji yang disampaikan kepada audien (Wijana dan Rohmadi. 2011 : 287). Oleh karena itu, pidato politik diperlukan tuturan istitusi seperti wacana strategis dan wacana komunikatif. Wacana strategis adalah wacana yang bermuatan kekuasaan (power laden) dan diatur oleh tujuan (goal-directed) sedangkan wacana komunikatif adalah wacana yang di dalamnya ada hubungan simetris antarpenutur dalam mencapai kesepahaman di antara penutur itu (Thornborrow. 2002 dalam Anang Santoso:123)

Salah satu bukti hal tersebut peneliti kutip salah satu analisis pidato presiden SBY. SBY berpidato dalam pencitraan dirinya terkait dengan kasus bank century Seperti yang ditulis dalam sebuah tulisan internet yang menyatakan bahwa bagaimana kasus ini sangat memengaruhi citra presiden SBY:

Survei yang dilakukan oleh Indobarometer menunjukkan pengetahuan masyarakat terhadap kasus Century cukup tinggi yakni 77 % responden, mengalahkan respon masyarakat atas program seratus hari SBY-Boediono dan kasus Bibit dan Chandra. Sebanyak 58 % masyarakat menilai kasus Century akibat salah kelola, bukan karena krisis keuangan internasional. Kemudian 43 % masyarakat melihat, Boediono dan Sri Mulyani adalah pihak yang bertanggung jawab atas pencairan dana itu. Meski 36,6 % menyatakan SBY dan keluarganya tidak menerima uang Century namun 48 % menyatakan kasus ini bisa merusak citra SBY. Masyarakat juga menaruh harapan besar kepada pansus Century DPR, 52,4 % yakin pansus Century akan mengungkap kasus ini.

(Jurnal SOSPOL, Vol. 1 No. 2/2012)

Tentu saja ini menimbulkan opini publik yang sangat tidak diinginkan oleh SBY. Sampai kemudian akhirnya pansus Century memberikan laporan akhir terkait penyelidikan kasus ini sesuai dengan deadline yang diberikan oleh presiden. Laporan tersebut disampaikan pada rapat paripurna DPR, namun berakhir dengan kericuhan dan sidang terpaksa ditutup tanpa alasan yang jelas. SBY sebagai presiden kemudian ikut turun tangan. Sesuai janjinya, Presiden menyampaikan tanggapan atas hasil paripurna DPR tanggal 3 Maret 2010 terkait kasus Bank Century. Presiden SBY menyampaikan pidatonya dengan tegas, menjelaskan keputusan bailout Century. Berbagai hal bisa diusahakan dalam membuat sesuatu itu akan menjadi positif atau negatif. Termasuk salah satu di antaranya adalah melalui proses retorika. Retorika dipahami sebagian orang sebagai bentuk bahasa atau tulisan persuasif dan efektif yang bertujuan untuk mengendalikan realita guna memengaruhi audien tertentu. Model dan cara ini memang masih efektif untuk memengaruhi opini publik yang mulai menyimpang. Masyarakat yang mulai tidak percaya akan kredibilitasnya sebagai presiden, mulai membuat SBY kembali bekerja untuk memulihkan citranya tersebut. Salah satunya dengan melancarkan hal-hal yang berbau pencitraan melalui pidatonya. Kabar keterlibatan dan tidak mampunya SBY menangani kasus ini tentu saja membuatnya harus kembali memengaruhi opini publik agar berpihak padanya. Paparan di atas jelas ingin mengembalikan citra Presiden SBY ke dalam ranah yang positif lewat pidatonya.

Deskripsi fenomena di atas menunjukkan bahasa sangat ampuh dipergunakan sebagai media pencitraan diri. Di samping efek positif dari bahasa yang digunakan untuk pencitraan diri seorang politikus ada juga efek negatifnya. Efek negatif yang dimaksud dari bahasa bisa dilihat dari penggunaan bahasa dalam panggung politik yang bisa memunculkan konflik politik, bahkan lebih dari itu bahasa bisa memicu peperangan umat manusia seperti pernah terjadi pada rezim diktator Jerman yang bernama Hilter bahwa lewat pidatonya memicu peperangan rakyatnya. Konflik politik yang sarat dengan kepentingan terjadi jika para komunikator politik memaknai kata secara politis yang sarat kepentingan politik yang mengabaikan makna leksikal dan lebih menekankan pada makna konteks. Praktik kewacanaan memberikan kontribusi bagi penciptaan dan pereproduksian hubungan kekuasaan termasuk di dalamnya ideologi politik yang disampaikan lewat pidato politik (Marianne dan Louise J. 2007 :119). Jadi pidato dalam konteks politik salah satu upaya memulihkan pencitraan diri demi power (kekuasaan) dan penanaman ideologi yang disertai dengan efek ideologinya.

Realitas yang lain dari argumen di atas peneliti mengambil salah satu peristiwa sebagai contoh fakta konflik politik karena komunikasi bahasa. Konflik politik terjadi karena pemaknaan bahasa yang berbeda sudut pandang antara pembicara dan pendengar (audience). Perbedaan pandangan memaknai bahasa dalam komunikasi itu merupakan kegagalan yang fatal dalam berkomunikasi. Hal ini penulis membaca pada berita hariaan Bali Post edisi Minggu, 17 Februari 2013 yang berjudul “Gubernur Usir Anggota Dewan” saat simakrama gubernur Bali di wantilan gedung DPRD Bali Sabtu 16 Februari 2013 ( Bali post, 17 /2/2013). Pemicu konflik adalah hanya sebuah ujaran bahasa yang diucapkan atau diujarkan oleh peserta simakrama yaitu ujaran kata “pas” yang diucapkan oleh seorang anggota dewan dari fraksi PDIP (isi berita Bali Post). Secara leksikal makna kata “pas” menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah ‘tepat’, sedangkan makna pengujarannya atau makna dalam konteks politik dari kata “pas” akan melahirkan berbagai implikatur makna yang tersembunyi bergantung konteks orang, konteks situasi, dan konteks sosial dari bahasa itu. Kata “pas” akan bermakna politik jika diucapkan oleh seorang politikus apalagi yang mengujarkan kata tersebut sebagai lawan politiknya. Ujaran kata “pas” terlontar dari peserta simakrama yang saat itu Bali akan berlangsung perhelatan pemilihan gubernur maka jelas bagi lawan politik akan memaknai secara politis karena yang berbicara juga orang politik (konteks orang dan konteks situasi). Penafsiran makna “pas” oleh gubernur adalah penonjolan kepanjangan “Puspayoga Sukrawan”. Mengingat kata “Pas” merupakan akronim dari pasangan calon gubernur yang diusung oleh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) yaitu Puspayoga-Sukrawan. Puspayoga adalah kandidat calon gubernur periode 2013-2018 dan Sukrawan calon wakil gubernur yang mendampingi Puspayoga. Jika dimaknai secara leksikal kata “pas” bermakna tepat namun di sisi lain penggunaan kata “pas” dipergunakan jargon akronim politik untuk mengusung salah satu kandidat calon gubernur dari parpol PDIP untuk periode lima tahun ke depan, yaitu periode 2013-2018. Karena konteks situasi dan konteks orang yang mengujarkan kata “pas” saat itu maka konflik politik pun terjadi. Konflik itu muncul karena memaknai bahasa dari dua sudut pandang yang berbeda yaitu yang pertama memaknai kata secara leksikal dan kedua memaknai kata dikaitkan dengan konteks orang dan situasi. Perbedaan pandangan ini melahirkan perbedaan menafsirkan makna kata. Gubernur Made Mangku Pastika yang saat penelitian ini dilaksanakan sedang menjabat sebagai gubernur Bali (konteks orang) dan juga kandidat gubernur Bali periode kedua (konteks situasi). Gubernur Made Mangku Pastika sesuai berita Koran harian Bali Post mengusir anggota dewan hanya karena melontarkan ujaran kata “pas” saat pertemuan (simakrama). Kekuatan bahasa bisa dibuktikan dari kasus terjadi di atas, betapa kuatnya pengaruh bahasa dalam dunia komunikasi. Kesalahpahaman antara penutur dengan petutur dalam konteks kasus di atas karena perbedaan memaknai secara ilokusi antara penutur dengan petutur .

Di samping kasus di atas peneliti juga pernah menghadiri pertemuan (simakrama) guru-guru di Kabupaten Karangasem. Pada pertemuan itu peneliti kutip satu kalimat dari wacana yang bersifat deklaratif disampaikan oleh Bapak I Wayan Geredeg dan kalimat tersebut peneliti menafsirkan ada terkandung atau memuat makna secara politis. Wacana (kutipan kalimat) yang diujarkan yaitu “boleh di mana-mana tetapi jangan ke mana-mana”, (disampaikan saat acara pertemuan/simakrama guru-guru). Kenapa kalimat tersebut peneliti tafsirkan mengandung makna secara politis karena kalimat yang disampaikan oleh Bapak I Wayan Geredeg selaku bupati dan sekaligus Beliau selaku ketua DPC partai Golkar Kabupaten Karangasem. Itu berarti kalau dikaji dari perspektif ilmu pragmatik bahwa tuturan yang disampaikan oleh penutur dalam konteks kalimat di atas mengandung makna politis karena penutur (pembicara) saat bertutur (berbicara) masih ada napas politik yang melekat pada dirinya. Di samping itu juga karena saat tuturan (pengucapan) kalimat tersebut Bali sedang mengadakan perhelatan pemilihan gubernur Bali (konteks situasi). Dengan konteks situasi dan konteks orang yang mendasari ujaran tersebut akan memunculkan penafsiran pemaknaan ujaran secara politis juga bagi pendengar (audience) dan terutama peneliti. Implikatur dari wacana itu kalau dilihat dari konteks situasi (situasi saat ada kampanye Pilkada), yaitu situasi pemilihan gubernur Bali dan konteks orang (sebagai orang yang berkuasa, sebagai Bupati dan ketua Golkar Karangasem) sehingga register bahasanyapun cenderung menggunakan register bahasa politik, maka   sesuai dengan konteks dan register bahasa yang digunakan memunculkan implikatur makna secara politis. Implikatur makna politik dari ujaran tersebut adalah pendengar diajak untuk tetap memilih walaupun berada di mana tetapi tetap suaranya jangan dibawa kemana-mana pilih gubernur dan partai Golkar sebagai pengusung kandidat calon gubernur Bali (Made Mangku Pastika). Peneliti menafsirkan makna seperti itu karena orang yang bertutur itu adalah orang petinggi partai Golkar dan sebagai bupati yang masih memiliki pawer (kekuasaan) serta konteks situainya Bali sedang mengadakan perhelatan Pemilukada . Melihat fenomena di atas memberikan pemahaman betapa kekuatan peran bahasa dalam kehidupan berkekuasaan demi melanggengkan pawer (kekuasaannya). Bahasa salah satu yang digunakan sebagai peranti melanggengkan kekuasaan dan kepentingan politiknya. Ini menandakan bahasa (wacana) bukan sekadar sebagai alat komunikasi antar individu satu dengan yang lainya, antara masyarakat satu dengan yang lain bahkan lebih dari itu bahwa bahasa dapat dimanfaatkan untuk menunjukkan kekuatan-kekuatan dalam konteks kekuasaan dalam menaklukkan yang dikuasainya. Bahasa bukan alat komunikasi yang netral, bahasa selalu mengabdi pembicara. Ketidaknetralan bahasa maka diperlukan suatu kajian dan analisis wacana kritis yang menempatkan makna kata sesuai dengan konteks situasi, konteks orang dan konteks ideologi (kepentingan politik). Menguatkan argumen tersebut maka benar apa yang dikatakan seorang pakar ilmu bahasa bahwa makna bukanlah sesuatu yang alamiah, tetapi dibangun dalam proses-proses sosial dan politik (Anang Santoso, 2003:8). Semestinya kesalahpahaman kasus saat pertemuan (simakrama) gubernur tidak akan  terjadi jikalau kedua belah pihak mengerti, paham terhadap konteks pembicaraan, dan yang terpenting lagi peka terhadap konteks (context sensitive) yakni konteks lingual, situasi, dan konteks orang. Kesalahpahaman tersebut karena penutur dan petutur memaknai kata “pas” itu dari sudut pandang konteks yang berbeda, yaitu penutur memaknai dari sudut konteks lingual sedangkan petutur memaknai dari sudut konteks orang, situasi, dan konteks politik.

Jika dikaitkan dengan ideologi, bahasa dapat menjadi alat untuk pencitraan diri dan memiliki taksu kekuatan di bidang politik. Bahasa sebagai taksu kekuatan tidak diragukan lagi bahwa di bidang politik bahasa dan bahasa dalam politik sangat memegang peranan yang penting untuk bisa menaklukan ideologi lawan politik. Bahasa dijadikan alat untuk melakukan aktivitas politik terutama dalam kampanye (pidato-pidato politik) misalnya melalui jargon bahasa maupun bahasa politik atau politik bahasa. Realitas ini menjadikan barometer keberhasilan pencitraan diri demi mewujudkan impian politik menggunakan peranti bahasa baik secara lisan maupun tulis. Di sini bahasa politik berperan melunakkan kekuatan politik lawan agar ideologi yang diinginkan diterima yang dibarengi dengan politik bahasa yang mapan dan berterima. Seperti apa yang pernah terlontar oleh Bung Karno “ Beri saya sepuluh pemuda, maka akan saya guncang dunia!”. Itu bisa masuk kategori bahasa politik seorang orator piawai yang mengguncang, mengajak, membujuk dan menggugah. Masih ingat pidatonya Hilter, dengan kepiawiannya berpidatonya bisa meyakinkan rakyatnya sehingga bisa menyeret api peperangan. Itu artinya kekuatan bahasa tidak terkira dan tidak diragukan lagi. Bagaimana seorang politikus berdebat seperti Ruhut Sitompul, seorang politikus saat berdebat, beradu argumen di parlemen karena tak mampu menahan diri melawan “kata-kata” politikus dari partai lain. Bagaikan kehabisan akal dan kehabisan bahasa, yang salah satunya disebabkan keterbatasan kosa kata. Ini menandakan kemampuan orang berbahasa (didukung penguasaan kosa kata) sangat membantu menaklukkan ideologi lawan politik dan jika tidak menguasai bahasa jelas kecerdasan emosional (EQ) akan mulai mendominan. Kehabisan kosa kata saat berbicara apalagi dalam debat akan memicu adrenalin dan melabilkan tingkat EQ (Emotional Question). Jadi fenomena-fenomena di atas menjadikan pembuktian bahasa dalam politik dan politik dalam bahasa sangan urgen. Dan juga kecerdasan emosional (EQ) sesorang tidak terkontrol salah satunya dipengaruhi oleh faktor bahasa, bisa karena tidak memahami implikatur dialog atau mungkin karena terbatasnya pembendaharaan kosa kata sehingga nalar orang berubah menjadi temperamental.

Bahasa politisi para politikus itu beragam sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Ada yang bertenaga, meradang dan hati-hati penuh empati dan ada juga memohon dengan beragam majas demi terkabulkannya sebuah harapan. Meski apa yang digunakan, sangat bisa jadi, sesuai dengan latar belakangnya: pendidikan, lingkungan dan cara berpikir. Bisa ditambahkan, politik dan ideologi partainya. Walaupun yang belakangan ini begitu cair, sulit untuk dicerna. Mengingat partai politik adalah memperjuangkan ideologi terlebih lagi partai yang berada di luar pemerintahan yang disebut dengan partai oposisi pemerintah. Partai oposisi pemerintah di era pemerintahan SBY adalah Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) selaku kontrol pemerintah dan sekaligus sebagai partai pemenang nomor dua setelah partai Demokrat, pasti menjadi partai pengontrol dan pengkritisi yang signifikan. Bahasa yang digunakan dalam konteks komunikasi politik sebagai partai oposisi sudah tentu menggunakan bahasa register politik baik dari aspek suprastruktur (superstructure), aspek struktur mikro (micro structure) maupun struktur makronya (macro structure). Wujud penggunaan bahasa pada partai oposisi dalam konteks berwacana jelas dibangun oleh faktor-faktor linguistik atau aspek kebahasaan yang memuat tujuan pembicara atau penulis teks dari wacana. Tujuan tersebut tidak hanya untuk menyampaikan pesan semata, tetapi lebih dari itu, yakni untuk menyampaikan gagasan, pandangan, dan memperjuangkan kepentingan (ideologi). Praktik berwacana (discursive practice) sesorang tidak hanya memberikan informasi, tetapi juga mengarahkan, memengaruhi, membatasi perhatian, dan bahkan bisa merekayasa bathin pembaca atau pendengar. Berdasarkan pandangan itu maka wacana dapat dikaji dari aspek suprastruktur (superstructure), struktur mikro (micro structure) , dan struktur makro (macro structure). Suprastruktur (superstructure) yang dimaksud adalah bagaimana pendahuluan, isi dan penutup saat memberikan pidato-pidato politik seorang ketua partai oposisi atau bagaimana suprastruktur yang digunakan saat mengkritisi pemerintah. Aspek struktur mikro (micro structure) yang dimaksud adalah pilihan kata, kalimat, dan stilistika bahasa yang digunakan oleh seorang ketua dalam teks-teks pidatonya. Struktur mikro menunjuk pada makna setempat (local meaning) yang dapat meliputi struktur gagasan, peranti kohesif dan kepaduan atau kesatuan gagasan. Struktur makro (macro structure) adalah implikatur yang diinginkan oleh sang pembuat teks. Struktur makro mengkaji makna secara keseluruhan (global meaning) yang dapat dicermati dari tema atau topik yang diangkat oleh suatu wacana.

Kajian-kajian suprastruktur, mikro, dan makro wacana dalam praktik berbahasa khususnya bahasa pidato politik pada prinsipnya merupakan suatu upaya penguasaan hegemoni demi menanamkan ideologi politik dan kepentingan untuk memengaruhi orang lain dalam konteks hegemoni politik. Oleh karena itu analisis wacana dengan pandangan kritis menjadi begitu penting untuk dipahami. Mengingat berpolitik adalah seni memengaruhi dengan strategi berbahasa. Begitu ampuhnya peran bahasa sebagai alat pertarungan dalam dunia politik maka perlu ada sebuah kontrol berbahasa untuk memersuasif lawan politik yang memiliki ideologi yang berbeda. Akan tetapi, semakin terkontrol bahasa yang digunakan dalam ranah politik semakin diulas oleh lawan politik baik dari bahasa politik maupun dari konteks ideologinya. Kontrol merupakan pemicu munculnya konflik karena semakin ada kontrol konflik akan muncul dan di mana ada konflik di situ ada permainan politik. Hal ini didukung oleh pernyataanya Birch 1996 dalam Santoso (2012 :219) mengatakan “ Di mana ada kontrol, di situ terdapat konflik, dan di mana ada konflik di situ selalu politik. Tidak ada tindak komunikasi, tidak ada masalah yang tampak sederhana dan innocent dapat melarikan diri dari politik” Dalam pandangan Rakhmat dalam Santoso mengatakan berbicara masalah politik tidak dapat terlepas dari persoalan “ideologi”, dalam perumusan dan penyebaran ideologinya, peran bahasa sangat penting (Santoso,2012 hal: 13-14). Berikut Pandangan Tampubolon, sifat hubungan politik antara penguasa dan rakyat akan memengaruhi ragam bahasa politik (Susanto,2012, 6). Jika bahasa masuk sudah ke ranah politik maka sudah berbicara bahasa dan seni dalam menanamkan ideologi kepada lawan politik. Dan di kalangan politikus, bahasa bisa ditekuk-tekuk sesuai tujuan dan harapan pembicara. Rakyat menjadi begitu dibingungkan menafsirkan dan memaknai bahasa yang digunakan oleh para politikus secara tepat. Sebenarnya sedang berbicara apa dan maksud atau sasarannya mau ke mana? Walau rakyat kerap dilibatkan untuk kepentingan dalam wacana itu. Baik dalam jargon, kampanye, keputusan dan teks dalam undang-undang atau dalam pidato-pidato politik, bila perlu. Dengan bahasa, orang dapat membungkam lawan politiknya. Bahasa dapat mengubah opini publik terhadap suatu masalah. Bahasa pun dapat membujuk dan meyakinkan khalayak terhadap suatu argumen politik. Melalui pendekatan bahasa, seseorang dapat dijadikan pendukung setia suatu partai politik. Melalui pidato politik dengan menggunakan bahasa politik yang tepat dan politik bahasa yang tepat publik akan bisa terpengaruh. Kekuatan bahasa telah mampu mendongkrak popularitas seorang politikus. Tidak dapat dipungkiri bahwa bahasa telah merasuki dunia politik dan bisa mengubah pemikiran publik. Bahasa politik itu adalah bahasa yang digunakan oleh elit politik dalam memperjuangkan kepentingan politik tertentu. Bahasa politik memeroleh tempat yang strategis karena berbagai kepentingan elit diperjuangkan melalui bahasa yang dikemas dalam cara tertentu dalam percaturan politik tingkat tinggi (Yudi Latif dan Subandy Ibrahim, 19). Oleh karena itu  seorang politikus harus menguasai register bahasa politik untuk bisa menguasai simpati masyarakat sesuai dengan kehendaknya. Bahasa dianggap sebagai senjata ampuh dan sesuatu yang sebenarnya hanya bersifat kepentingan individu dikemas menjadi sesuatu yang tampaknya menjadi kepentingan orang banyak. Sesuatu yang sebenarnya hanya kepentingan kelompok dikemas menjadi sesuatu yang tampaknya menjadi kepentingan nasional atau kepentingan masyarakat banyak. Sejalan dengan pendapat Orwell dalam Santoso (2012,221) bahwa pada prinsipnya bahasa politik adalah pembelaan terhadap sesuatu yang tidak pantas dibela. Bahasa politik mesti dipahami dan dibedah dengan pandangan kritis atau pisau kepentingan. Bahasa senantiasa berdenyut dan berhembus dalam setiap napas politik di Indonesia. Dalam sejarah dunia, justru kepandaian berbicara atau berpidato merupakan instrumen utama untuk memengaruhi massa . Bahasa dipergunakan untuk meyakinkan orang lain. Dan kemampuan ini umumnya dimiliki oleh tokoh penting seperti para Presiden, politikus, ketua-ketua atau tokoh-tokoh partai politik.

Sejalan dengan adanya Pemilihan Umum (Pemilu) baik legislatif maupun pemilihan kepala daerah atau presiden maka bahasa menjadi media yang sangat penting digunakan untuk memenangi pertarungan politik. Seorang calon seperti calon presiden, calon gubernur, dan calon bupati memerlukan pencitraan diri yang positif saat pemilu, yakni melalui jargon-jargon politik atau bahasa politiknya sebagai media ideologi politik yang disampaikan lewat pidato-pidato politiknya (lisan maupun tulis). Kekuatan bahasa dapat digunakan untuk membangun kepercayaan publik sudah sepatutnya dimiliki oleh orang yang berkecimpung di panggung politik untuk bisa memainkan peran politiknya secara baik. Gunawan (1992:184) dalam Wijana menyatakan bahwa selain untuk menyampaikan amanat, tugas, dan kebutuhan penutur, tujuan komunikasi adalah menjaga atau memelihara hubungan sosial penutur dengan pendengar dan yang terpenting lagi adalah memelihara hubungan komunikasi politik. Mengingat begitu pentingnya bahasa digunakan media komunikasi dalam pertarungan politik maka bahasa harus digunakan sesuai dengan konteksnya.

Pidato politik merupakan pidato yang disampaikan dengan tujuan dan target tertentu yang disebut dengan kepentingan. Pidato politik memerlukan sebuah bahasa yang politis yang disebut dengan bahasa politik. Mengingat bahasa politik adalah bahasa yang digunakan para politikus maka penelitian terhadap bahasa politik dengan pisau analisis wacana kritis dengan pandangan kritis sangat perlu. Dalam pandangan Beard penelitian terhadap bahasa politik (BP) khususnya yang digunakan oleh para politikus dalam berpidato dapat membantu memahami bagaimana bahasa digunakan dalam persoalan-persoalan seperti 1. Siapa yang ingin berkuasa, 2. Siapa yang ingin menjalankan kekuasaan dan 3. Siapa yang ingin memelihara kekuasaan (Beard, 2000: 2 dalam Santoso, 2003 : 1). Berpijak pada paparan di atas bahwa bahasa politik (BP) digunakan untuk mengacu pada pemakaian bahasa oleh rezim pemerintah yang berkuasa dan agen partai politik dalam menggerakkan masyarakat banyak agar mau dengan apa yang menjadi harapan dan kepentingan sang orator politik. Bahasa politik (BP) termuat ideologi dan kekuasaan untuk mencapai maksud-maksud atau tujuan politik tertentu. Hal itu jelas menganalisis wacana teks pidato politik tidak hanya melihat teks tersebut semata-mata sebagai fenomena linguistik, tetapi juga sebagai fenomena sosial, yang menurut Van Dijk disebut dengan kognisi sosial. Analisis kajian tersebut bisa dilakukan dengan pendekatan formal dan pendekatan forma-fungsional secara dialektis dengan pandangan kritis. Pandangan pendekatan formal, wacana berwujud kalimat-kalimat yang runtut dan utuh. Wacana dibangun dengan struktur tertentu (Schiffrin, 2007:24). Sedangkan pandangan yang melihat teks-teks sebagai wacana sesuai dengan pandangan formal-fungsional secara dialektis yang disebut dengan pandangan kritis. Fairclough (1995) dalam Jufri (2006:25) menyatakan bahwa dalam pandangan kritis, dimensi kewacanaan secara simultan meliputi dimensi teks yang bekaitan dan interpretasi teks, dan dimensi praktik sosial kultural. Hal ini dapat dilihat pada karakteristik dari analisis wacana yang meliputi, tindakan, konteks, historis, kekuasaan, dan ideologi.

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa dari segi bentuk, Teks Pidato politik Ketua Umum partai oposisi pada Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono dalam hal ini Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) mempunyai struktur supra, struktur makro, dan struktur mikro tersendiri. Mengingat teks pidato politik memiliki tujuan secara politik. Kemudian dari aspek struktur makro penggunaan bahasa, tulisan-tulisan tersebut memuat ideologi dengan melibatkan relasi kekuasaan agar pendengar dapat menerima. Dengan kata lain, pilihan bahasa pada teks pidato mencerminkan pandangan pembicara. Pembicara mengontrol pembenaran itu dengan alasan beragam melalui bahasa-bahasa dengan memanfaatkan aktor kekuasaan, sosial budaya, adat, dan partainya. Dalam konteks itu terdapat jalinan ideologi dan kekuasaan yang menunjukkan posisi penulis/pembicara, sebagai komunitas yang mendominasi sebagai orang yang berkuasa dan pendengar/pembaca yang didominasi sebagai orang yang lemah. Posisi penulis / pembicara mencerminkan bahwa ia berupaya mendominasi pendengar. Hal tersebut berarti bahwa teks-teks pidato itu tidak hanya merupakan fenomena linguistik, tetapi juga merupakan fenomena sosial (sosiolinguistik). Di samping itu juga perlu disadari bahwa bahasa tampil sebagai representasi dari ruang bagi pegelaran (deployment) berbagai macam kuasa. Oleh karena itu, bahasa lantas dilihat pula sebagai salah satu ruang (space) tempat konflik-konflik berbagai kepentingan, kekuatan, kekuasaan, proses hegemoni dan hegemoni tandingan (counter-hegemony) terjadi (A.S. Hikam,1996:77).

Penelitian aspek bahasa dalam pidato politik yang disampaikan oleh M.S. menggunakan pisau bedah analisis wacana kritis karena bisa membongkar secara kritis makna apa yang tersembunyi (latent) dan nyata (manifest) dalam pidato politik dimaksud. Penelitian ini nanti bisa berguna dalam ranah pendidikan khususnya dalam pengajaran dan pengembangan materi berbicara khusunya berpidato yang bersifat persuasif dengan bingkai karakter bangsa. Di samping itu mempersiapkan peserta didik terutama siswa SMA untuk mempersiapkan terjun ke dalam dunia politik dengan asas demokrasi baik yang berskala nasional, maupun daerah dan terutama bisa diterapkan pada sekala kecil misalnya pemilihan ketua Osis di sekolah-sekolah. Dengan pengajaran materi pidato yang tepat dan teknik memengaruhi pendengar (audience) nanti akan melahirkan calon-calon intelektual dan politikus yang mempunyai prinsip, karakter baik, dan bukan semata-mata mencari kemenangan. Di samping itu, para siswa mempunyai kemampuan berbahasa yang kuat dan kritis sebagai bekal terjun dalam kehidupan masyarakat politik yang bermartabat dan berkarakter.

Trina Desryantini dalam penelitiannya yang berjudul Analisis Wacana Kolom Debat Publik tentang Togel Marak di Bali pada Harian Bali Post (Kajian dari Struktur Mikro dan Makro) menyimpulkan bahwa struktur mikro yang digunakan penulis dalam membangun wacana Debat Publik tentang Togel Marak di Bali pada Harian Bali Post adalah pola pengembangan deduktif dengan menggunakan aspek sintaksis, semantik dan retorik bervariasi. Hasil penelitian dari aspek struktur makro yang digunakan penulis pada wacana Debat Publik tentang Togel Marak di Bali pada Harian Bali Post terdiri atas pengungkapan ideologi. Pada prinsipnya ideologi penulis menolak judi togel dengan argument agama, budaya (adat), sosial, dan hukum. Penelitian sejenis yang lain adalah tesis I Wayan Numerteyasa yang berjudul “ Analisis Wacana Esai Kajian Struktur Supra, Mikro dan Makro pada Esai Hasil Pelatihan Menulis Esai Sekolah Menengah Sekecamatan Rendang Tahun 2011.”

Melalui penelitian analisis wacana kritis teks pidato politik, diharapkan siswa mampu memproduksi dan menggunakan teks sesuai dengan tujuan dan fungsi sosialnya. Pembelajaran bahasa berbasis teks, bahasa Indonesia diajarkan bukan sekadar sebagai pengetahuan bahasa, melainkan sebagai teks yang mengemban fungsi untuk menjadi sumber aktualisasi diri penggunanya pada konteks sosial-budaya akademis. Teks dimaknai sebagai satuan bahasa yang mengungkapkan makna secara kontekstual.

Pembelajaran bahasa Indonesia berbasis teks dilaksanakan dengan menerapkan prinsip bahwa (1) bahasa hendaknya dipandang sebagai teks, bukan semata-mata kumpulan kata atau kaidah kebahasaan, (2) penggunaan bahasa merupakan proses pemilihan bentuk-bentuk kebahasaan untuk mengungkapkan makna, (3) bahasa bersifat fungsional, yaitu penggunaan bahasa yang tidak pernah dapat dilepaskan dari konteks karena bentuk bahasa yang digunakan itu mencerminkan ide, sikap, nilai, dan ideologi penggunanya, dan (4) bahasa merupakan sarana pembentukan kemampuan berpikir manusia.

Sementara itu, struktur teks merupakan cerminan struktur berpikir. Dengan demikian, makin banyak jenis teks yang dikuasai siswa, makin banyak pula struktur berpikir yang dapat digunakannya dalam kehidupan sosial dan akademiknya. Hanya dengan cara itu, siswa kemudian dapat mengonstruksi ilmu pengetahuannya melalui kemampuan mengobservasi, mempertanyakan, mengasosiasikan, menganalisis, dan menyajikan hasil analisis secara memadai.

Jenis-jenis teks tersebut dapat dibedakan atas dasar tujuan (yang tidak lain adalah fungsi sosial teks), struktur teks (tata organisasi), dan ciri-ciri kebahasaan teks-teks tersebut. Sesuai dengan prinsip tersebut, teks yang berbeda tentu memiliki fungsi yang berbeda, struktur teks yang berbeda, dan ciri-ciri kebahasaan yang berbeda. Dengan demikian, pembelajaran bahasa berbasis teks merupakan pembelajaran yang memungkinkan siswa untuk menguasai dan menggunakan jenis-jenis teks tersebut di masyarakat. Dan yang terpenting bagi guru-guru bahasa Indonesia dalam mengajarkan bahasa Indonesia terutama materi pidato dan khusunya siswa-siswa SMA agar mempunyai bekal tentang pidato persuasif utamanya pidato politik sebagai bekal terjun ke masyarakat dan dunia politik. Di samping itu Kurikulum 2013, buku siswa kelas X ini juga memuat lima pelajaran yang terdiri atas dua jenis teks faktual, yaitu laporan hasil observasi dan prosedur kompleks; dua jenis teks tanggapan, yaitu teks negosiasi dan teks eksposisi; dan satu jenis teks cerita, yaitu teks anekdot.

Mengingat pentingnya bahasa dalam panggung perpolitikan untuk pencitraan yang positif dan menanamkan ideologi (kepentingannya) bagi kalangan politikus memaknai maksud yang ingin disampaikan dalam wacana dalam konteks dan situasi politik dalam menancapkan kuku ideologinya , maka peneliti merasa tertarik mengangkat judul “Analisis Wacana Kritis (AWK) Teks Pidato Politik Ketua Umum Partai Oposisi pada Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). “ Teks pidato yang diteliti adalah teks pidato partai politik dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) merupakan partai yang berada di luar pemerintahan karena Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) tidak ikut dalam jajaran kabinet pemerintahan SBY dari partai demokrat. Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) memosisikan sebagai partai oposisi.

  • Identifikasi Masalah

Penelitian yang menggunakan pisau bedah yang berupa teori analisis wacana memiliki ruang lingkup kajian yang sangat luas . Keluasan itu mencakup struktur supra, mikro dan makro. Struktur supra mencakup struktur yang melingkupi wacana dari pendahuluan, isi dan penutup. Struktur mikro menunjuk pada makna setempat (local meaning) yang menyangkut aspek sematik , sintaksis, stilistika, majas, leksikalisasi, relasi makna, modus kalimat, strategi kehadiran kata ganti, struktur teks, dan retorika. Di samping menyangkut aspek yang sudah disebutkan di depan struktur mikro dapat juga berkaitan dengan implikatur (konvensi kebermaknaan penggunaan kata-kata dalam tuturan), praanggapan (berupa pola penautan proposisi dalam kalimat, baik dihadirkan atau tidak dalam paparan bahasanya), dan inferensi (kesimpulan oleh pembaca atau pendengar sewaktu memahami paparan bahasa). Struktur makro mengacu pada makna keseluruhan (global meaning) yang dapat dicermati dari tema atau topik yang diangkat oleh suatu wacana dalam konteks ini adalah wacana pidato politik.

  • Ruang Lingkup Masalah

Penelitian tentang Analisis Wacana Kritis (AWK) Teks Pidato Politik Ketua Umum Partai Oposisi pada Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono terpokus pada struktur supra, struktur makro, dan struktur mikro dengan memperhatikan tiga dimensi/bangun yaitu dimensi teks, dimensi kognisi sosial, dan dimensi konteks sosial. Kajian terhadap superstruktur mencakup pendahuluan teks pidato, isi pidato, dan penutup pidato politik. Kajian struktur makro mencakup ideologi atau pandangan penulis dalam upaya mendominasi pendengar agar terpengaruh dan mau mengikuti apa yang dikehendakinya. Kajian mikro mencakup pola pengembangan paragraf, struktur, stilistika dan peranti kohesif leksikal dan gramatikal.

  • Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian permasalahan di atas maka dapat dikaji suatu masalah sebagai berikut :

  1. Bagaimanakah struktur supra yang digunakan dalam teks pidato politik ketua umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP)?
  2. Bagaimanakah struktur mikro yang digunakan dalam teks pidato politik ketua umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP)?
  3. Bagaimanakah struktur makro yang digunakan dalam teks pidato politik ketua umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP)?

1.5. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut.

  1. Untuk mengetahui dan mendeskripsikan struktur supra yang digunakan dalam teks pidato politik ketua umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).
  2. Untuk mengetahui dan mendeskripsikan struktur mikro yang digunakan dalam teks pidato politik ketua umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).
  3. Untuk mengetahui dan mendeskripsikan struktur makro yang digunakan dalam teks pidato politik ketua umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).

1.6 Manfaat Penelitian

Penelitian ini secara umum memberikan dua manfaat, yaitu (1) manfaat teoretis dan (2) manfaat praktis.

  1. Manfaat Teoretis

Secara teoretis penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan dan kontribusi terhadap keilmuan terutama bagi perkembanganm dan pengembangan teori tentang analisis wacana khususnya Analisis Wacana Kritis (AWK) pada teks pidato politik dalam rangka pengembangan bahan ajar bahasa Indonesia khusunya pada materi pengajaran pidato persuasif di SMA. Penelitian ini diharapkan dapat membedah secara kritis ideologi dan hal-hal tersembunyi yang terdapat dalam teks pidato politik. Analisis Wacana Kritis (AWK) dapat meretas secara tuntas unsur-unsur struktur supra, struktur mikro, dan struktur makro pidato politik yang dikaitkan dengan konteks, kondisi sosial politik masyarakat. Oleh karena itu penelitian ini dapat dipakai referensi atau rujukan dalam rangka pengembangan bahan ajar pembelajaran materi pidato pada mata pelajaran bahasa Indonesia di tingkat SMA khususnya kelas XII. Apalagi siswa kelas XII sudah menginjak umur 17 tahun maka hak-hak politiknya sudah bisa dipergunakan.

  1. Manfaat Praktis

Secara praktis penelitian ini memberikan sumbangan dan kontribusi keilmuan di kalangan masyarakat akademik terutama yang tertarik pada ilmu linguistik khususnya tentang analisis wacana. Di kalangan masyarakat akademis dapat memberikan pemahaman tentang struktur supra yakni skematik dari teks pidato, pemahaman tentang struktur mikro yakni dari tatanan kata sampai ketatanan paragraf yang digunakan dalam tek pidato, dan pemahaman tentang struktur makro yakni hal-hal yang tidak tampak atau tersembunyi (latent) bisa menjadi eksplisit atau nyata. Di samping itu, hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai acuan atau referensi oleh guru-guru bahasa Indonesia sebagai bahan pengembangan materi pelajaran bahasa Indonesia khusus menyangkut materi berbicara atau materi berpidato persuasif. Di samping itu kalangan dunia pendidikan yang merupakan sumber pencetak Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas dan berkarakter bisa dipergunakan sebagai acuan pengembangan kurikulum sesuai dengan kebutuhan masyarakat, terutama siswa-siswi yang sudah kelas XII untuk mempersiapkan diri terjun ke dalam masyarakat baik sebagai pemerhati dan atau terjun ke panggung politik. Maka lewat materi pengajaran membaca dan berbicara pada submateri berpidato yang bercorak persuasif siswa bisa menyampaikan pikiran kritis dan belajar memperjuangkan ideologinya. Dan manfaat terakhir yaitu bagi peneliti yang lain yang tertarik pada penelitian wacana kritis, penelitian ini bisa digunakan salah satu referensi.

Di samping itu, dilihat dari perspektif dunia pendidikan bahwa analisis wacana kritis pada teks politik sangat bermanfaat bagi kalangan siswa, terutama siswa SMA khususnya siswa SMA kelas XII yang sudah menginjak umur 17 tahun dan secara hukum sudah memiliki hak-hak politik, baik sebagai pemilih maupun hak untuk dipilih. Mengingat dalam kurikulum tahun 2004 pada materi pelajaran membaca dan berbicara kelas XII yaitu yang pertama Standar Kompetensi (SK) tiga yaitu memahami artikel dan teks pidato pada Kompetensi Dasar (KD) 3.2. membaca nyaring teks pidato dengan intonasi yang tepat. Yang kedua pada Standar Kompetensi sepuluh yaitu mengungkapkan informasi melalui presentasi program/proposal dan pidato tanpa teks pada Kompetensi Dasar (KD) 10.2 berpidato tanpa teks dengan lafal, intonasi, nada dan sikap yang tepat. Materi pidato baik menyangkut materi memproduksi teks pidato maupun materi cara menyampaikan pidato secara persuasif sangat bermanfaat sekali untuk bekal siswa siswi terjun ke masyarakat. Pidato secara persuasif adalah pidato yang tujuannya memengaruhi audien atau pendengar agar terpesuasif/terpengaruh oleh isi pidatonya. Pidato politik salah satu contoh jenis pidato persuasif untuk membujuk, merayu atau memengaruhi pendengar. Apalagi kurikulum 2013 menitikberatkan pembelajaran berbasis teks dengan pendekatan saintifik (scientific).dan komunikatif. Pendekatan saintifik dan komunikatif pada mata pelajaran bahasa Indonesia peserta didik (siswa) dituntut untuk berpikir kritis, ilmiah, prosedural, dan metakognitif maka analisis wacana kritis sangat penting untuk pembelajaran bahasa Indonesia di kalangan siswa SMA. Materi pembelajaran bahasa Indonesia dengan pendekatan saintifik (scientific) dan komunikatif yang berbasis pada fakta atau fenomena artinya dapat dijelaskan dengan logika atau penalaran tertentu; bukan sebatas kira-kira, khayalan, legenda, atau dongeng semata.


BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 Kajian Teori

2.1.1 Hakikat Wacana

Media komunikasi yang paling penting bagi manusia untuk melakukan interaksi sosial adalah bahasa. Kenyataannya bahasa menjadi aspek yang amat penting dalam melakukan sosialisasi (berinteraksi sosial) dengan sesama anggota masyarakat. Interaksi sosial dilakukan manusia karena mengingat manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial (zoon politicon). Bahasa tidak bisa digantikan perannya di masyarakat. Manusia dapat menjalin hubungan sosial dengan menggunakan bahasa. Selain itu, dengan bahasa, manusia dapat menyampaikan berbagai berita, pikiran, pengalaman, pendapat, kritik, keinginan pada orang lain (Kurniawaan dalamYoce Aliah, 2009 :1). Selanjutnya Menurut Yoce Aliah Darma (2009:1), bahasa terdiri atas tataran fonologi, morfologi, sintaksis, semantik, dan wacana. Wacana didukung oleh beberapa paragraf, beberapa paragraf didukung oleh beberapa klausa atau kalimat dan kalimat didukung oleh beberapa frasa dan frasa didukung oleh beberapa kata sampai yang terkecil yang disebut dengan morfem. Hakikat wacana ditentukan oleh antarhubungan kalimat, tetapi yang lebih penting adalah konteks sosial dan sistem komunikasi secara keseluruhan (Kutha Ratna. 2009:220). Istilah wacana dipakai oleh banyak kalangan mulai dari studi bahasa, psikologi, komunikasi sastra,dan sebagainya. Pembahasan wacana adalah pembahasan bahasa dan tuturan yang harus dalam satu rangkaian kesatuan situasi atau dengan kata lain, makna suatu bahasa berada dalam rangkaian konteks dan situasi. Wacana juga bisa dipakai dalam ilmu politik sehingga ada muncul wacana politik, sebatas wacana atau baru wacana. Ada banyak definisi tentang wacana. Berkaitan dengan hal itu, pada subbab berikut dipaparkan tentang hakikat wacana dan jenis-jenis wacana.

Kata wacana dalam bahasa Indonesia dipakai sebagai terjemahan kata discourse dalam bahasa Inggris. Kata discourse secara etimologis berasal dari bahasa latin, yaitu discursusus ‘lari kian kemari’. Kata discourse itu diturunkan dari kata discurrere. Bentuk discurrere itu merupakan gabungan dari dis dan currere ‘lari, berjalan kencang’ (Wabster dalam Baryadi 2002:1). Selanjutnya menurut Badudu (dalam Eriyanto 2001: 2), wacana memiliki dua pengertian, yaitu (1) Rentetan kalimat yang berkaitan, yang menghubungkan proposisi yang satu dengan proposisi yang lainnya, membentuk satu kesatuan, sehingga terbentuklah makna yang serasi di antara kalimat-kalimat itu; (2) Kesatuan bahasa yang terlengkap dan tertinggi atau terbesar di atas kalimat atau klausa dengan koherensi dan kohesi yang tinggi yang berkesinambungan, yang mampu mempunyai awal dan akhir yang nyata, disampaikan secara lisan atau tertulis.

Sehubungan dengan hal itu, dalam pengertian linguistik, wacana merupakan unit bahasa yang lebih besar dari kalimat (Eriyanto, 2001: 3). Dalam hal ini Analisis wacana dalam studi linguistik tradisional lebih memperhatikan pada kata, frasa, atau kalimat semata tanpa melihat keterkaitan di antara unsur tersebut. Kebalikan dari analisis wacana tradisional, lebih memusatkan perhatian pada taraf yang lebih tinggi di atas kalimat seperti hubungan gramatikal yang terbentuk pada taraf yang lebih besar dari kalimat. Lebih lanjut dinyatakan oleh Baryadi (2002:2) bahwa istilah wacana dan discourse dipakai dalam istilah linguistik. Dalam hal ini, wacana dimengerti sebagai satuan lingual yang berada di atas satuan kalimat. Hal ini sejalan dengan pendapat Hymes (dalam Scriffin, 2007: 28) yang menyatakan bahasa adalah bahasa di atas kalimat atau di atas klausa. Hal itu dapat dilihat pada bagan berikut ini.

Bagan 2.1 Hierarki Satuan-satuan Bahasa

 

 

(Sumber: Tarigan 1987: 27)

Berdasarkan pada bagan 2.1. di atas itu artinya bahwa wacana didukung oleh beberapa paragraf, kemudian paragraf didukung oleh beberapa kalimat yang mengusung satu topik serta kalimat dibentuk oleh sekumpulan klausa, frasa dan kata. Sederet kata, frasa, klausa dan kalimat dalam membentuk suatu wacana harus bersifat kohesif dan koheren, atau terjalin erat antara satu dengan yang lain, disusun secara teratur dan sistematis di dalam rangkaian kalimat, baik dalam bentuk lisan maupun tulis.

Hakikat wacana seperti diuraikan tersebut pada dasarnya beranjak dari pandangan formal. Berdasarkan pendekatan formal, wacana berwujud kalimat-kalimat yang runtut dan utuh. Wacana dibangun dengan struktur tertentu. Wacana dapat pula beranjak dari pandangan fungsional, yakni wacana dipandang sebagai bahasa dalam penggunaan. Dengan cara pandang tersebut, wacana dipahami sebagai peristiwa komunikasi, yakni perwujudan dari individu yang sedang berkomunikasi. Dalam hal ini, bahasa yang digunakan oleh pembicara dipandang sebagai wujud dari tindakan pembicaranya (Schiffrin, 2007:24).

Pengertian wacana dapat dipahami berdasarkan pandangan fungsional. Pengertian seperti ini dapat dilihat pada pandangan Samsuri (1987:1), yaitu wacana ialah rekaman kebahasaan yang utuh tentang peristiwa komunikasi yang dapat menggunakan bahasa lisan dan bahasa tertulis. Itu berarti, wacana mempelajari bahasa dalam pemakaiannya. Berdasarkan pandangan di atas dapat dikatakan bahwa wacana tidak bisa terlepas dari konteks baik konteks situasi, konteks sosial maupun konteks orang yang melingkunginya. Menurut Norman Fairclough (dalam Yoce) wacana adalah bahasa yang digunakan untuk merepresentasikan sesuatu praktik sosial, ditinjau dari sudut pandang tertentu. Berdasarkan konsep tersebut wacana tidak bisa dilepaskan dengan konteks sosial. Jack Ricards, et al. (1987:83-84) dalam Longman Dictionary of Applied Linguistik, menyatakan bahwa wacana (discourse) merupakan contoh umum bagi contoh-contoh penggunaan bahasa, yakni bahasa yang diproduksi sebagai hasil dari suatu tindakan komunikasi. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa wacana menekankan pada segi pemakaian bahasa Hal ini sesuai dengan pendapat Darma (2009:1) yang menyatakan bahwa wacana adalah pembahasan bahasa dan tuturan yang harus ada dalam suatu rangkaian kesatuan situasi. Pandangan di atas sejalan dengan pandangan yang menyatakan bahwa wacana   adalah   rangkaian   ujar   atau   rangkaian   tindak   tutur   yang mengungkapkan suatu hal (subjek) yang disajikan secara teratur, sistematis, dalam suatu   kesatuan   yang   koheren,   dibentuk  oleh   unsur   segmental   maupun nonsegmental bahasa (Sobur dalam Darma, 2009: 3). Menurut Yoce (2013) mengatakan wacana adalah proses komunikasi, yang menggunakan simbol-simbol, yang berkaitan dengan interpretasi dan peristiwa-peristiwa.

Hakikat wacana juga dapat dikembangkan berdasarkan pandangan formal dan fungsional. Artinya, bahwa aspek-aspek kebahasaan yang disusun dan digunakan oleh pembicara dipandang sebagai wujud dari tindakan pembicaranya (Schiffrin, 2007:24). Berdasarkan pandangan tersebut, hakikat wacana tampak pada pandangan Tarigan (1987:27), yaitu wacana adalah satuan bahasa yang terlengkap dan tertinggi atau terbesar di atas kalimat atau klausa dengan koherensi dan kohesi yang tinggi, yang berkesinambungan, yang mampu mempunyai awal dan akhir yang nyata, disampaikan secara lisan atau tertulis. Selain itu, wacana dapat dipandang sebagai ujaran, yakni dipahami sebagai suatu kumpulan unit struktur bahasa yang tidak lepas dari konteks. Dengan cara pandang tersebut, keberadaan kalimat dalam suatu wacana tidak hanya dipandang sebagai sistem (langue), tetapi juga dipandang sebagai parole. Meskipun ujaran dalam suatu wacana disusun berdasarkan gramatika (sistem bahasa), tetapi makna ujaran timbul itu karena lawan bicara juga memperhatikan konteks penggunaan bahasanya yang disebut ujaran dan pengujarannya. Dengan demikian, selain kaidah tata bahasa, konteks penggunaan bahasa juga harus diperhatikan pada saat menyusun sebuah wacana.

Hal serupa juga diungkapkan oleh Webster (dalam Syamsuddin 1997:5), bahwa wacana dapat berupa ucapan lisan dan dapat juga berupa tulisan, tetapi persyaratannya harus dalam satu rangkaian (connected) dan dibentuk oleh lebih dari sebuah kalimat. Lebih lanjut dinyatakan bahwa yang diungkapkan dalam wacana itu pasti menyangkut suatu hal (subjek) dan pengungkapannya berjalan menurut tata cara yang teratur. Dalam hal ini, wacana dapat berbentuk percakapan singkat atau sepenggal tulisan.

Dalam perkembangannya, pandangan formal dan fungsional dikenal dengan pandangan kritis.Menurut Fairclough dan Wodak (dalam Darma, 2009) dalam pandangan kritis, wacana dilihat sebagai pemakaian bahasa, baik tuturan maupun tulisan yang merupakan bentuk dari praktik sosial. Menggunakan wacana sebagai praktik sosial menyebabkan sebuah hubungan dialektis di antara peristiwa deskriptif (menggunakan bahasa) tertentu dengan situasi, institusi, dan struktur sosial yang membentuknya. Praktik wacana bisa jadi menampilkan efek ideologi. Wacana ini dapat memproduksi dan mereproduksi hubungan kekuasaan yang tidak imbang antara kelas sosial, laki-laki dan perempuan, kelompok mayoritas dan minoritas melalui perbedaan representasi dalam posisi sosial yang ditampilkan.

Berdasarkan uraian tentang wacana dari beberapa ahli bahasa tersebut, dapat disimpulkan bahwa berdasarkan pendekatan formal, wacana adalah satuan bahasa di atas kalimat yang terlengkap dan terluas; berdasarkan pendekatan fungsional, wacana adalah rekaman peristiwa komunikasi dengan menggunakan bahasa, baik secara lisan maupun tertulis dalam konteks interaksi yang mempunyai makna, maksud, atau tujuan tertentu. Pendekatan formal dan fungsional secara dialektis, memandang wacana sebagai rangkaian tuturan lisan atau tulisan yang teratur yang mengungkapkan suatu hal (subjek). Dalam pandangan ini, wacana dapat dikatakan sebagai pemakaian bahasa, baik tuturan maupun tulisan yang merupakan bentuk dari praktik sosial. Praktik wacana bisa jadi menampilkan efek ideologi atau pandangan penulis dalam konteks sosial.

2.1.2. Wacana dan Komunikasi

 

Realitas sebuah wacana itu berbentuk rangkaian kebahasaan dengan semua kelengkapan struktur bahasa seperti apa adanya (Yoce, 2009:7). Akan tetapi, pada pihak lain wacana dapat juga berwujud sebagai rangkaian nonbahasa. Wacana dapat diwujudkan dalam bentuk lisan dan tulisan yang bisa ditampilkan di depan umum/publik. Strategi priming adalah salah satu teknik menampilkan wacana di depan publik. Wujud wacana di depan publik sering disebut dengan pidato. Tampilan suatu wacana bisa berupa tulisan (text), ucapan (talk), tindakan (act) atau berupa peninggalan (artifact). Oleh karena itu wacana selalu ada makna dan citra yang dinginkan serta kepentingan yang sedang diperjuangkan baik secara nyata maupun secara tersembunyi.

Realitas pertama : Keadaan, Benda, Pikiran, Orang, Peristiwa……

Tabel 2.1 Proses Konstruksi Realitas dalam Pembentukan Wacana

 

Makna, Citra, dan Kepentingan Dibalik Wacana

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

(Hamad,2004: 2-4)

 

 

2.1.3 Ciri-Ciri dan Sifat Wacana

 

Berdasarkan pengertian wacana maka ciri-ciri dan sifat dari sebuah wacana dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

  1. Wacana dapat berupa rangkaian ujar secara lisan dan tulisan atau rangkaian tindak tutur.
  2. Wacana mengungkapkan suatu hal (subjek).
  3. Penyajiannya teratur, sistematis, koheren, keherensi dan lengkap dengan semua situasi pendukungnya.
  4. Memiliki satu kesatuan misi dalam rangkaian itu.
  5. Dibentuk oleh unsur segmental dan suprasegmental.

2.1.4 Wujud dan Jenis Wacana

 

Wujud adalah rupa dan bentuk yang dapat diraba atau nyata. Jenis adalah ciri yang khusus. Wujud wacana mempunyai rupa atau bentuk wacana yang nyata dan dapat kita lihat strukturnya secara nyata. Sedangkan jenis wacana mempunyai arti bahwa wacana itu memiliki sifat-sifat atau ciri-ciri khas yang dapat dibedakan dari bentuk bahasa lain.

Secara esensial wujud dan jenis wacana dapat ditinjau dari sudut realitas, media komunikasi, cara pemaparan dan jenis pemakaian. Dalam kenyataannya wujud dari bentuk wacana itu dapat dilihat dalam beragam buah karya si pembuat wacana yaitu : teks (wacana dalam wujud tulisan/grafis) misalnya wujud berita, cerpen, novel maupun pidato dalam bentuk teks. Talk (wacana dalam bentuk ucapan) misalnya rekaman, wawancara, obrolan dan pidato dalam bentuk lisan. Act (wacana dalam wujud tindakan) misalnya dalam wujud lakon drama, tarian, film dsb. Artifact (wacana dalam wujud jejak) misalnya wujud bangunan, fashion, puing dsb.

2.1.5 Jenis-jenis Wacana

Wacana dapat diklasifikasikan menjadi berbagai jenis menurut dasar pengklasifikasian tertentu. Syamsuddin (1997:12) meninjau jenis wacana dari sudut (i) realitas (verbal dan nonverbal), (ii) media komunikasi (wacana lisan dan wacana tulis), dan (iii) segi penyusunan (wacana naratif, wacana prosedural, wacana hartotorik, dan wacana diskriptif). Kemudian Baryadi (2002:9) mengklasifikasikan wacana berdasarkan (i) media yang dipakai untuk mewujudkannya, (ii) keaktifan partisipan komunikasi, (iii) tujuan pembuatan wacana, (iv) bentuk wacana, (v) langsung tidaknya pengungkapan, (vi) genre sastra, dan (vii) isi wacana. Berbeda dengan Baryadi, Sumarlam (2003:15) membagi jenis-jenis wacana berdasarkan bahasanya yang dipakai, media yang dipakai untuk mengungkapkan, jenis pemakaian, bentuk serta cara dan tujuan penyampaiannya. Jenis-jenis wacana beserta pengklasifikasiannya dapat dirangkum seperti tabel di bawah ini.

Tabel 2.2 Jenis-jenis Wacana

NO DASAR JENIS WACANA
1 MEDIA a. Wacana lisan

b. Wacana tertulis

2 KEAKTIFAN PARTISIPAN a. Wacana monolog

b. Wacana dialog

3 TUJUAN a. Wacana naratif

b. Wacana deskriptif

c. Wacana eksposisi

d. Wacana argumentasi

e. Wacana persuasif

f. Wacana informatif

g. Wacana prosedural

h. Wacana hartatori

i. Wacana regulatif

j. Wacana humor

k. Wacana jurnalisti

4 BENTUK a. Wacana epistolary

b. Wacana kartun

c. Wacana komik

d. Wacana mantra

5 KELANGSUNGAN a. Wacana langsung

b. Wacana tidak langsung

6 GENRE SASTRA a. Wacana prosa

b. Wacana puisi

c. Wacana drama

7 ISI a. Wacana politik

b. Wacana olah raga

c. Wacana ekonomi

d. Wacana ilmiah

e. Wacana pendidikan

Wacana menurut Tarigan (1987:51) dapat diklasifikasikan dengan berbagai cara, antara lain: berdasarkan media (wacana lisan dan wacana tulis), berdasarkan pengungkapan (wacana langsung dan wacana tidak langsung), berdasarkan bentuk (wacana drama, wacana puisi, dan wacana prosa), dan berdasarkan penempatan (wacana penuturan dan wacana pembeberan). Berdasarkan pendapat dari ahli bahasa tersebut peneliti mencoba merangkum jenis-jenis wacana antara lain; media sarana penyampaiannya, peran penutur dan mitra tutur, pengemasan materi, struktur, kelangsungan, dan bentuk. Berikut ini dipaparkan tentang klasifikasi wacana di atas.

2.1.5.1 Jenis Wacana Menurut Fungsi Bahasanya

  1. Fungsi Bahasa Referensial

Fungsi bahasa ini digunakan apabila pengirim tidak ingin tampil, melainkan ia ingin menonjolkan acuan atau hal yang dibicarakan. Komunikasi yang mengacu pada acuan tekstual maupun situasional menunjukkan fungsi referensial. Misalnya Denpasar adalah ibukota daerah Bali. Dan dalam bentuk teks bisa dilihat teks referensial seperti teks berita.

  1. Fungsi Bahasa Ekspresif

Fungsi bahasa ekspresif berpusat pada pengirim pesan. Komunikasi dalam fungsi ini bahwa semua unsur bahasa menunjukkan pribadi si pengirim, mengandung fungsi ekspresif, termasuk kata seru yang mengemukakan perasaan, komentar yang subjektif, intonasi tertentu dan lain-lain. Misalnya “ Aduh” yang menyatakan kesakitan. Fungsi ekspresif bisa ditemukan pada teks-teks ekspresif misalnya yang bersifat pribadi seperti surat cinta dan atau surat resmi.

  1. Fungsi Konatif

Fungsi bahasa ini digunakan apabila si pingirim ingin memengaruhi si penerima. Fungsi bahasa ini berpusat pada penerima. Semua unsur bahasa yang di dalam wacana berkaitan atau menonjolkan penerima, mengandung fungsi konatif. Realisasi fungsi konatif dalam komonikasi dapat dilihat dalam kalimat imperatif. Fungsi ini bisa dilihat dalam teks konatif. Adapun teks konatif, yaitu yang langsung melibatkan si penerima dalam komunikasi, misalnya dengan penggunaan persona kedua baik tunggal maupun jamak, imperatif dan vokatif (seruan, ajakan atau panggilan). Jenis teks ini sering digunakan dalam teks pidato politik atau iklan-iklan. Jadi, argumen-argumen dalam pidato politik jelas merujuk pada konsep teks yang bersifat konatif karena pidato politik lebih mengedepankan ideologi dan bersifat persuasif.

  1. Fungsi Fatik

Fungsi bahasa ini berpusat pada saluran komunikasi. Semua unsur bahasa yang dalam teks digunakan untuk menjalin hubungan antara pengirim dan penerima (baik secara fisik maupun psikologis), mempertahankan ataupun memutuskannya. Misalnya dalam konteks hubungan telepon, kata “hallo” menunjukan menjalin hubungan. Contoh lain misalnya curriculum vitae atau yang menyangkut data pribadi.

  1. Fungsi Puitik

Fungsi bahasa ini untuk memberikan suatu tambahan nilai keindahan pada pesan. Misalnya pemilihan rima atau persajakan dalam puisi. Karya-karya sastra jenis puisi lebih banyak menggunakan wacana sebagai fungsi puitiknya dalam hal pemilihan diksi untuk merajut rima atau persajakan puisi sehingga menjadi indah dan bermakna.

  1. Fungsi Metaliguistik

Fungsi ini berpusat pada kode. Fungsi ini bertujuan untuk memberikan penjelasan atau keterangan tentang kode yang digunakan oleh pengirim, termasuk dalam fungsi metalinguistik. Misalnya “….maksud saya….” Dalam pembelajaran bahasa, tanya jawab termasuk dalam fungsi metalinguistik. Jadi, metalinguistik adalah bahasa yang berbicara tentang bahasa itu sendiri.

2.1.5.1 Rujukan Wacana

  1. Rujukan ke Dalam Teks (endoporik)

(1) Terakhir, pembinaan tahap kedua (khusus). (2) Dari hasil pembinaan tahap pertama, akan dipilih 10 sampai 15 calon yang akan dibina khusus selama satu bulan. (3) Mereka dikarantina Lho. (4) Dari pembinaan khusus ini, barulah dipilih empat sampai enam peserta yang akan mewakili Indonesia dalam olimpiade Internasional.

Perkataan terakhir dan dari hasil pembinaan tahap pertama berperan menunjuk kembali kepada yang telah dikemukakan (menunjuk ke atas).

  1. Rujukan ke Luar Wacana Situasional (eksoforik)

Perkataan dinas pendidikan, Undiksha, dan Kepala SMA Negeri 1 Rendang. Kalimat ini menunjuk kepada objek di luar teks. Contoh lain adalah :

– Lihatlah gadis itu!

– Yang mana?

– Yang di sebelah kananmu.

– Bajunya norak, ya!

Untuk memahami dialog di atas perlu mengetahui situasi komunikasinya.

2.1.5.2 Aspek Gramatikal dan Leksikal Pendukung Kepaduan Teks

Aspek gramatikal dan leksikal melalui peranti-peranti wacana yang terdapat di dalam teks pidato yang akan dianalisis atau dikaji. Pendeskripsian ini dilakukan untuk mengetahui peranti wacana mana yang secara dominan mendukung kepaduan teks pidato dan peranti mana yang tidak terdapat di dalam teks pidato.

  1. Aspek Gramatikal

Aspek gramatikal meliputi (1) Pengacuan (referensi), (2) Penyulihan (substitusi), (3). Pelesapan (ellipsis), dan (4) Perangkaian (konjungsi) (Sri Pamungkas, 2012: 168-171).

  1. Pengacuan (Referensi)

Pengacuan (referensi) dalam teks ada tiga yaitu : pengacuan (referensi) persona, pengacuan (referensi) demonstratif, dan pengacuan (referensi) komparatif (Sumarlan,2009: 27 dalam Sri Pamungkas,2012:168). Referensi persona direalisasikan melalui pronominal persona (kata ganti orang) yang meliputi persona orang pertama, persona orang kedua, dan persona orang ketiga, misalnya persona pertama tunggal, bentuk bebas misalnya saya dan pronominal persona pertama jamak, bentuk bebas misalnya kami. Hal ini dapat dilihat dari contoh berikut :

  • Terima kasih atas undangannya, besok saya akan datang dengan pak wayan.
  • Terima kasih Pak, siang ini kami sudah berkumpul di kampus sedang menunggu Bapak.

Sedangkan pengacuan (referensi) demonstratif meliputi pengacuan demonstratif waktu (temporal) dan pengacuan demonstratif tempat (lokasional). Pengacuan demonstratif waktu (temporal) bisa dilihat kata “besok” dan “siang” pada kalimat (teks 1 dan 2). Pengacuan (referensi) demonstratif tempat (lokasional) dapat dilihat kata “kampus” pada kalimat (teks 1 dan 2 ).

  1. Penyulihan (Substitusi)

Penyulihan (substitusi) adalah bentuk kohesi gramatikal yang berupa penggantian satuan lingual tertentu (yang telah disebut) dengan satuan lingual lain dalam wacana untuk memeroleh unsur pembeda. Penyulihan (substitusi) terdiri dari yang pertama penyulihan nominal, yaitu pergantian satuan lingual yang berkatagori nomina (kata benda) dengan satuan lingual lain yang juga berkatagori nomina, misalnya kata derajat, tingkat diganti dengan pangkat, kata gelar diganti dengan titel. Yang kedua penyulihan verbal, yaitu penggantian satuan lingual yang berkatagori verba (kata kerja) dengan satuan lingual lain yang juga berkatagori verba, misalnya kata mengarang diganti dengan berkarya. Dan yang ketiga penyulihan frasa, yaitu penggantian satuan lingual tertentu yang berupa kata atau frasa dengan satua lingual lain yang berupa frasa. (Sumarlan, 2009:29 dalam Pamungkas)

  1. Pelesapan (Elipsis)

Pelesapan (ellipsis) adalah salah satu jenis kohesi gramatikal yang berupa pelesapan atau penghilangan satuan lingual tertentu yang telah disebutkan sebelumnya. Unsur atau satuan lingual yang dilesapkan itu dapat berupa kata, frasa, klausa, dan kalimat. Kegunaan pelesapan (ellipsis) dalam wacana antara lain untuk 1) efektivitas kalimat, 2) efisiensi pemakaian bahasa, 3) kepaduan wacana, 4) mengaktifkan pikiran pembaca atau pendengar terhadap hal-hal yang tidak diungkapkan dalam satuan bahasa, dan 5) kepraktisan berbahasa.

  1. Perangkaian (Konjungsi)

Perangkaian (konjungsi) yaitu salah satu kohesi gramatikal yang dilakukan dengan cara menghubungkan unsur yang satu dengan unsur yang lain. Unsur yang dirangkaikan dapat berupa unsur satuan lingual kata, frasa, klausa, atau kalimat. Ada dua jenis konjungsi, yaitu konjungsi sekuensial dan konjungsi optatif. Konjungsi sekuensial menyatakan hubungan makna urutan antara tuturan sebelum dan sesudah konjungsi, misalnya “Terima kasih Pak, lalu bagaimana, apa yang seharusnya saya lakukan?” kata “lalu” merupakan konjungsi sekuensial. Sedangkan konjungsi optatif menyatakan hubungan makna harapan, yaitu harapan si penerima pesan, misalnya “ semoga orang yang meninggal itu tergolong khusnul khotimah.” Kata “semoga” merupakan konjungsi optatif. Dan masih banyak contoh konjungsi yang lain seperti sebab, tetapi, agar, dan lain-lain.

  1. Aspek Leksikal

Kepaduan wacana selain didukung oleh aspek gramatikal atau kohesi gramatikal juga didukung oleh kohesi leksikal. Aspek leksikal menyatakan hubungan antarunsur dalam wacana secara semantis. Makna leksikal dari teks lebih mengacu pada makna yang sebenarnya sesuai dengan makna kamus dan bisa lepas dari makna kontekstual. Aspek leksikal ini terdiri dari pengulangan (repetisi), padan kata (sinonimi), lawan kata (antonimi), sanding kata (kolokasi), hubungan atas-bawah (hiponimi), dan kesepadanan atau paradigma (ekuivalensi).

  1. Pengulangan (repetisi)

Repetisi adalah pengulangan satuan lingual (bunyi, suku kata, kata atau bagian kalimat) yang dianggap penting untuk memberikan tekanan dalam sebuah konteks yang sesuai. Penggunaan repetisi biasanya bukan hanya menunjukkan sifat kohesif teks, melainkan juga menyembunyikan makna konotatif tertentu dan hal ini bergantung pada konteksnya. Misalnya, “ Dalam kehidupan demokrasi, rakyat harus berani menyatakan pendapat, berani menentang kezaliman, berani menyongsong masa depan. Kata “berani” pada kalimat di atas selalu diulang untuk memberikatan tekanan.

  1. Padan Kata (Sinonim)

Menurut Tutescu dalam Sumantri (2009:143) sinonim adalah alat kohesi berupa hubungan dua leksem atau lebih. Misalnya kalimat di bawah ini.

  1. Berita surat kabar sekarang penuh dengan pertentangan elit politik.
  2. Berita Koran sekarang penuh dengan pertentangan elit politik.

Kata yang dicetak tebal pada kedua kalimat di atas memiliki padanan kata (sinonim). Jadi kata “surat kabar” dan “Koran” merupakan sinonim.

  1. Lawan Kata (Antonim)

Antonim dapat diartikan sebagai nama lain untuk benda atau hal yang lain atau satuan lingual yang maknanya berlawanan atau beroposisi dengan satuan lingual yang lain. Berdasarkan sifatnya antonym makna dapat dibedakan menjadi lima, yaitu : antonim mutlak, antonim kutub, antonim hubungan, antonim hirarkial, dan antonim majemuk.

  1. Sanding kata (Kolokasi)

Kolokasi atau sanding kata adalah asosiasi tertentu dalam menggunakan pilihan kata yang cenderung digunakan secara berdampingan. Kata-kata yang berkolokasi cenderung dipakai dalam satu domain atau jaringan tertentu. Misalnya dalam jaringan pendidikan digunakan kata berdampingan seperti guru, murid, buku, sekolah, pelajaran, dan alat tulis.

  1. Hubungan Atas-Bawah (Hiponimi)

Hiponimi diartikan sebagai satuan bahasa yang maknanya dianggap merupakan bagian dari makna satuan lingual yang lain. Misalnya binatang merupakan hipernim atau superordinat dari anjing dan kera. Binatang (hipernim/superordinat) dan anjing dan kera (hiponim/subordinat).

  1. Kesepadanan atau Paradigma (Ekuivalensi)

Ekuivalensi adalah hubungan kesepadanan antara satuan lingual tertentu dengan satuan lingual yang lain dalam sebuah paradigma. Misalnya hubungan makna antara kata membeli, dibeli, membelikan, dibelikan, dan pembeli dibentuk dari bentuk asal yang sama, yaitu “beli”. Jadi kata-kata di atas merupakan ekuivalensi dari kata “beli”. Demikian pula kata “ajar” berekuivalensi dengan kata-kata belajar, mengajar, pelajar, pengajar, dan pelajaran.

2.1.5.3 Media Sarana Penyampaiannya

Berdasarkan media sarana penyampaian, wacana dapat dipilah menjadi wacana lisan dan wacana tulis. Wacana lisan adalah wacana yang disampaikan secara lisan. Menurut Djajasudarma (1994:7) wacana lisan wujudnya berupa: (1) sebuah percakapan atau dialog yang lengkap dari awal sampai akhir, misalnya obrolan di warung, seperti warung kopi, warung poci pinggir jalan, dan lain-lain;

2.1.5.4 Peran Penutur dan Mitra Tutur

Dari segi penutur dan mitra tutur, wacana dapat dipilah menjadi wacana dialog dan wacana monolog. Menurut Trina (2011), wacana monolog adalah wacana yang tidak melibatkan suatu bentuk tutur percakapan atau pembicaraan antara dua pihak yang berkepentingan. Yang termasuk pada jenis pertama ini adalah semua bentuk teks, surat, bacaan, cerita, dan lain-lain yang sejenisnya. Kedua, wacana dialog, yaitu wacana yang dibentuk oleh percakapan, atau pembicaraan antara dua pihak seperti terdapat pada obrolan, pembicaraan dalam telepon, tanya jawab, wawancara, teks drama, film strip, dan sejenisnya.

2.1.5.5 Isi dan Sifat Wacana Ditinjau dari Segi Cara Pemaparan

Menurut Syamsuddin (dalam Darma 2009:11) berdasarkan isi dan sifat wacana yang akan disampaikannya, wacana dipilah menjadi (1) wacana naratif, (2) wacana prosedural, (3) wacana hortatori, (4) wacana ekspositorik, dan (5) wacana deskriptif.

  • Wacana Naratif

Wacana ini merupakan tuturan yang menceritakan atau menyajikan suatu hal atau kejadian dengan menonjolkan tokoh pelaku. Kekuatan wacana ini terletak pada urutan cerita berdasarkan waktu dan cara-cara bercerita, atau diatur melalui plot jika wacana itu dikatagorikan wacana naratif fiksi. Wacana naratif nonfiksi menyajikan urutan cerita secara kronologis berdasarkan fakta-fakta yang ada seperti wacana sejarah.

Di samping itu menurut Hartono (2000:80) Wacana narasi adalah wacana yang menceritakan kejadian secara kronologis atau dari suatu waktu ke waktu yang lain. Kejadian itu dapat bersifat faktual (benar-benar terjadi), dapat pula bersifat fiktif. Oleh karena itu, ada wacana narasi fiksi dan wacana narasi nonfiksi. Wacana ini bertujuan untuk menyampaikan atau menceritakan rangkaian peristiwa atau pengalaman manusia berdasarkan perkembangan dari waktu ke waktu. Wacana ini adalah wacana yang berupa rangkaian tuturan yang menceritakan atau menyajikan suatu hal atau kejadian melalui penonjolan tokoh pelaku (orang I atau II) dengan maksud memperluas pengetahuan pendengar atau pembaca.

2) Wacana Prosedural

Sesuai dengan namanya, wacana ini merupakan rangkaian tuturan yang melukiskan sesuatu secara berurutan yang tidak boleh dibolak-balik unsurnya karena urgensi unsur yang lebih dahulu menjadi landasan unsur yang berikutnya.

Wacana ini biasanya disusun untuk menjawab pertanyaan bagaimana sesuatu bekerja atau terjadi, atau bagaimana cara mengerjakan sesuatu (Syamsuddin 1997:16). Misalnya wacana dalam resep memasak, tips dan wacana tertentu yang memerikan prosedur seperti itu, sedangkan tokohnya boleh orang pertama maupun orang ketiga dan yang dilukiskannya tidak terikat dengan unsur waktu.

  1. Wacana Hortatorik

Wacana ini merupakan rangkaian tuturan yang isinya bersifat ajakan atau nasihat. Kadang-kadang tuturan itu bersifat memperkuat keputusan atau agar lebih meyakinkan. Yang menjadi tokoh penting dalam wacana jenis ini adalah orang kedua. Wacana ini tidak dapat disusun berdasarkan urutan waktu, tetapi merupakan hasil atau produksi suatu waktu.

Menurut Syamsuddin (1997:17) wacana persuasif disebut wacana hortatorik, karena sama-sama bersifat ajakan atau bujukan untuk mau ikut dengan keinginan penulis (ideologi penulis). Wacana persuasi adalah wacana yang menyatakan ajakan, imbauan, harapan, saran, permintaan, atau bujukan. Wacana ini bertujuan memengaruhi pembaca tentang pendapat atau pernyataan penulis. Wacana ini digunakan untuk memengaruhi pendengar atau pembaca agar tertarik akan pendapat yang dikemukakan oleh pembicara atau penulis. Isi wacana selalu berusaha untuk mendapatkan pendukung, bahkan penganut atau paling tidak menyetujui pendapat yang dikemukakannya itu, kemudian terdorong untuk melakukan atau mengalaminya. Jenis wacana ini biasanya digunakan dalam komunikasi propaganda baik yang bersifat bisnis maupun politik.

4) Wacana Ekspositorik

Menurut Sumantri, dkk. (dalamTrina, 2011) wacana eksposisi mengandung suatu penjelasan dan bertujuaan pembaca agar memahami sesuatu. Dalam hal ini sebuah wacana memaparkan sesuatu secara objektif dan global (secara keseluruhan). Karena yang penting adalah paparan menyeluruh (global), penyajian materinya tidak dianalisis secara mendalam dari berbagai segi. Wacana ini bertujuan untuk menjelaskan atau memberi informasi tentang sesuatu. Wacana ini merupakan salah satu tipe wacana yang dikembangkan dalam bentuk paparan tentang suatu fakta secara global atau keseluruhan secara sistematis. Wacana ini merupakan rangkaian tuturan yang bersifat memaparkan suatu pokok pikiran yang sering disebut eksposisi. Pokok pikiran itu lebih dijelaskan lagi dengan cara menyampaikan uraian-uraian, bagian-bagian atau detailnya. Tujuan pokok yang ingin dicapai pada wacana ini adalah tercapainya tingkat pemahaman akan sesuatu itu supaya lebih jelas, mendalam, dan luas dari sekadar sebuah pernyataan yang bersifat global atau umum. Kadang-kadang wacana ini dapat berbentuk ilustrasi dengan contoh, berbentuk perbandingan, berbentuk uraian kronologis dan ada juga secara penentuan ciri-ciri (identifikasi) dengan orientasi pokok pada materi, bukan kepada tokohnya.

5) Wacana Deskriptif

Menurut Sumantri, dkk. (dalamTrina: 2011) wacana deskripsi adalah wacana yang mengungkapkan secara representatif secara rinci. Berbeda dengan wacana eksposisi, dalam wacana deskripsi sesuatu yang dilukiskan secara objektif itu dianalisis secara mendalam dan sistematis dari berbagai segi. Jadi, wacana deskripsi melukiskan sesuatu secara objektif sampai kepada detail-detailnya secara mendalam dan sistematis sesuai dengan keadaan yang sebenarnya tentang sesuatu yang dilukiskan itu. Wacana ini bertujuan untuk memberikan perincian atau detail tentang objek sehingga seakan-akan mereka ikut melihat, mendengar, merasakan, atau mengalami langsung tentang objek tersebut.

Lebih lanjut, Syamsuddin (1997:19-20) menyatakan bahwa wacana deskripsi pada dasarnya berupa rangkaian tuturan yang memaparkan sesuatu atau melukiskan sesuatu, baik berdasarkan pengalaman maupun pengetahuan penuturnya. Tujuan yang ingin dicapai oleh wacana ini adalah tercapainya penghayatan yang agak imajinatif terhadap sesuatu, sehingga pendengar atau pembaca merasakan seolah-olah ia sendiri mengalami atau mengetahui secara langsung. Selanjutnya, menurut Syamsuddin, unsur pada wacana ini ada yang hanya memaparkan sesuatu secara objektif dan juga memaparkannya secara imajinatif. Pemaparan yang pertama bersifat menginformasikan sebagaimana adanya, sedangkan yang kedua dengan penambahan daya khayal. Oleh karena itu, wacana yang kedua ini banyak dijumpai dalam karya sastra, seperti pada novel ataupun cerpen.

Berbeda halnya kalau dilihat materi pembelajaran wacana di tingkat sekolah menengah ada lima jenis wacana, yaitu  (1) eksposisi, (2) narasi, (3) persuasi (hortatorik), (4) deskripsi, dan (5) argumentasi. Kelima jenis wacana itu empat di antaranya sudah diuraikan di atas dan wacana yang kelima yang belum diuraikan. Berbeda dengan wacana tersebut di atas, wacana argumentasi menyatakan pendapat disertai argumentasi tentang kebenaran pendapat tersebut (Hartono 2000:81). Menurut Sumantri, dkk. (dalam Trina, 2011) wacana ini adalah suatu tipe wacana yang bertujuan untuk memengaruhi pembaca dalam mengambil sikap serta pandangan sesuai dengan keinginan penulis atau pebicara, dengan mengajukan bukti-bukti yang benar, meyakinkan dan dirangkai melalui permainan bahasa. Wacana argumentasi bertujuan untuk (1)melontarkan pandangan/pendirian, (2) mendorong atau mencegah suatu tindakan, (3) mengubah tingkah laku pembaca, dan (4) menarik simpati.

2.1.5.6 Struktur

Seperti yang telah dijelaskan di atas wacana merupakan bentuk tuturan yang berupa satuan-satuan bahasa yang digunakan untuk menyampaikan informasi dalam situasi tertentu. Satuan inilah yang dimanfaatkan sebagai salah satu unsur pembentukan wacana. Karena itu, struktur wacana dapat membantu menyampaikan bentuk-bentuk tuturan yang berupa pengungkapan gagasan secara runtun kepada lawan tutur. Dari segi strukturnya, wacana dapat dipilah menjadi dua teknik 1) wacana dasar (wacana sederhana) dan 2) wacana turunan, yang meliputi (a) wacana luas dan (b) wacana kompleks (Ekowardono dalam Hartono 2000:86).

  • Wacana Dasar

Wacana dasar adalah wacana yang tersusun dari sebuah kalimat atau lebih. Kalimat-kalimat itu harus berkaitan satu dengan yang lainnya sehingga keseluruhannya menyatakan satu pokok gagasan atau topik. Unsur pembentuk wacana dasar adalah (1) topik, (2) kalimat pengembang topik, (3) konteks verbal dan nonverbal.

  • Wacana Luas

Wacana luas adalah wacana yang tersusun dari beberapa wacana dasar. Keseluruhan wacana dasar itu mengemukakan sebuah topik yang direalisasikan dalam bentuk subbab atau subjudul.

  • Wacana Kompleks

Wacana kompleks adalah wacana yang tersusun dari dua wacana luas atau lebih. Wacana kompleks ini memuat sebuah topik yang biasanya dinyatakan dengan judul.

 

2.1.5.7 Kelangsungan

Menurut langsung tidaknya pengungkapan, wacana dapat dipilah menjadi wacana langsung (direct discourse atau direct speech) dan wacana tidak langsung (indirect discourse atau indirect speech). Wacana langsung adalah kutipan wacana yang sebenarnya dibatasi oleh intonasi dan pungtuasi. Wacana tidak langsung adalah pengungkapan kembali wacana tanpa mengutip harfiah kata-kata yang dipakai oleh pembicara dengan mempergunakan konstruksi gramatikal atau kata tertentu, antara lain dengan klausa subordinatif, kata bahwa, dan sebagainya (Kridalaksana dalam Tarigan 1987:55).

2.1.5.8 Bentuk

Berdasarkan bentuknya, Sumarlam (2003:17) mengkasifikasikan wacana menjadi tiga bentuk wacana prosa, wacana puisi, dan wacana drama. Wacana prosa adalah wacana yang disampaikan dalam bentuk prosa (Jawa: gancaran). Wacana bentuk prosa ini dapat berupa wacana tulis dan wacana lisan. Contoh wacana prosa tulis misalnya cerita pendek, cerita bersambung, novel, dan artikel. Adapun wacana prosa lisan misalnya pidato, khotbah, dan kuliah. Wacana puisi adalah wacana yang disampaikan dalam bentuk puisi (Jawa: geguritan). Seperti halnya wacana prosa, wacana puisi juga dapat berupa wacana tulis maupun lisan. Puisi dan syair adalah contoh jenis puisi tulis, sedangkan puitisasi atau puisi yang dideklamasikan dan lagu-lagu merupakan contoh jenis wacana puisi lisan.

Sementara itu, yang disebut wacana drama adalah wacana yang disampaikan dalam bentuk drama, dalam bentuk dialog, baik berupa wacana tulis maupun wacana lisan. Bentuk wacana drama tulis terdapat pada naskah drama atau naskah sandiwara, sedangkan bentuk wacana drama lisan terdapat pada pemakaian bahasa dalam peristiwa pementasan drama, yakni percakapan antarpelaku dalam drama tersebut.

Berdasarkan paparan tersebut, dapat disimpulkan bahwa apapun jenis wacana itu tidak akan pernah lepas dari konteks yang meligkunginya. Wacana selalu memiliki struktur dan fungsi. Berkaitan dengan penelitian ini, wacana yang dikaji adalah wacana argumetasi, yaitu esai. Wacana esai ini dapat dikaji berdasarkan struktur supra, struktur mikro, maupun struktur makro untuk mengetahui struktur dan fungsi wacananya.

2.1.6 Teori Wacana Kritis

Pada dasarnya, setiap tuturan atau praktik berwacana yang dilakukan seseorang memiliki maksud tertentu. Maksud dalam praktik berwacana itu dapat disampaikan secara eksplisit dan implisit. Dalam hal ini, praktik berwacana yang banyak terjadi di masyarakat cenderung mengarah pada praktik berwacana yang mengimpisitkan maksud tertentu. Dalam Linguistik, teori yang dapat digunakan untuk mengungkapkan maksud yang terselubung dalam suatu praktik berwacana adalah teori wacana kritis atau analisis wacana kritis (AWK). AWK merupakan suatu teori yang digunakan untuk mengungkapkan hubungan antara ilmu pengetahuan dan kekuasaan. Dalam konteks sehari-hari, AWK dapat digunakan untuk membangun kekuasaan dan hegemoni. Selain itu, AWK juga digunakan untuk mendeskripsikan sesuatu, menerjemahkan, menganalisis, dan mengeritik kehidupan sosial yang tercermin dalam analisis teks atau ucapan.

Habermas (dalam Darma, 2009: 53)mengemukakan bahwa AWK bertujuan membantu menganalisis dan memahami masalah sosial dalam hubungannya antara ideologi dan kekuasaan. Tujuan AWK adalah mengembangkan asumsi-asumsi dalam teks yang bersifat ideologis yang terkandung di balik kata-kata dalam teks atau ucapan dalam berbagai bentuk kekuasaan. AWK bermaksud untuk menjelajahi secara sistematis tentang keterkaitan antara praktik-praktik berwacana, teks, peristiwa, dan struktur sosiokultural yang lebih luas. Jadi, AWK dibentuk oleh struktur sosial (kelas, status, identitas etnik, zaman, dan jenis kelamin), budaya, dan wacana (bahasa yang digunakan).

Setiap praktik berwacana merujuk pada aturan, norma, perasaan, sosialisasi yang spesifik dalam hubungannya dengan penerima pesan dan penerjemah pesan. Dalam hal ini, AWK bertujuan menentukan bagaimana individu belajar berpikir, bertindak, dan berbicara dalam berbagai posisi kehidupan sosial (konteks sosial). Menurut Darma (2009:54), konteks sosial adalah tempat di mana wacana terjadi (di pasar, ruang kelas, tempat bermain, tempat suci, dsb). Apapun konteks sosial yang mendasari terjadinya praktik berwacana itu tidak pernah terlepas dari kekuasaan dan ideologi. Oleh karena itulah, AWK dapat digunakan untuk membongkar kekuasaan dan idelogi yang terselubung dalam suatu praktik berwacana.

2.1.7 Hakikat Analisis Wacana Kritis

Fairclough (dalam Anang) mengusulkan bahwa pengertian wacana secara komprehensif dari pandangan kritis. Wacana adalah penggunaan bahasa yang dipahami sebagai praksis sosial, dan secara spesifik Van Dijk merumuskan analisis wacana kritis sebagai sebuah kajian tentang relasi-relasi antara wacana, kuasa, dominasi, ketidaksamaan sosial, dan posisi analisis wacana dalam relasi-relasi sosial itu ( Anang Santoso, 2012 : 120). Jadi dalam menganalisis sebuah wacana semestinya memandang wacana itu secara simultan sebagai wacana dari teks-teks bahasa, wacana sebagai praksis kewacanaan (produksi teks dan interprestasi teks) dan memandang wacana sebagai praksis sosiokultural. Maka menganalisis suatu wacana berarti menganalisis ketiga dimensi wacana itu.

Ada tiga pandangan berbeda mengenai bahasa dalam analisis wacana (Hikam, dalam Eriyanto, 2001:4). Pandangan pertama diwakili oleh kaum positivisme-empiris. Aliran ini menyatakan bahasa dilihat sebagai jembatan antara manusia dengan objek di luar dirinya. Pengalaman-pengalaman manusia dianggap dapat langsung diekspresikan melalui penggunaan bahasa tanpa adanya hambatan. Hal ini berlaku selama ia dinyatakan dengan logis, sintaksis, dan memiliki hubungan dengan pengalaman empiris. Dalam kaitannya dengan analisis wacana, konsekuensi logis dari pemahaman tersebut adalah orang tidak perlu memahami makna subjektif dari sebuah pernyataan, sebab yang paling penting adalah apakah pernyataan itu sudah benar menurut kaidah semantik dan sintaksis. Oleh karena itu, analisis wacana dimaksudkan untuk menggambarkan tata aturan bahasa sebagaimana dalam pandangan formal.

Pandangan yang kedua diwakili oleh kaum konstruktivisme. Dalam aliran ini, bahasa tidak dipandang sebagai alat untuk memahami realitas objektif belaka dan yang dipisahkan oleh subjek sebagai penyampai pernyataan. Justru, konstruksivisme memandang subjek sebagai sentral utama dalam kegiatan wacana. Dalam hal ini, bahasa dipahami sebagai pernyataan yang dihidupkan dengan tujuan tertentu. Setiap pernyataan pada dasarnya adalah tindakan penciptaan realitas sosial. Oleh karena itu, analisis wacana dimaksudkan untuk mengungkapkan makna dan maksud tertentu. Analisis wacana adalah suatu upaya untuk membongkar maksud penulis yang tersembunyi dalam wacana itu. Pandangan ini dikenal juga dengan pandangan fungsional atau padangan paradigma interpretivisme.

Pandangan ketiga disebut sebagai pandangan kritis. Aliran ini mengoreksi pandangan konstruksivisme yang kurang sensitif pada produksi dan reproduksi makna yang terjadi, baik secara historis maupun institusional. Menurut aliran ini, paham konstruksivisme belum menganalisis faktor-faktor hubungan kekuasaan yang inheren dalam setiap wacana, yang pada gilirannya berperan dalam membentuk jenis-jenis subjek tertentu. Pemikiran inilah yang akan melahirkan paradigma kritis. Analisis wacana dalam pandangan ini menekankan konstelansi kekuatan yang terjadi pada proses produksi dan reproduksi makna. Pemilihan bahasa dalam paradigma kritis dipahami sebagai representasi yang berperan membentuk subjek dan strategi tertentu. Oleh karena itulah, analisis wacana kritis digunakan untuk membongkar praktik kekuasaan dan ideologi yang tersembunyi dalam wacana.

Ancangan atau paradigma kritis menurut J.L. Mey, R.E. Asher (dalam Jufri, 2006) merupakan suatu asumsi yang menguraikan aspek bahasa dan menghubungkannya dengan tujuan tertentu. Sehubungan dengan hal itu, perlu digunakan pilihan bahasa yang tepat untuk menggambarkan tujuan tertentu dalam praktik sosial.

Pada hakikatnya, tindakan digunakan untuk memahami suatu wacana. Berkaitan dengan hal itu, ada beberapa konsekuensi bagaimana bahasa dilihat. Pertama, wacana dipandang sebagai sesuatu yang bertujuan membujuk, mengganggu, bereaksi, menanggapi, menyarankan, memperjuangkan, memengaruhi, berdebat, dan sebagainya. Kedua, wacana dipahami sebagai sesuatu yang diekspresikan secara sadar dan terkontrol, bukan sesuatu yang diekspresikan atau dikendalikan di luar kesadaran. Dengan konsep tersebut, wacana dipahami sebagai suatu bentuk interaksi yang berfungsi untuk menjalin hubungan sosial. Dalam hal ini, penulis menggunakan bahasa untuk berinteraksi dengan pembaca.

Dalam analisis wacana kritis (AWK), perlu dikaji konteks dari suatu wacana, seperti latar, situasi, peristiwa, dan kondisi. Wacana dalam hal ini dimengerti, diproduksi, dan dianalisis dalam konteks tertentu. AWK juga mengkaji konteks dari komunikasi; siapa yang mengonsumsikan, dengan siapa, dan mengapa; dalam jenis khalayak dan dalam situasi apa; melalui medium apa; bagaimana perbedaan tipe perkembangan komunikasi, dan bagaimana perbedaan antara setiap pihak. Bahasa dalam hal ini dipahami dalam konteks secara keseluruhan.

Ada tiga hal sentral dalam pengertian teks, konteks, dan wacana. Teks adalah semua bentuk bahasa, bukan hanya kata-kata yang tercetak di lembar kertas, melainkan semua jenis ekspresi komunikasi yang ada di dalamnya. Selanjutnya, pengertian konteks dalam hal ini, yaitu memasukkan semua jenis situasi dan hal yang berada di luar teks dan memengaruhi pemakaian bahasa, situasi di mana teks itu diproduksi, serta fungsi yang dimaksudkan. Sementara itu, wacana dimaknai sebagai konteks dan teks secara bersama. Titik perhatiannya adalah analisis wacana menggambarkan teks dan konteks secara bersama-sama dalam proses komunikasi. Dalam hal ini dibutuhkan proses kognisi dan gambaran spesifik dari budaya yang dibawa dalam wacana tersebut.

Salah satu aspek penting untuk bisa mengerti teks adalah dengan menempatkan wacana itu dalam konteks historis tertentu. Sebagai contoh, kita melakukan analisis wacana teks selebaran mengenai pertentangan terhadap kasus Century. Pemahaman mengenai wacana teks ini hanya akan diperoleh kalau kita bisa memberikan konteks historis, tempat teks itu diciptakan (bagaimana situasi sosial politik dan suasana pada saat itu). Oleh karena itu, pada waktu melakukan analisis, perlu tinjauan untuk mengerti mengapa wacana yang berkembang atau dikembangkan seperti itu, mengapa bahasa yang dipakai seperti itu, dan seterusnya.

Analisis wacana kritis mempertimbangkan elemen kekuasaan. Wacana dalam bentuk teks, percakapan, atau apapun tidak dipandang sebagai sesuatu yang alamiah wajar dan netral, tetapi merupakan bentuk pertarungan kekuasaan. Konsep kekuasaan yang dimaksudkan adalah salah satu kunci hubungan antara wacana dan masyarakat. Kekuasaan dalam hubungannya dengan wacana penting untuk melihat apa yang disebut dengan kontrol. Bentuk kontrol tersebut terhadap wacana bisa bermacam-macam. Kontrol terhadap konteks, yang secara mudah dapat dilihat dari siapakah yang boleh dan harus berbicara, dan siapa pula yang hanya mendengar dan mengiakan, atau siapa yang mendominasi dan siapa yang didominasi. Selain konteks, kontrol dapat juga diwujudkan dalam bentuk mengontrol struktur wacana. Hal ini dapat dilihat dari penonjolan atau pemakaian kata-kata tertentu.

Selain itu, ada konsep sentral dalam AWK, yaitu ideologi. Pada hakikatnya, setiap bentuk teks, percakapan, dan sebagainya adalah salah satu praktik ideologi atau pancaran ideologi tertentu. Wacana bagi ideologi adalah medium melalui mana kelompok dominan mempersuasi dan mengomunikasikan kepada khalayak kekuasaan yang mereka miliki, sehingga absah dan benar. Semua karakteristik penting dari analisis wacana kritis, tentunya membutuhkan pola pendekatan analisis. Hal ini diperlukan untuk memberi penjelasan bagaimana wacana dikembangkan dan memengaruhi khalayak.

Pada hakikatnya, ideologi dan kekuasaan tidak dapat dipisahkan. Tidak bisa dimungkiri bahwa teks disajikan sebagai cerminan dari suatu hegemoni (ideologi dan kekuasaan). Teori klasik mengatakan bahwa ideologi dibangun oleh kelompok dominan yang bertujuan untuk memproduksi dan melegitiminasi dominasi mereka. Hegemoni dalam pandangan Fairclough lebih menekankan pada teori kekuasaan dengan pemahaman bahwa kekuasaan suatu komunitas yang dominan dapat menguasai komunitas yang lain.

Ada banyak ranting aliran (variance) dalam paradigma analisis wacana kritis, tetapi semuanya memandang bahwa bahasa bukan merupakan medium yang netral dari ideologi, kepentingan, dan jaring-jaring kekuasaan. Karena itu, analisis wacana kritis perlu dikembangkan dan digunakan sebagai peranti untuk membongkar kepentingan, ideologi, dan praktik kuasa dalam kegiatan berbahasa dan berwacana.

Menurut Rosidi (2007:11), dua di antara sejumlah ranting aliran analisis wacana kritis yang belakangan sangat dikenal adalah buah karya Norman Fairclough dan Teun A. Van Dijk. Dibanding sejumlah karya lain, buah pikiran van Dijk dinilai lebih jernih dalam merinci struktur, komponen, dan unsur-unsur wacana.

Menurut Teun A. van Dijk (dalam http:// www. Discourses.org/). Analisis wacana kritis adalah jenis penulisan analisis wacana yang terutama mempelajari cara penyalahgunaan kekuatan sosial, dominasi, dan ketidaksetaraan yang berlaku, direproduksi, dan ditentang oleh teks dan berbicara dalam konteks sosial dan politik

Terdapat beberapa karakteristik analisis wacana kritis menurut Teun A van Dijk, Fairclough dan Wodak yang dikutip Eriyanto (Eriyanto, 2001: 8), sebagai berikut.

  1. Tindakan

Hal yang pertama harus dipahami adalah wacana dipandang sebagai suatu tindakan (action) yang memiliki tujuan dan maksud tertentu. Eriyanto (2001:8) mengasosiasikan wacana sebagai bentuk interaksi, seseorang berbicara, menulis, dan menggunakan bahasa untuk berinteraksi dan berhubungan dengan orang lain. Oleh karena itu, wacana dipahami sebagai tindakan karena akan ada dampak atau hasil yang terjadi dari hadirnya suatu wacana tersebut. Wacana dipandang sebagai sesuatu yang bertujuan misalnya untuk mendebat atau memengaruhi/membujuk. Yang kedua wacana dipahami sebagai sesuatu yang diekspresikan secara sadar, terkontrol dan bukan sesuatu di luar kendali atau kesadaran.

  1. Konteks

Konteks merupakan sesuatu yang penting dalam analisis wacana kritis, seperti latar, situasi, peristiwa, dan kondisi. Dalam analisis wacana kritis, terdapat beberapa konteks penting. Pertama, partisipan wacana. Latar belakang siapa yang memproduksi wacana, seperti jenis kelamin, umur, pendidikan, kelas sosial, etnis, agama, dan hal-hal yang relevan dalam penggambaran wacana. Selanjutnya, setting sosial tertentu, misalnya tempat, waktu, posisi pembicara dan pendengar, atau lingkungan fisik, konteks yang berguna untuk mengeti suatu wacana.

  1. Historis

Suatu wacana tidak dapat dipisahkan dari konteks historis karena wacana diproduksi dalam konteks sosial tertentu dan tidak dapat dimengerti tanpa menyertakan konteks historis yang menyertainya. Untuk mengerti suatu wacana perlu diperhatikan bagaimana wacana berkembang dan dikembangkan, kemudian perhatikan bahasa yang dipakai. Salah satu aspek yang penting untuk bisa mengerti suatu teks ialah dengan menempatkan wacana tersebut dalam konteks historis.

  1. Power (Kekuasaan) sebagai Kontrol

Gagasan sentral dalam analisis wacana kritis adalah kekuasaan, lebih khususnya kekuatan sosial dalam kelompok atau lembaga. Dalam hal ini, wacana dianggap sebagai sesuatu yang tidak netral, alamiah, wajar, dan merupakan bentuk dari pertarungan kekuasaan. Hubungan antara wacana dan kekuasaan dapat dilihat dari   kontrol   yang dilakukan.   Lewat   wacana   ini   kelompok   yang   memiliki kekuasaan mengontrol atau menghegemoni kelompok yang lemah. Kontrol melaui wacana dapat berupa kontrol atas konteks, dapat dilihat dari siapa yang boleh berbicara dan harus berbicara, siapa yang mendengar dan siapa yang mengiyakan. Selain itu, kontrol melaui wacana dapat dilihat dalam bentuk mengontrol struktur wacana. Hal tersebut dilihat dari penonjolan atau penggunaan kata-kata tertentu.

  1. Ideologi

Ideologi merupakan salah satu aspek sentral dari analisis wacana kritis karena teks dalam wacana merupakan bentuk dari praktik atau cerminan dari ideologi tertentu.

Melalui analisis wacana kritis, kita akan diketahui bagaimana isi dari sebuah   wacana?   Mengapa   pesan   itu dihadirkan? Bahkan lebih jauh membongkar ideologi yang dijalankan dan diproduksi secara implisit melalui wacana.

2.1.8 Teori Teun A. Van Dijk sebagai Pisau Bedah yang Relevan

Teori Analisis wacana atau pisau bedah yang relevan untuk menggali ideologi dalam penelitian ini adalah teori analisis wacana dari Teun A. Van Dijk. Dari sekian banyak teori yang ada terkait dengan analisis wacana kritis peniliti menggunakan teori Teun A. Van Dijk karena menurut pandangan Van Dijk bahwa perlunya mengelaborasi elemen-elemen wacana sehingga bisa didayagunakan dan dipakai secara praktis. Model yang dipakai oleh Van Dijk sering disebut sebagai “kognisi sosial”. Menurut Van Dijk , penelitian atas wacana tidak cukup hanya didasarkan pada analisis atas teks semata, karena teks hanya hasil dari suatu praktik produksi yang harus juga diamati (Eriyanto, 2001 : 221). Artinya mengupas pandangan pendapat di atas bahwa menganalisis wacana teks pidato politik tidak hanya semata-mata melihat makna yang tersurat dari teks pidato saja tetapi perlu melihat siapa orang yang berpidato, dari partai apa dan situasi kondisi bagaimana teks pidato itu diproduksi? Di samping itu Van Dijk juga melihat struktur sosial, dominasi dan kelompok kekuasaan yang ada dalam masyarakat karena kekuasaan berpengaruh terhadap teks wacana apalagi wacana partai politik yang memiliki kepentingan untuk kekuasaan dan ideologi (kepentingan politik) pasti kecendrungan teks wacananya lebih menekankan kepentingan politik dengan pilihan bahasa politik yang setepat mungkin. Melihat fenomena itu, Van Dijk dalam teorinya lebih menekankan pada elaborasi teks, kognisi sosial dan konteks saat wacana itu diproduksi seperti contoh tabel 2.3 di bawah ini. Wacana oleh Van Dijk digambarkan menjadi tiga dimensi yaitu : teks, kognisi sosial dan konteks sosial. Selanjutnya lihat tabel analisis Van Dijk.

Tabel 2.3 Model Analisis Van Dijk

Di samping yang dipaparkan di atas, pendekatan yang ditawarkan pun bertolak dari pencermatan atas tiga tingkatan struktur wacana, yaitu: struktur supra, struktur makro, dan struktur mikro (superstructure, micro structure, and macro structure) (Rosidi, 2007:10). Struktur supra menunjuk pada kerangka suatu wacana atau skematika, seperti kelaziman percakapan atau tulisan yang dimulai dari pendahuluan, dilanjutkan dengan isi pokok, diikuti oleh kesimpulan, dan diakhiri dengan penutup. Bagian mana yang didahulukan, serta bagian mana yang dikemudiankan, akan diatur demi kepentingan pembuat wacana. Struktur mikro menunjuk pada makna setempat (local meaning) suatu wacana. Ini dapat digali dari aspek semantik, sintaksis, stilistika, leksikon dan retorika. Struktur makro menunjuk pada makna keseluruhan (global meaning) yang dapat dicermati dari tema atau topik yang diangkat oleh pemakaian bahasa dalam suatu wacana.

Dengan menganalisis keseluruhan komponen struktural wacana, dapat diungkap kognisi sosial pembuat wacana termasuk konteks dari wacana itu. Secara teoretik, pernyataan ini didasarkan pada penalaran bahwa cara memandang terhadap suatu kenyataan akan menentukan corak dan struktur wacana yang dihasilkan. Bila dikehendaki sampai pada ihwal bagaimana wacana tertentu bertali-temali dengan struktur sosial, kognisi sosial, konteks dan pengetahuan yang berkembang dalam masyarakat, maka analisis wacana kritis ini harus dilanjutkan dengan analisis sosial.

Melalui analisis wacana kritis, bahasa telah digunakan sebagai peranti kepentingan, mengingat dalam Analisis Wacana Kritis (AWK) unsur ideologi salah satu bagian yang dibedah dalam analisis tersebut. Wacana politik khususnya wacana teks pidato politik seorang ketua umum partai, terutama pada kasus yang melibatkan ideologi atau kepentingan partai baik dalam hal pemilihan legeslatif, pemilihan presiden, pemilukada dan atau dalam rangka pencitraan partainya, ternyata   bahasa dipergunakan sebagai media politik yang cukup ampuh dan terbukti telah dijadikan sebagai senjata, baik bagi yang kuat maupun bagi yang lemah. Satu pihak menggunakan wacana sebagai sarana untuk mengendalikan dan merekayasa batin yang lain. Sebaliknya, pihak lain, dengan peranti wacana pula melakukan perlawanan, atau sekurang-kurangnya melakukan pembangkangan.

Berdasarkan paparan tersebut dapat disimpulkan bahwa dalam pandangan atau teori kritis Teun van Dijk, wacana terdiri atas struktur supra, mikro, dan makro. Hal itu menunjukkan wacana tidak bisa terlepas dari tindakan, teks, konteks, historis, kekuasaan, analisis sosial, kognisi sosial dan ideologi yang melingkunginya. Dengan menganalisis keseluruhan komponen struktural wacana, dapat diungkap kognisi (pengetahuan, ideologi, kepentingan, dan sebagainya) sosial pembuat wacana. Oleh karena itu, teori kritis sangat relevan digunakan dalam menganalisis wacana.

2.1.8.1 Analisis Sosial

Realitas sosial di masyarakat berpengaruh terhadap produksi teks atau wacana sehingga melahirkan teks yang dekat dengan realitas sosial. Munculnya kampanye hitam (black campaign) dalam dunia politik khususnya saat pidato-pidato kampanye, itu disebabkan struktur pikiran saat memproduksi wacana politik memandang persoalan lawan politik dari sudut kepentingan politik, hal ini jelas berimplikasi terhadap produksi teks. Dunia politik sarat dengan ideologi kepentingan (kepentingan politik) dan ideologi kepentingan menggunakan peranti bahasa sebagai media pencapaiannya. Analisis sosial memandang bagaimana teks dihubungkan dengan struktur sosial dan sejauh mana pengetahuan masyarakat terhadap dunia politik. Bahasa hubungannya dengan sosial akan dikaji secara semiotik sosial. Pernyataan ini didukung oleh tulisan Halliday (1978) dalam Yoce mengungkapkan bahasa sebagai semiotik sosial, ini memberikan tekanan pada keberadaan konteks sosial bahasa, yaitu fungsi sosial yang menentukan bentuk bahasa dan bagaimana perkembangannya. Bahasa merupakan produk proses sosial dan digunakan dalam kegiatan sosial di segala aspek kehidupan.

2.1.8. 2 Teks

Teks menurut pandangan Van Dijk terdiri dari beberapa struktur/tingkatan yaitu pertama struktur makro (macro structure), ini merupakan makna umum/global dari suatu teks yang amat diamati dengan melihat topik atau tema yang dikedepankan dalam suatu pidato. Kedua struktur supra (superstructure), struktur ini merupakan struktur wacana yang berhubungan dengan kerangka suatu teks seperti pendahuluan pidato, isi pidato, dan penutup pidato serta bagaimana bagian-bagian teks tersebut disusun ke dalam pidato secara sistematis dan utuh. Ketiga struktur mikro (micro structure) adalah makna wacana yang dapat diamati dari bagian kecil dari suatu teks seperti kata, kalimat, klausa, proposisi, anak kalimat, dan parafrasa. Ketiga bagian tingkatan/struktur itu harus masing-masing bagian saling mendukung dan terkait. Lebih jelasnya lihat tabel 2.4 struktur supra, struktur makro, dan struktur mikro.

Tabel 2.4 Struktur Supra , Struktur Makro, dan Mikro

 

Struktur Makro

 

Makna global dari suatu teks yang dapat diamati

dari topik/tema yang diangkat oleh suatu teks

Struktur Supra

 

Kerangka suatu teks, seperti bagian pendahuluan,

isi, penutup dan kesimpulan

Struktur Mikro

 

Makna lokal dari suatu teks yang
dapat diamati dari pilihan
kata, kalimat dan gaya yang
dipakai oleh suatu teks

 

STRUKTUR WACANA

 

HAL YANG DIAMATI

 

ELEMEN

Struktur Makro TEMATIK

Tema/topik yang dikedepankan dalam suatu pidato politik.

Topik
Struktur Supra SKEMATIK

Bagaimana bagian dan urutan pidato diskemakan dalam teks pidato politik yang utuh

Skema

Pendahuluan

Isi

Penutup

Struktur Mikro SEMANTIK

Makna yang ingin ditekankan dalam teks pidato politik. Misal dengan memberi detil pada satu sisi atau membuat eksplisit satu sisi dan mengurangi detil sisi lain

Latar, Detil, Maksud, Praanggapan, Nominalisasi
Struktur Mikro SINTAKSIS

Bagaimana kalimat (bentuk, susunan) yang dipilih

Bentuk Kalimat, Koherensi, Kata Ganti
Struktur Mikro STILISTIK

Bagaimana pilihan kata yang dipakai dalam teks pidato politik

Leksikon
Struktur Mikro RETORIS
Bagaimana dan dengan cara penekanan dilakukan
Grafis, Metafora, Ekspresi

Makna umum/global dari struktur makro jelas didukung struktur supra (super structure ) dan struktur mikro dari teks tersebut. Pemakaian penanda pada struktur mikro (micro structure) seperti kata, kalimat, proposisi bahkan stilistika bahasa yang digunakan dalam berpidato merupakan dari strategi politikus dalam menanamkan kepercayaannya kepada audien atau pendengar. Pemakaian stilistika atau pilihan kata-kata tertentu oleh seorang tokoh partai bukan semata-mata sebagai cara berkomunikasi, tetapi merupakan suatu strategi politik berkomunikasi yaitu suatu cara mempersuasif pendapat umum, menciptakan dukungan kepercayaan dan memperkuat legitimasi ideologi politik. Struktur wacana adalah cara yang efektif untuk melihat proses retorika dan persuasi yang dijalankan ketika seseorang menyampaikan pesan (Eriyanto, 2001: 227).

2.1.8.3 Konteks

Memahami makna atau maksud dari suatu wacana tidak bisa lepas dari konteks wacana itu sendiri. Konteks merupakan ciri-ciri alam di luar bahasa yang menumbuhkan makna pada ujaran atau wacana yang sering disebut lingkungan nonlinguistik dari wacana (Yoce Aliah Darma, 2009:4). Konteks wacana dibentuk oleh berbagai unsur, seperti situasi, pembicara, pendengar, waktu, tempat, adegan, topik, peristiwa, bentuk amanat, kode dan saluran (Moeliono & Soenjono Dardjowidjojo, 1988, dalam Fatimah). Unsur-unsur seperti pembicara (orang) yang disebut dengan konteks orang (siapa yang berbicara), situasi (di mana wacana itu diujarkan) yang disebut konteks situasi dan waktu (kapan wacana itu diujarkan) yang disebut konteks waktu. Dengan demikian unsur-unsur itulah yang sangat berpengaruh dalam memaknai wacana yang mendekati kebenaran, misalnya yang penulis paparkan pada bab I kenapa kata “Pas” bisa menimbulkan keributan saat gubernur Bali simakrama karena unsur konteks itu melekat pada pemaknaan kata “Pas” itu. Unsur-unsur di atas sangat berhubungan dengan unsur-unsur dalam komunikasi (Hymes dalam Yace Darma, 2009:4). Unsur-unsur itu antara lain :

  1. Latar (setting)

Latar mengacu pada tempat terjadinya peristiwa percakapan. Dengan latar yang berbeda akan melahirkan percakapan yang berbeda.

Guru   : “ Keluarkan kertas”

Siswa : “ Ulangan pak?”

  1. Peserta (participant)

Peserta mengacu pada yang terlibat dalam percakapan, yaitu pembicara (penyapa) artinya orang berbicara dan pendengar (pesapa) orang yang diajak berbicara.

  1. Hasil (ends)

Hasil percakapan mengacu pada tujuan yang hendak dicapai dalam percakapan itu. Misalnya seorang guru menyuruh mengeluarkan kertas tujuannya untuk memberikan ulangan tentu memberikan hasil yang bagus.

  1. Amanat (message)

Amanat mengacu pada bentuk dan isi amanat. Misalnya Guru berkata, “ Dinda ingat ya, besok PR bahasa Indonesianya?” Kalimat yang tertera di atas merupakan bentuk amanat dari percakapan sedangkan isi amanatnya adalah bahwa Dinda supaya ingat memberi tahu PR bahasa Indonesia besok.

  1. Cara (key)

Cara lebih mengacu pada teknik dan semangat dalam melakukan percakapan, misalnya kalau penyapa melakukan percakapan yang penting terkait dengan isu politik ini pasti dilakukan dengan cara yang serius dan penuh semangat.

  1. Sarana (instrument)

Sarana mengacu pada variasi penggunaan bahasa baik lisan mapun tulisan, variasi yang dimaksud adalah register bahasa yang artinya penggunaan bahasa sesuai dengan kepentingan misalnya ada bahasa regeister politik.

  1. Norma (norms)

Norma mengacu pada perilaku peserta percakapan, misalnya percakapan ilmiah dan nonilmiah pasti memiliki norma yang berbeda. Begitu juga berpidato persuasif dengan pidato rekreatif jelas memiliki norma yang berbeda.

  1. Jenis (genre)

Jenis (genre) mengacu pada katagori apakah wacana itu katagori sastra seperti sajak, puisi atau pantun.

  • Struktur Wacana Kritis

2.1.9.1 Struktur Supra (Super Structure)

Teks pidato politik umumnya memunyai skematik (kerangka teks pidato) yakni pendahuluan, isi pidato, dan penutup. Skematik menurut pandangan Van Dijk berada pada tingkatan struktur supra. Semakin bagus skema atau alur dari pidato semakin mudah menentukan gagasan umum dari apa yang menjadi sasaran target dari pidato itu.

Van Dijk dalam Eriyanto mengatakan arti penting dari skematik adalah strategi politikus untuk mendukung topik tertantu yang ingin disampaikan dengan menyusun bagian-bagian dengan urutan yang sistematis. Skematis memberikan tekanan mana yang didahulukan dan bagian mana yang dinomorduakan.

Wacana yang baik selalu memiliki skema (kerangka teks wacana)   unsur-unsur yang membangunnya. Begitu juga halnya dengan wacana bersifat kritis pasti memiliki struktur dan unsur yang membangun wacana tersebut. Skema dan unsur-unsur yang membangun wacana kritis terutama yang menggunakan kajian atau pandangan kritis adalah sebagai berikut :

  • Struktur Supra (Super Structure)

Struktur supra (super structure) menunjuk pada kerangka suatu wacana atau skematika, seperti kelaziman percakapan atau tulisan yang dimulai dari pendahuluan, dilanjutkan dengan isi pokok, diikuti oleh kesimpulan, dan diakhiri dengan penutup (Van Dijk, dalam Rosidi, 2007:11). Bagian pendahuluan biasanya berisi ucapan salam, latar belakang mengapa hal itu penting untuk dibicarakan dalam wacana. Bagian isi merupakan hal pokok yang ingin disampaikan dalam wacana dan penutup berisi kesimpulan. Hal ini terlihat dari kutipan berikut.

“Over all meanings, i.e. topics or macrostructures, may be organized by conventional schemata (super structures), such as those that define an argument,a conversation or a news report. As is the case for all formal structures, schematic structures are not directly controlled by ideological variation. A reactionary and a progressive story are both stories and should both feature specific narrative categories to be a story in the first place.” (Dijk, 2003)

Skematik atau alur tahapan wacana dipaparkan sebagai berikut :

  1. Pendahuluan

Pendahuluan merupakan awal dari pijakan dalam berbicara baik lisan maupun tulis, maka dalam pendahuluan harus mengandung cukup banyak bahan untuk menarik perhatian pembaca yang tidak ahli sekalipun dan memperkenalkan kepada pembaca fakta-fakta pendahuluan yang benar-benar diseleksi. Pendahuluan penulis harus menegaskan dan mengutarakan mengapa persoalan itu penting untuk dibicarakan. Hal ini bisa dikatakan sebagai lantar belakang persoalan mengapa persoalan itu penting. Selanjutnya, penulis wacana harus menyampaikan latar belakang historis dan apa yang melantarbelakangi menulis atau membicarakan masalah itu yang disertai dengan argumentasi sehingga pembaca memahami dasar masalah. Namun demikian, apa yang diuraikan dalam pendahuluan tidak boleh terlalu banyak, karena fungsi pendahuluan sekadar menggambarkan secara umum untuk menimbulkan keingin-tahuan, dan bukan untuk menjelaskan secara detail. Bagian pendahuluan merupakan hal yang sangat penting dalam wacana untuk menciptakan konsentrasi pembaca/pendengar untuk ke bagian isi atau intinya terutama teks pidato yang menyangkut ranah politik. Sebaliknya ia mungkin akan menegaskan suatu sistem yang dianggap akan menolongnya untuk sampai kepada konklusi yang benar. Begitu pula dalam pendahuluan harus jelas dibedakan persoalan-persoalan yang menyangkut selera dan persoalan-persoalan yang membawa kepada konklusi yang objektif. Pendahuluan dalam teks pidato politik biasanya dimulai dengan menyampaikan salam yang disertai gambaran umum mengapa orator berbicara tentang persoalan itu.

Pendahuluan merupakan kunci pembuka pintu untuk masuk dan berinteraksi dengan pembaca/pendengar dan penulis/pembicara. Fungsi dari Pendahuluan antara lain sebagai berikut.

  1. Pendahuluan menggiring masuk (masuk ke dalam), membawa kepada ambang pintu persoalan yang akan dibicarakan, tetapi belum mulai membicarakan persoalan itu sendiri.
  2. Biasanya pendahuluan secara langsung dan sederhana mengatakan apa yang dibicarakan dalam tulisan itu. Dengan kata lain, biasanya pendahuluan menyatakan ide tulisan yang dilengkapi dengan batas-batas persoalan yang akan dibahas dalam karangan itu.
  3. Pendahuluan dapat menyajikan keterangan permulaan (perliminary) yang perlu.
  4. Pendahuluan dapat mengutarakan latar belakang yang berhubungan dengan apa yang ditulis, berlakunya (validity) bahan.
  5. Biasanya pendahuluan menarik perhatian pembaca.
  6. Pendahuluan digunakan juga untuk memperkenalkan nada (tone)
  7. Pendahuluan disebut sebagai garis besar pembagian tulisan.
  1. b) Inti

Aspek isi sebuah wacana merupakan inti dari suatu tulisan (wacana). Isi sebuah wacana merupakan keseluruhan inti pesan yang ingin disampaikan penulis teks, mulai dari awal permasalahan, klimaks permasalahan, sampai pada akhir permasalahan itu sendiri. Bagian isi selalu didukung bagian-bagian penjelas untuk menguraikan isi dimaksud. Pada bagian isi penulis akan menguraikan tentang maksud atau tujuan yang diharapkan.

Pada bagian ini, penulis atau pembuat teks akan memberikan argumen kepada pembaca bahwa hal yang dikemukakan itu benar didukung oleh fakta-fakta, sehingga kesimpulan (konsklusi) yang diperoleh pembaca juga benar. Konklusi itu mencakup beberapa kemahiran tertentu antara lain kecermatan mengadakan seleksi fakta yang benar, penyusunan bahan secara baik dan teratur, kekritisan dalam proses berpikir, penyuguhan fakta, evidensi kesaksian, premis, dan sebagainya yang benar.

  1. c) Penutup

Penutup pada sebuah tulisan atau wacana akan memberikan kesan kepada pembaca/pendengar karena bagian penutup berisi kalimat-kalimat simpulan. Penutup juga memegang peranan yang sangat penting dalam penulisan wacana yang baik. Penutup dalam sebuah tulisan memiliki peran yang amat penting, di antaranya :

  1. a) Penutup merupakan ringkasan dari ide-ide pokok atau argumen-argumen yang telah dikemukakan.
  2. b) Penutup merupakan ringkasan kesan-kesan penulis tentang orang, tempat atau bangsa yang dibicarakan.
  3. c) Penutup merupakan ungkapan dari harapan atau pandangan penulis mengenai sesuatu di masa datang.
  4. d) Penutup merupakan klimaks atau puncak dari sebuah cerita.

Pada bagian penutup, penulis harus menjaga agar konklusi yang disimpulkan tetap memelihara tujuan dan menyegarkan kembali ingatan pembaca tentang apa yang telah dicapai, mengapa konklusi-konklusi itu diterima sebagai sesuatu yang logis.

2.1.9.2 Struktur Mikro (Micro Structure)

Dalam pandangan kritis, struktur mikro dapat menjadi masalah objek kajian. Menurut Teun A. Van Dijk (dalam Rosidi, 2007:10-12), struktur mikro menunjuk pada makna setempat (local meaning) suatu wacana. Ini dapat digali dari aspek semantik, sintaksis, stilistika, dan retorika.

Aspek semantik suatu wacana mencakup latar, rincian, maksud, pengandaian, serta nominalisasi. Hal itu terlihat pada pendapat Teun van Dijk sepertidi bawah ini.

“Once a topic is being selected, language users have another option in the realization of their mental model (= what they know about an event): To give many or few details about an event, or to describe it at a rather abstract, general level, or at the level of specifics. We may simply speak of ‘police violence’, that is, in rather general and abstract terms, or we may ‘go down’ to specifics and spell out what precisely the police did. And once we are down to these specifics, we may include many or few details.” (Dijk, 2013)

Kemudian aspek sintaksis suatu wacana berkenaan dengan bagaimana frasa dan atau kalimat disusun untuk dikemukakan. Ini mencakup bentuk kalimat, koherensi, serta pemilihan sejumlah kata ganti (pronouns). Hal ini terlihat pada pandangan berikut ini.

“Ideological discourse structures are organized by the constraints of the context models, but also as a function of the structures of the underlying ideologies and the social representations and models controlled by them. Thus, if ideologies are organized by well-known ingroup-outgroup polarization, then we may expect such a polarization also to be coded in talk and text. This may happen, as suggested, by pronouns such as us and them, but also by possessives and demonstratives suchas our people and those people, respectively.” (Dijk, 2004).

“Thus, we assume that ideological discourse is generally organized by a general strategy of positive self-presentation and negative other-presentation (derogation). This strategy may operate at all levels, generally in such a way that our good things are emphasized and our bad things de-emphasized, and the opposite for the Others   whose bad things will be enhanced, and whose good things will be mitigated, hidden or forgotten. This general polarizing principle may be applied both to forms as well as to meanings” (Dijk, 2004).

Lebih lanjut, aspek stilistika suatu wacana berkenaan dengan pilihan kata dan lagak gaya yang digunakan oleh pelaku wacana. Dalam kaitan pemilihan kata ganti yang digunakan dalam suatu kalimat,aspek leksikon ini berkaitan erat dengan aspek sintaksis. Hal ini tampak pada pandangan di bawah ini.

“Intentions are no more or less mysterious than interpretations   they are two of a kind, namely subjective mental models of participants. And only then are we able to address more detailed questions such as which properties of discourse can be consciously controlled, and which not,or less so.Thus, choice of overall topics is obviously more intentional than the detailed syntactic structure or intonation of a sentence. Selection of words falls in between   lexicalization is largely automatic given underlying mental models and the lexicon as a basis,but often specific words are chosen deliberately, and depending on genre and context quite well controlled, especially in written communication. There is no doubt that in an important political speech of a president or presidential candidate each word is chosen as a function of its ideologically and communicative presuppositions and implications. That is, when overall communicative control is strict, also ideological discourse expression will become more conscious. In some contexts, on the other hand, both discourse control and ideological control will be largely automatized.”(Dijk, 2004).

Aspek retorik suatu wacana menunjuk pada siasat dan cara yang digunakan oleh pelaku wacana untuk memberikan penekanan pada unsur-unsur yang ingin ditonjolkan. Ini mencakup penampilan grafis, bentuk tulisan, metafora,serta ekspresi yang digunakan.

“In the production of news, event models (personal knowledge, etc),context models (situation knowledge) and semantic representations form the input for the various levels of expression or formulation: (i) lexicalization, (ii) syntactic structures, (iii) phonological and graphical/visual expression, and (iv) overall discourse schemata for overall ordering of text or talk. Thus, lexicalization willdepend, e.g.,on the knowledge about the assumed lexical knowledge of the recipients (represented inthe context model), on the assumed object knowledge of the recipients, on the assumed context knowledge of the recipients (in formal contexts, more formal words will beused), and so on. Even the production of syntactic structures may depend on the knowledge of the speaker aboutthe linguistic knowledge of the recipients, as well as about recipient’s knowledge about the communicative situation.”(van Dijk, 2004).

Berdasarkan pandangan di atas, dapat dikatakan bahwa yang menjadi kajian dalam struktur mikro adalah latar, rincian, maksud, pengandaian, serta nominalisasi, bentuk kalimat, koherensi, serta pemilihan sejumlah kata ganti (pronouns), penampilan grafis, dan metafora. Berikut ini diulas hal-hal tersebut.

  • Latar

Menurut Nuryuri (2011:19) Latar adalah bagian yang dapat memengaruhi arti yang ingin ditampilkan seseorang dalam teks yang disusunnya. Latar biasanya ditampilkan di awal berita (kalau itu teks berita) sebelum pendapat wartawan muncul dengan maksud memengaruhi dan memberi kesan bahwa pendapatnya masuk akal dan beralasan. Latar membantu membongkar atau menyelidiki bagaimana seseorang atau wartawan memberikan penekanan, dan maksud yang ingin disampaikan atas suatu peristiwa. Lihatlah contoh latar di bawah ini.

Contoh Latar

Tanpa
Latar
Rakernas II ini sangatlah penting, dan menjadi bagian dari perjalanan kepartaian kita yang telah melaksanakan tiga kali kongres Partai.
Latar Rakernas II ini sangatlah penting, dan menjadi bagian dari perjalanan kepartaian kita yang telah melaksanakan tiga kali kongres Partai. Pada Kongres I kita telah mengubah nama dan simbol dari PDI menjadi PDI Perjuangan sebagai persyaratan keikutsertaan pada Pemilu 1999. Pada Kongres II, kita secara tegas memutuskan untuk menjadi partai modern tanpa kehilangan roh kerakyatan, dengan meletakkan Pancasila sebagai ideologi Partai.

 

  1. Detil

Elemen wacana detil berhubungan dengan kontrol informasi yang ditampilkan seseorang. Komunikator akan menampilkan secara berlebihan informasi yang menguntungkan dirinya atau pencitraan dirinya. Misalnya, seorang orator politik menonjolkan ideologi pencitraan partainya untuk memikat simpatisan rakyat. Sebaliknya, ia akan menampilkan informasi yang sedikit jika hal itu merugikan komunikator.

Elemen detil merupakan sebuah strategi orator politik mengekpresikan dirinya mana yang patut dibesarkan dan mana yang mesti harus dikemas secara tersembunyi (latent). Elemen detil merupakan uraian panjang lebar dengan kemasan yang begitu tertata sehingga tidak merugikan komunikator. Berikut diberikan contoh teks yang tanpa detil dan yang menggunakan detil.

Tanpa
Detil
Dalam pidato politik kali ini, ada dua hal yang ingin saya sampaikan: persoalan internal partai dan persoalan eksternal, baik nasional maupun internasional.
Detil Dalam pidato politik kali ini, ada dua hal yang ingin saya sampaikan: persoalan internal partai dan persoalan eksternal, baik nasional maupun internasional. Ditinjau dari aspek internal, maka Rakernas II di Surabaya ini merupakan forum politik untuk mengevaluasi sejumlah rekomendasi Rakernas I; memeriksa tingkat kesiapan kita memasuki tahun 2013; menyelesaikan persoalan-persoalan politik yang masih tersisa dalam tubuh partai; dan mempertajam sejumlah agenda strategis Partai.
  1. Maksud

Elemen maksud hampir sama dengan elemen detil. Elemen maksud melihat informasi yang menguntungkan komunikator akan diuraikan secara eksplisit dan jelas. Sebaliknya, informasi yang merugikan akan diuraiakn secara tersamar, eufemistik, berbelit-belit, implisit, dan tersembunyi. Elemen wacana maksud menunjukkan bagaimana secara eksplisit wartawan menggunakan praktik bahasa tertentu untuk menonjolkan kebenarannya dan secara implisit menyingkirkan kebenaran yang lain (Eriyanto, 2001: 240). Jika dikaitkan dengan konteks pidato politik pandangan Eriyanto sangat jelas bagaimana orator politik menyampaikan citra diri dan partainya secara eksplisit dan jelas yang didukung oleh fakta-fakta untuk menyakinkan simpatisannya (rakyat). Berikut diberikan contoh elemen maksud yang eksplisit dan implisit.

Implisit Saya bersyukur dengan kerja Panitia Angket DPR kebenaran sejati itu telah terungkap. Berdasarkan keterangan resmi lembaga negara yang berwenang termasuk Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) dan Bank Indonesia yang disampaikan di depan sidang-sidang  Panitia Angket jelas-jelas ditegaskan bahwa tuduhan adanya penyertaan modal sementara kepada Bank Century telah disalahgunakan untuk menyokong tim kampanye pasangan Capres- cawapres tertentu nyata-nyata tidak terbukti dan memang tidak pernah ada. (par. 10)
Eksplisit Kelima, dengan sistem itu, dana Rp 6,7 triliun penyelamatan Bank Century di tahun 2008 belum dapat dikatakan sebagai kerugian Negara. Uang sebesar itu adalah investasi atau penyertaan modal sementara yang diharapkan kelak dapat dikembalikan.

 

  1. Kohesi dan Koherensi

Kohesi dan koherensi adalah dua unsur yang menyebabkan sekelompok kalimat membentuk kesatuan makna (Hasan Alwi, dkk, 2008 : 41). Menurut Halliday dan Hasan (1980) dalam Sumantri Zaimar kohesi adalah suatu konsep sematik yang menampilkan hubungan makna antarunsur teks, dan menyebabkannya dapat disebut teks. Kohesi atau kepaduan wacana ialah keserasian hubungan antarunsur yang satu dengan unsur yang lain dalam wacana, sehingga tercipta pengertian yang koheren. Kohesi mengacu pada aspek bentuk atau aspek formal bahasa, dan wacana itu terdiri dari kalimat-kalimat. Sehubungan dengan hal tersebut, Tarigan (1987:96) mengatakan bahwa kohesi atau kepaduan wacana merupakan aspek formal bahasa dalam wacana. Dengan kata lain, bahwa kepaduan wacana merupakan organisasi sintaktik, wadah kalimat-kalimat disusun secara padu dan padat untuk menghasilkan tuturan. Hal itu berarti pula bahwa kepaduan wacana ialah hubungan antarkalimat di dalam sebuah wacana, baik dalam strata gramatikal maupun dalam strata leksikal tertentu.

Kohesi merupakan aspek formal bahasa dalam wacana (hubungan yang tampak pada bentuk). Kohesi merupakan organisasi sintaksis dan merupakan wadah kalimat-kalimat yang disusun secara padu dan padat untuk menghasilkan tuturan (Tarigan, 1987:96). Selanjutnya, Grawmsky (dalam Tarigan 1987:96) mengutarakan bahwa kohesi adalah hubungan antarkalimat di dalam sebuah wacana, baik dalam skala gramatikal maupun dalam skala leksikal tertentu. Pernyataan itu dipertegas oleh Alwi, (1998:427) bahwa kohesi merupakan hubungan perkaitan antarproposisi yang dinyatakan secara eksplisit oleh unsur-unsur gramatikal dan semantik dalam kalimat-kalimat yang membentuk wacana.

Sebagai contoh, perhatikan kalimat-kalimat berikut ini.

  1. A: “Apa yang dilakukan si Joni?”

B: “Dia merindukan ibunya”.

  1. A: “Apa yang dilakukan si Joni?”

B: “Anak itu merindukan ibunya”.

Proposisi yang dinyatakan A pada (I) berkaitan dengan proposisi yang dinyatakan oleh B dan perkaitan tersebut dalam bentuk pemakaian pronominal dia yang merujuk ke si Joni. Pada (II) perkaitan itu dinyatakan dengan frasa anak itu yang dalam konteks normal mempunyai rujukan yang sama, yakni si Joni. Baik pada kalimat (I) maupun kalimat (II) perkaitan itu juga dapat dilihat pada verba dilakukan dan merindukan yang mempunyai kesinambungan makna.

Selanjutnya, dalam sebuah wacana, mekanisme kohesi itu dapat dilihat dari penggunaan referensi. Referensi (pengacauan) merupakan salah satu bentuk kohesi gramatikal. Pengacuan (referensi) adalah salah satu jenis kohesi gramatikal yang berupa satuan lingual tertentu dengan mengacu pada satuan lingual lain (atau satuan acuan) yang mendahului atau mengikutinya (Sumarlam, Ed., 2003:23). Referensi dalam analisis wacana dapat berupa endofora (anafora dan katafora) dan eksofora. Endofora bersifat tekstual, referensi (acuan) ada di dalam teks, sedangkan eksofora bersifat situasional (acuan atau referensi di luar teks). Endofora terbagi atas anafora dan katafora berdasarkan posisi (distribusi) acuannya (referensinya). Anafora merujuk silang pada unsur yang disebutkan terdahulu; katafora merujuk silang pada unsur yang disebutkan kemudian (Dajajasudarma 1994:51). Penggunaan anafora dapat dilihat pada contoh berikut.

“Dengan mobil barunya itu, Pak Made menelusuri kota ini. Ia menlusuri kota dengan membonceng istrinya.”

 

Pada kalimat tersebut pronominal –nya mengacu ke kata yaitu Pak Made. Contoh lain misalnya “Siti adalah mahasiswa di salah satu perguruan tinggi. Meskipun dia bukan anak yang pandai, nilainya selalu baik, karena selain rajin dan cantik, dia pandi bergaul. Teman-temannya selalu bersedia membantunya.” Pronomina persona dia (terdapat dua kali pada kalimat yang kedua) dan nya (terdapat satu kali pada kalimat yang kedua dan satu kali lagi pada kalimat yang ke tiga). Dia dan nya mengacu pada unsure yang sama, yaitu Siti.

Sementara itu, pengacuan kataforis dapat dicontohkan sebagai berikut. “Ketut membeli mobil baru, dan dengan mobilnya itu Pak Wayan diajak menelusuri kota ini”.

Pada contoh kalimat tersebut pronominal –nya tidak mengacu pada Pak Wayan melainkan pada Ketut. Pengacuan kataforis mengarahkan pembaca ke depan, ke hal berikutnya dalam teks untuk dapat mengetahui unsur-unsur yang ditunjuk oleh butir pengacuan tersebut. Dengan kata lain, kataforis merujuk silang pada unsur yang disebut kemudian.

Sumarlam, Ed. (2003:23) menegaskan bahwa berdasarkan tempatnya, pengacuan dibedakan menjadi dua jenis: (1) pengacuan endofora apabila acuannya (satuan yang diacu) berada atau terdapat di dalam teks dan (2) pengacuan eksofora apabila acuannya berada atau terdapat di luar teks wacana. Hal itu dapat dilihat pada bagan berikut ini.

                                         Referensi

Referensi Tekstual (Endofora)             Referensi Situasional (eksofora)

Anafora                             Katafora

Acuan Tetap                 Acuan Bervariasi

Bagan 2.2 Jenis Referensi

REFERENSI

(Halliday & Hasan dalam Sumantri Zaimar)

Selain itu,ada beberapa jenis pengacuan lainnya, yaitu berupa persona (kata ganti orang), demonstratif (kata ganti penunjuk), dan komparatif (satuan lingual yang berfungsi membandingkan antara unsur yang satu dengan unsur lainnya).

  1. Pengacuan Persona

Pengacuan persona direalisasikan melalui pronomina persona (kata ganti orang). Pronomina persona adalah pronomina yang dipakai untuk mengacu pada orang. Pronomina persona dapat mengacu pada diri sendiri (pronomina persona pertama), mengacu pada orang yang diajak bicara (pronomina persona kedua), atau mengacu pada orang yang dibicarakan (pronomina persona ketiga). Di antara pronomina itu, ada yang mengacu pada jumlah satu atau lebih dari satu; ada bentuk yang besifat eksklusif, ada yang bersifat inklusif, dan ada yang bersifat netral (Alwi 1998:249). Berikut ini adalah pronomina persona yang disajikan dalam tabel 2.5.

Tabel 2.5 Pronomina Persona

Persona Makna
Tunggal Jamak
Netral Eksklusif Inklusif
Pertama Saya, aku, ku-,-ku Kami Kami
Kedua Engkau, kamu,

Anda, dikau, kau-

-mu

Kalian, kamu,

sekalian, Anda

sekalian

Ketiga Ia, dia, beliau, –

Nya

Mereka

(Sumber :Alwi 1998:249)

  1. Pengacuan Demonstratif

Sumarlam, Ed. (2003:25) membagi pengacuan demonstratif (kata ganti penunjuk) menjadi dua, yaitu pronomina demonstratif waktu (temporal) dan pronomina tempat (lokasional). Pronomina demonstratif waktu ada yang mengacu pada waktu kini (seperti kini dan sekarang), lampau (seperti kemarin dan dulu), akan datang (seperti besok dan yang akan datang), dan waktu netral (seperti pagi dan siang). Sementara itu, pronomina demonstratif tempat ada yang mengacu pada tempat atau lokasi yang dekat dengan pembicara (sini, ini), agak jauh dengan pembicara (situ, itu), jauh dengan pembicara (sana), dan menunjuk tempat secara eksplisit (Surakarta, Yogyakarta). Klasifikasi pronomina demonstratif tersebut dapat diilustrasikan dalam bentuk bagan 2.3 sebagai berikut.

Bagan 2.3. Pengacuan Pronomina Demonstratif

 

 

 

 

 

 

 

(Sumber :Sumarlam, Ed., 2003:26)

Pengacuan demonstratif (kata ganti penunjuk) dapat dibedakan menjadi dua, yaitu pengacuan waktu (temporal) dan tempat (lokasional). Pengacuan demonstratif waktu terdiri atas waktu kini (saat ini, kini, sekarang), waktu lampau (kemarin, dulu, yang lalu), waktu yang akan datang (besok, yang akan dating), dan waktu netral (pagi, siang, sore, dsb). Adapun pengacuan tempat yaitu, dekat dengan penutur (sini, ini), agak dekat (situ, itu), jauh (sana), serta menunjuk secara eksplisit (Semarang, Kendal, dsb).

  1. Pengacuan Komparatif

Pengacuan komparatif (perbandingan) ialah salah satu jenis kohesi gramatikal yang bersifat membandingkan dua hal atau lebih yang mempunyai kemiripan atau kesamaan dari segi bentuk atau wujud, sikap, sifat, watak, perilaku, dan sebagainya (Sumarlam, Ed., 2003:27). Kata-kata yang biasa digunakan untuk membandingkan misalnya seperti, bagai, bagaikan, laksana, sama dengan, tidakberbeda dengan, persis seperti, dan persis sama dengan. Berikut ini adalah contoh beberapa kalimat yang menggunakan pengacuan komparatif.

Selain menggunakan referensi, kohesi juga atau kepaduan wacana banyak melibatkan aspek gramatikal lainnya dan aspek leksikal. Dengan mengutip pendapat Halliday dan Hasan, Tarigan (1987:97) menyebutkan penanda yang dipakai untuk menandai kohesif tidaknya atau wacana, meliputi: pronomina, substitusi, elipsis, konjugasi, dan leksikal. Penanda yang digunakan untuk mencapai kekohesifan wacana yang dimaksud diuraikan sebagai berikut.

(1) Pronomina, disebut juga kata ganti. Dalam bahasa Indonesia kata ganti terdiri dari kata ganti diri, kata ganti petunjuk, kata ganti empunya, kata ganti penanya, kata ganti penghubung, dan kata ganti tak tentu. Kata ganti diri, dalam bahasa Indonesia meliputi: saya, aku, kami, kita, engkau, kau, kamu, kalian, anda, dia, dan mereka. Kata ganti petunjuk, dalam bahasa Indonesia meliputi: ini, itu, sini, sana, di sini, di sana, di situ, ke sini, dan ke sana. Kata ganti penanya, dalam bahasa Indonesia meliputi: apa, siapa, dan mana. Kata ganti penghubung, dalam bahasa Indonesia yaitu yang. Kata ganti tak tentu, dalam bahasa Indonesia meliputi: siapa-siapa, masing-masing, sesuatu, seseorang, para.

(2) Substitusi merupakan hubungan gramatikal, lebih bersifat hubungan kata dan makna. Substitusi dalam bahasa Indonesia dapat bersifat nominal, verbal, klausal, dan campuran. Misalnya: satu, sama, seperti itu, sedemikian rupa, demikian pula, melakukan hal yang sama.

(3) Elipsis ialah peniadaan kata atau satuan lain yang wujud asalnya dapat diramalkan dari konteks luar bahasa. Elipsis dapat pula dikatakan penggantian nol (zero), sesuatu yang ada tetapi tidak diucapkan atau tidak dituliskan. Elipsis dapat pula dibedakan atas elipsis nominal, elipsis verbal, dan elipsis klausal.

(4) Konjungsi digunakan untuk menghubungkan kata dengan kata, frasa dengan frasa, klausa dengan klausa, atau paragraf dengan paragraf (Tarigan, 1987: 101). Konjungsi dalam bahasa Indonesia dikelompokkan menjadi: (a) konjungsi adversatif: tetapi, namun; (b) konjungsi kausal: sebab, karena; (c) konjungsi koordinatif: dan, atau, tetapi; (d) konjungsi korelatif: entah, baik, maupun; (e) konjungsi subordinatif: meskipun, kalau, bahwa; dan (f) konjungsi temporal: sebelum, sesudah

(5) Leksikal diperoleh dengan cara memilih kosakata yang serasi, misalnya pengulangan kata yang sama, sinonim, antonim, hiponim, kolokasi, dan ekuivalen. Ada beberapa cara untuk mencapai aspek leksikal kohesi, antara lain: (a) pengulangan kata yang sama: pemuda-pemuda; (b) sinonim: pahlawan-pejuang; (c) antonim: putra-putri; (d) hiponim: angkutan darat – kereta api, bis, mobil; (e) kolokasi : buku, koran, majalah – media massa; dan (f) ekuivalensi: belajar, mengajar, pelajar, pengajaran, sebelum, dan sesudah.

Sementara itu, koherensi merupakan pengaturan secara rapi kenyataan dan gagasan, fakta, dan ide menjadi suatu untaian yang logis sehingga mudah memahami pesan yang dihubungkannya. Ada beberapa penanda koherensi yang digunakan dalam penelitian ini, di antaranya penambahan (aditif), rentetan (seri), keseluruhan ke sebagian, kelas ke anggota, penekanan, perbandingan (komparasi), pertentangan (kontras), hasil (simpulan), contoh (misal), kesejajaran (paralel), tempat (lokasi), dan waktu (kala). Hal itu dijelaskan sebagai berikut.

(1) Penambahan (aditif), penanda koherensi yang bersifat aditif atau berupa penambahan antara lain: dan, juga, selanjutnya, lagi pula, serta.

(2) Rentetan (seri), penanda koherensi yang berupa rentetan atau seria ialah pertama, kedua, …, berikut, kemudian, selanjutnya, akhirnya.

(3) Keseluruhan ke sebagian, yaitu pembicaraan atau tulisan yang dimulai dari keseluruhan, baru kemudian beralih atau memperkenalkan bagian-bagiannya.

(4) Kelas ke anggota, yang dimaksud penanda koherensi ini ialah dengan menyebutkan bagian yang umum menuju ke bagian-bagian lebih khusus.

(5) Penekanan, yang dimaksud penenda koherensi ini ialah kata atau frasa yang memberikan penekanan terhadap kalimat sebelumnya ataupun kalimat sesudahnya.

(6) Perbandingan (komparasi), penanda koherensi ini ialah sama halnya, hal serupa, hal yang sama, seperti, tidak seperti, dll.

(7) Pertentangan (kontras), penanda koherensi ini dapat berupa tetapi, tapi, meskipun, sebaliknya, namun, walaupun, dan namun demikian.

(8) Hasil (simpulan), yang dimaksud penanda koherensi ini ialah kata atau frasa yang mengacu pada simpulan.

(9) Contoh (misal), penanda koherensi ini dapat berupa antara lain: umpamanya, misalnya, contohnya.

(10) Kesejajaran (paralel), penanda koherensi ini berupa penggunaan jenis kata yang sejajar seperti pengembangan dan pembinaan, bukan pengembangan dan membina.

(11) Tempat (lokasi), penanda koherensi ini antara lain: di sini, di situ, di rumah, dll.

(12) Waktu (kala), penanda koherensi ini antara lain: mula-mula, sementara itu, tidak lama kemudian, ketika itu.

Berdasarkan paparan tersebut dapat disimpulkan bahwa referensi, kohesi, dan koherensi merupakan struktur mikro yang memiliki peranan penting dalam membangun wacana. Penggunaan referensi yang tepat dalam suatu wacana dapat menimbulkan hubungan yang kohesif dan koheren. Berkaitan dengan analisis wacana; referensi, kohesi, dan koherensi sangat membantu pembaca untuk mengetahui cara dan upaya penulis dalam menegaskan atau menekankan hal-hal tertentu dalam membentuk wacana.

Contoh Koherensi dengan Kata Penghubung

Kata hubung “dan” Malam ini saya berdiri di sini pertama-tama untuk memberikan tanggapan kepada seluruh proses dan hasil keputusan di tingkat Pansus maupun DPR
Kata hubung “sebab” Keenam, pengambilan keputusan di tahun 2008 membantu kita keluar dari krisis ekonomi global. Keputusan ini membuahkan pertumbuhan ekonomi positif 4,5% di tahun 2009. Prestasi pertumbuhan ini membanggakan, karena tertinggi nomor tiga di antara negara G-20 setelah Tiongkok dan India. (par. 39)

Contoh Koherensi fungsional

 
Dengan Koherensi Dengan keyakinan yang kuat bahwa krisis benar-benar terjadi, saya percaya bahwa siapapun yang berkewajiban mengambil keputusan pada saat itu pasti akan melakukan hal yang sama.   Siapa saja berkewajiban untuk memadamkan sekecil apa pun api yang dapat  jadi pemicu kebakaran yang akan melumpuhkan dunia perbankan. Dan kita tahu sekarang ini dunia perbankan bukanlah hanya milik para bankir. Dunia perbankan berkaitan erat dengan kehidupan sosial ekonomi rakyat, seperti pedagang kecil, petani, pegawai, bahkan pensiunan, penata laksana rumah tangga, dan mahasiswa. (par. 25)

Koherensi Pembeda

Tanpa Koherensi Pembeda Pada masa Habibie, kran kebebasan pers telah dibuka lebar-lebar. Kebebasan pers ini dilanjutkan oleh pemerintahan Gus Dur, hanya sayangnya dicoreng oleh peristiwa pendudukan Banser atas Jawa Pos yang menyebabkan koran tersebut tidak bisa terbit.
Koherensi Pembeda Dibandingakn dengan pemerintahan Habibie, kebebasan pers di era Gus Dur mengalami kemunduran. Pada masa Gus Dur terjadi peristiwa pendudukan Banser atas Jawa Pos yang menyebabkan koran tersebut tidak bisa terbit.
  1. Bentuk Kalimat

Bentuk kalimat merupakan elemen sintaksis yang berhubungan dengancara berpikir logis, yaitu prinsip kausalitas. Bentuk kalimat bukan hanya sekadar persoalan teknis kebenaran tata bahasa, tetapi menemukan makna yang dibentuk oleh susunan kalimat. Bentuk kalimat ini menentukan subjek diekspresikan secara eksplisit atau implisit dalam teks. Penempatan ini dapat memengaruhi makna yang timbul karena akan menunjukkan bagian mana yang lebih ditonjolkan kepada khlayak (Eriyanto, 2001: 251). Berkaitan dengan hal itu, bentuk kalimat yang menjadi kajian dalam penelitian ini adalah kalimat aktif- pasif dan modus kalimat, yaitu deklaratif, interogatif, dan imperatif.

  • Bentuk Aktif dan Pasif

Fairclough (1989:124 dalam Anang (2003:161) mengatakan persoalan kalimat aktif dan pasif berkaitan erat dengan persoalan “proses tindakan” dalam kerangaka sistem ketransitifan. Proses tindakan yang dimunculkan dengan ragam pasif sering memunculkan kalimat pasif tanpa kehadiran agen (agentless passive). Kalimat pasif dalam teks-teks politik akan memiliki signifikansi ideologi tertentu sebagai bagian dari strategi komunikasi politiknya.

Jika dilihat dari peran subjeknya kalimat aktif adalah kalimat yang subjeknya melakukan sebuah tindakan, sedangkan kalimat pasif adalah kalimat yang subjeknya dikenai pekerjaan. Berkaitan dengan itu, teks-teks pidato politik harus dilihat posisi orator/pembicara dalam teks tersebut. Kalau orator/pembicara menggunakan bentuk aktif berarti orator politik melakukan suatu tindakan dan jika menggunakan kalimat pasif orator politik dikenai suatu pekerjaan.

5.2 Modus Kalimat Deklaratif, Interogatif, dan Imperatif

  1. Kalimat Deklaratif

Kalimat deklaratif adalah kalimat yang menempatkan bahwa posisi peutur sebagai pemberi informasi dan mitra tuturnya sebagai penerima informasi. Kalau dikaitkan dengan dunia politik, hal ini mengandung makna bahwa elite politik Indonesia sebagai penghasil teks berperan sebagai pemberi informasi, sementara masyarakat Indonesia sebagai penerima informasi. (Anang, 2003:175). Misalnya: “Saya kira, isu itu dari orang yang tak bertanggung jawab, yang ingin memecah Golkar.”

  1. Kalimat Interogatif

Kalimat interogatif adalah kalimat yang menempatkan posisi penutur menanyakan sesuatu dan mitra tuturnya sebagai pemberi informasi.(Anang, 2012:156). Misalnya, “ Berapa banyak pejabat yang diduga terlibat korupsi disidik?

  1. Kalimat Imperatif

Kalimat imperatif adalah menempatkan posisi penutur sebagai peminta dan pemerintah kepada mitra tutur, dan mitra tutur berposisi sebagai pelaku yang tunduk melakukan sesuatu. (Anang, 2012:157). Contoh kalimat yang bermodus imperatif, yaitu :

  1. Kita ingin terjadi perubahan mendasar.
  2. Ke depan kita berharap para pengusaha kecil, menengah, dan koperasi yang jumlahnya mencapai 40 juta ikut menikmati hasilnya.
  3. Jangan ada gerakan-gerakan keluar dari kampus yang hanya menggangu ketertiban.

Contoh Bentuk Kalimat Aktif Pasif

Aktif Polisi melakukan pemukulan terhadap mahasiswa yang melakukan demonstrasi.
Pasif Mahasiswa yang tengah melakukan demonstrasi dipukul oleh polisi.

 

Contoh Modus Kalimat Deklaratif, Interogatif, Imperatif

Kalimat Deklaratif Saya nggak tahu dari mana isu-isu mengenai munaslub.
Kalimat Interogatif Bukankah mereka orang yang dulu dipakai Orde Baru?

Apakah PDI Perjuangan tidak khawatir kebiasaan Orde Baru akan ditularkan kepada mereka?

Kalimat Imperatif Tidak boleh lagi hanya penguasa besar yang terlibat kegiatan pembangunan dan menikmati hasil-hasilnya.
  1. Kata Ganti

Elemen kata ganti merupakan elemen memanipulasi bahasa dengan menciptakan suatu komunitas imajinatif. Kata ganti merupakan alat yang dipakai oleh komunikator untuk menunjukan di mana posisi sesorang dalam wacana. Kaitannya dengan wacana teks pidato politik maka elemen kata ganti merupakan sebuah strategi para elite politik menhadirkan dirinya dalam komunikasi politik. Beberapa strategi kehadiran diri yang digunakan dan dipilih oleh elite politik dalam komunikasi adalah 1) persona jamak “kita”, 2) persona jamak “kami” dan “mereka”, 3) persona tunggal “saya” dan “dia”.

Strategi penggunaan persona “kita” adalah pronomina persona jamak yang bersifat inklusif. Persona “kita” terkandung makna kehadiran “saya” dan “anda”, “penutur”dan “petutur”. Penggunaan persona “saya” lebih menonjolkan pemikiran pribadi komunikator. Penggunaan persona “kami” bersifat jamak yang mewakili orang yang berbicara. Sedangkan “mereka” bersifat jamak yang menunjuk orang ketiga (orang dibicarakan) yang sifatnya lebih dari satu (jamak). Berikut diberikan contoh penggunaan persona dalam kalimat.

Kata ganti “saya” Saya menginginkan Gus Dur puasa bicara politik.
Kata ganti “kita” Kita menginginkan Gus Dur puasa bicara politik.
Kata ganti “kami” Kami menginginkan Gus Dur puasa bicara politik.
Kata ganti “mereka” Mereka menginginkan Gus Dur puasa bicara politik.

 

  1. Leksikon

Leksikalisasi (lexicalization) merupakan istilah yang dipergunakan oleh Halliday (1978) dalam Anang (2003). Fairclough (1989) menggunakan istilah “pengataan” (wordingi). Pada dasarnya elemen ini merupakan pilihan seseorang dalam pemilihan kata atas berbagai kemungkinan kata yang tersedia. Misalnya, kata “meninggal” yang memiliki banyak konotasi kata seperti “ gugur”, “mati”, “mampus” dan “wafat”. Pilihan kata tersebut harus sesuai dengan konteks situasi atau ideologi jika dikaitkan dengan komunikasi dalam konteks politik. Contoh kalimat di bawah ini menandakan pilihan leksikon yang menunjukan sikap dan ideologi tertentu. Kalimat pertama menggunakan kata “melakukan kekerasan” konotasinya lebih halus jika dibandingkan dengan kalimat kedua dan ketiga yaitu kata “membunuh” dan “membantai” mengandung konotasi makna yang negatif karena kata “membunuh” dan “membantai” memiliki nilai rasa yang rendah dan terlalu ekstrim.

Contoh Penggunaan Leksikon dalam Kalimat

Polisi melakukan kekerasan terhadap mahasiswa yang tengah demonstrasi.
Polisi membunuh mahasiswa yang tengah demonstrasi.
Polisi membantai mahasiswa yang tengah demonstrasi.
  1. Praanggapan

Elemen wacana praanggapan (presupposition) merupakan pernyataan yang digunakan untuk mendukung makna suatu teks. Upaya mendukung yang dimaksud adalah dengan memberikan premis yang kebenarannya bisa dipercaya. Misalnya, kasus demonstrasi mahasiswa, jika seseorang setuju dengan mahasiswa demonstrasi maka akan lahir praanggapan berupa pernyataan (premis) “perjuangan mahasiswa menyurakan hati nurani rakyat”, premis yang berkonotasi positif. Lihat contoh praanggapan di bawah ini.

Tanpa praanggapan Presiden Gus Dur mengusulkan pencabutan Tap MPRS No. XXV/1966.
Praanggapan Presiden Gus Dur mengusulkan pencabutan Tap MPRS No. XXV/1966. Kalau usul ini diterima, PKI bisa bangkit kembali.

Contoh di atas memunculkan praanggapan bahwa jika usulan Gus Dur diterima dan Tap MPRS No XXV/1966 benar dicabut memunculkan praanggapan PKI akan bangkit kembali.

Menurut Louise Cummings (2007): 44 mengatakan praanggapan terikat dengan butir leksikal tertentu jika inferensi-inferensi yang dihasilkan oleh butir tersebut tidak dihasilkan selanjutnya oleh butir yang disubstitusikan. Misalnya kalimat-kalimat di bawah ini, yang terletak di sebelah kanan merupakan pranggapan dari kalimat-kalimat di sebelah kiri, yaitu:

  1. She managed to speak.            She tried to speak.

(Dia berhasil berbicara)                        (Dia berusaha berbicara)

  1. She didn’t manage to speak she tried to speak

(Dia tidak berhasil berbicara)               (Dia berusaha berbicara)

  1. Pengandaian

Pengandaian dalam bahasa Indonesia ditandai dengan adanya kata penghubung atau konjungsi yaitu jika, andaikata, asal, asalkan, jikalau, sekiranya, dan seandainya (Gorys Keraf:1991). Terdapat dua makna pengandaian di dalam bahasa Indonesia, yaitu sebagai persyaratan dan pengandaian. Pengandaian mempunyai makna syarat bagi terlaksananya apa yang tersebut pada klausa inti. Secara jelas hubungan ini ditandai dengan kata penghubung jika, apabila, kalau, asalkan, asal, manakala dan jikalau. Sebagai contoh adalah kalimat berikut ini :

1)     Kemauan untuk hidup ini akan ada jika di dalam diri seseorang ada perasaan bahwa dia dibutuhkan oleh lingkungannya. Kalimat di atas terdiri dari tiga klausa yaitu klausa 1) kemauan untuk hidup ini akan ada   sebagai klausa inti , klausa 2) di dalam diri seseorang ada perasaan, klausa 3) dia dibutuhkan oleh lingkungannya. Klausa 2 (dua) dan kausa 3 (tiga) merupakan klausa bawahan yang menyatakan ‘syarat’ bagi terlaksananya apa yang tersebut pada klausa inti. Contoh pada kalimat lain adalah sebagai berikut.

  • Apabila hal itu terjadi juga, aku akan mencelanya di depan siapa saja tanpa mempedulikan kesopanan bahasa.
  • Aku hanya dapat berjumpa dengan mereka pada waktu-waktu libur sekolah atau pada hari Sabtu dan Minggu bila mereka tidak mendapat hukuman.
  • Bilamana hujan turun agak lebat, daerah itu tentu tergenang air.
  • Jikalau aku dapat lulus dari SMA, aku akan melanjutkan pelajaranku ke Fakultas Sastra.

Hubungan makna pensyaratan sebagai pengandaian terjadi apabila klausa bawahan menyatakan suatu andaian, suatu syarat yang tidak mungkin terlaksana bagi klausa inti sehingga apa yang dinyatakan oleh klausa inti juga tidak mungkin terlaksana. Pengandaian ini ditandai dengan adanya kata-kata seperti andaikan, andaikata, seandainya, sekiranya, dan seumpama.Beberapa kalimat di   bawah ini merupakan contoh dari kalimat pensyaratan yang merupakan pengandaian dalam bahasa Indonesia.

  • Andaikan   gadis   itu   tidak   suka   padamu, engkau   harus   menjamin   dia   kecuali   bila   ia berkeberatan.
  • Andaikata nona maju ke pengadilan, tentu perkara ini akan disidangkan dan tentu perhatian pers dan publik yang sudah mereda itu akan hangat kembali.
  • Seandainya engkau tidak hadir malam itu, kami tidak akan mendapat uang sedemikian banyaknya.
  • Aku tidak dapat memikirkan apa yang akan terjadi seumpama dia tidak ada disana.

Ditambahkan menurut Abdul Chaer, konjungsi “andaikata” mempunyai fungsi untuk menggabungkan menyatakan syarat untuk diandaikan di depan klausa yang menjadi anak kalimat dari suatu kalimat majemuk bertingkat (Chaer, 1984) Contoh sebagai berikut.

  • Andaikata kamu tidak datang, saya akan menggantikan kamu memimpin rapat ini
  • Saya akan membelikan kamu sebuah mobil baru andaikata saya Menang lotre 100 juta.
  • Generasi mendatang tidak akan mengenal cómodo andaikata binatang langka itu tidak dilindungi.

Secara fungsional andaikata sama dengan kata penghubung kalau dan jika, tetapi secara semantik berbeda. Kalau dan jika menyatakan syarat yang harus dipenuhi sedangkan andaikata menyatakan syarat yang diandaikan dan tidak selalu dipenuhi. Secara agak bebas dapat digunakan kata penghubung andaikan dan seandainya dengan fungsi dan arti yang sama dengan kata penghubung andaikata.

Berdasarkan pemaparan di atas, dapat dikatakan bahwa pengandaian dalam bahasa Indonesia ditandai dengan penggunaan kata jika, andaikata, asal, asalkan, jikalau, sekiranya, dan seandainya.

 

  1. Grafis

Elemen grafis merupakan bagian untuk memeriksa apa yang ditonjolkan (yang berarti dianggap penting) atau ditekankan oleh seseorang yang dapat diamati dari teks. (Eryanto,2000:257). Penanda elemen ini dalam suatu teks biasanya membuat ukuran huruf lebih besar, huruf dicetak tebal, menggunakan garis bawah atau penggunaan tanda petik dua. Menurut Nuryuri (2011:22), elemen grafis merupakan cara untuk melihat bagian yang ditekankan atau ditonjolkan dalam teks berita. Dalam wacana berita, grafis biasanya muncul lewat bagian tulisan yang dibuat lain dibandingkan tulisan lain, yaitu dengan pemakaian huruf tebal, huruf miring, pemakaian garis bawah, dan huruf yang dibuat dengan ukuran lebih besar. Bagian-bagian yang ditonjolkan ini menekankan kepada khalayak pentingnya bagian tersebut. Bagian yang dicetak berbeda adalah bagian yang dipandang penting oleh wartawan, di mana ia menginginkan khalayak menaruh perhatian lebih pada bagaian tersebut.

  1. Metafora

Metafora didefinisikan melalui dua pengertian, yaitu pengertian secara luas dan secara sempit (Kutha Ratna, 2008:181). Pengertian secara sempit, metafora adalah majas seperti metonimia, sinekdoke, hiperbola, dll. Pengertian secara luas meliputi semua bentuk kiasan, penggunaan bahasa yang dianggap ‘menyimpang’ dari bahasa baku. Menurut Wahab dalam Anang, (2012) mengatakan Metafora adalah ungkapan kebahasaan yang maknanya tidak dapat dijangkau secara langsung dari lambang yang dipakai karena makna yang dimaksud terdapat pada predikasi ungkapan kebahasaan itu. Pandangan yang sama juga dikemukakan oleh Beard (2000:19) dalam Anang bahwa metafora “refer to when a word or a phrase is used which establishes a comparison between one idea and another”. Pada suatu wacana, baik yang bersifat lisan atau wacana tulis komunikator/ orator politik tidak hanya menyampaikan pesan pokok, tetapi juga ungkapan, kiasan, metafora yang dimasudkan sebagai bumbu dari suatu teks. Metafora pun bisa jadi petunjuk untuk memahami makna suatu teks (Eriyanto, 2001: 259). Jadi metafora itu merupakan mendeskripsikan sesuatu dengan uraian lain yang dapat dibandingkan.

Metafora dalam dunia politik jika dianalisis merupakan langkah awal memahami bahasa politik itu (Berad, 2000:19 dalam Anang.2003:128). Metafora bukan hanya sebagai alat retoris semata-mata, tetapi menunjukkan bagaimana masyarakat memahami wacana dalam dunia politik. Metafora dalam panggung politik akan melibatkan konsep “musuh” dan “lawan”.

6.1 Jenis-Jenis Metafora

6.1.1 Metafora Nominatif

Metafora nominatif ada dua yaitu pertama metafora nominatif subjektif dan kedua metafora nominatif objektif. Berikut diberikan dua contoh metafora yang bersifat nominatif.

  1. Metafora nominatif subjektif “Pertama, sarang-sarang KKN itu masih tetap saja kokoh,… Frasa “ sarang-sarang KKN” termasuk metafora nominatif subjektif .
  2. Metafora nominatif objektif “ Sekalipun pemerintah sudah membentuk tim untuk mengusut kasus itu, bahkan telah membentuk tim pencari fakta, namun belum menghasilkan buah yang memuaskan”. Kata “buah” dalam kalimat ini termasuk metafora objektif.

6.1.2 Metafora Predikatif

Metafora predikatif jika dikaitkan dengan dunia politik akan memberikan gambaran tentang demensi ideologi dalam wacana teks pidato politik. Verba yang berfungsi sebagai metafora predikatif misalnya, dibantai, membidik, kebakaran jenggot, dll. Contoh dalam kalimat yang menggunakan metafora predikatif adalah “ Kadang-kadang mereka rela dibantai orang untuk mempertahankan idealisme yang baik”. Kata “dibantai” termasuk verba metafora predikatif. “Menurut saya, Habibie sedang membidik Mega dan PDI Perjuangan. Kata “membidik” termasuk metafora predikatif.

6.1.3 Metafora Kalimat

Metafora kalimat adalah metafora yang terdapat dalam kalimat secara utuh. Misalnya, “Jadi, kita ini sekarang berdiri di atas rumah yang telah runtuh. Dan yang ingin kita lakukan adalah membangun kembali rumah Indonesia”. Kalimat yang dicetak tebal itu merupakan metafora kalimat karena keseluruhan kalimat merupakan metafora hal yang dibandingkan dalam kalimat tersebut adalah Indonesia sebagai negara diibaratkan seperti rumah yang sudah runtuh.

  • Struktur Makro (Macro Strukture)
  1. Tematik

Tematik merupakan elemen yang mengacu pada gambaran umum atau gagasan sentral (central of idea) dari suatu teks. Topik atau gagasan utama menggambarkan apa yang ingin disampaikan oleh seorang orator dalam pidatonya. Topik menunjukkan konsep dominan, sentral, dan paling penting dari isi suatu pidato.

Gagasan penting Van Dijk, wacana umumnya dibentuk dalam tata aturan umum (macrorule) yang selanjutnya disebut sebagai koherensi global (global coherence) (dalam Eriyanto, 2001:230).

Struktur makro (macro structure) menunjuk pada makna keseluruhan (global meaning) yang dapat dicermati dari tema atau topik yang diangkat oleh suatu wacana (van Dijk dalam Rosidi, 2007:12),. Hal itu terlihat juga dari pandangan Teun van Dijk berikut ini.

“The meaning of discourse is not limited to the meaning of its words and sentences. Discourse also has more ‘global’ meanings, such as ‘topics’ or’themes’. Such topics represent the gist or most important information of a discourse, and tell us what a discourse ‘is about’, globally speaking. We may render such topics in terms of (complete) propositions such as ‘Neighbors attacked Moroccans’. Such propositions typically appear in newspaper headlines.” (Dijk, 2003)

Berdasarkan pandangan di atas dapat dikatakan bahwa tematik adalah hal yang diamati dari struktur makro. Tematik merupakan makna umum dari suatu teks yang dapat dipahami dengan melihat topik yang dikedepankan dalam suatu teks. Topik wacana ini bukan hanya isi dari suatu wacana, tetapi juga sisi tertentu yang ingin dibangun dari suatu peristiwa. Elemen tematik merujuk pada gambaran umum dari suatu teks, tematik merupakan gagasan inti dari suatu teks yang dikedepankan wartawan. Hal ini sesuai dengan pendapat yang telah dikemukakan oleh Eriyanto (2001: 230)   yang menyatakan topik didukung   juga   oleh   subtopik   dan   serangkaian   fakta   yang   menunjuk   dan menggambarkan subtopik (Eriyanto, 2001: 230).

Dari beberapa penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa, struktur makro dalam sebuah wacana dapat dilihat topik dan subtopik yang mendukung wacana.

2.1.10 Peranti Analisis Wacana Kritis

Seperti halnya analisis wacana pada umumnya, AWK juga menggunakan peranti analisis yang sama dengan analisis wacana biasa untuk menginterpretasikan maksud pembuat wacana tersebut. Peranti AWK di antaranya dipaparkan berikut ini.

  1. Common Sense’ dan ‘Idiology

Idiologi yang digunakan dalam AWK sedikit berbeda dari pengertian yang biasa digunakan dalam banyak hal, terutama di bidang politik. Seperti yang dikemukakan oleh Fairclough (dalam Purwo, Ed., 2000), idiologi diinterpretasikan sebagai suatu kebijakan masyarakat yang sebagian atau seluruhnya berasal dari teori sosial secara sadar. Dalam AWK, idiologi tidak hanya terbatas pada pengertian politis, tetapi mempunyai pengertian yang lebih luas lagi. Sejak dahulu, misalnya, rakyat Indonesia telah mengenal hidup bergotong royong. Mereka mengenalnya sebelum secara resmi gotong royong itu diangkat menjadi salah satu sila dalam Pancasila. Pengertian yang semacam itulah yang disebut dengan idiologi AWK oleh Fairclough (dalam Purwo, Ed., 2000).

Bagi rakyat banyak, hidup bergotong royong merupakan cara hidup yang sangat menonjol. Setelah bangsa Indonesia menetapkan Pancasila sebagai idiologi bangsa dan negara, pengertian Pancasila bagi masyarakat banyak merupakan suatu “common sense” yang bersumber pada idiologi bangsa. Fairclough (dalam Purwo, Ed., 2000) menyebutnya sebagai “ideological common sense”.

2.1.11 Interpretasi Pembaca dan Interpretasi Penulis

Seorang pembaca tentu ingin mengetahui atau menginterpretasikan sesuatu atau maksud yang ditulis oleh penulis. Suatu wacana melibatkan kondisi sosial yang spesifik. Apabila bahasa dilihat sebagai wacana dan sebagai praktik sosial, seseorang perlu melihatnya sebagai analisis tentang hubungan antara teks, proses, dan kondisi sosial.

Ada tiga dimensi atau tahap AWK yang dipaparkan oleh Kartomihardjo (dalam Purwo, Ed., 2000:116). Dimensi AWK tersebut di antaranya adalah deskripsi, interpretasi, dan eksplanasi. Deskripsi adalah hal-hal yang menyangkut properti formal dari suatu teks; interpretasi adalah hal-hal yang menyangkut hubungan antara teks dan interaksi dengan melihat teks sebagai hasil dari suatu proses produksi dan sebagai sumber dalam proses interpretasi; sedangkan eksplanasi adalah hal-hal yang menyangkut hubungan antara interaksi dan konteks sosial. Perlu diingat bahwa setiap dimensi itu, analisis terhadap wacana akan berubah. Pada tahap deskripsi yang dilakukan adalah melihat bagaimana teks disusun menurut kosakatanya, tata bahasanya, dan struktur tekstualnya. Pada tahap interpretasi, teks dianalisis sebagai suatu hasil dari proses produksi. Sementara itu, pada tahap eksplanasi, teks dianalisis sebagai suatu interaksi yang dikaitkan dengan konteks sosialnya.

2.1.12 Teks Pidato Politik

2.1.12.1 Hakikat Teks Pidato Politik

Teks adalah sesuatu pilihan semantik (semantic choice) data konteks sosial, yaitu suatu cara pengungkapan makna melalui bahasa lisan atau tulis (Halliday, 1978 dalamYoce. 2009: 189). Teks merupakan sesuatu yang dimaknai dan dikatakan oleh masyarakat dalam situasi yang nyata dan aktual. Teks bisa dalam wujud tulisan/grafis seperti artikel, opini maupun karya sastra dan juga ada teks dalam wujud lisan/ucapan seperti wawancara, obrolan, dan pidato. Kajian teks lebih menekankan pada persoalan materialitis, bentuk, dan struktur bahasa (Anang Santoso.2012:121). Teks adalah semua bentuk bahasa, bukan hanya kata-kata yang tercetak di lembar kertas, melainkan semua jenis ekspresi komunikasi yang ada di dalamnya (Arifin. 11).

Pidato adalah sebuah kegiatan berbicara di depan umum atau berorasi untuk menyatakan pendapatnya, atau memberikan gambaran tetang suatu hal. (Putra Bahar, 2013:9). Dengan kata lain pidato merupakan penyampaian gagasan, pikiran atau informasi serta tujuan dari pembicara kepada orang lain (audience) dengan cara lisan baik yang menggunakan teks atau tanpa teks. Pidato merupakan seni memengaruhi orang lain sehingga apa yang disampaikan bisa dipahami dan mau menerima yang disampaikan oleh pembicara. Berkenaan dengan konsep tersebut maka sering berpidato merupakan the art of persuasion. Kemampuan berpidato yang baik harus ditopang oleh ilmu retorika dan kemampuan memberikan energi kekuatan bahasa yang maksimal dan sistematis karena tatanan bahasa yang disusun secara sistematis dan luwes akan memenentukan keberhasilan dalam berpidato.

Politik pada negara demokrasi tidak begitu asing, karena segala sesuatu yang dilakukan atas dasar kepentingan kelompok atau kekuasaan sering kali diberikan label politik. Mutasi pegawai atau pergeseran pejabat di kalangan birokrasi selalu dikaitkan dengan isu politik bahkan konflik yang terjadi baik bersifat horizontal maupun vertikal sering dikaitkan dengan ranah politik. Jadi politik begitu luas jangkauan wilayahnya. Politik dapat mencakup banyak kegiatan, mulai dari (1) proses pembuatan kebijakan nasional (politik pemerintah), (2) kesetaraan gender (politik seksual), (3) persaingan dalam kelompok seperti kelompok partai-partai yang ada.

Kaspar Bluntschli mengatakan bahwa “politics is the science which concerned with the state, which endeavors to understand and comprehend the state in its conditions, in its essential nature, its various forms of manifestation, its development.” Harol D. Lasswell lebih tegas merumuskan politik sebagai ilmu tentang kekuasaan “when we speak of the science of politics, we mean the science of power.” (Hafied Cangara. 2011:23). Berdasarkan pandangan tersebut maka politik mengandung sejumlah konsep kenegaraan, yakni dalam politik ada kekuasaan (power), ada pengambilan keputusan (decision making), dan ada kebijakan (policy). Politik dalam kontek penelitian ini lebih mengarah pada perebutan kekuasaan (power) dengan memengaruhi lewat energi kekuatan bahasa. Jadi politik adalah perjuangan untuk memeroleh kekuasaan, menjalankan kekuasaan, mengontrol kekuasaan, serta bagaimana menggunakan kekuasaan (Hafied Cangara. 2011:26). Pidato-pidato politik seorang politikus kadang-kadang kata tertentu digunakan secara berulang-ulang dan menjadi kata kunci, seluruhnya merupakan lambang-lambang pembicara (Virginia M H: 56-67). Mengingat hal tersebut maka bahasa dan politik selalu berkaitan, oleh karena itu bahasa dapat dilihat sebagai salah satu ruang (space) tempat konflik-konflik berbagai kepentingan, kekuatan, kuasa, proses hegemoni dan hegemoni tandingan (counter hegemony) terjadi (A.S. Hikam.1996:77).

Berdasarkan pemaparan di atas maka dapat disimpulkan bahwa teks pidato politik adalah sesuatu pilihan semantik (semantic choice) atau pilihan bahasa baik lisan atau tulis di depan umum atau berorasi untuk menyatakan pendapatnya, atau memberikan gambaran tentang perjuangan untuk memeroleh kekuasaan, menjalankan kekuasaan, mengontrol kekuasaan, serta bagaimana menggunakan kekuasaan.

2.1.12.2 Metode Pidato

  1. Metode Langsung (impromptu), yaitu berpidato secara langsung dengan mengandalkan kemampuan , kemahiran dan wawasan ilmu. Metode ini dilakukan tanpa persiapan terlebih dahulu.
  2. Metode naskah, pidato jenis ini adalah pidato yang menggunakan teks tertulis dan pidato ini tergolong resmi, misalnya pidato kenegaraan, pidato politik saat kongres partai.
  3. Metode Menghafal, yaitu metode berpidato dengan menghafal naskah atau tes pidato terlebih dahulu sebelum pidato itu dilaksanakan.
  4. Metode variatif (ekstemporan), yaitu metode pidato dengan menggabungkan ketiga metode di atas menjadi satu.

2.1.12.3 Unsur-Unsur Pidato

  1. Pembicara adalah orang yang menjadi orator atau yang menyampaikan pidato.

2.Bahan/materi pembicaraan adalah konten/isi dari pidato yang akan disampaikan.

  1. Objek/pendengar adalah orang yang menjadi pendengar (audience) atau objek (sasran) pembicara.
  2. Tema adalah gagasan utama yang ingin disampaikan oleh pembicara dalam pidato.
1

2.1.12.4 Pola Umum Garis Besar Teks Pidato Politik

Tabel 2.6   Pola Umum Teks Pidato Politik

         2a
             2a

Keterangan :

  1. Pembukaan/pendahuluan
             2b

Eksposisi

2a. Identitas partai

2b.program-program partai

  1. Persuasi
  2. penutup
  1. Pembukaan/pendahuluan berisi ucapan salam (pembuka), gagasan umum dan pentingnya pidato itu disampaikan.
  2. Eksposisi memaparkan isi berupa fakta-fakta yang terkait ideologi politik yang ada dalam partai politik misalnya, identitas partai dan program-program partai.
  3. Persuasi teknik memengruhi pendengar dengan pilihan leksikalisai yang tepat.
  4. Penutup berisi ucapan salam (penutup) dan kesimpulan.

2.1.12.5. Langkah-Langkah Pidato

  1. Meneliti Masalah : 1. Menentukan maksud.
  2. Menganalisis pendenganr dan situasi.
  3. Memilih dan menyempitkan topik.
  4. Menyusun Uraian : 4. Mengumpulkan bahan.

5.Membuat kerangka

  1. Menguraikan secara detail.
  2. Mengadakan Latihan : 7. Melatih dengan suara nyaring
  • Macam-Macam Pidato
  1. Pidato informatif/instruktif adalah pidato yang bertujuan memberikan laporan/pengetahuan atau sesuatu yang menarik kepada pendenga ( audience).
  2. Pidato persuasif adalah pidato yang berisi tentang usaha untuk mendorong, meyakinkan dan mengajak pendengar (audience) untuk melakukan sesuatu hal. Jenis pidato ini tampak dalam orasi politik saat kampanye.
  3. Pidato argumentatif adalah pidato yang bertujuan meyakinkan pendengar (audience).
  4. Pidato rekreatif adalah pidato yang bertujuan menggembirakan/menghibur pendengar (audience).
  5. Pidato edukatif adalah peidato yang menekankan pada aspek-aspek pendidikan.
  • Penelitian Sejenis

Terkait dengan penelitian yang berjudul “ Analisis Wacana Kritis Teks Pidato Politik Ketua Umum Partai Oposisi pada Pemerintahaan Susilo Bambang Yudhoyono.” Terdapat dua penelitian sejenis sehubungan dengan judul penelitian ini yaitu, (1) “Analisis Wacana Kolom Debat Publik tentang Togel Marak di Bali pada Harian Bali Post (Kajian dari Struktur Mikro dan Makro)” dan “Analisis Wacana Esai Kajian Struktur Supra, Mikro dan Makro pada Esai Hasil Pelatihan Menulis Esai Sekolah Menegah Kecamatan Rendang Tahun 2011”.

Penelitian Trisna Des Ryantini mengbedah masalah strukur mikro wacana Debat Publik tentang Togel Marak di Bali pada Harian Bali Post terdiri atas (1) pola pengambangan paragraf deduktif dan induktif yang tergolang sederhana; (2) peranti kohesif gramatikal dan leksikal; (3) penanda koherensi; dan (4) penekanan pada penggunaan kata, frasa, dan kalimat. Pola pengembangan paragraf yang paling banyak digunakan adalah pola pengembangan paragraf deduktif. Selanjutnya, peranti kohesif gramatikal yang digunakan adalah referensi, elipsis, dan konjungsi. Pola pengacuan yang digunakan terdiri atas pola pengacuan endofora (anafora dan katafora) dan eksofora. Selanjutnya, konjungsi yang digunakan dalam wacana Debat Publik tentang Togel Marak di Bali pada Harian Bali Post memiliki makna, yaitu makna kausal, pertentangan, perkecualian, konsesif, tujuan, adiktif, pilihan, urutan, perlawanan, waktu, dan syarat. Peranti kohesif leksikal yang digunakan adalah repetisi, antonimi, hiponimi, dan ekuivalensi. Selanjutnya, penanda koherensi yang digunakan adalah adiktif, rentetan (seri), ke seluruhan ke bagian, penekanan, perbandingan, pertentangan, simpulan, contoh, tempat, dan waktu. Pada wacana ini penulis menekankan pada penggunaan kata, frasa, dan kalimat. Wacana Debat Publik tentang Togel Marak di Bali pada Harian Bali Post tergolong wacana yang apik. Keapikan wacana ini dapat dilihat pada hubungan antarkata, frasa, klausa, kalimat dan antarparagraf dalam wacana ini. Hal ini sangat membantu pembaca dalam menerima dan memahami pesan yang disampaikan penulis dalam wacana tersebut.

  1. Struktur makro pada wacana Debat Publik tentang Togel Marak di Bali terdiri atas pengungkapan kekuasaan dan ideologi. Kekuasaan yang diungkapkan dalam wacana ini menunjukkan adanya pendominasian kelompok atau individu. Pendominasian yang diungkapkan lebih banyak menunjukkan bentuk pendominasian kelompok atau individu karena mampu memberikan imbalan kepada orang yang didominasi. Dalam hal ini, penulis lebih banyak mengungkapkan bahwa bandar togel adalah kelompok yang mampu mendominasi penulis (masyarakat) dan aparat penegak hukum. Pendominasian itulah yang menyebabkan judi togel sulit diberantas sampai tuntas karena bandar togel kelas kakap sulit dilacak keberadaannya. Selanjutnya, temuan dalam penelitian ini juga menunjukkan bahwa penulis juga berupaya memengaruhi masyarakat (pembaca) agar ikut memberantas togel dengan berbagai argumen, yaitu argumen agama, adat, sosial budaya dan prosedur hukum. Dalam hal ini, argumen yang lebih banyak digunakan adalah argumen agama Hindu dan prosedur hukum. Hal itu menunjukkan bahwa ideologi yang dianut penulis adalah ideologi agama Hindu dan hukum. Ideologi tersebut dimanfaatkan penulis untuk memengaruhi masyarakat Bali agar menolak keberadaan judi togel yang semakin marak di Bali.

Persamaan penelitian ini dengan penelitian Trisna Des Ryantini adalah 1) metode analisis yang digunakan sama yaitu analisis deskrpitif kualitatif dengan pendekatan AWK dengan pendekatan kritis, model Teun Van Dijk. 2) metode pengumpulan data yang dipakai sama yaitu metode dokumentasi. Sedangkan dari segi perbedaan dengan penelitian ini adalah dari segi sumber datanya yaitu penelitian Des Ryantini sumber datanya opini tentang togel pada harian Bali Post sedangkan penelitian ini sumber datanya adalah teks pidato politik ketua umum partai oposisi pada pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono dan ruang lingkup kajian penelitian ini lebih luas yaitu mencakup struktur supra, mikro, dan makro, sedangkan penelitian Des Ryantini hanya menganalisis kajian makro dan mikro. Jadi penelitian dengan judul “ Analisis Wacana Kritis Teks Pidato Politik Ketua Umum Partai Oposisi pada Pemerintahaan Susilo Bambang Yudhoyono” merupakan penelitian yang belum pernah diteliti oleh peneliti lain

Penelitian Numertayasa yang berjudul “Analisis Wacana Esai Kajian Struktur Supra, Mikro dan Makro pada Esai Hasil Pelatihan Menulis Esai Sekolah Menegah Kecamatan Rendang Tahun 2011” membedah wacana esai dari tulisan siswa menegah di Kecamatan Rendang. Penelitian itu membedah struktur supra, struktur mikro, dan struktur makro dari wacana esai.

Hasil penelitian Numertayasa yang berjudul “Analisis Wacana Esai Kajian Struktur Supra, Mikro dan Makro pada Esai Hasil Pelatihan Menulis Esai Sekolah Menegah Kecamatan Rendang Tahun 2011” terdiri atas (1) pendahuluan, (2) kalimat tesis, (3) tubuh atau isi, (4) penutup. Hasilnya dari segi struktur karangan esai siswa menengah di Kecamatan Rendang dikatagorikan wacana yang terstruktur.

Struktur mikronya terdiri atas (1) latar, (2) pengandaian, (3)rincian, (4) bentuk kalimat pasif dan aktif, (5)penanda kohesif dan koherensi, (6) pemakaian kata ganti, (7) pemakaian grafis, dan (8) metafora. Hasil penelitian dari struktur mikro bahwa penggunaan kalimat aktif lebih banyak digunakan dibandingkan dengan kalimat pasif. peranti kohesif gramatikal yang digunakan adalah referensi dan konjungsi. Pola referensi yang digunakan berupa pola pengacuan endofora (anafora dan katafora) dan eksofora.

Struktur makro penelitian Numertayasa yang berjudul “Analisis Wacana Esai Kajian Struktur Supra, Mikro dan Makro pada Esai Hasil Pelatihan Menulis Esai Sekolah Menegah Kecamatan Rendang Tahun 2011” bisa dilihat pada topik, subtopik, dan fakta. Secara makro makna yang disampaikan dalam wacana tersebut adalah menguraikan pendidikan karakter, sumpah pemuda, pemanasan global, penggunaan Bahasa Indonesia, dunia maya, Bali clean & grean, pendidikan gratis, dan Bali bersih dan indah.

Persamaan penelitian Numertayasa dengan penelitian ini, yaitu (1) metode analisis yang digunakan sama yaitu analisis deskrpitif kualitatif dengan pendekatan AWK dengan pendekatan kritis, model Teun Van Dijk; (2) metode pengumpulan data yang dipakai sama yaitu metode dokumentasi. Perbedaannya, penelitian Numertayasa menganalisis wacana esai anak sekolah menengah sebagai sumber data penelitiannya, sedangkan penelitian ini menganalisis wacana teks pidato politik partai oposisi pada pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono. Hal ini jelas akan menghasilkan perbedaan kemampuan penggunaan bahasa yang terdapat dalam wacana masing-masing, baik ketajaman bahasa maupun kekritisan bahasa yang digunakannya.

2.3. Kerangka Konseptual

                           Bagan 2.4 Kerangka Konseptual

 

 

PENDAHULUAN
TOPIK
ISI
SEMANTIK
SUBTOPIK
RETORIKA

 

 

BAB III

METODE PENELITIAN

 

3.1. Rancangan Penelitian

Rancangan (desain) penelitian pada hakikatnya mencakup abstraksi isi dan ruang lingkup (the design is content and scope of the study). Rancangan (desain) penelitian bergantung kepada pendekatan yang digunakan pada subjek penelitian yang berkaitan dengan eksistensi variabel yang akan diteliti (Dantes, 2012:167)

Penelitian ini menggunakan pendekatan analisis teks, khususnya analisis wacan ktitis. Pendekatan utama dalam analisis wacana kritis adalah analisis bahasa kritis (critical linguistik). Analisis ini memusatkan analisis wacana pada bahasa dan menghubungkannya dengan ideologi. Inti dari gagasan critical linguistik adalah mellihat bagaimana supra struktur, mokro, dan mikro membawa posisi dan makna ideologi tertentu. Dengan kata lain, aspek ideologi diamati dengan melihat pilihan bahasa dan struktur tata bahasa yang dipakai.

Penelitian ini akan mengkaji wacana Teks Pidato Politik Ketua Umum Partai Oposisi. Hal itu dilakukan untuk mengetahui struktur makro, superstruktur, dan struktur mikro dari wacana teks pidato politik ketua partai oposisi, maksudnya partai yang berada di luar pemerintah. Untuk mengetahui ketiga elemen tersebut peneliti menggunakan peranti struktur makro yaitu topik/tema dari pidato, superstruktur yakni skematiknya, dan struktur mikro. Struktur makro mengkaji ideologi dan kekuasaan penulis untuk mendominasi pembaca/pendengar agar pandangannya diterima. Kajian terhadap struktur mikro mencakup pola pengembangan paragraf, penggunaan peranti leksikal dan gramatikal, pilihan kata atau stilistika dari kata sampai kalimatnya dan pola hubungan antarunsur berupa rujukan yang digunakan penulis dalam membentuk wacana kohesif dan keheren, sedangkan kajian suprastruktur mencakup skematiknya yakni pendahuluan, isi, dan penutup dalam pidato politik.

Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kualitatif. Penelitian deskriptif kualitatif adalah penelitian yang berusaha menggambarkan sesuatu dengan menggunakan kata-kata (Arikunto, 1998:116). Analisis isi kualitatif maksudnya adalah suatu metode yang biasa digunakan untuk memahami pesan simbolik dari suatu wacana atau teks pidato ketua partai oposisi. Pesan simbolik tersebut dapat berupa tema/ ide pokok sebagai isi utama dan konteks wacana sebagai isi laten atau yang tersembunyi. Pesan-pesan simbolik meliputi aspek sosial, politik, dan ideologi yang terdapat pada teks pidato politik. Sedangkan pesan berdasrkan konteks meliputi aspek historis, sosial, budaya, ekonomi, dan politik yang memengaruhi terbentuknya wacana tersebut.

Penelitian ini memperhitungkan pemaknaan teks dengan mengandalkan interpretasi dan penafsiran. Selain itu peneliti juga memfokuskan pada pesan yang tersembunyi (latent) karena banyak teks dan orator politik menyampaikan secara implisit. Berkenaan dengan itu maka makna suatu pesan harus dianalisis dari sudut makna latensinya. Pemaknaan teks secara interpretasi/ penafsiran dan secara tersembunyi (latent) peneliti juga menganalisis pada level suprastruktur, mikro dan makro.

Pendekatan yang digunakan dalam analisis wacana teks pidato adalah pendekatan kritis atau pangdangankritis, yaitu pendekatan yang memusatkan perhatian terhadap pembongkaran aspek-aspek yang tersembunyi di balik sebuah kenyataan yang tampak (virtual reality).

3.2. Sumber Data dan Objek Penelitian

Sumber data primer dalam penelitian ini adalah pidato ketua umum partai oposisi dari Partai Demokkrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) yang diketuai oleh Megawati Soekarnoputri (MS). Data primer adalah merupakan data yang utama untuk menjawab permasalahan-permasalahan dalam penelitian ini. Kebenaran data primer sangat ditentukan oleh teks tersebut. Teks pidato politik yang digunakankan dalam penelitian ini adalah teks pidato dari partai yang beroposisi dengan pemerintah (dalam konteks ini adalah pemerintahan yang dipimpin oleh Susilo Bangbang Yudoyono (SBY) dari partai Demokrat sebagai partai pemenang pemilu tahun 2009 (teks pidato terlampir). Objek penelitian dalam penelitian ini adalah struktur makro, struktur mikro, dan superstruktur/struktur supra.

3.3. Metode Pengumpulan Data dan Instrumen Penelitian

Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling penting dan strategis dalam suatu penelitian karena tujuan utama dari penelitian adalah mencari data seakurat mungkin. Peneliti dalam hal ini sangat perlu mengerti teknik pengumpulan data itu. Adapun teknik yang digunakan peneliti menjaring data dalam penelitian ini adalah dengan teknik dokumentasi. Secara spesifik data dalam penelitian ini meliputi superstruktur, struktur mikro, dan struktur makro. Menurut Sugiyono (2006:270), dokumen merupakan catatan peritiwa yang sudah berlalu, lebih lanjut dinyatakan bahwa dokumen bisa berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya monumental. Pada teknik ini, peneliti mengumpulkan data dengan mengambil naskah-naskah pidato politik ketua partai oposisi dari pemerintah yaitu Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Selanjutnya data itu dianalisis menggunakan teori analisis wacana Van Dijk.

3.4 Instrumen Penelitian

Berdasarkan metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini, instrumen yang digunakan peneliti adalah (1) peneliti sendiri dan (2) pedoman dokumentasi. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Sugiyono (2006:250) bahwa dalam penelitian kualitatif yang menjadi instrumen atau alat penelitian adalah peneliti itu sendiri. Hal ini dipertegas oleh Moleong (2007:9) bahwa salah satu ciri penelitian kualitatif adalah manusia sebagai alat atau instrumen. Peneliti kualitatif sebagai human instrument, berfungsi menetapkan fokus penelitian, memilih informan sebagai sumber data, melakukan pengumpulan data, menilai kualitas data, analisis data, menafsirkan data dan membuat kesimpulan atas temuan dalam penelitian itu. Semua itu hanya bisa dilakukan oleh manusia.

Instrumen pengumpulan data yang kedua adalah pedoman dokumentasi. Menurut Arikunto (2002:135-136), pedoman dokumentasi dapat memuat garis-garis besar atau kategori yang akan dicari datanya. Pedoman dokumentasi ini dirinci sebagai berikut.

Instrumen Pengumpulan Data

Pedoman Pencatatan Dokumen

  1. Contoh Instrumen Pengumpulan Data Struktur Supra Wacana Pidato Politik Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP)

Judul Pidato: Pidato Politik Pembukaan Kongres III dan HUT XXXVIII PDIP

No  

Elemen Wacana

 

Penjelasan

1 Pendahuluan
2 Isi
3 Penutup
  1. Contoh Instrumen Pengumpulan Data Struktur Mikro Wacana Pidato Politik Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP)

Judul Pidato: Pidato Politik Pembukaan Kongres III dan HUT XXXVIII PDIP

No Elemen Wacana Penjelasan
1 Semantik Latar
Detail
Maksud
Pra-anggapan
2 Sintaksis Bentuk Kalimat
Koherensi
Kata ganti
3 Stilistika Leksikon
4 Retorika Grafis
Metapora
  1. Contoh Instrumen Pengumpulan Data Struktur Makro Wacana Pidato Politik Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP)

Judul Pidato: Pidato Politik Pembukaan Kongres III dan HUT XXXVIII PDIP

No Elemen Wacana Penjelasan
1 Topik
2 Subtopik
3 Fakta

Dengan pedoman dokumentasi tersebut, peneliti mudah menemukan apa yang hendak dicari dalam penelitian ini, yaitu struktur supra, struktur mikro yang digunakan untuk membangun gagasan penulis dan struktur makro yang mendasari wacana teks pidato politik ketua umum partai oposisi.

 

3.5. Pemeriksaan Keabsahan Data

Penelitian kualitatif menghendaki pula keterandalan (reliability) dan validitas kesahihan (validity) sama halnya dengan penelitian kuantitatif. Kirk dan Miller. 1987 (dalam Badara. 2012: 73) mengemukakan bahwa yang penting di dalam penelitian kualitatif ialah checking the reliability, yaitu kekuatan data yang dapat menggambarkan keaslian dan kesederhanaan yang nyata dari setiap informasi, sedangkan checking the validity yakni dengan evaluasi awal dari kegiatan penelitian yang penuh perhatian terhadap masalah penelitian dan alat yang digunakan.

Menurut Moleong ada tiga teknik pemeriksaan keabsahan data yaitu ketekunan pengamatan, pemeriksaan sejawat melalui diskusi, dan kecukupan referensial. Pengecekan data yang sudah diperoleh sangat perlu untuk memperoleh hasil yang memadai dan akurat.

Pemeriksaan keabsahan data penelitian ini dilakukan dengan membaca, mengecek, dan mengintensifkan analisis data. Pengecekan data dapat dilakukan dengan triangulasi data, yaitu triangulasi data, peneliti, metode, dan teori. Tahap ini sangat diperlukan pihak lain atau teman sejawat untuk menghindari multi tafsir terhadap data yang sudah diperoleh. Di samping itu hasil analisis data juga dikonfirmasikan (comfirmability) dengan pakar ilmu bahasa (dosen pembimbing) dan teman sejawat (triangulasi sumber) antara lain masyarakat akademik. Yang terpenting dalam hal ini dan yang sangat berkompeten dengan penelitian ini adalah dosen pembimbing tesis ini.

3.6 Prosedur Analisis Data

Analisis data diarahkan untuk menjawab rumusan masalah atau menguji hipotesis yang telah dirumuskan dalam proposal. Sugiyono mengatakan bahwa analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan dokumentasi dengan cara mengorganisasikan data ke dalam katagori, menjabarkan ke dalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusun ke dalam pola, memilih mana yang penting sehingga mudah dipelajari oleh diri sendiri maupun orang lain.

Analisis ini dilakukan pada saat pengumpulan data berlangsung, dan setelah selesai pengumpulan data pada periode tertentu. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Secara keseluruhan metode kualitatif memanfaatkan cara-cara atau mendeskripsikan fakta yang ada dalam data. Data yang dianalisis dari tatanan kata, kalimat, paragraf, wacana bahkan penafsiran makna yang tersembunyi dari data yang ada dalam tek wacana pidato yang berjudul ” Pidato Pembukaan Kongres III PDI Perjuangan” dan ” Pidato Politik Ketua Umum PDI Perjuangan pada HUT XXXVIII PDIP”.

  1. Reduksi Data

Data yang terlalu banyak maka perlu diadakan reduksi data (data reduction) artinya merangkum atau pemilihan data yang pokok-pokok saja atau yang penting-penting saja. Data yang relevan diklasifikasikan berdasarkan jenisnya dan yang tidak relevan disisihkan. Data struktur supra, mikro, dan makro diberi nomor masing-masing paragraf selanjutnya dimasukkan ke dalam beberapa tabel untuk memudahkan melihat data bila diperlukan.

  1. Penyajian Data

Selanjutnya setelah data direduksi menyajikan data yang berupa struktur supra, struktur mikro, dan struktur makro yang menjadi dasar wacana teks pidato politik Megawati Soekarnoputri (MS). Pada tahap ini seluruh data yang berupa teks pidato yang terkumpul melalui dokumentasi disajikan sesuai dengan kenyataan pada teks pidato politik itu.

  1. Penyimpulan Data

Langkah terakhir adalah penarikan kesimpulan berdasarkan deskripsi data pada masing-masing masalah yang dirumuskan. Kesimpulan itu masih bersifat sementara untuk itu perlu diverifikasi dengan melihat dan memperhatikan proses penelitian secara keseluruhan. Kesimpulan akan bisa berubah bila tidak ditemukan bukti-bukti kuat yang mendukung data berikutnya. Dan kesimpulan awal itu diperkuat bukti-bukti yang valid dan konsisten saat penelitian maka kesimpulan yang dikemukakan akan menjadi kenyataan.

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Bab ini menyajikan hasil penelitian, pembahasan hasil penelitian, dan implikasi penelitian. Hasil penelitian ini menguraikan tentang struktur Supra, struktur mikro, dan struktur makro yang membangun wacana Teks Pidato Politik Ketua Umum Partai Oposisi pada Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono. Teks pidato politik yang dipakai sebagai sumber data dalam penelitian ini adalah pidato politiknya Megawati Soekarnoputri (M.S.) yang berjudul yang pertama “Pidato Pembukaan Kongres III PDI Perjuangan” dan pidato yang kedua berjudul “ Pidato Politik Ketua Umum PDI Perjuangan pada HUT XXXVIII PDI Perjuangan.” Hasil penelitian ini kemudian dibahas pada bagian pembahasan berdasarkan teori analisis wacana kritis yang digunakan untuk membahas hasil penelitian ini.

4.1 Hasil Penelitian

4.1.1 Analisis Data Teks Pidato Politik Pembukaan Kongres III PDIP (Data 1)

4.1.1.1 Struktur Supra

Data penelitian yang terkait dengan struktur supra didapatkan dengan cara mendokumentasikan wacana Teks Pidato Politik Ketua Umum Partai Oposisi pada Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono yaitu teks pidato Megawati Soekarnoputri (M.S.) dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Jumlah teks pidato politik yang digunakan untuk mengambil data dalam penelitian ini sebanyak dua teks pidato politik yaitu 1) pidato politik Megawati Soekarnoputri (M.S.) pada saat pembukaan kongres III PDI Perjuangan di Bali, April 2010 dan 2) teks pidato politik ketua umum PDI Perjuangan pada HUT XXXVIII PDIP tahun 2011. Peneliti menggunakan dua teks pidato sebagai data penelitian ini karena dari sekian banyak teks pidato politik yang disampaikan M.S. selaku ketua umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) di era pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) hanya dua teks pidato ini yang menonjolkan bahasa-bahasa politik yang kental dan banyak berbicara tentang   koalisi dan oposisi partai di parlemen. Di samping itu, juga karena keterbatasan waktu dan dana maka peneliti hanya menggunakan dua teks pidato sebagai data penelitian ini. Pidato yang digunakan sebagai data adalah pidato yang memuat topik dan isu-isu politik dan kepartaian. Bagian struktur supra data ini akan dianalisis skematik atau alur dari pendahuluan, isi, kesimpulan, dan penutup dari sebuah pidato. Penganalisisan struktur supra teks pidato ini peneliti menggunakan struktur teks atau kerangka pidato politik sebagai landasan analisis struktur supra teks tersebut. Kerangka pidato politik sebagai acuan menganalisis struktu supra teks tersebut maka penulis gambarkan seperti di bawah ini.

Pola Umum Teks Pidato Politik

Keterangan :

  1. Pembukaan/pendahuluan
  2. Eksposisi

2a. Identitas partai

2b.program-program partai

  1. Persuasi
  2. Penutup               ( Santoso, 2003: 241)
  1. Pembukaan/pendahuluan berisi ucapan salam (pembuka), gagasan umum dan pentingnya pidato itu disampaikan.
  2. Eksposisi memaparkan isi berupa fakta-fakta yang terkait ideologi politik yang ada dalam partai politik misalnya, identitas partai dan program-program partai.
  3. Persuasi teknik memengaruhi pendengar dengan pilihan leksikalisai yang tepat.
  4. Penutup berisi ucapan salam (penutup) dan kesimpulan.

Berdasarkan teori di atas maka diperoleh hasil penelitian dari analisis data seperti yang ada pada tabel 4.1 di bawah ini.

Tabel 4.1 Struktur Supra Wacana Teks Pidato Politik dalam Rangka Pembukaan Kongres   III PDI Perjuangan

No Elemen Wacana Penjelasan Jumlah

Paragraf

Persentase (%)
1 Pendahuluan Ucapan salam di awal pidato

Paragraf 1, 2, 3, 4, 5, 6, dan 7

7 13,2%
2 Isi Paragraf ,8,9,10,11,12,13,14,15, 16, 17, 18, 19, 20, 21, 22, 23, 24, 25, 26, 27, 28, 29, 30, 31, 32, 33, 34, 35, 36, 37, 38,   39, 40, 41, 42, 43, 44, dan 45 38 71,6%
3 Penutup Paragraf 46, 47, 48, , 49, 50, 51, 52, dan 53

Salam penutup pada akhir pidato

8 15,0%
Jumlah 53

Berdasarkan pada tabel 4.1 di atas ditemukan bahwa struktur supra wacana Teks Pidato Politik Ketua Umum Partai Oposisi pada Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang disampaikan oleh M.S. selaku ketua umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dibangun berdasarkan alur atau skematika, yaitu : (1) pendahuluan, (2) isi, dan (3) penutup. Berdasarkan analisis data 1, pidato politik M.S. yang berjudul Pidato Pembukaan Kongres III PDI Perjuangan yang tersebut pada tabel di atas bahwa bagian yang mendukung pendahuluan teks ditemukan ada 7 paragraf, yakni 13,2 %, bagian yang mendukung isi pada teks pidato ditemukan sebanyak 38 paragraf, yaitu 71,6 %, dan bagian penutup/kesimpulan ditemukan sebanyak 8 paragraf, yaitu 15,0%. Dari analisis data 1 pada tabel di atas ternyata struktur supra yang paling banyak ada pada isi yang disertai pembahasan pidato, yaitu 71,6%. Hal ini sesuai dengan teori Putra Bahar (2013) bahwa isi dan pambahasan pidato merupakan kesatuan yang berisi alasan-alasan yang mendukung hal-hal yang dikemukakan pada bagian isi. Uraian data pada tabel 4.1 kutipan paragrafnya akan diuraiakan secara jelas pada tabel 4.2 di bawah ini.

Tabel 4.2 Struktur Supra Elemen Pendahuluan Teks Pidato Pembukaan Kongres III PDIP

 

NO PARAGRAF URAIAN
1 Paragraf 1 Ucapan salam agama untuk mengawali piadato dan salam hormat “Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Salam Sejahtera bagi kita semua

Om Swastiastu

Sebelumnya, marilah kita lebih dahulu bersama-sama memekikkan salam perjuangan kita,

Merdeka!!! Ini sebagai pembukaan pidato

Saudara-saudara Utusan Kongres III PDI Perjuangan, tamu undangan, dan segenap bangsa Indonesia yang saya hormati, cintai dan banggakan,” dan selanjutnya ucapan syukur mengawali paragraf.

2 Paragraf 2 Mengandung gagasan umum rasa bela sungkawa ” Kongres PDI Perjuangan III ini diselimuti oleh rasa bela sungkawa mendalam dimana dua tokoh bangsa telah dipanggil oleh Yang Maha Kuasa” dan makna persuasif yang bersifat ajakan sebagai hal yang penting untuk menumbuhkan kepedulian kader pada jasa-jasa seseorang. “Saya mengajak warga kita semua untuk mendoakan, dan lebih lagi meneladani pikiran dan tindakan mereka dalam memajukan kehidupan berbangsa dan bernegara.”
3 Paragraf 3 Ucapan selamat “Secara khusus saya juga ingin mengucapkan selamat kepada KH Sahal Mahfudz dan KH Said Agil Siraj yang telah terpilih sebagai Rais Aam dan Ketua Tandfidziyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama pada Muktamar ke-32 NU di Makassar beberapa waktu lalu.”

 

 

4 Paragraf 4 Berisi atau menyampaikan pentingnya PDIP mengadakan kongres “Saudara-saudara utusan peserta Kongres III, Hari ini kita berkongres bukan sekadar untuk memenuhi kalender 5 tahunan partai, bukan pula sekadar untuk memilih ketua umum atau membagi-bagikan posisi. Tetapi untuk menyalakan kembali suluh perjuangan dan menyatukan diri dalam lengan-lengan perjuangan untuk membangun jiwa dan raga Indonesia merdeka.”
5 Paragraf 5 Gagasan umum tentang kongres yang dilandasan oleh aturan hukum berupa SK sebagai dasar hukumnya “Pelaksanaan konsolidasi Partai yang telah dipandu oleh SK 435 telah mengantarkan utusan-utusan kita ke Kongres III ini.”
6 Paragraf 6 Berisi harapan dan tujuan diadakan kongres PDIP yang merupakan bagian dari pendahuluan dari sebuah pidato. “Harapan saya, pasca Kongres III, energi partai tidak lagi terserap hanya untuk konsolidasi internal. Pembentukan PAC, Ranting, dan Anak Ranting harus bisa diselesaikan tanpa proses yang berlarut-larut. Kita mesti menyediakan lebih besar lagi energi untuk bekerja, bekerja, dan bekerja bersama rakyat.”
7 Paragraf 7 Berisi pentingnya pidato ini disampaikan karena saat ini PDIP dihadapkan pada ujian berupa pilihan yaitu koalisi dan oposisi. Hal ini bisa dilihat kutipan paragraf, yaitu “Sebagai kekuatan politik PDI Perjuangan sedang dihadapkan pada suatu ujian sejarah yang tidak mudah. Kita disodorkan pada suatu pilihan pragmatis antara koalisi dan oposisi. Saya sungguh berduka karena politik telah direduksi tidak lebih dari sekadar urusan perebutan dan pembagian kekuasaan antar kekuatan politik, antar elit politik.”Kutipan paragraf ke-7 ini mengakhiri bagian pendahuluan dan selanjutnya orator memulai dengan paragraf isi pada paragraf ke-8 dengan kalimat “Dalam kesempatan ini saya perlu tegaskan bahwa cita-cita yang melekat dalam sejarah Partai kita jauh lebih besar dari sekadar urusan kursi di parlemen….”

Wacana teks pidato politik pembukaan kongres III Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) yang disampaikan oleh ketua umumnya Megawati Soekarnoputri (M.S.) di atas merupakan teks pidato politik yang memosisikan partainya sebagai partai oposisi pemerintah. Berdasarkan analisis struktur supranya, yakni skematika atau alur dari teks pidato politik yang digunakan oleh Megawati Soekarnoputri (M.S.) selaku ketua umum partai, M.S. mengawali pidatonya dengan menyampaikan salam agama, salam nasional, harapan, tujuan, gagasan-gagasan, pentingnya diadakan kongres dan memekikan salam kemerdekaan. Penyampaian salam itu merupakan strategi orator M.S. untuk menarik perhatian pendengar menuju ke paparan isi pidato. Di samping itu, penyampaian salam agama Islam, Hindu, dan Kristen secara implisit menunjukkan bahwa seorang orator politik (M.S.) ingin menunjukkan bahwa Megawati Soekarnoputri (M.S.) seorang yang solidaritas, nasionalisme dan menghargai kebhinekaan atau perbedaan terutama dalam hal agama. Kesan ini akan membawa dampak pada pendengar (audience) dalam menerima isi pidato selanjutnya. Pekikan kemerdekaan menunjukkan bahwa semangat kemerdekaan dan semangat kader partai sebagai gelora semangat. Selanjutnya dengan mengucapkan salam hormat kepada peserta kongres sebagai bentuk penghormatan dan bentuk kedekatan orator kepada pendengar. Pengucapan salam di awal pidato M.S. memberikan kesan yang santun sebagai pencitraan awal dari M.S. sebagai tokoh partai.

Pendahuluan teks pidato di atas terdapat pada paragraf ke-1, ke-2, ke-3, ke-4, ke-5, ke-6, dan paragraf 7 seperti yang diuraikan padaa tabel 4.1 di atas. Paragraf ke-1 menyatakan hal-hal yang berkaitan aspek keagamaan (religious) untuk menunjukkan jati diri partai bahwa agama merupakan hal yang mendasar dalam sebuah partai dan menggugah pendengar (audience) untuk mengingat torehan sejarah Partai Perjuangan Indonesia Perjuangan (PDIP) yang pernah terjadi di Bali. Pendahuluan pidato M.S. mengajak pendengarnya menggelorakan semangat dengan mengenang masa lalu PDIP yang pernah diinjak-injak oleh penguasa. M.S. mengawali pidato politiknya menggunakan latar historis untuk menyentuh pendengarnya dengan mengingatkan luka lama apa yang pernah dialami PDIP di Bali. Bentuk komunikasi ini sebagai bentuk pencitraan untuk mencari simpati dari pendengar (audience), seperti kutipan pidatonya “yang telah menjaga dan mengantarkan kita kembali ke Bali, tempat dimana kesejarahan PDI Perjuangan ditoreh, dan sekaligus tempat dimana spirit ‘merah’ tetap terjaga. (paragraf 1)” Di samping penggunaan frasa “spirit merah” sebagai pendahuluan pidato merupakan adagium politik yang mengawali kata yang menyentuh rasa pendengar (audience).

Paragraf kedua berisi ucapan bela sungkawa kepada tokoh nasional yang sudah meninggal sebagai wujud menghargai tokoh nasional walaupun sudah tiada sebagai wujud dari kepedulian partai dalam hal menghargai tokoh-tokoh bangsa (negarawan) dan sekaligus tokoh partai.

1)Kongres PDI Perjuangan III ini diselimuti oleh rasa bela sungkawa mendalam dimana dua tokoh bangsa telah dipanggil oleh Yang Maha Kuasa: yaitu bapak K.H. Abdur Rahman Wahid yang akrab disapa oleh mereka, Gus Dur serta yaitu seorang kader nasionalis yang hidup di tiga zaman yaitu Bapak Frans Seda. 2)Beberapa waktu lalu kita juga kehilangan seorang tokoh PDI Perjuangan yaitu Bapak Subagyo Anam yang hingga akhir hayat terus memberikan sumbangsih bagi Partai. 3)Saya mengajak warga kita semua untuk mendoakan, dan lebih lagi meneladani pikiran dan tindakan mereka dalam memajukan kehidupan berbangsa dan bernegara. (paragraf 2)

Paragraf ke-2 ini tidak sekadar ucapan bela sungkawa tetapi lebih menekankan untuk mengajak pendengar   untuk menghormati tokoh nasionalis dan membangkitkan rasa nasionalis lewat PDIP sebagai partai nasionalis. Paragraf ini khusus menyampaikan rasa bela sungkawa kepada yang berjasa kepada PDIP untuk mebangkitkan semangat keteladanannya. Bagian ini merupakan ajakan kepada pendengar. Paragraf 2 merupakan bagian dari pendahuluan tetapi modus kalimatnya menggunakan modus imperatif berupa ajakan untuk bisa meneladani ketokohan PDIP, yaitu Subagyo Anam.

Pencitraan ketokohan PDIP dan Megawati Soekarnoputri (M.S.) sudah dibangun diawal pidato politiknya, seperti terungkap pada paragraf 2. Bagian pendahuluan pidato M.S. selalu menghargai tokoh bangsa yang nasionalis dan tokoh agama. Kalimat yang menyatakan keagamaan yang nasionalis terbaca pada paragraf ke-3 kalimat ke-2 yaitu ke-bhinekaa-an Indonesia sebagai keanekaragaman agama, suku dan budaya. Kalimat ini memberi makna bahwa PDIP adalah partai yang nasionalis yang menghargai kebhinnekaan.

Paragraf ke-4 juga masih merupakan bagian dari pendahuluan yang memuat latar dari pidato politik sebuah partai dan juga pertanyaan retorika yang jawabannya bersifat alternatif yang terdapat pada kalimat ke-5. Paragraf 4 kalimat ke -5 menyodorkan pilihan yang bersifat retoris kepada pendengar tentang demokrasi Indonesia. Demokrasi yang bisa mengantarkan kehidupan berbangsa dan bernegara yang lebih baik pasti merupakan pilihan dari rakyat atau pendengar.

“1)Saudara-saudara utusan peserta Kongres III, Hari ini kita berkongres bukan sekadar untuk memenuhi kalender 5 tahunan partai, bukan pula sekadar untuk memilih ketua umum atau membagi-bagikan posisi. 2)Tetapi untuk menyalakan kembali suluh perjuangan dan menyatukan diri dalam lengan-lengan perjuangan untuk membangun jiwa dan raga Indonesia merdeka. 3)Mengapa hal ini saya katakan Saudara-saudara? 4)Karena Kongres kali ini dilaksanakan di tengah ingar-bingar politik nasional. 5) Ingar bingar yang sedang menguji apakah jalan demokrasi yang kini kita jalani mampu mengantarkan ke kehidupan berbangsa dan bernegara yang lebih baik atau justru menjerumuskan kita pada suatu kekelaman sejarah bagi suatu   bangsa.                 ( paragraf 4)”

Kutipan paragraf ke-4 di atas mengungkapkan latar pentingnya diadakan sebuah kongres, jawabannya tersurat dalam paragraf di atas. Latar dari pidato pembukaan kongres III PDIP terdapat pada kalimat ke-2 paragraf 4 “Tetapi untuk menyalakan kembali suluh perjuangan dan menyatukan diri dalam lengan-lengan perjuangan untuk membangun jiwa dan raga Indonesia merdeka.” Kalimat ini merupakan latar diadakannya kongres sebagai bentuk suluh perjuangan dan menyatukan diri dalam memperjungkan rakyat sesuai tema yang diusung dalam kongres ini.

Sedangkan pada paragraf ke-5 pada kalimat ke-2 lebih menekankan latar dari aspek yuridis formal diadakan kongres yakni kutipan kalimat ke-2 pada paragraf ke-5 di bawah ini.

1)Saudara-saudara, Sebagai partai kita boleh berbangga karena di tengah-tengah  ingar-bingar politik nasional, konsolidasi internal tetap berjalan baik. 2)Pelaksanaan konsolidasi Partai yang telah dipandu oleh SK 435 telah mengantarkan utusan-utusan kita ke Kongres III ini. (paragraf 5)

Paragraf 5 metekankan pada landasan hukum diadakan kongres sebagai bentuk legalitas diadakannya kongres PDIP. Paragraf ini masuk dalam alur/skematiaka pendahuluan pidato. Aspek hukum sudah disampaikan di bagian pendahuluan pidato agar memiliki landasan yang kuat secara hukum dan berisfat legalitas.

Tabel 4.3 Struktur Supra Elemen ISI Teks Pidato Pembukaan Kongres III PDIP

 

 

NO

 

ISI

 

KALIMAT TOPIK

 

URAIAN

1 Paragraf 8 “Dalam kesempatan ini saya perlu tegaskan bahwa cita-cita yang melekat dalam sejarah Partai kita jauh lebih besar dari sekadar urusan kursi di parlemen, atau sejumlah menteri, ataupun juga sampai melangkah ke istana merdeka, saudara-saudara.” Dikutip kalimat ke-1 yaitu cita-cita PDIP merupakan program partai PDIP ini dipaparkan secara jelas dan gamblang
2 Paragraf 9 “Kita tidak akan pernah menjadi bagian dari kekuasaan yang tidak berpihak pada wong cilik.” Kalimat ke-1   mengungkapkan tentang ideologi politik dari PDIP yaitu keberpihakan kepada wong cilik bukan semata-mata kekuasaan
3 Paragraf 10 “Penegasan di atas tidak berarti PDI Perjuangan anti kekuasaan” Kalimat 1 kalimat intinya merupakan penegasan paragraf 9, yaitu PDIP bukan anti kekuasaan
4 Paragraf 11 “Sebagai kekuatan pengontrol dan penyeimbang, kita bukan saja diwajibkan untuk mengkritik.” (kalimat 1) Memperlihatkan kekonsitenan partai sebagai partai oposisi bukan hanya mengejar kekuasaan
5 Paragraf 12 “Saudara-saudara utusan kongres yang saya cintai, Posisi di atas adalah wujud tanggung-jawab kita sebagai kekuatan politik; tanggung-jawab kita untuk menjaga agar demokrasi yang sehat dapat tetap bekerja dengan sebaik-baiknya.” (kalimat 1) Kalimat intinya adalah oposisi adalah kekuatan politik dengan menggunakan pengacuan kata “di atas” yaitu posisi di atas artinya posisi pengontrol dan penyeimbang (oposisi)
6 Paragraf 13 “Rakyat memilih ketika pemilu, karena visi dan misi.” (kalimat 1) Kalimat 1 inti kalimatnya “rakyat memilih” yang dijelaskan dengan keterangan alasan sebab.
7 Paragraf 14 “kegagalan kita dalam memaknai garis sejarah sebagaimana saya sampaikan di atas merupakan inti sebab dari ditinggalkannya PDI Perjuangan dalam dua pemilu yang lalu.” (kalimat 1) Kalimat 1 ,yaitu Kegagalan PDIP dalam pemilu sebagai inti kalimat yang disertai penjelasan akibat (konsekuensi)
8 Paragraf 15 Kalimat topiknya ada secara tersirat yaitu PDIP harus mulai bangkit dan merepleksi Kalimat-kalimat paragraf 15 semuanya merupakan kalimat penjelas dan kalimat topik implisit ada pada paragraf 14.
9 Paragraf 16 “Saya mengajak setiap warga partai dimanapun mereka berada mari kita jadikan lima tahun kemarin sebagai pelajaran berharga, dan kita jadikan lima tahun ke depan sebagai tahun-tahun PERUBAHAN & KEBANGKITAN KEMBALI,saudara-saudara.”     (kalimat 1) Intinya “perubahan & kebangkitan kembali” yang ditandai dengan elemen grafis menandakan ini adalah hal yang ditekankan dan penting
10 Paragraf 17 “Menjadi partai ideologis bukanlah suatu pilihan yang mudah.” (kalimat 1) Inti kalimat 1, yaitu Pilihan menjadi partai ideologis
11 Paragraf 18 “Pengaturan kelembagaan partai kita masih terpusat pada satu tiang penyanggah, yakni organisasi partai dari DPP hingga anak ranting saja.” (kalimat 2) Mengungkapkan kelemahan berupa fakta tentang organisasi partai. Paragraf ini memperlihatkan kelemahan dan kekurangan dari PDIP
12 Paragraf 19 “Kita dihadapkan pada persoalan kaderisasi dan penataan jenjang karier yang belum terlembaga dengan baik” (kalimat 1) Inti kalimatnya persoalan kaderisasi pemimpin yang belum terlembagakan.
13 Paragraf 20 “Regenerasi memang tidak secepat yang kita harapkan.” (kalimat 1) Regenerasi sebagai inti kalimat
14 Paragraf 21 Saya ingin belajar kiatnya karena PDI Perjuangan juga berkeinginan seperti itu saudara-saudara. (kalimat 1) Inti kalimatnya sama dengan paaragraf 20 dengan menggunakan pengacuan antar paragraf
15 Paragraf 22 Dari sisi eksternal, tantangan bagi PDI Perjuangan untuk kembali ke jalan ideologis juga tidak ringan. (kalimat 1) Inti kalimatnya tantangan menuju ke jalan ideologi partai
16 Paragraf 23 Kesemua tantangan di atas, baik internal maupun eksternal perlu disikapi oleh Kongres III kali ini. (kalimat 6) Pentingnya kongres untuk menghadapi tantangan
17 Paragraf 24 Saya juga perlu menegaskan bahwa kemerosotan suara kita dalam pemilu lalu adalah juga produk dari penyelenggaraan demokrasi yang manipulatif. (kalimat 1) Pokok pikirannya kemerosotan suara PDIP karena pemilu yang bersifat manipulatif.
18 Paragraf 25 Sebagai Presiden pada tahun 2004, saya telah mencoba dengan susah payah membangun sistem demokrasi yang dikehendaki dalam alam reformasi agar Presiden dan Wakil Presiden dapat dipilih secara langsung oleh rakyat. (kalimat 1) Inti kalimatnya membangun demokrasi langsung yang dipilih langsung oleh rakyat.
19 Paragraf 26 Pemilu 2009 menunjukkan, politik kehilangan watak aktivisme dan voluntarismenya. (kalimat 1) Kalimat intinya pemilu yang tanpa karakter dan tanpa moralitas.
20 Paragraf 27 Sebagai pilar negara demokrasi, partai berubah fungsi menjadi sekedar “penjual tiket” kekuasaan. (kalimat 1) Kalimat inti pilar demokrasi. Amanatnya pada paragraf ini sistem pemilu yang bersifat transaksional atau sebagai arena bisnis.
21 Paragraf 28 Pola hubungan yang mendewakan materi di atas memang tampak menguntungkan hanya untuk jangka pendek, saudara-saudara (kalimat 1) Paragraf ini berkoherensi dengan paragraf 27, yaitu pemilu yang bersifat transaksional sehingga mendewakan materi
22 Paragraf 29 Partai adalah “taman sari” untuk menyiapkan kader-kader pemimpin bangsa dan negara guna mengisi sirkulasi kekuasaan secara damai. (kalimaat 2) Kalimat intinya menggunakan metafora, yaitu partai adalah taman sari bukan sebagai ajang pencitraan
23 Paragraf 30 Apakah realitas seperti ini yang kita kehendaki bagi masa depan Indonesia kita? (kalimat 2) Intinya realitas yang dikehendaki Indonesia diungkapkan dalam bentuk restoris
24 Paragraf 31 Realitas dimana rakyat kehilangan kemandiriannya dalam politik. (kalimat 2) Hilangnya kemandirian politik untuk rakyat dan hanya mengguntungkan kalangan beruang
25 Paragraf 32 Karena melihat pada hal-hal di atas, kita bukan saja dituntut untuk bergotong-royong dan bermusyawarah dengan rakyat sebagai inti berpolitik PDI Perjuangan, partai kita. (kalimat 4) Intinya politik PDIP bergotong royong dan bermusyawarah
26 Paragraf 33 Kalimat topik ada pada paragraf ke-32 dengan menggunakan pengacuan (referensi) Mengedepankan azas kejujuran dan keadilan dengan budaya politik yang bermatabat
27 Paragraf 34 Penegasan jalan ideologis yang memihak pada rakyat kecil di atas bukan saja penting bagi masa depan PDI Perjuangan (kalimat 2) Ideologi partai yang memihak rakyat kecil
28 Paragraf 35 kita mencita-citakan ingin berdaulat dalam bidang politik Menggunakan bentuk pertanyaan retoris tentang berdaulat secara politik
29 Paragraf 36 Pengalaman sejumlah negara adidaya akhir-akhir ini menunjukkan sebuah bangsa bukan saja membutuhkan ideologi, tapi ideologi yang didedikasikan bagi mayoritas rakyat. (kalimat 1) Ideologi untuk rakyat
30 Paragraf 37 Padahal realitas di sekitar kita mengatakan dengan jelas: inilah era puncak pertarungan ideologi dalam berbagai bentuk baru dan menjangkau setiap sendi kehidupan. (kalimat 3) Era pertarungan ideologi dalam bentuk baru
31 Paragraf 38 Demokrasi Indonesia yang telah lama kita perjuangkan bukanlah suatu ruang kosong yang bekerja secara metafisis ataupun mekanis. (kalimat 1) Demokrasi Indonesia merupakan medan peperangan yang harus diperjuangkan
32 Paragraf 39 Akhirnya sangat jelas: suatu kekacauan pengelolaan pemerintahan. (kalimat 4) Pengelolaan pemerintahan yang tidak sesuai dengan ideologi pancasila sehingga memunculkan kekacauan pemerintahan
33 Paragraf 40 Salah satu bukti dari terjadinya kekacauan pengelolaan pemerintahan yang masih up to date dewasa ini adalah kasus Bank Century. (kalimat 1) Fakta kekacauan, yaitu kasus bank century sebagai realitas politik
34 Paragraf 41 Dengan kesepakatan DPR telah menunaikan kewajiban konstitusional-nya untuk menuntaskan kasus Bank Century ini. (kalimat 1) Penuntasan kasus bank century (sebagai isu politik PDIP)
35 Paragraf 42 Kita tidak bisa membiarkan proses yang ada hanya diawasi oleh lembaga-lembaga formal saja Ketidakpercayaan PDIP terhadap lembaga formal maka perlu media dan rakyat mengawasi
36 Paragraf 43 Saudara-saudara utusan Kongres yang saya cintai dan banggakan, Saya menyadari sepenuhnya bahwa perjuangan tidak akan pernah sampai ke akhir tujuannya hanya dengan ideologi. (kalimat 1) Inti pokok kalimatnya ideologi yang membutuhkan kader dan pemimpin
37 Paragraf 44 berharap, hal-hal strategis di atas bisa diputuskan oleh Kongres sebagai pemegang kedaulatan tertinggi dalam partai. (kalimat 1) Intinya kongres merupakan kedaulatan tertinggi mengambil keputusan
38 Paragraf 45 Kalimat topik ada di paragraf 44 Paragraf ini menggunakan pengacuan ke paragraf 44. Jadi paragraf 45 berkoherensi dengan kalimat topik pada paragraf 44

Berdasarkan tabel 4.3 bahwa kalimat topik atau ide pokok kalimat paragraf kebanyakan berda di awal paragraf. Paragraf pada pidato politiknya M.S. saat pembukaan kongres partai lebih banyak menggunakan paragraf deduktif karena ide-ide pokok paragrafnya berada di awal. Penulis atau orator politik dalam menyampaikan pidatonya menempatkan ide pokok pada awal paragraf agar pendengar lebih mudah memahami maksud atau isi pidato.

Bagian isi teks pidato yang berjudul Pidato Pembukaan Kongres III PDI Perjuangan terdapat pada paragraf 8 s.d. paragraf 45. Isi pidato politik M.S. pada intinya penataan kembali PDIP lewat pengaderan atau kaderisasi pemimpin partai atau pemimpin bangsa yang dilandasi aturan partai yaitu AD/ART partai. Inti isi pidato politik M.S. penyelenggaraan kongres partai untuk pengaderan pemimpin dengan penekankan pada ideologi partai, yaitu mengangkat harkat-martabat rakyat serta berjuang untuk kepentingan rakyat dan bukan hanya sekadar bagi-bagi kekuasaan. Secara tersamar/tersembunyi M.S. mengungkapkan bahwa PDIP melakukan regenerasi kepemimpinan bukan tidak ada regenerasi. Hal ini diungkapkan secara implisit untuk menjawab keragu-raguan dan kecurigaan rakyat terhadap PDIP, mengapa PDIP tidak pernah melaksanakan regenerasi kepemimpinan. Jawaban itu terungkap pada kutipan paragraf di bawah ini.

1)Regenerasi memang tidak secepat yang kita harapkan. 2)Tetapi kita jangan salah kaprah seakan proses regenerasi tidak terjadi. 2)Cobalah tengoklah ke daerah-daerah, cukup banyak tunas-tunas baru yang tumbuh. 3)Tengoklah di parlemen kita, semakin banyak generasi muda berkiprah. 4)Merekalah yang telah siap menyatakan diri memimpin bukan saja PDI Perjuangan, tetapi  juga  menjadi pemimpin bangsa yang di masa datang yang saya yakin tidak terlalu lama lagi.  5)Saudara-saudara. Melihat semua ini saya sering merenung dan berkata pada diri saya sambil menertawakan diri saya; “Bagaimana Saya bisa belajar pada suatu partai yang dalam waktu begitu cepat bisa naik sampai 300%. (paragraf 20)”

Kutipan paragraf ke-20 di atas secara tersurat menyatakan regenerasi kepemimpinan yang menjadi tujuan utama kongres dan tersurat dalam pidato politiknya. Pidato politik dalam kongres menginginkan lahirnya pemimpin-pemimpin muda. Pengaderan pemimpin untuk orang muda harus berdasarkan aturan dan landasan hukum yang disebut AD/ART partai dengan tetap memperjuangkan dan mengedepankan ideologi partai seperti tertera pada paragraf di bawah ini.

1)Saudara-saudara para kader Partai yang saya cintai dan banggakan, Sebagai kekuatan politik PDI Perjuangan sedang dihadapkan pada suatu ujian sejarah yang tidak mudah. 2)Kita disodorkan pada suatu pilihan pragmatis antara koalisi dan oposisi. 3)Saya sungguh berduka karena politik telah direduksi tidak lebih dari sekadar urusan perebutan dan pembagian kekuasaan antar kekuatan politik, antar elit politik. 4)Saya berduka karena pemahaman di atas meninggalkan inti etis dan ideologis dari politik sebagai suatu seni dan sarana kebudayaan rakyat untuk mewujudkan suatu kedaulatan politik, keberdikarian ekonomi, dan jati-diri kebudayaan kita sebagai bangsa merdeka. (paragraf 7)

1)Menjadi partai ideologis bukanlah suatu pilihan yang mudah. 2) Perkembangan sepuluh tahun terakhir ini menunjukkan besarnya tantangan yang harus kita jawab. 3) Kita dihadapkan pada rendahnya kecakapan dan tidak tersedianya media bagi partai dalam mengelola opini dan membangun komunikasi. 4) Kita bahkan belum memiliki sistem data base yang handal sebagai dasar pengambilan keputusan. (paragraf 17)

Paragraf 7 dan 17 menekankan bahwa partai PDIP lebih berorientasi pada ideologi partai yaitu menyejahterakan rakyat (wong cilik) dan bukan hanya bagi-bagi kekuasaan. Penggunaan kalimat-kalimat yang selalu menggunakan kata-kata rakyat dan wong cilik sebagai ikon dan ideologi politik partai merupakan strategi komunikasi M.S. dengan rakyat sebagai pendengar untuk menanamkan simpatinya. Strategi komunikasi yang dibangun PDIP lewat pidato politiknya selalu keberpihakan pada rakyat kecil (wong cilik).

Paragraf ke-46, ke-47, ke-48, ke-50, ke-51, ke52, dan ke-53 merupakan paragraf kesimpulan/penutup yang berisi ucapan terima kasih kepada seluruh elemen tokoh PDIP, panitia kongres, dan aparat keamanan. Kata terima kasih selalu muncul pada paragraf ke-46, ke-47, ke-ke-48, dan ke-51 sebagai paragraf penutup pidato M.S.. Penyampaian kata-kata terima kasih pada akhir pidatonya merupakan hal yang bersifat umum setiap mengakhiri pidato, baik pidato politik maupun pidato di luar konteks politik. Untuk lebih jelasnya lihat uraian tabel di bawah ini.

Tabel 4.4 Struktur Supra Elemen Penutup/Kesimpulan Teks Pidato Pembukaan Kongres III PDIP

NO PARAGRAF URAIAN
1 Paragraf 46 Kader Partai yang saya cintai dan banggakan, saudara sebangsa dan setanah air. Mengakhiri pidato ini, ijinkan saya dan seluruh jajaran DPP PDI Perjuangan yang nanti akan segera demisioner, menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya atas kepercayaan warga PDl perjuangan terhadap saya dalam memimpin partai ini selama lima tahun.
2 Paragraf 47 Terimakasih dan penghargaan juga saya sampaikan kepada daerah-daerah yang dengan keras telah mampu mempertahankan, bahkan menaikkan jumlah perolehan suaranya dalam Pemilu legislatif maupun Pemilu Presiden.
3 Paragraf 48 Terimakasih dan penghargaan saya sampaikan kepada sesepuh partai yang telah banyak membantu kerja partai melewati masa-masa yang tidak mudah.
4 Paragraf 49 Kepada Panitia Kongres yang telah bekerja dengan sangat keras selama berbulan-bulan ydalam mempersiapkan Kongres ini supaya sukses, terimakasih dan penghargaan yang tinggi saya sampaikan kepada pemerintah Provinsi dan warga Bali, ucapan terimakasih atas bantuan dan sambutannya yang selalu meriah bagi PDI Perjuangan.
5 Paragraf 50 Pada aparat keamanan, terimalah rasa terimakasih dan hormat kami atas segala kerja keras sehingga penyelenggaraan Kongres III ini bisa berjalan tanpa gangguan.
Terimakasih juga saya sampaikan pada para pengamat yang telah berkeinginan meluangkan waktu untuk hadir di arena Kongres III kali ini. Mudah-mudahan apa yang telah dilihat menjadi bermanfaat. 
6 Paragraf 51 Dan terakhir, terimakasih dan penghargaan yang tinggi saya sampaikan kepada rekan-rekan wartawan yang telah menjadi sahabat PDI Perjuangan bukan pada saat ini belaka, tetapi dari sejak dulu ketika PDI Perjuangan dibentuk.
7 Paragraf 52 Saudara-saudara, Jalan Pancasila 1 Juni 1945 yang ditopang oleh 3 pilar bernegara lainnya, yakni Negara Kesatuan Republik Indonesia, Undang-Undang Dasar 1945 dan Bhineka Tunggal Ika yang kita pilih adalah jalan tunggal bagi PDI Perjuangan dalam “Berjuang untuk kesejahteraan rakyat” yang menjadi tema Kongres III kali ini.
8 Paragraf 53 Akhirnya, dengan rasa gembira mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim, Kongres ke-III PDI Perjuangan secara resmi saya buka.

Kutipan paragraf 46, 47, 48, 49, 50,51, 52, dan 53 merupakan bagian penutup pidato. Penutup pidato menggunakan pilihan kata terima kasih yang disampaikan secara berulang-ulang setiap paragraf penutup. Paragraf penutup pidato selalu menggunakan kata terima kasih sebagai pakem dalam berbicara dan kata ini selalu muncul setiap berpidato. Fakta ini bisa dilihat kutipan-kutipan paragraf di bawah ini.

Mengakhiri pidato ini, ijinkan saya dan seluruh jajaran DPP PDI Perjuangan yang nanti akan segera demisioner, menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya atas kepercayaan warga PDl perjuangan terhadap saya dalam memimpin partai ini selama lima tahun. (paragraf 46)

Dan terakhir, terimakasih dan penghargaan yang tinggi saya sampaikan kepada rekan-rekan wartawan yang telah menjadi sahabat PDI Perjuangan bukan pada saat ini belaka, tetapi dari sejak dulu ketika PDI Perjuangan dibentuk. (paragraf 51)

Saudara-saudara, Jalan Pancasila 1 Juni 1945 yang ditopang oleh 3 pilar bernegara lainnya, yakni Negara Kesatuan Republik Indonesia, Undang-Undang Dasar 1945 dan Bhineka Tunggal Ika yang kita pilih adalah jalan tunggal bagi PDI Perjuangan dalam “Berjuang untuk kesejahteraan rakyat” yang menjadi tema Kongres III kali ini. (paragraf 52)

Kutipan paragraf 52 pidato M.S. mengungkap tiga pilar kebangsaan sebagai bentuk bahwa PDIP memandang pilar kebangsaan yang harus diimplementasikan dan dijaga selalu. Kutipan paragraf 52 mengungkapkan tema/topik dalam kongres III PDIP. Tema/topik pidato ditempatkan pada akhir pidato dengan tujuan memberikan kesan secara emosional kepada pendengar agar merasakan keberpihakan PDIP kepada rakyat kecil. “Berjuang untuk Kesejahtraan Rakyat”, tema ini dimaknai sebagai bentuk perjuangan PDIP kepada wong cilik. Terakhir sebagai salam penutup pidatonya M.S. menyampaikan salam agama seperti mengawali pidatonya. Penutup pidatonya M.S. dengan menekankan pilar-pilar kebangsaan dan kesejahtraan rakyat sehingga memberikan kesan yang lebih kepada pendengar bahwa PDIP bekerja untuk rakyat. M.S. memilih menyampaikan hal ini pada penutup pidatonya karena kata-kata terakhir akan memberikan kesan dan energi makna yang lebih pada pendengar. Strategi komunikasi politik yang dipakai M.S. dalam akhir pidatonya memberikan kesan adem dan membela rakyat, hal ini dapat dilihat dari strategi komunikasi M.S. dengan menyampaikan tema di akhir pidatonya dengan memilih tema menyentuh langsung pada rakyat “Berjuang untuk Kesejahtraan Rakyat”.

4.1.1. 2 Struktur Mikro

 

Data penelitian tentang struktur mikro diperoleh dengan cara mendokumentasikan wacana Teks Pidato Politik Ketua Umum Partai Oposisi dari M.S. selaku ketua umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). PDIP merupakan satu-satunya partai oposisi pada zaman pemerintahan SBY. Jumlah wacana teks pidato politik yang digunakan data penelitian ini sebanyak dua naskah pidato politik. Kedua teks pidato tersebut disampaikan oleh Megawati Soekarnoputri (M.S.). Kedua data dalam penelitian ini dianalisis secara terpisah menggunakan acuan instrumen penelitian yang ada, yaitu struktur supra, struktur mikro dan struktur makro. Data dari naskah pidato yang berjudul Pidato Pembukaan Kongres PDI Perjuangan dianalisis dari struktur mikro. Wacana Teks pidato tersebut dikontruksi dan dianalisis dari empat elemen, yaitu : elemen semantik, sintaksis, stilistika, dan elemen retorika. Keempat elemen tersebut dipakai instrumen menganalisis data tersebut. Hasil penelitian dari analisis data itu selengkapnya diuraikan dalam tabel berikut ini.

Tabel 4.5 Struktur Mikro Wacana Teks Pidato Politik dalam Rangka Pembukaan Kongres III PDIP

 

 

No Elemen Wacana Penjelasan Jumlah Persentase
1 Semantik Latar Paragraf 4,7,8,21,

24,40, dan 41

7 13,2%
    Detail Paragraf 7, 9, 34, 39, dan 40 5 9,4 %
    Maksud Paragraf 10, 23, 24,34, dan 40 5 9,4 %
    Pra-anggapan Paragraf 9,10,13,

14,24,26,31,40, dan 42

9 16,9 %
2 Sintaksis Bentuk Kalimat Paragraf 1 s.d. 53 53 100 %
    Koherensi/Kohesi Paragraf 1 s.d. 53 53 100 %
    Kata ganti Paragraf 1 s.d. 53 53 100 %
3 Stilistika Leksikon Paragraf 4, 5, 7, 9, 12, 15, 19, 22, 24, 25, 27, 29, dan 46  

13

 

24,5 %

4 Retorika Grafis Paragraf 6, 12, 22, 43, dan 45 5 9,4 %
    Metapora Paragraf 4, 12, 14,   18, 19, 20, 21, 24, 25, 26, 28, 29, 34, 38, dan 40 15    28,3 %

 

  1. Sematik

Tabel 4.6 Elemen Semantik Teks Pidato Pembukaan Kongres III PDIP

Keterangan

P = paragraf

Berdasarkan tabel 4.6 di atas, elemen semantik dalam teks pidato politik M.S. pada saat pembukaan kongres III PDIP dapat diuraikan sebagai berikut. Elemen latar pada teks tersebut ditemukan sebanyak 7 paragraf, yakni 13,2%, elemen detail ditemukan 5 paragraf, yakni 9,4%, elemen maksud ditemukan 5 paragraf, yakni 9,4%, dan elemen praanggapan ditemukan 9 paragraf, yakni 16,9%. Dari data pada tabel di atas   elemen yang paling banyak digunakan untuk membangun teks itu elemen pra-anggapan, yaitu sebanyak 9 paragraf dari 53 paragraf yang ada atau sebanyak 16,9%. Elemen latar berjumlah 7 paragraf (13,2%) dan elemen detail serta elemen maksud masing-masing hanya 5 paragraf (9,4%). Selanjutnya keempat elemen semantik itu akan diuraikan secara terpisah di bawah ini.

1.a Latar

Elemen latar pada pidato politik dapat memengaruhi arti dan maksud yang ingin ditampilkan. Elemen latar dapat dijadikan alasan pembenar gagasan yang diajukan dalam suatu teks pidato. Latar teks pidato politik dalam rangka pembukaan kongres III PDIP terdapat pada paragraf ke-4, ke-7, ke-8, ke-21, ke-24, ke-40, dan ke-41.

1)Saudara-saudara utusan peserta Kongres III, Hari ini kita berkongres bukan sekadar untuk memenuhi kalender 5 tahunan partai, bukan pula sekadar untuk memilih ketua umum atau membagi-bagikan posisi. 2)Tetapi untuk menyalakan kembali suluh perjuangan dan menyatukan diri dalam lengan-lengan perjuangan untuk membangun jiwa dan raga Indonesia merdeka. 3)Mengapa hal ini saya katakan Saudara-saudara? 4)Karena Kongres kali ini dilaksanakan di tengah ingar-bingar politik nasional. 5)Ingar bingar yang sedang menguji apakah jalan demokrasi yang kini kita jalani mampu mengantarkan ke kehidupan berbangsa dan bernegara yang lebih baik atau justru menjerumuskan kita pada suatu kekelaman sejarah bagi suatua bangsa.(paraagraf 4)

Kutipan paragraf 4 memiliki elemen latar sebagai landasan diadakannya kongres III partai PDIP. Latar diadakan kongres partai PDIP terdapat pada kalimat ke-2 dan ke-4 pada paragraf ke-4. Mengapa PDIP mengadakan kongres? Jawaban ini memunculkan jawaban latar yaitu “bukan sekadar memenuhi rutinitas lima tahunan dan juga tidak hanya sekadar memilih pengurus partai melainkan karena oleh ingar bingar politik nasional dan sejarah kekelaman bangsa dengan tujuan untuk menyalakan suluh perjuangan partai.” Berikut disajikan kutipan paragraf di bawah ini.

1)Dalam kesempatan ini saya perlu tegaskan bahwa cita-cita yang melekat dalam sejarah Partai kita jauh lebih besar dari sekadar urusan kursi di parlemen, atau sejumlah menteri, ataupun juga sampai melangkah ke istana merdeka, saudara-saudara. 2)Kita diajarkan dan ditakdirkan oleh sejarah bahwa perjuangan mengangkat harkat-martabat wong cilik seperti yang dilakukan Bung Karno adalah lebih utama dari urusan bagi-bagi kekuasaan. 3)Saya ingin tegaskan bahwa dalam dialektika dengan rakyat tugas sejarah setiap kader akan dinilai dan tugas sejarah dari partai akan ditimbang. 4)Saya berkeyakinan, dalam kegotong-royongan dan permusyawaratan dengan rakyat, masa depan PDI Perjuangan akan menemukan kembali puncak keemasannya. 5)Karenanya, karenanya saudara-saudara sebagai kader, kita harus berbangga bukan ketika kita bersekutu dengan kekuasaan, tapi ketika kita bersama-sama menangis dan bersama-sama tertawa dengan rakyat, saudara-saudara. (paragraf 8)

Kutipan paragraf ke-8 kalimat ke-2 yaitu “Kita diajarkan dan ditakdirkan oleh sejarah bahwa perjuangan mengangkat harkat-martabat wong cilik seperti yang dilakukan Bung Karno adalah lebih utama dari urusan bagi-bagi kekuasaan.” Kalimat tersebut lebih menekankan elemen latar sejarah (historis) berdirinya partai PDIP. Ideologi partai sudah terungkap lewat elemen latar pidato yang disampaikan oleh seorang pemimpin partai. Ideologi Partai Perjuangan Indonesia Perjuangan (PDIP), yaitu mengangkat harkat dan martabat wong cilik (rakyat kecil) sebagai latar belakang dan tujuan lahirnya PDIP. Pidatonya memilih elemen latar historis dan wong cilik memiliki kaitan historis dengan pendiri bangsa ini dan sekaligus sebagai ideologi partai. Elemen latar yang lain terdapat pada paragraf ke-21 seperti yang terungkap pada paragraf berikut ini.

1)Saudara-saudara, Saya ingin belajar kiatnya karena PDI Perjuangan juga berkeinginan seperti itu saudara-saudara. 2)PDI Perjuangan juga dihadapkan pada rendahnya disiplin warga partai sebagai salah satu tulang punggung tegaknya partai ideologis. 3)Kita dihadapkan pada kemerosotan militansi anggota. Voluntarisme dan aktivisme memudar sebagai elan berpolitik digantikan dengan pertimbangan “untung-rugi”. 4)Ditinggalkannya TPS oleh saksi Partai pada pemilu legislatif dan pilpres adalah suatu contoh kecil, saudara-saudara. ( paragraf 21)

Kutipan paragraf ke-21 di atas mengungkap latar mengapa partai PDIP mengalami kemerosotan sedangkan partai yang baru berdiri bisa menjadi pemenang, itu diungkap dalam latar karena kurang disiplin warga partai, kemerosotan militansi anggota dan lebih mempertimbangkan untung rugi dari sisi finansial. Hal lain juga terungkap di paragraf ke-24 kemerosotan lebih dilatar belakangi oleh sistem demokrasi yang bersifat manipulatif seperti dalam kalimat berikut “…kemerosotan suara kita dalam pemilu lalu adalah juga produk dari penyelenggaraan demokrasi yang manipulatif.”

1)Saya juga perlu menegaskan bahwa kemerosotan suara kita dalam pemilu lalu adalah juga produk dari penyelenggaraan demokrasi yang manipulatif. 2)Pemilu Legislatif dan Presiden 2009 secara terang benderang telah mendemonstrasikan watak manipulatif dari proses berdemokrasi kita. 3)Kita menyaksikan, karut-marutnya Daftar Pemilih Tetap  atau DPT yang telah menghilangkan secara paksa dan sistematis hak politik warga negara. 4)Bahkan lebih lagi, merupakan perampasan secara paksa atas hak konstitusional warga-negara. 5)Kita seharusnya bersedih karena keseluruhan proses Pemilu 2009 yang memakan biaya yang sangat besar justru meninggalkan begitu banyak catatan hitam dalam sejarah politik Indonesia. (paragraf 24)

Jadi inti kongres III bukan untuk kalender lima tahun atau sekadar memilih pemimpin / pengurus partai tetapi menjadi partai pengontrol pemerintahan yang akhir-akhir ini menunjukan karakter yang jauh dari nilai-nilai pancasila sebagai contoh terungkap pada paragraf ke-40 kalimat pertama. Hal ini tertulis pada kalimat pertama paragraf ke-39 “Pengelolaan pemerintahan kita akhir-akhir ini juga menunjukkan wataknya yang semakin menjauhi nilai-nilai Pancasila sebagai ideologi bangsa?” dan paragaraf ke -40 kalimat pertama “Salah satu bukti dari terjadinya kekacauan pengelolaan pemerintahan yang masih up to date dewasa ini adalah kasus Bank Century.”

Pidato politik M.S. secara implisit mengatakan bahwa kekalahan (kemerosotan) suara PDIP karena kesalahan pemerintah selaku penyelenggara negara. Isi pidatonya mengungkapkan pemilu yang manipulatif dan penyelenggara negara yang semakin menjauhi nilai-nilai ideologi bangsa, yakni pancasila.

1.b Detail

Elemen detail dalam wacana berhubungan dengan kontrol informasi yang disampaikan penulis teks pidato atau orator politik dalam teks pidatonya. Komunikator (orator politik) dalam membangun komunikasi politik, akan menampilkan secara berlebihan informasi yang menguntungkan bagi pembicara atau partai demi pencitraan partai dan dirinya. Sebaliknya orator akan menampilkan informasi yang serba sedikit, kurang lengkap dan bahkan tersamar atau tersembunyi (latent) jika merugikan dirinya atau partai yang diwakilinya. Detail merupakan bagian dari strategi komunikasi, bagaimana seorang orator politik mengekspresikan sikapnya dengan cara yang implisit. Detail ini akan menyikap makna yang tersembunyi (latent) yang ingin diungkapkan oleh seorang orator politik. Detail pada teks pidato yang berjudul “ Pidato Pembukaan Kongres III PDI Perjuangan” terdapat pada kutipam paragraf ke-7, ke-9, ke-34, ke-39, dan ke- 40 dan diuraikan sebagai berikut ini.

1)Saudara-saudara para kader Partai yang saya cintai dan banggakan, Sebagai kekuatan politik PDI Perjuangan sedang dihadapkan pada suatu ujian sejarah yang tidak mudah. 2)Kita disodorkan pada suatu pilihan pragmatis antara koalisi dan oposisi. 3)Saya sungguh berduka karena politik telah direduksi tidak lebih dari sekadar urusan perebutan dan pembagian kekuasaan antar kekuatan politik, antar elit politik. 4)Saya berduka karena pemahaman di atas meninggalkan inti etis dan ideologis dari politik sebagai suatu seni dan sarana kebudayaan rakyat untuk mewujudkan suatu kedaulatan politik, keberdikarian ekonomi, dan jati-diri kebudayaan kita sebagai bangsa merdeka. (paragraf 7)

Tanpa
Detail
Sebagai kekuatan politik PDI Perjuangan sedang dihadapkan pada suatu ujian sejarah yang tidak mudah.
 

 

Detail

Sebagai kekuatan politik PDI Perjuangan sedang dihadapkan pada suatu ujian sejarah yang tidak mudah. Kita disodorkan pada suatu pilihan pragmatis antara koalisi dan oposisi. Saya sungguh berduka karena politik telah direduksi tidak lebih dari sekadar urusan perebutan dan pembagian kekuasaan antar kekuatan politik, antar elit politik. Saya berduka karena pemahaman di atas meninggalkan inti etis dan ideologis dari politik sebagai suatu seni dan sarana kebudayaan rakyat untuk mewujudkan suatu kedaulatan politik, keberdikarian ekonomi, dan jati-diri kebudayaan kita sebagai bangsa merdeka.

Kutipan paragraf 7 menguraikan secara mendetail bahwa PDIP dihadapkan pada suatu ujian sejarah berupa pilihan opsi “koalisi atau oposisi”. Kalimat detailnya dijelaskan pada kalimat ke-2, ke-3, dank e-4. Kalimat ke-2, ke-3 dan ke-4 merupakan kontrol informasi yang ingin disampaikan untuk menguntungkan PDIP. Pernyataan itu terungkap dengan jelas bahwa partai PDIP bukan tujuan membagi kekuasaan lewat koalisi tetapi yang lebih penting bagaimana merealisasikan ideologi partai yang membela wong cilik untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Detail pada paragraf ke-7 tersebut diuraikan begitu menonjol karena lebih menguntungkan PDIP, orator sebagai penguasa PDIP, dan juga partai itu sendiri. M.S. menggunakan lebih banyak strategi pencitraan dalam teks pidatonya dan memilih kata keberpihakan pada rakyat dan wong cilik.

1)Sebagai partai ideologis posisi kita sangat jelas: kita tidak akan pernah menjadi bagian dari kekuasaan yang tidak berpihak pada wong cilik. 2)Apalagi dari sudut ketata-negaraan yang kita anut, diskursus mengenai oposisi-koalisi tidak punya pondasi untuk diperdebatkan. Kita tidak perlu terjebak dalam diskursus semacam ini. (paragraf 9)

Tanpa
Detail
Sebagai partai ideologis posisi kita sangat jelas
 

 

Detail

Sebagai partai ideologis posisi kita sangat jelas : kita tidak akan pernah menjadi bagian dari kekuasaan yang tidak berpihak pada wong cilik. Apalagi dari sudut ketata-negaraan yang kita anut, diskursus mengenai oposisi-koalisi tidak punya pondasi untuk diperdebatkan. Kita tidak perlu terjebak dalam diskursus semacam ini.

Kutipan paragraf 9 kalimat 1 diuraikan tanpa detail seperti diagram di atas dan elemen detailnya diuraikan pada kalimat ke-2. Kontrol informasi yang menguntungkan pembicara/orator dalam teks pidato politik M.S. terlihat jelas pada detail kalimat penjelasnya yang diuraikan secara jelas bahwa PDIP tidak akan pernah menjadi bagian dari kekuasaan jika kekuasaan itu tidak berpihak pada wong cilik. Di balik makna kalimat itu secara tersamar bahwa PDIP sekarang tidak memegang tampuk kekuasaan tetapi tidak mau berkoalisi dengan partai penguasa yang dipegang oleh partai lain.

1)Saudara-saudara yang saya cintai. 2) Penegasan jalan ideologis yang memihak pada rakyat kecil di atas bukan saja penting bagi masa depan PDI Perjuangan. 3)Tetapi sangat fundamental bagi masa depan bangsa ini. 4) Mengapa? 5) Jawabannya sederhana: sebuah bangsa yang tidak dibangun di atas fondasi ideologi, ibarat membangun rumah di atas pasir; terkena angin sedikit sirnalah dia. 6) Ia bukan saja akan terombang-ambing, akan tetapi mudah tersapu oleh zaman. 7) Tanda-tanda zaman yang akan menyapu bangsa ini kini berada di hadapan mata kita: sebagai bangsa kita kehilangan kedaulatan dalam bidang politik, kita kehilangan kemandirian dalam bidang ekonomi, dan kita kehilangan identitas dalam kebudayaan. 8) Inikah Indonesia yang dibayangkan oleh para pejuangan dan Proklamator Bangsa? (paragraf 34)

Tanpa
Detail
Penegasan jalan ideologis yang memihak pada rakyat kecil di atas bukan saja penting bagi masa depan PDI Perjuangan. Tetapi sangat fundamental bagi masa depan bangsa ini.
 

 

Detail

Penegasan jalan ideologis yang memihak pada rakyat kecil di atas bukan saja penting bagi masa depan PDI Perjuangan. Tetapi sangat fundamental bagi masa depan bangsa ini. Mengapa? Jawabannya sederhana: sebuah bangsa yang tidak dibangun di atas fondasi ideologi, ibarat membangun rumah di atas pasir; terkena angin sedikit sirnalah dia. Ia bukan saja akan terombang-ambing, akan tetapi mudah tersapu oleh zaman. Tanda-tanda zaman yang akan menyapu bangsa ini kini berada di hadapan mata kita: sebagai bangsa kita kehilangan kedaulatan dalam bidang politik, kita kehilangan kemandirian dalam bidang ekonomi, dan kita kehilangan identitas dalam kebudayaan. Inikah Indonesia yang dibayangkan oleh para pejuangan dan Proklamator Bangsa

Paragraf ke-34 menguraikan elemen detailnya dengan memberikan penjelasan menggunakan uraian secara metafora perbandingan bahwa bangsa akan menjadi rapuh dan mudah terobang ambing dalam segala hal tanpa fondasi ideologi yang kuat, dalam konteks ini PDIP jelas ingin menancapkan fondasi ideologi partainya secara kuat. Metafora analogi yang digunakan orator jelas dan mudah untuk dicerna maksudnya. Strategi yang dibangun dalam konteks di atas jelas ingin menyampaikan ideologi penting bagi partai. Ideologi PDIP memihak kepada rakyat kecil dan penting bagi keberadaan bangsa ini.

1)Saudara-saudara utusan Kongres ke III, Pengelolaan pemerintahan kita akhir-akhir ini juga menunjukkan wataknya yang semakin menjauhi nilai-nilai Pancasila sebagai ideologi bangsa? 2)Kecenderungan menciptakan semakin banyak lembaga menyebabkan fragmentasi pemerintahan yang serius. 3)Setiap hari media massa menyajikan betapa kronisnya fragmentasi yang terjadi akibat dari tidak adanya tuntunan ideologis yang jelas. 4)Akhirnya sangat jelas: suatu kekacauan pengelolaan pemerintahan. (paragraf 39)

Tanpa
Detail
Pengelolaan pemerintahan kita akhir-akhir ini juga menunjukkan wataknya yang semakin menjauhi nilai-nilai Pancasila sebagai ideologi bangsa?
 

 

Detail

Saudara-saudara utusan Kongres ke III, Pengelolaan pemerintahan kita akhir-akhir ini juga menunjukkan wataknya yang semakin menjauhi nilai-nilai Pancasila sebagai ideologi bangsa? Kecenderungan menciptakan semakin banyak lembaga menyebabkan fragmentasi pemerintahan yang serius. Setiap hari media massa menyajikan betapa kronisnya fragmentasi yang terjadi akibat dari tidak adanya tuntunan ideologis yang jelas. Akhirnya sangat jelas: suatu kekacauan pengelolaan pemerintahan.

Paragraf ke-39 menguraikan elemen detail terlihat pada kalimat ke-2. Penonjolan elemen detail yang menyudutkan pemerintah penguasa terlihat pada kalimat terakhir dari paragraf ini yaitu kalimat ke-4. Artinya watak atau tabiat dari pemerintah Indonesia yang dinahkodai oleh SBY dari partai demokrat memperlihatkan watak bangsa yang tidak mengadopsi ideologi bangsa yakni pancasila, ini terungkap secara implisit dalam pidatonya M.S.. Jadi bangsa ini bangsa yang pola pemerintahannya kacau balau. Pernyataan M.S. pada paragraf ke-39 mengindikasikan pemerintahan yang dipimpin SBY masih kacau balau atau belum mantap. Pernyataan M.S. dipertegas/diperjelas dan diuraikan secara detail lagi pada paragraf ke-40 kalimat pertama seperti terurai di bawah ini.

1)Salah satu bukti dari terjadinya kekacauan pengelolaan pemerintahan yang masih up to date dewasa ini adalah kasus Bank Century. 2)Kasus ini adalah merupakan hanya salah satu puncak gunung es dari kekacauan tata-kelola pemerintahan. 3)Kita sudah menyatakan sikap dengan jelas melalui Fraksi PDI Perjuangan: kebijakan pemberian Fasilitas Pinjaman Jangka Pendek  atau FPJP dan Penyertaan Modal Sementara atau PM.S. adalah salah. 4)Karenanya, kepada Fraksi sudah saya perintahkan untuk memilih opsi C dan terus mengawasi proses penyelesaian kasus ini dalam batas-batas kewenangannya. (paragraf 40)

Tanpa
Detail
Salah satu bukti dari terjadinya kekacauan pengelolaan pemerintahan yang masih up to date dewasa ini adalah kasus Bank Century.
 

 

Detail

Salah satu bukti dari terjadinya kekacauan pengelolaan pemerintahan yang masih up to date dewasa ini adalah kasus Bank Century. Kasus ini adalah merupakan hanya salah satu puncak gunung es dari kekacauan tata-kelola pemerintahan. Kita sudah menyatakan sikap dengan jelas melalui Fraksi PDI Perjuangan: kebijakan pemberian Fasilitas Pinjaman Jangka Pendek  atau FPJP dan Penyertaan Modal Sementara atau PM.S. adalah salah. Karenanya, kepada Fraksi sudah saya perintahkan untuk memilih opsi C dan terus mengawasi proses penyelesaian kasus ini dalam batas-batas kewenangannya.

Pidato politik M.S. dalam komunikasi politik yang dibangun lebih menonjolkan sisi kelemahan pemerintah seperti mengungkap kasus bank century. Pada kalimat ke-3 komunikasi politik kepada audien menggunakan komunikasi pencitraan. Misalnya telihat pada kalimat ke-3 dan ke-4 paragraf 40.

 

1.c Maksud

Elemen maksud dari wacana hampir sama dengan elemen detail. Pola pilihan Semantik sebagai elemen maksud lebih melihat informasi yang lebih menguntungkan dan diuraikan secara ekplisit dan jelas. Informasi yang menguntungkan pembicara/orator lebih disajikan secara jelas dengan kata-kata yang tegas dan menunjuk langsung pada fakta. Sebaliknya dalam elemen maksud informasi yang merugikan akan disajikan secara tersamar/tersembunyi (latent) dan implisit. Wacana teks pidato dalam pembukaan kongres PDIP III elemen maksud terungkap pada kutipan paragraf     ke-10, ke- 23, ke-24, ke-34, dan ke- 40 seperti terurai di bawah ini.

1)Penegasan di atas tidak berarti PDI Perjuangan anti kekuasaan. 2)Tetapi ini untuk menegaskan bahwa jika kita harus memegang tampuk pemerintahan, biarkan itu terjadi karena kehendak rakyat, saudara-saudara. 3)Dan sebaliknya, jika rakyat menghendaki kita menjadi kekuatan penyeimbang agar prinsip checks and balances bisa berjalan, biarkan pula itu atas kehendak rakyat yang kita cintai, saudara-saudara. (paragraf 10)

Implisit Penegasan di atas tidak berarti PDI Perjuangan anti kekuasaan
 

 

Eksplisit

Penegasan di atas tidak berarti PDI Perjuangan anti kekuasaan. Tetapi ini untuk menegaskan bahwa jika kita harus memegang tampuk pemerintahan, biarkan itu terjadi karena kehendak rakyat, saudara-saudara. Dan sebaliknya, jika rakyat menghendaki kita menjadi kekuatan penyeimbang agar prinsip checks and balances bisa berjalan, biarkan pula itu atas kehendak rakyat yang kita cintai, saudara-saudara.

Paragraf ke-10 di atas bahwa Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) ingin menjadi partai kekuatan penyeimbang dan bukan partai anti kekuasaan. Paragraf 10 kalimat 1 secara implisit PDIP menyatakan ingin berkuasa atau menjadi bagian dari pemerintahan. Akan tetapi setelah muncul kalimat 2 dan 3 akan menjadi jelas maksud dari paragraf 10 yaitu semua itu diserahkan kepada kehendak rakyat. Paragraf tersebut secara tersamar menyampaikan kepada rakyat bahwa PDIP menolak kekuasaan seperti masuk ke dalam jajaran kabinet pemerintahan SBY bukan berarti anti kekuasaan tetapi kalau memang kehendak rakyat PDIP pun mau dan mampu memegang tampuk pemerintahan. PDIP lewat pidatonya secara tersamar ingin menyampaikan pandangannya bahwa kalau rakyat menghendaki PDIP berkuasa pilihlah PDIP sebagai partai wong cilik. Maksud umumnya bahwa PDIP memilih di jalur oposisi atau partai penyeimbang dan pengontrol karena kehendak rakyat.

Kita juga harus bekerja di dalam situasi ”citra” menjadi daya tarik baru yang jauh lebih kuat ketimbang ideologi. Kita harus berhadapan dengan sebuah rezim politik yang cenderung menggunakan metode menghalalkan cara dalam mencapai tujuan politiknya sebagaimana digambarkan oleh kekacauan luar biasa pada pemilu legislatif dan presiden yang baru lalu. Saya banyak keliling ke daerah-daerah saudara-saudara, saya bukanlah orang yang hanya menunjuk jari, di daerah-daerah saya melihat bagaimana banyak orang tidak diberi kesempatan untuk bisa ikut memilih. Menjadi kader-kader yang menempatkan keutamaan keuntungan diri sendiri ketimbang bagi rakyat. Kesemua tantangan di atas, baik internal maupun eksternal perlu disikapi oleh Kongres III kali ini. Hanya dengan cara itu, partai bisa melangkah dengan lebih meyakinkan lagi. Tetapi saya perlu garis-bawahi, Kongres bukan saja perlu menegaskan kembali Pancasila 1 Juni 1945 sebagai ideologi partai yang bersifat final. Tetapi juga harus mengembangkan instrumen agar Pancasila dapat bekerja dalam partai, dapat menjiwai keseluruhan program dan sikap Partai, serta dapat menjadi karakter politisi partai. Saya ingin mengucapkan terimakasih yang setinggi-tinggi pada Pimpinan MPR yang telah dengan sekuat tenaga mendorong pemerintah untuk menetapkan 1 Juni, Pancasila  1 Juni 1945 untuk bisa disosialisasikan bagi seluruh bangsa dan negara, saudara-saudara. (paragraf 23)

Implisit Kita juga harus bekerja di dalam situasi ”citra” menjadi daya tarik baru yang jauh lebih kuat ketimbang ideologi
 

 

Eksplisit

Kita juga harus bekerja di dalam situasi ”citra” menjadi daya tarik baru yang jauh lebih kuat ketimbang ideologi. Kita harus berhadapan dengan sebuah rezim politik yang cenderung menggunakan metode menghalalkan cara dalam mencapai tujuan politiknya sebagaimana digambarkan oleh kekacauan luar biasa pada pemilu legislatif dan presiden yang baru lalu. Saya banyak keliling ke daerah-daerah saudara-saudara, saya bukanlah orang yang hanya menunjuk jari, di daerah-daerah saya melihat bagaimana banyak orang tidak diberi kesempatan untuk bisa ikut memilih. Menjadi kader-kader yang menempatkan keutamaan keuntungan diri sendiri ketimbang bagi rakyat. Kesemua tantangan di atas, baik internal maupun eksternal perlu disikapi oleh Kongres III kali ini.

Kutipan paragraf 23 mengandung maksud bagaimana pembicara/orator mengeksoposisi (memaparkan) secara lugas bahwa Pemilihan Umum (Pemilu) yang dilaksanakan penuh dengan kekacauan dan menghalalkan segala cara untuk mencapai impian politiknya. Pada bagian awal kalimat orator menyampaikan maksud secara implisit tetapi akan menjadi jelas setelah membaca paragraf secara keseluruhan. Dengan memaparkaan bukti bahwa Megawati datang ke daerah-daerah dan melihat kekacauan itu. Awal kalimat pada paragraf yang sama pembicara/orator (M.S.) membuat sindiran yang bersifat eufimise bahwa pencitraan jauh lebih penting jika dibandingkan dengan perjuangan ideologi partainya. Hal ini merupakan sindiran yang disampaikan kepada pemerintah (SBY) yang sering pidato-pidatonya bertendensi pencitraan pemerintahan dan dirinya dengan mengabaikan ideologi partai. “Kita juga harus bekerja di dalam situasi ”citra” menjadi daya tarik baru yang jauh lebih kuat ketimbang ideologi.” Kalimat ini yang memang menguatkan elemen maksud dari pembicara/orator untuk menyindir pidato-pidato yang mengedepankan pencitraan demi keuntungan pribadi dan mengesampingkan ideologi partai. Menguatkan pendapat itu karena sejatinya PDIP adalah partai yang mengedepankan ideologi partai bukan hanya sekadar pencitraan atau bagi-bagi kekuasaan. Akan tetapi, pencitraan PDIP memang perlu tapi diungkapkan secara tersamar pada awal kalimat. Sebenarnya pidato M.S. merupakan bagian dari pencitraan tapi disampaikan secara tersamar saat berpidato. Ideologi adalah hal yang menjadi utama yang ingin diperjuangkan PDIP dan bukan hanya pencitraan semata seperti diperjelas pada kalimat 1 dan kalimat 2 paragraf 34 seperti dipaparkan di bawah ini.

Saudara-saudara yang saya cintai. Penegasan jalan ideologis yang memihak pada rakyat kecil di atas bukan saja penting bagi masa depan PDI Perjuangan. Tetapi sangat fundamental bagi masa depan bangsa ini. Mengapa? Jawabannya sederhana: sebuah bangsa yang tidak dibangun di atas fondasi ideologi, ibarat membangun rumah di atas pasir; terkena angin sedikit sirnalah dia. Ia bukan saja akan terombang-ambing, akan tetapi mudah tersapu oleh zaman. Tanda-tanda zaman yang akan menyapu bangsa ini kini berada di hadapan mata kita: sebagai bangsa kita kehilangan kedaulatan dalam bidang politik, kita kehilangan kemandirian dalam bidang ekonomi, dan kita kehilangan identitas dalam kebudayaan. Inikah Indonesia yang dibayangkan oleh para pejuangan dan Proklamator Bangsa? (paragraf 34)

Implisit Penegasan jalan ideologis yang memihak pada rakyat kecil di atas bukan saja penting bagi masa depan PDI Perjuangan. Tetapi sangat fundamental bagi masa depan bangsa ini.
 

 

Eksplisit

Penegasan jalan ideologis yang memihak pada rakyat kecil di atas bukan saja penting bagi masa depan PDI Perjuangan. Tetapi sangat fundamental bagi masa depan bangsa ini. Mengapa? Jawabannya sederhana: sebuah bangsa yang tidak dibangun di atas fondasi ideologi, ibarat membangun rumah di atas pasir; terkena angin sedikit sirnalah dia. Ia bukan saja akan terombang-ambing, akan tetapi mudah tersapu oleh zaman. Tanda-tanda zaman yang akan menyapu bangsa ini kini berada di hadapan mata kita: sebagai bangsa kita kehilangan kedaulatan dalam bidang politik, kita kehilangan kemandirian dalam bidang ekonomi, dan kita kehilangan identitas dalam kebudayaan

Jadi PDIP lebih mengutamakan ideologi partai dibandingkan pencitraan seperti terungkap dalam dua paragraf di atas. Pentingnya ideologi diperjelas dengan fakta analogi deklaratif seperti kalimat empat dan lima paragraf di atas “sebuah bangsa yang tidak dibangun di atas fondasi ideologi, ibarat membangun rumah di atas pasir; terkena angin sedikit sirnalah dia. Ia bukan saja akan terombang-ambing, akan tetapi mudah tersapu oleh zaman.”

Fakta yang disampaikan pada paragraf ke-24 mengandung maksud yang ingin disampaikan oleh M.S. sebagai pembicara/orator politiknya bahwa kegagalan PDIP bukan karena ditinggalkan oleh rakyat melainkan karena penyelenggaraan demokrasi yang penuh penyelewengan (manipulatif) seperti penulis kutip di bawah ini. Secara implisit kekalahan PDIP dalam pemilu 2009 bukan karena PDIP ditinggalkan atau tidak lagi menjadi partai pilihan rakyat tetapi lebih karena banyak penyelewengan seperti tidak beresnya Daftar Pemilih Tetap (DPT). Lihat kutipan paragraf di bawah ini.

Saya juga perlu menegaskan bahwa kemerosotan suara kita dalam pemilu lalu adalah juga produk dari penyelenggaraan demokrasi yang manipulatif. Pemilu Legislatif dan Presiden 2009 secara terang benderang telah mendemonstrasikan watak manipulatif dari proses berdemokrasi kita. Kita menyaksikan, karut-marutnya Daftar Pemilih Tetap  atau DPT yang telah menghilangkan paksa dan sistematis hak politik warga negara. Bahkan lebih lagi, merupakan perampasan secara paksa atas hak konstitusional warga-negara. Kita seharusnya bersedih karena keseluruhan proses Pemilu 2009 yang memakan biaya yang sangat besar justru meninggalkan begitu banyak catatan hitam dalam sejarah politik Indonesia. (paragraf 24)

Kalimat terakhir pada paragraf ke-24 orator bermaksud ingin menyampaikan bahwa pemilu 2009 merupakan penyelenggaraan pemilu yang tidak berhasil atau gagal. Kegagalan itu merupakan kegagalan negara dalam menegakkan demokrasi di Indonesia. Ungkapan yang ingin disampaikan orator lewat pidato politiknya bukan hanya kegagalan pemilu saja tetapi juga kegagalan dalam mengelola pemerintahan dalam hal keuangan negara seperti kasus bank century yang dipaparkan pada kalimat 1 paragraf di bawah ini.

Salah satu bukti dari terjadinya kekacauan pengelolaan pemerintahan yang masih up to date dewasa ini adalah kasus Bank Century. Kasus ini adalah merupakan hanya salah satu puncak gunung es dari kekacauan tata-kelola pemerintahan. Kita sudah menyatakan sikap dengan jelas melalui Fraksi PDI Perjuangan: kebijakan pemberian Fasilitas Pinjaman Jangka Pendek  atau FPJP dan Penyertaan Modal Sementara atau PM.S. adalah salah. Karenanya, kepada Fraksi sudah saya perintahkan untuk memilih opsi C dan terus mengawasi proses penyelesaian kasus ini dalam batas-batas kewenangannya. (paragraf 40)

Secara politik maksud M.S. memaparkan kegagalan-kegagalan pemerintah dalam mengelola negara untuk menyampaikan kepada rakyat bahwa era pemerintahan SBY tidak mampu menangani kasus-kasus yang terjadi. Ini merupakan penegasan terhadap partai PDIP bahwa PDIP adalah partai rakyat yang lebih mengutamakan ideologi partai yaitu ideologi yang membela wong cilik sebagai pilihan kata yang sering terucap setiap pidato-pidato politiknya.

1.d. Pra-anggapan

Elemen wacana praanggapan (presupposition) merupakan pernyataan yang digunakan untuk mendukung makna suatu teks. Teks pidato politik yang disampaikan oleh ketua umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) yaitu M.S. terdapat pada paragraf ke-9, ke-10, ke-13, ke-14, ke-24, ke-26, ke-31, ke-40, dan ke-42.

1)Sebagai partai ideologis posisi kita sangat jelas: kita tidak akan pernah menjadi bagian dari kekuasaan yang tidak berpihak pada wong cilik. 2)Apalagi dari sudut ketata-negaraan yang kita anut, diskursus mengenai oposisi-koalisi tidak punya pondasi untuk diperdebatkan. 3)Kita tidak perlu terjebak dalam diskursus semacam ini. (paragraf 9)

Paragraf di atas menggunakan pernyataan berupa premis dasar yaitu partai yang memosisikan ideologi partai dengan memilih menjadi oposisi pemerintah. Partai PDIP tidak akan meminta kekuasaan (berupa menteri di kabinet) jika kekuasaan yang tidak memihak pada wong cilik (rakyat kecil). Konteks paragraf ke-9 berpraanggapan bahwa kalau Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) ikut dalam koalisi partai maka PDIP tidak berpihak pada rakyat kecil dan akan terjebak pada diskursus oposisi – koalisi yang tidak memiliki dasar ketatanegaraan yang kuat atau inkonstitusional. Jadi ideologi partai PDIP yang berpihak pada wong cilik akan menjadi terabaikan kalau berkoalisi dengan partai pemerintah.

Pada paragraf ke-10 memakai praanggapan berupa pernyataan (proposisi) bahwa PDIP bukan anti kekuasaan, pernyataan ini akan memunculkan praanggapan berupa proposisi bahwa pilihan bagi PDIP untuk menjadi penyeimbang yaitu prinsip checks and balance yang disebut oposisi adalah kehendak dan pilihan rakyat. Praanggapan yang muncul apapun sikap PDIP diambil dalam keputusan politik lewat pidato politik M.S. adalah pilihan dan kehendak rakyat. PDIP adalah partai milik rakyat maka selalu mengamankan amanah rakyat.

Penegasan di atas tidak berarti PDI Perjuangan anti kekuasaan. Tetapi ini untuk menegaskan bahwa jika kita harus memegang tampuk pemerintahan, biarkan itu terjadi karena kehendak rakyat, saudara-saudara. Dan sebaliknya, jika rakyat menghendaki kita menjadi kekuatan penyeimbang agar prinsip checks and balances bisa berjalan, biarkan pula itu atas kehendak rakyat yang kita cintai, saudara-saudara. (paragraf 10)

Rakyat memilih ketika pemilu, karena visi dan misi. Karenanya, menurut saya adalah suatu hal yang aneh, kalau yang namanya saya itu kok terus menerus disuruh bergabung, saya punya misi dan visi sendiri bagi rakyat ini. (paragraf 13)

Pernyataan (proposisi) teks pidato politik Megawati pada paragraf ke-13 mengandung praanggapan bahwa memilih berkoalisi partai dengan partai penguasa pemerintah adalah tidak sesuai dengan misi dan visi dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). “Karenanya, menurut saya adalah suatu hal yang aneh, kalau yang namanya saya itu kok terus menerus disuruh bergabung, saya punya misi dan visi sendiri bagi rakyat ini.” Praanggapan dalam konteks kalimat ini jika bergabung berarti mengabaikan misi dan visi dari partai PDIP yang sebenarnya misi dan visi partai untuk rakyat. Jika PDIP begabung berarti menghianati kehendak rakyat karena rakyat menghendaki menjadi partai penyeimbang.

Paragraf ke-14 di bawah ini mengandung praanggapan yang berupa pernyataan atau premis dasar kegagalan, kemerosotan dan ditinggalkannya PDIP dalam pemilu legeslatif adalah merupakan teguran rakyat dan selanjutnya rakyat akan lebih keras lagi menegur partai PDIP bila gagal ke jalan ideologi partai. Jadi pernyataan itu bahwa pemilu tahun 2014 akan mengalami kemerosotan suara PDIP bila ideologi partai gagal ditegakkan sesuai dengan misi dan visi partai yang membela kepentingan wong cilik.

Saudara-saudara sekalian, Jika kita mau sedikit merenung, maka kita pasti akan sampai pada keyakinan bahwa kegagalan kita dalam memaknai garis sejarah sebagaimana saya sampaikan di atas merupakan inti sebab dari ditinggalkannya PDI Perjuangan dalam dua pemilu yang lalu. Kemerosotan suara, ingat! adalah teguran rakyat agar kita kembali ke takdir sebagai sarana dan wadah perjuangan rakyat. Saudara-saudara-ku, ingatlah akan hal ini: rakyat tidak akan pernah ragu-ragu untuk kembali menegur dengan cara lebih keras di tahun 2014 nanti, jika kita gagal kembali ke jalan ideologis kita. (paragraf 14)

Pernyataan paragraf ke-24 di bawah ini bahwa kemerosotan suara PDIP disebabkan karena penyelenggaraan pemilu bersifat manipulasi artinya adanya penyelewengan berupa memengaruhi sikap dan perilaku orang lain (pemilih). Pemilu 2009 merupakan pesta demokrasi yang penuh dengan catatan hitam. Hal ini bisa dilihat pada paragraf di bawah ini.

Saya juga perlu menegaskan bahwa kemerosotan suara kita dalam pemilu lalu adalah juga produk dari penyelenggaraan demokrasi yang manipulatif. Pemilu Legislatif dan Presiden 2009 secara terang benderang telah mendemonstrasikan watak manipulatif dari proses berdemokrasi kita. Kita menyaksikan, karut-marutnya Daftar Pemilih Tetap  atau DPT yang telah menghilangkan secara paksa dan sistematis hak politik warga negara. Bahkan lebih lagi, merupakan perampasan secara paksa atas hak konstitusional warga-negara. Kita seharusnya bersedih karena keseluruhan proses Pemilu 2009 yang memakan biaya yang sangat besar justru meninggalkan begitu banyak catatan hitam dalam sejarah politik Indonesia. (paragraf 24)

Pernyataan carut marutnya Daftar Pemilih Tetap (DPT) merupakan indikasi kegagalan menyelenggarakan pesta demokrasi dan menghilangkan secara paksa hak-hak politik dari rakyat. Semua masalah ini bagi partai itu adalah kesalahan sistem pemilu dan bukan karena PDIP tidak dipercaya oleh rakyat.

Praanggapan hadir dengan perntayaan yang dipandang terpercaya sehingga tidak perlu dipertanyakan jadi sepertinya itu benar adanya. Hal ini terlihat pada pernyataan paragraf di bawah ini. Pidato politiknya Megawati memiliki praanggapan bahwa taksu kekuatan politik sehingga kehilangan keutamaan dan moralitas karena politik untuk mencari dan dipersembahkan untuk kekuasaan tanpa mengedepankan etika poltik.

Pemilu 2009 menunjukkan, politik kehilangan watak aktivisme dan voluntarismenya. Yang kita saksikan justru politik sebagai melodrama, berpola seperti sinetron yang sarat dengan belas-kasihan dan kepura-puraan. Politik juga menjadi kehilangan ‘keutamaan’ dan ‘moralitas’ karena hampir sepenuhnya hanya dipersembahkan untuk kekuasaan.(paragraf 26)

Sebagai seorang orator akan memiliki praanggapan demokrasi yang sudah berlalu tidak lebih sebuah imajinasi yang menjadi dasar sebuah karya sastra sehingga melahirkan politik seperti sastra yang penuh dengan imajinasi manipulasi seperti drama dan sinetron dengan penuh kepura-puraan. Jika ini terus dibiarkan ke depan akan terjadi pesta demokrasi yang penuh dengan sandiwara dan hanya mementingkan kekuasaan tanpa memikirkan wong cilik. Sikap pragamatis rakyat mulai tumbuh seiring penyelenggaraan pesta demokrasi yang berorientasi pada finansial (money political) seperti yang terungkap pada pidato politiknya Megawati di paragraf ke-31 di bawah ini.

Akhirnya secara realita hanya kaum berpunya yang bisa memiliki akses ke politik dan membiarkan rakyat kebanyakan sekadar sebagai penonton yang hanya menikmati sekadar keuntungan ribuan rupiah dalam setiap siklus pemilihan umum. Realitas dimana rakyat kehilangan kemandiriannya dalam politik. (paragraf 31)

Pranggapan bagi seorang tokoh partai lewat pidatonya bahwa kemandirian rakyat dalam politik akan menjadi mandul kartena dikebiri oleh rupiah dalam siklus lima pemilihan umum.

  1. Sintaksis

2.a Bentuk Kalimat

Bentuk kalimat, yaitu bagian elemen sintaksis yang berhubungan dengan cara berpikir logis, yaitu prinsip kausalitas. Bentuk kalimat ini bukan hanya persoalan teknis kebenaran tata bahasa, tetapi menentukan makna yang dibentuk oleh susunan kalimat. Susunan kalimat yang dimaksud antara lain yang berstruktur aktif dan pasif, modus kalimat yang digunakan, yaitu deklaratif, interogatif, dan imperatif. Wacana teks pidato politik Megawati selaku ketua umum PDIP yang bertjudul “Pidato Pembukaan Kongres III PDIP Perjuangan” penulis akan menguraikan persentase penggunaan kalimat yang berstruktur aktif dan pasif, persentase penggunaan modus kalimat deklaratif, interogatif, dan imperatif yang digunakan dalam wacana teks pidato politik dimaksud.

Tabel 4.7 Bentuk Kalimat Aktif dan Pasif Pidato Pembukaan Kongres III PDI Perjuangan

 

 

NO

PARAGRAF BENTUK KALIMAT Keterangan
Jumlah Kalimat Aktif Pasif
1 Paragraf 1 1 1
2 paragraf 2 3 1 2
3 paragraf 3 2 2
4 paragraf 4 5 4  1
5 paragraf 5 2 1  1
6 paragraf 6 3 1  2
7 paragraf 7 5 3  2
8 paragraf 8 5 4  1
9 paragraf 9 3  2  1
10 paragraf 10 3  3
11 paragraf 11 3  1  2
12 paragraf 12 4  4
13 paragraf 13 2  2
14 paragraf 14 3  2 1
15 paragraf 15 4  4
16 paragraf 16 4  4
17 paragraf 17 4  3 1
18 paragraf 18 6 3 3
19 paragraf 19 2 2
20- paragraf 20 6 5 1
21 paragraf 21 5  2 3
22 paragraf 22 5  5
23 paragraf 23 9  8  1
24 paragraf 24 5  5
25 paragraf 25 5  3 2
26 paragraf 26 3 3
27 paragraf 27 2 2
28 paragraf 28 4 3 1
29 paragraf 29 4  2 2
30 paragraf 30 4 3 1
31 paragraf 31 2 1 1
32 paragraf 32 7 3 4
33 paragraf 33 3 3
34 paragraf 34 8 6 2
35 paragraf 35 3 3
36 paragraf 36 6 6
37 paragraf 37 4 3 1
38 paragraf 38 9 6 3
39 paragraf 39 4 3 1
40 paragraf 40 4 3 1
41 paragraf 41 2 2
42 paragraf 42 5 5
43 paragraf 43 8 8
44 paragraf 44 3 3
45 paragraf 45 6 3 3
46 paragraf 46 2 2
47 paragraf 47 2 2
48 paragraf 48 1 1
49 paragraf 49 1 1
50 paragraf 50 3 2 1
51 paragraf 51 1 1
52 paragraf 52 1 1
53 paragraf 53 1 1
Jumlah 201 153 48
Persentase 77% 24%

Berdasarkan tabel 4.7. di atas penggunaan kalimat aktif dan pasif pada wacana teks pidato politik M.S. saat pembukaan kongres PDIP dapat diuraikan sebagai berikut. Dari 201 kalimat yang terdapat pada 53 paragraf peneliti mendapatkan 154 kalimat berjenis kalimat aktif, yakni 77% dan kalimat berjenis pasif berjumlah 24 kalimat, yakni 24 %. Hal ini penulis kutip dan uraikan beberapa paragraf seperti di bawah ini.

1)Kita juga harus bekerja di dalam situasi ”citra” menjadi daya tarik baru yang jauh lebih kuat ketimbang ideologi. 2)Kita harus berhadapan dengan sebuah rezim politik yang cenderung menggunakan metode menghalalkan cara dalam mencapai tujuan politiknya sebagaimana digambarkan oleh kekacauan luar biasa pada pemilu legislatif dan presiden yang baru lalu. 3)Saya banyak keliling ke daerah-daerah saudara-saudara, saya bukanlah orang yang hanya menunjuk jari, di daerah-daerah saya melihat bagaimana banyak orang tidak diberi kesempatan untuk bisa ikut memilih. 4)Menjadi kader-kader yang menempatkan keutamaan keuntungan diri sendiri ketimbang bagi rakyat. 5)Kesemua tantangan di atas, baik internal maupun eksternal perlu disikapi oleh Kongres III kali ini. 6)Hanya dengan cara itu, partai bisa melangkah dengan lebih meyakinkan lagi. 7)Tetapi saya perlu garis-bawahi, Kongres bukan saja perlu menegaskan kembali Pancasila 1 Juni 1945 sebagai ideologi partai yang bersifat final. 8)Tetapi juga harus mengembangkan instrumen agar Pancasila dapat bekerja dalam partai, dapat menjiwai keseluruhan program dan sikap Partai, serta dapat menjadi karakter politisi partai. 9)Saya ingin mengucapkan terimakasih yang setinggi-tinggi pada Pimpinan MPR yang telah dengan sekuat tenaga mendorong pemerintah untuk menetapkan 1 Juni, Pancasila  1 Juni 1945 untuk bisa disosialisasikan bagi seluruh bangsa dan negara, saudara-saudara. (paragraf 23)

Kutipan paragraf ke-23 mengindikasikan lebih dominan dan lebih produktif penggunaan kalimat aktif dalam teks pidato politik M.S.. Hal ini didukung fakta bahwa dari 9 kalimat pada paragraf 23 hanya satu kalimat ditemukan menggunakan kalimat pasif. Kalimat 2 paragraf di atas inti kalimatnya adalah “Kita harus berhadapan” “kita” sebagai inti subjek sebagai pelaku dan “berhadapan” sebagai inti predikat. Inti subjek dan predikat kalimat 2 diperluas menggunakan struktur kalimat pasif yaitu “…digambarkan oleh kekacauan….” Sedangkan penggunaan kalimat pasif paragraf 23 itu ditemukan pada kalimat 5, yaitu Kesemua tantangan di atas, baik internal maupun eksternal perlu disikapi oleh Kongres III kali ini. Kalimat ini menggunakan kata kerja (verba) pasif transitif, yaitu “disikapi”. Jadi paragraf 23 pola pengembangan paragrafnya menggunakan 8 kalimat aktif dan 1 kalimat pasif.

1)Saudara-saudara utusan Kongres yang saya cintai dan banggakan, Saya menyadari sepenuhnya bahwa perjuangan tidak akan pernah sampai ke akhir tujuannya hanya dengan ideologi. 2)Perjuangan tak akan pernah mencapai terminalnya hanya dengan retorika belaka. 3)Untuk bisa bekerja efektif, ideologi membutuhkan kader. 4)Ideologi membutuhkan pemimpin. 5)Ideologi membutuh organisasi dan manajemen yang baik. 6)Ideologi membutuhkan aturan bermain. 7)Ideologi membutuhkan kebijakan. 8)Ideologi membutuhkan program yang merakyat. Ideologi membutuhkan sumber-daya. (paragraf 43)

Kutipan paragraf 43 pun begitu produktifnya penggunaan kalimat-kalimat aktif. Dari delapan kalimat yang ada dalam paragraf 43 semuanya berjenis kalimat kalimat aktif. Analisis ini mengindikasikan subjek-subjek pada kalimat-kalimat di atas aktif sebagai pelaku tindakan. Penggunaan modus kalimat aktif dalam teks pidato politiknya PDIP membuktikan posisi pembicara/orator dalam pidato itu sebagai subjek pelaku yang aktif dalam tindakan.

Di samping penggunaan bentuk aktif dan bentuk pasif dalam pengembangan paragraf teks pidato di atas, juga digunakan modus-modus kalimat yang bersifat deklaratif, interogatif, dan kalimat imperatif. Modus-modus penggunaan kalimat deklaratif, interogatif dan imperatif dalam teks pidato politik PDIP tersebut dapat digambarkan pada tabel di bawah ini.

Modus kalimat deklaratif, interogatif, dan imperatif berdasarkan tabel 4.8 diuraikan sebagai berikut. Dari 201 kalimat yang ada dalam teks pidato politik ditemukan, 1) kalimat deklaratif sebanyak 180 kalimat, yakni 89 %, 2) kalimat interogatif berjumlah 14 kalimat, yakni 6 % , dan kalimat imperatif sebanyak 7 kalimat, yakni 3 %. Berdasarkan analisis data pada tabel di atas penggunaan modus kalimat deklaratif yang banyak 89% , yaitu 180 kalimat. Melihat persentase pada tabel tersebut, artinya teks pidato politik PDIP lebih banyak menggunakan kalimat pernyataan dan penjelasan. Dan modus kalimat yang bersifat imperatif penggunaannya paling sedikit, hanya 6%, yaitu sebanyak 14 kalimat. Dengan demikian teks pidato M.S. lebih banyak menggunakan strategi menjelaskan dan pernyataan-pernyataan daripada menggunakan kalimat-kalimat perintah.

2.c Koherensi/Kohesi

Koherensi adalah pertalian atau jalinan antarkata atau kalimat dalam teks. Koherensi pertautan makna dan pertautan bentuk disebut kohesi. Koherensi dan kohesi sangat perlu untuk memahami wacana secara utuh. Wacana yang baik adalah wacana yang menunjukkan jalinan/keterpaduan antara kalimat satu dengan kalimat lain dan juga jalinan/ kerpaduan paragraf yang satu dengan paragraf yang lain dalam mendukung satu tema.

Tabel 4.9 Struktur Mikro Peranti Kohesi Gramatikal Pidato Politik dalam Pembukaan Kongres III PDIP

 

PARAGRAF

           ASPEK GRAMATIKAL  
  Jumlah Kalimat Referensi Substitusi Ellipsis  

Konjungsi

Paragraf 1 1 1
paragraf 2 3 2
paragraf 3 2 2
paragraf 4 5 1 1 3
paragraf 5 2
paragraf 6 3
paragraf 7 5 1 1
paragraf 8 5 1 1
paragraf 9 3 1 1
paragraf 10 3 3 2
paragraf 11 3 1 1 1
paragraf 12 4 2 1 2
paragraf 13 2 1 1
paragraf 14 3 2
paragraf 15 4 1 3
paragraf 16 4 1
paragraf 17 4 1
paragraf 18 6 1 1 2
paragraf 19 2 1
paragraf 20 6 2 1 1
paragraf 21 5 1
paragraf 22 5
paragraf 23 9 2 4
paragraf 24 5 1 1
paragraf 25 5 4 4
paragraf 26 3 1        1
paragraf 27 2        1
paragraf 28 4 4
paragraf 29 4 3 1
paragraf 30 4 2
paragraf 31 2 1
paragraf 32 7 2 3 2
paragraf 33 3 2 1 2
paragraf 34 7 6 1 1 1
paragraf 35 3
paragraf 36 6 4 1
paragraf 37 4 2 1
paragraf 38 9 5
paragraf 39 4 1 1
paragraf 40 4 3 1
paragraf 41 2 2 1
paragraf 42 5 1 1 1 1
paragraf 43 8 1 1
paragraf 44 3 3 1
paragraf 45 6 4 1
paragraf 46 2 2
paragraf 47 2
paragraf 48 1
paragraf 49 1 1
paragraf 50 3 1
paragraf 51 1 1 1
paragraf 52 1 1
paragraf 53 1 1
Jumlah 201 81 11      7 46
Persentase 40,2% 5,47% 3,48% 22,8%
 

Berdasarkan tabel 4.9 kohesi gramatikal teks wacana pidato politik dapat diuraikan sebagai berikut. Yang pertama kohesi gramatikal pengacuan (referensi) sebanyak 81 kalimat, yakni 40,2 %. Yang kedua kohesi gramatikal substitusi sebanyak 11 kalimat, yakni 5,47 %. Yang ketiga kohesi gramatikal ellipsis sebanyak 7 kalimat, yakni 3,48 %. Dan yang terakhir kohesi konjungsi antarkalimat dan antarparagraf sebanyak 46 kalimat, yakni 22,8 %. Keempat kohesi gramatikal itu dapat penulis uraikan pada kutipan paragraf di bawah ini.

1)Saudara-saudara yang saya cintai. 2)Penegasan jalan ideologis yang memihak pada rakyat kecil di atas bukan saja penting bagi masa depan PDI Perjuangan. 3)Tetapi sangat fundamental bagi masa depan bangsa ini. 4)Mengapa? 5)Jawabannya sederhana: sebuah bangsa yang tidak dibangun di atas fondasi ideologi, ibarat membangun rumah di atas pasir; terkena angin sedikit sirnalah dia. 6)Ia bukan saja akan terombang-ambing, akan tetapi mudah tersapu oleh zaman. 7)Tanda-tanda zaman yang akan menyapu bangsa ini kini berada di hadapan mata kita: sebagai bangsa kita kehilangan kedaulatan dalam bidang politik, kita kehilangan kemandirian dalam bidang ekonomi, dan kita kehilangan identitas dalam kebudayaan. 8)Inikah Indonesia yang dibayangkan oleh para pejuangan dan Proklamator Bangsa? (paragraf 34)

Kutipan paragraf ke-34 menggunakan tiga pengacuan (referensi), yaitu pada kalimat ke-2 menggunakan pengacuan demonstratif lokasional yang bersifat anafora yakni mengacu pada satuan lingual lain yang mendahuluinya. Pada kalimat ke-5 menggunakan pengacuan (referensi) komparatif, yaitu membandingkan secara metafora membangun bangsa diibaratkan atau dianalogikan dengan membangun rumah di atas pasir. Artinya bangsa diibaratkan sama dengan rumah dan secara ideologi politik membangun bangsa ini oleh pemerintah jangan seperti membangun rumah di atas pasir, cepat bangunan selesai sedikit kena angin menjadi hancur. Secara tersembunyi pidato M.S. ingin menyampaikan kepada penyelenggara negara bangunlah bangsa ini dengan pondasi yang kuat agar bangsa menjadi kokoh. Sedangkan pada kalimat ke-6 menggunakan pengacuan persona dengan persona ketiga tunggal “ia”. Makna pengacuan (referensi) “ia” adalah bangsa yang diibaratkan dengan bangunan di atas pasir.

1)Demokrasi Indonesia yang telah lama kita perjuangkan bukanlah suatu ruang kosong yang bekerja secara metafisis ataupun mekanis. 2)Ia adalah medan peperangan ideologi. 3)Demokrasi prosedural yang kini kita jalani berangkat dari kutub ideologi liberal-individual. 4)Sebagai ideologi ia memberikan mekanisme dan jaminan berkompetisi dan melahirkan pemenang dan pecundang. 5)Demokrasi liberal tak akan pernah menjadi bentangan karpet merah menuju keadilan sosial bagi segenap tumpah darah Indonesia. 6)Ia bukan pula jalan bagi penguatan partisipasi rakyat. 7)Demokrasi semacam ini bisa jauh lebih buruk lagi, ketika dia dibangun di atas politik pencitraan dan bekerja untuk melindungi citra itu semata-mata. 8)Demokrasi Indonesia mestinya dibangun di atas keutamaan kolektivitas, dijalankan melalui musyawarah untuk mufakat, dan bekerja di tengah-tengah keyakinan akan kebhinnekaan sebagai anugrah Alllah  Subhana wa ta’ala.  9)Ia adalah demokrasi yang konon kata para ahli adalah demokrasi deliberatif. (paragraf 38)

Kutipan paragraf ke-38 menggunakan pengacuan (referensi) persona orang ketiga tunggal secara berulang-ulang. Pengacuan persona “ia” pada paragraf di atas mengacu pada frasa “demokrasi Indonesia”

Kohesi substitusi pada teks pidato politik M.S. dapat penulis kutip pada paragraf 12 di bawah ini.

1)Saudara-saudara utusan kongres yang saya cintai, Posisi di atas adalah wujud tanggung-jawab kita sebagai kekuatan politik; tanggung-jawab kita untuk menjaga agar demokrasi yang sehat dapat tetap bekerja dengan sebaik-baiknya. 2)Tanggung-jawab untuk memberikan pendidikan politik bahwa moral politik yang paling sederhana yang dituntut dari seorang pemimpin yang betul-betul revolusioner adalah satunya kata dengan perbuatan, satunya mulut dengan tindakan. 3)Posisi di atas sekaligus adalah wujud penghormatan kita pada pilihan rakyat. 4)Saya sangat berharap, agar pilihan PDI Perjuangan ini bisa dihormati oleh semua pihak. (paragraf 12)

Pada paragraf yang dicetak tebal merupakan kohesi substitusi frasa yaitu frasa “satunya kata dengan perbuatan” digantikan dengan frasa lingual yang lain yang memiliki kesejajaran makna yaitu “satunya mulut dengan tindakan”. Kohesinya terletak pada kata dengan mulut dan perbuatan dengan tindakan.

Kohesi ellipsis bisa dilihat pada paragraf ke-11 kalimat ke-2 kutipan paragraf di bawah ini.

1)Sebagai kekuatan pengontrol dan penyeimbang, kita bukan saja diwajibkan untuk mengkritik. 2)Tapi juga untuk mengajukan berbagai alternatif kebijakan. 3)Bagi kepentingan bangsa ini, hal ini sangat strategis karena akan tersedia pilihan-pilihan yang semakin beragam bagi masyarakat  sendiri untuk memilih. (paragraf 11)

Kalimat ke-2 paragraf di atas subjeknya diellipkan karena sudah disebutkan pada kalimat sebelumnya, yaitu pada kalimat ke-1. Kalimat ke-2 jika subjeknya tidak diellipkan akan ditulis menjadi “Tapi kita juga untuk mengajukan berbagai alternatif kebijakan.” Persona subjek pada kalimat ke-2 tidak dimunculkan dalam konteks tersebut karena sudah dimunculkan pada kalimat yang mengawali.

Sedangkan kohesi gramatikal yang berhubungan dengan konjungsi terdapat pada kutipan paragraf di bawah ini.

1)Penegasan di atas tidak berarti PDI Perjuangan anti kekuasaan. 2)Tetapi ini untuk menegaskan bahwa jika kita harus memegang tampuk pemerintahan, biarkan itu terjadi karena kehendak rakyat, saudara-saudara. 3)Dan sebaliknya, jika rakyat menghendaki kita menjadi kekuatan penyeimbang agar prinsip checks and balances bisa berjalan, biarkan pula itu atas kehendak rakyat yang kita cintai, saudara-saudara. (paragraf 10)

Pada paragraf 10 terdapat 3 kalimat dan 2 kalimat   menggunakan konjungsi antarkalimat yaitu kalimat ke-2 dan ke-3, yaitu kata “tetapi” dan”dan sebaliknya”. Konjungsi “tetapi” pada kalimat 2 memiliki hubungan dengan kalimat 1 dan kalimat 3 menjalin hubungan dengan kalimat 1 dan 2.

Berdasarkan analisis data tabel 4.10 bahwa penggunaan kohesi gramatikal yang paling banyak digunakan adalah kohesi pengacuan (referensi). Kohesi pengacuan dalam teks tersebut digunakan mengacu antarkalimat, antarparagraf, bahkan ada mengacu di luar teks, misalnya ada yang mengacu pada teks pidato sebelumnya.

 

Tabel 4.10 Struktur Mikro Peranti Kohesi Leksikal Pidato Politik dalam Pembukaan Kongres III PDIP

 

PARAGRAF

                 ASPEK LEKSIKAL  
  Jumlah Kalimat Repetisi Sinonim Antonim  

Hiponim

Paragraf 1 1
paragraf 2 3 1
paragraf 3 2
paragraf 4 5 1
paragraf 5 2 1
paragraf 6 3
paragraf 7 5 1
paragraf 8 5 3 1
paragraf 9 3 1 1
paragraf 10 3 1
paragraf 11 3 1
paragraf 12 4 1
paragraf 13 2 3
paragraf 14 3 4
paragraf 15 4 2
paragraf 16 4 2
paragraf 17 4 1
paragraf 18 6 2 1
paragraf 19 2 1 1
paragraf 20 6 1 1
paragraf 21 5 3 1
paragraf 22 5 2
paragraf 23 9 2
paragraf 24 5 2 1
paragraf 25 5 4
paragraf 26 3 1
paragraf 27 2 2
paragraf 28 4 1
paragraf 29 4 1
paragraf 30 4 2
paragraf 31 2 2
paragraf 32 7 3
paragraf 33 3 1 1
paragraf 34 7 2 1
paragraf 35 3
paragraf 36 6
paragraf 37 4 2
paragraf 38 9 1 1
paragraf 39 4 2
paragraf 40 4 1
paragraf 41 2 1
paragraf 42 5
paragraf 43 8 2 1
paragraf 44 3 2
paragraf 45 6 1
paragraf 46 2 1
paragraf 47 2 1
paragraf 48 1 1
paragraf 49 1 1
paragraf 50 3 1
paragraf 51 1 2
paragraf 52 1 1
paragraf 53 1 1
Jumlah 201 71 9 7 0

Struktur mikro peranti kohesi leksikal teks pidato politik dalam rangka pembukaan kongres III PDIP diperoleh hasil analisis sebagai berikut : 1) kohesi leksikal repetisi sebanyak 71 kata. 2) peranti kohesi leksikal sinonim sebanyak 9 pasang kata, 3) peranti kohesi leksikal antonim sebanyak 7 pasang kata, dan 4) peranti kohesi leksikal hiponim tidak ada dalam data teks pidato politik. Untuk mebuktikan data pada tabel di atas dikutip peranti-peranti kohesi leksikal yang terdapat pada tabel 4.10 di atas.

1)Sebagai partai ideologis posisi kita sangat jelas: kita tidak akan pernah menjadi bagian dari kekuasaan yang tidak berpihak pada wong cilik. 2)Apalagi dari sudut ketata-negaraan yang kita anut, diskursus mengenai oposisi-koalisi tidak punya pondasi untuk diperdebatkan. 3)Kita tidak perlu terjebak dalam diskursus semacam ini. (paragraf 9)

Kutipan paragraf 9 pada kalimat 2 , yaitu “oposisi-koalisi” merupakan bentuk kohesi leksikal antonim. Makna leksikal kata “oposisi” adalah partai penentang di dewan perwakilan, yang menentang dan mengkritik pendapat atau kebijaksanaan politik golongan yang berkuasa (KBBI,2001: 800) sedangkan kata “ koalisi” kerjasama antara beberapa partai untuk memperoleh kelebihan suara dalam parlemen. (KBBI,2001:576). Jika dimaknai secara konteks wacana kognisi sosial pemerintahan sekarang maka makna “oposisi” adalah partai yang berada di luar pemerintahan. Realitas dari ini bahwa PDIP berada di luar pemerintahaan SBY tetapi bukan semata-mata sebagai penentang, bukti ini bahwa PDIP tidak ikut dalam jajaran pemerintahan SBY. Sedangkan makna kata “koalisi” artinya partai yang ikut dalam pemerintahan termasuk ke dalam jajaran kabinet pemerintahan (dalam konteks penelitian ini adalah pemerintahan SBY).

1) Sebagai kekuatan pengontrol dan penyeimbang, kita bukan saja diwajibkan untuk mengkritik. 2) Tapi juga untuk mengajukan berbagai alternatif kebijakan. 3) Bagi kepentingan bangsa ini, hal ini sangat strategis karena akan tersedia pilihan-pilihan yang semakin beragam bagi masyarakat  sendiri untuk memilih (paragraf 11)

Kutipan paragraf 11 kalimat 2 dan 3 yaitu kata “ alternatif” dan “pilihan-pilihan” merupakan pasangan kata yang bersinonim. Makna leksikal “alternatif” adalah pilihan di antara dua atau beberapa kemungkinan. (KBBI,2001:33). Jadi makna kata alternatif sama dengan pilihan. Orator politik menggunakan pilihan sinonim dalam teks wacana pidatonya sebagai variasi pilihan kohesi leksikal agar tidak monoton dan yang terpenting sebagai strategi komunikasi agar lebih menarik .

1)Sudah saatnya kita menyadari untuk kemudian bangkit membenahi segala kekurangan dan kelengahan kita selama ini. 2)Sudah saatnya kita menata ulang seluruh perangkat perjuangan untuk kemudian menatap dengan penuh optimisme bahwa partai ini adalah partainya wong cilik dan dipersembahkan bagi mereka. 3)Sudah saatnya PDI Perjuangan kembali aktif dalam membangun solidaritas horizontal bersama rakyat untuk membuat lompatan kualitatif. 4)Sudah saatnya PDI Perjuangan kembali menjadi kekuatan yang merajut keaneka-ragaman kita ke dalam satu kesatuan tekad, satu kesatuan jiwa, dan satu kesatuan gerak. (paragraf 15)

Kutipan paragraf 15 merupakan pengembangan paragraf dengan pola kohesi leksikal yang menggunakan penanda repetisi (pengulangan). Hal ini bisa dilihat pada kalimat 1 diawali dengan frasa “sudah saatnya kita” dan frasa itu diulang lagi pada kalimat 2. Kalimat 3 “sudah saatnya PDI Perjuangan” diulang lagi pada kalimat 4 di baagian awal kalimatnya. Pengulangan (repetisi) yang digunakan dalam pengembangan paragraf merupakan strategi komunikasi bahwa kata, frasa, klausa atau kalimat yang diulang merupakan hal penting dan yang perlu mendapaatkan penekanan yang disebut dengan elemen grafis. Komunikasi dalam dunia politik hal ini penting dilakukan agar pendengar (audien) bisa memahami dengan baik.

1)Kita dihadapkan pada persoalan kaderisasi dan penataan jenjang karier yang belum terlembaga dengan baik. 2)Kita juga dihadapkan pada belum terlembaganya sistem dan mekanisme rekrutmen yang membuat proses regenerasi berjalan lamban dan kesulitan mendatangkan tunas-tunas harapan bangsa yang dipersiapkan untuk menjadi calon pemimpin partai dan bangsa ke depan. (paragraf 15)

1)Regenerasi memang tidak secepat yang kita harapkan. 2)Tetapi kita jangan salah kaprah seakan proses regenerasi tidak terjadi. 3)Cobalah tengoklah ke daerah-daerah, cukup banyak tunas-tunas baru yang tumbuh. 4)Tengoklah di parlemen kita, semakin banyak generasi muda berkiprah. 5)Merekalah yang telah siap menyatakan diri memimpin bukan saja PDI Perjuangan, tetapi  juga  menjadi pemimpin bangsa yang di masa datang yang saya yakin tidak terlalu lama lagi.  6)Saudara-saudara. Melihat semua ini saya sering merenung dan berkata pada diri saya sambil menertawakan diri saya; “Bagaimana Saya bisa belajar pada suatu partai yang dalam waktu begitu cepat bisa naik sampai 300%.” (paragraf 20)

1)Kita menyaksikan, karut-marutnya Daftar Pemilih Tetap  atau DPT yang telah menghilangkan secara paksa dan sistematis hak politik warga negara. 2)Bahkan lebih lagi, merupakan perampasan secara paksa atas hak konstitusional warga-negara. (paragraf 24)

Kutipan paragraf 15 kalimat 2 muncul kata bersinonim antara kata dengan frasa. Kata “regenerasi” bersinonim dengan frasa “tunas-tunas harapan bangsa” atau juga pada kalimat 3 paragraf 10 yaitu frasa ” banyak tunas-tunas baru yang tumbuh” serta frasa “ banyak generasi muda”. Di samping itu juga sinonim yang berupa frasa muncul juga pada paragraf 24, yaitu kalimat 1 dan kalimat 2 “menghilangkan secara paksa” = “perampasan secara paksa”. Sinonim merupakan bentuk dan strategi repetisi yang pengulangannya menggunakan bentuk kata yang berbeda tetapi masih memiliki ikatan makna atau kesamaan makna. Seperti apa yang teruraikan di atas bahwa pengulangan baik pengulangan utuh, pengulangan dengan sinonim, atau pengulangan dengan anafora atau katapora semua itu merupakan strategi dalam komunikasi terutama komunikasi politik untuk menegaskan hal yang penting kepada pendengar (audien). Di samping pengulangan di atas pola pengembangan paragraf dengan penekanan pada paragraf sebelumnya juga digunakan oleh M.S. dalam pidato politiknya, yaitu dengan menggunakan repetisi antarparagraf seperti kutipan-kutipan paragraf di bawah ini.

1)Saudara-saudara utusan Kongres ke III, Pengelolaan pemerintahan kita akhir-akhir ini juga menunjukkan wataknya yang semakin menjauhi nilai-nilai Pancasila sebagai ideologi bangsa? 2)Kecenderungan menciptakan semakin banyak lembaga menyebabkan fragmentasi pemerintahan yang serius. 3)Setiap hari media massa menyajikan betapa kronisnya fragmentasi yang terjadi akibat dari tidak adanya tuntunan ideologis yang jelas. 4)Akhirnya sangat jelas: suatu kekacauan pengelolaan pemerintahan. (paragraf 39)

1)Salah satu bukti dari terjadinya kekacauan pengelolaan pemerintahan yang masih up to date dewasa ini adalah kasus Bank Century. 2)Kasus ini adalah merupakan hanya salah satu puncak gunung es dari kekacauan tata-kelola pemerintahan. 3)Kita sudah menyatakan sikap dengan jelas melalui Fraksi PDI Perjuangan: kebijakan pemberian Fasilitas Pinjaman Jangka Pendek  atau FPJP dan Penyertaan Modal Sementara atau PM.S. adalah salah. 4)Karenanya, kepada Fraksi sudah saya perintahkan untuk memilih opsi C dan terus mengawasi proses penyelesaian kasus ini dalam batas-batas kewenangannya. (paragraf 40)

1)Dengan kesepakatan DPR telah menunaikan kewajiban konstitusional-nya untuk menuntaskan kasus Bank Century ini. 2)Kini giliran pemerintah dan terutama presiden untuk menindak-lanjuti dan menuntaskannya melalui saluran hukum. (paragraf 41)

Kutipan paragraf 39, 40 dan 41 merupakan kutipan paragraf yang menyatakan repetisi antarparagraf dan sinonim antarparagraf. Repetisi antarparagraf terdapat pada kalimat terakhir di paragraf 39 dan kalimat ke-1 paragraf 40 yaitu “kasus bank century” dan “kekacauan pengelolaan pemerintahan”. Pengulangan kedua frasa tersebut sebagai bentuk penegasan bahwa frasa tersebut penting maka frsae “kekacauan pengelolaan pemerintahan” yang terdapat pada kalimat 4 paragraf 39 dan frasa “kasus bank century” pada kalimat 1 diulang lagi pada kalimat ke-1 pada paragraf 41 di bagian akhir kalimat. Ini menandakan bahwa frasa itu penting dan menjadi komunikasi politik dalam pidato politik M.S..

2.d Kata Ganti

Strategi elite politik menghadirkan dirinya dalam komunikasi politik merupakan persoalan bagaimana elite politik memilih pronomina persona dalam orator politiknya. Elemen kata ganti ini merupakan elemen untuk memanipulasi bahasa dengan menciptakan suatu komunitas imajinatif. Elemen ini menentukan komunikator (orator) untuk menunjukkan di mana posisi seseorang dalam wacana. Pilihan strategi kehadiran seseorang dalam wacana berimplikasi terhadap jarak sosial yang tercipta antara penutur dan petuturnya. Wacana teks pidato politik yang disampaikan Megawati dalam rangka “Pembukaan kongres III PDI Perjuangan “ strategi kehadiran diri yang digunakan dan dipilih adalah 1) penggunaan pronomina persona jamak yang berifat inklusif kita, 2) Penggunaan pronomina persona jamak orang ketiga mereka, 3) penggunaan pronomina persona tunggal orang pertama saya dan aku, dan 4) penggunaan pronomina persona tunggal orang ketiga ia dan dia juga 5) penggunaan kata sapaan Bapak, Saudara, dan Beliau. Jumlah persona (kata ganti) yang digunakan dalam wacana teks pidato Megawati dalam pembukaan kongres lihat tabel di

bawah ini.

Penggunaan persona atau kata ganti dan sapaan pada wacana teks pidato politik PDIP yang disampaikan dalam rangka pembukaan kongres III partai PDIP adalah sebanyak 194 kata ganti (persona) dengan rincian pada tabel 4.11 di atas. Penggunaan strategi komunikasi kehadiran diri dengan kata ganti (persona) “saya” pada teks pidato politik saat pembukaan kongres III PDIP sebanyak 58 kali persona “saya/aku”, yaitu 29% dengan rincian 57 kali menggunakan kata ganti “saya” dan 1 kali kata “aku” dengan bentuk klitika “ku”. Pengguana kata ganti (persona) “kita” berjumlah 95 persona “kita” sebagai persona inklusif, yaitu 48%. Penggunaan kata ganti (persona) “mereka” sebagai kata ganti orang ketiga jamak sebanyak 6 kali, yakni 3%. Penggunaan kata ganti (persona) “dia/ia” sebagai kata ganti orang ketiga tunggal sebanyak 6 kali, yakni 6%, dan penggunaan kata sapaan sebanyak 29 kali, yakni 14%.

Penggunaan persona “ku” dalam bentuk klitika terdapat pada paragraf ke-14 kalimat “Saudara-saudara-ku, ingatlah akan hal ini: rakyat tidak akan pernah ragu-ragu untuk kembali menegur dengan cara lebih keras di tahun 2014 nanti, jika kita gagal kembali ke jalan ideologis kita. Bentuk klitika “ku” yang digunakan dalam teks pidatonya menunjukan pribadi orator dalam hal ini Megawati menandakan keakraban dan kedekatan dengan pendengar atau rakyat. Mengingat persona “aku” digunakan bersifat informal dalam konteks penuh keakraban. Begitu juga halnya dengan persona “saya” yang digunakan oleh M.S. selaku elite politik dari PDIP dalam komunikasi politiknya sebagai simbol begitu teguhnya memegang prinsip dan perhatian terhadap kader-kader partainya. Persona “saya” yang digunakan M.S. lebih menyentuh hati kepada kader partai dan rakyat dalam tatanan ideologi. Hal ini dipaparkan pada paragraf di bawah ini.

Saudara-saudara para kader Partai yang saya cintai dan banggakan, Sebagai kekuatan politik PDI Perjuangan sedang dihadapkan pada suatu ujian sejarah yang tidak mudah. Kita disodorkan pada suatu pilihan pragmatis antara koalisi dan oposisi. Saya sungguh berduka karena politik telah direduksi tidak lebih dari sekadar urusan perebutan dan pembagian kekuasaan antar kekuatan politik, antar elit politik. Saya berduka karena pemahaman di atas meninggalkan inti etis dan ideologis dari politik sebagai suatu seni dan sarana kebudayaan rakyat untuk mewujudkan suatu kedaulatan politik, keberdikarian ekonomi, dan jati-diri kebudayaan kita sebagai bangsa merdeka. (paragraf 7)

Penggunaan pesona “saya” paragraf di atas lebih bersifat kepribadian selaku ketua umum partai merasakan apa yang dialami partai PDIP dan memilih persona “saya” secara hermiunetika bahwa pribadi M.S. sudah menyatu dengan rakyat dan PDIP.

Di samping penggunaan persona “saya” juga kapasitas penggunaan persona “kita” justru paling banyak yaitu 95 kali bahkan dari lima puluh tiga (53) paragraf hanya tiga paragraf saja yang tidak menggunakan persona “kita” yaitu paragraf 29, 31, dan 43. Penggunaan persona “kita” begitu produktif dan lebih banyak jika dibandingkan dengan persona yang lain termasuk persona ”saya”. Pronomina persona “kita” cukup mendominasi dalam sejumlah pilihan strategi yang digunakan M.S. selaku orator politik PDIP.

Saudara-saudara, Sebagai partai kita boleh berbangga karena di tengah-tengah  ingar-bingar politik nasional, konsolidasi internal tetap berjalan baik. Pelaksanaan konsolidasi Partai yang telah dipandu oleh SK 435 telah mengantarkan utusan-utusan kita ke Kongres III ini. (paragraf 5)

Kutipan paragraf ke- 5 teks pidato politik M.S. menghadirkan dirinya dengan pronomina persona “kita” sebagai persona jamak yang bersifat inklusif. Persona “kita” terkandung makna kehadiran “saya” dan “anda” (pembicara/orator, audien dan rakyat yang diwakili), “petutur” dan “penutur”. Ada suatu hal yang menarik dalam kutipan paragraf ke-5 yaitu konstruksi kalimat “Sebagai partai kita boleh berbangga.” Secara normatif, orator (penghasil teks) seharusnya hadir dengan menggunaakan persona “kami” karena menghadirkan dirinya sebagai wakil partai. Temuan ini merupakan penyimpangan penggunaan persona “kita” yang sebenarnya menggunakan persona “kami” M.S. berbicara mewakili partai. Fenomena yang menarik bahwa dalam teks pidato M.S. yang berjudul” Pidato Pembukaan Kongres III PDIP” tidak satupun ditemukan persona “kami”, mestinya jika M.S. berbicara mewakili pengurus partai seharusnya menggunakan persona “kami”. Persona yang banyak digunakan adalah “kita”, “saya” dan bentuk-bentuk sapaan seperti “beliau”, “saudara”, dan “bapak”. Pada hal M.S. berpidato selaku ketua umum partai dan M.S. berpidato jelas atas nama pengurus DPP partai, semestinya jika mengatasnamakan pengurus partai mestinya menggunakan bentuk persona “kami”. Akan tetapi, dalam teks pidato M.S. tidak satu pun persona “kami” yang digunakan M.S. dalam pidatonya.

Sebagai partai ideologis posisi kita sangat jelas: kita tidak akan pernah menjadi bagian dari kekuasaan yang tidak berpihak pada wong cilik. Apalagi dari sudut ketata-negaraan yang kita anut, diskursus mengenai oposisi-koalisi tidak punya pondasi untuk diperdebatkan. Kita tidak perlu terjebak dalam diskursus semacam ini. (paragraf 9)

Kutipan paragraf 9 penggunaan persona”kita” terkandung makna bahwa PDIP menempatkan posisi pembicara (M.S.) sebagai petutur sekaligus sebagai penutur. Pemilihan persona “kita” pada pidato politiknya M.S. untuk memosisikan diri bahwa M.S. dan rakyat sama yaitu sama-sama memiliki partai PDIP. Hal yang menarik dari temuan dalam teks pidatonya adalah penggunaan persona “kita” pada kalimat “Apalagi dari sudut ketata-negaraan yang kita anut, diskursus mengenai oposisi-koalisi tidak punya pondasi untuk diperdebatkan.” “kita” pada kalimat tersebut terkandung makna masyarakat Indonesia dari partai manapun. “Apalagi dari sudut ketata-negaraan yang kita anut” pemaknaan “kita” merupakan pemaknaan yang menyatakan seluruh rakyat Indonesia karena yang menganut sistem ketatanegaraan dimaksud adalah Indonesia bukan hanya PDIP saja. Sudut linguistik kebahasaan persona “kita” mestinya tidak muncul kaarena yang berbicara itu adalah M.S. selaku ketua PDIP dalam konteks kongres dan seharusnya pesona “kita” menjadi “Negara Indonesia” sehingga kalimat menjadi “Apalagi dari sudut ketatanegaraan yang dianut oleh negara Indonesia” maka dengan membandingkan kalimat itu jelas persona “kita” dalam konteks paragraf ke-9 terkandung makna negara Indonesia. Jadi, penggunaan persona “kita” tidak tepat. Melihat pemaknaan persona “kita” pada kalimat dimaksud lebih menekankan pada makna ideologi politik dan bukan makna secara linguistik.

Sudah saatnya kita menyadari untuk kemudian bangkit membenahi segala kekurangan dan kelengahan kita selama ini. Sudah saatnya kita menata ulang seluruh perangkat perjuangan untuk kemudian menatap dengan penuh optimisme bahwa partai ini adalah partainya wong cilik dan dipersembahkan bagi mereka. (paragraf 15)

Saya mengajak setiap warga partai dimanapun mereka berada mari kita jadikan lima tahun kemarin sebagai pelajaran berharga, dan kita jadikan lima tahun ke depan sebagai tahun-tahun PERUBAHAN & KEBANGKITAN KEMBALI, saudara-saudara. (paragraf 16)

Kutipan paragraf ke-15 menggunakan persona orang ketiga jamak yaitu “mereka”. Penggunaan persona “mereka” oleh orator politik yakni M.S. sebagai bentuk kepedulian dan keberpihakan PDIP kepada masyarakat kecil (wong cilik) karena perseona “mereka” mengacu pada wong cilik. Penggunaan persona “mereka” bermakna bahwa komunikasi juga dilakukan kepada orang ke-3. “mereka” yang dimaksud adalah di luar pendengar saat pidato disampaikan. Akan tetapi, berbeda halnya persona “mereka” yang digunakan dalam paragraf ke -16. Persona “mereka” pada paragraf ke-16 mengandung makna secara ideologi adalah warga PDIP secara luas, termasuk M.S. yang menggunakan persona”saya” , orang yang diajak berbicara (orang ke-2), dan orang ketiga pun masuk ke dalam makna kata persona “mereka”. Kalimat “Saya mengajak setiap warga partai dimanapun mereka berada….” Jika dimaknai kalimat di atas maka persona “mereka” mengandung makna orang pertama “saya” karena persona “saya” sebagai warga PDIP, orang kedua yang diajak berbicara (audien) juga masuk dalam makna “mereka”, dan juga orang ketiga juga ikut dalam makna “mereka”. Penggunaan persona “mereka” oleh M.S. dalam pidato politiknya sebagai upaya menyamaratakan status sebagai warga PDIP.

  1. Stilistika
    • Leksikon/Leksikalisasi

Ideologi yang berkaitan dengan agama seperti diuraikan seperti tabel di bawah ini. Elemen ini menandakan bagaimana seseorang melakukan pemilihan kata untuk berbagai kemungkinan kata yang tesedia dan penggunaanya tepat sesuai konteks. Leksikalisasi (lexicalization) berkaitan dengan keberadaan sebuah kata untuk sebuah konsep. Leksikalisasi (lexicalization) dalam pandangan kritis diperlakukan sebagai fenomena yang bersifat dinamis dan penuh dengan muatan makna yang bersifat ideologi politik baik yang bersifat nyata atau eksplisit maupun bersifat tersembunyi (latent) atau tersamar. Pemilihan unsur leksikalisasi yang berisfat tersembunyi selalu dipakai dalam dunia politik demi etika politik. Untuk itu elemen leksikalisai pada teks pidato politik M.S. yang disampaikan saat pembukaan kongres III PDIP terjadi pergeseran-pergeseran makna, ada makna yang secara khusus mewakili pembawa makna ideologi dan juga muncul kata yang membawa makna

1)Sebagai partai ideologis posisi kita sangat jelas: kita tidak akan pernah menjadi bagian dari kekuasaan yang tidak berpihak pada wong cilik. 2)Apalagi dari sudut ketata-negaraan yang kita anut, diskursus mengenai oposisi-koalisi tidak punya pondasi untuk diperdebatkan. 3)Kita tidak perlu terjebak dalam diskursus semacam ini. (paragraf 9)

Penggunaan dan pemilihan leksikalisasi pada paragraf 9 memunculkan pergeseran makna dan membawa makna ideologis. Misalnya kata-kata “koalisi, ideologi. Oposisi, posisi” ini membawa makna ideologi politik serta menyebabkan terjadinya pergeseran makna yang disebabkan oleh konteks ideologi politik. Leksikalisai dalam bidang politik yang mengakibatkan pergeseran makna dan juga pembawa ideologi politik bisa dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 4.12 Pergeseran Makna Kosakata dalam Pidato Pembukaan Kongres

III PDIP

 

 

NO KOSAKATA MAKNA ASLI MAKNA IDEOLOGI POLITIK KETERANGAN
1 Koalisi Kerja sama antar beberapa partai untuk memperoleh kelebihan suara dalam parlemen Kerjasama dalam pemerintahan dan pembagian kursi menteri dalam kabinet Pergeseran makna pada ideologi politik
2 Oposisi Partai penentang di dewan perwakilan, pengkritik dan penentang golongan berkuasa Kekuatan pengontrol, penyeimbang, mengajukan alternatif kebijakan Pergeseran makna ke yang lebih halus (eufimisme)
3 Reformasi Pembentukan kembali kepada bentuk yang lebih baik Penggantian paradigma yang sudah usaang dengan paradigma yang baru yang lebih demokratis Terjadi perubahan makna dari yang bersifat umum ke yang lebih spesifik
4 Regenerasi Pergantian generasi tua kepada generasi muda (peremajaan) Pergantian kepemimpinan (suksesi kepemimpinan) Terjadi pergeseran makna yang menyatakan pergantian kepemimpinan
5 Ideologi Kumpulan konsep bersistem yang dijadikan asas yang memberikan arah dan tujuan untuk kelangsungan hidup Visi dan misi partai Terjadi pergeseran makna dari konsep asas ke makna visi dan misi
6 Posisi Letak, kedudukan Jabatan kepengurusan partai Pergeseran makna karena konteks politik

 

 

Tabel 4.13 Leksikalisasi Pembawa Ideologi pada Pidato Pembukaan Kongres III PDIP

 

NO KOSAKATA KETERANGAN
1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

12

13

14

15

16

17

Posisi

Konsolidasi partai

Anti-partai

Anti-ideologi

Ideologi

Reformasi

Demokrasi

Koalisi

Oposisi

Pragmatis

Transaksional

Wong cilik

Revolusioner

Demisioner

Hegemoni

Ingar bingar

kaderisasi

Paragraf 4

Paragraf 5

Paragraf 22

Paragraf 22

Paragraf 9

Paragraf 25

Paragraf 24

Paragraf 9

Paragraf 9

Paragraf 7

Paragraf 27

Paragraf 15

Paragraf 12

Paragraf 46

Paragraf 29

Paragraf 5

Paragraf 19

 

 

 

 

Tabel 4.14 Leksikalisasi Berkaitan dengan Agama dalam Pidato Pembukaan Kongres III PDIP

 

NO KOSAKATA/ KALIMAT KETERANGAN
1

2

3

4

5

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Om swastiastu

Tuhan

Bagawad gita

Karma nevad ni adikaraste ma phaleshu kada chana

Salam untuk umat Islam (bagian awal dan akhir pidato

Salam untuk umat Hindu (bagian awal dan akhir pidato)

Paragraf 45

Paragraf 45 (teologi Hindu)

Paragraf 45

 

 

  1. Retorika

4.a Grafis

 

Elemen grafis merupakan bagian yang ditekankan atau ditonjolkan (bagian yang dianggap penting dari teks pidato politik) yang ingin disampaikan kepada petutur /pendengar (audience).

Tabel 4.15 Elemen Grafis Pidato Pembukaan Kongres III PDIP

 

NO PARAGRAF PENJELASAN
1

2

3

4

5

Paragraf 16

Paragraf 22

Paragraf 6

Paragraf 43

Paragraf 45

kalimat 1

kalimat 2

kalimat 3

kalimat 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, dan 9

kalimat 1

Jumlah 5 paragraf 13 kalimat
Persentase 9,43 % 6,46 %

Berdasarkan tabel 4.15 di atas bahwa elemen grafis yang ditemukan pada teks pidato politik M.S. dalam rangka pembukaan kongres PDIP adalah sebanyak 5 paragraf yaitu hanya 9,43 % dan secara lebih rinci hanya 13 kalimat, yaitu sebanyak 6,46%. Untuk lebih jelas akan diuraikan di bawah ini.

1)Saya mengajak setiap warga partai dimanapun mereka berada mari kita jadikan lima tahun kemarin sebagai pelajaran berharga, dan kita jadikan lima tahun ke depan sebagai tahun-tahun PERUBAHAN & KEBANGKITAN KEMBALI, saudara-saudara.Ini mengingatkan saya, pada tahun tahun sulit yang pernah dilewati oleh Bung Karno, dan hingga hari ini masih terngiang di telinga saya, kata-kata Beliau:  “Majulah terus, jangan mundur, mundur-hancur, mandeg ambleg; bongkar, maju terus, kita tak bisa dan tak boleh berbalik lagi. 2)Kita telah mencapai suatu point of no return !!!”, saudara-saudara. 3)Untuk itu, kita tidak punya pilihan lain kecuali kembali ke jati diri sebagai partai yang mempunyai ideologis. (paragraf 16)

Kutipan paragraf ke 16 elemen yang ditekankan atau ditonjolkan “perubahan & kebangkitan kembali” perubahan dan kebangkitan yang dimaksud dalam konteks makna ideologi politik adalah kebangkitan PDIP yang mengalami kemerosotan suara dalam pemilu dan perubahan paradigma. Penekanan atau penonjolan itu dengan menggunakan huruf kapital dan juga dengan menggunakan tanda petik dua sebagai makna bahwa hal itu penting untuk disampaikan seperti “Majulah terus, jangan mundur, mundur-hancur, mandeg ambleg; bongkar, maju terus, kita tak bisa dan tak boleh berbalik lagi. Kita telah mencapai suatu point of no return !!!”, penonjolan dan penekanan (elemen grafis) yang digunakan pada kutipan kalimat di atas dengan pengulangan kata (repetisi) seperti kata “mundur” diulang, menggunakan pola penonjolan dengan antonim seperti kata “maju x mundur”, menggunakan persajakan (rima) seperti “mundur-hancur”, dan “mandeg-ambleg” dan yang paling menarik dengan menggunakan kutipan bahasa Inggris “point of no return”.

1)Dari sisi eksternal, tantangan bagi PDI Perjuangan untuk kembali ke jalan ideologis juga tidak ringan. 2)PDI Perjuangan harus bekerja dalam situasi psiko-politik “anti-partai” dan “anti-ideologi”. 3)PDI Perjuangan harus bekerja dalam suatu masyarakat yang semakin pragmatis, transaksional, dan berpikir instant untuk kepentingan individual berjangka pendek. 3) Kita harus bekerja dalam situasi dimana sebagian pihak menganggap bahwa menduduki jabatan publik melalui jalan partai adalah jalan baru bagi keamanan ekonomi. 4)Partai bukan lagi sebagai alat ideologi, alat perjuangan tapi alat akumulasi ekonomi. 5)Partai menjadi sarana transportasi cepat untuk keuntungan ekonomi individual, bukan lagi sarana untuk mewujudkan kepentingan rakyat, saudara-saudara.(paragraf 22)

Kutipan paragraf ke-22 terlihat kata “anti-partai dan “anti-ideologi” merupakan kata yang menjadi penekanan dan penonjolan dalam paragraf tersebut. Penekanan kedua kata tersebut karena bagi PDIP merupakan sebuah tantangan yang disinyalir situasi masyarakat secara psiko-politik sudah mulai menganggap partai dan ideologi merupakan sebuah transaksi yang bisa diperjualbelikan.

1)Harapan saya, pasca Kongres III, energi partai tidak lagi terserap hanya untuk konsolidasi internal. 2)Pembentukan PAC, Ranting, dan Anak Ranting harus bisa diselesaikan tanpa proses yang berlarut-larut. 3)Kita mesti menyediakan lebih besar lagi energi untuk bekerja, bekerja, dan bekerja bersama rakyat. (paragraf 6)

1)Saudara-saudara utusan Kongres yang saya cintai dan banggakan, Saya menyadari sepenuhnya bahwa perjuangan tidak akan pernah sampai ke akhir tujuannya hanya dengan ideologi. 2)Perjuangan tak akan pernah mencapai terminalnya hanya dengan retorika belaka. 3)Untuk bisa bekerja efektif, ideologi membutuhkan kader. 4)Ideologi membutuhkan pemimpin. 5)Ideologi membutuh organisasi dan manajemen yang baik. 6)Ideologi membutuhkan aturan bermain. 7)Ideologi membutuhkan kebijakan. 8)Ideologi membutuhkan program yang merakyat.9) Ideologi membutuhkan sumber-daya. (paragraf 43)

Sedangkan pada kutipan paragraf ke-6 dan ke-43 penekanan atau penonjolan dalam teks pidato politik menggunakan repetisi kata seperti kata “bekerja” dan “ideologi” yang selalu diulang sampai tiga kali untuk kata “bekerja dan delapan kali kata “ideologi”. Ini berarti bahwa kata “bekerja”dan “ideologi” begitu penting bagi PDIP dan harus diperjuangkan sebagai visi dan misi partai. Begitu pentingnya Kata “ideologi” sehingga dalam teks pidato politik M.S. selalu muncul dalam beberapa paragraf.

1) Untuk itu, mari kita kembali ingat akan kata-kata Proklamator kita, Bung Karno, beliau mengatakan, mengambil kata-kata ini dari bahasa Sansekerta:“KARMA NEVAD NI ADIKARASTE MA PHALESHU KADA CHANA”,“Kerjakanlah kewajibanmu dengan tidak menghitung-hitungkan akibatnya!”. 2)Kata-kata di atas, adalah tulisan tangan Bung Karno yang dikutip dari Percakapan Kedua, Kitab Baghawad Gita. 3)Kata-kata di atas adalah sebagian dari nasihat Kresna pada Arjuna di medan perang Kurusetra. 4)Nasihat yang disampaikan setelah Arjuna nampak bimbang menghadapi lawan-lawannya yang adalah para guru dan sanak-saudara sendiri. 5)Tuhan pasti memberikan jalan bagi kita semua. (paragraf 45)

Di samping memperjuangkan ideologi partai dengan segala perubahan dan untuk bangkit kembali PDIP pun menggunakan elemen agama sebagai dasar berpolitik seperti kutipan paragraf ke 45. Elemen agama ditonjolkan pada paragraf ini sebagai ikon bahwa PDIP partai yang menjungjung tinggi nilai-nilai agama dan ke-bhineka-an yang nasionalis. :“KARMA NEVAD NI ADIKARASTE MA PHALESHU KADA CHANA”,“Kerjakanlah kewajibanmu dengan tidak menghitung-hitungkan akibatnya!”. kutipan ini berasal dari bahasa Sansekerta yang langsung ditekankan pada petikan maknyanya seperti hal di atas sebagai konsep Hindu akan tetapi seorang M.S. yang beragama Islam mengangkat sastra agama dalam teks pidatonya sebagai wujud teloransi yang tinggi. Dengan mengutif sastra agama dalam teks pidato M.S. menandakan bahwa PDIP dalam menjalankan etika politik masih menjungjung tinggi nilai-nilai agama.

2.b Metafora

Metafora adalah merupakan kebahasaan yang maknanya tidak dijangkau secara langsung dari lambang yang dipakai karena makna yang dimaksud terdapat pada predeksi ungkapan kebahasaan itu (Wahab,1990:142 dalam Anang Santoso, 2003:128). Analisis data terhadap elemen metafora dalam dunia politik merupakan langkah awal untuk memahami bahasa politik. Metafora dalam dunia wacana teks pidato politik ada tiga jenis yaitu: 1) metafora nominatif, 2) metafora predikatif, dan 3) metafora kalimat.

Berdasarkan analisis data pada wacana teks “ Pidato Politik Pembukaan Kongres III PDI Perjuangan” diperoleh penggunaan metafora dan ekspresi kesan yang muncul dari penggunaan metafora dalam paragraf atau kalimat yang digunakan pada teks pidato politiknya M.S. seperti yang terdapat pada tabel 4.16 berikut.

Tabel 4.16 Penggunaan Metafora dalam Pidato Pembukaan Kongres III PDIP

 

 

 

NO

 

METAFORA NOMINATIF

 

METAFORA PREDIKATIF

 

METAFORA KALIMAT

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

12

Paragraf 14

Paragraf 18

Paragraf 19

Paragraf 20

Paragraf 21

Paragraf 24

Paragraf 25

Paragraf 26

Paragraf 28

Paragraf 29

Paragraf 38

Paragraf 40

Paragraf 4

Paragraf 12

Paragraf 34/ kalimat 5
Jml.              12                    2                    1
%              22%              3%                    1%

Wacana teks pidato politik pada saat pembukaan kongres III PDIP menggunakan 53 paragraf. Dari ke-53 paragraf tersebut ditemukan penggunaan tiga jenis metafora, yaitu metafora nominatif berjumlah 12 paragraf yakni 22 %, metafora predikatif sebanyak 2 paragraf, yakni 3 %, dan metafora kalimat hanya 1 paragraf, yakni 1 %. Dari 53 paragraf yang terdapat pada teks pidato politik yang disampaikan M.S. 15 paragraf atau 28 % menggunakan metafora untuk menyampaikan pesan-pesan politiknya. Paragraf yang menyatakan metafora nominatif seperti kutipan di bawah ini.

1) Kita dihadapkan pada keterbatasan sumber pembiayaan di tengah-tengah kebutuhan anggaran pengelolaan partai yang semakin besar. 2) Kita dihadapkan pada kelangkaan kepemimpinan baik secara kualitas maupun kuantitas. 3) Pengaturan kelembagaan partai kita masih terpusat pada satu tiang penyanggah, yakni organisasi partai dari DPP hingga anak ranting saja. 4) Kita membiarkan tangan-tangan partai yang mengelola kekuasaan dan pemerintahan tidak diatur dalam AD/ART partai. 5) Ini menimbulkan kesulitan dalam membangun koordinasi dan sinergi lintas pilar penyangga partai. 6) Kita akhirnya harus berhadapan dengan kenyataan, meluasnya kecenderungan fraksi berjalan sendiri-sendiri atau sebaliknya kegagalan struktural partai dalam memberikan arahan bagi fraksi dan dalam membangun komunikasi dan sinergitas dengan kepala daerah. (paragraf 18)

Kutipan paragraf 18 pada kalimat 3, 4, dan 5, yaitu kata-kata yang ditebalkan merupakan metafora nominatif. Jadi ketiga kalimat tersebut menggunakan metafora berjenis nominatif. Metafora “ tiang penyanggah”, “tangan-tangan partai”, dan “ pilar penyangga” dikatagorikan sebagai metafora nominatif karena inti frasanya berjenis kata benda. Kata-kata yang dicetak tebal dikatagorikan metafora karena ketiga kata itu tidak bermakna secara leksikal melainkan melahirkan makna-makna yang bersifat idomatis.

Sedangkan metafora predikatif terdapat pada kutipan paragraf di bawah ini.

1) Saudara-saudara utusan kongres yang saya cintai, Posisi di atas adalah wujud tanggung-jawab kita sebagai kekuatan politik; tanggung-jawab kita untuk menjaga agar demokrasi yang sehat dapat tetap bekerja dengan sebaik-baiknya. 2) Tanggung-jawab untuk memberikan pendidikan politik bahwa moral politik yang paling sederhana yang dituntut dari seorang pemimpin yang betul-betul revolusioner adalah satunya kata dengan perbuatan, satunya mulut dengan tindakan. 3) Posisi di atas sekaligus adalah wujud penghormatan kita pada pilihan rakyat. 4) Saya sangat berharap, agar pilihan PDI Perjuangan ini bisa dihormati oleh semua pihak. (paragraf 12)

Kutipan paragraf 12 pada kalimat 2 menggunakan metafora predikatif. Frasa yang ada di belakang kata kerja kopula (adalah) melahirkan makna metafora yang berfungsi sebagai predikat kalimat sedangkan di depan kata kerja kopula (adalah) berfungsi sebagai subjek kalimat. Dengan demikian frasa “satunya kata dengan perbuatan, satunya mulut dengan tindakan satunya kata dengan perbuatan, satunya mulut dengan tindakan” dikatagorikan metafora predikatif karena fungsi frasanya sebagai predikat.

Kutipan paragraf 34 merupakan bukti bahwa teks wacana politik menggunakan metafora kalimat.

1)Saudara-saudara yang saya cintai. 2) Penegasan jalan ideologis yang memihak pada rakyat kecil di atas bukan saja penting bagi masa depan PDI Perjuangan. 3) Tetapi sangat fundamental bagi masa depan bangsa ini. 4) Mengapa? 5) Jawabannya sederhana: sebuah bangsa yang tidak dibangun di atas fondasi ideologi, ibarat membangun rumah di atas pasir; terkena angin sedikit sirnalah dia. 6) Ia bukan saja akan terombang-ambing, akan tetapi mudah tersapu oleh zaman. 7) Tanda-tanda zaman yang akan menyapu bangsa ini kini berada di hadapan mata kita: sebagai bangsa kita kehilangan kedaulatan dalam bidang politik, kita kehilangan kemandirian dalam bidang ekonomi, dan kita kehilangan identitas dalam kebudayaan. 8) Inikah Indonesia yang dibayangkan oleh para pejuangan dan Proklamator Bangsa? (paragraf 34)

Berbeda halnya dengan metafora nominatif yang pemunculannya lebih banyak jika dibandingkan dengan dua metafora lainnya. Kutipan paragraf 34 merupakan satu-satunya paragraf yang menggunakan metafora kalimat dari 53 paragraf yang ada pada teks pidato politik M.S.. Kalimat 5, yaitu “Jawabannya sederhana: sebuah bangsa yang tidak dibangun di atas fondasi ideologi, ibarat membangun rumah di atas pasir; terkena angin sedikit sirnalah dia.” Kesatuan makna kalimat merupakan satu kesatuan yang melahirkan makna bias dari makna leksikalnya.

Tabel 4.17 Pemunculan Metafora dalam Teks Pidato Pembukaan Kongres III PDIP

 

 

NO

 

EKSPRESI METAFORA

 

KESAN YANG MUNCUL

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

12

13

14

15

16

17

18

Teguran rakyat

Satu tiang penyanggah

Membiarkan tangan-tangan partai

Tunas-tunas harapan bangsa

Tunas-tunas baru yang tumbuh

Partai salah satu tulang punggung

Catatan hitam dalam sejarah politik

Setelah sekian lama dibungkam

Sebagai melodrama

Berpola seperti sinetron, penjual tiket

Mendewakan materi

Partai adalah taman sari

Menyalakan kembali

Satunya kata dengan perbuatan, satunya mulut dengan tindakan

Ibarat membangun rumah di atas pasir

Bentangan karpet merah

Puncak gunung es

Merdeka, merdeka, merdeka

Hiperbola

perbandingan

Personifikasi

Eufemisme

Eufemisme

personifikasi

idiom bersifat eufemisme

sarkasme

perbandingan/perumpamaan

perbandingan / perumpamaan

perumpamaan

perbandingan analogi

hiperbola

penegasan bersifat anafora

perumpamaan/simile

perumpamaan/simile

hiperbola

repetisi

 

4.1.1.3 Struktur Makro

 

 

Struktur makro merupakan makna global dari suatu teks pidato yang dapat diamati dari tema/topik yang diangkat dari suatu teks. Makna global dari struktur makro didukung oleh struktur supra dan juga struktur mikro. Tematik merupakan elemen yang mengacu pada gambaran umum atau gagasan sentral (central of idea) dari suatu teks.

Data penelitian tentang struktur makro diperoleh dengan cara mendokumentasikan wacana Teks Pidato Politik Ketua Umum Partai Oposisi dalam Pembukaan Kongres III PDI Perjuangan. Jumlah paragraf dalam wacana teks tersebut sebanuak 53 paragraf. Berdasarkan analisis data dari teks tersebut diperoleh hasil penelitian sebagaiamana diuraikan pada tabel di bawah ini.

Tabel 4.18 Struktur Makro Wacana Teks Pidato Politik dalam Pembukaan Kongres III PDI Perjuangan.

 

No

 

Elemen Wacana

 

Penjelasan

1 Topik/Tema Berjuang untuk kesejahteraan rakyat” (Paragraf 52)

Tema pidato “Berjuang untuk Kesejahteraan Rakyat” tema/topik yang diangkat pada pidato M.S. mengangkat isu politik tentang kesejahteraan rakyat sekaligus sebagai makna ideologi dari teks.

2 Subtopik 1.Ingar bingar yang sedang menguji apakah jalan demokrasi yang kini kita jalani mampu mengantarkan ke kehidupan berbangsa dan bernegara yang lebih baik atau justru menjerumuskan kita pada suatu kekelaman sejarah bagi suatua bangsa. (paragraf 4)

2.“perjuangan mengangkat harkat-martabat wong cilik” seperti yang dilakukan Bung Karno adalah lebih utama dari urusan bagi-bagi kekuasaan (.Paragraf 8)

Kalimat topik yang mendukung tema teks terdapat pada paragraf 8 kalimat 1 dan subtopik yang mendukung tema adalah “perjuangan mengangkat harkat dan martabat wong cilik”

3.Posisi di atas sekaligus adalah wujud penghormatan kita pada pilihan rakyat. Saya sangat berharap, agar pilihan PDI Perjuangan ini bisa dihormati oleh semua pihak. (paragraf 12)

4.Tetapi untuk menyalakan kembali suluh perjuangan dan menyatukan diri dalam lengan-lengan perjuangan untuk membangun jiwa dan raga Indonesia merdeka. Kemerosotan suara, ingat! adalah teguran rakyat agar kita kembali ke takdir sebagai sarana dan wadah perjuangan rakyat. (paragraf 14)

5.Sudah saatnya kita menata ulang seluruh perangkat perjuangan untuk kemudian menatap dengan penuh optimisme bahwa partai ini adalah partainya wong cilik dan dipersembahkan bagi mereka.(paragraf 15)

6.Realitas dimana citra dikedepankan tetapi di saat yang sama, membiarkan tugas sejarah mencerdaskan kehidupan bangsa, memajukan kesejahteraan umum serta melahirkan Indonesia yang bermartabat, menjadi sekadar pekerjaan seolah-olah. (paragraf 30)

7.Saudara-saudara utusan Kongres yang saya cintai dan banggakan, Saya menyadari sepenuhnya bahwa perjuangan tidak akan pernah sampai ke akhir tujuannya hanya dengan ideologi. Perjuangan tak akan pernah mencapai terminalnya hanya dengan retorika belaka. (paragraf 43)

3 Fakta 1.Meski saat itu saya dikalahkan tetapi saya berbangga dan berkeyakinan bahwa dalam jangka panjang demokrasi yang telah diletakkan akan menjadi jalan keluar bagi kesejahteraan rakyat serta bagi terpeliharanya kemajemukan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia, saudara-saudara. (Paragraf 25)

2.Inilah hal-hal yang perlu kita semua renungkan kembali. Apakah realitas seperti ini yang kita kehendaki bagi masa depan Indonesia kita? Realitas dimana survei dan indeks kepuasaan menjadi lembaga dan instrumen baru dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Realitas dimana citra dikedepankan tetapi di saat yang sama, membiarkan tugas sejarah mencerdaskan kehidupan bangsa, memajukan kesejahteraan umum serta melahirkan Indonesia yang bermartabat, menjadi sekadar pekerjaan seolah-olah. (paragraf 30)

 

Saudara-saudara, Jalan Pancasila 1 Juni 1945 yang ditopang oleh 3 pilar bernegara lainnya, yakni Negara Kesatuan Republik Indonesia, Undang-Undang Dasar 1945 dan Bhineka Tunggal Ika yang kita pilih adalah jalan tunggal bagi PDI Perjuangan dalam “Berjuang untuk kesejahteraan rakyat” yang menjadi tema Kongres III kali ini. (paragraf 52)

Kutipan paragraf 52 pembicara/penulis teks mengungkapkan temanya secara eksplisit diakhir dan sekaligus sebagai penutup pidato. Pidato politik M.S. yang berjudul Pembukaan Kongres III PDI Perjuangan mengangkat tema yaitu, “Berjuang untuk Kesejahteraan Rakyat”. Makna global yang ingin disampaikan oleh M.S. dalam pidato politiknya adalah perjuangan PDIP untuk kesejahteraan rakyat.   Tema yang disampaikan diakhir dan sebagai penutup merupakan strategi penyampian yang kurang tepat. Temuan ini tidak sesuai dengan teori pidato yang menyatakan bahwa pokok pembahasan yang menjadi tema pidato ditampilkan dengan terlebih dahulu mengemukakan latar belakang permasalahannya. (Putra Bahar.2013:204).

Tema dalam pidato politiknya M.S. didukung oleh beberapa subtopik dan fakta-fakta. Tema “ Berjuang untuk Kesejahteraan Rakyat” didukung dan diperkuat oleh subtopik yang terdapat pada paragraf 4, 8, 14, 15, 30, dan 43. Paragraf-paragraf tersebut mendukung tema teks pidato yang disampaikan M.S. seperti pada tabel di atas.

Di samping diperkuat dan didukung oleh subtopik tema tersebut juga diperkuat oleh fakta yang ditemukan pada kutipan paragraf 25 “Meski saat itu saya dikalahkan tetapi saya berbangga dan berkeyakinan bahwa dalam jangka panjang demokrasi yang telah diletakkan akan menjadi jalan keluar bagi kesejahteraan rakyat serta bagi terpeliharanya kemajemukan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia, saudara-saudara” dan kutipan paragraf 30 “Realitas dimana citra dikedepankan tetapi di saat yang sama, membiarkan tugas sejarah mencerdaskan kehidupan bangsa, memajukan kesejahteraan umum serta melahirkan Indonesia yang bermartabat, menjadi sekadar pekerjaan seolah-olah”.

 

Analisis Data Teks Pidato Politik pada HUT XXXVIII PDI Perjuangan (Data 2)

 

  1. Struktur Supra

 

Data yang ke-2 menggunakan teks pidato politik dari Megawati Soekarnoputri yang berjudul” Pidato Politik pada HUT XXXVIII PDI Perjuangan”. Analisis data ini pun juga menggunakan parameter dari teorinya Van Dijk, yaitu struktur supra, struktu mikro, dan struktur makro. Data penelitian terkait dengan struktur supra didapatkan dengan cara mendokumentasikan wacana Teks Pidato Politik Ketua Umum Partai Oposisi yaitu Megawati Soekarnoputri yang berjudul “Pidato Politik pada HUT XXXVIII PDI Perjuangan”. Untuk menganalisis struktur supra dari teks pidato dimaksud penulis menggunakan kerangka teori pidato politik. Kerangka pidato sebagai acuan dalam menganalisis data struktur supra teks pidato politik penulis gambarkan di bawah ini.

Pola Umum Teks Pidato Politik

 

 

 

 

 

                                                      

 

Keterangan :

  1. Pmbukaan/pendahuluan
  2. Eksposisi

2a. Identitas partai

2b.program-program partai

  1. Persuasi
  2. Penutup (Anang Santoso, 2003:241)
  1. Pembukaan/pendahuluan berisi ucapan salam (pembuka), gagasan umum dan pentingnya pidato itu disampaikan.
  2. Eksposisi memaparkan isi berupa fakta-fakta yang terkait ideologi politik yang ada dalam partai politik misalnya, identitas partai dan program-program partai.
  3. Persuasi teknik memengaruhi pendengar dengan pilihan leksikalisai yang tepat.
  4. Penutup berisi ucapan salam (penutup) dan kesimpulan.

Kerangka teori pidato politik ini secara garis besar terdiri atas empat tahapan yaitu : yang pertama pembukaan/pendahuluan yang berisi ucapan salam (salam agama, pekik kemerdekaan atau pekik partai) , gagasan pentingnya hal dalam pidato disampaikan, gagasan umum dan latar belakang kenapa mengangkat tema/topik pidato atau apa urgensinya. Pilihan berbagai salam akan memberikan interpretatif bagi pendengar (audience) mengenai identitas partai politik. Yang kedua eksposisi pemaparan mengenai fakta-fakta yang terkait dengan ideologi partai, identitas partai, dan program-program partai yang merupakan isi dari sebuah pidato politik. Eksposisi pada pidato politik akan menyampaikan isi yang disertai dengan pembahasan tentang program kerja partai sebagai argumen dan isu politik untuk memersuasif pendengar. Yang ketiga adalah persuasi, ini masih merupakan bagian dari isi pidato politik dan bagian ini merupakan suatu yang penting karena persuasi dalam dunia politik merupakan strategi memengaruhi audien atau pendengar terkait dengan ideologi yang ditawarkan. Dan yang kempat adalah penutup dan kesimpulan yangb ersisi ucapan salam penutup, saran, dan atau harapan-harapan.

Tabel 4.19 Struktur Supra Wacana Teks Pidato Politik pada HUT XXXVIII PDIP

No Elemen Wacana Penjelasan Jumlah Paragraf Persentase
 

1

 

Pendahuluan

Ucapan salam di awal pidato

Paragraf 1, 2, 3, 4, 5, dan 6

6 21,4%
 

2

 

Isi

Paragraf   7, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 15, 16, 17, 18, 19, 20, 21, 22, 23, 24, 25, dan 26 20 71,4%
 

3

 

Penutup

Paragraf 27 dan 28

Salam di akhir pidato

2 7,14%
   

Jumlah

28

 

Berdasarkan pada tabel 4.16 di atas ditemukan bahwa struktur supra wacana Teks Pidato Politik Ketua Umum Partai Oposisi yang disampaikan oleh ketua umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dibangun berdasarkan alur atau skematika pidato politik yaitu : (1) pendahuluan, (2) isi, dan (3) penutup. Berdasarkan analisis data pidato yang berjudul “ Pidato Politik pada HUT XXXVIII PDI Perjuangan” yang tersebut pada tabel 4.6 di atas bahwa bagian pendahuluan teks ditemukan ada 6 paragraf, yakni 21,4 %, bagian isi pada teks pidato ditemukan sebanyak 20 paragraf, yaitu 71,4 %, dan bagian penutup/kesimpulan ditemukan sebanyak 2 paragraf, yaitu 7,14 %. Dari analisis data pada tabel di atas ternyata struktur supra yang paling banyak ada pada isi pidato, yaitu 21,4 %. Hal ini sesuai dengan teori bahwa dalam pidato paragraf isi harus paling banyak. Uraian data pada tabel 4.16 kutipan paragrafnya akan diuraiakan secara jelas pada tabel 4.2 di bawah ini.

Tabel 4.20 Struktur Supra Elemen Pendahuluan Teks Pidato Politik pada HUT XXXVIII PDIP

 

NO PARAGRAF URAIAN
1 Paragraf 1 Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Salam Sejahtera bagi kita semua

Om Swastiastu

Sebelumnya, marilah kita terlebih dahulu bersama-sama memekikkan salam perjuangan kita,
Merdeka!!! Merdeka!!! Merdeka!!!

 

Ucapan salam ini disampaikan diawal pidato sebelum paragraf 1 sebagai pembukaan pidato. Dan pada paragraf 1 sebagai pendahuluan orator menyampaikan salam hormat, rasa syukur kehadapan Tuhan sebagai bentuk pakem pendahuluan dari pidato seperti kutipan ini.

Saudara-saudara se-bangsa dan se-tanah air, tamu undangan yang saya hormati, serta kader dan simpatisan PDI Perjuangan yang saya cintai dan banggakan. Pertama-tama marilah kita panjatkan puji syukur kehadirat Allah subhanahu wa ta’ala, Tuhan Yang Maha Kuasa,  atas segala rahmat dan hidayahNya yang telah menjaga kita selama tahun 2010, serta mengantarkan kita memasuki tahun 2011 dengan selamat sentosa.”

2 Paragraf 2 Bahkan sejak memasuki era reformasi, kita menyaksikan begitu banyaknya partai politik yang hanya bisa bertahan seumur jagung, kemudian musnah dan akhirnya dilupakan sejarah. Sementara PDI Perjuangan tetap diberi anugerah panjang usia yang memungkinkan kita berkumpul hari ini untuk merayakan Ulang Tahun yang 38.”

Kutipan paragraf ini memberikan latar secara umum bahwa PDIP bisa merayakan HUT XXXVIII karena diberikan umum pangjang.

3 Paragraf 3 “Ulang tahun adalah peristiwa istimewa.”

Memberikan gambaran umum makna ulang tahun

4 Paragraf 4 ijinkanlah saya pada kesempatan ini menyampaikan selamat Natal bagi umat Kristiani dimanapun saudara-saudara berada. Kiranya “kemuliaan bagi Allah di tempat yang maha tinggi dan damai sejahtera di bumi” beserta saudara-saudara sekalian

Berisi ucapan selamat dan harapan

5 Paragraf 5 Pada momentum Ulang tahun PDI Perjuangan di tahun 2007 yang lalu, saya mengawali pidato dengan mengangkat problema dasar salah satu kegagalan negara di dalam meletakkan dasar-dasar bagi pencapaian kesejahteraan rakyat dan keadilan sosial. Dan hari ini, saya harus kembali mengungkapkan sejumlah  tragedi yang sama di hadapan saudara-saudara. Mengapa? Sebab fakta menunjukkan bahwa negara masih tetap jauh dari kemampuannya untuk meletakkan pondasi dasar bagi pencapaian kesejahteraan rakyat dan keadilan sosial.”

 

Mengungkap latar belakang mengangkat problema kegagalan negara seperti terurai pada paragraf ini dan sekaligus dijadikan topik pidato dalam HUT XXXVIII PDIP. Topik atau tema pidato politik dalam HUT XXXVIII “Meletakkan Pondasi Dasar Pencapaian Kesejahteraan Rakyat dan Keadilan Sosial.

6 Paragraf 6 “Persoalan ini perlu digarisbawahi kembali, karena seperti yang saya sampaikan dalam pidato Pembukaan Kongres III di Bali, bahwa perjuangan mengangkat harkat-martabat wong cilik adalah pilihan ideologis dan sekaligus takdir sejarah kita sebagai partai politik” (kalimat 1)

paragraf ini hampir sama dengan paragraf ke-5 yaitu memberikan latar pentingnya pidato ini dengan menggarisbawahi apa yang pernah disampaikan dalam pidato sebelumnya seperti kutipan paragraf ini.

Wacana teks pidato politik ketua umum PDI Perjuangan pada HUT XXXVIII PDIP yang disampaikan oleh M.S. di atas merupakan teks pidato politik dalam rangka memperingati hari ulang tahun partainya. Analisis struktur supranya yakni skematika atau alur dari teks pidato politik yang digunakan oleh M.S. selaku tokoh partai sekaligus sebagai ketua umum partai politik, M.S. mengawali pidatonya selalu dengan menyampaikan salam agama, salam nasional dan memekikan salam kemerdekaan. Menyampaikan salam agama Islam, Hindu, dan Kristen untuk menunjukkan bahwa Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) menunjukkan partai nasionalis yang menghargai ke-bhineka-an bangsa. Pribadi M.S. juga seorang yang solidaritas, rasa nasionalisme dan menghagai perbedaan terutama dalam hal agama. Pekikan kemerdekaan menunjukkan bahwa semangat kemerdekaan tidak pernah pudar. Selanjutnya dengan mengucapkan salam hormat kepada peserta kongres. Paragraf pertama selalu memanjatkan puji syukur kehadapan Tuhan disertai menyampaikan pandangan yang bersifat umum baik secara politik, ekonomi, karakter maupun budaya. Tema/topik pidato M.S. ini sudah disampaiakan pada bagian pendahuluan, yaitu paragraf 5 lihat tabel 4.17. Berikut cuplikan paragraf di bawah ini

1)Saudara-saudara, Pada momentum Ulang tahun PDI Perjuangan di tahun 2007 yang lalu, saya mengawali pidato dengan mengangkat problema dasar salah satu kegagalan negara di dalam meletakkan dasar-dasar bagi pencapaian kesejahteraan rakyat dan keadilan sosial. 2)Dan hari ini, saya harus kembali mengungkapkan sejumlah  tragedi yang sama di hadapan saudara-saudara. 3)Mengapa? 4)Sebab fakta menunjukkan bahwa negara masih tetap jauh dari kemampuannya untuk meletakkan pondasi dasar bagi pencapaian kesejahteraan rakyat dan keadilan sosial. (paragraf 5)

Paragraf pendahuluan yang terdapat pada paragraf ke-5 mengungkapkan kegagalan negara dalam mengangkat kesejahtraan rakyat. Kedua pidato politiknya M.S. selalu mengusung kesejahtraan rakyat sebagai isu politik. Kesejahtraan rakyat dan wong cilik merupakan pilihan kata M.S. dalam pidato-pidato politiknya. Penggunaan kata-kata “kesejahteraan rakyat” dan “wong cilik” sebagai strategi komunikasi politik M.S. untuk memberikan kesan awal bahwa PDIP memiliki ideologi partai yang berpihak pada rakyat. Fakta ini peneliti temukan dari dua teks pidato politiknya M.S. selalu menggunakan topic/tema pidato yang mngangkat masalah kesejaheraan rakyat.
Persoalan ini perlu digarisbawahi kembali, karena seperti yang saya sampaikan dalam pidato Pembukaan Kongres III di Bali, bahwa perjuangan mengangkat harkat-martabat wong cilik adalah pilihan ideologis dan sekaligus takdir sejarah kita sebagai partai politik. Pilihan ideologis dan takdir sejarah ini melampaui jabatan apapun. Karena itulah kita tidak boleh lelah memperjuangkan dan menyuarakan hal tersebut. Apalagi, fakta-fakta dalam beberapa tahun ini menunjukkan bahwa harapan wong cilik untuk merasakan kesejahteraan yang berkeadilan sosial semakin jauh dari kenyataan. (paragraf 6)

Paragraf ke-6 isi pembicaraannya lebih menekankan pada rakyat dengan segala beban hidupnya. Isi dan isu pidato politik Megawati keberpihakan pada wong cilik (rakyat kecil) menjadi ciri pidatonya. Penggunaan pilihan kata wong cilik untuk menarik simpati rakyat dan pecitraan partai yang dipimpinnya.

Pendahuluan pidatonya kental kelihatan keberpihakan pada rakyat (wong cilik) sebagai pilihan ideologi partainya. Wong cilik sebagai ikon pidato politik M.S. sebagai bentuk pencitraan dirinya sebagai pemimpin partai dan sekaligus sebagai pilihan ideologi partai. Ini membawa makna bahwa PDIP tidak ambisi kekuasaan tetapi partai yang membela rakyat wong cilik. M.S. mengawali pidatonya seperti ini untuk menaruh simpati kepada rakyat. Pada paragraf ke-5 M.S. mengawali pidatonya dengan mengangkat problema dasar yaitu kegagalan negara dalam membangun kesejahteraan rakyat. Makna umum tentang kesejahteraan rakyat selalu disampaikan dalam pendahuluan pidatonya. Selanjutnya pada paragraf ke-6 skematik pendahuluannya menggunakan rujukan ke luar wacana situasional (eksoforik) yaitu rujukan wacana yang menunjuk pada objek di luar teks seperti “ Persoalan ini perlu digarisbawahi kembali, karena seperti yang saya sampaikan dalam pidato Pembukaan Kongres III di Bali.”

Selanjutnya skematik isi diungkapkan pada paragraf 7, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 15, 16, 17, 18, 19, 20, 21, 22, 23, 24, 25, dan 26. Paragraf-paragraf itu merupakan bagian dari dari pidato seperti digambarkan pada tabel di bawah ini.

Tabel 4.21 Struktur Supra Elemen ISI Teks Pidato Politik pada HUT XXXVIII PDIP

 

 

NO

 

ISI

 

KALIMAT TOPIK

 

URAIAN

1 Paragraf 7 Bagi PDI Perjuangan Pancasila 1 Juni 1945 adalah ideologi dan sekaligus metode berpikir. (kalimat 1) PDIP menjadikan pancasila sebagai ideologi dan metode berpikir dalam pengelolaan Negara
2 Paragraf 8 Mereka lupa adanya fakta sederhana bahwa tingkat pertumbuhan ekonomi yang mengagumkan secara statistikal tidak berbanding lurus dengan peningkatan tingkat kesejahteraan rakyat. (kalimat 1) Tingkat kesejahteraan rakyat yang masih kurang dengan alokasi anggaran yang tinggi
3 Paragraf 9 Kita juga menyaksikan terjadi pengurangan sistematis subsidi untuk rakyat atas nama kepentingan publik. (kalimat 1) Pengurangan subsidi rakyat tetapi pemborosan anggaran belanja aparatur Negara
4 Paragraf 10 Hal-hal itulah yang membuat saya terus khawatir bahwa sistem ekonomi yang kita bangun semakin jauh dari sistem ekonomi yang menjadi amanat konstitusi. (kalimat 1) Sistem ekonomi yang bertentangan dengan konstitusi dan menjadikan ekonomi ketergantungan paada kekuatan asing
5 Paragraf 11 Dari sudut pandang Pancasila, tujuan pembangunan ekonomi sangat sederhana dan jelas, yakni menciptakan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia berdasarkan azas kemanusiaan dan kekeluargaan. (kalimat 1) Menciptakan kemandirian ekonomi untuk mencapai keadilan sosial dan kesejahteraan
6 Paragraf 12 Di tengah-tengah keterpurukan sosial ekonomi dan bencana alam yang terus mengintai, muncul ancaman bencana lain yang menyangkut  karakter dan kepribadian bangsa kita. (kalimat 1) Multi bencana yang dialami Indonesia, yaitu bencana alam dan karakter, mental dan pikiran rakyat
7 Paragraf 13 Kasus lain yang tidak kalah menariknya, bagaimana Gayus Tambunan  dengan berbagai variasi dan keleluasaannya,  mempertontonkan betapa kekuatan uang sedemikian berjaya dalam mengharu-biru sistem hukum secara keseluruhan. (kalimat 1) Mendewakan kekuatan materi (uang) dan lemahnya penegakan hokum
8 Paragraf 14 Penyakit kronis lainnya yang menonjol dalam beberapa saat terakhir ini adalah sikap elit yang lebih meributkan soal koalisi, sekretariat gabungan (setgab), wacana pemilihan gubernur oleh DPRD, atau apapun namanya dibanding mengurus rakyat. (kalimat 1) Inti paragrafnya membicarakan Koalisi-oposisi dalam pemerintahan demi kekuasaan dibandingkan mengurus rakyat
9 Paragraf 15 Saya tegaskan bahwa “cita-cita yang melekat dalam sejarah Partai kita jauh lebih besar dari sekadar urusan kursi di parlemen, sejumlah menteri, ataupun istana merdeka”. (kalimat 1) Cita-cita PDIP mengangkat kesejahteraan rakyat
10 Paragraf 16 Hal-hal di atas baru sebagian kecil dari persoalan yang kita hadapi. (kalimat 1) Beberapa persoalan yang perlu dibenahi PDIP
11 Paragraf 17 lahan demokrasi kita juga menghadapi masalah. (kalimat 1) Masalah lahan demokrasi yang lebih mementingkan pencitraan dan keajaiban angka
12 Paragraf 18 Kita akhirnya terjebak dalam mobilisasi dan konflik, gagal berdialog dan membangun konsensus yang sesuai dengan nalar publik. (kalimat 7) Terjebak konflik karena mengabaikan konsep Bhineka Tunggal Ika dan pluralism
13 Paragraf 19 PDI Perjuangan yang saya banggakan, Dalam konstruksi konstitusi kita, partai politik merupakan aktor strategis dalam menggerak perubahan. (kalimat 1) Partai politik merupakan hal strategis untuk menggerakkan perubahan kea rah yang lebih baik
14 Paragraf 20 Bagi kita posisi strategis partai di atas sudah sangat jelas. (kalimat 1) Posisi PDIP untuk mengadakan perubahan di bidang kedaulatan politik
15 Paragraf 21 Rangkaian rumusan sikap dan program-program partai, berikut perubahan-perubahan penting dalam AD/ART Partai yang dihasilkan oleh Kongres III telah memberikan pijakan yang sangat memadai. Rangkaian rumusan sikap dan program-program partai, berikut perubahan-perubahan penting dalam AD/ART Partai yang dihasilkan oleh Kongres III telah memberikan pijakan yang sangat memadai. (kalimat 1) AD/ART partai sebagai acuan untuk program kerja PDIP
16 Paragraf 22 Pada kesempatan ulang tahun kali ini saya hanya akan menyoroti tiga perintah Kongres III yang paling strategis yang masih membutuhkan kerja ekstra kita semua. (kalimat 1) Perintah kongres yaitu memilih kader-kader berkualitas
17 Paragraf 23 perhatian ekstra harus kita berikan pada proses kaderisasi dan regenerasi. (kalimat 2) Proses kaderisasi dan regenerasi
18 Paragraf 24 Hal kedua yang ingin saya sampaikan adalah keharusan bagi Partai untuk menginstrumentasikan nilai-nilai Pancasila 1 Juni 1945 yang memungkinkan Pancasila menjadi ideologi yang hidup. (kalimat 1) Instrumentalisai nilai-nilai pancasila sebagai ideologi agar melahirkan tiga pilar penting eksekutif, legislatif dan yudikatif
19 Paragraf 25 Karenanya, dengan tegas saya perintahkan kepada jajaran fraksi di seluruh tingkatan untuk lebih pro-aktif dalam mengajukan agenda-agenda kebijakan yang harus diprioritaskan. (kalimat 1) Mengajukan agenda kebijakan benar secara teknokrat layak dan secara politik berterima
20 Paragraf 26 Hal terakhir yang ingin saya garis bawahi adalah perintah Kongres agar setiap warga partai menjadi contoh hidup dari Pancasila sebagai ideologi. (kalimat 1) Saran agar PDIP menjadikan pancasila sebagai suluh hidup dan ideologi

Berdasarkan tabel 4.21 kalimat-kalimat topik sebagian besar ditempatkan pada awal paragraf kecuali paragraf 18 yang menempatkan ide pokoknya di akhir paragraf. Data tabel di atas memberi kesimpulan bahwa isi teks pidato politik M.S. dari 20 paragraf pada komponen isi 19 menggunakan paragraf deduktif dan 1 paragraf yang bersifat induktif.

Paragraf-paragraf pada komponen isi lebih banyak berbicara tema umum tentang keberpihakan pada rakyat baik di bidang ekonomi, karakter bangsa dan sosial budaya sperti kutipan paragraf di bawah ini.

1)Mereka lupa adanya fakta sederhana bahwa tingkat pertumbuhan ekonomi yang mengagumkan secara statistikal tidak berbanding lurus dengan peningkatan tingkat kesejahteraan rakyat. 2)Pada saat bersamaan, pemerintah seharusnya mendengar jeritan rakyat atas kenaikan harga berbagai kebutuhan dasar, yang sudah melebihi daya beli rakyat. 3)Bahkan, untuk kesekian kalinya, rakyat menjadi korban hanya untuk sekedar mendapatkan makan. 4)Oleh karena itu, tidak boleh terjadi lagi, rakyat kecil bunuh diri hanya karena tidak mampu menanggung beban hidup yang semakin berat sebagaimana telah terjadi di Cirebon, Kebumen, dan beberapa daerah lainnya. 5)Inilah gambaran, betapa sulitnya rakyat berjuang hidup-mati hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar. 6)Bukankah konstitusi menjamin penghidupan yang layak bagi warga negaranya? 7)Kemana alokasi anggaran yang ribuan trilyun rupiah tersebut? 8)Sudah saatnya kita hentikan pameran keberhasilan indikasi makro ekonomi, dan menggantikannya dengan gerakan ekonomi kerakyatan, yang bertumpu pada kekuatan rakyat, agar terjaminlah kebutuhan dasar rakyat. (paragraf 8)

Kutipan paragraf 8 memberikan penjelasan tema/topik dari pidato yang disampaikan M.S. dalam rangka HUT XXXVIII PDIP. Tema/topik yang diangkat dalam pidato itu adalah “ kesejahteraan rakyat dan keadilan”. Paragraf ini memaparkan belum terpenuhinya kesejahteraan rakyat apalagi keadilan.

Tabel 4.22 Struktur Supra Elemen Penutup/Kesimpulan Teks Pidato pada HUT XXXVIII PDIP

 

 

NO